PENGANTAR DAN KONSEP PSIKOLOGI PERKEMBANGAN PADA REMAJA
MAKALAH
BIDANG PSIKOLOGI PERKEMBANGAN REMAJA Disusun untuk :
Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Perkembangan Dosen Pengampu :
Novia Solichah, M.Psi
Oleh:
1. Siti Wardania (210401110220) 2. Anjar Melani (210401110225) 3. Verona Feisya Akhadya (210401110244)
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2022
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Adapun tema dari makalah ini adalah “Pengantar dan Konsep Psikologi Perkembangan Pada Remaja”
Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada Ibu Novia Solichah, M.Psi selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi Perkembangan yang telah membantu kami. Kami juga ucapkan terimakasih kepada teman-teman yang menbantu dan dalam pengumpulan data-data dalam pembuatan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami terima dan diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya.
Malang, 21 Februari 2022
Kelompok 9
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR---I DAFTAR ISI---II
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah---1 1.2 Rumusan Masalah---1 1.3 Tujuan---1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pokok-Pokok Bahasan Mengenai Remaja---2 2.2 Psikologi Perkembangan Remaja ---8 2.3 Tugas-Tugas Perkembangan Remaja---11
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan---16
DAFTAR PUSTAKA---17
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Remaja adalah masa transisi dari masa anak-anak menjadi dewasa. Pada hal ini berkemungkinan ada berbagai perubahan yang terjadi, seperti perubahan hormone, fisik, psikologis mapun perubahan sosial. Perubahan tersebut terkadang tejadi sangat cepat dan tanpa disadari.
Menurut WHO, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun, menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahaun 2014, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun dan menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) rentang usia remaja adalah 10-24 tahun dan belum menikah (Diananda, 2018).
Dalam perkembangan kepribadian seseorang, masa remaja memiliki arti yang khusus, namun pada masa remaja juga memiliki tempat yang tidak begitu jelas dalam rantai proses perkembangan. Hal ini dikarenakan remaja tidak termasuk dalam kategori anak-anak, tetapi mereka juga tidak termasuk dalam kelompok orang dewasa.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini dijelaskan sebagai berikut.
1. Bagaimana secara garis besar pokok-pokok bahasan mengenai remaja?
2. Bagaimana konsep dasar psikologi perkembangan remaja?
3. Apa saja tugas-tugas perkembangan remaja?
1.3 TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan pembahasan dijelaskan sebagai berikut.
1. Menjelaskan secara garis besar pokok-pokok bahasan mengenai remaja.
2. Menjelaskan konsep dasar psikologi perkembangan remaja.
3. Menjelaskan tugas-tugas perkembangan remaja.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 POKOK POKOK BAHASAN MENGENAI REMAJA
Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity yang artinya tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolescence seperti yang dipergunakan saat ini, mempunyai arti yang lebih luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik.
Masa remaja dibilang masa peralihan, namun bukan berarti apa yang terjadi masa-masa sebelumnya menjadi hilang begitu saja, melainkan masa remaja lebih tepatnya masa peralihan dari tahap satu ke tahap berikutnya. Hal ini bisa diartikan bahwasannya yang terjadi pada masa sebelumnya akan tetap berjejak pada yang terjadi sekarang ataupun yang akan datang.
Pada masa remaja ini, mereka akan mengalami banyak perubahan baik secara fisik maupun psikisnya. Adapun perubahan fisik yang akan ditemui adalah ketika tubuh mampu berkembang dengan pesat hingga mencapai bentuk orang dewasa yang juga disertai dengan berkembangnya kapasitas reproduktifnya. Menurut penelitian terbaru yang dilakukan oleh Daniel Offer bersama koleganya menunjkkan bahwasannya 73% remaja memiliki psikis yang positif, para remaja percaya diri dan optimis terhadap masa depannya.
Selain dari hal tersebut, remaja juga berubah secara kognitifnya dan mulai mampu berfikir dengan abstrak seperti halnya orang dewasa. Pada masa ini, para remaja secara emosional akan mulai melepaskan diri dari orang tuanya dan melanjutkan peran sosial yang baru sebagai orang dewasa.
Selanjutnya, selain perubahan yang tampak dalam diri seorang remaja, terdapat juga perubahan di dalam lingkungannya, seperti sikap para orang tua ataupun anggota keluarga yang lain, guru, teman, sampai pada masyarakat umum. Situasi seperti ini adalah reaksi yang timbul akibat dari masa pertumbuhan remaja. Remaja akan mulai dituntut untuk berperilaku yang dianggap mereka pantas atau sesuai dengan usinya. Dengan hal tersebut, dalam memenuhi kebutuhan sosial dan psikologisnya, remaja akan mulai memperluas lingkungan soisal di luar dari lingkungan keluarga, mereka akan mulai bergabung dan berinteraksi dengan teman sebaya atapun lingkungan masyarakat lain.
