• Tidak ada hasil yang ditemukan

Monitoring dan Evaluasi Kebijakan Pendidikan

N/A
N/A
Pinta Tobing

Academic year: 2024

Membagikan "Monitoring dan Evaluasi Kebijakan Pendidikan"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

Contents

DAFTAR ISI...5

BAB 6. MONITORING EVALUASI KEBIJAKAN PENIDIKAN...5

A. Kosep Dasar Monitoring Evaluasi Kebijakan...5

1. Ruanglingkup Monitoring...5

2. Batasan Evaluasi Kebijakan...6

3. Tujuan Evalausi Kebijakan...7

4. Pentingnya Evaluasi...7

5. Tipe Evaluasi Kebijakan Pendidikan...8

B. Karakteristik Evaluasi Kebijakan Pendidikan...9

C. Metode Evaluasi Kebijakan...9

D. Peran Monitoring Evaluasi Kebijakan Pendidikan...10

E. Cakupan Evaluasi Kebijakan Pendidikan...11

F. Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat dalam Implenetasi Kebijakan Pendidikan...12

G. Aktor-Aktor Evaluasi Kebijakan Pendidikan...13

H. Dimensi Evaluasi Kebijakan...13

1. Evaluasi Kinerja Pencapaian Tujuan Kebijakan...14

2. Evaluasi Dampak Kebijakan...15

DAFTAR PUSTAKA...5

(2)

BAB 6. MONITORING EVALUASI KEBIJAKAN PENIDIKAN

A. Kosep Dasar Monitoring Evaluasi Kebijakan 1. Ruanglingkup Monitoring

Monitoring adalah fungsi manajemen yang dilakukan oleh seorang pimpinan selama kegiatan sedang berlangsung. Monitoring terdiri dari tiga komponen: (1) penelusuran pelaksanaan kegiatan dan keluarannya (output), (2) pelaporan kemajuan, dan (3) pengenalan masalah pengelolaan dan pelaksanaan.(Wrihatnolo, 2009).

Monitoring bertujuan untuk mendapatkan informasi untuk menjawab pertanyaan mengapa kebijakan atau program tertentu pada suatu titik dapat menghasilkan konsekuensi yang demikian kompleks, terutama yang berkaitan dengan mendapatkan premis faktual suatu kebijakan. Untuk melakukan ini, kita harus beralih dari apa yang kita lihat sekarang untuk memahami apa yang telah terjadi sebelumnya (expost facto).

Dunn (1981), mengemukakan bahwa monitoring berfungsi untuk:

A. Ketaatan (kesesuaian) menentukan apakah tindakan administrator, staf, dan semua yang terlibat mengikuti standar dan prosedur yang ditetapkan.

B. Pemeriksaan (auditing) menentukan apakah sumber daya dan layanan yang diberikan kepada target grup telah mencapai sasaran.

C. Laporan (accounting) menghasilkan informasi yang membantu menghitung hasil perubahan sosial dan masyarakat yang disebabkan oleh penerapan kebijakan dalam jangka waktu tertentu.

D. Penjelasan (penjelasan): menghasilkan data yang membantu menjelaskan bagaimana efek kebijakan dan mengapa perbedaan antara perencanaan dan pelaksanaan.

Rencana monitoring sebaiknya mencakup langkah-langkah sebagai berikut:

Langkah 1:

Tentukan kegiatan dan hasil utama yang harus monitoring. Kegiatan dapat difokuskan pada hal-hal seperti metode atau bahan ajar yang telah dikembangkan; sudahkan sekolah atau guru mengembangkan metode dan bahan ajar seperti yang telah ditetapkan, dan pastikan bahwa mereka menghasilkan metode dan bahan ajar yang sesuai.

Hal yang perlu diingat adalah jangan berusaha untuk monitoring semua aspek; yang penting adalah melacak apa yang telah dilakukan, keluaran apa yang dihasilkan, di mana, kapan, oleh siapa, dan untuk siapa. Setelah itu, hasil monitoring dibandingkan dengan rencana sebelumnya, selisih dilaporkan, dan penyebabnya dicari.

Cara penyimpanan data juga penting untuk mempermudah penyusunan laporan yang akurat dan tepat waktu dan untuk memungkinkan pemanfaatan data yang telah dikumpulkan secara rutin. Pilih format pelaporan yang tidak terlalu kompleks dan sertakan beberapa hasil dalam bentuk visual atau grafik.

