• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH KEL 3

N/A
N/A
ERIYANA

Academic year: 2025

Membagikan "MAKALAH KEL 3"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

PENDIDIKAN KARAKTER

Mata Kuliah : Kapita Selekta Pendidikan Dosen Pengampu: Ayu Lestari,M.Pd

KELOMPOK 3 : 1. ERIYANA 2. DESNITA ARMY

3. FADILLAH ILMI QURANI 4. SARI

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH

UNIVERSITAS ISLAM AN NUR LAMPUNG

TAHUN AJARAN 2023/2024

(2)

KATA PENGANTAR

Rasa syukur kami panjatkan kepada Allah Swt., karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan selesai secara tepat waktu. Makalah ini kami beri judul “Mampu Memahami Pendidikan Karakter”. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas perkuliahan dari dosen pengampu.

Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk memberikan tambahan wawasan bagi kami sebagai penulis dan bagi para pembaca. Khususnya dalam hal manfaat pelaksanaan bimbingan kelompok sebagai upaya meningkatkan motivasi belajar siswa. Kami selaku penulis tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ayu Lestari, M.Pd selaku Dosen Pengampu. Tidak lupa bagi rekan rekan mahasiswa lain yang telah mendukung penyusunan makalah ini kami juga mengucapkan terima kasih.

Terakhir, kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sepenuhnya sempurna. Maka dari itu kami terbuka terhadap kritik dan saran yang bisa membangun kemampuan kami, agar pada tugas berikutnya bisa menulis makalah dengan lebih baik lagi. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kami dan para pembaca.

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...i

KATA PENGANTAR ...ii

DAFTAR ISI ...iii

BAB I PENDAHULUAN ...1

1.1 Latar belakang ...1

1.2 Rumusan masalah ...1

1.3 Tujuan ...2

BAB II PEMBAHASAN ...3

BAB III PENUTUP ...9

2.1 Kesimpulan ...9

2.2 Saran ...9

DAFTAR PUSTAKA ...10

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan tidak hanya mendidik para peserta didiknya untuk menjadi manusia yang cerdas, tetapi juga membangun kepribadiannya agar berakhlak mulia. Oleh karena itu pendidikan karakter sudah tentu menjadi penting untuk semua tingkatan, yakni dari sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi. Secara umum pendidikan karakter dimulai dari sejak dini, apabila karakter seseorang sudah terbentuk sejak dini, maka ketika dewasa tidak akan mudah berubah meski godaan atau rayuan datang begitu menggiurkan. Dengan adanya pendidikan karakter sejak dini, diharapkan dapat mencetak alumni yang unggul yakni para anak bangsa yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, mempunyai keahlian dibidangnya dan berkarakter.1

Sebagaimana diketahui bahwa anak merupakan amanat Allah SWT yang dititipkan kepada setiap orang tuanya. Orang tua dianjurkan untuk dapat mendidik anak-anaknya baik itu melalui lembaga pendidikan formal, informal atau nonformal. Dengan adanya pendidikan bagi anak tersebut, akan dapat menggali potensi anak yang ada sejak mereka dilahirkan.2

Tujuan dari pendidikan adalah untuk tercapainya suatu keberhasilan akademis. Selain itu tujuan lain yang tak kalah penting adalah bagaimana dapat tercapainya atau terbentuknya suatu karakter yang positif dalam diri siswa itu

1 Akhmad Muhaimin Azzet, Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia, (Yogyakarta: Ar- Ruzz Media, 2011), h.15 dan 16.

2 Ratna Nofita Sari, “Model Pendidikan Kedisiplinan di SMA IT Abu Bakar Yogyakarta”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011.

(5)

2 sendiri. Dunia pendidikan harus memberi peran penting dalam pembentukan karakter siswa dalam upaya menyiapkan generasi muda masa depan yang lebih baik.