2.1.1 Fase-Fase Masa Remaja
Pada masa remaja ini, terdapat banyak pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, baik secara fisik ataupun mental. Sehingga hal tersebut dapat dikelompokkan menjadi :
1. Remaja Awal (10-12 tahun)
Fase pra-remaja juga bisa disebut masa pra-pubertas. Fase ini adalah fase yang sangat pendek, yaitu hanya berkisar 2 tahun. Fase ini adalah fase dimana seseorang beralih dari masa kanak-kanak ke masa awal remaja. Adapun ciri-cirinya adalah : (a) anak mulai tidak suka jika diperlakukan layaknya anak kecil seperti sebelumnya; (b) anak mulai tumbuh pemikiran yang kritis
Selain hal tersebut, pada fase ini juga dapat dikatakan fase yang negative, dikarenakan pada fase ini mulai tampak perilaku yang negative dari seseorang tersebut. Ini adalah fase dimana anak mulai jarang berhubungan dengan orang tua, terganggunya pekrmbangan fungsi tubuh dikarenakan beberapa prubahan termasuk perubahan hormone yang menyebabkan suasana hati yang tidak terduga.
2. Remaja Madya (13-15 tahun)
Fase remaja madya atau bsa juga disebut masa pubertas. Pada fase ini juga, seseorang biasanya memiliki ciri-ciri diantaranya : (a) mulai merasa cemas dan bingung mengenai perubahan fisik yang terjadi pada dirinya; (b) mulai menyembunyikan apa yang dirasakannya; (c) mulai memperhatikan penampilannya; (d) sikapnya mulai labil/plin-plan; (e) mulai berteman secara kelompok dengan teman sebaya; (f) mulai adanya perbedaan sikap antara laki-laki dan perempuan.
Adapun tanda pubertas pada fase ini adalah dengan mulainya mentruasi pada perempuan dan pada laki-laki dapat diatandai dengan mimpi basah atau mimpi yang untuk pertama kalinya dan tanpa disadari mengeluarkan sperma. Di fase ini juga perkembangan biologis seorang wanita lebih cepat satu tahun jika dibandingkan dengan perkembangan biologis seorang anak laki-laki.
Di fase ini, keseimbangan emosional juga mulai tidak stabil dalam banyak hal. Seseorang berada pada fase ini mulai mencari identitas diri atau biasa disebut dengan proses mencari jati diri. Di sini pola- pola hubungan sosial juga mulai berubah. Seseorang pada fase ini mulai menyerupai oramg dewasa awal, yaitu dnegan mulai merasa berhak dalam membuat keputusannya sendiri. Pada fase ini juga, seseorang akan menjadi lebih mandiri, pemikirannya yang semakin logis, abstrak dan idealis, dan pada hal ini, mereka akan cenderung menghabiskan waktu diluar lingkup keluarga.
3. Remaja Akhir (16-19 tahun)
Fase remaja akhir bisa juga disebut sebagai masa remaja akhir. Di fase ini mereka berada pada masa peralihan dari masa pubertas ke masa adolesen. Walaupun dalam beberapa kasus masih banyak ditemukan seseorang yang sudah berusia 19 tahun tetapi masih tetap dalam pengawasan dari orang tua dan belum bisa hidup mandiri secara ekonomi, dalam hal ini paling tidak orang tersebut sudah masuk
remaja akhir atau dewasa awal dan sudah mengerti mengenai norma-norma masyarakat, mampu memikirkan mengenai rencana kehidupan ke depan dan mampu berfikir secara bijaksana.
Adapun beberapa ciri remaja pada fase ini adalah: (a) pertumbuhan pada fisiknya yang suda mulai matang namun secara psikologis, kedewasaan dalam berfikir belum matang sepenuhnya; (b) proses kedewasaan pada remaja wanita akan lebih awal daripada remaja laki-laki. Selain itu, remaja pada usia ini juga menginginkan dirinya sebagai pusat perhatian, dan ada rasa ingin menonjolkan dirinya. Remaja pada usia ini cenderung idealis, dengan mempunyai cita-cita yang tinggi, lebih bersemangat, dan penuh dengan energi. Mereka akan berusaha untuk menetapkan identitas atau jati diri, dan berusaha untuk tidak bergantung pada emosi.
2.1.2 Ciri-Ciri Masa Remaja
Seperti halnya dengan fase-fase, remaja juga memiliki ciri-ciri tertentu yang membedakan dengan fase sebelum dan sesudahnya. Adapun ciri ciri tersebut sebagaimana yang terdapat dalam (FATMAWATY, 2017) adalah :
1. Masa Remaja sebagai Periode yang Penting
Pada beberapa periode ada yang memang lebih penting satu daripada yang lainnya, karena hal tersebut akan berakibat secara langsung kepada sekap maupun perilaku, atau lagi ada yang penting dikarenakan akibat pada jangka panjangnya. Sedangkan pada masa remaja, baik akibat langsung ataupun jangka panjang tetap menjadi sesuatu yang penting. Ada juga periode yang penting akibat fisik ataupun periode penting karena psikologis. Namun, pada periode remaja, kedua periode tersebut sama pentingnya.
