MAKALAH
PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN
Diajukan Sebagai Tugas
Mata Kuliah Psikologi Perkembangan Dosen : Ahmad, S. Pd.I., M.Pd. I
Disusun oleh
Mutmainnah : 2101010024 M Agung : 2101010016
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
DARUL DA’WAH WAL IRSYAD (STAI DDI) PINRANG
2022
KATA PENGANTAR
Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan syukur kita kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “perkembangan kemandirian” ini dengan baik.
Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Perkembangan. Dalam makalah memuat tentang konsep - konsep perkembangan kemandirian dan tahap kemandirian lain- lain. Kami mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Walaupun makalah yang kami buat ini masih mempunyai banyak kekurangan, tetapi kami akan siap menerima kritik dan saran. kritik dan saran.
Akhirnya kami dengan kerendahan hati meminta dengan maaf maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan atau penguraian makalah kami dengan harapan dapat diterima dan dapat di jadikan sebagai acuan dalam proses pembelajaran.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Rumusan Masalah... 2 C. Tujuan Penulisan... 2 BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Kemandirian Dan Perkembangan Kemandirian... 3 B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemandirian dan
Membentuk Kemandirian... 6 C. Perkembangan Kemandirian Peserta Didik Serta
Implikasinya Dalam Pendidikan... 8 D. Tipe-tipe perkembangan kemandirian... 9 BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan... 12 B. Saran1... 12 DAFTAR PUSTAKA... 13
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Kemandirian merupakan salah satu aspek kepribadian manusia yang tidak dapat berdiri sendiri, artinya terkait dengan aspek kepribadian yang lain dan harus di latihkan pada anak-anak sedini mungkin agar tidak menghambat tugas-tugas perkembangan anak selanjutnya. Kemampuan untuk mandiri tidak terbentuk dengan sendirinya.
Kemampuan ini diperoleh dengan kemauan, dan dorongan dari orang lain. kemandirian adalah suatu sifat yang memungkinkan seseorang bertindak bebas, melakukan sesuatu atas dorongan diri sendiri, mengejar prestasi, penuh keyakinan dan memiliki keinginan untuk mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain, mampu mengatasi persoalan yang dihadapi, mampu mengendalikan tindakan, mampu mempengaruhi lingkungan, mempunyai rasa percaya diri terhadap kemampuan yang dimiliki, menghargai keadaan diri dan memperoleh kepuasan atas usaha sendiri.
Masalah Kemandirian adalah hadiah terbesar yang bisa diberikan kepada anak- anak, karena melalui kemandirian tersebut, mereka bisa tumbuh dan meraih impian- impiannya. Setiap manusia dilahirkan dalam kondisi yang tidak berdaya, ia akan tergantung pada orang tua dan orang-orang yang berada di lingkungannya hingga waktu tertentu. Seiring dengan perkembangannya, seorang anak perlahan-lahan akan melepaskan diri dari ketergantungan pada orang tua atau orang lain di sekitarnya dan belajar untuk mandiri. Hal ini merupakan suatu proses alamiah yang dialami oleh semua makhluk hidup, tidak terkecuali manusia.
Perkembangan kemandirian pada remaja merupakan hal menarik untuk di kaji, karena individu yang memasuki masa remaja merupakan remaja yang terkategori hidup dalam masa transisi, yakni perpindahan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa atau masa pencarian jati diri. Oleh karena itu menekankan kemandirian pada remaja sangat penting seperti usaha untuk menegakkan identitas menjadi pribadi yang mandiri.
Pencapaian kemandirian bagi remaja merupakan sesuatu hal yang tidak mudah, sebab pada remaja terjadi pergerakan perkembangan psikososial dari arah lingkungan keluarga menuju lingkungan luar keluarga. Kemandirian merupakan dasar untuk menjadi orang dewasa yang sempurna. Kemandirian dapat mendasari seseorang untuk menentukan sikap dan mengambil keputusan dengan tepat. Tuntutan
kemandirian bagi remaja sangat besar dan harus direspon dengan baik guna kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kemandirian dan perkembangan kemandirian?
2. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian dan membentuk kemandirian?