Bila kita lihat saat ini di Indonesia banyak peristiwa yang terjadi seperti pelecehan seksual antar anak, kekerasan, tawuran bahkan pembunuhan yang semuanya dilakukan oleh anak usia sekolah, salah satunya disebabkan karena tidak terbentuknya suatu karakter yang diharapkan dari sebuah proses pendidikan. Disinilah peran lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat guru dan kurikulum dengan nilai-nilai karakter yang dimilikinya, dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan membangun generasi baru bangsa yang lebih baik. Oleh karena itu guru pendidikan agama Islam harus mampu mendesain lingkungan yang kondusif untuk menanamkan nilai-nilai agama.3 Sebagai alternatif yang bersifat preventif, pendidikan diharapkan dapat mampu mengembangkan kualitas generasi muda bangsa yang beriman, berkepribadian, unggul dan profesional sebagaimana dituntut dalam tujuan pendidikan dalam berbagai aspek sehingga dapat mengurangi dan memperkecil penyebab berbagai masalah budaya dan karakter bangsa. Seorang anak dalam mencari nilai-nilai hidup, harus mendapat bimbingan sepenuhnya dari pendidik, karena menurut ajaran Islam, saat anak dilahirkan dalam keadaan lemah dan suci/fitrah, dan alam disekitarnyalah yang akan memberi corak warna terhadap nilai hidup atas pendidikan seorang anak, khususnya pendidikan karakter. Rasulullah SAW bersabda:

3 M. Furqon Hidayatullah, Guru Sejati Membangun Insan Berkarakter Kuat & Cerdas, (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010), h. 89

(6)

3 Artinya: “Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulallah saw bersabda, “Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nashrani, dan Majusi”. (HR. Bukhori Muslim).4

Sedangkan karakter juga dapat diartikan sama dengan akhlak dan budi pekerti, sehingga karakter bangsa identik dengan akhlak bangsa atau budi pekerti bangsa. Bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang berakhlak dan berbudi pekerti, sebaliknya bangsa yang tidak berkarakter adalah bangsa yang tidak atau kurang berakhlak atau tidak memiliki standar norma dan perilaku yang baik. Dengan demikian, pendidikan karakter adalah usaha yang sungguh- sungguh untuk memahami, membentuk, memupuk nilai-nilai etika, baik untuk diri sendiri maupun untuk semua warga masyarakat atau warga negara secara keseluruhan.5

Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, dan bertindak.

Selain itu karakter merupakan prilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan

4803.

4Imam Al-Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, ( Jakarta, Pustaka imani, 2003 ), no.

(7)

4 perbuatan yang berdasarkan norma-norma agama, hukum, tatakrama, budaya dan adat istiadat. Orang yang prilakunya sesuai dengan norma-norma disebut berkarakter mulia.6

Karakter mulia adalah seorang individu yang memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, dan nilai- nilai lainnya. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik dan unggul dan individu yang mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut.7

Tenaga pendidik khususnya guru dalam pembentukan nilai-nilai karakter peserta didik memerlukan aneka ragam pengetahuan, teknik dan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi dan karakteristik peserta didik. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Zamroni :

“Proses globalisasi merupakan keharusan sejarah yang tidak mungkin dihindari, dengan segala berkah dan madhorotnya, bangsa dan Negara akan dapat memasuki era globalisasi dengan tegar apabila memiliki pendidikan yang berkualitas, terutama ditentukan oleh proses belajar mengajar yang berlangsung” 8.

Pendidikan merupakan sarana untuk menanamkan karakter-karakter yang sesuai dengan ajaran Islam. Pendidikan agama mempunyai kedudukan dan peranan yang penting dalam usaha pembentukan karakter bangsa.

6 Heri Gunawan, Pendidikan Karakter, Konsep dan Implementasi, ( Bandung: Alfabeta, 2001), h.4.

7 Ibid, h. 4.

8 Zamroni, Paradigma Pendidikan Masa Depan, (Yogyakarta: Bigraf Publishing, 2001),

(8)

5 Pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa, mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, mandiri serta dapat memilih kebutuhan pembangunan Nasional dan tanggung jawab antar pembangunan bangsa.

Dengan demikian dorongan pertumbuhan dan perkembangan kearah suatu tujuan atau fungsi yang dicita-citakan sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.20 tahun 2003 Tentang SISDIKNAS:

“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membangun watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung.jawab

(9)

6

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Pendidikan Karakter?

