• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENCEGAH FENOMENA FEAR OF MISSING OUT PADA REMAJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "MENCEGAH FENOMENA FEAR OF MISSING OUT PADA REMAJA"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Kebajikan

Jurnal Pengabdian Masyarakat

E-ISSN: 2985-9557 Vol: 01, No: 03, Mei 2023

MENCEGAH FENOMENA FEAR OF MISSING OUT PADA REMAJA

Raka Rasyal1*) | Muhammad Setiawan Sahib2) | Muhammad Alif Abdi Manaf3) | Ahmad Ridfah4)

| Ismalandari Ismail5)

12345)Fakultas Psikologi, Universitas Negeri Makassar [email protected]

Abstract: Fear of missing out is a great desire to stay connected with what other people are doing through cyberspace. This psychoeducation aims to add information to adolescents about the Fear of Missing Out phenomenon and how to prevent it. Psychoeducation was carried out by distributing posters and giving a survey using a Google form to several teenagers in Makassar and South Tangerang for three days. The results of implementing psychoeducation on 30 teenage respondents aged 17 to 20 years, namely psychoeducational activities provide information so that respondents become more aware of the Fear of Missing Out phenomenon and add insight. In addition, the insights obtained from psychoeducational activities are that respondents understand more about the Fear of Missing Out phenomenon and how to overcome it, the contents of the poster can be applied to themselves, know what to do when experiencing this situation, and get motivation after reading posters related to Fear of Missing Out prevention.

Keywords: Psychoeducation, Fear of Missing Out, Adolescents

Abstrak: Fear of missing out merupakan adanya keinginan yang besar untuk tetap terus terhubung dengan apa yang sedang dilakukan oleh orang lain melalui dunia maya. Psikoedukasi ini bertujuan untuk menambah informasi kepada remaja mengenai fenomena Fear of Missing Out dan bagaimana cara mencegahnya. Psikoedukasi dilakukan dengan menyebarkan poster dan memberikan survei dengan menggunakan google form ke beberapa remaja di Makassar dan Tangerang Selatan selama tiga hari. Hasil dari pelaksanaan psikoedukasi terhadap 30 responden remaja berusia 17 hingga 20 tahun yaitu kegiatan psikoedukasi memberikan informasi sehingga responden menjadi lebih mengetahui fenomena Fear of Missing Out dan menambah wawasan.

Selain itu, insight yang didapatkan dari kegiatan psikoedukasi yaitu responden lebih memahami tentang fenomena Fear of Missing Out dan bagaimana cara mengatasinya, isi poster dapat diterapkan ke diri sendiri, mengetahui apa yang harus diperbuat ketika mengalami situasi tersebut, dan mendapatkan motivasi setelah membaca poster terkait pencegahan Fear of Missing Out.

Kata Kunci: Psikoedukasi, Fear of Missing Out, Remaja

A. PENDAHULUAN

Pada saat ini perkembangan teknologi dan informasi berkembang sangat pesat.

Pesatnya perkembangan TIK menjadikan internet sebagai alat komunikasi utama yang sangat diminati oleh masyarakat. Hal inilah yang melatar belakangi perubahan teknologi komunikasi dari konvensional menjadi modern dan serba digital. Media sosial memiliki peran penting bagi remaja untuk tetap berhubungan dengan keluarga maupun teman- temannya. Erikson dalam Rathus (2007) mengungkapkan bahwa masa remaja merupakan tahap perkembangan yang menunjukkan kemampuan koneksi dan peran sosialnya, serta membentuk siapa dirinya. Kemampuan menjalin suatu koneksi tersebut digambarkan oleh Hawk (2018) yang menekankan bahwa usia remaja merupakan pengguna media sosial

(2)

45 terbanyak dengan kisaran 70% usia muda, yang juga terdukung kemudahan akses melalui ponsel cerdas, komputer dan peralatan teknologi canggih lainnya.

Media sosial adalah alat yang memungkinkan pengguna merepresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerja sama, berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lain membentuk ikatan sosial secara virtual. Tetapi hal tersebut dapat berubah menjadi sebuah kegelisahan ketika seseorang mengecek media sosialnya dan melihat berbagai keseruan yang sedang dilakukan oleh teman-temannya. Hal tersebut membuat mereka terus memantau media social dan melihat apa saja aktivitas yang orang lain lakukan (Akbar et al, 2018).

Keadaan seperti itu disebut dengan Fear of Missing Out (FoMO) yaitu adanya keinginan yang besar untuk tetap terus terhubung dengan apa yang sedang dilakukan oleh orang lain melalui dunia maya (Przybylsky, 2013). Fenomena FoMO semakin hangat diperbincangkan setelah JWT atau Intillegence mengeluarkan laporan penelitian mengenai FoMO pada tahun 2012. Dalam penelitian tersebut, FoMO di definisikan sebagai perasaan gelisah dan takut bahwa seseorang tertinggal, apabila teman-temannya sedang melakukan atau merasakan sesuatu yang lebih baik atau lebih menyenangkan dibanding apa yang sedang ia lakukan atau ia miliki saat ini. Perasaan di mana seseorang merasa begitu khawatir jika melewatkan tren yang sedang terjadi dikehidupan sosialnya (Akbar et al, 2018).

