MAKALAH
KEPRIBADIAN SUATU INDIVIDU
DOSEN PENGAMPU : Ibu Suparmi, S.I.P., M.Pd.
DISUSUN OLEH : Kelas A Kelompok 4
Asya Izzati Virliana (K8523009) Azizah Nur Fitriana (K8523013) Azizah Siti Lathifah (K8523014) Hanum Syifa R (K8523039)
Karistya Tirta K (K8523047) Krisna Wahyu N (K8523053) Putri Rahmawati (K8523070) Rafa Azzahra F (K8523072)
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA TAHUN AJARAN 2023/2024
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Setiap individu mempunyai kepribadian akibat sosialisasi sejak lahir. Kepribadian mengacu pada penyesuaian sikap seseorang dalam tindakan, pikiran, dan perasaan terutama ketika berinteraksi dengan orang lain atau bereaksi terhadap suatu situasi sehingga pembahasan tentang kepribadian menjadi begitu menarik dan penting dalam sosiologi. Hal ini berkaitan dengan ciri-ciri perilaku sosial seseorang dan erat kaitannya dengan proses sosialisasi.
Kepribadian sebagai integrasi dari kecenderungan seseorang dalam merasakan, berperilaku, bertindak, dan berperilaku sosial. Dengan demikian, kepribadian memberikan karakter unik pada manusia dalam kehidupan sehari-hari. Kepribadian membentuk tingkah laku seseorang sehingga terlihat dalam berpikir, berbicara, atau bertindak. Kepribadian lebih pada kejiwaan manusia yang diwujudkan melalui perilaku. Setiap individu mempunyai kepribadian unik yang dapat dibedakan dengan individu lainnya mulai dari lingkungan keluarga, kelompok, hingga kehidupan masyarakat luas.
Kajian sosiologi dan antropologi memberikan sumbangan dan kontribusi dalam perumusan kebijakan, strategi, program, dan intervensi pendidikan bagi orang tua, pendidik, dan para pemimpin pendidikan sesuai dengan posisi dan peranan mereka. Setiap orang berada di dalam masyarakat dan sekaligus berada di dalam kebudayaan (Suyata, 2000). Setiap individu selalu berusaha mengarahkan dan memengaruhi anggotanya agar selalu mengikuti nilai, norma, dan adat istiadat agar individu tersebut berperilaku sesuai dengan harapan kelompoknya di mana ia tinggal, baik disengaja maupun tidak. Maka dari itu, terbentuklah kepribadian-kepribadian yang berbeda-beda dalam satu masyarakat. Misalnya, kepribadian orang Sunda berbeda dengan orang Batak berbeda pula dengan orang Jawa.
Pengalaman sosial setiap orang mungkin berbeda. Kepribadian yang tumbuh pada setiap orang tidaklah sama persis. Itu sebabnya kita bisa melihat beragam kepribadian yang ditunjukkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ada orang yang sabar, baik hati, pemarah, egois, atau rendah diri.
Semua itu bergantung pada pengadopsian, pemahaman, dan penilaian terhadap nilai-nilai dan norma- norma yang tumbuh dan berkembang di masyarakat.
BAB II
Kepribadian Suatu Individu 1.2 Kepribadian
1.2.1 Pengertian Kepribadian
Kepribadian adalah bagian dari jiwa yang membangun keberadaan manusia menjadi satu kesatuan, tidak terpecah belah dalam fungsi-fungsi (Hasanah, 2015). Kepribadian adalah integrasi keseluruhan kecenderungan seseorang untuk merasa, berkeinginan, berpikir, berperilaku, dan bertindak sesuai dengan standar etika perilaku tertentu. Kepribadian dijadikan pembahasan dalam ilmu pendidikan karena terwujud sebagai proses sosial dan hanya bisa mewujudkan diri dalam proses-proses interaksi sosial antarmanusia.
Kepribadian adalah bagian dari jiwa yang membangun keberadaan manusia. Menjadi satu kesatuan tidak terpecah belah dalam fungsi-fungsi. Memahami kepribadian berarti memahami diri atau memahami manusia seutuhnya. Pemahaman kepribadian sangat dipengaruhi oleh paradigma yang menjadi acuan dalam pengembangan teori psikologi kepribadian. Para ahli kepribadian memiliki paradigma masing-masing yang dapat memengaruhi pola pikirnya tentang kepribadian manusia secara sistematik. Ada beberapa istilah yang digunakan untuk menggambarkan kepribadian, diantaranya: Mentality, Personality, Individuality, dan Identity.
