Materi 5 dan 6
Praktikum Teknologi Sediaan Farmasi Solid apt. Nining, M.Si.
Tujuan Praktikum
Pembuatan Suppositoria (5)
1. Mengetahui bagaimana cara membuat suppositoria
2. Melakukan percobaan pembuatan suppositoria dengan basis lemak
Evaluasi Suppositoria (6)
1. Mengetahui cara evaluasi suppositoria
2. Mencoba melakukan uji kualitas suppositoria
Pendahuluan
• Suppositoria → sediaan padat berbentuk torpedo yang digunakan melalui rektum, vaginal dan uretra dan dapat melunak, melarut atau meleleh pada suhu tubuh
• Bekerja secara lokal maupun sistemik
• Supositoria yang mengandung obat- obatan seperti aspirin dan opiat untuk nyeri, ergotamin tartrat untuk
mengobati sakit kepala migrain, dan banyak obat lain untuk kegunaan lain yang biasa digunakan sebagai
supositoria. Obat ini dimaksudkan untuk diserap secara sistemik seperti diazepam, metronidazole,
progesteron, aminofilin, morfin, proklorperazin, klorpromazin,
tietilperazin, indometasin, diklofenak, ketoprofen, naproxen, dan
ondansetron.
• Untuk dapat didistribusikan di dalam darah maka sediaan suppositoria harus dapat MELELEH atau MELARUT pada suhu tubuh (37°C)
• Titik leleh menentukan kerja obat → setelah basis suppositoria meleleh, melunak pada suhu tubuh atau melarut dalam cairan rektum maka obat yang dibawanya akan disebarkan ke jaringan untuk mendapatkan efek lokal atau diabsorpsi untuk mendapat efek sistemik
• Suppositoria dibuat dengan cara MELEBURKAN BASIS maka dari itu suatu bahan yang akan menjadi basis suppositoria harus memiliki titik lebur, lemak cokelat misalnya memiliki suhu leleh 31˚C - 36˚C sehingga memenuhi syarat suppositoria yaitu meleleh pada suhu tubuh dan
memadat pada suhu ruang untuk memudahkan penyimpanan dan
pemakaiannya serta dapat dilebur pada proses pembuatannya
Persyaratan basis suppositoria:
• Netral secara fisiologis, tidak menimbulkan rangsangan pada usus
• Netral secara kimia
• Interval yang rendah antara titik lebur dan titik beku, agar pembekuan massa berlangsung cepat
• Memiliki viskositas yang memadai untuk mengurangi sedimentasi bahan tersuspensi
• Suppositoria sebaiknya melebur dalam beberapa menit pada suhu tubuh atau melarut.
Basis suppositoria dikelompokkan menjadi 3 tipe yaitu:
1. Basis yang terbuat dari lemak cokelat yang didefinisikan sebagai lemak yang diperoleh dari biji Teobroma cacao yang dipanggang proses pembuatannya sangat menentukan kualitas untuk
mempertahankan bentuknya tetap stabil sebagai substansi lemak dalam bentuk yang cukup padat namun dengan temperatur tubuh ia mulai meleleh. Pada suhu kamar berwarna kekuningan, putih padat dan sedikit redup dan berbau seperti cokelat, lemak cokelat memiliki kandungan trigliserida campuran antara gliserin dengan asam-asam lemak yaitu oleopalmitostearin dan oleodistearin.
Lemak coklat memiliki sifat polimorfisme.
Basis suppositoria dikelompokkan menjadi 3 tipe yaitu:
2. Tipe basis yang larut atau dapat bercampur dalam air . Termasuk dalam
kelompok ini adalah basis gelatin, gliserin dan polietilenglikol, suppositoria dengan basis gelatin gliserin dapat dibuat dengan cara mencampurkan
larutan atau suspensi bahan obat dengan gliserin dan gelatin.
3. Basis Lainnya, basis ini mencakup bahan yang bersifat seperti lemak dan
yang larut dalam air atau bercampur dengan air dapat berbentuk zat kimia,
beberapa di antaranya berbentuk emulsi.
Pembuatan Suppositoria
Supositoria disiapkan dengan dua metode:
1. Molding → pencetakan dari lelehan
2. Hand rolling dan shaping → penggulungan dan pembentukan dengan tangan.
Metode yang paling sering digunakan baik dalam skala kecil maupun skala
industri adalah molding.