3. Bagaimana perkembangan kemandirian pada peserta didik serta implikasinya dalam pendidikan?
4. Apa saja tipe-tipe perkembangan kemandirian?
C. Tujuan penulisan
1. Mengetahui pengertian kemandirian dan perkembangan kemandirian.
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian dan membentuk kemandirian.
3. Mengetahui perkembangan kemandirian pada peserta didik serta implikasinya dalam pendidikan.
4. Mengetahui tipe-tipe perkembangan kemandirian.
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Kemandirian Dan Perkembangan Kemandirian
Istilah” kemandirian” berasal dari kata dasar diri yang mendapat awalan “ke”
akhiran “an”, kemudian membentuk satu kata keadaan atau kata benda. Karena kemandirian berasal dari dasar “diri”, maka pembahasan mengenai kemandirian tidak bisa lepas dari perkembangan diri itu sendiri.
Menurut Chaplin (2002), otonomi atau kemandirian adalah kebebasan individu manusia untuk memili manusia menjadi kesatuan yang bisa memerintah, menguasai dan menentukan dirinya sendiri. Sedangkan menurut Erikson menyatakan kemandirian menentukan dirinya sendiri. Sedangkan menurut Erikson adalah usaha untuk melepaskan diri dari orangtua dengan maksud untuk menemukan dirinya melalui proses mencari identitas ego yaitu merupakan perkembangan kearah individualitas yang mantap dan berdiri sendiri.. Kemandirian biasanya ditandai dengan menentukan nasib sendiri, kreatif dan inisiatif, bertanggung jawab, mampu menahan diri, dll.
Kemandirian merupakan merupakan suatu suatu sikap otonomi dimana peserta didik secara relative bebas dari pengaruh penilaian, pendapat dan keyakinan orang lain.
Dengan otonomi tersebut, peserta didik diharapkan akan dapat lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kemandirian mengadung pengertian bahwa :
a. Suatu kondisi dimana seseorang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan dirinya sendiri.
b. Mampu mengambil keputusan dan inisiatif mengatasi masalah yang dihadapi.
c. Memiliki kepercayaan diri dan melaksanakan tugas-tugasnya.
d. Bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “kemandirian” berasal dari kata mandiri yang berarti keadaan dapat berdiri sendiri; tidak bergantung pada orang lain.
hobi dsb) Yang diamalkan dalam masyarakat atau dijadikan sumber kehidupan; atau kemajuan dalam kehidupan; perkembangan. Untuk pencapaiannya harus diterapkan sejak dini dalam diri anak agar anak mampu melaksanakan segala sesuatunya dengan kemampuannya sendiri yang dominan, dimana anak tersebut mampu menyelasaikan tugas dengan kemampuannya tanpa di dominasi bantuan dari orang lain, dari definisidi atas maka dapatlah diambil pengertian kemandirian adalah keadaan seseorang yang
dapat berdiri sendiri yang tumbuh dan berkembang karena disiplin dan komitmen sehingga dapat menentukan diri sendiri yang dinyatakan dalam tindakan dan perilaku yang dapat dinilai.
Kemandirian pada remaja lebih mengarah tindakan yang melibatkan hati dan Kemandirian pada remaja lebih mengarah tindakan yang melibatkan hati dan pemikirannya pemikirannya (psikis). Hal ini diperkuat pernyataan ahli perkembangan yang menyatakan: "Berbeda dengan kemandirian pada masa anak-anak yang lebih bersif motorik, seperti berusaha makan sendiri, mandi dan berpakaian sendiri, pada masa remaja kemandirian tersebut lebih bersifat psikologis, seperti membuat keputusan sendiri dan kebebasan berperilaku sesuai dengan keinginannya".Memberikan kesempatan pada remaja untuk menentukan pilihan-pilihan sederhana akan menumbuhkan rasa percaya diri dalam dirinya sehingga seterusnya ia akan mampu memutuskan perkara yang lebih pelik.
Perkembangan kemandirian adalah proses yang menyangkut unsur-unsur normatif. Ini mengandung makna bahwa kemandirian merupakansuatu proses yang terarah. Karena perkembangan kemandirian sejalan dengan hakikat eksistensial manusia, maka arah perkembangan tersebut harus sejalan dengan dan berlandaskan pada tujuan hidup manusia.