George Kelly (dalam Suryabrata, 2003) memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Sementara Gordon Allport merumuskan kepribadian sebagai sesuatu yang terdapat dalam diri individu yang membimbing dan memberi arah kepada seluruh tingkah laku individu yang bersangkutan. Lebih detail tentang definisi kepribadian menurut Allport (dalam Suryabrata, 2003), yaitu kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pikiran individu secara khas.
Kepribadian merupakan ciri khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain. Berikut beberapa ciri kepribadian menurut para ahli :
1. Menurut teori George Kelly (dalam Suryabrata, 2003), kepribadian seseorang adalah cara unik setiap individu dalam menafsirkan pengalaman hidupnya.
2. Menurut Gordon Allport (dalam Suryabrata, 2003) kepribadian adalah sesuatu dalam diri setiap individu yang membimbing dan juga memberi arah pada seluruh tingkah laku manusia.
3. Ciri-ciri kepribadian, antara lain seperti pemalu, agresif, pantang menyerah, malas, ambisius, dan setia.
4. Menurut Larsen dan Buss (2002), ciri-ciri kepribadian adalah seperangkat karakteristik psikologis individu yang terorganisir, relatif stabil, dan berpengaruh.
5. Penelitian Widhiarso (2012) dan Widhiarso dan Suhapti (2007) menunjukkan bahwa social fit dapat memengaruhi respon dalam skala psikologis.
Berdasarkan pengertian kepribadian menurut beberapa tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa kepribadian merupakan sikap, perasaan, ekspresi, perangai, sifat, dan perilaku umum seseorang.
1.2.2 Unsur-unsur kepribadian
Menurut pandangan ilmuan barat dalam psikologi kepribadian barat modern, pembahasan mengenai unsur-unsur kepribadian manusia dibicarakan oleh beberapa tokoh, sebagai berikut:
a) Menurut Sigmund Freud, (dalam Suryabrata, 1993) unsur kepribadian terdiri atas tiga sistem atau aspek, yaitu :
1. Id (das es) adalah sistem kepribadian biologis yang asli, berisikan sesuatu yang telah ada sejak lahir. Berorientasi kepada kesenangan yang merupakan sumber insting kehidupan atau dorongan biologis (makan, minum, tidur, dsb.) prinsip kesenangannya merujuk pada pencapaian kepuasan yang segera dari dorongan biologis tersebut.
2. Ego (das Ich) merupakan aksekutif atau manajer dari kepribadian yang membuat keputusan tentang insting-insting mana yang akan dipuaskan dan bagaimana caranya; atau sebagai sistem kepribadian yang terorganisasi, rasional dan berorientasi kepada prinsip realitas.
Peran utamanya sebagai mediator yang menjembatani antara id dengan kondisi dunia luar.
3. Super Ego (das uber ich) merupakan komponen moral kepribadian yang terkait dengan standar atau norma masyarakat mengenai baik- buruk dan benar-salah. Super ego bekerja untuk mengontrol diri sendiri, mencapai kesempurnaan kepribadian.
Unsur-unsur kepribadian ini membentuk kepribadian pada diri seseorang sehingga melahirkan tingkah laku atau perbuatan. Ketika ketiga unsur ini berjalan sesuai dengan fungsinya masing- masing, yaitu id membutuhkan pemenuhan kemudian ego mempertimbangkan apakah dipenuhi atau tidak sesuai dengan pertimbangan dari super ego berdasarkan norma-norma di suatu lingkungan atau masyarakat. Keputusan akhir dari pertimbangan super ego inilah yang menentukan suatu perbuatan pada diri seseorang sehingga terbentuklah kepribadian pada diri seseorang sesuai dengan tingkah laku atau perbuatan-perbuatan yang dilakukannya. Inilah proses pembentukan kepribadian berdasarkan id, ego, dan super ego menurut Sigmund Freud. Dengan demikian, pembentukan kepribadian menurut Sigmund Freud hanya terfokus kepada kebutuhan alami manusia kemudian insting yang berfungsi mempertimbangkan apakah dipenuhi atau tidak sesuai dengan norma-norma lingkungan.
