• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH SEJARAH PANCASILA DARI MASA KE MASA

N/A
N/A
dheleon lon

Academic year: 2024

Membagikan " MAKALAH SEJARAH PANCASILA DARI MASA KE MASA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

SEJARAH PANCASILA DARI MASA KE MASA

DISUSUN OLEH:

ALFATA WIDIAS PRATAMA ALFIN AGUS PRATAMA

ANDRA RAFI IRGI

ANGGA PRINGGO WICAKSONO

UNIVERSITAS PAMULANG

2024

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...ii

BAB I PENDAHULUAN...1

A. LATAR BELAKANG...1

B. RUMUSAN MASALAH...1

C. TUJUAN...1

D. MANFAAT...2

BAB II PEMBAHASAN...3

A. PANCASILA PADA MASA AWAL KEMERDEKAAN...3

B. PANCASILA PADA MASA DEMOKRASI TERPIMPIN...4

C. PANCASLA PADA MASA ORDE BARU...5

D. PANCASILA PADA MASA REFORMASI...7

BAB III PENUTUP...9

A. KESIMPULAN...9

B. IMPLIKASI...9

DAFTAR PUSTAKA...11

(3)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pancasila merupakan lima sila yang menjadi dasar negara dan ideologi bangsa

Indonesia. Sebagai produk dari perjuangan para founding fathers, Pancasila bertujuan menciptakan negara yang berdaulat, adil, dan makmur. Nilai-nilai luhur seperti kebhinekaan, gotong royong, musyawarah, dan toleransi tercermin dalam Pancasila, mencerminkan jiwa masyarakat Indonesia.

Namun, bagaimana penerapan Pancasila dari masa ke masa? Apa keberhasilan dan tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam mewujudkan Pancasila? Artikel ini akan membahas hal-hal tersebut dengan mengeksplorasi beberapa bidang, termasuk politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana penerapan Pancasila pada masa awal kemerdekaan Indonesia?

2. Bagaimana Pancasila bertransformasi selama masa demokrasi terpimpin?

3. Bagaimana nilai-nilai Pancasila tercermin pada masa Orde Baru dan apa dampaknya terhadap masyarakat?

4. Bagaimana peran Pancasila dalam konteks reformasi, dan apakah masih relevan sebagai ideologi nasional?

C. TUJUAN

1. Menelusuri penerapan Pancasila pada masa-masa krusial dalam sejarah Indonesia.

2. Menganalisis transformasi nilai-nilai Pancasila selama berbagai periode pemerintahan.

3. Memahami dampak penerapan Pancasila pada masyarakat, terutama pada masa Orde Baru.

4. Menilai eksistensi dan relevansi Pancasila dalam era reformasi.

(4)

D. MANFAAT

1. Memberikan pemahaman mendalam tentang peran Pancasila dalam perjalanan sejarah Indonesia.

2. Menyediakan pandangan kritis terhadap keberhasilan dan hambatan penerapan Pancasila.

3. Merangsang diskusi mengenai peran ideologi dalam membentuk karakter bangsa.

4. Memberikan masukan konstruktif untuk mempertahankan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II PEMBAHASAN

Pancasila adalah lima sila yang menjadi dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia. Pancasila merupakan hasil dari perjuangan dan pemikiran para founding

(5)

fathers yang ingin menciptakan sebuah negara yang berdaulat, adil, dan makmur.

Pancasila juga mencerminkan nilai-nilai luhur yang hidup dalam masyarakat Indonesia, seperti kebhinekaan, gotong royong, musyawarah, dan toleransi.

Namun, bagaimana sebenarnya penerapan Pancasila dari masa ke masa? Apa saja keberhasilan dan tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam mewujudkan Pancasila? Artikel ini akan membahas hal-hal tersebut dengan mengambil contoh dari beberapa bidang, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan.

A. PANCASILA PADA MASA AWAL KEMERDEKAAN

Setelah Indonesia merdeka, Pancasila mulai dibangun dan diimplementasikan sebagai jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia. Tentu hal ini tidak mudah untuk dilaksanakan, apalagi di tengah kondisi Indonesia yang baru saja merdeka dan baru akan memulihkan keadaan yang porak-poranda. Pancasila dipahami berdasarkan paradigma yang berkembang pada situasi dunia pada masa ini, yang masih dalam suasana kacau dan kondisi sosial-budaya berada dalam suasana transisional dari yang mulanya terjajah menjadi bangsa yang merdeka (Andrew Shandy Utama dan Sandra Dewi: 2018).

