• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Sosiologi

N/A
N/A
Faeyza Naufal

Academic year: 2024

Membagikan " Makalah Sosiologi "

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH SOSIOLOGI

Tahun Ajaran : 2022/2023

Guru Pembimbing : Sri Suryaningsih, S.Sos Disusun Oleh: Hadi Iswanto (X.2)

Cyberbullying di Media Sosial pada

Kalangan Remaja

(2)

BAB I BAB I

1.1 Latar Belakang Masalah

Cyberbullying merupakan fenomena yang banyak diperbincangkan karena dampak dari cyberbullying yang buruk terhadap kesehatan mental. Menurut Hidayatullah (dalam Aini, 2018) cyberbullying bagi individu yang memiliki perasaan rendah diri, sangat beresiko mendapat celaan, hinaan, bahkan pelecehan secara terbuka. Tidak hanya dapat menyebabkan depresi tetapi juga resiko bunuh diri. Pada jaman postmodern ini sebagian besar pengguna Internet di Indonesia menyalahgunakan kebebasan berinternet dengan melakukan berbagai macam tindakan yang kurang menyenangkan pada orang lain. Misalnya, kasus cyberbullying pada penyanyi Korea, Choi Jin Ri atau yang biasa dikenal dengan Sulli f(x). Dalam beberapa unggahan di media sosial, Sulli kerap mendapat bullying secara online, apapun yang dia lakukan sering kali mendapatkan hujatan secara online (Tirto.id, 2019). Sulli menjadi korban cyberbullying netizen di media sosial Instagram yang terungkap dari beberapa postingan video Sulli menangis dan berkata “aku bukan orang jahat”. Sebelumnya Sulli sudah meminta kepada pihak manajemen tentang kasus bullying yang dialaminya di Instagram, tetapi pada akhirnya tidak ada tindak lanjut dari pihak manajemen Sulli.

Pada tangga 14 November 2019 Sulli ditemukan telah meninggal dunia di apartemennya akibat gantung diri. Menurut lembaga riset pasar e-Marketer, pada tahun 20014, populasi penggunaan Internet di

Indonesia sudah mencapai 83,7 juta orang dan ini menduduki peringkat yang ke-6 terbesar di dunia dalam penggunaan Internet (Kominfo, 2015). Kemudian menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bekerjasama dengan pihak Pusat Kajian Komunikasi (PusKaKom) FISIP Universitas Indonesia pada tahun 2014, kategori usia pengguna Internet di Indonesia terletak pada rentang umur 18-25 tahun (49%), serta tingkat pendidikan untuk pengguna Internet di Indonesia adalah tingkat SMA sederajat

sebesar (64,7%) (APJII,2014). Dilihat dari data tersebut menggambarkan bahwa pengguna aktif Internet di Indonesia ada pada kalangan remaja. Kecenderungan berperilaku bullying di media sosial (cyberbullying) adalah tindakan agresif, disengaja, dan berulang dari waktu ke waktu melalui media sosial yang dilakukan oleh kelompok atau individu, (Weber, Pelfrey, 2014). Termasuk kategori bullying tidak langsung yang terjadi menggunakan media elektronik, intimidasi online, penindasan dunia maya, dan pelecehan dengan menggunakan teknologi seperti media sosial (Notar, Padgett, Roden, 2013). Menurut Williard (2005) ada beberapa aspek dalan kecenderungan berperilku bullying di media sosial (cyberbullying) yaitu : provokasi (flamming), gangguan (harassment), pencemaran nama baik (denigration), peniruan (impersonation), penipuan (outing dan trickery), menguntit atau mengikuti (stalking), dan pengucilan (exclusion). Flamming, harassment, denigration terjadi karena pelaku mempunyai harga diri rendah, pelaku merasa kurang

berarti karena mengalami penolakan dari lingkungan. Pelaku cyberbullying berusaha melakukan tindakantindakan negatif seperti pelecehan, penghinaan, adu argumen, saling ejek dan menghina,

(3)

Kecenderungan berperilaku bullying di media sosial (cyberbullying) menjadi fenomena global di kalangan remaja, Kecenderungan tingginya perilaku bullying pada remaja. Kecenderungan berperilaku bullying di media sosial (cyberbullying) disebabkan atas beberapa faktor yang berasal dari dalam diri internal dari perilaku cyberbullying yang dibuktikan pada penelitian ini antara lain harga diri dan empati Brewer, Kerslake (2015) dalam penelitiannya menyatakan bahwa harga diri adalah prediktor individu yang signifikan tentang kecenderungan berperilaku bullying di media sosial (cyberbullying), sehingga mereka yang memiliki tingkat harga diri rendah paling mungkin untuk melaporkan pengalaman cyberbullying.