2. Apa Tujuan diadakannya Pendidikan Karakter?

1.3 Tujuan

Tujuan akhir dari pendidikan Islam adalah terbentuknya nilai-nilai karakter Islami pada diri masing-masing siswa yang dirumuskan dalam satu istilah yang disebut “insan kamil” ( manusia paripurna ). Tujuan akhir dari pendidikan Islam ini sesuai dengan tujuan hidup manusia dan peranannya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Dengan demikian indikator dari insan kamil tersebut adalah:

a. Menjadi Hamba Allah

9Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Undang-undang No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasioanal, (Jakarta: Panca Usaha Putra, 2003), h. 54

(10)

7 Tujuan ini sejalan dengan tujuan hidup dan penciptaan manusia, yaitu semata-mata untuk beribadah kepada Allah, mengenal Allah dan meng- EsakanNya. dalam hal ini pendidikan harus memungkinkan manusia memahami dan menghayati tentang tuhannya, sehingga semua bentuk peribadatannya dilakukan dengan penuh keikhlasan semata-mata karena Allah. Allah SWT berfirman:

Artinya:“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". ( Q.S. Luqman:13).10

Artinya:“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. ( Q.S. Adz-Dzariyat:56 )11 b. Mengajarkan Objek Didik Tentang Etika Islam yang Luhur dan Indah.

Pada dasarnya, seluruh ibadah yang diwajibkan oleh Allah atas hamba- Nya adalah untuk membentuk pribadi-pribadi mukmin yang soleh, menjadi insan-insan yang menjunjung tinggi nilai. Maka dengan hikmah yang didapat dari Allah. Allah SWT berfirman:

h. 523.

10 Ibid, h. 654.

11 Departemen Agama RI, Al Qur‟an dan Terjemahnya, ( Bandung: Diponogoro, 2005 )

(11)

8

Artinya: “ Perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada- Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya

(12)

9

BAB II PEMBAHASAN

A. PEMBAHASAN

Apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter? Pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha manusia secara sadar dan terencana untuk mendidik dan memberdayakan potensi peserta didik guna membangun karakter pribadinya sehingga dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.

Pendidikan karakter adalah suatu sistem pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada peserta didik yang di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai- nilai tersebut.

Pendidikan karakter (character education) sangat erat kaitannya dengan pendidikan moral dimana tujuannya adalah untuk membentuk dan melatih kemampuan individu secara terus menerus guna penyempurnaan diri kearah hidup yang lebih baik.

1. Hakikat Karakter

Menurut Simon Philips karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan. Sedangkan Doni Koesoema, memahami bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri, atau karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan. Sementara Winnie dalam quari memahami bahwa istilah karakter memiliki dua pengertian.

Pertama, ia menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan ‘personality’.

Seseorang baru bisa disebut ‘orang yang berkarakter’ (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral.

Dari pendapat di atas dipahami bahwa karakter itu berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi ‘positif’, bukan netral. Jadi, ‘orang berkarakter’

adalah orang yang mempunyai kualitas moral (tertentu) positif. Dengan demikian, pendidikan membangun karakter, secara implisit mengandung

(13)

10

arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau baik, bukan yang negatif atau buruk. Hal ini didukung oleh Peterson dan Seligman, yang mengaitkan secara langsung ’character strength’ dengan kebajikan. Character strength

dipandang sebagai unsur-unsur psikologis yang membangun kebajikan (virtues). 5

5 http://www.stp.dian-mandala.org/2011/09/16/pembentukan-karakter-melalui- pendidikan-oleh-dalifati-ziliwu/

(14)

11 2. Pengertian Karakter

Karakter berasal dari bahasa latin “kharakter”, “kharassein”,

“Kharax”, dalam bahasa inggris: charakter dan Indonesia “karakter”, Yunani Character, dari charassein yang berarti membuat tajam.6

Menurut kamus umum bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai tabiat atau watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain.7

Sementara dalam kamus sosiologi, karakter diartikan sebagai ciri khusus dari struktur dasar kepribadian seseorang (karakter; watak).8

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat dimaknai bahwa karakter adalah ciri khas seseorang dalam berperilaku yang membedakan dirinya dengan orang lain. Pengertian karakter, watak, kepribadian (personality), dan individu (individuality) memang sering tertukar dalam penggunaanya. Hal ini karena istilah tersebut memang memiliki kesamaan yakni sesuatu yang asli dalam diri individu seseorang yang cenderung menetap secara permanen.

6 Abdul Majid & Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2012), h. 11.

7 Ira M. Lapindus, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1982), h.

445.