b) Menurut Carl Rogers dalam (dalam Lawrence A. Perwin, 2015) unsur kepribadian terdiri dari dua aspek, yaitu:
1) Diri (The Self). Merupakan konsep diri, yang merepresentasikan pola persepsi yang terorganisasi dan konsisten. Individu memahami objek dan pengalaman eksternal dan memberikan makna kepada diri sendiri sehingga membentuk konsep diri. Walaupun diri selalu berubah, akan tetapi diri selalu mempertahankan kualitas yang telah berpola dan
terintegrasi sehingga menjadi karateristik seseorang. Dengan demikian, diri adalah unsur kepribadian.
2) Diri Ideal (Ideal Self). Diri ideal adalah konsep diri yang paling diinginkan oleh individual.
Konsep tersebut mencakup persepsi dan makna yang secara potensial relevan terhadap diri dan amat penting bagi individu tersebut. Dengan demikian, Rogers menyadari bahwa pandangan manusia akan diri sendiri mengandung dua komponen yang saling berlawanan yaitu, diri saat ini dan diri yang dilihat sebagai wujud ideal diri pada masa mendatang.
Berdasarkan kedua teori yang telah dikemukakan di atas dapat ditarik kesimpulan. Pertama, menurut teori psikoanalitis Freud, aspek-aspek yang membentuk dan memengaruhi kepribadian manusia terdiri dari dorongan biologis bawah sadar dan perkembangan karakter di usia awal sesuai pengalaman kehidupannya berdasarkan lingkungan tempat tinggal yang terdiri dari id, ego, dan super ego. Dengan demikian, menurut teori ini kepribadian manusia dibentuk oleh pengalamannya pada masa lalu yang kemudian menjadi karakter pada diri manusia yang kemudian membentuk unsur dalam diri manusia berupa id, ego, dan super ego yang selanjutnya ketiga unsur inilah sebagai komponen pembentuk kepribadian manusia.
Sebaliknya, menurut pendekatan fenomenologis Rogers, aspek- aspek kepribadian manusia terdiri dari persepsi sadar, perasaan berkaitan dengan interaksi sosial kemudian dijadikan dasar untuk memaknai diri sendiri sehingga membentuk konsep diri. Kemudian terbentuklah pribadi saat ini. Kemudian keinginan pribadi masa datang yang ideal sesuai dengan pandangannya terhadap lingkungan.
Motif aktualisasi diri dan proses perubahan terhadap diri (the self) adalah dalam rangka meraih diri ideal (ideal self). Dengan demikian, menurut teori ini, kepribadian manusia dibentuk oleh lingkungan tempat tinggal. Hasil dari interaksi-intaraksi dengan lingkungannya-lah yang memengaruhi dan membentuk kepribadian pada seseorang yang selanjutnya menjadi konsep diri sesuai dengan keinginannya.
1.2.3 Tipe kepribadian
Murray (dalam Rohman, 2009) membagi tipe kepribadian perserta didik khususnya anak usia dini menjadi beberapa macam, yaitu :
a) Autonomy, yaitu tipe kepribadian peserta didik yang ditandai dengan keinginan melakukan sesuatu secara sendiri bertindak dan berinisiatif sendiri, tidak senang dibantu orang lain, tidak senang disuruh-suruh.
b) Affiliation, yaitu tipe kepribadian peserta didik yang ditandai dengan senang bersama anak lain, suka bersahabat, suka memperbanyak teman, selalu ingin dekat dan bekerja sama dengan yang lain, saling membutuhkan dengan teman dan sahabatnya.
c) Succurance, yaitu tipe kepribadian peserta didik yang ditandai dengan sikap manja, ingin orang lain selalu membantunya, ingin selalu minta tolong, lebih senang kalau orang lain melayaninya.
d) Nurturrance, yaitu tipe kepribadian peserta didik yang ditandai dengan sikap pemurah, yakni senang memberi kepada teman, senang meminjamkan mainnya kepada teman, selalu membagi- bagi apa yang dimiliki kepada temannya.