2. Masa Remaja sebagai Periode Peralihan
Masa remaja merupakan masa peralihan dari satu fase ke fase berikutnya. Hal ini bukan berarti orang tersebut akan terputus begitu saja dengan masa sebelumnya, melainkan apa yang terjadi pada fase sebelumnya akan terus membekas pada fase sekarang maupun fase yang akan datang.
Pasa fase ini, remaja tidak memiliki status yang jelas, dan memiliki keraguan akan peran yang dilakukannya. Pada masa ini, mereka bukan lagi seorang anak-anak dan bukan pula seorang yang dewasa. Dengan adanya hal ini, seorang remaja memiliki waktu untuk mencoba pola hidup yang bebeda dan dimana hal tersebut akan mempengaruhi pola perilaku, sifat, dan nilai yang sesuai dengan dirinya.
3. Masa Remaja sebagai Periode Perubahan
Setidaknya para remaja memiliki lima perubahan yang sama dan hampir dikatakan bersifat universal, yaitu: (a) meningkatnya emosi yang intensitasnya lebih bergantung kepada perubahan fisik dan psikisnya; (b) perubahan tubuh; (c) perubahan mengenai minat dan peran yang sudah diharapkan oleh suatu kelompok sosial untuk diperankannya; (d) perubahan terhadap minat dan perilaku yang hal tersebut mempengaruhi nilai-nilainya; (e) berubahnya sesuatu yang dianggap penting sebelumnya, seperti contoh jika dulu memilih teman lebih berdasar pada kuantitas, kini pemilihan teman lebih berdasar pada kualitas.
4. Masa Remaja sebagai Usia Bermasalah
Masalah pasa saat masa remaja sering menjadi masalah-masalah yang sulit untuk dihadapi baik oleh remaja perempuan ataupun remaja laki-laki. Umumnya, terdapat dua alasan atas kesulitas tersebut, diantaranya: (a) sepanjang pada masa kanak-kanaknya, beberapa malah yang dihadapi mereka cenderung akan diselesaikan oleh urang tua atapun oleh guru-gurunya yang hal tersebut mengakibatkan seseorang tersebut kurang memiliki pengalaman tentang bagaimana menyelesaikan masalah; (b) para anak remaja biasanya merasa bahwa dirinya telah mandiri dan cenderung akan menolak bantuan dari orang tua ataupun guru, namun dengan minimnya pengalaman mereka akan hal tersebut membuat mereka akan merasa kesulitan dalam mengambil sikap.
5. Masa Remaja sebagai Masa Mencari Identitas
Pada masa remaja awal, mereka akan menyesuaikan diri dengan suatu kelompok merupakan hal yang masih penting, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Seiring dengan berjalannya waktu, mereka akan mulai berangan akan identitas dirinya dan akan berusaha menjadi berbeda dengan teman yang lainnya dalam segala hal. Identitas diri yang umunya dicari oleh para remaja adalah berupa siapa diri, perannya dalam masyarakat, menjadi apa kelak, dan pandangan-pandangan mengenai keberhasilan maupun kegagalan.
6. Masa Remaja sebagai Usia yang Menimbulkan Kekuatan
Anggapan stereotip mengenai budaya bahwasannya remaja merupakan seorang anak-anak yang cenderung tidak rapi, sulit dipercaya dan cenderung merusak, dan dimana hal tersebut menyebabkan para orang dewasa yang seharusnya mampu membimbing serta mengawasi aktivitas remaja muda menjadi lebih waspada untuk bertanggung jawab dan berlaku tidak simpatik kepada perilaku remaja yang normal.
7. Masa Remaja sebagai Masa yang Tidak realistis
Anak remaja biasanya melihat dirinya sendiri dan juga orang lain dengan bagaimana ia ingin melihat, bukan dengan apa adanya, apa lagi tentang hal cita-cita. Cita-cita yang kurang realistis ini, bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan kepada orang disekitarnya juga, seperti teman ataupun orang tuanya. Dengan adanya hal tersebut, mengakibatkan mereka menjadi lebih sensitive dalam hal emosi, yang hal tersebut juga merupakan ciri dari masa awal remaja.
Mereka para remaja cenderung akan merasakan kekecewaan jika ia tidak bisa mencapai hasil ataupun tujuan yang diinginkannya.
8. Masa Remaja sebagai Ambang Masa Dewasa
Disaat semakin mendekatnya usia kematangan yang sebenarnya, remaja akan mengalami kegelisahan untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan mulai untuk memberikan kesan bahwasannya mereka sudah hampir sampai pada tahap dewasa. Dengan hanya bertindak dan berpakaian layaknya orang dewasa belumlah cukup. Oleh karenanya, remaja mulai memusatkan diri mereka kepada perilaku yang berhubungan dengan status dewasa, yatu dengan merokok, minum minuman beralkohol, atapun menggunakan narkoba. Pada saat tersebutlah diperlukan peran dari orang tua untuk mendidik anak agar mereka tidak salah paham mengenai pengaktualisasian kedewasaannya.
