• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAKET INSTRUKSI HUKUM HUMANITER

N/A
N/A
ardi sho

Academic year: 2024

Membagikan "PAKET INSTRUKSI HUKUM HUMANITER "

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

PAKET INSTRUKSI

HUKUM HUMANITER

(PEGANGAN TENAGA PENDIDIK)

PENDIDIKAN LATIHAN DASAR KEMILITERAN KOMPONEN CADANGAN

SURABAYA 2022

(2)

RENCANA PEMBELAJARAN

1. Judul : Hukum Humaniter

2. 2. Tujuan Pelajaran : Membekali para siswa Komponen cadangan dengan mata pelajaran Hukum Humaniter agar memiliki pengetahuan tentang kombatan dan non kombatan, Sasaran yang boleh diserang dan tidak boleh diserang, dasar dan prinsip penggunaan senjata serta perlakuan terhadap tawanan perang dan korban perang, sehingga dapat digunakan sebagai pedoman dan pegangan Komponen Cadangan dalam pelaksanaan tugas di satuan jajaran TNI.

3. Sasaran Pelajaran : Selesai pelajaran ini para siswa diharapkan dapat : a. Mengerti tentang hukum humaniter secara umum dengan baik dan benar.

b. Mengerti tentang kombatan dan non kombatan dengan baik dan benar.

c. Mengerti tentang sasaran yang boleh diserang dan tidak boleh diserang dengan baik dan benar

d. Mengerti tentang dasar dan prinsip penggunaan senjata dengan baik dan benar.

e. Mengerti tentang perlakuan terhadap tawanan perang dan korban perang dengan baik dan benar.

4. Lama Pelajaran : 10 Jam Pelajaran.

b. Praktek : -

5. Kepustakaan : Hanjar Hukum Humaniter Kodiklatad

(3)

DAFTAR PROGRAM PEMBELAJARAN

NO BAB POKOK AJARAN WAKTU TEMPAT METODE

1 I PENDAHULUAN

1. Umum

2. Maksud dan Tujuan 3. Ruang Lingkup 4. Referensi

45 menit

Kelas a. Ceramah b. Tanya jawab

II KOMBATAN DAN NON KOMBATAN 1. Umum

2. Kombatan 3. Non Kombatan

45 menit

Kelas a. Ceramah b. Tanya jawab III SASARAN YANG BOLEH

DISERANG DAN YANG TIDAK BOLEH DISERANG

1. Umum

2. Prinsip Hukum Humaniter 3. Metode Berperang

4. Sasaran yang boleh di serang 5. Sasaran yang tidak boleh diserang 6, Tanda-tanda Perlindungan

180 menit

Kelas a. Ceramah b. Tanya jawab

IV PENGGUNAAN SENJATA 1. Umum

2. Dasar Hukum Penggunaan Senjata

3. Prinsip-prinsip Penggunaan Senjata

180 menit

Kelas a. Ceramah b. Tanya jawab

V PERLAKUAN TERHADAP

TAWANAN PERANG DAN ORBAN PERANG

1. Umum

2. Tawanan Perang dan Kombatan yang Tertangkap

3. Orang-orang yang luka, sakit dan korban Kapal karam

4. Orang-orang yang Meninggal dan Hilang

180 menit

Kelas a. Ceramah b. Tanya jawab c. Praktek

PROGRAM PEMBELAJARAN

(4)

1. Bab I : Pendahuluan

2. Sasaran Pelajaran : Selesai pelajaran ini diharapkan siswa dapat:

- Mengerti tentang pengertian hukum humaniter secara umum dengan baik dan benar.

3. Waktu Pembahasan

a. Teori : 1 Jam Pelajaran b. Praktek : - Jam Pelajaran 4. Tempat Pelajaran : Kelas Kodikmar.

