• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menemukan Nilai-Nilai Al-Qur'an sebagai Pedoman Hidup

N/A
N/A
akun kuliah

Academic year: 2024

Membagikan "Menemukan Nilai-Nilai Al-Qur'an sebagai Pedoman Hidup"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

I. PENDAHULUAN

Al-Qur’an bila dipelajari dan dipahami akan membantu dalam menemukan nilai- nilai yang bisa dijadikan sebagai pedoman dalam menyelesaikan berbagai problem hidup. Apabila dihayati dan diamalkan akan menjadikan pikiran, rasa, dan karsa mengarah kepada realitas keimanan yang dibutuhkan bagi stabilitas dan ketenteraman hidup pribadi dan masyarakat. Dikatakan demikian, karena kitab suci ini Solīhun li kulli zamānin wa makānin, baik untuk berbagai situasi dan kondisi. Untuk memahami petunjuk yang terdapat dalam al-Qur’an dibutuhkan sebuah upaya dalam menemukan makna firman Allah SWT. Melalui penafsiran ayat al-Qur’an. Hal tersebut perlu dilakukan karena tidak seluruh ayat al-Qur’an menjelaskan persoalan kehidupan secara detail, tetapi terdapat ayat al-Qur’an yang ajaran dan pesannya bersifat universal, sehingga diperlukan kajian mendalam karena, al-Qur’an merupakan ilmu yang tidak pernah berhenti untuk dibahas dan akan selalu terbuka untuk didiskusikan.

Berbagai macam metode tafsir, dari penggunaan riwayat hingga penggunaan ra’yu (akal) telah diterapkan untuk mengungkapkan makna yang tersimpan di dalam rangkaian ayat-ayat al-Qur’an.

Keragaman corak, juga ikut andil menjadikan keluasan khazanah tafsir, tapi

sayangnya tidak diimbangi dengan pengembangan dari sisi formil. Pendekatan berbasis linguistik menjadi kajian yang sangat dominan dalam ilmu tafsir. Oleh karena itu perlu pendekatan baru untuk menggali maksud-maksud dari al-Qur’an itu sendiri, salah satunya adalah menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan penafsiran berbasis sains (ilmu pengetahuan), adapun yang dimaksud dengan tafsir 'ilmi adalah sebuah penafsiran tentang ayat-ayat al-Qur’an melalui pendekatan ilmu pengetahuan, seperti Sains, ilmu bahasa/sastra, ilmu sosial, ilmu politik, dan ilmu pengetahuan yang lainnya.

Jadi, dapat didefinisikan sebagai penafsiran ayat-ayat al-Qur’an berdasarkan pendekatan ilmiah. ayat qauniyah.

Berkaitan dengan ini peneliti ingin membahas mengenai ayat - ayat ‘Iddah.

Kewajiban ‘iddah bagi perempuan merupakan akibat dari putusnya ikatan perkawinan antara suami dan istri.

Putusnya ikatan perkawinan tidak hanya disebut karena perceraian saja. Dalam undang-undang perkawinan disebutkan terdapat tiga hal yang dapat menjadi sebab putusnya perkawinan, yaitu kematian, perceraian, dan atas keputusan pengadilan.

II. PEMBAHASAN A. Pengertian 'Iddah

Menurut bahasa, kata ‘iddah itu berasal dari kata ‘ada yang artinya bilangan atau

(2)

perhitungan, seorang wanita yang menghitung dan menjumlah hari dan masa haid serta masa suci. Kata ‘iddah menurut istilah ialah kata atau sebutan bagi seorang wanita yang menangguhkan perkawinannya setelah sang suami wafat atau setelah ia bercerai dengan suaminya.

Pula ditinggalkan suaminya ketika ia sedang mengandung bayi atau berakhirnya beberapa quru’ dan berakhirnya beberapa bulan yang sudah ditentukan.1 Kata ‘iddah awalnya berasal dari bahasa Arab yang artinya menghitung, menduga, mengira.