FoMO merupakan sindrom kecemasan sosial yang ditandai dengan keinginan untuk terus terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain (Przybylski, 2013). Sebagai dampak dari perkembangan teknologi dan internet, sindrom ini telah membawa manusia pada posisi determinasi terhadap kebutuhan akan telekomunikasi (Akbar et al, 2018). Secara sederhana Fear of Missing Out (FoMO) dapat didefinisikan sebagai ketakutan akan kehilangan momen.

Ketakutan akan kehilangan momen adalah konstruksi sosial yang memeriksa apakah seseorang khawatir bahwa mereka kehilangan pengalaman yang orang lain miliki, dan kami memeriksa hubungan ini dengan keprihatinan mereka atas kegiatan yang hilang dalam kebudayaan mereka (Hetz, 2015).

Fenomena ini sangat umum ditemukan pada remaja, khususnya di era digital saat ini.

Remaja merasa khawatir jika mereka tidak mengikuti tren atau acara yang sedang populer, sehingga menyebabkan mereka merasa tekanan dalam mengejar kesuksesan sosial dan menimbulkan rasa tidak nyaman. FOMO dapat diperburuk dengan adanya media sosial, di mana remaja dapat melihat aktivitas teman-temannya secara real-time dan merasa kurang diterima jika tidak ikut serta dalam aktivitas yang sama. Hal ini terjadi dikarenakan remaja telah menyesuaikan diri dengan budaya "online sepanjang waktu" yang menyebabkan mereka tidak ingin ketinggalan zaman.

Abel et al. (2016) menyatakan bahwa dalam era digital saat ini, media sosial digunakan oleh individu untuk melihat aktivitas orang lain. Akses yang terus-menerus ke kehidupan orang lain melalui media sosial ini menyebabkan individu untuk merasa cemas dan tidak puas dengan apa yang mereka lewatkan, seperti pesta atau acara-acara lainnya. Hal ini menyebabkan perasaan tidak aman, cemas dan merasa tidak layak. Dari penggunaan media sosial, individu juga cenderung mengalami perasaan cemas, mudah terluka, merasa tidak mampu dan harga diri yang rendah.

Psikoedukasi menurut (Nelson-Jones, 1982) ada enam pengertian mengenai psikoedukasi, masing masing mewakili gerakan tertentu. Yang akan dibahas adalah psikoedukasi memberikan layanan informasi tentang psikologi pada publik. Psikoedukasi ini bertujuan untuk memberikan layanan informasi kepada masyarakat luas tentang berbagai jenis media massa seperti koran, majalah radio, televisi dan sebagainya. Layanan informasi yang diberikan juga bisa bersifat tindakan nyata yang bersifat advokasi dalam rangka mempengaruhi bahkan memperjuangkan agar perumusan kebijakan atau pengambilan

(3)

46 keputusan tindakan publik didasarkan pada prinsip – prinsip psikologis yang benar.

B. METODE YANG DIGUNAKAN

Gambar 1. Poster Psikoedukasi

Pelaksanaan psikoedukasi dilakukan dengan menyebarkan poster kepada remaja.

Poster ditunjukkan kepada remaja kemudian tim pemngabdian menjelaskan isi dari poster.

Setelah itu Google Form disebarkan. Pertanyaan dalam survei meliputi identitas responden, Tanggapan responden setelah melihat poster yang ada di google form, insight yang didapat setelah melihat poster, apakah poster ini bermanfaat, dan apakah responden akan menerapkan isi dari poster yang sudah dilihat.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN

Penyebaran poster ke remaja dilakukan di Makassar dan Tangerang Selatan.

Penyebaran poster di lakukan selama 3 hari dari tanggal 16 Mei 2022 hingga 18 Mei 2022.

Sebanyak 3 orang mengaku belum tahu apa itu FoMO.

Gambar 2. Sebaran Poster di Tangerang Selatan

(4)

47 Gambar 3. Sebaran poster di Makassar

Psikoedukasi juga dilakukan dengan cara menyebarkan google form kepada remaja di Tangerang Selatan dan Makassar. Sebanyak 30 orang yang mengisi google form. Berikut data partisipan survei:

a. Presentasi usia dari 17 tahun sebanyak 2 orang (6,7%), 18 tahun sebanyak 4 orang (13,3%), 19 tahun sebanyak 8 orang (26,7%), 20 tahun sebanyak 16 orang (53,3%).

b. Responden yang berjenis kelamin laki laki ada sebanyak 16 orang (53,3%) dan responden yang berjenis kelamin perempuan ada sebanyak 14 orang (46,7%).

c. Dari 30 orang responden yang berstatus mahasiswa ada sebanyak 23 orang (76,7%) dan 7 orang yang berstatus SMA.