Hinduja & Patchin (2010) melakukan penelitian pada 2000 siswa sekolah menengah di Amerika tentang Cyberbullying. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa remaja yang mengalami

ketegangan/stres lebih cenderung melakukan perilaku Cyberbullying kepada orang lain. Sehingga remaja yang mengalami stres yang berasal dari konflik dengan temannya perlu mengatasi stres tersebut dengan cara yang sehat dan positif. 20% dari responden penelitian yang dilakukan Hinduja & Patchin (2010) dilaporkan pernah berpikir secara serius untuk melakukan bunuh diri. Percobaan bunuh diri yang coba dilakukan oleh korban Cyberbullying jumlahnya hampir dua kali lebih banyak daripada yang tidak pernah mengalami Cyberbullying. Penelitian yang dilakukan oleh Aini. K. (2018) tentang dampak cyberbullying terhadap depresi pada mahasiswa prodi Ners. Responden dari penelitian ini berjumlah 70 mahasiswa yang menunjukkan hasil terdapat hubungan signifikan antara pengalaman cyberbullying dengan depresi. Jika dilihat dari penelitian Rachmah (2014) diketahui alasan pelaku bullying melakukan bullying karena sikap korban, karakteristik korban dan budaya yang ada. Adanya perilaku bullying disebabkan oleh rendahnya rasa empati yang dimiliki pelaku. Ketidakmampuan pelaku untuk berempati menyebabkan mereka kurang mampu untuk melihat dan merasakan dengan tepat. Menurut Fikrie (2016) empati merupakan kemampuan seseorang untuk merasakan keadaan emosional orang lain. Ketika seorang individu mampu memahami dan mengenali kondisi perasaan emosional seseorang maka mereka akan lebih simpatik dan peduli. Hal tersebut dapat menghindarkan dari perilaku bullying. Berdasarkan penjelasan di atas maka perilaku cyberbullying dapat dikurangi jika seseorang memiliki tingkat empati yang tinggi. Semakin tinggi empati maka juga semakin tinggi tingkat prososial, maka hal tersebut dapat mengurangi tindakan cyberbullying. Hal tersebut tidak hanya diterapkan pada kehidupan sehari-hari tetapi harus diterapkan juga dalam bersosial media.

Didukung dengan pernyataan dari Hidayatullah (dalam Aini, 2018) yang menyatakan bahwa jejaring social dapat berakibat buruk bagi individu terutama merak yang memiliki perasaan rendah diri, sangat beresiko mendapakan celaan, hinaan, bahkan pelecehan secara terbuka yang langsung diketahui oleh banyak orang.

Kondisi tersebut bukan hanya dapat menyebabkan depresi tetapi juga resiko melakukan tindakan bunuh diri

(4)

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana hubungan antara sikap terhadap perilaku cyberbullying dengan perilaku cyberbullying pada remaja pelaku cyberbullying?

Apakah ada pengaruh harga diri terhadap kecenderungan berperilaku bullying di media sosial (cyberbullying) pada remaja?

Apakah ada pengaruh harga diri dan empati terhadap kecenderungan berperilaku bullying di media sosial (cyberbullying) pada remaja

Terdapat rumusan masalah yang sudah di bahas dalam latar belakang, sebagai berikut :

1.3 Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas yang menjelaskan beberapa hasil penelitian sebelumnya, maka peneliti hanya menfokuskan permasalahan pada pengaruh harga diri rendah dari pelaku bullyingnya saja kurangnya respon dan empati terhadap korban yang mengakibatkan pada kecenderungan berperilaku bullying di media sosial (cyberbullying) pada remaja.

1.4 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui hubungan antara sikap terhadap perilaku cyberbullying dan fungsi keluarga dengan perilaku cyberbullying pada remaja pelaku cyberbullying

(5)

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat yang didapatkan dalam penelitian ini adalah agar dapat memberikan sumbangan dalam dunia pendidikan yang tepat terhadap intervensi pada harga diri dan empati yang rendah sehingga mencegah kecenderungan perilaku bullying di media sosial (cyberbullying).