(3)

Langkah 2:

Tentukan siapa yang akan melakukan monitoring dan kapan akan dilakukan. Untuk menjaga independensi, seharusnya pihak yang melakukan monitoring yang dimaksud di sini bukan pihak pengelola program langsung. Penerima manfaat program dan kegiatan dapat bekerja sama untuk melakukan pemantauan berdasarkan prinsip partisipasi. Untuk program jangka menengah atau jangka panjang, frekuensi tidak boleh lebih dari enam bulan sekali.

Langkah 3:

Pastikan siapa yang akan menerima laporan hasil monitoring. Sangat disarankan bahwa laporan hasil monitoring disebarkan tidak hanya kepada lembaga legislatif dan eksekutif tetapi juga kepada pihak-pihak pelaksana (seperti dinas pendidikan, depag, sekolah, guru, dan instansi pemerintah pusat) untuk meminta umpan balik. Buat pertemuan rutin untuk menilai kemajuan dan menentukan apakah rencana implementasi perlu diubah.

2. Batasan Evaluasi Kebijakan

Kata "evaluasi" berasal dari kata "penilaian", yang dapat diartikan sebagai "menilai,"

atau "menemukan," atau menentukan jumlah nilai. (AS Hornby, 1986). Anderson, (Arikonto dan Cepi Safruddin, 2009), melihat evaluasi sebagai proses menentukan hasil dari berbagai upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Definisi lain dikemukakan oleh Worthen dan Sanders (dalam dalam Arikonto dan Cepi Safruddin, 2009) yaitu aktivitas mencari informasi yang bermanfaat; ini juga termasuk mencari informasi yang berguna untuk menilai program, produksi, prosedur, dan alternatif pendekatan yang ditawarkan untuk mencapai tujuan tertentu.

Evaluasi didefinisikan sebagai fungsi manajemen yang dilakukan setelah waktu tertentu atau setelah suatu kegiatan selesai. Termasuk dalam evaluasi ini adalah beberapa kegiatan berikut: (a) Penilaian dampak kolektif dari semua (atau sebagian besar) kegiatan yang telah dilakukan, pada berbagai lokasi dan kelompok sasaran. (b) Deskripsi keluaran dan hasil atau manfaat dari perspektif penerima manfaat. (Wrihatnolo, 2009).

Fokus evaluasi kebijakan menentukan variasi evaluasi kebijakan. Kuantitas dan kualitas adalah dua dimensi yang sering mendapat perhatian. Berbeda dengan dimensi kualitatif, instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi dimensi kuantitatif termasuk tes standar, tes prestasi belajar, tes diagnostik, dan sebagainya. Sementara instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi dimensi kualitatif termasuk inventori, wawancara, catatan anekdot, dan sebagainya.

Kata "evaluasi" berasal dari bahasa Inggris " evaluation", yang berarti "penilaian atau penaksiran." Secara umum, evaluasi adalah tindakan yang direncanakan untuk mengetahui keadaan sesuatu objek dengan menggunakan instrumen dan membandingkan hasilnya dengan tolak ukur untuk mencapai kesimpulan. Suatu tindakan atau prosedur untuk menentukan nilai sesuatu disebut evaluasi. Budiardjo dalam Supandi (1988) menyatakan bahwa kebijakan adalah

(4)

sekumpulan keputusan yang diambil oleh seorang pelaku atau kelompok politik untuk memilih tujuan-tujuan tersebut; pada dasarnya, pihak yang membuat kebijakan memiliki kekuasaan untuk melaksanakannya.

Oleh karena itu, evaluasi kebijakan adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk menentukan apakah suatu kebijakan dapat diterapkan dan telah mencapai hasil yang diharapkan atau tidak. Sebagai contoh, kebijakaan pendidikan yang memuat aturan yang mengharuskan setiap mahasiswanya harus membayar SPP, Rp 120.000-, per semester. Karena salah satu mahasiswanya ada yang tidak mampu membayar sebesar itu, kemudian ia mengajukan keringanan biaya kepada pimpinan perguruan tinggi. Padahal, aturan perguruan tinggi tersebut menyebutkan, setiap mahasiswa harus mengikuti aturan yang dijunjung tinggi. Atas alasan – alasan pengajuan tersebut, pimpinan perguruan tinggi mengabulkan dengan cara, memberikan keringanan kepada mahasiswa.