Remaja juga akan memperlihatkan sebuah tingkah laku yang sudah khas dan sebagai tanda bahwa mereka telah berkembang sebagaimana remaja normal. Adapun beberapa ciri khas dari remaja yang normal adalah :
1. Mengalami Perubahan Fisik
Pada masa remaja, mereka akan mengalami perubahan fisik atau pertumbuhan yang sangat pesat dibandingkan dengan periode sebelumnya ataupun sesudahnya. Pada bagian- bagian tulang akan mulai tumbuh dengan baik dan kokoh. Selain itu, di beberapa organ tubuh seperti jantung, pencernaan, ginjal dan lainnya akan bertambah kuat dan berfungsi secara sempurna.
2. Memiliki energi yang lebih banyak secara fisik dan psikis
Remaja memiliki energi yang cukup lebih banyak baik secara fisik atapun psikis yang mendorong mereka untuk mencapai prestasi dan aktivitas yang diinginkan. Periode remaja adalah periode yang memiliki pengaruh paling kuat secara fisik dan paling kreatif secara mental dalam sepanjang periode kehidupan.
3. Memiliki focus yang lebih terarah
Pada hal ini, remaja akan lebih memilki focus yang lebih menjurus kepada teman sebaya dan secara bertahap melepaskan diri dari keterlibatan dengan orang sekitar terlebih dari orang tua.
Dalam beberapa kasus, keinginan kuat mereka untuk lepas dari orang tua belum diseimbangi dengan kemampuan untuk mandiri pada bidang ekonomi.
4. Memiliki ketertarikan yang kuat kepada lawan jenis.
Pada periode ini, remaja akan mulai mengenal dan tertarik dengan hubungan lawan jenis yang bukan hanya sebagai teman. Melainkan pada hal ini, mereka akan lebih cenderung ke arah saling menyukai.
5. Memiliki keyakinan kebenaran tentang keagamaan
Pada periode ini, remaja akan berusaha untuk menemukan kebenaran yang bersifat hakiki.
Apabila seorang remaja dapat menemukan hal tersebut dengan cara yang benar, maka ia akan merasakan ketenangan, dan sebaliknya jika ia belum menemukan kebenaran hakiki, keyakinan mengenai agamanya perlahan akan mulai goyah.
6. Memiliki kemampuan untuk menunjukkan kemandirian
Para remaja biasanya menunjukkan kamampuan kemandiriannya pada saat mereka mengambil sebuah keputusan terkait dengan kegiatan dan aktivitas yang dilakukannya.
7. Berada pada periode transisi
Pada periode ini, remaja berada di periode transisi dari masa kanak-kanak menuju periode kehidupan orang dewasa. Oleh karena hal tersebut, mereka cenderung akan mengalami beberapa kesulitan dalam menyesuaikan diri untuk melanjutkan kehidupan sebagai orang dewasa. Mereka akan merasa kebingungan saat menghadapi dirinya sendiri dan orang di sekitarnya yang terkadang memperlakukan diri mereka seperti anak kecil namun di sisi lain juga menuntut mereka untuk bersikap dewasa.
8. Pencarian identitas diri
Pencarian identitas diri merupakan salah satu ciri khas perkembangan remaja untuk menghadapi periode transisi. Remaja ingin menjalani kehidupan yang dianggapnya benar. Oleh karena hal tersebut, para remaja memerlukan keyakinan hidup yang bisa mengarahkan mereka dalam bertingkah laku.
2.2 PSIKOLOGI PERKEMBANGAN REMAJA
Perubahan-perubahan dalam perkembangan individu adalah hasil dari sebuah proses- preses biologis, kognitif dan juga sosio-emosional yang dimana hal tersebut saling berkaitan.
Proses biologis adalah meliputi perubahan sifat fisik seorang individu yang semakin bertambahnya usia akan menjurus kepada kematangan.
Untuk proses kognitif sendiri dapat meliputi perubahan pada hal pemikiran, intelegensi, dan juga pada bahasa individu. Sedangkan pada sosio-emosional dapat meliputi perubahan pada hal relasi seorang individu dengan individu lainnya, dan juga berupa perubahan emosi dan kepribadian yang mengikutinya.
2.2.1 PENGERTIAN
Psikologi berasal dari kata psyche yang berarti jiwa, dan logos berarti ilmu. Psikologi dapat diartikan sebagai ilmu yang menyelidiki dan menganalisis tentang proses jiwa atau mental dan juga perbuatan atau tingkah laku seseorang dalam rangka berkorelasi dengan lingkungan kehidupannya. Menurut John W.Santrock: “remaja merupakan periode transisi perkembangan masa kanak-kanak dengan dewasa”.
Adapun beberapa definisi psikologi perkembangan menurut para ahli (KAYYIS FITHRI AJHURI, 2019) :
1. Menurut Prof. Dr. F.J. Monks, Prof. Dr. A.M.P. Knoers, dan Prof. Dr. Siti Rahayu Haditoro dalam psikologi perkembangan: “Psikologi perkembangan adalah suatu ilmu yang mempermasalahkan mengenai faktor-faktor umum yang dapat mendorong suatu proses perkembangan yang terjadi dalam diri pribadi seseorang dan dengan menitik beratkan pada suatu relasi antara kepribadian dan juga perkembangan”.
