• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengenal Social Loafing dengan Pendekatan Biopsikologi

N/A
N/A
22A@Athanasya Frerisca Dea Evelyne

Academic year: 2024

Membagikan "Mengenal Social Loafing dengan Pendekatan Biopsikologi "

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Mengenal Social Loafing dengan Pendekatan Biopsikologi

Makalah ini dibuat untuk memenuhi Ujian Akhir Semester

Mata Kuliah Biopsikologi

Dosen Pengampu: Dr. Rizky Patria Nevangga

Disusun oleh: Kelompok 5

Athanasya Frerisca Dea E 22010664017 Muhammad Hibban Alamsyah 22010664021 Afrillia Putri Hardiyanti 22010664055 Nashwa Afifa Zahra 22010664100 Apriana Dewi Maharani 22010664163

Andrea Shifani 22010664170

Rizqi Hauzan Nur Farrelly 22010664211 Nova Diana Soenaryo Putri 22010664267

JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

2022

(2)

DAFTAR ISI

BAB I 3

PEMBAHASAN 3

DAFTAR PUSTAKA 8

(3)

BAB I PEMBAHASAN 1.1 DefinisiSocial Loafing

Menurut Latané, Williams, dan Harkins (1979),social loafingmerujuk pada keadaan dimana individu cenderung mengurangi usaha saat mereka bekerja secara kelompok daripada saat bekerja secara individual (Putri et al., 2021). Sedangkan, Sears, Freedmann dan Peplau (1985) mengemukakan bahwa social loafingmerupakan suatu kondisi ketika kontribusi individu dalam suatu kelompok kurang giat dibandingkan ketika individu bekerja secara mandiri. Taylor, Peplau, dan Sears (2009) juga mengungkapkan bahwa social loafing (kemalasan sosial) ialah keadaan dimana keterlibatan individu pada aktivitas berkelompok tidak dapat dievaluasi, individu biasanya bekerja kurang serius dalam kelompok daripada saat bekerja secara individu (Yunis, 2018).

Social loafing dapat muncul pada pria dan wanita, anak-anak dan orang dewasa.

ketika individu melihat kinerja orang lain tidak sebagaimana mestinya, agar usahanya sama sama seimbang individu tersebut akan mengurangi usahanya (Norrahman,2020).

Semakin banyaknya anggota di suatu kelompok, pembagian tugas akan mengarah pada keyakinan bahwa kontribusi individu tidak begitu penting untuk hasil secara keseluruhan (TOZLU et al., 2016).

Menurut Baron & Byrne (dalam Harmaini, 2016) terdapat beberapa kondisi penyebab social loafingberkurang :

1. Seseorang bekerja di kelompok yang kecil 2. Anggota menganggap tugas tersebut penting 3. Bekerja dengan kawan yang menghargai

4. Pandangan tentang kerja sama pada kelompok itu penting 5. Dapat memperkirakan penilaian pekerjaan kawan

6. Penekanan usaha dan hasil seseorang dalam kelompok

Sehingga dapat disimpulkan bahwasocial loafing merupakan keadaan dimana seseorang mengurangi usaha saat mengerjakan tugas kelompok dibandingkan bekerja sendiri-sendiri yang mengakibatkan penurunan kinerja dan tidak aktif dalam menggapai tujuan kelompok (RIZKI, 2021).

(4)

1.2 FaktorSocial Loafing

Metode belajar kelompok diberikan kepada mahasiswa sebagai langkah mengenali dunia kerja. Metode ini diharapkan menjadi metode yang efektif dan memiliki hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Namun nyatanya metode ini sering kali dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk menurunkan kinerjanya, sehingga timbullah social loafing (Pratama & Aulia, 2020). Social loafing dapat terjadi karena 2 faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal memandang penilaian mengenai diri sendiri dan prinsip untuk mencapai tujuan. Sementara itu, faktor eksternal memandang pada keadaan lingkungan dan masalah pribadi dari suatu individu (Hermawan et al., 2022) Faktor-faktor spesifik lainnya yang dapat memengaruhisocial loafingadalah:

1. Kepribadian

Individu yang memiliki daya sosial yang cukup tinggi akan kebal terhadap pemalasan karena memiliki fasilitas sosial dengan orang lain. Sedangkan individu yang mempunyai daya sosial rendah akan merasakan kebalikannya.

2. Non-kohesivitas antara anggota kelompok

Hasil penelitian Anggraeni dan Alfian (2015), menyebutkan bahwa kohesivitas merupakan salah satu faktor pemicu social loafing.Social loafingakan terjadi apabila kohesivitas kelompok rendah.

3. Tidak ada motivasi

Kurangnya motivasi untuk melakukan maupun menyelesaikan tugas pun menjadi penghambat sehingga terjadi kemalasan sosial. Karena rendahnya motivasi umumnya individu akan terkesan menunda-nunda untuk melakukan sesuatu.