8 Soerjono Soekanto, Kamus Sosiologi (Jakarta: Rajawali Pers, 1993), h. 74.

(15)

12 3. Pembentukan Karakter

Pembentukan Karakter Merupakan usaha atau suatu proses yang dilakukan untuk menanamkan hal positif pada anak yang bertujuan untuk membangun karakter yang sesuai dengan norma , dan kaidah moral dalam bermasyarakat. Ada tiga faktor yang sangat penting dalam proses pembentukan karkter anak yaitu faktor pendidikan (sekolah), lingkungan masyarakat, dan lingkungan keluarga.

Secara alami, sejak lahir sampai berusia tiga tahun, atau mungkin hingga sekitar lima tahun, kemampuan nalar seorang anak belum tumbuh sehingga pikiran bawah sadar (subconscious mind) masi terbuka dan menerima apa saja informasi dan stimulus yang dimasukkan ke dalamnya tanpa ada penyeleksian, mulai dari orang tua dan lingkungan keluarga. Dari mereka itulah, pondasi awal terbentuknya karakter sudah terbangun. Selanjutnya, semua pengalaman hidup yang berasal dari lingkungan kerabat, sekolah, televisi, internet, buku, majalah, dan berbagai sumber lainnya menambah pengetahuan yang akan mengantarkan seseorang memiliki kemampuan yang semakin besar untuk dapat menganalisis dan menalar objek luar.

Semakin banyak informasi yang diterima dan semakin matang sistem kepercayaan dan pola pikir yang terbentuk, maka semakin jelas tindakan, kebiasaan, dan karakter unik dari masing-masing individu. Dengan kata lain, setiap individu akhirnya memiliki sistem kepercayaan (belief system), citra diri (elf-image), kebiasaan (habit) yang unik. Jika sistem kepercayaanya benar dan selaras karakternya baik, dan konsep dirinya bagus, maka kehidupannya akan terus baik dan semakin membahagiakan. Sebaliknya jika sistem kepercayaanya tidak selaras, karakternya tidak baik, dan konsep dirinya buruk, maka hidupnya akan dipenuhi banyak permasalahan dan penderitaan.9

9 Abdul majid,Pendidikan Karskter perspektif Islam, ibid., hal 4.

(16)

13

Ryan & Lickona seperti yang dikutip Sri lestari 10 mengungkapkan bahwa nilai dasar yang menjadi landasan dalam membangun karakter adalah hormat (respect). Hormat tersebut mencakup respek pada diri sendiri, orang lain, semua bentuk kehidupan maupun lingkungan yang mempertahankannya.

Dengan memiliki hormat, maka individu memandang dirinya maupun orang lain sebagai sesuatu yang berharga dan memiliki hak yang sederajat.

Karakter kita terbentuk dari kebiasaan kita. Kebiasaan kita saat anak- anak biasanya bertahan sampai masa remaja. Orang tua bisa mempengaruhi baik atau buruk, pembentukan kebiasaan anak-anak mereka.11

Unsur terpenting dalam pembentukan karakter adalah pikiran karena pikiran yang di dalamnya terdapat seluruh program yang terbentuk dari pengalaman hidupnya, merupakan pelopor segalanya. Program ini kemudian membentuk sistem kepercayaan yang akhirnya dapat membentuk pola berpikir yang bisa mempengaruhi perilakunya.

Jika program yang tertanam tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran universal, maka perilakunya berjalan selaras dengan hukum alam.

Hasilnya, perilaku tersebut membawa ketenangan dan kebahagiaan.

Sebaliknya, jika program tersebut tidak sesuai dengan prinsip-prinsip universal, maka perilakunya membawa kerusakan dan menghasilkan penderitaan. Oleh karena itu pikiran harus mendapatkan perhatian serius.

10 Sri Lestari, Psikologi Keluarga Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam keluarga (Jakarta: Kencana, 2013), h. 96.

11 Thomas Lickona, Character Matters (Jakarta: Bumi Aksara, 2012) h 50.

(17)

14 4. Faktor- faktor Pembentukan Karakter

Karakter ialah Aki-psikis yang mengekspresikan diri dalam bentuk tingkah laku dan keseluruhan dari Aku manusia. Sebagian disebabkan bakat pembawaan dan sifat-sifat hereditas sejak lahir: sebagian lagi dipengaruhi oleh meleniu atau lingkungan. Karakter ini menampilkan Aku-nya manusia yang menyolok, yang karakteristik, yang unik dengan ciri-ciri individual.

