MODUL PENGANTAR HUBUNGAN MASYARAAT (KODE MATA KULIAH)
MODUL 1
PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP HUBUNGAN MASYARAKAT
DISUSUN OLEH SUMARTONO, S.Sos., M.Si
UNIVERSITAS ESA UNGGUL 2020
MODUL 1
PENGERTIAN dan RUANG LINGKUP
TUJUAN INSTRUKSIONAL:
Setelah mengikuti perkuliahan ini, diharapkan mahasiswa dapat :
Memahami dan mampu menjelaskan kembali pengertian dan mampu mendefinisikan PR.
Memahami dan mampu menjelaskan kembali kedudukan PR/Humas dalam Ilmu Komunikasi dan interaksi dengan ilmu sosial lainnya.
Gejala Humas Dalam Kehidupan Manusia
Manusia selalu berkeinginan untuk berinteraksi dengan orang lain, menjalin hubungan dengan orang lain. Keinginan ini merupakan hal yang kodrati karena manusia adalah mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial manusia tidak dapat hidup sendiri, manusia memerlukan orang lain, manusia tidak dapat menghindarkan diri dari hidup berkelompok. Mulyana (2000) menyebutkan bahwa manusia perlu berinteraksi dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan biologis seperti makan minum dan kebutuhan psikologis yakni kebutuhan untuk mendapatkan sukses dan kebahagiaan.
Gejala ini telah ada sejak awal peradaban manusia hingga di jaman modern. Di awal peradaban manusia pola hubungan yang terjalin masih dalam bentuk yang sederhana. Interaksi dibangun dengan dasar kepercayaan dan kebersamaan dalam usaha manusia menaklukan alam untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika mereka tidak dapat membangun kebersamaan dan hubungan saling percaya dalam kelompok maka mereka akan sulit dalam menaklukan alam. Inilah sebenarnya awal gejala kegiatan humas dalam kehidupan manusia. Terjadi hubungan saling percaya dan saling membutuhkan.
Upaya membangun hubungan saling percaya pada awal peradaban manusia masih dapat kita lihat pada saat ini. Di jaman modern manusia tetap hidup dalam kelompok. Mereka menjalin hubungan dengan manusia lain.
Mengapa demikian? Karena walaupun di jaman modern, pada dasarnya manusia tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri. Untuk keberlangsungan hidupnya dan mengembangkan kehidupan ke arah yang lebih baik manusia berusaha membangun hubungan di dalam kelompok maupun dengan kelompok lain. Bahkan pada saat ini hubungan yang dilakukan tidak lagi terbatas dalam satu suku bangsa atau satu negara namun telah melampaui batas-batas negara.
Hubungan yang terjalin pada awal keberadaan manusia, pada suku-suku primitif maupun pada jaman modern adalah hubungan untuk mengembangkan kehidupan bersama secara harmonis, saling mempengaruhi hubungan timbal balik yang memberi keuntungan pada ke dua pihak. Hubungan didasari pada saling percaya dan saling memahami.
Hubungan yang demikian merupakan gejala humas. Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa humas adalah kegiatan untuk membangun hubungan antara dua pihak didasari oleh saling percaya, saling mengerti, saling mempengaruhi.
Oleh karena itu hubungan yang dilakukan oleh manusia sejak awal peradaban misal hubungan yang dilakukan oleh suku-suku primitif hingga hubungan yang dilakukan oleh perusahaan dengan perusahaan atau negara dengan negara pada jaman modern ini merupakan bentuk dari kegiatan humas.
PENGERTIAN DAN DEFINISI PUBLIC RELATIONS
Hubungan Masyarakat (Humas) atau yang dalam bahasa Inggrisnya populer dengan sebutan Public Relations merupakan salah satu bagian dari kajian Ilmu Komunikasi yang paling pesat berkembang. Pada masa sekarang ini, banyak organisasi semakin menyadari pentingnya mengaplikasikan kegiatan kehumasan menjadi salah satu bagian yang integral dan tak terpisahkan dalam kegiatan manajerial organisasi sehari-hari. Berbagai macam organisasi mulai mengakui bahwa banyak dari tujuan organisasi semakin mudah tercapai dan banyak pula permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh organisasi bisa dihindari atau mendapatkan solusi yang memuaskan dengan mengaplikasikan kegiatan kehumasan yang tepat dalam organisasi mereka.
Public Relations terdiri dari dua buah kata, yaitu public dan relations.