Dikarenakan masyarakat masih dalam tahap mencari dan mempelajari bentuk pengimplementasian Pancasila yang benar, menjadikan pengimplementasian Pancasila sendiri berbeda-beda di kalangan masyarakat saat itu. Pengimplementasian sila yang menonjol pada masa ini adalah sila ketiga, yaitu persatuan Indonesia. Awalnya, saat Belanda ingin berkuasa kembali di Indonesia, nilai persatuan dan kesatuan bangsa saat itu masih tinggi. Akan tetapi, setelah semua penjajah sudah angkat kaki dari Indonesia, nilai tersebut melemah.

Melemahnya persatuan dan kesatuan bangsa ini disebabkan adanya

pemberontakan dari dalam bangsa Indonesia sendiri, seperti contohnya pemberontakan PKI dan DI/TII. Akan tetapi, sila keempat Pancasila tidak dapat dilaksanakan pada masa ini, dikarenakan sistem pemerintahannya menganut sistem pemerintahan parlementer.

Di mana, wewenang presiden hanya sebatas sebagai kepala negara, sedangkan tugas kepala pemerintahan dilaksanakan oleh perdana menteri. Hal ini menjadi sebab ketidakstabilan politik pada masa itu.

(6)

Yang akhirnya pada tahun 1950-1955, Pancasila digiring ke arah demokrasi liberal, di mana sila keempat ini juga tidak dilaksanakan dengan semestinya. Keputusan yang diambil bukan berasal dari hasil musyawarah mufakat, tetapi berasal dari suara terbanyak. Keberhasilan pemilu pertama yang diselenggarakan tidak serta-merta membawa kestabilan pemerintahan. Anggota konstituante yang terbentuk juga tidak dapat menyusun UUD sesuai yang diharapkan, sehingga memunculkan krisis politik, ekonomi, dan keamanan. Akan tetapi, Ajat Sudrajat (2016) mengungkapkan, dua tahun sebelumnya, tepatnya ditengah bangsa Indonesia menghadapi Agresi Militer Belanda II dengan berbagai jalan diplomasi dan pertlawanan, kehidupan demokrasi masih tetap berjalan dan tetap terlaksana.

E. PANCASILA PADA MASA DEMOKRASI TERPIMPIN

Selama periode tahun 1959-1965, Indonesia menganut rezim demokrasi

terpimpin. Meskipun ada embel-embel demokrasi, kedaulatan berada di tangan Presiden Soekarno, bukan di tangan rakyat. Hal ini menjadi awal penyimpangan dan

kemerosotan Pancasila pada masa ini, bahkan hingga menimbulkan upaya-upaya untuk mengganti Pancasila dengan ideologi lain.

Demokrasi terpimpin ini masih termasuk dalam masa Orde Lama. Yang

membedakan di masa ini adalah Presiden Soekarno lebih berkuasa dengan adanya dekrit presiden. Soekarno melaksanakan pemahaman Pancasila dengan paradigma yang disebut dengan USDEK (Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian bangsa Indonesia).

Dalam pesannya pada tanggal 22 April 1959, Soekarno menyatakan salah satu pengertian dari demokrasi terpimpin, yaitu "demokrasi yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan" (Ajat Sudrajat: 2016).

Namun, semakin lama tindakan otoriter yang dilakukan Presiden Soekarno semakin menyimpang dari nilai-nilai Pancasila yang dahulu disusunnya bersama para tokoh lain, sehingga memunculkan berbagai pertentangan. Abi Sholehuddin dan Aminuddin Kasdi (2015) menyatakan bahwa arah politik Indonesia yang semula bebas- aktif berubah menjadi condong ke arah bangsa kapitalis. Selain itu, struktur politik pada awal tahun 1960-an masih labil, sampai akhirnya muncul pemberontakan G30 S/PKI

(7)

yang berakhir pada runtuhnya kekuasaan Orde Lama atau pemerintahan Soekarno yang ditimbulkan dari saling berlawanan kepentingan politis dan ideologis antara Presiden Soekarno, kekuatan militer, Partai Komunis Indonesia (PKI), dan kelompok Islam (Andrew Shandy Utama dan Sandra Dewi: 2018).