Dalam Masnur Muslich dijelaskan bahwa karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah, nature) dan lingkungan (sosialisasi pendidikan, nurture).

Potensi karakter yang baik dimiliki manusia sebelum dilahirkan, tetapi potansi-potensi tersebut harus dibina melalui sosialisi dan pendidikan sejak usia dini.12

Karakter tidak terbentuk begitu saja, tetapi terbentuk melalui beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu: faktor biologis dan faktor lingkungan.

a. Faktor Biologis

Faktor biologis yaitu faktor yang berasal dari dalam diri orang itu sendiri.

Faktor ini berasal dari keturunan atau bawaan yang dibawa sejak lahir dan pengaruh keturunan dari salah satu sifat yang dimiliki salah satu dai keduanya.

b. Faktor lingkungan

Di samping faktor-faktor hereditas (faktor endogin) yang relatif konstan sifatnya, milieu yang terdiri antara lain atas lingkungan hidup, pendidikan, kondisi dan situasi hidup dan kondisi masyarakat (semuanya merupakan faktor eksogin) semuanya berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter.

12 Masnur Muslich, Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, h. 96.

(18)

15 5. Proses Pembentukan Karakter

Proses pembentukan karakter menurut beberapa ahli, sebagai berikut : a. Menurut ahli. Ratna Megawangi mengataan bahwa sebuah proses yang

berlangsung seumur hidup. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika ia tumbuh pada lingkungan yang berkarakter pula.

Sejatinya ada tiga pihak yang mempunyai peran penting terhadap sebuah pembentukan karakter anak yaitu: keluarga, sekolah, dan lingkungan. Ketiga pihak itulah yang harus memiliki sebuah hubungan yang sinergis.

b. Menurut Anis Matta dalam Membentuk Karakter Muslim menyebutkan beberapa kaidah dalam pembentukan karakter:

- Pertama, Kaidah kebertahapan. Dalam membentuk dan mengembangakan karakter itu tidak bisa secara instan ataupun terburu-buru dalam mendapatkan sebuah hasil.

- Kedua yaitu Kaidah Kesinambungan. Kalau kita lihat dari sudut sebuah pembiasaan ataupun latihan, walaupun hanya dengan porsi yang sedikit, yang terpenting adalah kesinambungannya atau continue.

- Ketiga, kaidah momentum yaitu berbagai momentum peristiwa untuk sebuah fungsi pendidikan dan latihan.

- Keempat, Kaidah Motovasi Instrinsik yaitu karakter yang kuat akan terbentuk sempurna jika yang menyertainnya benar-benar lahir dari dalam dirinya sendiri. Kelima Kaidah Pembimbingan, yaitu dalam pembentukan karakter ini tidak bisa dilakuka tanpa seorang guru/pembimbing. 13

13 http://www.jendelapendidikan.com/2017/03/proses-pembentukan-karakter.html

(19)

16 6. Lahkah – langkah Mengubah karakter

Dengan mengetahui tahapan, metoda dan proses pembentukan karakter, maka bisa diketahui bahwa akar dari perilaku atau karakter itu adalah cara berfikir dan cara merasa seseorang. Sehingga untuk mengubah karakter seseorang, kita bisa melakukan tiga langkah berikut :

- Langkah pertama adalah melakukan perbaikan dan pengembangan cara berfikir yang kemudian disebut terapi kognitif, dimana fikiran menjadi akar dari karakter seseorang.

- Langkah kedua adalah melakukan perbaikan dan pengembangan cara merasa yang disebut dengan terapi mental, karena mental adalah batang karakter yang menjadi sumber tenaga jiwa seseorang.

- Langkah ketiga adalah melakukan perbaikan dan pengembangan pada cara bertindak yang disebut dengan terapi fisik, yang mendorong fisik menjadi pelaksana dari arahan akal dan jiwa.