Dalam bahasa Indonesia public berarti publik dan relations berarti hubungan- hubungan. Untuk memahami dengan benar kedua kata tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
PUBLIC
Istilah public sukar diindonesiakan, dan sampai sekarang belum ada terjemahan yang khusus serta baku. Sebagian orang berpendapat bahwa public sama dengan masyarakat, maka Public Relations diartikan sebagai Hubungan Masyarakat.
Sementara itu dalam bahasa Inggris, istilah public dibedakan dengan istilah society (masyarakat).
J.B.A.F. Mayor Polak (1962), masyarakat diartikan sebagai wadah dari seluruh antar-hubungan sosial dari seluruh jaringannya dalam arti umum, tanpa menentukan sesuatu batas tertentu. Adapun pengertian public mengacu pada sekelompok orang yang menaruh minat, perhatian dan kepentingan yang sama terhadap sesuatu. (Oemi, 1968)
Lebih lanjut Alfred M. Lee (1951) menyatakan istilah public ditujukan pada sekumpulan orang yang dikonfrontasikan dengan suatu masalah, memperlihatkan bagaimana mengatasi masalah itu, dan terlibat dalam mempersoalkan masalah tersebut.
Beberapa contoh penggunaan istilah public yang diartikan berbeda:
• Public Library = Perpustakaan Rakyat
• Public Opinion = Pendapat Umum
• General Opinion = Pendapat
• Public Administration = Administrasi Negara
• Public House = Warung Kopi
Berdasarkan hal di atas, jelas jauh sekali bedanya antara public dan masyarakat. Maka dalam konteks demikian, kurang tepatlah apabila public relations diterjemahkan menjadi hubungan masyarakat.
Demikian pula untuk istilah public sebaiknya diterjemahkan publik saja karena tidak ada istilah lain dalam bahasa Indonesia yang sama pengertiannya dengan public yaitu sekumpulan orang yang bermakna himpunan atau kumpulan orang-orang dan lembaga/organisasi yang bekepentingan serta berada di sekitar badan/perusahaan di mana organisasi itu berada.
Sehubungan dengan itu maka publik suatu perusahaan, organisasi, badan, maupun instansi akan terdiri atas dua bagian, yaitu:
Himpunan yang berada di dalam perusahaan, organisasi, badan atau instansi ybs.
Himpunan ini dikenal dengan sebutan internal public atau dalam bahasa Indonesia disebut publik intern.
Himpunan yang berada di luar perusahaan, organisasi, badan atau instansi ybs. Himpunan ini dikenal dengan sebutan eksternal public atau dalam bahasa Indonesia disebut publik ekstern.
• Pengertian Public menurut J. Handly Wright & Byron H. Christian: Publik adalah orang-orang yang sama-sama menaruh perhatian terhadap suatu kepentingan yang sama tanpa ada sangkutpautnya dengan tempat dimana mereka berada.
• Cutlip dan Center mengatakan: Sekelompok orang yang sama-sama terikat oleh suatu kepentingan yang sama dan mempunyai perasaan yang sama.
• Selanjutnya J. Basf Mayor Polak berpendapat: Publik ( khalayak ramai) adalah sejumlah orang yang mempunyai minat yang sama terhadap sesuatu bidang atau persoalan tertentu.
Publik berbeda dengan Crowd (kerumunan) yaitu:
Sekelompok manusia yang bergerombol secara spontan, tanpa organisasi atau pola yang disengaja tanpa tradisi atau corak tertentu. Misal :
• Sekelompok orang yang berkunjung ke mall dan ketika mall tersebut mengadakan pertunjukan musik, mereka datang dan menonton.
• Orang yang tiba-tiba berkerumun saat terjadinya kecelakaan di jalan raya Publik berbeda dengan massa.
Massa yaitu: Sekumpulan orang yang memiliki prilaku tertentu yang sama atau mirip satu sama lainnya karena adanya faktor-faktor situasi, kondisi serta emosi pada saat dimana massa itu berkumpul. Misalnya:
• Massa yang tiba-tiba memukuli seseorang yang diduga pelaku pencurian.
Pengertian publik pada Public Relations adalah:
Pihak-pihak baik individu, kelompok, lembaga atau organisasi yang memiliki kepentingan atau interest terhadap aktivitas suatu organisasi/lembaga/
perusahaan.