Jika dikatakan bahwa proses memaknai diri dan dunianya itu bersifat selektif, maka sifat selektif itu menunjukkan bahwa apa yang dipersepsi dan dimaknai oleh manusia itu ditentukan melalui proses memilih. Proses memilih itu tidak terlepas dari proses kognitif dalam menimbang berbagai alternatif yang selalu terkait dengan sistem nilai, bukan proses yang bersifat reaktif atau impulsif. Mekanisme proses kognitif dan penyesuaian kehendak terhadap berbagai dimensi kehidupan akan mewarnai cara individu memaknai dunianya.
Pada hakikatnya, manusia ketika lahir ke dunia berada dalam ketidaktahuan tentang diri dan dunianya. Dalam kondisi seperti itu, individu menyatu dengan dunianya; dalam pengertian belum memahami hubungan subjek dengan objek.
Berbekal perkembangan kemampuan berpikir, kreativitas, dan imajinasi, individu mampu membedakan diri dari individu lain dan lingkungannya serta keterpautan dirinya dengan orang lain atau dengan lingkungannya. Proses seperti ini, oleh Sunaryo Kartadinata (1988) dinamakan dengan proses peragaman (differentiation process). Dalam proses ini, sedikit demi sedikit individu berupaya melepaskan diri dari
otoritas dan menuju hubungan mutualistik, mengembangkan kemampuan menuju spesialisasi tertentu, mengembangkan kemampuan instrumental agar mampu memenuhi sendiri kegiatan hidupnya. Proses semacam ini oleh Chikering (1971) disebut dengan “emotional and instrumental independence” (independensi emosional dan instrumental) yang merupakan dua komponen penting dalam perkembangan kemandirian. Dalam perkembangannya yang secara bertahap mengarah kepada pengakuan dan penerimaan akan saling keteergantungan individu, keduanya bersifat komplementer.
Meskipun dalam proses peragaman manusia sudah memiliki kemampuan instrumental, tetapi belum sampai kepada kemandirian karena pemunculannya baru pada aspek-aspek kehidupan tertentu. Proses peragaman ini sesungguhnya baru sampai pada suatu titik antara yang disebut dengan “having process” (proses pemilikan) pengetahuan, ketrampilan, teknologi. Padahal, suatu titik dimensi kehidupan yang lebih penting dan harus dicapai oleh manusia dalam proses perkembangannya adalah yang disebut dengan “being process” (proses menjadi). Dalam konteks ini, Stephen R.
Covey (1989) menegaskan bahwa perkembangan kehidupan manusia harus mengarah dan sampai pada manusia sebagai “being at cause” (menempatkan manusia pada posisi yang menentukan), berparadigma “inside out” (berusaha mengubah dari dalam keluar), memusatkan pada “circle of influence” (mengarahkan waktu dan energinya terhadap hal-hal di luar diri yang dapat dikendalikannya), dan berpikir “to be” (berusaha untuk menjadi) dan bukan mengarah kepada “to have” (berusaha untuk memiliki). Proses perkembangan secara kontinyu sampai pada titik ini yang oleh Fuad Hassan (1986) disebut sebagai upaya memantapkan jati diri.
Proses peragaman ini bahkan harus berkembang terus sampai pada suatu tingkat yang disebut dengan tingkat integrasi atau tingkat mendunia. Pada tingkat ini perkembangan individu sudah sampai pada tingkat mendekatkan diri pada dunia yang dihadapi dan dihidupnya, bukan mengasingkan diri dari dunianya sehingga menimbulkan kemandirian tak aman. Interaksi dan dinamika perkembangan kemandirian manusia menuju tahapan integrasi ini dapat digambarkan dengan lima karakteristik inheren dan esensial yang saling berinteraksi dalam kehidupan, yaitu:
1. Kedirian
Kedirian ini menunjukkan pengukuhan bahwa dirinya berbeda dari orang lain.
2. Komunikasi
Kedirian manusia itu tidak pernah berlangsung dalam kemenyendirian melainkan dalam komunikasinya dengan lingkungan fisik, lingkungan sosial, diri sendiri, maupun Tuhan.