5. Penugasan Siswa : Membaca dan mempelajari materi pelajaran Bab I dan membuat ringkasan.

(5)

BAB I PENDAHULUAN

1. Umum.

a. Sistem pertahanan Indonesia dalam menghadapi ancaman militer menempatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai komponen utama dengan didukung oleh komponen cadangan dan komponen pendukung. Selaras dengan Undang-Undang RI Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2019 tentang Pemanfaatan Sumber Daya Nasional (PSDN) juga mengatur tentang komponen cadangan. Komponen cadangan adalah sumber daya nasional yang telah disiapkan untuk dikerahkan melalui mobilisasi guna memperbesar dan memperkuat kekuatan dan kemampuan komponen utama.

b. Komponen cadangan yang senantiasa disiapkan untuk dikerahkan melalui mobilisasi guna memperbesar dan memperkuat kekuatan dan kemampuan komponen utama (TNI) dalam menghadapi ancaman militer dan ancaman hibrida, maka diperlukan pemahaman terhadap Hukum Humaniter dalam rangka pelaksanaan tugasnya. Tiap penggunaan kekuatan bersenjata senantiasa harus dijamin adanya landasan hukum baik penggunaan kekuatan dalam konflik bersenjata internasional maupun non internasional, karena dari kedua situasi konflik tersebut berbeda dalam hal ketentuan hukum yang berlaku.

c. Hukum Humaniter adalah bagian dari hukum Internasional publik yang diinspirasikan oleh rasa kemanusiaan dan difokuskan pada perlindungan individu pada waktu perang sebagai norma hukum yang berlaku pada saat konflik bersenjata, maka hal ini harus dipedomani oleh komponen cadangan sehingga dapat menghindari terjadinya pelanggaran Hukum Humaniter, dapat menjamin kredibilitas operasi dan terhindar dari tuntutan hukum sebagai penjahat perang.Dalam rangka memberikan bekal pengetahuan tentang Hukum Humaniter yang sangat berguna dalam pelaksanaan tugas nantinya, maka perlu disusun bahan ajaran (hanjar) untuk diajarkan materi pelajaran Hukum Humaniter kepada Siswa Pendidikan Komponen Cadangan (Siswa Dikkomcad).

2. Maksud dan Tujuan.

(6)

a. Maksud. Naskah Sekolah ini disusun dengan maksud untuk dijadikan sebagai bahan ajaran bagi Siswa Pendidikan Komponen Cadangan (Siswa Dikkomcad).

b. Tujuan. Agar Siswa Pendidikan Komponen Cadangan (Siswa Dikkomcad) mengetahui tentang Hukum Humaniter sebagai bekal dalam pelaksanaan tugas yang akan datang.

3. Ruang Lingkup dan Tata Urut. Naskah Sekolah Hukum Humaniter ini meliputi kombatan dan non kombatan, sasaran yang boleh diserang dan tidak boleh diserang, penggunaan senjata dan perlakuan terhadap tawanan perang dan korban perang yang disusun dengan tata urut sebagai berikut:

a. Pendahuluan.

b. Kombatan dan Non Kombatan.

c. Sasaran yang boleh Diserang dan Tidak Boleh Diserang.

d. Penggunaan Senjata.

e. Perlakuan Terhadap Tawanan Perang dan Korban Perang.

f. Penutup.

4. Referensi.

a. Konvensi Jenewa 1949.

b. Konvensi Den Haag Tahun 1907.

c. Pengantar Hukum Humaniter, ICRC Jakarta 1999.

(7)

PROGRAM PEMBELAJARAN

1. Bab II : Kombatan dan Non Kombatan

2. Sasaran Pelajaran : Selesai pelajaran ini diharapkan siswa dapat:

- Mengerti tentang pengertian kombatan dan non kombatan dengan baik dan benar.

3. Waktu Pembahasan

a. Teori : 1 Jam Pelajaran b. Praktek : - Jam Pelajaran 4. Tempat Pelajaran : Kelas Kodikmar.

5. Penugasan Siswa : Membaca dan mempelajari materi pelajaran Bab II dan membuat ringkasan.

(8)

BAB II

KOMBATAN DAN NON KOMBATAN

1. Umum. Pemahaman terhadap pembedaan antara kombatan dan non kombatan sangatlah penting karena apabila terjadi perang maka konsekuensi hukum terhadapnya sangatlah berbeda. Karena status seseorang yang pada prinsipnya merupakan seorang kombatan, akan berubah menjadi non kombatan bila persyaratan untuk menjadi seorang non kombatan dia kerjakan. Begitu pula sebaliknya seorang non kombatan bisa berubah setiap saat menjadi kombatan, dengan catatan dia sengaja melakukan kegiatan yang termasuk dalam kategori seorang kombatan.