Para ulama memberikan istilah-istilah sebagai berikut. Pertama ada Syarbini Khatib di dalam kitabnya yang berjudul Mugnil Muhtāj mendefinisikan bahwa iddah adalah lama masa menunggu untuk seorang perempuan dengan tujuan mengetahui kekosongan rahimnya atau karena sedih atas meninggalnya sang suami. Yang kedua dari Drs. Abdul Fatah Idris dan Drs. Abu Ahmadi mendefinisikan 'iddah yakni “Masa tertentu untuk menunggu bagi seorang perempuan, hingga perempuan itu diketahui telah bersih atas rahimnya.

Yang ketiga ada dari Prof.

Abdurrahman yang memberikan pengertian akan 'iddah adalah suatu masa bagi perempuan untuk menunggu setelah

1 Ria Rezky Amir, “IDDAH (TINJAUAN FIQIH KELUARGA MUSLIM)”, 13.

kematian suaminya atau bercerai. Yang keempat ada dari Sayyid Sabiq yang memberikan pengertian yakni masa lamanya bagi perempuan untuk menunggu dan tidak boleh kawin setelah perceraian dengan suaminya.2Definisi 'Iddah dari bahasa atau kata “al-‘udd” dan “al-Ihṣa”

yang artinya bilangan atau hitungan, contohnya bilangan harta yang dihitung satu atau lebih serta dalam jumlah keseluruhan. Di dalam kamus disebutkan bahwasanya 'Iddah adalah hari-hari kesucian wanita dan penggabungannya terhadap suami yang telah bercerai.

Sedangkan di dalam istilah fuqaḥa 'Iddah adalah masa menunggu wanita sehingga halal bagi suami lain. Kata 'Iddah sudah dikenal dari masa-masa Jahiliah. Maka dari itu Islam hadir untuk kemaslahatan.

Selain 'Iddah hanya untuk wanita, lelaki juga harus menunggu bila ingin menikahi dari wanita yang telah ditinggal oleh sang suami, sesuai dengan kadar 'Iddahnya.

Definisi 'Iddah menurut syara’ ialah masa menunggu waktu atau dilarang untuk kawin setelah istri dicerai atau ditinggal oleh suaminya. Bilangan 'iddah terhitung ketika adanya penyebab 'iddah, yakni talak atau meninggalnya sang suami. 'Iddah dikenal sejak zaman Jahiliyyah kemudian

2 Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam 2, (Jakarta: PT.

Ikrar Mandiri Abadi, 2002), 171.

(3)

setelah datang Islam dilanjutkan karena bermanfaat.

B. Iddah Wanita Yang Hamil

Sesuai firman Allah SWT surat al-Baqarah ayat dua ratus dua puluh delapan yang berbunyi:

Artinya: "Para istri yang diceraikan (wajib) menahan diri mereka (menunggu) tiga kali qurū’ (suci atau haid). Tidak boleh bagi mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahim mereka, jika mereka beriman kepada Allah dan hari Akhir. Suami suami mereka lebih berhak untuk kembali kepada mereka dalam (masa) itu, jika mereka menghendaki perbaikan. Mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.

Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan atas mereka. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."

Artinya: "Perempuan-perempuan yang tidak mungkin haid lagi (menopause) di antara istri-istrimu jika kamu ragu-ragu (tentang masa idahnya) maka idahnya adalah tiga bulan. Begitu (pula)

perempuan-perempuan yang tidak haid (belum dewasa). Adapun perempuan- perempuan yang hamil, waktu idah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya. Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya."

Jadi sesuai dengan firman Allah Swt bahwa masa iddahnya wanita hamil ialah saat melahirkan kandungannya.

C. Masa iddah bagi wanita yang ditinggal mati suaminya dalam keadan hamil

Mengenai masa ‘iddah wanita yang ditinggal wafat oleh suaminya, maka

‘iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari untuk wanita yang tidak hamil.

