1069
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PAI MATERI JUJUR DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI MELALUI MODEL
PEMBELAJARAN TALKING STICK
Anita Marliani 1
Email: [email protected] ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan cara meningkatkan hasil belajar PAI materi Jujur Dalam Kehidupan Sehari-hari dengan menggunakan Model Pembelajaran Talking Stick. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), subjek penelitian adalah siswa kelas IV SD Muhammadiyah Al- Mukhlishin Tabalong semester I tahun ajaran 2021/2022. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas guru Siklus I mencapai skor 29 kriteria “Baik” dan Siklus II mencapai skor 38 kriteria “Sangat Baik”. Aktivitas siswa pada Siklus I mencapai kriteria “Aktif” dan Siklus II mencapai kriteria “Sangat Aktif”. Pada Siklus I ketuntasan klasikal hasil belajar siswa 67% dan pada Siklus II ketuntasan klasikal hasil belajar siswa 97%. Saran penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk memilih dan menggunakan model pembelajaran dalam memperbaiki kualitas pembelajaran.
Kata Kunci: Hasil Belajar, PAI, Model Talking Stick
Pendahuluan
Eksistensi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang semakin mantap merupakan landasan dan modal utama bagi pendidikan agama Islam. Pintu gerbang kemajuan Islam sudah mulai terbuka. Secara akademik, proses belajar mengajar merupakan aktifitas yang sangat kompleks. Proses belajar mengajar melibatkan interaksi inter personal yang unik, yaitu interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa.
Belajar mengajar merupakan suatu proses yang berkesinambungan.
Proses belajar mengajar tidak terbatas pada kegiatan penyampaian materi pelajaran di kelas, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana agar materi pelajaran dapat diterima siswa dikelas dan dapat diterapkan serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dilihat dari prespektif ini, keberhasilan proses belajar mengajar PAI sangat ditentukan oleh kualitas dan profesionalitas guru agama. Peningkatan kualitas dan profesionalisme guru agama dapat dilakukan secara individual dan struktural. Secara individual, guru agama perlu terus menerus berusaha meningkatkan kompetensi akademik, kepribadian, dan profesionalisme melalui kegiatan belajar kedinasan.
1070 Menurut Ki Hajar Dewantara (Hasbullah, 2012: 4) menjelaskan bahwa pendidikan yaitu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi- tingginya.
Dunia pendidikan mempunyai tantangan dalam mengembangkan kemampuan dan membentuk manusia yang berkarakter, yang akan melahirkan generasi yang berbudi pekerti yang luhur sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional menurut UUSPN No. 20 tahun 2003 “ pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Rohman, 2013: 98).
Tujuan pendidikan dalam konteks ini membantu mengkondisikan peserta didik pada sikap, perilaku atau kepribadian yang benar agar mampu berkembang dan berguna bagi dirinya sendiri, lingkungan dan masyarakat.
Pelaksanaan pembelajaran harus mampu membantu peserta didik agar menjadi manusia yang berbudaya tinggi dan bermoral tinggi. Oleh sebab itu, untuk mewujudkan pencapaian tersebut salah satu cara bisa dilakukan oleh seorang guru adalah dengan melaksanakan pembelajaran inovatif. Disisi lain minat siswa terhadap mata pelajaran PAI menurun, siswa lebih suka dengan mata pelajaran lain yang berbasis teknologi dan informasi oleh karena itu mata pelajaran PAI perlu aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan agar peserta didik tidak jenuh dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Peranan Pendidikan Agama Islam sangat penting dalam era globalisasi seperti sekarang ini, dengan pembekalan moral kepada peserta didik sehingga mampu memilih mana yang baik dan mana yang buruk sesuai dengan tatanan moral. Mengingat kekhawatiran akan pengaruh jangka panjang dari kemajuan IPTEK yang mungkin melampaui batas, PAI harus bertindak untuk mencegah dampak-dampak yang menyertai kemajuan tersebut. Pendidikan Agama Islam dituntut mampu menciptakan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermuara pada nilai-nilai Islami.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Agama Islam merupakan pendidikan yang sangat penting, karena harus mampu membentuk sikap dan perilaku yang agamis peserta didik. Sikap dan perilaku yang harus dibentuk terutama yaitu sikap jujur, karena jujur merupakan sikap yang menyatakan apa adanya, terbuka, konsisten antara apa yang dikatakan dan
1071 dilakukan dan berani karena benar. Pendidikan agama Islam di sekolah masih terdapat ketidakseimbangan antara alokasi waktu yang tersedia dan materi pelajaran yang begitu luas mengakibatkan prestasi siswa jauh dari harapan yang diinginkan. Hal ini terbukti kurang tercapainya nilai yang diperoleh oleh siswa, terutama pada materi sikap jujur yaitu rentang nilai antara 50 dan 60 sedangkan KKM yang ditetapkan 70. Persentasi hasil belajar yang tuntas pada mata pelajaran PAI materi sikap jujur adalah 40%, sedangkan yang tidak tuntas adalah 60%. Dengan diterapkannya metode talking stick diharapkan hasil belajar akan lebih meningkat.