F. PANCASLA PADA MASA ORDE BARU

Setelah peristiwa G30S/PKI, masa kepemimpinan Soekarno mengalami penurunan yang tajam. Soekarno lengser dari jabatannya sebagai presiden dan digantikan oleh Soeharto. Pada masa kepemimpinan Soeharto, awalnya Pancasila akan dipromosikan kembali sebagai ideologi dan dasar falsafah bangsa Indonesia. Sistem pemerintahan yang menekankan asas kekeluargaan dan gotong royong, yaitu sistem demokrasi Pancasila, dianggap sebagai perwujudan tekad Orde Baru dalam mempertahankan eksistensi Pancasila (Muh, Arif Candra Jaya: 2012).

Namun, pada masa ini, terjadi penyimpangan dari nilai-nilai Pancasila. Rezim otoriter birokratis menjadi contoh yang jelas, melenceng jauh dari nilai-nilai luhur Pancasila. Dalam pemerintahan ini, keputusan dibuat secara sederhana, tepat, tanpa bertele-tele, efisien, dan tanpa proses tawar-menawar yang lama (Andrew Shandy Utama dan Sandra Dewi: 2018).

Pemerintah Orde Baru berusaha mengembalikan stabilitas politik yang hancur pada masa Orde Lama berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Pada periode pemerintahan ini, pemerintah memiliki cita-cita untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni, sekaligus sebagai kritik terhadap periode pemerintahan sebelumnya yang banyak menyimpang dari Pancasila. Upaya tersebut dilakukan melalui program P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila).

Namun, seiring berjalannya waktu, implementasi dan aplikasinya menjadi mengecewakan. Kebijakan dan aturan yang dibuat ternyata tidak sesuai dengan jiwa dan nilai-nilai Pancasila. Pancasila hanya diterjemahkan sesuai kepentingan kekuasaan pemerintah dan digunakan sebagai alat indoktrinasi. Indoktrinasi di sini merupakan proses menanamkan ide, sikap, atau perilaku, dan keyakinan tertentu berdasarkan suatu

(8)

sistem nilai. Pancasila dijadikan alat untuk mempertahankan kekuasaan Presiden Soeharto.

Ada tiga cara dalam mengindoktrinasi Pancasila pada masa ini. Pertama, melalui pembekalan program P4 di sekolah. Kedua, diperbolehkannya mendirikan organisasi bagi rakyat dengan berdasarkan asas tunggal atau Pancasila. Ketiga, Presiden Soeharto tidak menginginkan adanya komentar atau pendapat yang dapat dianggap mengancam stabilitas pemerintahan.

Penyelewengan lainnya adalah praktik demokrasi yang berpusat pada

pemerintah atau disebut dengan demokrasi sentralistik. Aturan yang dikeluarkan harus sesuai dengan persetujuan Presiden Soeharto yang memegang kendali lembaga

eksekutif, legislatif, dan yudikatif sekaligus. Presiden Soeharto juga melemahkan aspek- aspek demokrasi, terutama pers, karena dianggap dapat mengancam kekuasaannya.

Selama Orde Baru, hak asasi manusia dan kebebasan politik banyak dilanggar dengan dalih memelihara stabilitas politik demi kelancaran pembangunan ekonomi (Bobi Aswandi dan Kholis Roisah: 2019). Ini mencerminkan bahwa nilai-nilai Pancasila, terutama kebebasan berpendapat dan hak asasi manusia, tidak terlaksana dengan baik.

Beberapa langkah dan kebijakan pemerintah Orde Baru menyimpang dari nilai-nilai mulia Pancasila, di antaranya:

1. Soeharto menjabat sebagai presiden selama 32 tahun.

2. Pancasila ditafsirkan sepihak melalui program P4.

3. Pembatasan gagasan dan ide kreatif karena adanya penindasan ideologis.

4. Pelanggaran hak asasi manusia, seperti pembunuhan di Timor Timur, Aceh, Irian Jaya, peristiwa di Tanjung Priok, dan kasus-kasus lainnya.