Sebagaimana sesuai dengan firman Allah SWT surat al-Baqarah ayat dua ratus tiga puluh empat yang berbunyi:

Artinya: "Dan orang – orang yang mati di antara kamu serta meninggalkan istri- istri hendaklah mereka (istri-istri) menunggu empat bulan sepuluh hari.

Kemudian apabila telah sampai (akhir)

‘iddah mereka, maka tidak ada dosa bagimu mengenai pada yang mereka lakukan terhadap diri mereka menurut cara

(4)

yang patut. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Tujuan dari massa ‘iddah pada wanita yang ditinggal wafat empat bulan sepuluh hari untuk mengetahui apakah wanita tersebut hamil atau tidak. Karena jika hal demikian, wanita yang hamil masa

‘iddahnya sampai melahirkan beberapa saat setelah suaminya wafat, tidak perlu menunggu selama empat bulan sepuluh hari. Untuk mengetahui apakah sang istri hamil atau tidak, maka cukup dengan menunggu tiga kali suci, demikian juga kalau dia menopause atau belum dewasa, maka cukup tiga bulan. Makna dari masa

‘iddah yaitu untuk menampakkan rasa berkabung atas kepergian suami. Karena hal tersebut, pada waktu tersebut istri tidak dibenarkan untuk berdandan, seakan-akan merayakan kepergian suaminya serta segera mengharapkan suami baru. Tetapi pada masa itu bukan berarti sang istri dituntut untuk memperburuk penampilan, tidak menyisir rambut, atau membersihkan dirinya sebagaimana yang layak untuk sehari-hari. Wanita hanya dilarang untuk berhias sebagaimana berhias menghadapi seseorang yang disegani atau sebagaimana layaknya menghadiri pesta.

Ayat di atas bisa juga dipahami untuk ditujukan kepada seluruh anggota keluarga

3 M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Cet I, Volume I (Ciputat; Lentera Hati, 2000), 474

dan masyarakat. Laki-laki dan perempuan yang mana bukan hanya sekedar lelaki sebagaimana dipahami oleh mufasir yang mana menekankan mutlaknya kepemimpinan semua pria atas semua wanita. Ayat ini juga dapat dipahami ditunjukkan pada seluruh anggota masyarakat agar dapat berpesan kepada wanita yang ditinggal wafat suaminya dengan pesan yang disebut di dalam ayat ini. Dengan hal yang demikian, ayat ini juga meletakkan tanggung jawab kepada setiap individu muslim untuk ikut dan menegur yang tidak melaksanakannya hingga menenangkan dan menyabarkan seorang janda yang mengindahkannya, sehingga semua berpesan menyangkut tuntunan ilahi ini. Tuntunan tersebut adalah, “hendaklah para isteri itu untuk dapat menunggu dengan menahan diri mereka sendiri”3

Hal ini berdasarkan pandangan Ibn

‘Āsyūr pada kitab tafsirnya, maqāṣid dari

‘iddah itu sendiri berarti mengetahui isi rahim (hamil atau tidak) lalu apabila ada seseorang perempuan mengalami ‘iddah hamil sekaligus ‘iddah wafat maka Ibn

‘Āsyūr memberi pendapat bahwa

‘iddah nya hingga dia melahirkan kandungannya, meskipun dalam kasusnya

‘iddah hamil lebih pendek daripada ‘iddah

(5)

wafat. Sebab sejatinya tujuan dari pada

’iddah itu buat mengetahui kehamilan sedangkan melahirkan itu ialah ‘iddah asal hamil, di sini dibagikan bahwa seseorang wanita yang ditinggal wafat sang suami dalam keadaan hamil maka ‘iddah-nya merupakan sampai melahirkan, saat itu pula ia terbebas dari ‘iddah wafat.4

Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, bahwa Rasulullah SAW memberi izin kepada sabia’ah al- Islamiyah untuk menikah lagi jika telah melahirkan anaknya, beberapa hari setelah suaminya wafat.5