e) Agression, yaitu tipe kepribadian peserta didik yang ditandai dengan sikap-sikap agresif, ingin menang sendiri, mudah tersinggung, cepat marah, jika diganggu akan menyerang balik dengan keras bahkan berlebihan.
f) Dominance, yaitu tipe kepribadian peserta didik yang ditandai dengan ingin menguasai atau mengatur teman, ingin tampil menonjol, cepat mengambil inisiatif untuk membangkitkan semangat kelompok, ingin menjadi ketua atau pengurus kelas
Menurut Schermerhorn, Hunt, Osborn, (2005) membagi karakteristik individu menjadi:
1. Tempat kendali, berkaitan dengan sejauh mana seseorang dapat mengendalikan nasibnya dilihat dari orientasi eksternal dan internal
2. Otoritarianisme/Dogmatisme, terkait dengan gagasan bahwa harus ada perbedaan status dan kekuasaan antara orang-orang dalam suatu organisasi. Kepribadian orang-orang yang menganut cara pandang ini akan cenderung kaku sehingga kurang cocok untuk pekerjaan yang memerlukan kepekaan terhadap emosi orang lain atau pekerjaan yang memerlukan adaptasi terhadap perubahan lingkungan. Dogmatisme diasosiasikan dengan ancaman yang datang dari rasa hormat eksternal terhadap keharusan kategoris.
3. Mekanisme, mengacu pada sejauh mana seseorang bersikap pragmatis, menjaga jarak emosional, dan percaya bahwa tujuan menghalalkan segala cara.
4. Pemantauan diri berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk beradaptasi
1.2.4 Faktor-faktor yang memengaruhi kepribadian
Terbentuknya kepribadian seseorang dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Ada dua faktor utama yang memengaruhi kepribadian seseorang dalam hidupnya menurut Sjarkawi (2008), yaitu:
1. Faktor internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari diri orang itu sendiri, biasanya bersifat genetik atau bawaan. Keturunan merupakan suatu faktor yang bersifat bawaan sejak lahir dan merupakan pengaruh pewarisan sifat yang dimiliki oleh salah satu orang tua atau gabungan sifat- sifat yang dimiliki oleh orang tua baik ayah maupun ibu.
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri seseorang, umumnya merupakan pengaruh dari lingkungan manusia, mulai dari lingkungan kecil seperti keluarga, teman, tetangga, hingga pengaruh media audio visual seperti televisi, VCD, Internet, atau media cetak.
Menurut Gibson (dalam Simbolon, 2008) mengemukakan bahwa kepribadian dipengaruhi oleh faktor-faktor yaitu bawaan, keluarga, kebudayaan, dan kelas sosial serta keanegotaannya dengan kelompok vang Iain
1.2.5 Proses pembentukan kepribadian
Proses pembentukan kepribadian merupakan proses yang kompleks yang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti lingkungan keluarga, teman bermain, sosial, dan sekolah.
1) Proses ini diawali dengan proses sosialisasi yang baik di lingkungannya. Selain itu, faktor genetik, lingkungan, dan pengalaman hidup juga dapat memengaruhi perkembangan kepribadian seseorang.
2) Menurut Eysenck (1997), struktur kepribadian terdiri atas empat bagian, yaitu specific response, habitual response, trait, dan type. Proses pembentukan kepribadian melibatkan pembelajaran, pengalaman, serta interaksi sosial.
3) Lingkungan juga memengaruhi proses pembentukan kepribadian, di mana karakter individu terfokus pada lingkungan sehingga orang tua dan lingkungan sekitar berperan penting dalam memberikan pengaruh positif pada proses pembentukan kepribadian sejak usia dini untuk memberikan suatu aspek pada lingkungan dan sebaliknya.
BAB III PENUTUP
1.3 Kesimpulan
Dari beberapa pemaparan mengenai kepribadian diatas, penulis mempunyai beberapa kesimpulan, yaitu :
1. Kepribadian adalah kepribadian adalah sikap, perasaan, ekspresi, perangai, sifat, dan perilaku umum seseorang.
2. Unsur-unsur kepribadian menurut teori psikoanalitis Freud, aspek-aspek yang membentuk dan memengaruhi kepribadian manusia terdiri dari dorongan biologis bawah sadar dan perkembangan karakter sejak usia awal sesuai pengalaman kehidupannya yang terdiri dari id, ego dan super ego.