2. Menurut Dra. Kartini Kartono dalam psikologi anak: “psikologi perkembangan (psikologi anak) merupakan suatu ilmu yang mempelajari mengenai tingkah laku manusia yang biasa dimulai dengan periode bayi, anak pemain, anak masa sekolah, masa remaja, sampai pada periode adolesen yang menjelang dewasa”.
3. Dalam encyclopedia international; psikologi perkembangan merupakan suatu cabang dari psikologi dengan mengetengahkan pembahsan yang mengenai perilaku anak. Dan secara historis titik beerat pembahasannya adalah pada penganalisisan elemen perilaku seoran anak yang berkemungkinan akan dapat menjadi sarat untuk terbentuknya perilaku dewasa yang kompleks.
4. Carter V. Good dalam dictionary of education: psikologi perkembangan adalah cabang dari psikologi yang dimana hal tersebut membahas tentang arah atau tahapan kemajuan dari sebuah perilaku dengan tetap mempertimbangkan phylogenetic dan ontogenetic, termasuk juga pada fase pertumbuhan dan penurunan. Hal tersebut memiliki arti bahwa dengan adanya pembatasan yang lebih luas dibandingkan pengertian ilmu jiwa keturunan, dan walaupun dari bentuk dan polanya terdapat persamaan dan hal tersebut dapat ditukarkan.
Dari beberapa defisini yang telah disebutkan, dapat disimpulkan dengan lebih sederhananya mengenai psikologi perkembangan, yang merupakan suatu cabang dalam psikologi yang membahas mengenai gejala kejiwaan seseorang baik yang menyangkut mengenai perkembangan ataupun kemunduran dari perilaku seseorang dimulai dari masa konsepsi hingga masa dewasa.
Perkembangan menunjukkan pada suatu proses tertentu, yaitu proses yang mengarah ke depan dan tidak dapat diulang. Di dalam perkembangan seseorang terjadi perubahan yang sedikit banyak memiliki sifat yang tetap dan tidak dapat diulang. Perkembangan memperlihatkan kepada perubahan di dalam satu arah dan memiliki sifat tetap dan maju.
Pertumbuhan oleh kebanyakan para ahli didefinisikan sebagai perubahan pada diri seorang individu mulai dari yang bersifat fisik, dan sampai dapat diukur secara kuantitatif. Adapun hal- hal yang termasuk ke dalam hal ini adalah dengan adanya pertambahan berat badan, ukuran dari bentuk anggota badan, dan yang lainnya. Ada beberapa yang menggunakan sebuah kata pertumbuhan di dalam aspek-aspek yang berbeda dengan perkembangan, dan juga ada pakar yang menggunakan istilah yang tersebut secara tumpang tindih.
2.2.2 ASPEK-ASPEK PERKEMBANGAN MASA REMAJA
Perkembangan seorang remaja dapat ditandai dengan munculnya aspek-aspek atau tingkah laku, baik tingkah laku positif maupun negative. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan masa ini merupakan masa peralihan dari anak-anak menju dewasa. Perilaku seperti sering melawan, memberontak, gelisah, dan fase labil sering dijumpai pada remaja fase ini. Namun, dengan berkembangnya perilaku tersebut, pada dasarnya juga dipengaruhi oleh adanya berbagai pelakuan yang berasal dari lingkungannya. Hal ini kerap terjadi karena kurangnya rasa paham oleh orang di sekitar individu tersebut tentang proses dan pemaknaan perkembangan remaja.
Hal hal yang telah disebutkan bawasannya tingkah laku yang negative seorang remaja yang normal, tetapi seorang remaja normal akan memperlihatkan tingkah laku yang positif.
Adapun aspek-aspek perkembangan pada masa remaja 1. Perkembangan dan perubahan fisik pada masa remaja
Perubahan fisik adalah sebuah gejala primer dalam proses pertumbuhan remaja dan dapat berdampak terhadap perubahan psikologi. Pada awalnya, tanda-tanda perubahan fisik termasuk dalam konteks pubertas. Baik untuk laki-laki ataupun perempuan akan mengalami pertumbuhan yang cepat, yang biasa disebut dengan “growth spurt” yang berarti percepatan pertumbuhan, dimana hal tersebut adalah kondisi terjadinya perubahan dan percepatan pada seluruh bagian badan juga dimensi badan.
Beberapa perkembangan fisik yang terjadi, diantaranya: (a) perubahan eksternal, yang terdiri dari tinggi badan, berat badan, proporsi tubuh, organ seks, dan juga ciri-cri seks sekunder; (b) perubahan internal, terdiri dari system perncernaan, system peredaran darah, system pernafasan, system endokrin, dan juga jaringan tubuh.
