• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL “Perspektif Tentang Keabnormalan”

N/A
N/A
Nurul Rasaki

Academic year: 2024

Membagikan "MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL “Perspektif Tentang Keabnormalan”"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

PSIKOLOGI ABNORMAL

“Perspektif Tentang Keabnormalan”

Dosen Pengampu:

Dr. Puji Gusri Handayani, S.Pd., M.Pd. Kons.

Oleh Kelompok 2:

Citra Maharani 21006006

Diif Defia Putri 21006010

Masdaliva Harahap 21006016

Muhammad Iqbal Irsyadi 21006070

DEPARTEMEN BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2023

(2)

i

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat kesehatan baik lahir maupun batin sehingga penulis dapat menyusun makalah ini dengan judul “Perspektif tentang Keabnormalan” pada mata kuliah Psikologi Abnormal. Tidak lupa shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai risalah untuk umat manusia di seluruh dunia. Selanjutnya kami mengucapkan terima kasih kepada Dr. Puji Gusri Handayani, S.Pd., M.Pd. Kons, sebagai dosen mata kuliah Psikologi Abnormal Departemen Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang.

Pada penyusunan makalah ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini di masa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat dalam menambah wawasan dan pengetahuan bagi para pembaca dan khususnya bagi penulis.

Padang, 10 September 2023

Kelompok

(3)

ii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 1

C. Tujuan Pembahasan ... 1

BAB II PEMBAHASAN ... 2

A. Perspektif Klasik Tentang Kabnormalan ... 2

B. Perspektif Kontemporer Tentang Keabnormalan (psikodinamika, psikososial, psikologi belajar, psikologi humanistik dan neuroscience). ... 3

1. Psikodinamika ... 3

2. Psikososial ... 4

3. Psikologi Belajar ... 4

4. Psikologi Humanistik ... 5

5. Neuroscience ... 6

BAB III PENUTUP ... 7

A. KESIMPULAN ... 7

B. SARAN ... 7

DAFTAR PUSTAKA ... 8

(4)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perspektif adalah kumpulan asumsi atau prediksi tentang sesuatu, dengan harapan bahwa seseorang akan mengkomunikasikan sesuatu itu dengan cara tertentu.

Perspektif adalah pilihan ketika melakukan suatu tindakan pada objek yang bergerak dalam ruang yang mengembang seperti yang ditunjukkan oleh mata tiga dimensi.

Pada dasarnya, gangguan tingkah laku adalah pola tingkah laku anak atau remaja yang berulang dan menetap dimana terjadi pelanggaran norma-norma sosial dan peraturan utama setempat. Gangguan tingkah laku tersebut mencakup perusakan benda, pencurian, berbohong berulang-ulang, pelanggaran serius terhadap peraturan, dan kekerasan terhadap hewan atau orang lain. Etiologi gangguan tingkah laku meliputi psikodinamika, faktor sosial, dinamika keluarga, pengelolaan jasmaniah yang tidak wajar dan biologis.

Sebelum mengklasifikasikan adanya gangguan perilaku pada usia anak-anak atau remaja, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengetahui apa yang dianggap normal pada usia tersebut. Untuk menentukan apa yang normal dan apa yang terganggu, khusus pada anak dan remaja yang perlu ditambahkan selain kriteria umum yang telah kita ketahui adalah faktor usia anak dan latar belakang budaya.

Banyak masalah yang pertama kali teridentifikasi pada saat anak masuk sekolah.

Masalah tersebut mungkin sudah muncul lebih awal tetapi masih ditoleransi, atau tidak dianggap sebagai masalah ketika di rumah. Kadang-kadang stres karena pertama kali masuk sekolah ikut mempengaruhi kemunculannya (onset). Namun, perlu diingat bahwa apa yang secara sosial dapat diterima pada usia tertentu, menjadi tidak dapat diterima di usia yang lebih besar. Banyak pola perilaku yang mungkin dianggap abnormal pada masa dewasa,dianggap normal pada usia tertentu.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana perspektif klasik dalam keabnormalan?

2. Bagaimana perspektif kontemporer dalam keabnoramalan?

C. Tujuan Pembahasan

1. Untuk mengetahui perspektif klasik dalam keabnormalan 2. Untuk mengetahui perspektif kontemporer dalam keabnormalan

(5)

2

BAB II PEMBAHASAN A. Perspektif Klasik Tentang Kabnormalan

Jeffrey, dkk (2005: 9), pada zaman prasejarah percaya bahwa perilaku abnormal merefleksikan invasi dari roh-roh jahat yang masuk kedalam jiwa seseorang. Model yang diturunkan dari teori psikoanalisis, bahwa aneka situasi menekan yang mengancam akan menimbulkan kecemasan dalam diri seseorang.