Kemudian, menurut pendekatan fenomenologis Rogers aspek- aspek kepribadian manusia terdiri dari kesadaran yang berkaitan dengan interaksi sosial sehingga membentuk konsep diri yaitu unsur diri (the self) dan (ideal self).
3. Faktor-faktor yang memengaruhi kepribadian adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal bersifat genetik atau bawaan sejak lahir dari orang tua, sedangkan faktor eksternal berasal dari pengaruh lingkungan sekitar manusia itu sendiri seperti keluarga, teman, dan sebagainya.
4. Proses pembentukan kepribadian dimulai dengan proses sosialisasi di lingkungan sekitar.
Perkembangannya juga dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, dan pengalaman hidup.
Pengembangan kepribadian dan karakter seseorang terfokus pada lingkungan di mana ia tumbuh, sehingga orang tua dan lingkungan sekitar adalah faktor penting dalam membentuk kepribadian seseorang.
DAFTAR PUSTAKA
Hasanah, M. (2015). Dinamika Kepribadian Menurut Psikologi Islami. Jurnal Ummul Qura, 2.
DINAMIKA KEPRIBADIAN MENURUT PSIKOLOGI ISLAMI | Ummul Qura Jurnal Institut Pesantren Sunan Drajat (INSUD) Lamongan
Larsen, R.J., & Buss, D.M. (2002). Personality psychology: Domain of knowledge about human nature.
New York: McGraw Hill.
Rohman, A. (2009). Memahami pendidikan dan ilmu pendidikan. Yogyakarta: Laksbang Mediatama.
Schermerhorn, Hunt, Osborn. (2005). Organizational Behavior l'tinth Edition. John Wiley & Sons. lnc.
America.
Simbolon, M. (2008). Persepsi dan Kepribadian. EKONOMIS: Jurnal Ekonomi dan Bisnis. PERSEPSI DAN KEPRIBADIAN - CORE
Suryabrata, S. (1993). Psikologi Kepribadian, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Suyata. (2000). Sosio-Antropologi Pendidikan. Modul Perkuliahan.
Widhiarso, W. (2012). Mendeteksi Respon Error Pada Skala Psikologi melalui Respons Kepatutan Sosial.
Jurnal Penelitian, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. (15) Mendeteksi Respons Eror pada Skala Psikologi melalui Respons Kepatutan Sosial | Wahyu Widhiarso - Academia.edu
Widhiarso, W., & Suhapti, R. (2007). Eksplorasi Karakteristik Aitem Skala Psikologis Yang Rentan Terhadap Tipuan Respon. Jurnal Penelitian, Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Eksplorasi Karakteristik Item Skala Psikologis yang Rentan terhadap Tipuan Respon | Widhiarso | Jurnal Psikologi (ugm.ac.id)
Sjarkawi. (2008). Pembentukan Kepribadian Anak. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Pengaruh Pola Asuh Orang Tua dan Lingkungan Terhadap Kepribadian Anak
Program Studi Teknologi Pendidikan Falkutas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret
Abstract
Humans have unique qualities, which make them different and unique. These qualities include qualities, attitudes and behaviors. Parents play an important role in the development of their children within the family environment. The environment they live in influences the personality of their children. Schools also play an important role in shaping a child's personality. Education plays an important role in shaping their character. In addition, the environment around them, such as family, friends, and society, also plays an important role in their personality development. This study aims to analyze the influence of parenting and environment on children's personality. This research uses a grounded theory method that uses literature data: the research analyzes written literature, especially books and scientific journals, as the main source relevant to the research subject. Parents need to apply good attitudes and behaviors for the process of developing a good child's personality. The good and bad behavior patterns of parents will indirectly be imitated by children. This will affect the development of the child's personality. The conclusion from the results of this literature review is that a person's personality is influenced by several factors such as parenting and the surrounding environment, parents should pay attention to good parenting and create a conducive environment so that children can grow into a good person.