2. Kombatan.

Kombatan atau pejuang adalah status hukum seseorang yang memiliki hak untuk terlibat dalam peperangan selama konflik bersenjata internasional. Definisi hukum

"pejuang" tercantum di pasal 43 (2) dalam Protokol Tambahan I dari Konvensi Jenewa 1949. Disebutkan bahwa anggota angkatan bersenjata suatu pihak yang terlibat konflik (kecuali tenaga medis dan rohaniwan seperti yang termaktub dalam Pasal 33 Konvensi Jenewa Ketiga) adalah pejuang, yang artinya bahwa mereka memiliki hak untuk berpartisipasi langsung dalam peperangan.

Di samping memiliki hak untuk berpartisipasi dalam peperangan, kombatan juga memiliki hak sebagai tahanan perang ketika ditangkap selama konflik bersenjata internasional.[ Semua kombatan diwajibkan untuk mematuhi aturan hukum internasional yang berlaku dalam konflik bersenjata, pelanggaran aturan ini tidak akan merampas hak kombatan untuk menjadi kombatan atau jika seorang kombatan jatuh ke dalam kekuasaan pihak musuh, adalah haknya untuk menjadi tawanan perang.

Selain kombatan di dalam Hukum Humaniter juga dikenal dengan istilah belligerents.

Yang termasuk ke dalam belligerents adalah sebagai berikut:

a. Angkatan bersenjata dari pihak yang bersengketa.

b. Milisi atau korps relawan yang bukan bagian dari angkatan bersenjata namun beroperasi bagi kepentingan salah satu pihak yang bersengketa. Dalam pasal 1 Lampiran Konvensi Den Haag IV mengatur tentang siapa saja yang

(9)

termasuk belligerents, yaitu tentara. Pasal ini juga mengatur mengenai syarat- syarat yang harus dipenuhi oleh kelompok milisi dan korps sukarela sehingga mereka bisa disebut sebagai kombatan, yaitu:

1) Dipimpin oleh seorang yang bertanggung jawab atas bawahannya.

2) Memakai tanda/emblem yang dapat dilihat dari jauh.

3) Membawa senjata secara terbuka.

4) Melaksanakan operasinya sesuai dengan hukum dan kebiasaan perang.

c. Levee en masse, menurut pasal 1 Lampiran Konvensi Den Haag IV yaitu mereka merupakan penduduk dari wilayah yang belum diduduki secara spontan mengangkat senjata atau melakukan perlawanan terhadap musuh yang akan memasuki tempat tinggal mereka dan oleh karena itu, mereka tidak memiliki waktu untuk mengatur (mengorganisir) diri, mereka menghormati (mentaati) hukum dan kebiasaan perang serta mereka membawa senjata secara terang-terangan.

3. Non kombatan.

Non kombatan adalah jargon dalam hukum perang atau yang disebut dengan Hukum Humaniter Internasional menggambarkan warga sipil yang tidak mengambil bagian langsung dalam permusuhan. Seperti petugas medis di pertempuran dan pemuka agama yang tergabung dengan militer bersenjata yang berperang tetapi dilindungi karena tugas khusus mereka, kombatan yang tidak dapat bertempur lagi dan warga negara netral (termasuk personil militer) yang tidak berjuang untuk salah satu pihak yang terlibat perang dalam konflik bersenjata.

Seseorang yang berstatus sebagai non kombatan adalah seseorang yang menjadi anggota angkatan bersenjata, namun tidak ikut serta di dalam pertempuran seperti anggota dinas kesehatan dan dapur umum, rohaniwan, dan sebagainya. Mereka ini bukan penduduk sipil, akan tetapi anggota angkatan bersenjata, hanya saja tidak bertugas di medan pertempuran. Apabila mereka tertangkap pihak musuh, status mereka adalah sebagai tawanan perang dan berhak diperlakukan dan dilindungi berdasarkan Konvensi Jenewa III tahun 1949 mengenai perlakuan terhadap tawanan perang. Namun, jika situasi menghendaki, mereka bisa saja ditugaskan di medan pertempuran, dan jika demikian maka mereka adalah kombatan.