3. Tujuan Evalausi Kebijakan

Evaluasi memiliki beberapa tujuan yang dapat dirinci sebagai berikut adalah sebagai berikut:

a. Menentukan tingkat kinerja kebijakan; evaluasi dapat menunjukkan seberapa baik kebijakan mencapai tujuan dan sasarannya.

b. Mengukur tingkat efisiensi kebijakan; evaluasi juga dapat menunjukkan biaya dan keuntungan dari kebijakan.

c. Mengukur tingkat keluaran (hasil). Salah satu tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui seberapa besar dan kualitas pengeluaran atau output yang dihasilkan oleh kebijakan.

d. Menghitung efek dari suatu kebijakan Pada tahap berikutnya, evaluasi bertujuan untuk mengevaluasi efek dari suatu kabijakan, baik positif maupun negatif.

e. Mengidentifikasi penyimpangan Dengan membandingkan tujuan dan sasaran dengan pencapaian target, evaluasi bertujuan untuk mengidentifikasi potensi penyimpangan.

f. Sebagai input untuk kebijakan perkawinan. Tujuan akhir dari evaluasi adalah untuk memberi masukan ke proses kabijakan berikutnya sehingga kebijakan yang lebih baik dapat dibuat.

Bahan baku, atau bahan mentah, yang digunakan sebagai input dalam sebuah sistem kebijakan disebut input. Sistem kebijakan dapat menghasilkan output seperti peraturan, kebijakan, pelayanan, dan program. Namun, hasil dari penerapan suatu kebijakan dalam jangka waktu tertentu disebut sebagai outcome. Akibat yang disebabkan oleh penerapan kebijakan pada masyarakat dikenal sebagai dampak.

4. Pentingnya Evaluasi

Evaluasi kebijakaan diperlukan dengan maksud (Imron, 2008) adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui apakah rumusan kebijakan dapat diterapkan atau tidak.

(5)

2. Mengetahui apakah rumusan kebijakan telah berhasil diterapkan.

3. Mengetahui kelebihan dan kekurangan rumusan kebijakan dalam kaitannya dengan faktor- faktor kondisional dan situasional di mana kebijakan diterapkan.

4. Mengetahui seberapa jauh implementasi kebijakan dapat dicapai.

5. Mengetahui keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kebijakan.

6. Mengetahui seberapa besar dampak yang ditimbulkan oleh suatu kebijakan terhadap khalayak yang dituju oleh kebijakan dan khalayak yang tidak dituju oleh kebijakan.

7. Mengetahui apakah risiko-risiko yang telah dipertimbangkan saat formulasi telah diatasi dengan baik atau tidak.

8. Mengetahui apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kebijaksaan.

5. Tipe Evaluasi Kebijakan Pendidikan

Adapun beberapa tipe evaluasi kebijakan pendidikan, diantaranya adalah:

Dintinjau dari segi waktu mengevaluasi

 Pandangan linier, evaluasi dilaksanakan setelah implementasi kebijakan.

 Pandangan Komprehensif, evaluasi dilaksanakan di hamper setiap tahap proses kebijakan.

Evaluasi dilaksanakan saat perumusan, legitimasi, komunikasi, implementasi, partisipasi dan terhadap evaluasi itu sendiri.

Ditinjau dari substansi evaluasi kebijakan pendidikan

 Evaluasi kebijakan pendidikan dasar

 Evaluasi kebijakan pendidikan menengah

 Evaluasi kebijakan pendidikan tinggi Ditinjau dari periodisasi evaluasi

 Evaluasi kebijakan pendidikan repelita keenam tahun pertama

 Evaluasi kebijakan pendidikan repelita keenam tahun kedua

 Evaluasi kebijakan pendidikan repelita keenam tahun keempat

 Evaluasi kebijakan pendidikan repelita keenam tahun terakhir Ditinjau dari kriteria avaluasi.

Evaluasi yang menggunakan kriterium, yaitu kriterium standard critrian reference dan kriterim norn critrian reference

 Ditinjau dari sasaran evaluasi

 Evaluasi dampak

 Evaluasi proses

 Dari segi kontinuitas

 Evaluasi Formatif

 Sumatif

(6)

Undeson (Imron, 2004: 88) menggolongkan evaluasi kebijakan menjadi evaluasi impresionistis, evaluasi operasional dan evaluasi simatis. Evaluasi kebijakan impresionistis adalah evaluasi yang didasarkan atas bukti-bukti yang bersifat anecdotal dan fragmentaris dan kepentingdipengaruhi oleh ideology dan kepentingan dan kriteria tertentu. Evaluasi kebijakan operasional adalah evaluasi yang diaksentuasikan pada masalah-masalah pelaksanaan kebijakan.