Kecemasan ini berfungsi sebagai peringatan bahaya sekaligus merupakan kondisi tak menyenangkan yang perlu diatasi. Jika individu mampu mengatasi sumber tekanan (stressor), kecemasan akan hilang. Sebaliknya jika gagaldan kecemasan terus mengancam mungkin dengan intensitas yang meningkat pula, maka individu akan menggunakan salah satu atau beberapa bentuk mekanisme pertahanan diri. Langkah ini secara superfinansial dapat membebaskan individu dari kecemasannya namun akibatnya dapat timbul kesenjangan. antara pengalaman individu dan realitas (Supratiknya, 1995:18).

Fitriyah (2014:48), menyatakan dalam psikoanalisis klasik Kenormalan individu terjadi jika id, ego, dan super ego berjalan dengan keseimbangan yang baik.

Sudut pandang psikoanalisis klasik, keabnormalan tingkah laku terjadi karena tidak tersalurkan nya dorongan keinginan dari alam bawah sadar individu dan akan menimbulkan gangguan kejiwaan yang disebut psikoneurosis dan mekanisme pertahanan diri yang tidak sehat dapat menyebabkan perilaku abnormal dan masalah emosional lainnya.

Gerald, (2006: 39), menyatakan Freud berpendapat bahwa phobia dan ketakutan irasional lainnya, dan penghindaran terhadap objek atau situasi yang tidak berbahaya disebabkan oleh konflik oedipal yang tidak teratasi sama dengan hal itu obsesif kompulsif dapat ditelusuri ke tahap anal, dengan dorongan bermain kotoran atau berperilaku agresif diubah melalui formasi reaksi menjadi tindakan kompulsif terhadap kebersihan.

Freud membagi pikiran atau psyche, menjadi tiga bagian utama, yaitu id,ego,dan superego. Ketiganya merupakan metafora fungsi-fungsi atau energi spesifik. Id muncul pada saat seseorang dilahirkan dan merupakan bagian pikiran yang bertanggung jawab atas semua energi yang dibutuhkan untuk mengaktifkan psyche. Id mencari kepuasan langsung, bekerja berdasarkan apa yang disebut Freud sebagai prinsip kenikmatan (Pleasure principle). Jika id tidak terpuaskan, terjadi

(6)

3

ketegangan dan id haruslah menghilangkan ketegangan tersebut secepat mugkin.

Bagian Psyche yang muncul terakhir adalah superego, yang bekerja disekitar kesadarn dan berkembang selama masa kanak-kanak. Freud percaya bahwa super ego berkembangng drai ego,seperti ego berkembang dari id.

Freud berasumsi bahwa sebagian besar perilaku manusia ditentukan oleh kekuatan-kekuatan yang tidak dapat dikases oleh kesadaran. Freud menganggap bahwa represi impuls id akan menyebabkan kecemasan neurotik, kita sering mendengar tudingan bahwa para pengikut berkotbah tentang pemuasan impuls-impuls sebanyak mungkin agar sesorang tidak menjadi neurotik. Freud percaya bahwa berbagai berbagai bentuk psikopatologi diakibatkan oleh berbagi dorongan yang kuat atau insting id yang mengawali tahap perkembangan konflik-konflik yang tidak disadai yang terkait dengan tahap psikosesksual tertentu, Ferud juga berasumsi bahwa penyebab lingkungan dari masalah histerikal para pasiennya adalah penyiksaan seksual dimasa kanak- kanak, umumnya diperkosa oleh sang ayah.

B. Perspektif Kontemporer Tentang Keabnormalan (psikodinamika, psikososial, psikologi belajar, psikologi humanistik dan neuroscience).

1. Psikodinamika

Teori psikodinamika adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian. Unsur-unsur yang diutamakan dalam teori ini adalah motivasi, emosi dan aspek-aspek internal lainnya. Teori ini mengasumsikan bahwa kepribadian berkembang ketika terjadi konflik-konflik dari aspek-aspek psikologis tersebut, yang pada umumnya terjadi pada anak-anak dini. Teori psikodinamika atau tradisi klinis berangkat dari dua asumsi dasar. Pertama, manusia adalah bagian dari dunia binatang. Kedua, manusia adalah bagian dari sistem energi.

Kunci utama untuk memahami manusia menurut paradigma psikodinamika adalah mengenali semua sumber terjadinya perilaku, baik itu berupa dorongan yang disadari maupun yang tidak disadari.

Teori psikodinamika ditemukan oleh Sigmund Freud (1856-1939), Dia memberi nama aliran psikologi yang dia kembangkan sebagai psikoanalisis.