Molding (pencetakan)
Langkah-langkah dalam pencetakan meliputi 1. Melelehkan basis,
2. Memasukkan obat-obatan yang diperlukan, 3. Menuangkan lelehan ke dalam cetakan,
4. Membiarkan lelehan menjadi dingin dan membeku menjadi supositoria, dan
5. Mengeluarkan supositoria yang terbentuk dari cetakan.
Cocoa butter, gelatin tergliserinasi, polietilen glikol, dan sebagian besar
bahan dasar lainnya cocok untuk pembuatan dengan pencetakan.
Hal-hal yang penting untuk diperhatikan
1. Pelumasan cetakan, pelumasan dengan minyak mineral ditujukan untuk
memudahkan pembersihan dan pengeluaran supositoria yang dicetak. Untuk basis cocoa butter atau polietilen glikol → pelumasan jarang diperlukan, karena bahan ini cukup berkontraksi pada pendinginan untuk terpisah dari permukaan bagian dalam dan memungkinkan pelepasan dengan mudah. Pelumasan biasanya diperlukan dengan gelatin tergliserinasi.
2. Kalibrasi cetakan, pertama menyiapkan supositoria dari cetakan dg basis saja, dihitung berat rata-rata masing-masing supositoria. Untuk menentukan volume cetakan → supositoria dilebur dalam gelas kimia yang telah dikalibrasi, dan
volume lelehan ditentukan untuk jumlah total serta rata-rata satu supositoria.
3. Penentuan jumlah basis yang diperlukan, Jika jumlah obat yang ditambahkan sedikit → maka dapat diabaikan, dan tidak ada pengurangan dari total volume basis yang diperlukan. Namun, jika jumlah obat besar → volume bahan ini
penting dan harus digunakan untuk menghitung jumlah basis yang sebenarnya dibutuhkan untuk mengisi cetakan.
Perhitungan Dose Replacement
• Suppositoria = bahan aktif + basis yang diukur dengan satuan BERAT (gram atau miligram). Ketika dicampur, meleleh, dan dituangkan ke dalam cetakan suppositoria, akan menempati VOLUME RUANG cetakan. Karena bahan tadi diukur dengan satuan berat, sedangkan saat dicetak berupa volume, maka perlu diperhitungan DENSITAS dan KALIBRASI CETAKAN yang diperlukan untuk memberikan dosis yang akurat.
• Jika dosis zat aktif yang digunakan < 100 mg (untuk bobot supo 2 g), maka volume yang ditempati oleh serbuk tidak berubah secara bermakna sehingga tidak perlu dipertimbangkan.
• Jika bobot supo yang akan dibuat < 2 g maka volume serbuk harus
diperhitungkan. Faktor kerapatan (densitas) dari basis dan serbuk harus diketahui.
• Cara:
• Dosage replacement factor (Nilai tukar)
• Density factor
• Occupied volume methods
Metode Dosage Replacement Factor
• Dosage replacement factor [faktor/bilangan pengganti (f)] → jumlah basis yang dapat digantikan oleh bahan obat. Bilangan pengganti → berat basis 1 gram bahan aktif obat (dalam volume sama).
• Jika f = 0,44; artinya 0,44 g basis 1 g bahan obat.
• f dapat dihitung dengan persamaan berikut:
Ket:
f : faktor pengganti
E : bobot basis suppositoria murni
G : bobot suppositoria dengan bahan aktif X%
X : % bahan aktif
G.X : jumlah obat dalam suppositoria
• Contoh:
Supositoria yang akan dibuat mengandung 100 mg fenobarbital (f = 0,81) menggunakan cocoa butter
sebagai bahan dasarnya. Berat supositoria cocoa butter murni adalah 2,0 g. Fenobarbital100 mg harus
terkandung dalam supositoria 2,0 g, yaitu sejumlah 5%
fenobarbital.
• Diketahui:
E = 2 g f = 0,81
X = 5% [(100/2000) mg x 100%]
• Ditanya: G?
• Jawab :
Jadi bobot supo dengan 100 mg fenobarbital =
2,01918 g
Metode Density Factor
▪ Density factor → merupakan jumlah gram zat aktif yang setara dengan 1g basis
▪ Cara:
• Siapkan suppo kosong, timbang bobot, tentukan rata-rata (A)
• Hitung dosis bahan aktif (B)
• Siapkan suppo berisi bahan aktif, timbang bobot, tentukan rata-rata (C)
▪ Dihitung dengan persamaan:
Ket:A : bobot rata-rata supo kosong B : bobot bahan aktif/ supo
C : bobot rata-rata supo+bahan aktif
▪ Contoh soal:
Siapkan 12 acetaminophen 300 mg supositoria menggunakan cocoa butter. Berat rata-rata blanko cocoa butter adalah 2 g, dan berat rata-rata supositoria obat
adalah 1,8 g.