4. Pembagian tugas yang membingungkan anggota kelompok;

Tidak hanya semata-mata disebabkan oleh faktor kepribadian setiap individu yang berbeda. Namun kesadaran setiap individu dalam kelompok jika tidak terdapat pembagian tugas yang jelas akan menyebabkansocial loafingjuga.

5. Perbedaan gender, yang mana laki-laki memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk melakukansocial loafingdibandingkan dengan perempuan;

Gender menjadi salah satu faktor penyebab perilakusocial loafingdikarenakan dalam keseharian perempuan lebih mampu menjalin hubungan berkelompok dan cenderung menyukai pembelajaran berkelompok dibandingkan laki-laki.

6. Semakin besarnya jumlah anggota kelompok.

Besarnya pula banyak suatu anggota kelompok juga secara otomatis membuat individu secara sadar menguragi usahanya. Faktor ini memberikan pengaruh

(5)

signifikan pada kontribusi masing-masing anggota dalam kelompok. Akibatnya, tidak jarang terdapat individu yang tidak mengerjakan tugas sebagaimana mestinya (Fitriana & Saloom, 2018).

1.3 GejalaSocial Loafing

Mengacu pada konsep George (1992), gejala atau indikator darisocial loafingadalah sebagai berikut

1. Penurunan kinerja terjadi ketika bekerja secara kelompok

2. Kurangnya adanya tanggung jawab pada tugas kelompok. hal ini menjadikan individu menurunkan partisipasinya ketika bekerja secara kelompok (Kunishima, 2000)

3. Menyandarkan tugas yang ada kepada orang lain. Individu tersebut enggan terlibat dalam pekerjaan kelompok, sehingga ia melimpahkan beban tugas kepada anggota lain yang ada pada kelompoknya (Yunis, 2018)

Beberapa gejala lain seperti kondisi yang tidak stabil dan situasi yang penuh akan kesibukan dapat memicu modus kemalasan sosial (Pradipta & Raharja, 2022). Menurut Myers pada (Karau S.J. dan William, 1993), ia menunjukkan bahwa perilaku kemalasan sosial memiliki lima aspek yaitu, melemahnya motivasi individu untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, sikap pasif dari anggota kelompok, perluasan tanggung jawab, menumpang pada usaha orang lain dan adanya penurunan kesadaran akan respon positif dari timbal balik yang telah diberikan orang lain (Hermawan et al., 2022).

Kehilangan motivasi belajar juga bisa menjadi penyebab suasana hati yang buruk.Yang pada akhirnya hanya membuat orang tersebut menunda-nunda tugas.

Seseorang tersebut akan melaksanakan tugas kelompok hanya ketika mood atau suasana hatinya sedang baik. Suasana hati yang rendah membuat individu menjadi kurang bersemangat dan malas untuk mengungkapkan pendapatnya dalam tugas kelompok (Hermawan et al., 2022).

1.4 Proses mental yang terjadi

TeoriOperant Conditioning yang dikemukakan oleh B.F. Skinner menjelaskan bahwa perilaku dikendalikan oleh konsekuensi yang dihasilkan dari perilaku tertentu. suatu perilaku mampu diubah dengan stimulus-stimulus tertentu yang memberirewardmaupun Punishment (Fantino & Stolarz-Fantino, 2012). Pengendalian perilaku didasari oleh adanya reward maupun punishment terhadap perilaku tersebut. Sesuatu yang mungkin akan memuaskan akan menjadi motivasi seseorang untuk bekerja lebih berkualitas dan bertanggung jawab. hal ini tak lain demi mendapatkan reward atau kepuasan yang diharapkan (Putri Kentjana & Nainggolan, 2018). Apabila dirasa tidak ada reward yang

(6)

memuaskan maka semangat untuk bekerja pun akan ikut berkurang. Dalam kasussocial loafing, kurang adanya sesuatu yang memuaskan dari rekan kerja maupun proyek yang dikerjakan akan membuat seseorang menjadi lebih malas dalam bekerja

1.5 Perilaku biologis yang terjadi

● Dopamine

Dopamin memegang peran penting dalam mengatur kontrol motorik, motivasi, gairah, kognisi, dan kepuasan, serta banyak fungsi tingkat rendah seperti laktasi, dan erotis (Fitri et al., 2022). Selain itu, dopamine berperan mengatur pergerakan, pembelajaran, daya ingat, emosi, rasa senang, tidur, dan kognisi (Sakinah & Suyadi, 2020). Hal ini sesuai berdasarkan apa yang dipublikasikan para peneliti dari McGill University di Montreal, Amerika Serikat, mengatakan salah satu cara meningkatkan dopamin yakni dengan mendengarkan musik. Mereka menyebutkan bahwa dengan mendengarkan musik membuat mood kita terpengaruh sehingga membuat tubuh menghasilkan dopamin dengan kata lain cairan yang ada di dalam otak yang menghasilkan rasa senang, sedih, marah, kecewa dan lain lain (Cevy Amelia, 2022)