(10)

Seorang pilot dan/atau awak pesawat yang melakukan terjun payung dari pesawat dalam keadaan kesulitan tidak bisa diserang terlepas dari dimana wilayah mereka. Jika pilot dan atau awak pesawat mendarat di wilayah yang dikuasai oleh musuh, mereka harus diberi kesempatan untuk bersiap mendarat sebelum diserang kecuali saat mereka jelas terlibat dalam situasi tindakan bermusuhan atau mencoba melarikan diri.

Pasukan udara yang turun dengan parasut dari pesawat terbang, apakah itu dinonaktifkan atau tidak, tidak diberikan perlindungan karena itu, mungkin akan diserang selama turunnya mereka kecuali mereka kombatan yang tidak dapat lagi bertempur (menurut pasal 42 dari Protokol Tambahan I). Meskipun tidak semua negara telah meratifikasi Protokol Tambahan I tetapi ketentuan ini menegaskan ada hukum adat perang yang mengikat semua pihak yang berperang dalam konflik internasional.

Non kombatan atau orang yang tidak ikut aktif dalam permusuhan dalam segala situasi harus diperlakukan secara manusiawi, dengan larangan berikut:

a. Kekerasan terhadap kehidupan dan manusia, dalam pembunuhan khususnya dari semua jenis kelamin, mutilasi, perlakuan kejam dan penyiksaan.

b. Mengambil sebagai sandera.

c. Atas martabat pribadi, dipermalukan tertentu dan merendahkan martabat.

d. Mengabaikan kalimat dan melaksanakan eksekusi tanpa pengadilan sebelumnya yang diucapkan oleh pengadilan secara teratur, menyelenggarakan semua jaminan peradilan yang diakui sebagaimana yang sangat diperlukan oleh masyarakat beradab.

(11)

PROGRAM PEMBELAJARAN

1. Bab III : Sasaran yang boleh diserang dan yang tidak boleh diserang

2. Sasaran Pelajaran : Selesai pelajaran ini diharapkan siswa dapat:

- Mengerti tentang Sasaran yang boleh diserang dan yang tidak boleh diserang dengan baik dan benar.

3. Waktu Pembahasan

a. Teori : 1 Jam Pelajaran b. Praktek : - Jam Pelajaran 4. Tempat Pelajaran : Kelas Kodikmar.

5. Penugasan Siswa : Membaca dan mempelajari materi pelajaran Bab III dan membuat ringkasan.

(12)

BAB III

SASARAN YANG BOLEH DISERANG DAN TIDAK BOLEH DISERANG

1. Umum. Sengketa bersenjata pada zaman modern dewasa ini menjadi semakin kompleks. Perkembangan teknis persenjataan sangatlah pesat dengan kekuatan, kecepatan, ketepatan, serta jangkauan dari senjata-senjata yang bersifat menghancurkan yang sangat dahsyat, dan juga penelitian di bidang teknologi persenjataan, terutama oleh negara-negara maju tidak pernah berhenti berkembang seiring kemajuan zaman. Dalam rangka mengurangi terjadinya kerusakan ikutan dan kerugian insidental yang tidak diinginkan serta tidak diperlukan akibat penggunaan senjata-senjata yang sangat dahsyat daya gempurnya, maka harus dibatasi dengan jelas dan tegas antara sasaran yang boleh diserang dengan sasaran yang tidak boleh diserang.