Evaluasi kebijakan sistematik adalah evaluasi yang didesain secara sistematis, evaluasi yang memperhatikan komponen system kebijkasaaan secara keseluruhan.

Menurut Dunn (1981) menggolongkan evaluasi menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut:

1. Evaluasi kebijakan semu adalah evaluasi yang mempersoalkan alat-alat evaluasinya dan tidak menyentuh sama sekali terhadap substansi yang di evaluasi.

2. Evaluasi kebijakan resmi adalah evaluasi yang mempersoalkan validitas, reabilitas, dan fisibilitas alat-alat evaluasi dan melihat substansi yang di evalusi.

3. Evaluasi berdasarkan teori keputusan, selain memperhatikan kesahihan dan keandalan juga mempertimbangkan harga atau nilainya bagi mereka yang terlibat dalam proses pembuatan keputusan.

B. Karakteristik Evaluasi Kebijakan Pendidikan

Adapun beberapa ciri khusus evaluasi kebijakan, diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Tidak bebas nilai, bahwa evaluasi kebijakan senantiasa menentukan harga dab nilai suatu kebijakan.

b. Berorientasi pada masalah, evaluasi kebijakan haruslah c. diaksentuasikan kepada masalah yang pernah dirumuskan atu d. diformulasikan.

e. c. Berorientasi pada masa lalu dan kini, menyatakan bahwa yang f. dievaluasi adalah sesuatu yang telah terjadi, dan yang terjadi g. senantiasa diperhatikan dan bahkan menjadi pusat perhatian.

h. d. Berorentasi pada dampak, evaluasi harus mengetahui apakah i. dampak yang ditimbulkan tersebut harus mengetahui apakah j. dampak yang ditimbulkan tersebut sesuai dengan yang k. diharapkan ataukah tidak.

C. Metode Evaluasi Kebijakan

Untuk melakukan evaluasi terhadap program yang telah diimplementasikan ada beberapa metode evaluasi, yakni:

1. Single program after-only 2. Single program before-after 3. Comparative after-only

(7)

4. Comparative before-after

Dalam evaluasi dampak program juga harus dicermati bahwa dampak yang terjadi betul- betul sebagai akibat dari program yang sedang dievaluasi, bukan dampak dari program lain. Bisa jadi dampak terjadi merupakan akumulasi dari berbagai program yang berdampingan atau bersinergi.

D. Peran Monitoring Evaluasi Kebijakan Pendidikan

Dalam analisis kebijakan, monitoring merupakan komponen metodologis yang penting.

Situasi masalah muncul ketika tindakan kebijakan diubah menjadi informasi tentang hasil kebijakan melalui pengawasan. Sistem dari berbagai masalah yang saling tergantung ini kemudian berubah menjadi masalah kebijakan melalui perumusan masalah. Dalam analisis kebijakan, pemantauan melakukan setidaknya empat peran, yaitu:

a. Kepatuhan (compliance): Pengawasan membantu menentukan apakah tindakan para pelaku kebijakan (administrator program, staf, dll) sesuai dengan standar dan prosedur yang dibuat oleh legislator.

b. Pemeriksaan (auditing): Pengawasan membantu menentukan apakah sumber daya dan pelayanan yang dimaksudkan untuk kelompok sasaran maupun konsumen tertentu memang telah sampai kepada mereka.

c. Akuntansi: Pengawasan menghasilkan informasi yang bermanfaat untuk menentukan apakah tindakan para pelaku kebijan

d. Eksplanasi: Monitoring mengumpulkan informasi yang dapat menjelaskan mengapa hasil- hasil program dan kebijakan publik berbeda.

Informasi ini membantu kita menemukan program dan kebijakan apa yang berfungsi dengan baik, bagaimana mereka diproses, dan mengapa informasi yang dibutuhkan untuk memantau kebijakan publik harus relevan, dapat diandalkan (reliable), dan valid. Dapat diandalkan mengandung arti bahwa observasi yang dilakukan saat memperoleh informasi harus dilakukan dengan cermat. Valid atau sahih berarti informasi tersebut memberikan informasi yang tepat tentang maksud kita. Sebagian informasi, seperti informasi tentang kependudukan dan karakteristik ekonomi, bersifat umum, sedangkan yang lain bersifat khusus untuk suatu wilayah, kota, atau subset masyarakat lainnya. Ada banyak sumber yang dapat Anda gunakan untuk mendapatkan informasi ini.