Peran neurotransmiter dopamin adalah dalam proses reward dan reinforcement seseorang. terjadinya pelemahan mekanisme reward pada seseorang akan melemahkan juga motivasinya dalam melakukan sesuatu. Hal ini membuat seseorang terlalu bergantung pada lingkungannya dan berkurangnya keinginan untuk aktif. Selain demotivasi, perasaan tidak berguna dan hilangnya harga diri menjadi dampak lain dari kurangnya sistem dopamin dalam menunjang mekanisme reward dalam diri seseorang (Idrus, 2007).

● Orbitofrontal

Korteks orbitofrontal dan korteks subkalosum merupakan nagian otak yang mengurus motivasi (Sipahutar, 2018). Perkembangan otak yang berhubungan pola interaksi akan berpengaruh pada area orbitofrontal di otak (yang berasosiasi dengan kemampuan mengelola emosi dan fungsi sosial) (Silvianetri, 2019). Setiap pengalaman yang kita dapatkan memiliki kontekstual stimulus yang berbeda-beda. Pada konteks tertentu suatu stimulus bisa memberikan perasaan menyenangkan atau menyakitkan. Sinyal terhadap perasaan yang menyenangkan akan mengaktifkan orbitofrontal cortex untuk memberi rangsangan tertentu yang menyebabkan motivasi untuk melakukan sesuatu (Amaludin et al., 2020). Motivasi yang dibangkitkan olehorbitofrontal cortexjuga sebagai upaya diri

(7)

untuk mendapatkan perasaan menyenangkan ketimbang yang tidak menyenangkan (Siregar, 2018).

Ventromedial prefrontal

Menurut Steinberg, dkk., 2010; Crone, 2016 dalam (Alaydrus, 2017) bahwa pengambilan keputusan intuitif merupakan fungsi penting ventromedial prefrontal cortex. Menurut Bechara et al., 1996, 1997a; Damasio, 1996 dalam (Bechara et al., 1999) menyatakan bahwa studi terbaru telah berfokus pada peran korteks prefrontal (VMF) ventromedial dalam aktivasi keadaan somatik yang memengaruhi pengambilan keputusan.

(8)

DAFTAR PUSTAKA

Alaydrus, R. M. (2017). Membangun Kontrol Diri Remaja Melalui Pendekatan Islam dan Neuroscience.Psikologika: Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Psikologi,22(2), 15–27.

https://doi.org/10.20885/psikologika.vol22.iss2.art2

Amaludin, M. M., Hamzah, H., & Muhsinin, M. (2020). Pengaruh Terapi Foot Message Terhadap Kecemasan Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Di Rsud Ulin Banjarmasin.Jurnal Keperawatan Suaka Insan (Jksi),5(1), 36–51.

https://doi.org/10.51143/jksi.v5i1.194

Bechara, A., Damasio, H., Damasio, A. R., & Lee, G. P. (1999). Different contributions of the human amygdala and ventromedial prefrontal cortex to decision-making.Journal of Neuroscience,19(13), 5473–5481. https://doi.org/10.1523/jneurosci.19-13-05473.1999 Fantino, E., & Stolarz-Fantino, S. (2012). Operant Conditioning.Encyclopedia of Human

Behavior: Second Edition, 749–756.

https://doi.org/10.1016/B978-0-12-375000-6.00262-7

Fitri, F., Saleh, I., & Theodorus, T. (2022). Polimorfisme Gen DRD2 rs1799732 (-141c) Terhadap Terapi Aripiprazole pada Pasien Skizofrenia. Jurnal Sains Dan Kesehatan, 4(2), 214–221. https://doi.org/10.25026/jsk.v4i2.783

Fitriana, H., & Saloom, G. (2018). Prediktor Social Loafing dalam Konteks Pengerjaan Tugas Kelompok pada Mahasiswa.INSAN Jurnal Psikologi Dan Kesehatan Mental,3(1), 13.

https://doi.org/10.20473/jpkm.v3i12018.13-22

Hermawan, A. H., Nabila, R., Sholikhah, A., & Amalia, H. N. (2022). Perilaku Social Loafing Mahasiswa Pendidikan Agama Islam di Era Media Sosial.2(2), 211–228.

Idrus, M. F. (2007). Depresi pada Penyakit Parkinson.Cermin Dunia Kedokteran.

https://www.itokindo.org/download/kesehatan/orang_tua-_dimensia,_parkinson,_osteop orosis/Depresi pd penyakit Parkinson - CDK Kalbe.pdf

p - ISSN: 2654-8496 e - ISSN: 2798-9321. (2022).4, 1–6.