Bagi suatu perusahaan, organisasi, badan atau instansi tertentu publik intern-nya terdiri atas:
• Para pegawai beserta para anggota keluarga dan lazim disebut employee public.
• Serikat-serikat buruh atau karyawan yang hidup dan berkembang di dalam perusahaan, organisasi, badan atau instansi.
• Para pemegang saham perusahaan, organisasi, badan atau instansi atau biasa disebut stockholder relations.
Adapun publik ekstern perusahaan, organisasi, badan atau instansi terdiri atas:
• Orang-orang atau penduduk yang tinggal di sekitar daerah perusahaan, organisasi, badan atau instansi itu berada. Himpunan ini lazim disebut community relations.
• Para pelanggan atau relasi perusahaan, organisasi, badan atau instansi atau disebut customary public.
• Para pemasok bahan baku dan penyalur hasil produksi dari perusahaan, organisasi, badan atau instansi, dan mereka biasa disebut supplier public.
• Para pembeli dan pemakai barang dan/atau jasa yang dihasilkan perusahaan, organisasi, badan atau instansi yang disebut consumer public.
• Opinion leaders atau orang-orang yang berpengaruh di kalangan masyarakatnya.
• Organisasi kemasyarakatan yang mempunyai kepentingan atau keterkaitan usaha dengan perusahaan, organisasi, badan atau instansi.
• Khalayak ramai atau general public yang berkepentingan dan bersimpati terhadap usaha perusahaan, organisasi, badan atau instansi.
RELATIONS
Istilah relations pada hakikatnya dimaksudkan dengan kegiatan membentuk suatu pertalian relasi atau menjalin hubungan satu sama lain. Lebih teknis lagi kegiatan yang dimaksud merupakan komunikasi dalam menciptakan hubungan yang harmonis di antara dua pihak, di mana satu dengan yang lainnya sama-sama memperoleh keuntungan sehingga terikat dalam suatu hubungan kefamilian yang akrab.
Dengan kata lain mengandung arti kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh lembaga PR untuk menciptakan hubungan antara perusahaan, organisasi, badan atau instansi dengan publiknya. Mengingat publik perusahaan, organisasi, badan atau instansi ada dua jenis (internal dan eksternal) maka hubungan yang dilakukan lembaga PR tentunya terarah pada dua jenis publik itu.
Selain itu tiap-tiap publik terdiri dari himpunan-himpunan atau kelompok khalayak (banyak ragamnya). Itulah sebabnya istilah relations dalam public relations harus selalu ditulis dalam bentuk jamak (relation+s).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa istilah Public Relations kurang tepat jika diterjemahkan hubungan masyarakat. Seharusnya hubungan- hubungan publik atau hubungan-hubungan dengan publik.
Secara harafiah hubungan masyarakat tidak cocok atau tidak sama dengan public relations, namun secara operasional justru kegiatan, tugas dan fungsi Hubungan Masyarakat itu adalah kegiatan, tugas, dan fungsi Public Relations juga. Meskipun demikian, untuk meluruskan pengertian secara tepat, sebaiknya tetap digunakan istilah Public Relations.
Berkaitan dengan pemahaman di atas, fungsi Humas adalah sebagai liasson atau penghubung antara organisasi/perusahaan dengan publik-publiknya.
Sebagai liasson Humas dituntut untuk lebih netral tidak memihak salah satu kepentingan. Ibaratnya Humas adalah ”penterjemah” suara-suara organisasi/perusahaan untuk disampaikan kepada publik-publik, dan sebaliknya
Humas juga ”penterjemah” suara-suara publik untuk disampaikan kepada organisasi/perusahaan. Namun ada juga yang memahami fungsi Humas sebagai bridge atau jembatan bagi organisasi/perusahaan menuju publik. Fungsi ini mempertegas bahwa Humas pada dasarnya lebih berpihak kepada kepentingan organisasi/perusahaan dibandingkan kepentingan publik. Alasan rasionalnya adalah Humas itu digaji oleh organisasi/perusahaan, bukan oleh publik. Fungsi mana yang akan dipilih, menunjukkan model Humas yang diterapkan oleh sebuah organisasi/perusahaan.