5. Diskriminasi terhadap rakyat non-pribumi dan kaum minoritas.

(9)

Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila tidak selalu tercermin dalam kebijakan dan tindakan pemerintah pada masa Orde Baru

G. PANCASILA PADA MASA REFORMASI

Reformasi berarti menata kembali kehidupan yang hancur dan mengembalikannya pada nilai-nilai ideal yang diinginkan rakyat. Menurut Andrew Shandy Utama dan Sandra Dewi (2018), reformasi ini memiliki beberapa tujuan: Penemuan nilai-nilai baru dalam kehidupan berbangsa, perubahan harus dilakukan secara serius dan bertahap.

Mereformasi struktur nasional, termasuk konstitusi dan undang-undang, agar sesuai dengan cita-cita rakyat. Peningkatan di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan. Penghapusan pola hidup dan budaya yang menyimpang.

Namun pada awal masa reformasi, langkah dan kebijakan yang diambil seringkali bertentangan dengan Pancasila, bahkan Pancasila dijadikan sebagai alat politik.

Akhirnya, perekonomian nasional terpuruk, dan muncullah gerakan yang berpusat pada pelajar, intelektual, dan masyarakat umum untuk kesusilaan politik. Gerakan ini

menyerukan reformasi di bidang hukum, politik, ekonomi dan pembangunan.

Keberadaan Pancasila seringkali dimaknai sebagai gagasan politik yang belum dapat diwujudkan. Kegagalan reformasi disebabkan tidak berfungsinya Pancasila secara optimal. Meski banyak orang yang hafal pokok-pokok Pancasila, namun maknanya masih belum dipahami secara mendalam. Penerapan Pancasila masih jauh dari harapan, hal ini terlihat dari gejolak politik, menurunnya semangat generasi muda, meningkatnya penyalahgunaan obat-obatan terlarang, dan korupsi yang masih terjadi.

Pada masa Reformasi, Pancasila mengalami reinterpretasi, namun tetap perlu diinterpretasikan sesuai perkembangan saat ini. Namun penafsiran tersebut harus relevan, kontekstual, dan konsisten dengan realitas zaman. Meskipun berbagai

perubahan telah dilakukan untuk memperbaiki kehidupan bermasyarakat dan bernegara berdasarkan ideologi Pancasila, namun masih banyak permasalahan sosial dan ekonomi yang belum terselesaikan.

Eksistensi dan peran Pancasila di era reformasi juga dipertanyakan. Karena penerapan Pancasila pada era reformasi tidak jauh berbeda dengan era sebelumnya, perdebatan mengenai relevansi Pancasila sebagai ideologi nasional masih sering terjadi.

(10)

Pancasila seolah kehilangan daya dan kuasanya untuk mempengaruhi masyarakat dan membawa perubahan nyata.

Pancasila tidak lagi sepopuler dulu, sering disalahpahami dan dianggap sebagai bagian dari masa lalu yang pahit. Namun seiring berjalannya waktu, peran Pancasila semakin berkurang, terutama dengan maraknya korupsi dan maraknya nepotisme, kolusi, dan KKN. Pancasila yang seharusnya menjadi pilar pembangunan nasional justru diabaikan dan malah dianggap sebagai penyebab permasalahan.

Membangun negara yang lebih baik memerlukan kesadaran dan upaya kolektif untuk melestarikan dan menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

(11)

Perjalanan penerapan Pancasila di Indonesia sejak kemerdekaan

memberikan gambaran tantangan dan dinamika yang dihadapi negara. Pada awal kemerdekaan, upaya pembangunan Pancasila terhambat oleh kondisi transisi dan melemahnya solidaritas. Era demokrasi terpimpin ditandai oleh sentralisasi kekuasaan dan penyimpangan nilai-nilai Pancasila. Meski Orde Baru berusaha mengembalikan eksistensi Pancasila, terjadi penyalahgunaan kekuasaan dan pelanggaran HAM. Meskipun masa reformasi membawa perubahan, terdapat kesenjangan dalam penerapan dan pemahaman Pancasila.