Pada saat observasi yang penulis lakukan di SD Muhammadiyah Al- Mukhlishin, penulis menemukan bahwa suasana kegiatan belajar mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti berjalan dengan tenang dan lancar, siswa mengitunya dengan tertib. Namun pada saat guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya tidak ada siswa yang menyampaikan pertanyaan, demikian juga pada saat guru memberikan pertanyaan lisan tidak ada siswa yang bisa menjawab. Hal ini dikarenakan metode yang digunakan guru belum dapat memotivasi dan meningkatkan keberanian anak untuk tampil dalam mengungkap pertanyaan maupun menjawab pertanyaan.
Berdasarkan uraian di atas, penulis akan melakukan Penelitian
“Meningkatkan Hasil Belajar PAI Materi Jujur Dalam Kehidupan Sehari-hari Melalui Model Pembelajaran Talking Stick”. Dengan harapan dengan metode Talking Stick hasil belajar siswa pada materi tersebut meningkat. Adapun tujuan dari penelitian tindakan kelas ini ialah untuk mendeskripsikan cara meningkatkan hasil belajar PAI materi Jujur Dalam Kehidupan Sehari-hari dengan menggunakan Model Pembelajaran Talking Stick.
Hasil tinjauan pustaka yang dilakukan ditemukan sejumlah hasil penelitian relevan dengan penelitian yang peneliti laksanakan, seperti penelitian yang dilakukan oleh Mailiz Zaniq Hilmi (2015), Wahyuni Nurtiningtyas (2017), Wahyuni Nurtiningtyas (2013), Siti Aminah Hasibuan (2018), dan Fathul Huda (2017) menyatakan bahwa hasil penelitian dengan menerapkan model Talking Stick berhasil meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian praktis yang dilaksanakan untuk memecahkan masalah faktual yang dihadapi oleh guru sebagai suatu pencermatan terhadap kegiatan pengelola pembelajaran (Arikunto, 2006: 3).
Dengan melakukan penelitian tindakan kelas, pendidik dapat memperbaiki praktik pembelajaran sehingga menjadi lebih efektif, misalnya bagi guru
1072 penelitian tindakan kelas ini dapat bermanfaat meningkatkan profesionalitasnya serta dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik.
Adapun langkah-langkah yang digunakan dalam melakukan Penelitian Tindakan Kelas berdasarkan Arikunto (2014) terdapat 4 langkah yakni:
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Di langkah perencanaan peneliti menyiapkan RPP dan seperangkatnya, merumuskan langkah-langkah proses pembelajaran yang relevan dengan langkah model, membuat rubrik penilaian dan lembar observasi. Selanjutnya tahap pelaksanaan ialah implementasi dari isi tindakan yang sudah direncanakan lebih dahulu.
Kemudian tahap berikutnya yaitu pengamatan/observasi, pada tahapan ini pengamatan ditujukan terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, serta hasil belajar siswa ketika mengikuti proses pembelajaran dengan mengisi lembar pengamatan. Tahap terakhir yaitu refleksi, tahapan hasil pengamatan dilakukan, diperoleh beberapa data yang kemudian dikaji, dilihat dan direnungkan kembali perencanaan yang belum sesuai dengan indikator keberhasilan sebagai dasar untuk membuat rancangan kegiatan pada siklus berikutnya. Hasilnya kemudian dikaji dan disimpulkan peneliti dan kesimpulan tersebut dipakai sebagai dasar dalam memperbaiki rancangan yang akan dilakukan ada pertemuan selanjutnya.
Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang dilakukan secara cermat, mendalam dan rinci sehingga dapat mengumpulkan data yang sangat lengkap dan dapat menghasilkan informasi yang menunjukkan kualitas tertentu.
Penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada suatu latar alamiah dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, pengambilan sampel data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Anggito, 2018).
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas IV SD Muhammadiyah Al-Mukhlishin Kecamatan Murung Pudak Kabupaten Tabalong. Dengan subyek penelitian adalah peserta didik kelas IV Semester Ganjil SD Muhammadiyah Al-Mukhlishin Tahun Pelajaran 2021/2022 yang berjumlah 30 orang yaitu 17 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Selain peserta didik, subyek lainnya yang juga ikut diteliti yaitu guru mata pelajaran PAI, karena guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pembelajaran.
Data kualitatif mencakup data aktivitas guru dan data aktivitas siswa. Data aktivitas guru diperoleh berdasarkan hasil pengamatan oleh observer pada saat
1073 guru melakukan kegiatan, bagaimana materi pelajaran dipersiapkan dan model Talking Stick berdasarkan kriteria penilaian yang telah ditetapkan dan diukur melalui lembar observasi aktivitas guru.
Data aktivitas kegiatan siswa diperoleh guru melalui mengamati kegiatan belajar mengajar dan aktivitas kegiatan siswa saat melaksanakan pembelajaran, baik saat kerja kelompok ataupun siswa secara individual diukur melalui lembar pengamatan aktivitas siswa. Pengamatan dilaksanakan oleh guru yang melakukan penelitian untuk mengukur tingkat keefektifan kegiatan pembelajaran melalui penerapan model.
Perolehan hasil belajar, diketahui dengan meningkatnya hasil belajar siswa sesudah menerapkan model Talking Stick melalui tes hasil belajar yang dilakukan secara individu. Dimana dari evaluasi tersebut akan terlihat apakah terjadi kenaikan hasil belajar yang signifikan (Surawan : 2020).
Analisis data kualitatif didapat dari hasil mengamati aktivitas guru dan aktivitas siswa saat proses pembelajaran berlangsung. Terdapat 10 aspek pada aktivitas guru yang diamati dan terdapat 5 aspek pada aktivitas siswa yang diamati. Data kuantitatif di dapatkan pada setiap pertemuan berdasarkan hasil belajar siswa yang mana ketuntasan individualnya didapat melalui rumus berikut:
Nilai : x 100, dan
persentase ketuntasan klasikal diperoleh dari : x 100%.
Adapun indikator keberhasilan untuk aktivitas guru yaitu dapat disebut berhasil jika dalam lembar pengamatan memperoleh rentang skor 32–40 dengan kriteria sangat baik dari semua aktivitas pengajaran yang dilakukan guru. Aktivitas siswa saat pembelajaran dikatakan berhasil apabila sudah 82%
dari jumlah seluruh siswa mencapai rentang skor 13-16 dan 17-20 dengan kriteria aktif dan sangat aktif. Ketuntasan hasil pencapaian belajar siswa selesai menyeluruh jika ketuntasan individual memperoleh skor ≥70 dan ketuntasan klasikal memenuhi ≥80% dari total seluruh siswa mendapat skor ≥70 setelah proses belajar mengajar berlangsung.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Pembelajaran materi perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari setelah menggunakan model Talking Stick berlandaskan hasil observasi yang dilaksanakan pada siklus I-II mengalami peningkatan dalam aktivitas siswa dan hasil belajar yang didapatkan siswa, peningkatan ini muncul karena adanya perbaikan kualitas kegiatan pembelajaran yang terus diterapkan guru.
Dapat dilihat pada tabel kenaikan aktivitas guru dibawah ini:
Tabel 1.
Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus I-II
1074 Siklus Perolehan Skor Persentase Kategori
I 29 73% Baik
II 38 95% Sangat
Baik
Dalam tabel diatas bisa dilihat bahwa terjadi kenaikan skor aktivitas kegiatan guru dalam setiap siklusnya. Hal ini disebabkan guru melakukan usaha perbaikan untuk proses pembelajaran yang sedang dilakukan, dengan merefleksi setiap kejadian yang ada untuk mencapai kriteria yang sesuai. Selain itu, guru juga selalu berkonsultasi dan meminta saran serta masukan kepada observer setelah kegiatan pembelajaran selesai.