3. Keterarahan
Komunikasi manusia dengan berbagai pihak itu menunjukkan adanya keterarahan dalam diri manusia yang menyatakan bahwa hidupnya bertujuan.
4. Dinamika
Proses perwujudan dan pencapaian tujuan manusia memerlukan adanya dinamika yang menyatakan bahwa manusia memiliki pikiran, kemampuan dan kemauan sendiri untuk berbuat dan berkreasi, dan tidak menjadi objek yang dipolakan atau digerakkan oleh orang lain.
5. Sistem nilai
Ke-empat karakteristik di atas muncul secara terintregasi dalam keterpautannya dengan sistem nilai sebagai elemen inti dari cara dan tujuan hidup.
Pembahasan kemandirian ditinjau dari berbagai perspektif di atas mengantarkan pada suatu intisari bahwa kemandirian merupakan suatu kekuatan internal individu yang diperoleh melalui proses individuasi. Proses individuasi itu adalah prosees realisasi kedirian dan proses menuju kesempurnaan. “Diri” adalah inti dari kepribadian dan merupakan titik pusat yang menyelaraskan dan mengkoordinasikan seluruh aspek kepribadian. Kemandirian yang terintegrasi dan sehat dapat dicapai melalui proses peragaman, perkembangan, dan ekspresi sistem kepribadian sampai pada tingkatan yang tertinggi.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemandirian merupakan suatu kekuatan internal individu yang diperoleh melalui proses individuasi. Dan untuk menjadi mandiri, seseorang membutuhkan kesempatan, dukungan, dan dorongan dari keluarga serta lingkungan di sekitarnya, untuk mencapai otonomi atas dirinya sendiri.
Sehingga individu pada akhirnya mampu berfikir dan bertindak sendiri agar dapat memilih jalan hidupnya untuk berkembang dengan lebih mantap.
B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemandirian Dan Membentuk Kemandirian
1. Lingkungan. “Lingkungan merupakanfaktor terpenting dalam membentuk nilai, kepribadian dan kebiasaan individu serta membentuk individu untuk mandiri dalam menghadapi berbagai masalah yang terjadi di sekitar lingkungannya” (M. Hidayat, 2018:
2. Lingkungan keluarga (internal) dan masyarakat (eksternal) akan membentuk kepribadian seseorang termasuk kemandirian.
3. Pola Asuh. Peran dan pola asuh orang tua sangat berpengaruh dalam penanaman nilai-nilai kemandirian seorang.
4. Pendidikan. Pendidikan memiliki sumbangan yang berarti dalam perkembangan terbentuknya kemandirian pada diri seseorang yakni :
a. Interaksi social. Interaksi sosial melatih untuk menyesuaikan diri dan bertanggungjawab atas apa yang dilakukan sehingga diharapkan seseorang mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi
b. Intelegensi. Intelegensi merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap proses penentuan sikap, pengambilan keputusan, penyelesaian masalah serta penyesuaian diri.
Hasan Basri berpendapat bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembentukkan kemandirian anak adalah sebagai berikut:
1. Faktor Internal. Faktor internal merupakan semua pengaruh yang bersumber dari dalam diri seseorang itu sendiri, seperti keadaan keturunan dan konstitusi tubuhnya sejak dilahirkan dengan segala perlengkapan yang melekat padanya. Faktor internal terdiri dari;
a. Faktor Peran Jenis Kelamin, secara fisik anak laki-laki dan wanita tampak jelas perbedaan dalam perkembangan kemandiriannya. Dalam perkembangan kemandirian, laki-laki biasanya lebih aktif dari pada perempuan,
b. Faktor Kecerdasan atau Intelegensi, seseorang yang memiliki intelegensi yang tinggi akan lebih cepat menangkap sesuatu yang membutuhkan kemampuan berpikir, sehingga orang yang cerdas cenderung cepat dalam membuat keputusan untuk bertindak, dibarengi dengan kemampuan menganalisis yang baik terhadap resiko-resiko yang akan dihadapi. Intelegensi berhubungan dengan tingkat kemandirian seseorang, artinya semakin tinggi intelegensi seorang maka semakin tinggi pula tingkat kemandiriannya,
c. Faktor Perkembangan, kemandirian akan banyak memberikan dampak yang positif bagi perkemangan seseorang. Oleh karena itu, orang perlu mempelajari kemandirian sedini mungkin sesuai dengan kemampuan.