H. IMPLIKASI

1. Pendidikan dengan Nilai-nilai Pancasila yang Mendalam

Meningkatkan mutu pendidikan Pancasila untuk mencapai pemahaman yang mendalam dan tepat terhadap kondisi saat ini.Mendorong integrasi nilai-nilai Pancasila ke dalam kurikulum formal dan informal.

2. Reformasi Sistem Politik dan Ekonomi

Melanjutkan perjuangan menuju sistem politik dan ekonomi yang lebih inklusif, adil, dan sejalan dengan semangat Pancasila. Menghindari pemusatan kekuasaan yang berlebihan untuk mencegah penyimpangan nilai.

3. Memperkuat Demokrasi Partisipatif

Mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.

Mengembangkan mekanisme yang memungkinkan dialog dan kritik konstruktif dalam masyarakat.

4. Penanaman Kembali Nilai-nilai Kebangsaan

Kampanye nilai-nilai kebangsaan yang tercermin dalam Pancasila seperti gotong royong, toleransi, dan keberagaman. Memperkuat kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai luhur tersebut melalui kegiatan sosial budaya.

(12)

5. Pengawasan dan Akuntabilitas

Memperkuat sistem pengawasan bagi pemerintah dan lembaga untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan. Menjamin akuntabilitas penerapan Pancasila agar konsisten dengan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.

6. Kontinuitas dan Adaptasi:

Menjamin kesinambungan pengembangan dan penerapan Pancasila sesuai dengan perkembangan saat ini. Menjamin adaptasi Pancasila tanpa menghilangkan nilai- nilai inti agar tetap relevan sebagai pedoman masyarakat Indonesia.

Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, Pancasila diharapkan tetap

menjadi landasan yang kuat untuk membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Aswandi, B., & Roisah, K. (2019). Negara Hukum Dan Demokrasi Pancasila Dalam Kaitannya Dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia, 1(1), 128-145.BRATA

(13)

Brata, I. B., & Wartha, I. B. N. (2017). Lahirnya Pancasila Sebagai Pemersatu Bangsa Indonesia. Jurnal Santiaji Pendidikan (JSP), 7(1).

Jaya, M. A. C. IMPLEMENTASI PANCASILA PADA MASA ORDE BARU.

Sholehuddin, A. (2015). Jargon Politik Masa Demokrasi Terpimpin Tahun 1959-1965.

Avatara, 3(1).

Sudrajat, A. (2016). Demokrasi Pancasila dalam Perspektif Sejarah. MOZAIK: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, 8(1).

Utama, A. S., & Dewi, S. (2018). Pancasila sebagai Ideologi Bangsa Indonesia serta Perkembangan Ideologi Pancasila pada Masa Orde Lama, Orde Baru, dan Era Reformasi.

Referensi

Dokumen terkait

Sejarah lahirnya pancasila tidak dapat di pisahkan dari bangsa Indonesia itu sendiri,karna hal itu menjadi faktor dan sebab utama lahirnya pancasila yang sekarang

Implementasi Pancasila dalam perumusan kebijakan pada bidang politik dapat ditransformasikan melalui sistem politik yang bertumpu kepada asas kedaulatan rakyat

yang berarti dasar. Jadi Pancasila merupakan lima dasar negara yang harus dijadikan pedoman hidup bagi seluruh bangsa Indonesia dalam menjalani kehidupan.

Pancasila sebagai Paradigma Reformasi Politik Landasan aksiologis (sumber nilai) sistem politik Indonesia adalah dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV yang berbunyi “……maka

yang dimaksud Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa merupakan kristalisasi nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila

Sistem politik Indonesia yang sesuai pancasila sebagai paradigma adalah sistem politik demokrasi bukan otoriter Berdasar hal itu, sistem politik Indonesia harus dikembangkan

Implementasi Pancasila Dalam Pembuatan Kebijakan Dalam Bidang Politik Implementasi yang terkait tentang kebijakan pemerintah yang sesuai dengan Pancasila beserta kebijakan pemerintah

Sumber nilai politik harus mengacu pada nilai-nilai pancasila terutama sila ke-4 dimana semua praktik-praktik politik harus berkembang atas asas kerakyatan.3 Hal ini dikarenakan warga