- Hidup di zaman modern ini semua serba ada, baik dan buruk, halal haram, benar salah nyaris campur menjadi satu, sulit untuk dibedakan. Maka sebaik-baik orang yang dapat memilah dan memilih suatu perbuatan yang baik, karena perbuatan baik ini akan berdampak pada perilaku manusia. 14

14 https://www.academia.edu/10103940/MAKALAH_PEMBENTUKAN_KARAKTER

(20)

15 Ibid., hal. 9

10

7. Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam membentuk karakter Dalam proses pembentukan karakter, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Diantara nya :

a. Pembiasaan tingkah laku sopan

Sopan santun atau etiket adalah akhlak yang bersifat lahir. Ukuran sopan santun terletak pada cara pandang suatu masyarakat. Oleh karena itu cara pandang sopan-santun dan sikap suatu daerah mungkin berbeda dengan cara pandang masyarakat yang lain. Sopan santun diperlukan ketika sesorang berkomunikasi dengan orang lain, dengan penekanan utama pertama kepada orang yang lebih tua atau guru atau atasan, kedua kepada orang yang lebih muda, anah buah, anak, murid, bawahan dan sebagainya, ketiga kepada orang yang setingkat atau sebaya, seusia atau setingkat status sosial.

Disamping itu sopan santun juga berlaku ketika berkomunikasi dengan kawan atau lawan. Komunikasi dengan lawan memerlukan kekuatan diplomatis yang lebih kuat dibandingkan dengan perilaku kasar. Kesopanan bisa menambat hati lawan, sebaliknya kekerasan akan menimbulkan dendam.

b. Kebersihan, kerapian dan ketertiban

Pengetahuan tentang hubungan kebersihan dengan lingkungan dibentuk melalui proses pendidikan, tetapi kepekaan terhadap kebersihan dibangun melalui proses pembiasaan sejak kecil.

Konsisitensi orang tua terhadap keharusan anak untuk cuci tangan sebelum makan, cuci kaki sebelum tidur, mandi dan gosok gigi secara tertur, menyapu lantai dan halaman rumah, 15

(21)

16 Ibid., hal. 9

11

buang sampah di tempat sampah, menempatkan sepatu ditempatnya, merapikan baju dan buku dikamarnya. Merapikan tempat tidur setiap bangun tidur, adalah merupakan pekerjaan membiasakan anak pada hidup bersih hingga kedasaran akan kebersihan itu menjadi bagian dari kepribadiannya.

Pada usia remaja kebersihan harus didukung oleh pengetahuan empirik, misalnya melihat benda dan air kotor, tangan kotor dan sebagainya dengan mikroskup sehingga bisa menyaksikan sendiri kuman-kuman penyakit pada sesuatu yang kotor tersebut. Adapun perilaku bersih pada masyarakat diwujudkan dengan pengaturan yang bersistem, misalnya sistem pemeliharaan kebersihan umum lengkap dengan sarana yang tesedia, sistem sanitasi, sistem pembuangan limbah ditempat umum kemusian didukung dengan peraturan yang menjamin kelangsungan hidup bersih dan tertib.

c. Kejujuran

Kejujuran merupakan sifat terpuji. Dalam bahasa arab disebut dengan istiah siddq dan amanah. Siddiq artinya benar, amanah artinya dapat dipercaya, ciri orang jujur adalah tidak suka bohong, meski demikian jujur yang berkonotasi positif berbeda dengan jujur dalam arti lugu dan polos. Dalam sifat amanah mengandung arti cerdas, yakni kejujuran yang disampaikan dengan bertanggung jawab. Jujur bukan berarti mengatakan semua yang diketahui apa adanya, tetapi mengatakan apa yang diketahui sepanjang mengandung kebaikan dan tidak menyebutnya jika diperkirakan memabawa akibat buruk bagi dirinya dan orang lain. 16

(22)

17 Ibid., hal. 9

12 d. Disipilin

Tingkah laku disiplin dilakukan karena mengikuti suatu komitmen.

Disiplin bisa berhubungan dengan kejujuran, bisa juga tidak. Kejujuran juga diwariskan oleh genetika orang tuannya, terutama ketika anak masih dalam kandungan, secara psikologis dapat menetas pada anaknya.

Keharmonisan orang tua didalam rumah akan sangat berpengaruh dalam membentuk watak dan kepribadian anak-anak pada umur perkembangannya. Ketika anak masih kecil, pantang orang tua bebohong kepada anaknya, karena kebohongan yang diarasakan oleh anak akan menimbulkan kegelisahan serta merusak tatanan psikologi seorang anak.