Publik menjadi fokus perhatian Humas sangat beralasan. Betapa publik yang terorganisir bisa menjadi kekuatan besar bagi sebuah organisasi dan atau personal. Kita tentu masih ingat dengan kasus Prita Mulyasari dengan RS.Omni International. Dukungan publik yang membela Pritta melalui penggalangan suara di facebook mampu membuat RS. Omni tersudut karena opini publik yang negatif kepada RS. Omni. Penyelesaian kasus yang semula lewat jalur hukum menjadi berubah manakala opini publik ikut terlibat. RS.Omni dalam kasus Prita harus berhadapan dengan jalur hukum sekaligus menangkis opini negatif dari masyarakat. Itulah kekuatan publik apabila sudah mengorganisir diri dan menyuarakan opini melalui berbagai media.
Dewasa ini, di era keterbukaan dan mudahnya akses komunikasi untuk menyuarakan opini, membuat opini publik semakin kuat. Era keterbukaan menjadikan setiap orang berani bersuara. Bahkan pada wilayah-wilayah yang sangat privat. Bila semula kontrol masyarakat lebih banyak ditujukan pada lembaga-lembaga negara dan para pejabat, maka sekarang masyarakat juga merasa berhak mengontrol lembaga-lembaga privat dan para pejabat lembaga tersebut. Kesadaran bahwa kehadiran lembaga-lembaga privat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari suatu sistem sosial, membuat masyarakat menuntut peran serta dan fungsi sosial dari lembaga-lembaga tersebut. Dengan demikian, masyarakat juga akan mengontrol setiap apa yang terjadi dan dilakukan oleh lembaga tersebut.
Sementara itu, kemudahan akses komunikasi membuat masyarakat mudah menghimpun suara menjadi suara-suara yang terorganisir dalam kelompok dan
membentuk opini publik. Permasalahan bersama (interesting) dan kekuatan publik dengan demikian mesti dikelola. Itulah yang menjadi dasar munculnya pendekatan public relations atau Humas. Mesti ada bagian tersendiri yang secara khusus mengelola opini publik, memantau interest publik, dan membuat program- program yang berkaitan dengan interest dan opini publik.
Arti kata Public Relations yang kedua adalah ”relations” yang memiliki arti jalinan diantara dua pihak atau lebih yang didasari oleh kesadaran akan saling membutuhkan di antara mereka. Kesadaran akan saling membutuhkan menjadi kata kunci. Apabila kedua belah pihak menyadari bahwa mereka saling membutuhkan maka keduanya juga akan mengakui bahwa pihak lain sama pentingnya dengan dirinya. Dengan demikian, sebuah hubungan akan symetris.
Banyak kasus menunjukkan betapa perlu menilai pihak lain itu sama pentingnya dengan pihak kita. Ambil contoh, dalam jalinan personal antara suami isteri atau sepasang kekasih. Menilai pasangannya sama pentingnya dengan diri sendiri merupakan kunci keharmonisan. Salah satu di antara pasangan akan menyebut pasangannya sebagai ”the significant person” akan lebih menyenangkan daripada sebagai ”the behind person”. Kasus-kasus renggangnya hubungan dan bahkan perceraian salah satunya karena merasa ”tidak dianggap penting” oleh pasangannya. Analogi jalinan personal tersebut bisa kita terapkan dalam jalinan organisasi dan atau personal dengan publiknya. Organisasi menganggap interest publik sama pentingnya dengan interest organisasi, dan sebaliknya publik juga diharap menganggap interest organisasi sama pentingnya dengan interest publik (Frida Kusumastuti, 2010).
Nah, apabila dilihat dari arti kata Public Relations maka bisa didefinikan sebagai berikut:
”Humas adalah suatu jalinan saling menguntungkan antara organisasi dan atau personal dengan publiknya yang didasari oleh kesadaran saling membutuhkan dan menghargai kepentingan masing-masing.” (Frida Kusumastuti, 2010).
Secara singkat bisa disebutkan, karakteristik Humas adalah, (1) Jalinan yang saling menguntungkan dengan publik, (2) kesadaran saling membutuhkan dan menghargai kepentingan pihak-pihak yang berhubungan.
Elemen Humas
Berdasarkan definisi-definisi yang telah dibahas sebelumnya, maka bisa kita identifikasi beberapa kata kunci yang cukup penting, yaitu (1) Hubungan, (2) manajemen, (3) komunikasi, (4) organisasi, dan (5) publik. Lima kata kunci inilah yang selanjutnya merupakan elemen dasar untuk memahami semua kegiatan kehumasan.