Informasi biasanya diperoleh dari arsip instansi atau badan terkait, yang terdiri dari buku, monograf, artikel, dan laporan tertulis dari para peneliti. Namun, dalam kasus di mana informasi dan data tidak tersedia dari sumber-sumber di atas, observasi lapangan, kuesioner, dan wawancara diperlukan. Dalam konteks evaluasi kebijakan pendidikan, pengertian kebijakan kebijakan di bidang pendidikan sering disebut dengan istilah perencanaan pendidikan (education planning), rencana induk pendidikan (master plan of education), pengaturan pendidikan (education regulation), dan kebijakan pendidikan (policy of education). Istilah-istilah ini

(8)

memiliki arti dan isi yang berbeda, tetapi maknanya sama. oleh istilah tersebut (Arif Rohman, 2009: 107-108).

Pengertian Kebijakan Pendidikan menurut (Riant Nugroho, 2008: 37) sebagai bagian dari kebijakan publik, yaitu kebijakan publik di bidang pendidikan. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan harus disesuaikan dengan kebijakan publik dalam konteks kebijakan publik secara keseluruhan, yaitu kebijakan pembangunan. Dalam konteks ini, kebijakan pendidikan dianggap sebagai kebijakan di bidang pendidikan untuk mencapai tujuan pembangunan Negara Bangsa di bidang pendidikan, sebagai salah satu bagian dari tujuan pembangunan Negara Bangsa secara keseluruhan.

Pengertian Kebijakan Pendidikan menurut Arif Rohman (2009: 108) kebijakan pendidikan merupakan bagian dari kebijakan Negara atau kebijakan publik pada umumnya.

kebijakan Pendidikan merupakan kebijakan publik yang mengatur khusus regulasi berkaitan dengan penyerapan sumber, alokasi dan distribusi sumber, serta pengaturan perilaku dalam pendidikan. Kebijakan pendidikan (educational policy) merupakan keputusan berupa pedoman bertindak baik yang bersifat sederhana maupun kompleks, baik umum maupun khusus, baik terperinci maupun longgar yang dirumuskan melalui proses politik untuk suatu arah tindakan, program, serta rencana-rencana tertentu dalam menyelenggarakan pendidikan.

Evaluasi kebijakan adalah suatu tindakan yang dimaksudkan untuk menilai hasil program pemerinyah yang berbeda dalam hal objek, teknik pengukuran, dan teknik analisis.

Perbedaan khusus dari objek dalam arti di atas mengacu pada substansi masalah kebijakan atau bidang, seperti perburuan, pendidikan, keamanan, dan luar negeri, antara lain. Perbedaan secara khusus dalam hal tekniknya mengacu pada berbagai metode penilaian, baik yang menghasilkan data kuantitatif maupun kualitatif, dan perbedaan secara khusus dalam hal metodenya mengacu pada seberapa efektif dan besar dampak yang ditimbulkan oleh penerapan kebijakan. Sangat jelas bahwa tujuan evaluasi kebijakan pendidikan adalah untuk mengetahui seberapa baik kebijakan tersebut memberikan dampak nyata terhadap khalayak dan memenuhi standar.

E. Cakupan Evaluasi Kebijakan Pendidikan

Implementasi kebijakan pendidikan berada ditingkat-tingkat nasional, wilayah dan daerah, maka setiap tingkatan tersebut evaluasi tersebut dilaksanakan. Organisasi pendidikan yang secara hierarkis mulai dari tingkat atas sampai dengan tingkat bawah, sama-sama mengadakan evaluasi atas kebijaksaan yang dibuat masing-masing. Apa saja yang dievaluasi sangat tergangtung kepada pendekatan yang dipakai.

a. Menurut pendekatan input keberhasilan kebijakan ditentukan oleh inputnya. Input pendidikan memang tidak boleh dianggap sama.

b. Menurut pendekatan transformasi atau proses, implementasi kebijakan Pendidikan bergantung kepada komponen – komponen trasnformasi yang ada di lembaga pendidikan.

(9)

c. Menurut pendekatan output adalah implementasi kebijakan pendidikan berkenan dengan beberapa output pendidikan telah terserap dengan baik, diakui mutunya oleh masyarakat serta mau belajar sepanjang hayat, sebagaimana misi hampir setiap usaha pendidikan.

F. Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat dalam Implenetasi Kebijakan Pendidikan

Guna melihat keberhasilan implementasi, dikenal beberapa model implementasi, antara lain model yang dikembangkan, Mazmanian dan Sabatier (Wibowo dkk, 1994: 25), menyatakan bahwa Implementasi kebijakan merupakan fungsi dari tiga variable yaitu:

a. Karakteristik masalah,

b. Struktur manajemenprogram yang tercermin dalam berbagaimacam peraturan yang mengoperasionalkan kebijakan,

c. Faktor-faktor di luar peraturan.