Banyak pakar yang kemudian ikut memakai paradigma psikoanalisis untuk mengembangkan teori kepribadiannya, seperti: Carl Gustav Jung, Alfred Adler, serta tokoh-tokoh lain seperti Anna Freud, Karen Horney, Eric Fromm, dan Harry Stack Sullivan

(7)

4 2. Psikososial

Perspektif sosiokultural kita harus mempertimbangkan konteks-konteks sosial yang lebih luas dimana suatu perilaku muncul untuk memahami akar dari perilaku abnormal. Penyebab perilaku abnormal dapat ditemukan pada kegagalan masyarakat dan bukan pada kegagalan orangnya. Masalah-masalah psikologis bisa jadi berakar pada penyakit sosial masyarakat, seperti kemiskinan,perpecahan sosial, diskriminasiras, gender, dan gaya hidup ( Aprilyani, 2023).

Carl Rogers memandang baliwa semua manusia pada dasarnya baik.

mempunyai potensi untuk menjadi sehat dan kreatif. Gangguan mental dapat berkembang akibat tekanan sosial. Menerapkan pentingnya pemberian cinta dan.

penerimaan dari orang tua atau orang terdekat lainnya terhadap perkembangan kepribadian. Rogers menciptakan teori yang terpusat pada individu (person- centered theory). Prinsip-prinsipnya adalah sebagai berikut:

a. Untuk memahami seseorang, kita harus melihat dari cara mereka mengalami b. Peristiwa tersebut daripada terhadap peristiwanya itu sendiri.

c. Setiap individu itu unik, perbedaan persepsi dan perasaan pada tiap individu menentukan perilaku mereka.

d. Motif utama yang selalu menggerakkan individu untuk maju adalah self actualization, merupakan perwujudan dari seluruh potensi yang dimiliki individu.

e. Mereka mempunyai tujuan yang sudah ditentukan. Adanya pengaruh dari luar dirinya (orang tua, teman sebaya, sosial atau tekanan lingkungan) mengakibatkan individu kehilangan arah yang sudah ditentukan.

3. Psikologi Belajar

Prawitasari (2011: 145), perilaku normal atau abnormal berasal dari cara belajar yang sama, apabila ada perilaku abnormal maka perilaku tersebut dapat dikembalikan pada status semula. Menurut pandangan perilakuan, tingkah laku adalah respons organisme atau apa yang dilakukan oleh organisme. Respon dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu:

a. Motorik Respons yaitu motorik yang biasanya disebut perilaku tampak, seperti berjalan, berbicara, makan, menulis, memukul, dst.

(8)

5

b. Fisiologik Respon yaitu fisiologik yang sering diteliti adalah perubahan dalam sistem syarat otonom, seperti detak jantung, keluarnya keringat, ataupun ketegangan otot. Perilaku motorik dikendalikan oleh sistem syaraf periper c. Kognitif yaitu hal ini senada dengan Gerald .C.Davidson (2006: 58) yang

menyatakan Para psikolog yang bekerja dalam paradigma belajar atau behavioristic memandang bahwa perilaku abnormal merupakan respon yang dipelajari dengan cara yang sama seperti perilaku lainnya dipelajari.

Lailatul Fitriyah (2014:62), juga menyatakan Behaviorisme percaya bahwa perilaku manusia merupakan hasil proses belajar. manusia belajar dari lingkungannya dan dari hasil belajar itulah ia berperilaku. Prawitasari (2011: 146), berdasarkan pandangan perilakuan, perilaku manusia baik yang disebut normal ataupun menyimpang dibentuk melalui prinsip yang sama, yaitu prinsip belajar.

Cara belajar atau pengkondisian ada dua macam yaitu: cara belajar klasikal yang hasilnya disebut. perilaku responden dan cara belajar instrumental yang hasilnya disebut perilaku operant.

4. Psikologi Humanistik

Supratiknya (1995:19-20), model humanistik, penyebab gangguan perilaku adalah terhambat atau terdistorsikannya perkembangan peribadi dan kecenderungan wajar kearah kesehatan fisik dan mental. Hambatan atau distorsi itu sendiri dapat bersumber pada faktor-faktor berikut:

a. Penggunaan mekanisme pertahanan diri yang berlebihan, sehingga individu semakin kehilangan kontak dengan realitas.

b. Kondisi-kondisi sosial yang tidak menguntungkan serta proses belajar yang tidak semestinya.

c. Stress yang berlebihan.