1. Humas dan Hubungan
Humas pada dasarnya adalah mengelola sebuah hubungan klien (organisasi maupun personal) dengan publik-publiknya. Apa yang dikelola Humas meliputi membangun, mengembangkan, dan menjaga hubungan. Sebuah hubungan yang baik disinyalir bisa memperlancar operasional organisasi dan tujuan-tujuan personal. Contoh hubungan yang baik dapat dilihat dari hubungan persahabatan. Seorang sahabat akan senantiasa memperhatikan kita dengan penuh kasih sayang. Sahabat akan mengingatkan, menasihati, dan mendukung kita, terutama dalam situasi krisis. Begitu pula dengan sebuah organisasi dan personal.
Melalui Humas, sebuah organisasi maupun personal mempertahankan hubungan persahabatan dengan publik publiknya, sehingga publik senantiasa memperhatikan, peduli, mendukung tujuan-tujuan organisasi dan personal.
Suatu hubungan memiliki dimensi hubungan yang simetris-asimetris.
Hubungan yang simetris adalah hubungan yang menganggap posisi kedua belah pihak yang berhubungan sama penting, sedangkan asimetris menganggap posisi salah satu lebih penting daripada yang lain. Pada hubungan yang simetris biasanya digambarkan sebagai tiadanya dominasi pihak yang satu kepada pihak yang lain.
Tentu saja dalam sebuah tataran ideal, hubungan organisasi dengan publik mesti dipahami sebagai hubungan yang simetris, atau lebih lengkap lagi dalam suatu model simetrical two way communications, walau dalam praktek ada juga model simetrical one way communications, asimetrical two way communications,
dan yang sangat tidak direkomendasikan adalah asimetrical one way communications.
Bukan pekerjaan yang mudah dalam membangun, mengembangkan dan menjaga hubungan dengan publik. Memerlukan waktu, konsistensi, tenaga, dan kreasi supaya tidak terjadi kemandegan dan kebosanan. Bagaimana cara membangun dan menjaga hubungan? Ikuti tips berikut ini:
a. Senantiasa membuka akses komunikasi untuk saling menyapa, menerima dan memberi pesan. Frekuensi dan kualitas komunikasi menjadi penting dalam sebuah hubungan. Jangan sampai kehilangan kontak dengan pihak yang menjadi publik kita.
b. Komitmen kepada suatu hubungan. Yaitu suatu pernyataan dan sikap yang merefleksikan kerelaan akan suatu hubungan. Dasar dari komitmen adalah pengakuan bahwa kedua belah pihak sama-sama penting. Oleh karena itu, saling menghormati, saling memberi, dan saling memahami kepentingan masing-masing harus menjadi semangat dalam sebuah hubungan.
c. Melakukan kegiatan bersama, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
Kegiatan bersama tapi sendiri-sendiri maksudnya adalah ketika organisasi punya kegiatan, organisasi bisa mengundang para publiknya untuk berpartisipasi. Entah itu sebagai tamu maupun sebagai konstributor. Begitu pula sebaliknya. Organisasi atau personal yang menerapkan Humas harus berpartisipasi dalam kegiatan publik-publiknya. Sedangkan kegiatan bersama secara bersama-sama adalah bekerja sama dalam satu kegiatan.
Lebur menjadi satu dalam penyelenggaraan sebuah kegiatan.
d. Membuka koalisi dengan pihak lain. Sebuah hubungan yang menyenangkan tidak boleh menutup diri dari pihak lain. Saling memperkenalkan kolega kepada anggota-anggota publik adalah contoh koalisi. Melalui koalisi sebuah hubungan akan berkembang ke arah yang lebih luas dan menyenangkan.
2. Humas dan Manajemen
Pada literatur-literatur terbaru mengenai kegiatan kehumasan, aspek humas dan aspek manajemen terlihat semakin menyatu dan tidak dapat berjalan sendiri- sendiri. Mengintegrasikan praktik kehumasan dalam sebuah fungsi manajemen yang terprogram dengan baik memang telah menjadi suatu keharusan dalam perkembangan kajian humas sekarang ini, sehingga kegiatan-kegiatan kehumasan sebuah organisasi dapat terkelola dengan baik serta mengacu pada tujuan-tujuan organisasi yang lain. Selain itu, pengaplikasian kegiatan humas yang tidak terencana, bersifat sporadis, dan tidak terprogramkan secara seksama untuk mencapai tujuan organisasinya dapat dihindari.