Karakterisitik masalah berkaitan dengan mudah tidaknya masalah yang akandigarap dikendalikan. Semakin mudah suatumasalah digarap dan dikendalikan maka akan diharapkan dengan mudah tercapai efektivitas dalam implementasinya. Struktur manajemen program tercermin dalam kemampuan keputusan kebijakan untuk menstrukturkan secara tepat proses implementasinya.

Terdapat sejumlah variabel diluar peraturan yang mempengaruhi prosesimplementasi, antara lain:

a. Kondisi sosial,ekonomi dan teknologi, b. Dukungan publik,

c. Sikap dan sumber-sumber yang dimilikikelompok-kelompok, d. Dukungan dari pejabat atasan,

e. Komitmen dan kemampuan kepemimpinan pejabat-pejaba pelaksana.

Van Horn dan VanMeter (1975: 447), dengan modelnya merumuskan sejumlah faktor yang mempengaruhi kinerja kebijakan adalah;

a. standar dan sasaran tertentu yang harus dicapai oleh para pelaksana kebijakan;

b. tersedianya sumber daya, baik yang berupa dana, tehnologi, sarana maupun prasarana lainnya;

c. komunikasi antara organisasi yang baik;

d. karakteristik birokrasi pelaksana;

e. kondisi sosial, ekonomi, dan politik.

Menurut Grindle (1980), implementasi ditentukan oleh isi (content) kebijakan dan konteks implementasinya. Dalam hal ini, Isi kebijakan mencakup:

a.Kepentingan yang terpengaruhi oleh kebijakan;

b.Jenis manfaat yang akan dihasilkan;

c.Derajat perubahan yang diinginkan;

(10)

d.Kedudukan pembuat kebijakan;

e.Siapa pelaksana program;

f. Sumber daya yang dikerahkan.

Sementara itu konteks kebijakan meliputi:

1) Kekuasaan, kepentingan dan strategi aktor yang terlibat 2) Karakteristik Lembaga dan penguasa,

3) Kepatuhan serta daya tanggap pelaksana.

Adapun problema yang dialami dalam aktivitas mengevalusai kebijakan, termasuk kebijakan pendidikan. Problema-problema tersebut adalah sebgai berikut:

a. Bila tujuan kebijaksaan tersebut tidak jelas.

b. Cepatnya perkembangan masyarakat yang menjadi sasaran c. kebijakan tersebut.

d. Tidak jelasnya masalah, sumber masalah dan kejala masalah.

e. Terkaitnya antara masalah satu dengan yang masalah yang lain.

f. Subyektifnya masalah kebijakan.

Adapun kendala kebijakan diindentifikasikan berbagai kendala dalam melakukan evaluasi kebijakan, yaitu:

a. Kendala psikologis. Banyak aparat pemerintah masih alergi terhadap kegiatan evaluasi, karena dipandang berkaitan dengan prestasi dirinya.

b. Kendala Ekonomis. Kegiatan evaluasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

c. Kendala teknis. Evaluator sering dihadapkan pada masalah tidak tersedianya cukup data dan informasi yang up to date.

d. Kendala Politis. Evaluasi sering terbentur dan bahkan gagal karena alasan politis.

e. Kendala Tersedianya Evaluator. Pada berbagai Lembaga pemerintah, kurang tersedia sumber daya manusia yang memiliki potensi melakukan evaluasi.

G. Aktor-Aktor Evaluasi Kebijakan Pendidikan

Keterlibatan pembuat dan pelaksana dalam evalusi kebijakan ini bergantung kepada corak hubungan antara pembuat dan pelaksana kebijakan. Keterlibatan administrator dalam evaluasi kebijakan, umumnya berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh pelaksana kebijakan.

Pertanggungjawaban hasil evaluasi kebijaksanaaan secara formal dan legal ada ditangan pelaksana meskipun secara materil berada ditangan administrator. Keterlibatan aktor-aktor kebijakan yang bersifat formal umumnya berada di luar gelanggang arena.

Media masa seringkalai menjadi mediator dalam penilaian yang dilakuakan oleh peserta- peserta kebijakan tidak formai ini. Dengan demikian hasil penilaian tersebut akirnya juga sampai kepada pelaksana. Aktor-aktor formal dan aktor-aktor non formal tersebut bekerja sama dalam suatu forum.