Pada anak usia kelas IV SD hingga SLTP, kejujuran sebaiknya dibiasakan sejalan dengan kedisplinan hidup, disiplin belajar, disiplin ibadah, displin bekerja membantu orang tua di rumah, disiplin keuangan dan dan disiplin agenda harian anak. Pada anak usia SMA kejujuran dan kedisiplinan yang ditanamkan harus sudah disertai alasan yang rasional, baik dalam kehidupan dalam rumah tangga, sekolah maupun dilingkungan masyarakat. Sistem punishment dan reward sudah bisa diterapkan secara rasional.

Pada usia mahasiswa, kejujuran dan kedisiplinan dinisyakan melalui pemberian kepercayaan dalam berbagai tanggungjawab.kepada mereka sudah ditekankan komitmen dan substansi, sementara prosedur dan teknik mungkin harus sudah diserahkan kepada seni dan kreatifitas mereka. 17

(23)

13 8. Nilai-nilai Karakter

Nilai – nilai karakter yang seharusnya dimiliki dan ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari dalam Muchlas Samani dan Hariyanto, yaitu: 18

18 Muchlas Samani & Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter (Bandung:

Remaja Rosdakarya, 2012), h. 47.

(24)

14

Untuk menegetahui apakah seorang anak telah memiliki karakter baik diperlukan penilaian. Evaluasi karakter merupakan suatu upaya untuk mengidentifikasi perkembangan capaian hirarki perilaku (karakter) dari waktu ke waktu melalui suatu identifikasi dan/atau pengamatan terhadap perilaku yang muncul dalam keseharian anak. Suatu karakter tidak dapat dinilai dalam satu waktu (one shot evaluation), tetapi harus diobservasi dan diidentifikasi secara terus menerus dalam keseharian anak, baik di kelas, sekolah, maupun rumah. Evaluasi di kelas melibatkan guru, peserta didik sendiri dan peserta didik lainya. Di rumah melibatkan peserta didik, orang tuanya (jika masi ada) atau walinya, kakak, dan adiknya (jika ada).19

19 Dharma Kesuma, dkk. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah (Bandung: Rosda karya, 2013), h. 141.

(25)

15

Marilah kita renungkan sejenak. Sebenarnya ungkapan tersebut sangat sesuai menggambarkan peran lingkungan dalam kehidupan kita.

Lingkungan sangat menentukan proses pembentukan karakter diri seseorang. Lingkungan yang positif bisa membentuk kita menjadi pribadi berkarakter positif, sebaliknya lingkungan yang negatif dan tidak sehat bisa membentuk pribadi yang negatif pula. Lingkungan memiliki peran yang sangat penting dalam membangun karakter-karakter individu yang ada di dalamnya.

Seorang anak kecil yang terbiasa berkata kotor, tentu saja ia meniru dari sekitarnya. Anda tidak perlu jauh-jauh mencari penyebab anak tersebut suka berkata kotor. Tentu saja itu adalah hasil meniru dari lingkungannya. Untuk mengatasinya, lebih baik anda mengatasi dari sumber masalahnya. Untuk menanggulangi penyakit, janganlah anda menunggu salah satu anggota keluarga anda sakit lantas mengobatinya.

Bukankah lebih baik anda mulai mengatur pola hidup sehat, sehingga penyakit tidak akan menyerang dan menjangkiti anda. Inilah yang dimaksud dengan mengatasi persoalan dari sumbernya. 20

20 http://www.pendidikankarakter.com/pentingnya-membangun-lingkungan-

berkarakter/

(26)

16 B. Kesimpulan

Pembentukan Karakter Merupakan usaha atau suatu proses yang dilakukan untuk menanamkan hal positif pada anak yang bertujuan untuk membangun karakter yang sesuai dengan norma , dan kaidah moral dalam bermasyarakat.

Ada tiga faktor yang sangat penting dalam proses pembentukan karkter anak yaitu faktor pendidikan (sekolah), lingkungan masyarakat, dan lingkungan keluarga.

Faktor-faktor yang membentuk karakter seseorang dipengaruhi oleh faktor biologis dan factor lingkungan, dan nanti nya akan ditentukan melalui suatu proses pembentukan karakter yang akan menunjukkan keterkaitan yang erat antara fikiran, perasaan dan tindakan. Dari fikiran terbentuk cara berfikir dan dari tubuh terbentuk cara berperilaku. Cara berfikir menjadi kepribadian, cara merasa menjadi pemikiran dan cara berperilaku menjadi karakter.