2. Perkembangan emosi pada remaja
Dalam kehidupan sehari-hari, masa remaja sering kali dianggap sebagai periode yang dinamakan ketegangan emosi menjadi tinggi diakibatkan dari berubahnya fisik dan kelenjar.
Pertumbuhan pada masa remaja awal terus berlangsung tetapi berjalan dengan sedikit lambat.
Pertumbuhan yang terjadi pada hal ini bersifat melengkapi pola yang terbentuk pada fase sebelumnya.
Perasaan, sikap, dan emosi seseorang telah tampak dan berkembang semenjak para remaja mulai bergaul dengan lingkungannya. Timbulnya hal-hal tersebut merupakan hasil dari pengamatan dari pengalaman unik seorang individu dengan lingkungan dan benda sekitarnya, orang tua dan saudaranya, dan pergaulan sosial lainnya yang lebih luas. Dikarenakan mereka mengamati lingkungan yang selalu berkembang, maka sudah bisa dipastikan perasaan, sikap dan emosinya juga akan berkembang.
Adapun beberapa bentuk emosi yang cenderung sering tampak pada remaja awal adalah marah, malu, takut, cemas, cemburu, iri, sedih, senang, rasa kasih sayang dan keingintahuan.
Adapun dalam hal emosi yang negative, umumnya remaja belum mampu mengontrol emosi tersebut dengan baik. Sebagian besar perilaku dari remaja masih sangat dikuasai oleh
Cara yang dapat dilakukan dalam pembongkaran kekuatan emosi yang terpendam adalah dengan bermain, bekerja dan akan lebih baik jika mengungkapkannya kepada seseorang yang memang mampu dalam menunjukkan gambaran permasalahan yang dihadapi remaja. Untuk itu, peranan tenaga pendidik, terutama konselor sangat penting dalam hal ini.
3. Perkembangan integensi dan kognitif pada masa remaja
Masa remaja adalah salah satu periode kehidupan yang dimana kapasitas dalam perolehan dan penggunaan pengetahuan secara efisien telah mencapai pada puncaknya. Selain itu, pada masa remaja ini juga terjadi reorganisasi pada lingkaran saraf prontal lobe, yang mana hal tersebut berfungsi dalam aktivitas kognitif tingkat tinggi. Perkembangan tersebut sangat berpengaruh pada kemampuan kognitif remaja, kemampuan penalarannya akan berkembang dan akan memberikan suatu pertimbangan moral dan kesadaran akan sosial yang baru.
Kemudian dengan hal tersebut, remaja akan mampu membuat pertimbangan dan dapat melakukan perdebatan.
4. Perkembangan sosial remaja
Percepatan perkembangan dalam periode remaja yang berhubungan dengan proses kematangan seksualitas juga memiliki dampak sebagai suatu perubahan dalam perkembangan sosial remaja. Sebelum masa remaja pun sudah ada hubungan yang erat diantara anak-anak dan kelompok sebaya. Pada hal ini sering juga bermunculan perkumpulan-perkumpulan untuk bermain bersama ataupun untuk membuat rencana bersama. Aktivitas yang dilakukan mereka juga dapat bersifat agresif dan terkadang melakukan hal kriminal juga.
Untuk itu, biasanya akan timbul masalah-masalah seperti: (a) dorongan untuk dapat berdiri sendiri dan krisis originalitas; (b) konformitas kelompok remaja; (c) remaja dalam waktu luang;
(d) hubungan dengan orang tua; (e) seksualitas; dan (f) perkembangan proaktivitas
2.3 TUGAS TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA
Tugas perkembangan adalah suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam sebuah rentang waktu dalam kehidupan seorang indivdu, dan apabila tugas tersebut dapat diselesaikan maka akan membawa kebahagiaan dan juga kesuksesan dalam menuntaskan tugas-tugas pada periode berikutnya. Dan apabila gagal, maka akan mengakibatkan ketidakbahagiaan pada diri seorang individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan dalam lingkungan masyarakat, dan kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas di periode berikutnya. Tugas-tugas
perkembangan tersebut berkaitan dengan sikap dan perilaku, atau keterampilan yang sepatutnya dimiliki oleh indivdu sesuai dengan usia dan fase perkembangannya.
Tugas perkembangan pada masa remaja lebih berfokus kepada upaya dalam meninggalkan sikap dan perilaku yang kekanak-kanakan serta berupaya untuk memenuhi kemampuan untuk bersikap dan berperilaku dewasa. Adapun tugas masa masa remaja adalah:
1. Menerima keadaan fisiknya
Pada periode remja, perubahan fisik masih berhubungan dengan pertumbuhan dan kematangan seksual. Selain itu, akan nampak pula perubahan yang cukup pesat terkait tinggi badan dan ketidaksesuaiannya harapan baik dari individu maupun lingkungan terkait perubahan tersebut dapat berdampak pada proses penyesuaian pada remaja. Akan muncul rasa kesulitan dalam menerima kaedaan tersebut, sehingga para remaja dapat bersifat murung.