• Diketahui:
A: 2 g
B: 300 mg = 0,3 g C: 1,8 g
▪ Ditanya: Jumlah masing-masing bahan yang ditimbang?
▪ Jawab:
• Replacement value = bobot bahan aktif/ DF = 0,3g/0,6 = 0,5
• Jumlah cocoa butter yang digantikan obat = 2g – 0,5g = 1,5g
• Jumlah cocoa butter yang diperlukan = 12 x 1,5g = 18g
• Jumlah asetaminofen = 12 x 0,3g = 3,6g
Occupied volume methods (metode volume yang ditempati)
▪ Cara:
1. Tentukan bobot rata-rata/ cetakan 2. Timbang basis untuk 12 suppo
3. Bagilah densitas bahan aktif dengan densitas basis → rasio densitas
4. Bagilah bobot total bahan aktif dg rasio densitas → jumlah basis yg digantikan bahan aktif
5. Kurangi jumlah no 4 dari bobot total suppo (jml suppo x bobot blanko) → bobot basis yg diperlukan
6. Kalikan bobot bahan aktif per suppo dg jml suppo → jml bahan aktif yg diperlukan
▪ Contoh soal:
Siapkan 10 supositoria, masing-masing berisi 200 mg obat dengan densitas 3,0. Basis memiliki densitas 0,9, dan blanko yang disiapkan memiliki bobot 2,0 g. Menggunakan penentuan metode volume yang ditempati, siapkan supositoria yang diminta.
▪ Diketahui:
Bobot per cetakan = 2 g
Dosis bahan aktif = 200 mg = 0,2 g Densitas obat = 3,0
Densitas basis = 0,9
▪ Ditanya: Jumlah masing-masing bahan yang ditimbang?
▪ Jawab:
• Jumlah utk 10 suppo = 2g x 10 = 20 g
• Rasio densitas = densitas obat/densitas basis = 3,0/0,9 = 3,3
• Jumlah basis yg digantikan bahan aktif = 2g/3,3 = 0,6 g
• Jumlah basis yg diperlukan = 20 – 0,6g = 19,4 g
• Jumlah bahan aktif = 0,2g x 10 = 2 g
Prosedur Kerja
1. Buat suppositoria dengan formula sebagai berikut:
2. Lakukan uji faktor pengganti (dosage replacement factor) dengan cara: Lebur basis tanpa zat aktif kemudian cetak dan timbang suppositoria yang terbentuk (E), kemudian lebur basis dan zat aktif dengan dosis yang diinginkan bersama lalu cetak dan timbang suppositoria yang diperoleh (G), kemudian hitung bilangan penggantinya (f). Setelah diketahui nilai faktor pengganti maka jumlah massa basis supositoria dapat dihitung dengan rumus:
3. Lelehkan basis dalam penangas air, tambahkan bahan-bahan lain ke dalam sebagian leburan basis dan aduk dalam mortir hingga tercampur merata kemudian tambahkan sisa basis yang hampir
mengental setelah itu massa leburan tuang ke dalam cetakan logam yang sudah didinginkan dalam lemari es, lalu masukakan cetakan ke dalam lemari pendingin dan setelah mengeras suppositoria dikeluarkan dari cetakan. Simpan untuk evaluasi.
/ bobot 1 suppo kosong
Evaluasi Suppositoria
1. Organoleptik → warna, bau, bentuk, ukuran, permukaan sediaan 2. Keseragaman sediaan → keragaman bobot
3. Penentuan titik leleh, (micro dan macro melting range), tahapan micro mr:
• Ambil satu buah suppositoria
• Masukkan ke dalam alat melting point
• Naikkan suhu pemanas dengan kecepatan 1°C/ menit. Catat pada suhu berapakah suppositoria yang diuji meleleh
4. Penentuan waktu leleh, cara: suppositoria dimasukkan dalam sangkar berbentuk spiral gelas, sangkar spiral tersebut dimasukkan pada pipa penguji lalu ditempatkan dalam sebuah mantel gelas yang dialiri air bersuhu tetap 37°C, air masuk kedalam pipa penguji. Proses dihitung dari suppositoria mulai dimasukkan ke dalam gelas mantel gelas yang dialiri air bersuhu tetap 37°C sampai meleleh tanpa sisa.