Mengaplikasikan kegiatan kehumasan dalam sebuah organisasi sebagi sebuah fungsi manajemen dipandang semakin signifikan dalam kehidupan organisasi dewasa ini. Cultip, Center, dan Broom (1985: 3) dalam buku mereka yang terkenal "Effective Public Relations" bahkan mendefinisikan humas sebagai salah satu fungsi manajemen yang harus ada dalam sebuah organisasi. Mereka menyatakan, Public Relations is the management function which evaluates public attitudes, identifies the policies and procedures of an individual or an organization with the public interest, and plans and executes a program of action to earn public understanding and acceptance. Dari definisi di atas dapat dilihat bahwa sebagai sebuah fungsi manajemen, kegiatan kehumasan bertugas untuk:
➢ Mengevaluasi sikap dan opini publik
➢ Mengidentifikasi serta menyesuaikan kebijakan-kebijakan organisasi dengan kepentingan publik
➢ Merencanakan serta melaksanakan program-program/ kegiatan-kegiatan kehumasan agar organisasi dapat mencapai saling pengertian, serta diterima keberadaannya oleh publik.
Dari tiga penjabaran tugas humas di atas, tampak bahwa humas dipahami sebagai sebuah fungsi manajemen, karena seperti juga pekerjaan-pekerjaan manajerial yang lain, tugas-tugas kehumasan meliputi pula pekerjaan-pekerjaan pengidentifikasian, perencanaan, serta pelaksanaan. Dalam kaitannya dengan kegiatan kehumasan pada suatu organisasi maka yang harus diidentifikasi, direncanakan, serta dilaksanakan oleh humas adalah segala pekerjaan yang ada
hubungannya dengan kegiatan komunikasi sebuah organisasi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa menerapkan humas sebagai sebuah fungsi manajemen dalam organisasi berarti mengaplikasikan aspek-aspek manajemen seperti identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi dalam segala kegiatan komunikasi antara organisasi dengan para publiknya.
Lattimore, dkk (2010) mengatakan bahwa manajemen berarti melakukan sesuatu dengan benar. Sebagai manajer, para praktisi humas merancang serta mengorganisasikan program kampanye dan komunikasi. Mereka adalah para ahli komunikasi bagi organisasi mereka. Seperti halnya pemimpin, para manajer komunikasi terlibat dalam perencanaan, tetapi umumnya hanya perencanaan jangka menengah, seperti dalam mengembangkan komunikasi untuk rencana pemasaran beberapa tahun, menentukan pesan-pesan kunci untuk program pelatihan ‘perubahan budaya’ serta beragam kegunaan intranet dan ekstranet.
Sebagai fungsi manajemen, praktisi humas juga mendefinisikan dan menekankan tanggung jawab manajemen untuk melayani kepentingan masyarakat. Menurut mantan CEO Hill & Knowlton Robert Dilenschneirder, sikap tanggung jawab sosial dari tahun 2000-2020 akan menentukan seberapa jauh globalisasi dan ekonomi global ini dapat bertahan (Lattimore dkk: 2010).
Pimpinan eksekutif karyawan dari perusahaan besar sangat menyadari bahwa humas berkonstribusi dalam pengambilan keputusan. Mungkin yang menjadi tugas paling penting dari praktisi humas adalah memastikan bahwa pertimbangan- pertimbangan terkait humas menjadi arus utama dalam proses pengambilan keputusan (Lattimore,dkk: 2010).
3. Humas dan Komunikasi
Kusumastuti (2007) dalam sebuah tulisannya di eLMU mengatakan bahwa semua bidang profesional akan mengaplikasikan metoda manajemen dalam kerja mereka. Tidak hanya bidang Humas. Akan tetapi humas akan berfokus pada manajemen komunikasi. Seperti definisi James Grunig tentang Humas.
Komunikasi berarti berkaitan dengan siapa mengatakan apa kepada siapa dengan cara bagaimana, dan apa salurannya serta dengan tujuan apa. Nah, humas
dengan demikian akan terlibat di dalam merumuskan dan mengaplikasikan praktek komunikasi (5W) organisasi yang berbasis pada perencanaan, pengorganisasian, dan evaluasi.