2. Memperoleh kebebasan emosional
Memperoleh kebebasan emosional adalah salah satu tugas perkmbahngan yang seharusnya dijalan di masa remaja. Hal ini dibutuhkan supaya ketika memasuki periode dewasa, mereka dapat mengambil keputusan secara bijaksana. Untuk itu remaja memerlukan pengalaman untuk dapat mengambil keputusan dan hal ini dimulai dengan memberi jarak mengenai ikatan emosional dengan orang tua.
Namun, sering kali dalam proses ini anak akan terlibat perdebatan dengan orang tua, terlebih jka orang tua tidak memahami mengenai masa remaja yang dialaminya. Oleh karenanya, orang tua maupun remaja sebaiknya bisa memahami mengenai pentingnya kebebasan yang diperlukan dan diberikan secara bertahap yang disertai juga dengan bimbingan yang berdasar nilai-nilai dan norma.
3. Mampu bergaul
Memperluas lingkungan pergaulan akan diperlukan guna mempersiapkan diri untuk menuju periode dewasa, namun dalam beberapa kasus proses mengenai hal ini mendapat hambatan dari dalam diri sendiri. Keadaan fisik yang mungkin tidak sesuai dengan harapan terkadang membuat individu menjadi ragu dan kaku dalam pergaulannya. Pada saat yang seperti ini, mulai muncul keinginan bergaul dengan lawan jenis dan mulai untuk lebih memperhatikan penampilan. Setelah individu tersebut merasa telah terbiasa dengan keadaan fisiknya, maka akan timbul penyesuaian diri dan hal tersebut dapat mempermudah dalam proses bersosialisasi.
4. Menentukan model untuk identifikasi
Ini adalah fase terjadinya proses untuk mencari identitas diri. Pada fase ini remaja akan mulai mencari identitas diri yang sesuai dan saat memasuki fase dewasa ia akan memiliki karakter yang khas dan identitas pribadi yang khas juga. Proses tersebut dimulai dari munculnya kecenderungan untuk mengambil jarak dengan ikatan emosional orang tua dan kembali kepada bekal pendidikan yang telah diberikan orang tua pada masa kanak-kanak.
Remaja berada dalam posisi ingin meninggalkan masa kanak-kanaknya namun juga belum bisa sepenuhnya menjadi dewasa.
Dalam hal ini, remaja akan menjadikan beberapa tokoh sebagai model yang akan dicontohnya baik dari segi perilaku maupun kepribadiannya. Namun, hal yang perlu untuk diperhatikan adalah cara agar remaja dapat menentukan model yang akan diidentifikasinya secara tepat agar menjadikan indidu yang tepat pula.
5. Mengetahui dan menerima kemampuan diri
Dengan mulai tumbuhnya kemampuan untuk berfikir abstrak, remaja akan cenderung berfikir mengenai kemungkinan kedepan pada periode dewasanya. Ia akan menjadikan dirinya sendiri objek pemikiran yang kemudian akan menimbulkan sebuah penilaian yang bersifat positif maupun negative.
Ketika remaja melihat realitas diri dan juga kemampuannya yang tidak sesuai dengan harapan, rasa kecewa dan putus asa akan muncul, begitu pula ketika ia tidak mampu memenuhi harapan dan tuntutan masyarakat, yang mana hal tersebut akan berpengaruh kepada perilakunya.
Oleh karena hal tersebut, masih diperlukannya bimbingan agar remaja mampu menerima keadaannya dan menyesuaikan harapannya dengan kemampuan juga realitas kehidupannya.
6. Memperlakukan penguasaan diri atas dasar skala dan norma
Periode remaja adalah periode yang sangat penting dalam proses membentuk nilai yang dimana hal tersebut dipengaruhi oleh interaksi sosial. Dalam proses pencarian nilai dan pandangan hidup, remaja mulai mengalami beberapa masalah, dikarenakan dirinya yang tidak lagi ingin terikat pada masa kanak-kanaknya namun juga belum memiliki pandangan hidup baru yang mantap.
Adapun proses pemantapan nilai dan norma dalam hidup melewati tahapan-tahapan berikut, yaitu:
a. Dikarenakan remaja belum memiliki pandangan hidup yang mantap, sehingga ia akan mengharapkan sesuatu yang memang pantas untuk dipuji dan sesuatu yang dianggapnya bernilai. Sedangkan sesuatu yang dianggapnya bernilai itu belum memiliki bentuk, dan karena itu keseringan dari remaja tidak tahu mengenai apa yang sedang diinginkannya.
b. Ditahap berikutnya, objek yang ingin dipuji sudah menjadi lebih jelas, yakni para pribadi yang dianggapnya mendukung suatu nilai, bisa dikatakan pada hal ini adalah personafikasi daripada nilai. Dan di tahap ini, remaja belum mampu membedakan antara person dengan nilai.
c. Pada tahap ini, remaja telah dapat menghargai terkait nilai dan pendukungnya. Nilai merupakan sebagai hal yang yang mengikat suatu pandangan atau pendirian di hidupnya. Penentuan hidup yang berdasarkan nilai dan norma ini tidak terjadi dalam sekaligus, melainkan tetap melalui proses. Terlebih jika remaja melihat sebuah realitas di hidupnya yang memiliki kesenjangan antara nilai dan perilaku seseorang, terutama pemimpim masyarakat yang hal tersebut dapat menimbulkan kebingungan dan menjadi tidak mengerti akan nilai moral mana yang seharusnya menjadi pegangan hidup.