Siklus I dan siklus II menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran aktivitas guru secara keseluruhan meningkat dari skor 29 menjadi 38. Hal ini menunjukkan bahwa guru telah dapat mengorganisasikan pembelajaran dengan baik. Aktivitas guru secara keseluruhan sudah dapat dikatakan berhasil apabila mencapai indikator keberhasilan yaitu 32-40 dengan kriteria sangat baik. Pada penelitian ini aktivitas guru sudah mencapai indikator keberhasilan dikarenakan sudah mencapai skor dengan rentang yang telah ditentukan.
Peningkatan yang terjadi pada aktivitas guru pada setiap siklus ini karena pada setiap siklus peneliti selalu melakukan refleksi dengan selalu berusaha memperbaiki kekurangan yang ada, agar pada siklus selanjutnya aktivitas guru mengalami peningkatan dan proses pembelajaran akan lebih baik lagi. Peran guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran sangat penting, karena guru bukan hanya sebagai pengajar namun juga sebagai fasilitator bagi siswa, agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan yang telah ditetapkan.
Hasil pengamatan aktivitas siswa di siklus I-II selama mengikuti pengajaran dengan menerapkan model Talking Stick juga mengalami peningkatan. Secara keseluruhan pada siklus II ini siswa kecenderungan ada pada kriteria aktif dan juga sangat aktif. Di siklus II siswa berkriteria sangat aktif dan aktif persentasenya mengalami peningkatan sedangkan yang berkriteria cukup aktif dan kurang aktif persentasenya mengalami penurunan.
Peningkatan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran menggunakan model Talking Stick disetiap siklusnya tidak terlepas dari beberapa faktor yang mempengaruhinya, seperti penyesuaian guru terhadap kondisi kelas, penyempurnaan rancangan kegiatan dibeberapa langkah pembelajaran, tindakan-tindakan refleksi yang dilakukan guru pada setiap akhir pertemuan, serta usaha guru dalam meningkatkan keterampilan dasar mengajarnya.
Serangkaian kegiatan perbaikan tersebut merupakan kesadaran guru akan
1075 memahami perannya dalam melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran secara optimal.
Hasil pengamatan aktivitas siswa selama siklus I-II bisa diamati pada tabel berikut:
Tabel 2.
Hasil Obervasi Aktivitas Siswa Siklus I-II Siklus Kurang
Aktif
Cukup
Aktif Aktif Sangat Aktif
I 0% 33% 50% 17%
II 0% 3% 60% 37%
Terlaksananya aktivitas guru hingga mendapat kriteria sangat baik dan aktivitas siswa yang meningkat hingga mencapai kriteria sangat aktif berdampak baik pada hasil belajar yang juga meningkat di siklus II. Saat Prasiklus hasil belajar dalam aspek pengetahuan memperoleh 40% siswa yang tuntas, kemudian pada Siklus II hasil belajar dalam aspek pengetahuan meningkat menjadi 67% siswa yang tuntas dan pada Siklus II hasil belajar aspek pengetahuan meningkat menjadi 97% siswa yang tuntas. Hal tersebut mengandung makna bahwa hasil belajar siswa dari prasiklus sampai dengan siklus II sudah terjadi peningktan. Hasil pencapaian belajar siswa dalam prasiklus, siklus I dan siklus II bisa diamati pada tabel dibawah.
Tabel 3.
Presentase Klasikal Hasil Belajar Siswa Prasiklus, Siklus I dan Siklus II
Siklus Persentase
Klasikal
Prasiklus 40%
I 67%
II 97%
Pada setiap siklus aktivitas guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar semakin meningkat. Hal tersebut membuktikan bahwa adanya hubungan antara semua aspek tersebut. Adapun grafik seluruh aspek bisa dilihat dalam grafik di bawah ini.