Menurut Kusumastuti, komunikasi dalam perspektif humas harus direncanakan oleh organisasi. Sampai pada efek yang diharapkan dari aktivitas komunikasi tersebut. Memang masih banyak organisasi yang memberi peran seorang humas hanya sebagai 'juru bicara' bukan manajer komunikasi. Hanya memberi peran seorang humas sebagai 'tukang foto', 'tukang kliping koran', 'pembawa acara', 'menjamu insan pers', 'membuat press release', sementara itu manajer komunikasi yang menentukan siapa yang harus menyampaikan apa kepada siapa dengan cara bagaimana dan salurannya apa, untuk tujuan seperti apa, lebih ditentukan oleh pimpinan puncak organisasi. Sehingga dengan demikian seorang humas selayaknya hanyalah teknisi komunikasi, bukan manajer komunikasi.
Humas dan Komunikasi dapat berarti humas adalah merupakan suatu muara dan hilir di mana aktivitas komunikasi organisasi dirancang dan dipraktekkan. Sebagai seorang teknisi, bukan berarti Humas hanyalah sebagai pemanis komunikasi yang mengharuskan seorang humas adalah wanita cantik atau pria luwes yang dapat berbicara 'nyinyir'. Berkomunikasi juga tidak hanya 'berbicara'. Kemampuan menulis dalam rangka menyampaikan suatu pesan organisasi harus dimiliki oleh petugas humas. Sebagai seorang pengelola komunikasi, praktisi humas harus memiliki data tentang potensi elemen-elemen komunikasi sebuah organisasi di mana dia berada. Dengan koleksi data tersebut, humas dapat merekomendasi komunikator yang tepat dan kredibel untuk menyampaikan pesan tertentu pada publik yang tepat, dengan media/saluran yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.
Dengan demikian, menurut Kusumastuti, Humas berarti penguasaan memilih komunikator, mengemas dan memilih pesan, merencanakan media, dan menentukan sasaran publik yang tepat. akurat, sesuai dengan kebutuhan organisasi dan publiknya.
Komunikasi humas juga mesti difokuskan pada tujuan terciptanya hubungan yang favourable bagi kepentingan kedua belah pihak, antara organisasi dengan publiknya. Itulah mengapa, istilahnya bukan Komunikasi Publik melainkan Hubungan Masyarakat (= publik).
4. Humas dan Organisasi
Don Barnes, seorang praktisi Public Relations kawakan dari Australia menyatakan bahwa setidaknya terdapat 4 fungsi humas dalam organisasi, yaitu:
1. Memberikan saran kepada pihak manajemen hal-hal yang berkaitan dengan berbagai kebijakan yang diambil, serta dampak dari kebijakan itu bagi publik.
2. Mengoordinasikan berbagai kegiatan komunikasi organisasi
3. Menyediakan sarana bagi upaya-upaya organisasi untuk berkomunikasi atau menjalin hubungan dengan publik
4. Mencari tahu/mencari informasi tentang opini publik terhadap organisasi (dikutip dalam Johnston dan Zawawi,2000:4)
Dari empat fungsi utama humas di atas, bisa disimpulkan bahwa kegiatan humas yang utama adalah merencanakan serta mengelola dengan baik segala kegiatan komunikasi organisasi sebagai upaya untuk menjalin hubungan timbal balik yang positif dengan publik.
Selain itu, kalau dicermati dengan lebih seksama, empat fungsi utama humas tersebut masih dapat dipersempit lagi menjadi 2 fungsi dasar yaitu:
❖ Humas sebagai penyampai informasi
Di sini humas bertugas untuk menyampaikan segala informasi penting mengenai organisasi kepada publik. Dengan penyampaian informasi ini diharapkan publik dapat memahami sudut pandang organisasi tentang suatu isu atau permasalahan tertentu.
❖ Humas sebagai pencari informasi
Di sini humas bertugas untuk mencari segala informasi yang berkenaan dengan opini publik (pendapat, keluhan, pemikiran, kritikan, pujian, kepuasan, dan sebagainya) tentang organisasi. Dengan mengetahui opini
publik secara pasti, humas dapat memberikan masukan kepada pihak organisasi berdasar pada opini tersebut, sehingga organisasi diharapkan tidak akan mengambil keputusan yang keliru yang akan merugikan posisi organisasi itu sendiri.
Dilihat dari dua fungsi dasar humas tersebut, tidak berlebihan kiranya jika banyak pihak menganalogikan fungsi humas sebagai sebuah jembatan yang berupaya menghubungkan dua pihak secara seimbang dan kokoh. Sebagai sebuah jembatan, dapat dimengerti pula kiranya bahwa humas sebenarnya merupakan sebuah profesi yang berupaya untuk dapat melayani dua kepentingan yang berbeda, yang sebisa mungkin dapat dipertemukan tanpa mengecewakan salah satu pihak. Sungguh suatu profesi yang tidak mudah serta butuh lebih dari sekedar wajah cantik yang berpenampilan menarik.