2. Faktor Eksternal Faktor eksternal merupakan pengaruh yang berasal dari luar diri seseorang, sering pula dinamakan faktor lingkungan. Lingkungan kehidupan yang dihadapi seseorang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya, baik dalam segi-segi negatif maupun positif. Biasanya jika lingkungan keluarga, sosial dan masyarakatnya baik, cenderung akan berdampak positif dalam hal kemandirian seseorang terutama dalam bidang nilai dan kebiasaan dalam melaksanakan tugas- tugas kehidupan. Faktor eksternal terdiri dari;
a. Faktor Pola Asuh, untuk bisa mandiri seseorang membutuhkan kesempatan, dukungan dan dorongan dari keluarga serta lingkungan sekitarnya, untuk itu orang tua dan respon dari lingkungan sosial sangat diperlukan bagi seseorang untuk setiap perilaku yang telah dilakukannya.
b. Faktor Sosial Budaya, merupakan salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi perkembangan seseorang, terutama dalam bidang nilai dan kebiasaankebiasaan hidup akan membentuk kepribadiannya, termasuk pula dalam hal kemandiriannya, terutama di Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya yang beragam.
c. Faktor Lingkungan Sosial Ekonomi, faktor sosial ekonomi yang memadai dengan pola pendidikan dan pembiasaan yang baik akan mendukung perkembangan seseorang menjadi mandiri.
C. Perkembangan kemandirian peserta didik serta implikasinya dalam pendidikan 1. Karakteristik perkembangan kemandirian pada anak
Kemandirian merupakan salah satu tugas pokok dari perkembangan. Seperti yang ditegaskan oleh Steinberg disebut pokok atau fundamental karena pencapaian yang kemandirian pada remaja sangat penting artinya dalam kerangka menjadi individu dewasa. Bahkan pentingnya kemandirian diperoleh individu pada masa remaja sama dengan pentingnya pencapaian identitas diri oleh mereka. Dalam analisis Steinberg jika iri oleh mereka. Dalam analisis Steinberg jika remaja, terutama remaja awal, mampu memutuskan simpul-simpul ikatan infantile maka ia cenderung akan mengalami separasi, yakni pemisahan diri dari keluarga.
Kemandirian pada anak di usia-usia tertentu di tandai dengan beberapa perilaku anak, yaitu:
a. Usia 1-2 tahun : anak mampu minum dari gelasnya sendiri tanpa tumpah , mulai makan sendiri dengan menggunakan sendok.
b. Usia 2-3 tahun : memberitahu orang dewasa kala ingin buang air.
c. Usia 3-4 tahun : anak mampu ke kamar mandi sendiri.
d. Usia 5-7 tahun : anak mampu berpakaian sendiri, mengikat simpul tali sepatu.
e. Usia 8-10 tahun : anak sudah mampu membenahai peralatan pribadinya seperti menyiapkan buku sesuai sesuai jadwal pelajaran, mampu memenuhi kebutuhan seperti, memasak mie instan saat orang tua tidak dirumah.
2. Tingkatan dan karakteristik kemandirian peserta didik
Sebagai suatu dimensi psikologi yang kompleks, dalam perkembangannya memiliki tingkatan-tingkatan kemandirian. seseorang berlangsung secara bertahap sesuai dengan tingkat perkembangan kemandirian tersebut. Menurut Lovinger (Desmita.2009), mengemukakan tingkatan kemandirian dan karakteristiknya, yaitu:
tingkatan implusif dan melindungi diri, Tingkatan ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Peduli terhadap control dan keuntungan yang dapat diperoleh dari interaksinya dengan orang lain.
b. Mengikuti aturan secara spontanistik dan hednistic.
c. Berfikir tidak logis dan tertegun pada cara berfikir tertentu (stereotype).
d. Cenderung melihat kehidupan sebagai zero-sum games.