Manfaatnya dari penelitian ini adalah untuk menambah wawasan tentang hubungan negatif yang timbul dari empati dan cyberbullying pada remaja.

1.6 Metode Penelitian

Teori yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah teori dari Robin (2012)

menyatakan bahwa cyberbullying adalah tindakan yang dilakukan untuk mengintimidasi seseorang melalui media elektronik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku cyberbullying adalah jenis kelamin. Mahasiswa laki- laki cenderung memiliki perilaku cyberbullying yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa perempuan. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Brewer (2012) yang juga menunjukkan bahwa perilaku cyberbullying pada mahasiswa di Universitas Pacific Northwest cenderung rendah. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa terdapat kecenderungan perilaku cyberbullying yang dilakukan mahasiswa lebih besar dari yang mereka persepsikan. Penelitian tentang cyberbullying juga diteliti oleh Mustafa (2012) yang meneliti tentang hubungan antara cyberbullying/cybervictimzation dan kesepian dikalangan remaja. Responden penelitian dari peneliti ini adalah 389 siswa sekolah menengah pertama, yang terdiri dari 159 siswa laki-laki dan 230 siswi perempuan, dari berbagai sekolah di kota Trabzon. Penelitian ini menggunakan teori dari Ybarra (2004) yang mendefiniskan cyberbullying sebagai perilaku tidak langsung sama dengan perilaku bullying tradisional tapi satu yang sedikit berbeda dalam hal sifat berulang dan konten kekerasan psikologis. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah kesepian skala (UCLA) dan skala cyberbullying. Untuk teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik korelasi, analisis regresi berganda dan mandiri t-tes, dikerjakan untuk tujuan

(6)

Menurut hasil penelitian APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), ada 49 persen dari 5.900 responden yang menjadi korban dari cyber bullying.

Tingginya angka ini tentu dipicu karena tingginya konsumsi penggunaan internet pada anak serta kurangnya pengawasan orang tua. Data berikut ini mengenai aplikasi yang terdapat cyberbullying :

Sumber: https://images.app.goo.gl/svW1ZyfQxRTcchSM6

Selain itu, kekerasan kerap terjadi di Jejaring sosial sebanyak 71%, aplikasi chatting 19%, game online 5%, youtube 1%, dan lainnya 4%. Dari total 97% ini, 34% responden engga mendapat layanan atau bantuan saat menjadi korban, serta 36% engga tahu informasi mengenai pusat bantuan mengenai cyberbullying.

Data lain mengungkapkan bahwa 39% netizen merasa pemerintah adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas kasus-kasus cyberbullying. Diikuti 11% sekolah, 14% penyedia layanan internet, dan 36% anak muda.

Referensi

Dokumen terkait

Perilaku bullying selain disebabkan karena faktor keluarga dan faktor kepribadian, ada faktor lain yang juga memungkinkan memiliki pengaruh dalam membentuk remaja

Objek dalam penelitian ini adalah perilaku pelanggaran etika berkomunikasi di media sosial yang bertujuan untuk melihat bagaimana kecenderungan jenis cyberbullying yang kerap

Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, faktor internal yang merupakan faktor yang berasal dari siswa tersebut dan juga faktor eksternal yang berasal dari

Membantu siswa mengembangkan pola perilaku untuk dirinya; setiap siswa berasal dari latar belakang yang berbeda, mempunyai karakteristik yang berbeda dan kemampuan yang berbeda

Hikmah iman kepada Malaikat : Bertindak hati-hati dalam berperilaku keseharian, Memiliki kepedulian sosial dalam hidup dengan masyarakat sekitar, Perilaku

D Jenis Penelitian Melalui wawancara, peneliti dapat mengeksplorasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi kenakalan remaja, seperti krisis identitas, pengaruh lingkungan

Faktor Internal AtauPush FactorPendorong Faktor internal merupakan faktor yang lebih banyak disebabkan oleh kondisi internal individu atau sektor pertanian yang kurang memberikan daya

 Pembentukan pribadi mengembangkan identitas diri  Kontrol sosial penyerasian dan kemampuan prediksi  Sosialisasi membangun perilaku dan nilai-nilai bersama yang sesuai 