MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR PESERTA DIDIK DENGAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA MATERI PERNIKAHAN SMAN-1 TABUNGANEN
Zakiyah
Email [email protected] ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) meningkatkan aktivitas belajar peserta didik dengan penerapan model Problem Based Learning pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam; (2) mengetahui apa saja faktor yang penghambat dalam meningkatkan aktivitas belajar peserta didik (3) mengetahui apa saja faktor yang pendukung dalam meningkatkan aktivitas belajar peserta didik.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 1 siklus. Dalam 1 siklus dilakukan dua kali pertemuan dimulai dengan tahapan perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan model Problem Based Learning dan refleksi. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi/pengamatan. Analisis data dilakukan dengan perbandingan antara hasil observasi pada siklus 1 pertemuan 1 dan pertemuan 2 dengan teknik deskriptif. Artinya dari data yang diperoleh dalam penelitian ini disajikan apa adanya kemudian dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran mengenai fakta yang ada dan mendiskripsikan sesuai dengan fenomena.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model Problem Based Learning dalam meningkatkan aktivitas belajar peserta didik SMAN Tabunganen dalam pembelajaran pendidikan agama islam materi pernikahan mengalami peningkatan, hal ini ditunjukkan berdasarkan hasil observasi diperoleh informasi bahwa adanya peningkatan dalam aktivitas dari pertemuan pertama dihasilkan skor 20 dengan presentasi 50% kriteria Kurang Aktif maka pada pertemuan kedua dihasilkan skor 30 dengan presentasi 75%
kriteria Aktif.
Kata Kunci: Aktivitas Belajar, Model Problem Based Learning.
PENDAHULUAN
Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, mememahami, mengimani, bertakwa, berakhalak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci al-Quran dan al-Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. Pendidikan Agama Islam mempunyai peran penting dalam pembentukan pribadi peserta didik.
Pembentukan pribadi yang dimaksud adalah kepribadian muslim dan kemajuan masyarakat serta budaya yang tidak menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam.
Dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam materi Pernikahan dalam Islam sangat erat kaitanya dengan kehidupan sehari-hari. Permasalahan yang dihadapi siswa ketika mempelajari bab pernikahan siswa dihadapkan pada masalah kesulitan dalam menghafalkan istilah- istilah yang asing yang jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Kesulitan lainnya yang dihadapi siswa yaitu dalam memahami perundang- undangan yang berlaku di Indonesia, karena banyaknya pasal dan ayat yang dipelajari. Serta banyak nya kasus-kasus perceraian dan perselingkuhan yang dilihat tidak hanya didunia nyata tetapi juga didunia maya seperti televisi dan lain sebagainya.
Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan melakukan terobosan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam terutama materi Pernikahan dalam Islam sehingga sehingga tidak meyajikan materi yang bersifat abstrak, tetapi juga harus melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran. Salah satunya adalah dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning sehingga diharapkan siswa dapat lebih termotivasi dalam belajar. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu kiranya beberapa kajian yang mendalam tentang apa dan bagaimana Pembelajaran Berbasis Masalah /Problem Based Learning ini selanjutnya diterapkan dalam sebuah proses pembelajaran, sehingga dapat memberi masukan, khususnya kepada para guru tentang Problem Based Learning atau Pembelajaran Berbasis Masalah.
Berdasarkan hasil observasi, diperoleh permasalahan yang menjadi penyebab rendahnya keaktifan dan motivasi belajar siswa SMAN Tabunganen.
Guru menggunakan metode yang kurang bervariasi dan siswa kurang dilibatkan secara aktif melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis dalam kegiatan pembelajaran. Proses pembelajaran menyebabkan kurangnya keaktifan dan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti sehingga mengakibatkan siswa cenderung menjadi pasif dalam belajar, kurang menghargai guru, dan kurang memahami materi yang disampaikan.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian dalam penelitian ini Peneliti menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK), yaitu salah satu upaya yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan kualitas peran dan tanggung jawab guru khususnya dalam pembelajaran (Surawan : 2019).
Tempat dan Subjek Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 1 Tabunganen yang beralamatkan di Desa Tabunganen Tengah
Kecamatan Tabunganen Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan. Sedangkan Subjek yang terlibat dalam penelitian ini yaitu siswa- siswi kelas XII SMAN 1 Tabunganen. Sedangkan partisipan yang terlibat dalam penelitian ini Penulis menggunakan teman dan rekan guru.