Pradipta, A. R., & Raharja, E. (2022). MENGUAK FENOMENA SOCIAL LOAFING DI KALANGAN.11, 1–13.

Pratama, K. D., & Aulia, F. (2020). Faktor-faktor yang Berperan dalam Pemalasan Sosial (Social loafing): Sebuah Kajian Literatur.Jurnal Pendidikan Tambusai,4(2),

1460–1468.

Putri, G. A., Iswinarti, I., & Istiqomah, I. (2021). Harga Diri Dengan Kemalasan Sosial Pada

(9)

Mahasiswa LSO (Lembaga Semi Otonom).Journal Psikogenesis,8(2), 229–240.

https://doi.org/10.24854/jps.v8i2.790

Putri Kentjana, N. M., & Nainggolan, P. (2018). Pengaruh Reward Dan Punishment Terhadap Kinerja Karyawan Dengan Motivasi Sebagai Variabel Intervening (Studi Kasus Pada Pt.

Bank Central Asia Tbk.). National Conference of Creative Industry,September, 5–6.

https://doi.org/10.30813/ncci.v0i0.1310

Sakinah, U., & Suyadi, S. (2020). The Effectiveness of Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) to Reduce Stress and Increase Work Motivation in Nurses.

Al-Ittizaan: Jurnal Bimbingan Konseling Islam,3(2), 56.

https://doi.org/10.24014/ittizaan.v3i2.11799

Silvianetri, S. (2019). Interpersonal Skill Dalam Kajian Neurosains.Alfuad: Jurnal Sosial Keagamaan,3(1), 74. https://doi.org/10.31958/jsk.v3i1.1635

Sipahutar, I. (2018). Dampak Penyalahgunaan Narkoba Terhadap Perilaku Remaja Di Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu.Civitas (Jurnal Pembelajaran Dan Ilmu Civic),1(1), 27–35. https://doi.org/10.36987/civitas.v1i1.1467

Siregar, N. R. (2018). “Cool” dan “Hot” Brain Executive Functioning dan Perfomansi Akademik Siswa.Buletin Psikologi,26(2), 97.

https://doi.org/10.22146/buletinpsikologi.38817

TOZLU, E., ATEŞOĞLU, H., ŞAHİN, Z., & ŞEN, E. (2016). the Effects of Organizational Commitment on Social Loafing Behaviour At Higher Education Institutions.

International Refereed Academic Social Sciences Journal,2016221650(22), 96–96.

https://doi.org/10.17364/iib.20162216502

Cevy Amelia, Y. A. (2022). PENGARUH MUSIK TERHADAP EMOSI. 1-6.

RIZKI, T. L. (2021). HUBUNGAN ANTARA SOCIAL LOAFING DENGAN PERILAKU PROSOSIAL DI SMK YABRI TERPADU. 1-62.

Yunis, R. F. (2018). HUBUNGAN ANTARA KOHESIVITAS DENGAN SOCIAL LAOFING DALAM PENGERJAAN TUGAS BERKELOMPOK PADA MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU. 9-18.

Referensi

Dokumen terkait

menyimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara adversity quotient dengan intensi mahasiswa untuk melakukan social loafing pada tugas kelompok. Perbedaan

 Berpartisipasi dalam kelompok , namun pasif (hanya merespon terhadap inisiatif anggota lain) dalam diskusi atau tugas kelompok  Tidak mendorong peserta lain untuk.

Dalam setiap kegiatan belajar kelompok digunakan lembar kegiatan, lembar tugas dengan tujuan agar terjalin kerjasama diantara anggota kelompoknya. Lembar kegiatan dan

Hubungan antara locus of control dengan social loafing mahasiswa pada tugas berbasis kelompok. Salah satu faktor yang mempengaruhi social loafing adalah

Jika diterapkan dalam konteks kerja kelompok, maka individu dapat akan mengurangi effortnya (melakukan social loafing) ketika merasa bahwa terjadi ketidakadilan

Kemudian siswa mendengarkan penjelaskan dari guru mengenai tugas kelompok yang akan didiskusikan bersama anggota kelompoknya melalui praktikum sederhana yang akan

Hubungan antara Motivasi Berprestasi dengan Social Loafing pada Mahasiswa dalam Tugas Kelompok Selama Perkuliahan Daring Allison Carol Karana [email protected] Fakultas

i HUBUNGAN SELF-ESTEEM DAN SOCIAL LOAFING DALAM MENGERJAKAN TUGAS KELOMPOK PADA MAHASISWA BIMBINGAN KONSELING ISLAM ANGKATAN 2019 DI IAIN SYEKH NURJATI CIREBON SKRIPSI