Dari 30 orang responden, sebanyak 16 orang menjadi tahu fenomena FOMO, sebanyak 5 orang mengatakan poster ini menambah wawasan, sebanyak 9 orang mengatakan poster ini bagus dan menarik. Dari 30 responden, sebanyak 26 orang mendapatkan insight tentang fenomena fomo dan bagaimana cara mengatasinya, sebanyak 2 orang mendapatkan insight bahwa isi poster ini dapat diterapkan ke diri sendiri, 1 orang mendapatkan insight bahwa ia pernah mengalami fenomena ini dan sudah tau apa yang harus dia perbuat, sebanyak 1 orang mendapatkan insight bahwa dia mendapatkan motivasi setelah membaca poster ini. Berikut insight dari responden:

(5)

48 Gambar 4. Insight Responden

Kelebihan dari psikoedukasi berbentuk poster ini sangat mudah untuk dipahami.

Kekurangan dari psikoedukasi ini yaitu karena informasi diberikan melalui poster maka informasi yang diberikan kurang rinci dan peneliti kesulitan untuk menemukan waktu yang tepat untuk turun lapangan. Saran dari peniliti, efisienkan waktu ketika ingin melakukan penelitian supaya bisa menemukan waktu yang tepat untuk melakukan penelitian

D. KESIMPULAN

Dari hasil pelaksanaan psikoedukasi yang telah di lakukan dapat ditarik kesimpulan:

psikoedukasi bertujuan menambah informasi kepada remaja mengenai fenomena Fear Of Missing Out dan bagaimana cara mencegahnya. Hasil psikoedukasi dari 30 responden menyebutkan mereka menjadi tahu fenomena FoMO dan menambah wawasan. Insight yang didapatkan dari kegiatan psikoedukasi yaitu responden lebih memahami tentang fenomena fomo dan bagaimana cara mengatasinya, isi poster dapat diterapkan ke diri sendiri, menegtahui apa yang harus diperbuat ketika mengalami situasi ini, dan mendapatkan motivasi setelah membaca poster ini.

DAFTAR PUSTAKA

Abel, J. P., Buff, C. L. & Burr, S. A. (2016). Social media and the fear of missing out:

Scale development and assessment. Journal of Business & Economics Research, 14(1), 33–44. https://doi.org/10.19030/jber.v14i1.9554

Akbar, R. S., Aulya, A., Psari, A. A., & Sofia, L. (2019). Ketakutan akan kehilangan momen (FoMO) pada remaja kota Samarinda. Psikostudia J. Psikol, 7(2), 38.

Hawk, S. T., van den Eijnden, R. J., van Lissa, C. J., & Bogt, T. F. (2019). Narcissistic adolescents' attention-seeking following social rejection: Links with social media disclosure, problematic social media use, and smartphone stress. Computers in Human Behavior, 92, 65-75.

(6)

49 Hetz, P. R., Dawson, C. L., & Cullen, T. A. (2015). Social Media Use And The Fear Of

Missing Out (Fomo) While Studying Abroad. Journal of Research on Technology in Education. 47(4): 259-272.

Nelson-Jones, R. (1982). The Theory and practice of counseling psychology. London: Holt, Rinehart and Winston.

Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHan, C. R, & Gladwell, V.(2013). Motivational, Emotional and Behavioural Correlates of Fear of Missing Out. Computer in human behavior. 29(4) : 1841- 1848.

Rathus, S. A. (2007). Childhood and adolescence: Voyages in development, fifth edition.

USA: Wadsworth Cengage Learning.

Referensi

Dokumen terkait

Pengumpulan data dilakukan dengan metode kuesioner menggunakan instrumen Fear of missing out scale (FoMOs) dan Internet addiction Test (IAT) yang telah diterjemahkan,

Fear of missing out diartikan sebagai perasaan ketakutan akan kehilangan momen berharga yang melibatkan orang lain sehingga membuat individu ingin terus terhubung

Hipotesis dalam penelitian adalah untuk mengetahui tingkat Fear of Missing Out (FOMO) pada mahasiswi Program Studi Psikologi, Hubungan Internasional, Administrasi Bisnis, dan

Berdasarkan dari uraian yang telah dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa Fear of Missing Out (FoMO) adalah ketakutan, kegelisahan, dan kecemasan yang muncul

(2013) mendefinisikan Fear of Missing Out (FoMO) adalah suatu ketakutan akan kehilangan momen berharga individu atau kelompok lain di mana individu tersebut tidak dapat

METODE Dalam melakukan pendekatan systematic literature review mengenai konsep "fear of missing out", terdapat dua tahapan yang dilakukan: 1 merencanakan tinjauan dengan menjelaskan

Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar peran dan korelasi antara self- compassion terhadap online fear of missing out

Remaja dan Khalayak Umum Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada khalayak umum terutama remaja mengenai pengaruh harga diri terhadap fear of missing out pada