Dalam proses pembentukan karakter seseorang pasti akan menciptakan sebuah karakter yang positif dan negative, agar karakter dapat mengarah ke positif adalah melakukan perbaikan dan pengembangan cara berfikir, melakukan perbaikan dan pengembangan cara merasa, melakukan perbaikan dan pengembangan pada cara bertindak, dan dapat memilah dan memilih suatu perbuatan yang baik, karena perbuatan baik ini akan berdampak pada perilaku manusia.

(27)

17

DAFTAR PUSTAKA

- Agustiana, Siti Lulus. 2015. Hubungan latar belakang keluarga terhadap pembentukan karakter siswa di mts.wachid hasyim Surabaya.

Undergraduate thesis, Fakultas tarbiyah dan keguruan UIN Sunan Ampel Surabaya, Pages 18-56.

- Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008), hlm. 623

- Zainal Aqila dan Sujak, Panduan dan Aplikasi Pendidikan Karakter, (Bandung: Yram Widya, 2011), hlm. 3.

- Ad. Rooijakkers. 1991. Mengajar dengan Sukses. PT. Grasindo: Jakarta.

Anselm, dkk. 1997

- Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaktif Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm. 30-31.

- Sekolah Tinggi Pastorai Dian Mandala. “pembentukan karakter melalui pedidikan”. 04 november 2017. Tersedia dari :

http://www.stp.dian-mandala.org/2011/09/16/pembentukan-karakter- melalui-pendidikan-oleh-dalifati-ziliwu/

- Abdul Majid & Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2012), h. 11.

- Ira M. Lapindus, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1982), h. 445.

- Soerjono Soekanto, Kamus Sosiologi (Jakarta: Rajawali Pers, 1993), h. 74.

- Abdul majid,Pendidikan Karskter perspektif Islam, ibid., hal 4.

- Sri Lestari, Psikologi Keluarga Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam keluarga (Jakarta: Kencana, 2013), h. 96.

- Thomas Lickona, Character Matters (Jakarta: Bumi Aksara, 2012) h 50.

- Masnur Muslich, Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, h. 96.

(28)

18

- Jendela Pendidikan. “proses pembentukan karakter” . 04 november 2017.

Tersedia dari :

http://www.jendelapendidikan.com/2017/03/proses-pembentukan- karakter.html

- Havis alfiansyah. “Makalah pembentukan karakte”. 04 november 2017.

Tersedia dari :

https://www.academia.edu/10103940/MAKALAH_PEMBENTUKAN_K ARAKTER

- Muchlas Samani & Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), h. 47.

- Dharma Kesuma, dkk. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah (Bandung: Rosda karya, 2013), h. 141.

- Pendidikan Karakter. “pentingnya membangun lingkungan berkarakter”.

04 november 2017. Tersedia dari :

http://www.pendidikankarakter.com/pentingnya-membangun-lingkungan- berkarakter/

Referensi

Dokumen terkait

Karena dalam doktrin agama mementingkan proses, dan mengajarkan kepada kita untuk senantiasa melakukan perbaikan diri sesuai dengan kapasitas dan identitas biologis kita,

Setelah proses ujian proposal dilakukan, mahasiswa wajib melakukan proses bimbingan perbaikan bersama pembimbing sesuai dengan item-item perbaikan pada daftar perbaikan

(2013:7)Pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan, yang mengarah pada pembentukan budi pekerti dan akhlak mulia

Orang tua melakukan komunikasi antar pribadi dengan anaknya secara efektif akan dapat membentuk perilaku anaknya dalam hal ini mengarah kepada perilaku positif.. Pembentukan

Seandainya individu menghadapi alternative yang mengandung motif-motif atau resiko untung rugi atau positif negative yang sama kuatnya, dan proses pemilihan dan pengambilan

f) Waktu sekolah. Waktu sekolah adalah waktu terjadinya proses belajar mengajar di sekolah. Waktu sekolah juga mempengaruhi belajar siswa. Waktu belajar pagi hari adalah waktu yang

Di SMA Negeri 4 Pandeglang, proses pembelajaran Geografi mengarah pada upaya pembentukan karakter siswa peduli lingkungan melalui model pembelajaran yang aplikatif.. Selain itu

Selain itu, pemimpin motivator juga mampu menciptakan lingkngan kerja yang positif dan kondusif, sehingga anggota kelompoknya merasa nyaman dan termotivasi untuk bekerja