D. Tipe-tipe perkembangan kemandirian
Robert Havighurst (Dalam Baharuddin,2009 membedakan kemandirian atas empat bentuk kemandirian yaitu:
1. Aspek Emosi, aspek ini ditunjukan dengan adanya kemampuan untuk dirinya mengatur emosinya sendiri.
2. Aspek Ekonomi, aspek ini ditunjukan dengan adanya kemampuan mengatur dan mengelola kebutuhan dirinya sendiri secara ekonomis.
3. Aspek Intelektual, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.
4. Aspek Sosial, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung kepada orang lain.
Sementara itu, Steiberg (Dalam Baharuddin,2009) membedakan karakteristik kemadirian atas tiga bentuk, yaitu : Kemandirian emosional (emotional autonomy), Kemandirian tingkah laku (behavioral autonomy), Kemandirian nilai (value autonomy).
Kutipan di atas menunjukan karakteristik menunjukan karakteristik dari ketiga aspek dari ketiga aspek kemandirian, yaitu:
1. Kemandirian Emosional
Kemandirian emosional dapat diartikan sebagai kemampuan individu dalam mengelola emosinya, seperti pemudaran ikatan emosional anak dengan orang tua.
Percepatan pemudaran hubungan itu terjadi seiring dengan semakin mandirinya remaja dalam mengurus diri sendiri. Konsekuensi dari semakin mampunya remaja mengurus dirinya sendiri maka waktu yang diluangkan orang tua terhadap anaknya semakin berkurang dengan sangat tajam. Proses ini sedikit besarnya memberikan peluang bagi remaja remaja untuk mengembangkan kemandiriannya kemandiriannya terutama kemandirian emosional. Disamping itu, hubungan antara anak dan lingkungan kemandirian emosional. sebaya yang lebih intens dibanding dengan hubungan anak dengan orang tua menyebabkan hubungan emosional anak dan orang tua semakin pudar Kedua pihak ini pihak ini lambat akan mengendorkan simpul-simpul ikatan emosional infantil anak dengan orang tua. Namun ini bukan berarti anak akan pemberontakan terhadap orang tua, ini hanya masalah kedekatan yang berbeda, memudar bukan berarti pupus tak bersisa, walau bagaimanapun ikatan batin tetap akan terjalin antara anak anak dan orang tua.. Menurut Silverberg dan Steinberg ada empat aspek kemandirian emosional remaja, yaitu:
a. Sejauh mana remaja mampu melakukan de-idealized terhadap orang tua.
b. Sejauh mana remaja mampu memandang orang tua sebagai umumnya (parents as people),
c. Sejauh mana remaja tergantung kepada kemampuannya sendiri tanpa mengharapkan bantuan emosional orang lain (non dependency).
d. Sejauh mana remaja mampu melakukan individualisasi di dalam hubungannya dengan orang tua
2. Kemandirian Behavioral
Kemandirian perilaku (behavioral autonomy) merupakan kapasitas individu dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan tanpa ada campur tangan dari
orang lain. Tapi bukan berarti mereka tidak memerlukan masukan dari dari orang lain. mereka akan menggunakan maskukan tersebut sebagai referensi orang lain, baginya dalam mengambil keputusan.
Menurut Steinberg ada tiga domain kemandirian perilaku (behavioral autonomy) yang berkembang pada masa remaja. Pertama, mereka memiliki kemampuan mengambil keputusan yang ditandai oleh: Pertama, mereka memiliki kemampuan mengambil keputusan yang ditandai oleh:
a. Menyadari adanya resiko dari tingkah lakunya,
b. Memilih alternatif pemecahan masalah didasarkan atas pertimbangan sendiri dan orang lain dan orang lain
c. Bertanggung jawab atas konsekuensi dari keputusan yang diambilnya.
Kedua, mereka mereka memiliki memiliki kekuatan kekuatan terhadap terhadap pengaruh pihak lain yang yang ditandai oleh:
a. Tidak mudah terpengaruh dalam situasi yang menuntut konformitas.
b. Tidak mudah terpengaruh tekanan teman sebaya dan orang tua dalam mengambil keputusan.
c. Memasuki kelompok sosial tanpa tekanan.