(11)

H. Dimensi Evaluasi Kebijakan

Secara garis besar ada dua dimensi penting yang harus diperoleh informasinya dari studi dievaluasi dalam kebijakan publik. Dimensi tersebut adalah:

1. Evaluasi Kinerja Pencapaian Tujuan Kebijakan

Evaluasi kinerja pencapaian tujuan kebijakan, yakni mengevaluasi kinerja orang-orang yang bertanggungjawab mengimplementasikan kebijakan. Darinya kita akan memperoleh jawaban atau informasi mengenai kinerja implementasi, efektifitas dan efisiensi, dlsb yang terkait. Tahap akhir proses kebijakan adalah penilaian mengenai apa yang telah terjadi sebagai akibat pilihan dan implementasi kebijakan, dan apabila dipandang perlu, dapat dilakukan perubahan terhadap kebijakan yang telah dilakukan. Menghasilkan evaluasi yang akurat bukanlah pekerjaan mudah, apalagi untuk merubah kebijakan bila ditemukan kesalahan yang memerlukan perbaikan segera.

Pada tahap evaluasi, hasil evaluasi akans sangat berguna bagi pemerintah terutama untuk menentukan apakah kebijakan atau program tersebut dapat dilanjutkan, di determinate, atau direvisi atau dimodifikasi. Kegiatan evaluasi bukanlah kegiatan yang mudah dilakukan. Berbagai kendala yang menghambat evaluasi adalah (Peters,1985,146-157), sebagai berikut:

a. Kebijakan publik kadang tidak memiliki tujuan yang jelas, yang diakibatkan dari pertimbangan politis. Ketidakjelasan tujuan meliputi:

 tujuan yang tidak mungkin dicapai;

 tujuan yang kontradiktif;

 tujuan yang terlalu sempit atau terlalu spesifik; dan

 tujuan antara atau tujuan sementara.

b. Pengukuran (measurement), menyangkut pada penggunaan konsep tertentu sebagai suatu alat untuk mengukur keberhasilan atau kegagalan suatu program.

c. Misalnya persoalan efisiensi: perbandingan cost-benefit atau input output, sangat sulit untuk mengukur cost maupun benefit khususnya untuk persoalan sosial. Contoh lain persoalan efektivitas: sulit dilihat khususnya yang menyangkut kualitasnya.

d. Kelompok sasaran (target groups), yang perlu diperhatikan adalah program meskipun berdampak pada keseluruhan populasi sasaran, tetapi belum tentu memiliki dampak terhadap kelompok sasaran. Seringkali terjadi justru bukan kelompok sasaran yang memperoleh manfaat program tetapi kelompok lain dalam populasi tersebut, yang kadang disebabkan bias birokrasi.

e. Sistem nilai yang berkembang di masyarakat. Seorang analis kebijakan terkadang sulit untuk menterjemahkan sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat. Padahal pertimbangan system nilai tidak dapat diabaikan dalam melakukan evaluasi kebijakan.

Secara khusus evaluasi implementasi menurut Ripley (1985:144) adalah, sbb:

(12)

a. ditujukan untuk melakukan evaluasi terhadap proses;

b. menambah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab pada perspektif apa yang terjadi dan perspektif kepatuhan; dan

c. ditujukan untuk melakukan evaluasi aspek-aspke dampak kebijakan yang terjadi dalam jangka pendek.

Dapat disimpulkan bahwa evaluasi implementasi mempunyai beberapa kegunaan yaitu:

a. Untuk menggambarkan realitas yang muncul dengan pola-pola sejauh dapat dilakukan

b. Menjelaskan pola-pola yang ada termasuk berbagai pengaruh yang ada, arah, dan hubungan sebab akibat dari berbagai pengaruh tersebut

c. Untuk melakukan evaluasi terhadap berbagai aspek proses implementasi pada fase awal program dilaksanakan; bagaimana pencapaian terhadap tujuan yang telah ditetapkan;

bagaimana cara menghadapi perbedaan dari berbagai harapan dan tujuan.