Keywords: personality, parenting, environment
Intisari
Manusia memiliki kualitas yang unik, yang membuat mereka berbeda dan unik. Kualitas ini termasuk kualitas, sikap, dan perilaku. Orang tua memainkan peran penting dalam perkembangan anak-anak mereka di dalam lingkungan keluarga. Lingkungan tempat tinggal mereka mempengaruhi kepribadian anak-anak mereka. Sekolah juga memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian anak. Pendidikan berperan penting dalam membentuk karakter mereka. Selain itu, lingkungan di sekitar mereka, seperti keluarga, teman, dan masyarakat, juga berperan penting dalam perkembangan kepribadian mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya pengaruh pola asuh orang tua dan lingkungan terhadap kepribadian anak. Penelitian ini menggunakan metode teori dasar yang menggunakan data kepustakaan: penelitian menganalisis literatur tertulis, terutama buku dan jurnal ilmiah, sebagai sumber utama yang relevan dengan subjek penelitian. Orang tua perlu menerapkan sikap dan perilaku yang baik demi proses mengembangkan kepribadian anak yang baik. Baik buruknya pola perilaku orang tua secara tidak langsung akan ditiru oleh anak. Ini akan berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak. Kesimpulan dari hasil tinjauan
pustaka ini adalah kepribadian seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola asuh orang tua dan lingkungan sekitar, orang tua hendaknya memperhatikan pola asuh yang baik dan menciptakan lingkungan yang kondusif agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Kata Kunci: kepribadian, pola asuh, lingkungan
I. PENDAHULUAN
Kepribadian berasal dari kata personality yaitu kedok atau topeng, yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak atau pribadi seseorang, hal itu dilakukan oleh karena terdapat ciri-ciri yang khas yang hanya dimiliki oleh seseorang tersebut baik dalam arti kepribadian baik ataupun kurang baik (Agus, 2001:10).
Manusia memiliki kualitas yang unik, yang membuat mereka berbeda dan unik. Kualitas ini termasuk kualitas, sikap, dan perilaku. Orang tua memainkan peran penting dalam perkembangan anak- anak mereka di dalam lingkungan keluarga. Lingkungan tempat tinggal mereka mempengaruhi kepribadian anak-anak mereka. Sekolah juga memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian anak.
Pendidikan, terutama dalam bentuk buku, memainkan peran penting dalam membentuk karakter mereka.
Selain itu, lingkungan di sekitar mereka, seperti keluarga, teman, dan masyarakat, juga berperan penting dalam perkembangan kepribadian mereka.
II. KAJIAN TEORI i. Kepribadian Anak
Kepribadian merupakan apa yang menentukan perilaku dalam situasi yang ditetapkan dan dalam kesadaran jiwa yang ditetapkan. Dalam bahasa populernya, istilah “kepribadian” juga berarti ciri-ciri watak seseorang individu yang kosisten, yang memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khusus. Jika dalam bahasa sehari-hari kita anggap bahwa seseorang mempunyai kepribadian, yang kita maksudkan adalah orang tersebut memiliki beberapa ciri watak yang diperlihatkannya secara lahir, konsisten, dan konsekuen dalam tingkah lakunya, sehingga tampak bahwa individu tersebut memiliki identitas khusus yang berbeda dari individu lainnya (Alex Sobur, 2003:300).
ii. Pola Asuh Orang Tua
Teori yang dikaji dalam beberapa penelitian adalah teori gaya pengasuhan anak. Teori ini menyatakan bahwa gaya pengasuhan yang berbeda, seperti otoritatif, otoriter, permisif, dan penelantar, memiliki efek yang berbeda pada perkembangan anak, termasuk kepribadian mereka. Menurut Bimo Walgito pola asuh diartikan sebagai sikap kontrol seseorang (lebih tertuju kepada sikap kontrol orang tua terhadap anak) dalam memberikan bimbingan kepada yang diasuh. Hurlock (dalam Bimo Walgito, 2004:215) berpendapat bahwa ada tiga macam sikap sebagai cara kontrol orang tua terhadap anak yaitu otoriter, demokratis dan permisif.