Gerald C. Davidson (2006:50), terapi humanistik difokuskan pada pencerahan berdasrkan sumsi bahwa gangguan perilaku diakibatkan oleh kurangnya pencerahan dan paling baik ditangani dengan meningkatkan kesadaran individu terhadap morivasi dan kebutuhan. Secara kontras paradigma humanistik memberi penekanan yang lebih besar pada kebebassan manusia untuk memilih menganggap kehendak bebas sebagai karakteristik terpenting manusia, namun demikian kehendak bebas ibarat pedang bermata dua karena tidak hanya memberi

(9)

6

pemenuhan dan kenikmatan namun juga memberi ancaman rasa sakit dan penderitaan.

5. Neuroscience

Supratiknya (1995:17), menyatakan prilaku abnormal timbul akibat aneka kondisi organik tak sehat yang merusak fungsi sistem syaraf pusat di otak.

Gangguan perilaku dipandang sebagai penyakit, setidak-tidaknya bersumber pada penyakit yang berlangsung menyerang otak atau keadaan tidak ideal pada tubuh yang akhirnya juga berakibat mengganggu atau bahkan melumpuhkan kerja otak.

Lailatul Fitriyah (2014:55), perspektif neuroscience menerangkan Penemuan penelitian telah menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara aktivitas otak dengan perilaku dan dengan pengalaman misal nya rasa takut.

Gerald (2006:28), perspektif neuroscience menjelaskan bahwa perilaku individu yang tidak normal disebabkan oleh tidak berfungsinya secara baik syaraf-syaraf yang ada di otak sehingga mempengaruhi pikiran individu, dan juga ada factor genetik.

(10)

7

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

Normal adalah keadaan sehat (tidak patologis) dalam hal fungsi keseluruhan.

Sedangkan Abnormal adalah menyimpang dari yang normal (tidak biasa terjadi).

Namun demikian, pada hakekatnya konsep mengenai normalitas dan abnormalitas itu sangat samar-samar batasnya. Sebab pola kebiasaan dan sikap hidup yang dirasakan normal oleh suatu kelompok tertentu, bisa dianggap abnormal oleh kelompok lainnya.

Akan tetapi apabila satu tingkah laku itu begitu mencolok dan sangat berbeda dengan tingkah laku umum (biasa pada umumnya), maka kita akan menyebutnya sebagai abnormal. Dalam sudut pandang psikoanalisis klasik keabnormalan tingkah laku terjadi karena tidak tersalurkan nya dorongan keinginan dari alam bawah sadar individu dan akan menimbulkan gangguan kejiwaan yang disebut psikoneurosis.

B. SARAN

Makalah ini dibuat untuk menambah wawasan yang memberikan manfaat dan menjadi referensi dalam mempelajari psikologi abnormal, maka pembaca akan mendapatkan pemahaman dan pengetahuan mengenai perspektif klasik tentang keanormal dan persektif kontenporen tentang keabnormal.

(11)

8

DAFTAR PUSTAKA

Aprilyani, R. 2023. Psikologi Abnormal. Padang: PT. Global Eksekutif Teknologi.

Fitriyah, L& Jauhar, M. 2014. Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta: Pustakaraya.

Gerald, C. D., dkk. 2006. Psikologi Abnormal. Jakarta Raja Grafindo.

Jeffreys S., dkk. 2005. Abnormal Psychology In A Changing World. Prentice Hall: Pearson Education.

Prawitasari, J. E. 2011. Psikologi Klinis. Jakarta: Erlangga.

Supratiknya, A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta: Kanisinus.

Referensi

Dokumen terkait

Setelah lulus mata kuliah ini mahasiswa diharapkan memiliki pemahaman mengenai pengertian perilaku normal dan abnormal pada manusia, menge- tahui

terapi yang dapat dilakukan untuk penderita neurosis fobik adalah:... Psikoterapi suportif, upaya untuk mengajar

Mahasiswa dapat mengetahui, memahami, menguasai, dan menganalisa proses penanganan terhadap gangguan psikologis dari tahap asesmen hingga rancangan tritmen.. Kompetensi

Dalam perkuliahan ini disampaikan konsep-konsep teoritis tentang keadaan normal dan tidak normal pada manusia, model diagnosa perilaku abnormal, jenis

Berdasarkan hasil skizofrenia tokoh utama dalam novel Chemistry karya Akhmad Sekhu perspektif psikologi abnormal maka dapat disimpulkan bahwa tokoh utama dalam

Dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan istilah Abnormal Psychology Menurut para ahli: -Duran & Barlow 2006: Psikologi abnormal adalah sebuah disfungsi dalam diri individu yang

• Gangguan psikologis adalah pola perilaku abnormal yang berhubungan dengan kondisi tekanan emosional yang signifikan, seperti cemas dan depresi, atau dengan gangguan perilaku

Latar Belakang Gangguan psikosomatik adalah suatu konsep penting dalam ilmu kesehatan yang menggarisbawahi hubungan yang kompleks antara faktor psikologis dan fisik dalam pengembangan