Teknik pegumpulan data: a). Observasi: Kegiatan ini di lakukan terhadap proses pembelajaran dan aktivitas yang dilakukan siswa. Observasi dilakukan dengan mengamati secara langsung proses pembelajaran berdasarkan lembar observasi yang telah disusun pada penelitian ini, peneliti di bantu oleh observer yang berjumlah 2 orang. Hasil observasi digunakan untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar peserta didik, b). Tes hasil belajar: Tes hasil belajar digunakan untuk mendapatkan data-data tentang aktivitas belajar peserta didik. Tes akhir diberikan untuk setiap akhir siklus I di pertemuan 1 dan pertemuan 2, tes dikerjakan siswa secara individu dan digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami materi Pendidikan Agama Islam, c) Angket: Penelitian ini menggunakan angket yang bertujuan untuk mengetahui jawaban responden tentang motivasi belajar pada saat sebelum tindakan dan sesudah tindakan proses pembelajaran. Dalam penelitian ini, data primer yang peneliti gunakan adalah angket berupa pertanyaan tertutup dimana responden tinggal memberikan tanda centang (√) pada kolom atau tempat yang sesuai. Adapun pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam angket aktivtas dan motivasi belajar Pendidikan Agama Islam materi Pernikahan pada kelas SMAN Tabunganen ini menggunakan skala liker dengan skor: Selalu = Skor nilai 4, Sering = Skor nilai 3, Jarang = Skor nilai 2, Tidak pernah = Skor nilai 1. d). Wawancara: Penelitian ini menggunakan wawancara jenis tidak terstruktur atau terbuka, yaitu wawancara bebas yang menggunakan garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Wawancara dilakukan kepada guru mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan siswa kelas kelas XII SMAN 1 Tabunganen. Adapun wawancara terhadap guru dilakukan pada saat sebelum dan sesudah tindakan dilaksanakan yaitu untuk mengetahui berbagai permasalahan yang dialami saat pelaksanaan pembelajaran di kelas, baik dalam hal model/metode pembelajaran yang digunakan, media pembelajaran yang digunakan maupun kendala lainnya yang dihadapi saat melaksanakan kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), e). Dokumentasi: Teknik dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang keadaan sekolah, jumlah murid yang akan diteliti, data guru bidang studi Pendidikan Agama Islam serta foto dan video kegiatan pembelajaran PAI dengan media videoscribe yang bertujuan untuk mengungkapkan fakta atau kenyataan pada saat pelaksanaan tindakan pembelajaran.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas
ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis deskriptif yang digunakan ini adalah untuk menggambarkan bahwa tindakan yang dilaksanakan dapat menimbulkan perbaikan, peningkatan aktivitas belajar, dan perubahan ke arah yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
a. Menentukan rata-rata
Keterangan:
x : jumlah rata-rata
x : jumlah skor per indikator N : jumlah siswa.
b. Menentukan Persentase Pr% = x 100%
Keterangan:
Pr% : presentase yang ingin dicapai n : jumlah siswa yang termotivasi N : jumlah seluruh siswa.
Adapun prosedur atau Langkah-langkah dalam penelitian ini memakai rancangan siklus I saja sebagai berikut:
Planning (Rencana) : Sebelum mengadakan penelitian peneliti dan kolaborator menyusun rumusan masalah, menentukan materi, pelajaran yang akan dibahas, membuat rencana pembelajaran siklus I dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning, mempersiapkan instrumen observasi dan menyiapkan sumber belajar yang diperlukan.
Action (Tindakan) : Tindakan yang dilakukan oleh peneliti dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning dengan cara:
Fase 1 : Mengorientasi dan memberi rangsangan pada Peserta didik pada masalah., Fase 2 : Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar., Fase 3 : Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok., Fase 4 : Mengembangkan dan menyajikan hasil karya., Fase 5 : Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Observation (Pengamatan): Pada kegiatan pengamatan ini dilakukan oleh seorang kolaborator untuk mengamati peneliti. Apakah yang dilakukan oleh peneliti sudah sesuai dengan checklist yang dibawa oleh kolaborator. Proses pembelajaran yang digunakan sesuai metode yang digunakan pada siklus I.
Reflektion (Refleksi): Pada tahap ini akan dilakukan analisis data mengenai proses, hasil, dan hambatan yang dijumpai dalam pembelajaran pada siklus I.
Selanjutnya hasil tersebut akan direfleksikan bersama-sama dengan kolaborator khususnya berkaitan dengan dampak pelaksanaan tindakan dalam pembelajaran.