Syamsu Yusuf (2004:35) mengemukakan bahwa pola hubungan orangtua dan anak (sikap atau perlakuan orang tua dan anak) merupakan bentuk perlakuan orangtua terhadap anak-anaknya dirumah yang akan mempunyai hubungan tersendiri terhadap kepribadian anak. Perlakuan orang tua acceptance atau penerimaan merupakan yang baik untuk dimilki atau dikembangkan oleh orang tua. Sikap seperti ini ternyata telah memberikan kontribusi kepada pengembangan kepribadian anak sehat.
iii. Lingkungan
Menurut Dalyono (2005:59) bahwa “Keadaan sekolah tempat belajar yang mempengaruhi tingkat keberhasilan belajar”. Lingkungan sekolah merupakan lingkungan kedua setelah lingkungan keluarga dalam mendidik anak. Lingkungan sekolah yang efektif adalah lingkungan belajar yang dibangun untuk membantu siswa untuk meningkatkan produktifitas belajar sehingga proses balajar mengajar tercapai sesuai dengan yang diinginkan. Sarana dan prasarana yang ada di sekolah harus mampu memberikan layanan yang memuaskan bagi anak didik untuk berinteraksi dan hidup di dalamnya.
Dalyono (2005: 130) berpendapat bahwa tingkat pendidikan masyarakat sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan rohaniah anak terutama kepribadian dan kemajuan pendidikan. Masyarakat dengan latar belakang pendidikan yang baik akan memiliki pengetahuan, pengalaman, dan cita-cita yang lebih baik untuk pendidikan anaknya bila dibandingkan dengan orang tua dengan latar belakang pendidikan kurang baik. Anak dari keluarga berpendidikan baik akan menghasilkan anak yang berpendidikan baik pula (Dalyono, 2005: 130).
III. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan, yang merupakan langkah awal dalam metode pengumpulan data. Menurut Sugiyono (2005:83), studi kepustakaan adalah metode pengumpulan data yang berfokus pada pencarian data dan informasi melalui dokumen-dokumen, termasuk dokumen tertulis, foto, gambar, dan dokumen elektronik yang dapat digunakan untuk mendukung proses penulisan. Penelitian ini melibatkan beberapa temuan penelitian yang dikumpulkan melalui penulisan Google Scholar. Penelitian ini menggunakan metode teori dasar yang menggunakan data kepustakaan: penelitian menganalisis literatur tertulis, terutama buku dan jurnal ilmiah, sebagai sumber utama yang relevan dengan subjek penelitian.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya pengaruh pola asuh orang tua dan lingkungan terhadap kepribadian anak.
IV. PEMBAHASAN
Kepribadian anak berkembang sesuai dengan apa yang dilihat dan belajar dari orang-orang di sekitar anak. Oleh karena itu, orang tua perlu menerapkan sikap dan perilaku yang baik demi proses mengembangkan kepribadian anak yang baik. Baik buruknya pola perilaku orang tua secara tidak langsung akan ditiru oleh anak. Ini akan berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak.
Pola asuh orang tua memiliki pengaruh yang besar terhadap pembentukan kepribadian anak. Pola asuh yang diterapkan berperan penting dalam pertumbuhan karakter anak karena anak cenderung meniru perilaku orang tua mereka. Pola asuh yang diterima seorang anak sejak kecil membentuk kepribadiannya.
Anak-anak yang diasuh dengan cara yang baik akan memiliki kepribadian yang baik dan disukai oleh orang lain. Sebaliknya, anak-anak yang diasuh dengan cara yang salah akan memiliki kepribadian yang buruk dan cenderung bermasalah. Pola asuh orang tua juga dapat mempengaruhi seberapa baik anak belajar. Orang tua yang baik dapat membantu anak mereka belajar lebih baik. Orang tua harus memperhatikan perkembangan anak dan memantau setiap perilakunya agar anak meniru sikap positif orang tua.
Orang tua menentukan otoriter dan demokratis adalah hal yang dikerjakan adalah anak harus melakukan sesuatu aktivitas. Anak diberi kesempatan untuk memberikan alasan sebelum hukuman diterima oleh anak.
Demokratis diberikan berkaitan dengan perbuatannya dan berat ringannya hukuman tergantung kepada pelanggarannya. Hadiah dan pujian diberikan oleh orang tua untuk perilaku yang diharapkan. Permisif adalah aturan yang diberikan oleh orang tua bahwa anak diperkenankan berbuat sesuai dengan hukuman dan hukuman karena tidak adalah ketentuan atau peraturan yang dilanggar.