Ketiga, mereka memiliki rasa percaya diri (self reliance) yang ditandai oleh:
a. Merasa mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari di rumah dan di sekolah, b. Merasa mampu memenuhi tanggung jawab di rumah dan di sekolah, Merasa
mampu rumah dan di sekolah,
c. Merasa mampu mengatasi sendiri masalahnya, Merasa mampu mengatasi sendiri masalahnya,
3. Kemandirian Nilai
Kemandirian nilai (values autonomy) merupakan proses yang paling kompleks, tida jelas pada lazimnya tidak disadari, umumnya berkembang paling akhir dan paling sulit dicapai secara sempurna dibanding kedua tipe kemandirian lainnya. Kemandirian nilai (values autonomy) yang dimaksud adalah kemampuan individu menolak tekanan untuk mengikuti tuntutan orang lain tentang keyakinan (belief) dalam bidang nilai.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Kemandirian merupakan suatu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk melakukan segala sesuatu secara mandiri, baik yang terkait dengan aktivitas diri sendiri maupun aktivitas dalam kesehariannya, tanpa harus tergantung sepenuhnya pada orang lain. Dengan kemandirian yang tinggi seseorang akan lebih leluasa dan lebih bebas untuk bergerak kesana kemari untuk mempelajari dan berinteraksi dengan lingkungan disekitar mereka. Dengan sikap yang mandiri pada seseorang akan membuatnya lebih percaya diri untuk melakukan semuanya dengan bebas.
Kemandirian akan membuat seseorang mudah untuk melakukan kegiatan bermain dan berinteraksi secara baik, seseorang akan mudah untuk diajak bekerja sama dan berkomunikasi. Sikap kemandirian pada seseorang sangat erat terkait dengan kecerdasan sosial mereka, kemandirian tidak merefleksikan sikap individualistik atau egois pada seseorang sehingga mereka lebih mudah untuk bergaul dengan teman dan lingkungannya. Seperti yang dikemukakan oleh Hurlock bahwa semakin banyak seseorang melakukan sendiri, semakin besar kebahagiaan dan rasa percaya atas dirinya. Kebergantungan menimbulkan kekecewaan dan ketidakmampuan diri.
Apabila seseorang tidak diberi kesempatan untuk mempelajari keterampilan tertentu, dimana perkembangannya sudah memungkinkan, dan ia ingin melakukan karena berkembangnya keinginan untuk mandiri, maka mereka akhirnya tidak saja kurang memiliki dasar keterampilan yang telah dipelajari teman-teman sebayanya tetapi juga akan kurang memiliki motivasi untuk mempelajari berbagai keterampilan saat diberi kesempatan. Dan Dengan mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi kemandirian seseorang diharapkan dapat memaksimalkan point- point dari factor tersebut agar terbentuk karakter kemandirian dalam diri seseorang.
B. Saran
Mengenai apa yang telah di bahas di atas, tentunya kemandirian dan penyesuaian diri sangat berguna bagi peserta didik agar dapat menjaungkau dunia luar yang akan di hadapi sudah memiliki arahan dan tujuan. Maka untuk itu perlunya adanya
kemnadirian dan penyesuaian yang harus di tanamkan pada peserta didik tapi jangan membuat kita sadar akan butuhnya sebagai sesama manusia dengan menjalin sosial, kekerabatan dan peduli yang tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Covey, R., Steven, The Seven Habits of Highly Effective People, terjemahan Budijanto.
Jakarta: Binarupa Aksara, 1997.
Hurlock, Elizabeth B. Developmental Psychology, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi Kelima. Terjemahan Istiwidayanti & Soedjarwo, Jakarta: Erlangga, 1991.
Mutadin, Zainun, “Kemandirian sebagai Kebutuhan Psikologis pada Remaja”, E. Psikologi 2002. http://e-psikologi.com/ par.5.
Basri, Hasan, Remaja Berkualitas Problematika Remaja dan Solusinya, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 1996.
Dowling, Marion, Young Children’s Personal, Social and Emotional Development, Second Edition. London: Paul Chapman Publishing, 2005
HIDAYAT, Muhammad. Studi Pengaruh Kemandirian Mahasiswa Yogyakarta Terhadap Perstasi Akademik: Respon 60 Mahasiswa/wi di Yogyakarta. Socius, [S.l.], v. 4, n.
2, p. 108-118, mar. 2018. ISSN 2442-8663.