HASIL PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan sejumlah 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 2
pertemuan. Setiap minggunya masing-masing kelas mendapatkan 2 jam pelajaraan. Penelitian ini menggunakan waktu dua jam pelajaran yaitu dengan alokasi waktu 2x45 menit karena dengan waktu tersebut lebih cukup untuk melakukan penelitian yang dimulai dari perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Adapun materi pokok yang digunakan yaitu Pernikahan dengan 3 indikator mengidentifikasi, menganalisis dan mengevaluasi ketentuan pelaksanaan pernikahan berdasarkan syariat Islam.
Perencanaan tindakan Siklus I pada tahap ini peneliti menyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelaksanaan pelajaran 1, LKPD 1, soal tes formatif 1 dan media pembelajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengolahan pembelajaran dengan model pembelajaran Problem Based Learning, dan lembar observasi aktivitas siswa.
Pelaksanaan tindakan Siklus I kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 2021 di Kelas XII dengan jumlah siswa 33 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru, sedangkan yang bertindak sebagai pengamat (observer) adalah guru kelas XII. Adapun proses pembelajaran mengacu pada RPP yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan proses pelaksaaan pembelajaran.
Penerapan model pembelajaran problem based learning dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam materi pernikahan kelas XII SMAN 1 Tabunganen dapat dilihat melalui observasi aktivitas belajar siswa siklus dibawah ini.
Tabel 4.1 Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus I Pertemuan 1
NO PERNYATAAN SA A KA TA
4 3 2 1
1 Cara belajar yang baru saja berlangsung sangat menarik
√ 2 Kesempatan berdiskusi dalam pembelajaran ini,
membuat saya lebih berani mengemukakan pendapat
√
3 Dengan cara belajar seperti ini, membuat saya lebih menghargai pendapat orang lain
√ 4 Saya lebih mudah mengerjakan soal dengan
belajar seperti ini
√ 5 Saya ingin topic lain diajarkan seperti ini √ 6 Saya lebih suka belajar kelompok dari pada belajar
sendiri-sendiri
√ 7 Cara belajar seperti ini, menjadikan saya senang √
belajar
8 Cara belajar seperti ini, membuat saya berai mengajukan pertanyaan pada guru maupun teman
√ 9 Belajar kelompok membuat saya lebih mudah
mengerjakan soal-soal
√ 10 Cara belajar seperti ini, menumbuhkan sifat kritis,
berfikir ilmiah dan kerja sama
√
JUMLAH SKOR 20
SKOR MAKSIMAL 40
PERSENTASE (SM/JS x 100) 50%
KRITERIA (LIHAT TABEL) KURANG AKTIF
KRITERIA :
76% - 100% Sangat Aktif
51% - 75% Aktif
26% - 50% Kurang Aktif
≤ 25% Tidak Aktif
Nilai akhir aktivitas siswa dalam pembelajaran dapat dipresentasekan dengan rumus: Nilai rata-rata = Jumlah skor x 100%
Skor total
= 20 x 100% = 50%
40
Aktivitas siswa pada pelaksanaan pembelajaran dengan model Problem Based Learning pada siklus I pertemuan 1 ini hanya dapat dikategorikan
“KURANG AKTIF” dengan jumlah skor 20, sehingga persentase yang didapatkan untuk aktivitas belajar siswa adalah hanya 50% sehingga diperlukan lagi pertemuan kedua untuk lebih meningkatkan aktivitas belajar siswa tersebut.
Tabel 4.2 Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus I Pertemuan 2
NO PERNYATAAN SA A KA TA
4 3 2 1
1 Cara belajar yang baru saja berlangsung sangat menarik
√ 2 Kesempatan berdiskusi dalam pembelajaran ini,
membuat saya lebih berani mengemukakan pendapat
√
3 Dengan cara belajar seperti ini, membuat saya lebih menghargai pendapat orang lain
√ 4 Saya lebih mudah mengerjakan soal dengan
belajar seperti ini
√
5 Saya ingin topic lain diajarkan seperti ini √ 6 Saya lebih suka belajar kelompok dari pada
belajar sendiri-sendiri
√ 7 Cara belajar seperti ini, menjadikan saya senang
belajar
√ 8 Cara belajar seperti ini, membuat saya berani
mengajukan pertanyaan pada guru maupun teman
√
9 Belajar kelompok membuat saya lebih mudah mengerjakan soal-soal
√ 10 Cara belajar seperti ini, menumbuhkan sifat kritis,
berfikir ilmiah dan kerja sama
√
JUMLAH SKOR 30
SKOR MAKSIMAL 40
PERSENTASE (SM/JS x 100) 75%
KRITERIA (LIHAT TABEL) AKTIF
KRITERIA :
76% - 100% Sangat Aktif 51% - 75% Aktif
26% - 50% Kurang Aktif
≤ 25% Tidak Aktif
Nilai akhir aktivitas siswa dalam pembelajaran dapat dipresentasekan dengan rumus: Nilai rata-rata = Jumlah skor x 100%
Skor total
= 30 x 100% = 75%
40
Aktivitas siswa pada pelaksanaan pembelajaran dengan model Problem Based Learning pada siklus I pertemuan 2 ini ada terjadi peningkatan namun tidak signifikan yaitu dapat dikategorikan “AKTIF” dengan jumlah skor 30, sehingga persentase yang didapatkan untuk aktivitas belajar siswa adalah 75%
dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa tersebut.