5. Humas dan Publik
Publik dan humas memiliki kaitan yang sangat erat. Itulah mengapa kajian humas dalam bahasa Inggris disebut sebagai kajian Public Relations, yang jika kita terjemahkan secara langsung berarti Hubungan (dengan) Publik. Johnston dan Zawawi (2000: 4) mendefinisikan publik secara cukup sederhana sebagai, ...any groups of people who share interests or concerns. (Publik adalah sekelompok orang yang memiliki kepentingan atau kepedulian yang sama).
Kepentingan atau kepedulian adalah baik organisasi maupun publik sama-sama memiliki suatu kepentingan akan sesuatu hal. Kepentingan publik terhadap organisasi bersifat khusus dan spesifik sehingga setiap organisasi memiliki publiknya sendiri yang acap kali berbeda dengan publik organisasi yang lain. Dari sini tampak bahwa publik memiliki arti yang lebih sempit jika dibandingkan dengan pengertian masyarakat yang biasanya memiliki arti lebih luas.
Selain itu, mereka yang berkecimpung dalam dunia kehumasan diharapkan memahami benar tentang konsep publik ini karena pada perkembangannya publik yang terorganisasi dengan baik bisa memunculkan opini publik. Seorang pakar Sosiologi John Dewey menyatakan bahwa ciri-ciri publik adalah:
• Ada permasalahan yang dihadapi bersama
• Permasalahan tersebut benar-benar ada dan harus diselesaikan
• Mengorganisir diri untuk melakukan sesuatu serta mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi (dikutip dalam Grunig dan Hunt, 1984:144) Ketika sebuah publik telah sadar sepenuhnya bahwa ada masalah atau kepentingan yang mengikat mereka bersama, biasanya publik akan mengorganisir diri. Pada tahap inilah Opini Publik akan muncul. Publik yang telah terorganisir dengan baik dengan sendirinya akan menjadi lebih kuat ketika menyuarakan opininya ke forum umum, sehingga Opini Publik yang solid bisa jadi akan mempengaruhi kebijakan dari para pengambil keputusan. Pada tahap inilah, opini publik yang kuat bisa merugikan keberadaan sebuah organisasi.
Sebagai ilustrasi begini: sebuah organisasi pengembang tanah X didemo warga desa di sekitar real estate yang dibangun oleh pengembang tersebut karena ditengarai ada kesalahan dalam pembangunan saluran airnya, sehingga di musim penghujan desa yang semula tidak pernah mengalami banjir kini mengalaminya.
Warga desa mengancam jika masalah ini tidak segera diselesaikan, maka pengembang X akan dilaporkan kepada pihak yang berwajib. Dari contoh sederhana ini tampak bahwa warga desa sekitar real estate tersebut adalah publik dari organisasi pengembang X. Mereka memiliki kepentingan terhadap organisasi pengembang X dalam kaitannya dengan kasus banjir yang menimpa desa mereka. Dengan adanya kasus banjir, pengembang X dan warga desa dipertemukan oleh sebuah kasus yang menjadi perhatian keduanya. Warga desa berkepentingan terhadap banjir, pengembang X berkepentingan karena adanya ancaman akan dipidanakan. Jika permasalahan dibiarkan berlarut-larut, publik yang telah mengorganisir diri ini akan berusaha sekuat tenaga agar opininya didengar dan diperhatikan oleh para pengambil kebijakan. Mereka bisa saja bekerja sama dengan media lokal untuk mengekspos kasus ini. Dalam kondisi seperti ini nama baik dan eksistensi organisasi menjadi terusik dan dipertaruhkan.
Perlu dicatat di sini bahwa keberadaan publik bagi organisasi tidaklah permanen. Publik bisa datang dan pergi kapan saja. Organisasi tidak selalu menghadapi publik yang sama terus menerus. Publik yang dihadapi oleh organisasi bisa berubah-ubah tergantung pada permasalahan yang ada. Oleh
karena itu, penting kiranya bagi petugas humas untuk memahami karakteristik berbagai macam jenis publik yang harus dihadapinya, karena salah satu fungsi humas yang cukup penting adalah mengidentifikasi siapa saja yang menjadi publik organisasi yang diwakilinya.