III. METODE PENELITIAN

1. Pendekatan dan Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan kajian kepustakaan (library research) dengan subjek dan objek penelitiannya berasal dari bahan-bahan yang bersifat kepustakaan (literatur) baik berupa buku, catatan maupun laporan hasil penelitian dari peneliti terdahulu. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis (historical approach) yang berusaha untuk menelusuri tentang tafsir yang berkaitan

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tafsir yang

4 Muhammad al-Ṭāhir ibn ‘Āsyūr, Tafsīr al-Tahrīr wa al-Tanwīr, Juz 22 (Tunisia: Dār al-tūnisiyati li al- Nasyr‟, 1984), 320

5 Syaikh al-Syanqithi, Tafsir Adhwa‟ul Bayan, Terj.

Fathurazi, jilid I, cet. I (Jakarta: Pustaka Azzam,

dikembangkan oleh Quraish shihab tentang tafsir al misbah. Asumsi penggunaan tafsir al misbah dalam penafsiran Al-Quran.

2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan sebagai rujukan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu sumber-sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer yang digunakan sebagai objek material dalam penelitian ini adalah ayat-ayat Al- Qur„an yang berkaitan dengan thalaq dan sumber data sekunder yang digunakan adalah skripsi-skripsi, buku-buku, kitab- kitab, dan jurnal-jurnal yang berkaitan dengan objek penelitian tersebut.

IV. HASIL PENELITIAN

Berdasarkan hasil penelitian mengenai manfaat iddah berdasarkan pandangan Quraish Shihab ‘iddah adalah masa ‘iddah bagi perempuan yang dicerai baik cerai mati atau cerai hidup, untuk mengetahui bersihnya rahim, (bara’ah al-rahm) akan tetapi yang menjadi perbedaan yaitu pertama, masa ‘iddah untuk perempuan yang suaminya wafat selama empat bulan sepuluh hari. Kedua, masa ‘iddah untuk perempuan yang ditalak yaitu tiga kali quru’ (haid atau suci) yang telah digauli.

2006), 438. Lihat juga Ismāil al-Jasanī, Naẓariyyatu al-Maqāṣid ‘inda al-Imām Muhammad al-Ṭahir ibn

‘Āsyūr. Cet. 2 (Herdon: al-Ma‟had al-‘Alī lilfiqri al- Islāmī, 2005), 212

(6)

Ketiga, bagi perempuan yang belum digauli tidak memiliki masa ‘iddah. Keempat bagi perempuan cerai mati atau cerai hidup dalam keadaan hamil maka masa ‘iddahnya sampai ia melahirkan anak tersebut.

V. ANALISIS HASIL DAN PENGUMPULAN DATA

Adapun kesimpulan dari penelitian ini bahwasanya : 1. 'Iddah menurut pemahaman dalam ayat-ayat al-Qur’an, ditemukan dalam surah al-Baqarah ayat 228 masa ‘iddah untuk perempuan yang ditalak hendaklah perempuan tersebut untuk menahan dirinya dan menunggu untuk menjalankan masa ‘iddahnya, al-Baqarah ayat 234 masa ‘iddah untuk wanita yang ditinggal meninggal oleh suaminya digunakan untuk agar seorang istri menunggu untuk membuktikan apakah adanya kehamilan di dalam rahim, al- Aḥzāb ayat 49 yaitu tidak ada masa ‘iddah untuk perempuan yang belum digauli dan penceraian dilakukan dengan cara baik- baik dan diperintahkan untuk memberikan mut’ah kepada perempuan tersebut bertujuan menghiburnya dari luka hati. 2.

Menurut Quraish Shihab terkait dari manfaat ‘iddah wafat, untuk menjaga nasab seorang anak yang dikandung terhadap suaminya yang telah meninggal dunia, sebagaimana yang telah dijelaskan ‘iddah

6 Ria Rezky Amir, “IDDAH (TINJAUAN FIQIH KELUARGA MUSLIM)”, 13.

wafat selama empat bulan sepuluh hari untuk memastikan bersihnya rahim seorang perempuan. Sedangkan ‘iddah talak yaitu tiga kali quru’ (haid atau suci) untuk seorang perempuan yang telah digauli.