Lingkungan memiliki peran sentral dalam pembentukan karakter anak, baik itu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Orang tua harus menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif bagi anak, sedangkan guru dan staf di sekolah harus menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman dalam proses pembelajaran. Relasi teman sebaya juga mempengaruhi pembentukan karakter anak, sehingga teman yang baik sangat dibutuhkan dalam perkembangan sosial anak usia dini. Lingkungan masyarakat juga mempengaruhi pembentukan karakter anak, di mana anak yang hidup di lingkungan yang kondusif akan memiliki karakter yang berbeda dengan anak yang hidup di lingkungan yang tidak kondusif.
Saat orang tua mereka menjaga anak, harus memastikan bahwa lingkungan mereka aman untuk anak dan mengurangi pengaruh negatif. Mereka juga harus memperhatikan pola asuh yang baik agar anak tumbuh menjadi individu yang baik. Anak-anak di sekolah harus diberikan kegiatan ekstrakurikuler dan lingkungan belajar yang menyenangkan untuk membangun keterampilan sosial dan emosional yang baik.
V. PENUTUP
Kesimpulan dari hasil tinjauan pustaka ini adalah kepribadian seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola asuh orang tua dan lingkungan sekitar. Pola asuh orang tua mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan kepribadian anak, karena anak cenderung meniru perilaku orang tuanya. Pola asuh yang diterima seorang anak sejak kecil membentuk kepribadiannya. Anak-anak yang diasuh dengan cara yang baik akan memiliki kepribadian yang baik dan disukai oleh orang lain. Sebaliknya, anak-anak yang diasuh dengan cara yang salah akan memiliki kepribadian yang buruk dan cenderung bermasalah.
Lingkungan juga memegang peranan penting dalam perkembangan karakter anak, baik itu lingkungan keluarga, sekolah, atau masyarakat. Orang tua harus menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif bagi anaknya, sedangkan guru dan staf sekolah harus menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman untuk
belajar. Hubungan dengan teman sebaya juga mempengaruhi perkembangan karakter anak, oleh karena itu sahabat yang baik sangat diperlukan dalam perkembangan sosial anak usia dini. Lingkungan masyarakat juga mempengaruhi perkembangan karakter seorang anak, anak yang tinggal di lingkungan yang mendukung berbeda dengan anak yang tinggal di lingkungan yang kurang baik. Oleh karena itu, orang tua hendaknya memperhatikan pola asuh yang baik dan menciptakan lingkungan yang kondusif agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Abdi, K., & Anom, E. (2023). Pola Komunikasi Orang Tua Dalam Membentuk Kepribadian Anak Di Kepenghuluan Panipahan Darat Kecamatan Pasir Limau Kapas. FIKROTUNA: Jurnal Pendidikan
Dan Manajemen Islam, 16(02), 252–269.
http://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/fikrotuna/article/view/6270
Dalyono. (2005). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Idris, D. M., & Usman. (2019). Peranan Pendidikan Akhlak dalam Mengembangkan Kepribadian Peserta Didik di Madrasah Aliyah Negeri 1 Parepare. Al-Musannif, 1(2), 77-95.
https://www.jurnal.mtsddicilellang.sch.id/index.php/almusannif/article/view/29
Leniwati. (2022). PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KEPRIBADIAN ANAK USIA 11 TAHUN DIDESA TAMBUSAI UTARA RT 02. RW 03 KABUPATEN ROKAN HULU. Jurnal
Hikmah: Jurnal Pendidikan Islam, 11(1) 227-235.
https://ojs.staituankutambusai.ac.id/index.php/hikmah/article/view/417
Sobur, A. (2003). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Soelaeman. (2001). Pendidikan Keluarga. Bandung: Alfabeta.
Sujanto, A. (2001). Psikologi Kepribadian. Jakarta: Bumi Aksara.
Walgito, B. (2004). Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Yogyakarta.
Yusuf, S. (2006). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Zahroh, S., & Na'imah. (2020). PERAN LINGKUNGAN SOSIAL TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK USIA DINI DI JOGJA GREEN SCHOOL. Jurnal PG-PAUD Trunojoyo : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Anak Usia Dini, 7(1), 1-9.
https://journal.trunojoyo.ac.id/pgpaudtrunojoyo/article/view/6293