Dari keterangan tersebut dapat dibuat grafik sebagai berikut:
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan ada beberapa penghambat dalam proses pembelajaran yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Yang termasuk dalam faktor intern seperti, faktor jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan. Sedangkan faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar, dapatlah dikelompokkan menjadi tiga faktor yaitu, faktor keluarga, faktor sekolah (organisasi) dan faktor masyarakat. Baik buruknya situasi proses belajar mengajar dan tingkat pencapaian hasil proses instruksional itu pada umumnya bergantung pada faktor-faktor yang meliputi: Karakteristik siswa, Karakteristik guru, Interaksi dan metode, Karakteristik kelompok,, Fasilitas fisik, Lingkungan alam sekitar. Dan semua faktor-faktor tersebut dapat dijadikan bahan evaluasi agar lebih baik lagi pada pertemuan berikutnya. Dari segi aktivitas siswa, juga sudah terlaksana semuanya namun masih dalam kriteria kurang aktif. Mereka masih bingung terhadap model Problem based learning ini.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 2021 bahwa: “Faktor pendukung dalam meningkatkan aktivitas siswa seperti jumlah siswa yang tidak terlalu banyak, di kelas XII itu jumlah siswanya 33, mungkin kalau jumlah siswa terlalu banyak susah juga diatur, tapi kalau jumlah siswa yang 20 ini mudah diatur dan diatasi kalau ribut, jadi kegiatan belajar bisa dilanjutkan lagi. Keadaan ruang kelas juga termasuk faktor pendukung peningkatan aktivitas belajar siswa, karena ruang kelas agak lebih luas, posisi kursi dan meja siswa itu bisa ditata bentuknya seperti huruf U.
Posisi kursi yang bentuknya huruf U itu akan memudahkan siswa kalau misalnya mengerjakan tugas kelompok”. Selain itu, ketika guru menggunakan metode ceramah dan tanya jawab maka para siswa akan lebih mudah memperoleh perhatian dan penjelasan materi yang maksimal, termasuk sesi tanya jawab, sehingga semua siswa mendapatkan kesempatan untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.
Berdasarkan deskripsi penelitian dan hasil penelitian yang sudah disajikan sebelumnya, dapat dikatakan bahwa rata-rata aktivitas belajar siswa
Gambar 4.1. Grafik Hasil Aktivitas Siswa Siklus I
50%
75%
0%
20%
40%
60%
80%
Pertemuan 1 Pertemuan 2
kelas XII SMAN 1 Tabunganen dari siklus I dengan 2 kali pertemuan mengalami peningkatan aktivitas belajar siswa. Aktivitas siswa pada pelaksanaan pembelajaran dengan model Problem Based Learning pada siklus I pertemuan 2 ini ada terjadi peningkatan namun tidak signifikan yaitu dapat dikategorikan “AKTIF” dengan jumlah skor 30, sehingga persentase yang didapatkan untuk aktivitas belajar siswa adalah 75% dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa tersebut.
Meningkatnya rata-rata nilai tersebut disebabkan karena siswa mudah menyerap materi dengan metode belajar Problem Based Learning. Karena Problem Based Learning dapat merangsang keterbukaan pikiran serta mendorong peserta didik untuk melakukan pembelajaran yang lebih kritis dan aktif. Metode Problem Based Learning juga memberikan tantangan pada siswa sehingga mereka bisa memperoleh kepuasan dengan menemukan pengetahuan baru bagi dirinya sendiri.
Berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa diperoleh informasi bahwa adanya peningkatan dalam aktivitas listening, oral, emotional, visual, writing, motor, mental, dan visual. Hal ini menunjukkan bahwa siswa mulai memberikan respon yang positif terhadap pelajaran yang diikutinya. Baik dalam mendengarkan dan memperhatikan materi belajar yang disampaikan, ataupun dalam bertanya tentang materi yang belum dimengerti maupun didalam mengemukakan pendapat. Dengan menggunakan metode belajar Problem Based Learning siswa menjadi lebih mudah memahami materi karena mereka diajak belajar melalui masalah-masalah yang timbul dan bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut. Secara otomatis siswa mendapat pengetahuan sekaligus cara menerapkannya. Dilihat dari hasil tersebut, model Problem Based Learning dapat membantu meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran pendidikan agama islam di SMAN 1 Tabunganen.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian aktivitas siswa diperoleh informasi bahwa adanya peningkatan dalam aktivitas belajar siswa pada pelaksanaan pembelajaran dengan model Problem Based Learning pada siklus I pertemuan 2 ini ada terjadi peningkatan yaitu dapat dikategorikan “AKTIF” dengan jumlah skor 30, sehingga persentase yang didapatkan untuk aktivitas belajar siswa adalah 75% dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning dapat membantu meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas XII SMAN 1 Tabunganen. Keaktifan siswa dilihat dari aspek memperhatikan, bertanya kepada guru, menjawab pertanyaan, berpendapat, kerjasama dalam kelompok, mengerjakan soal, belajar menggunakan sumber, dan presentasi kelompok
pada siklus I sebagian besar aspek mengalami peningkatan. Penerapan model Problem Based Learning dapat membantu meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas XII SMAN 1 Tabunganen. Peningkatan nilai rata-rata kelas dari siklus I dari pertemuan 1 dan 2 meningkat sebesar 75% yaitu dari 20 menjadi 30.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Manar. 2003. Fikih Nikah. Bandung: Syaamil Cipta Media.
Daradjat, Zakiyah. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Eggen, Paul dkk. 2012. Strategi dan Model Pembelajaran, Mengajarkan Konten dan Keterampilan Berpikir, Edisi Enam. Jakarta:PT Indeks
Hamalik, Oemar . 2007. Kurikulum Dan Pembelajaran (Edisi satu).. Jakarta: PT.
Bumi Aksara.
Hamalik, Oemar. Tt. Dasar-Dasar Pengembagan Kurikulum. Bandung, PT Remaja Rosdakarya
Hanafiah dkk. 2012. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama.
Isnawati, Nurlaela. 2010. Guru Positif-Motivatif. Cet. I; Jogjakarta: Laksana.
Kemdikbud. 2013. Model Pembelajaran Berbasis Masalah/ PBL. Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Mashudi dkk. 2014. Desain Model Pembelajaran Inovatif Berbasis Konstruktivisme (Kajian Teoritis dan Praktis). Tulungagung : STAIN Tulungagung Press.
Mathlub, Abdul Muhammad. 2005. Panduan Hukum Keluarga Sakinah. Solo:
EraIntermedia.
Nasih Ahmad Munjin dkk. 2013 Metode dan Teknik Pembelajaran Agama Islam.
Bandung: Refika Aditama.
Nasution, S. 2010. Didaktik Asas-asas Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara.
Nazir M. 2005. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia
Prawiradija , Dewi Salman. 2007. Prinsip Desain Pembelajaran. Jakarta :Putra Grafika.
Ramayulis. 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta, Kalam Mulia.
Riduwan. 2010. Belajar Mudah Penelitian untuk Pemula, Bandung: Alfabeta.
Ridwanudin, Dindin. 2015. Bahasa Indonesia. Jakarta: UIN PRESS.
Rusman. 2011. Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Rusman. 2013. Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer. Jakarta: Alfabet.
Sahroni Tihami, Sohari. 2009. Fiqh Munafahat kajian Fikih Nikah Lengkap. Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada.
Sardiman. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta.
Soemanto, Wasty. 2012. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana, Nana. 1991. Cara Belajar Siswa Aktif, Bandung: Sinar Baru.
Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem.
Surabaya:Pustaka Belajar.
Surawan, 2019. "Pernikahan Dini; Ditinjau dari Aspek Psikologi". Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam, Vol. 2 No. 2.
Sutirman. 2013. Media dan Model-Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Syarifuddin, Amir. 2011. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia: Antara Fiqh Munakahat dan Undang- undang Perkawinan Cet 1. Jakarta: Kencana
Tim Ulama Fikih di bawah arahan Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu asy- Syaikh. 2015. Fikih Muyassar Panduan Praktis Fikih dan Hukum Islam.
Jakarta: Darul Haq.
Tohirin. 2000. Psikologi Belajar Pendidikan Agama Islam. Pekanbaru: 2000 Trianto. 2011. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Warsono dan Haryanto. 2012. Pembelajaran Aktif Teori dan Asesmen. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Yamin, Martinis. Tt. Kiat Membelajar Siswa. Jakarta: Gaung Persada Press.
Zuriah, Nurul . 2007. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori-Aplikasi.
Jakarta: Bumi Aksara.