Sedangkan iddah untuk perempuan yang belum, digauli tidak ada masa ‘iddah untuknya. Dan sedangkan untuk perempuan yang cerai hidup maupun ditinggal wafat oleh suaminya dalam keadaan hamil maka masa ‘iddahnya sampai ia melahirkan anaknya.

VI. PENUTUP

Menurut bahasa, kata ‘iddah itu berasal dari kata ‘ada yang artinya bilangan atau perhitungan, seorang wanita yang menghitung dan menjumlah hari dan masa haid serta masa suci. Kata ‘iddah menurut istilah ialah kata atau sebutan bagi seorang wanita yang menangguhkan perkawinannya setelah sang suami wafat atau setelah ia bercerai dengan suaminya. Pula ditinggalkan suaminya ketika ia sedang mengandung bayi atau berakhirnya beberapa quru’ dan berakhirnya beberapa bulan yang sudah ditentukan.6 Kata ‘iddah awalnya berasal dari bahasa Arab yang artinya menghitung, menduga, mengira. Para ulama memberikan istilah-istilah

(7)

sebagai berikut. Pertama ada Syarbini Khatib di dalam kitabnya yang berjudul Mugnil Muhtāj mendefinisikan bahwa iddah adalah lama masa menunggu untuk seorang perempuan dengan tujuan mengetahui kekosongan rahimnya atau karena sedih atas meninggalnya sang suami. Yang kedua dari Drs. Abdul Fatah Idris dan Drs.

Abu Ahmadi mendefinisikan 'iddah yakni “Masa tertentu untuk menunggu bagi seorang perempuan, hingga perempuan itu diketahui telah bersih atas rahimnya.

VII. DAFTAR PUSTAKA

M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Cet I, Volume I (Ciputat; Lentera Hati, 2000), 474

Muhammad al-Ṭāhir ibn ‘Āsyūr, Tafsīr al- Tahrīr wa al-Tanwīr, Juz 22 (Tunisia: Dār al-tūnisiyati li al- Nasyr‟, 1984), 320

Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam 2, (Jakarta: PT. Ikrar Mandiri Abadi, 2002), 171.

Ria Rezky Amir, “IDDAH (TINJAUAN FIQIH KELUARGA MUSLIM)”, 13.

Referensi

Dokumen terkait

Orientalis menganggap bahwa al-Qur`an adalah karangan Nabi SAW atau inspirasi dari Nabi SAW. Ini menjadi permasalahan hingga saat ini, karena ada perbedaan riwayat mengenai

Dari definisi al-Qur‟an yang telah disebutkan di atas menunjukkan bahwa al-Qur‟an itu adalah merupakan salah satu mukjizat di antara mukjizat-mukjizat yang diberikan

21 A. Muhaimin Zein, Metode Pengajaran Tahfizh Al-Qur`an... Muhaimin Zein, Metode Pengajaran Tahfizh Al-Qur`an.... untuk menggunakan waktu pagi, misalnya pukul 05.00 sampai 07.00

Berdasarkan tujuan pendidikan Al-Qur‟an diatas dapat dipahami bahwa siswa dituntut untuk bisa membaca ayat-ayat Al- Qur‟an sesuai dengan kaedah ilmu tajwid, karena

a) Sebagian ulama berpendapat bahwa segi kemukjizatan al-Qur`an adalah sesuatu yang terkandung dalam al- Qur`an itu sendiri yaitu susunan prosanya yang asing dan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar PAI materi Al- qur‟an sebagai pedoman hidup melalui penerapan metode Snowball Throwing

Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kemampuan membaca Al-Qur‟an siswa terhadap kemampuan menulis ayat Al- Qur‟an siswa MTs NU Darussalam Kecamatan Mijen Kota Semarang

Jadi dapat disimpulkan bahwa, baik dalam al-Quran maupun hadis, keduanya mengandung nilai-nilai nasionalisme yang dapat dijadikan pedoman hidup dan setiap individu