1076 Gambar 1.
Grafik Peningkatan Aktivitas Guru, Aktivitas siswa serta Hasil Belajar Siswa
0%
20%
40%
60%
80%
100%
120%
Siklus I Siklus II
Aktivitas Guru Aktivitas Siswa Hasil Belajar
Berlandaskan grafik di atas, dapat kita amati kenaikan dari seluruh aspek yaitu aktivitas guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar. Pada gambar grafik di atas terbukti bahwa setiap siklus aktivitas guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar terus meningkat. Hal ini menampakan bahwa adanya hubungan antara semua aspek tersebut. Dari data tersebut, juga bisa diketahui bahwa semakin optimal aktivitas yang dilaksanakan oleh guru saat kegiatan pembelajaran maka aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran juga akan meningkat.
Dengan meningkatnya aktivitas siswa pada pembelajaran, maka hasil belajar siswa tersebut juga akan meningkat.
Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan metode talking stick dapat meningkatkan hasil belajar PAI materi perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari pada siswa kelas IV SD Muhammadiyah Al-Mukhlishin Tahun Pelajaran 2021/2022 dan mempermudah guru dalam mencapai tujuan belajar yang diinginkan.
Hal ini dibuktikan dari peningkatan hasil rata-rata setiap siklusnya. Pada prasiklus nilai rata-rata yaitu 71. Nilai rata-rata tersebut meningkat pada siklus I yaitu 74,4 dan pada siklus II nilai rata-ratanya yaitu 89. Apabila dilihat dari perolehan nilai tertinggi pada setiap siklusnya juga mengalami peningkatan.
Pada prasiklus nilai tertinggi yaitu 90, padan siklus I nilai tertinggi meningkat menjadi 92 dan pada siklus II nilai tertinggi yaitu meningkat menjadi 100.
1077 Persentase ketuntasan klasikal hasil belajar peserta didik juga mengalami peningkatan yaitu pada prasiklus yang tuntas hanya 40%, pada siklus I meningkat menjadi 67% dan pada siklus II meningkat menjadi 97%. Hanya ada 1 siswa yang belum mencapai ketuntasan minimal dikarenakan pengaruh intelegensinya yang kurang, padahal minat dan semangatnya cukup tinggi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan temuan-temuan yang sudah disimpulkan saran yang disampaikan peneliti adalah: Kepada guru kelas hendaknya dapat menggunakan Model Talking Stick dalam materi Perilaku Jujur dalam Kehidupan Sehari-hari ini apabila guru mengalami masalah yang serupa, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Kepada sekolah disarankan agar menjadikan hasil penelitian ini sebagai masukan dalam merencanakan program inovasi pembelajaran, memberikan bimbingan dan fasilitas kepada guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kepada peneliti selanjutnya agar dapat dimanfaatkan sebagai referensi dalam melaksanakan penelitian dengan variabel yang lebih banyak dalam penggunaan model Talking Stick.
Referensi
Anggito, A. &. (2018). Metodelogi Penelitian Kualitatif. Sukabumi: CV Jejak.
Arikunto, Suharsimi, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Hasbullah. 2012. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan Edisi Revisi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Hasibuan, S A. 2018. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dengan Menggunakan Model Pembelajaran Talking Stick pada Mata Pelajaran IPA Materi Gaya di Kelas V MIN Medan Maimun Kelurahan Timbang Deli Kecamatan Medan Amplas. Universitas Negeri Islam Sumatera Utara Medan. Skripsi.
Hilmi, M Z. 2015. Pengaruh Hasil Belajar Dengan Metode Talking Stick Terhadap Sikap Ilmiah Siswa Tema Pencemaran Lingkungan Di SMP. Univeristas Semarang. Skripsi.
Huda, F. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Talking Stick Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pokok Bahasan Pancasila Sebagai Dasar Negara Republik Indonesia Kelas VI Tahun Pelajaran 2017/2018. Univeristas Negeri Islam Antasari Banjarmasin. Skripsi.
Khasanah, D L. 2013. Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stick Berbantuan Lembar Kegiatan Siswa Terhadap Hasil Belajar Materi Pokok Aljabar. Universitas Negeri Semarang. Skripsi
1078 Nurtiningtyas, W. 2017. Penerapan Model Cooperative Learning Tipe Talking Stick Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V B SD Negeri 1 Simbarwaringin. Universitas Bandar Lampung. Skripsi.
Rohman, Arif. 2013. Memahami Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: CV Aswaja Pressindo.
Surawan. (2020). Dinamika Dalam Belajar : Sebuah Kajian Psikologi Penelitian.
Yogyakarta : K-Media.