Dengan hal tersebut, masih diperlukannya peran dan interaksi sosial yang dapat membantu remaja dalam menyelesaikan tugas perkembangannya secara sehat dan wajar.
7. Meninggalkan reaksi dan cara penyesuaian kekanak-kanakan
Salah satu dari ciri yang terdapat pada masa anak-anak adalah sifat ego sentris. Segala hal dipandang olehnya dari sudut pandang diri sendiri dan berpusat pada keinginan serta kebutuhan dirinya sendiri dan juga menjadi sangat emosional.
Masa remaja adalah masa peralihan menuju dewasa yang dimana sifat ego sentris secara bertahap perlu untuk dihilangkan dan remaja harus mulai belajar untuk menyesuaikan dirinya dengan pola hidup berdampingan dengan orang lain. Ia harus mengetahui dan mempertimbangkan mengenai kebutuhan, pendapat dan kebiasaan orang lain yang belum tentu sama dengan dirinya.
Dalam pola interaksi sosial dengan orang lain, remaja harus belajar untuk mengkuti orang lain dalam berperilaku. Oleh sebab itu, tidak selalu kehendak dan kenginan pribadinya saja yang harus dilakukan. Apabila seorang remaja telah menemukan identitas diri dan sistem hidup yang sesuai dengan dirinya, ia akan dapat lebih mudah menyesuaikan
dalam proses pelaksanaan tugas-tugas perkembangan, dan selanjutnya dapat pula dengan mudah melaksankan tugas-tugas pada fase berikutnya.
BAB III PENUTUP
Psikologi perkembangan merupakan bagian dari ilmu psikologi yang mempelajari mengenai perkambangan setiap individu selama rentang kehidupannya. Kedudukan psikologi perkembangan sebagai salah satu bidang dalam psikologi yang berfokus pada kajian atau lingkup pembahasannya mengenai perubahan tingkah laku dan juga proses dari masa konsepsi hingga kematian.
Mengenali setiap aspek pada perkembangan remaja meliputi fisik, intelegensi, emosi, dan sosial juga perlu untuk dilakukan. Memperlihatkan sikap untuk bersedia dan ketidak stabilan dalam emosi seringkali menjadikan seorang remaja merasa cemas, untuk itu mereka tetap memerlukan bantuan supaya rasa percaya dirinya kembali muncul dan rasa cemas tersebut dapat dihilangkan.
Pertentangan dan pemberontakan yang dilakukan para remaja adalah bagian alamiah dari prosesnya menuju orang dewasa yang mandiri. Namun tetap dibutuhkannya peran orang tua, guru dan lingkungan masyarakat untuk membantu para remaja dalam mengenali usia mereka, dan memberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi diri. Dan diharpkan orang tua dapat memberikan aturan yang lebih longgar tetapi tetap terkontrol karena para remaja sudah mulai untuk mandiri.
DAFTAR PUSTAKA
Batubara, J. R. (2010). Adolescent Development (Perkembangan Remaja). Sari Pediatri, 21.
https://scholar.google.com/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=Adolescent+Development+
%28Perkembangan+Remaja%29+Jose+RL+Batubara&btnG=#d=gs_cit&u=%2Fscholar%3Fq%3Dinfo
%3AT6xKTdX47ZoJ%3Ascholar.google.com%2F%26output%3Dcite%26scirp%3D0%26hl%3Did Diananda, A. (2018). PSIKOLOGI REMAJA DAN PERMASALAHANNYA. ISTIGHNA, 117.
https://e-journal.stit-islamic-village.ac.id/istighna/article/view/20/21
Dr. H. Abubakar H M, M., & Ngalimun, S. M. (2019). PSIKOLOGI PERKEMBANGAN (KONSEP DASAR PENGEMBANGAN KREATIVITAS ANAK). Yogyakarta: K-Media.
http://digilib.iain-palangkaraya.ac.id/2487/1/Psikologi%20Perkembangan_H.%20Abubakar
%20%26%20Ngalimun%20%281%29.pdf
FATMAWATY, R. (2017). Memahami Psikologi Remaja. Jurnal Reforma, 57-58.
http://jurnalpendidikan.unisla.ac.id/index.php/reforma/article/view/33/33
KAYYIS FITHRI AJHURI, M. (2019). PSIKOLOGI PERKEMBANGAN Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Yogyakarta: Penebar Media Pustaka.
http://repository.iainponorogo.ac.id/489/2/LAYOUT%20Buku%20Kayyis_cetak.pdf
Nasution, S. (2014). PERKEMBANGAN REMAJA (Suatu Tinjauan Psikologis). Darul 'Ilmi, 77-80.
http://repo.iain-padangsidimpuan.ac.id/372/