Evaluasi implementasi akan mencapai hasil yang memuaskan apabila dapat dipenuhi berbagai aitribut yang diperlukan sebagaimana penjelasan Ripley (1985) sebagai berikut;

a. Perlu adanya berbagai studi terhadap berbagai macam program atau kebijakan yang ada sehingga akan dapat digunakan sebagai bahan perbandingan

b. Perlu adanya petugas lapangan yang cukup pada berbagai lokasi penelitian dan sumber- sumber informasi yang diwawancarai harus berasal dari berbagai sumber

c. Wawancara akan lebih baik jika dilakukan dengan system terbuka dan tertutup sekaligus d. Dalam pelaksanaan evaluasi yang berskala besar, kelompok pengevaluasi dapat tinggal

bersama dalam kelompok kecil dalam mengunjungi sumber-sumber informasi.

e. Kondisi organisasi pengevaluasi (evaluator) yang dapat membantu keberhasilan pelaksanaan evaluasi.

2. Evaluasi Dampak Kebijakan

Evaluasi dampak (evaluation of impact) berbeda dengan evaluasi implementasi dalam hal waktu. Evaluasi dampak hanya dapat dilakukan secara memuaskan apabila program telah dilaksanakan secara lengkap dan berjalan dalam waktu yang relative lama. Kebijakan hanya akan terlihat dampaknya apabila telah cukup lama diimplementasikan dalam masyarakat. Dampak atau hasil-hasil kebijakan memiliki makna atau arti yang berlainan. Pemberian arti sangat tergantung siapa aktor yang menafsirkan arti dampak tersebut sesuai dengan latar belakang kepentingan mereka. Secara konseptual, dampak kebijakan akan dicari dengan pertanyaan, apa yang telah dicapai dari suatu program? Evaluasi dampak sering bersifat terlalu ilmiah dan cenderung mengabaikan realitas. Sebagai akibatnya akan muncul beberapa tipe evaluasi yang terlalu baik tapi justru mengandung kelemahan antara lain anekdot murni; menampilkan data statistic terlalu rinci; berbagai analisis tanpa kesimpulan; argumentasi ahli; dan dominasi intuisi. Menurut Ripley (1985) ada empat dimensi yang berkaitan dengan dampak yaitu: waktu; hubungan antara dampak

(13)

yang sebenarnya dengan dampak yang ingin dicapai; akumulasi dampak; dan tipe dampak (kesejahteraan ekonomi; pembuatan keputusan; sistem politik; kualitas kehidupan). Untuk membuat desain evaluasi, maka dapat digunakan evaluasi formatif yang merupakan bagian dari penelitian evaluasi yang dilaksanakan pada awal program dilaksanakan dan biasanya dilakukan bersama-sama dengan evaluasi implementasi. Desain evaluasi formatif berisi tentang tujuan yang erat dengan evaluasi implementasi; mengidentifikasi sumber-sumber pembuat tujuan program;

pelaksanaan evaluasi dengan fokus analisis pada salah satu tujuan yang ingin diwujudkan dari program; dan mengorganisasi

petugas lapangan. Evaluasi kebijakan dan dampaknya, yakni mengevaluasi kebijakan itu sendiri serta kandungan programnya. Darinya kita akan memperoleh informasi mengenai manfaat (efek) kebijakan, dampak (outcome) kebijakan, kesesuaian kebijakan/ program dengan tujuan yang ingin dicapainya (kesesuaian antara sarana dan tujuan), dll.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Evaluasi konteks kebijakan ini memiliki dasar yang jelas sejak awal disusun berdasarkan fakta dari dinas pendidikan, kemudian

Mempelajari konsep dasar pengukuran, asesmen dan evaluasi pendidikan teknologi kejuruan dan penerapannya, agar mampu menyusun instrumen asesmen,

Dokumen tertulis yang berisi laporan hasil evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan baik berupa evaluasi untuk meningkatkan.. produk/proses, maupun evaluasi yang bertujuan

Monitoring dan evaluasi dilaksanakan dengan tujuan:  Sebagai alat pengambil kebijakan untuk mengembang kan kebijakan, program, dan kegiatan sesuai1. dengan kebutuhan lapangan

Evaluasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan monitoring karena informasi yang dihasilkan dari kegiatan monitoring dijadikan dasar untuk menilai

Dari pembahasan mengenai monitoring dan evaluasi KJP Plus di Wilayah Jakarta Pusat maka disimpulkan Kebijakan Bantuan Biaya Personal Pendidikan melalui Kartu

Monitoring pelaksanaan evaluasi dan pengolahan data Monitoring adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memberikan informasi tentang sebab dan akibat kebijakan yang berfokus

Dokumen berisi tentang penjelasan mengenai perbedaan antara monitoring dan evaluasi dalam organisasi sektor publik, cakupan pengawasan intern pemerintah, dan konsep pengendalian yang menggunakan metode pemecahan masalah dan perbaikan