2. Prinsip-Prinsip Hukum Humaniter. Sebelum membahas mengenai sasaranyang boleh diserang dan yang tidak boleh diserang, kita harus memahami prinsip- prinsip yang terdapat dalam Hukum Humaniter. Prinsip-prinsip ini menjadi pedoman atau dasar dalam pelaksanaan suatu peperangan, adapun prinsip-prinsip dalam penerapan Hukum Humaniter sebagai berikut:

a. Kepentingan Militer (military necessity). Prinsip kepentingan militer menyatakan bahwa seorang kombatan dibenarkan untuk melakukan tindakan yang tidak dilarang menurut hukum internasional, yang sangat diperlukan agar musuh menyerah secara total secepat mungkin. Kepentingan militer mempersyaratkan pasukan tempur hanya melakukan tindakan-tindakan yang perlu untuk merebut, menduduki atau menghancurkan suatu sasaran militer yang sah. Kepentingan mliter mengijinkan untuk membunuh kombatan musuh dan orang-orang lainnya yang kematiannya tidak bisa dielakkan, memperbolehkan penghancuran harta benda jika hal itu sangat diperlukan untuk kepentingan perang.

Penghancuran harta benda semata-mata merupakan pelanggaran hukum internasional. Harus terdapat hubungan yang erat dan masuk akal antara penghancuran harta benda dengan upaya untuk mengalahkan pasukan musuh;

(13)

b. Penderitaan yang tidak perlu (unnecessary suffering). Prinsip ini melarang penggunaan sarana atau cara berperang yang diperkirakan menimbulkan penderitaan yang berlebihan. Penderitaan, cedera atau penghancuran yang sama sekali tidak diperlukan untuk merebut, menguasai, menduduki atau menghancurkan sasaran-sasaran militer yang sah tidak diperbolehkan. Prinsip ini mempersyaratkan agar penderitaan yang tidak perlu, cedera yang terjadi secara insidentil dan kerusakan ikutan terhadap harta benda dihindarkan.

c. Prinsip Proporsionalitas (proportionality). Prinsip ini berkaitan dengan pengurangan cedera yang terjadi secara insidentil yang disebabkan operasi militer.

Proporsionalitas mempersyaratkan bahwa hilangnya nyawa dan kerusakan terhadap harta benda sebagai akibat dari kegiatan operasi militer harus berimbang (tidak berlebihan) dibandingkan dengan keuntungan militer yang diperkirakan.

Prinsip proporsionalitas tidak hanya mempersyaratkan bahwa pihak yang melakukan serangan harus menilai tindakan mereka dengan penuh kehati-hatian atau langkah pencegahan yang harus diambil untuk mengurangi kerugian insidentil, tetapi juga harus melakukan pilihan atas metode atau poros-poros serangan yang paling tepat untuk mencapai kemenangan militer dengan tingkat kehancuran yang sekecil mungkin.

d. Prinsip Pembedaan (distinction) atau Non Diskriminasi. Walau prinsip pembedaan bukan merupakan prinsip dasar, tetapi prinsip ini berkaitan dengan ketiga prinsip dasar diatas. Prinsip pembedaan mengandung dua komponen, yaituvpembedaan antara kombatan dan non kombatan dan pembedaan antara sasaran-sasaran militer yang sah dengan obyek-obyek sipil. Operasi militer hanya ditujukan terhadap pasukan angkatan bersenjata musuh dan obyek-obyek militer.

Non kombatan dan obyek-obyek sipil harus dilindungi dari serangan karena mereka bukan sasaran yang sah.

3. Metode Berperang. Selain prinsip-prinsip, Hukum Humaniter juga mengatur metode atau cara berperang yang benar menurut aturan hukum. Adapun metode berperang yang terdapat dalam Hukum Humaniter adalah sebagai berikut:

a. Gerak Tipu. Diperbolehkan melakukan gerak tipu dalam peperangan dan penerapan langkah-langkah yang diperlukan untuk mendapatkan informasi tentang musuh/ negara musuh. Gerak tipu digunakan untuk memperoleh keuntungan

(14)

dengan memperdaya pihak musuh. Gerak tipu yang sah termasuk pendadakan, penyergapan, kamuflase, perangkap, operasi pura-pura dan memutar-balikan informasi.

b. Dilarang Melakukan Perbuatan Licik (Perfidy). Yang dimaksud dengan perbuatan licik yaitu memberikan keyakinan pada musuh, dengan maksud mengkhianati keyakinan tersebut, sehingga pihak musuh meyakini akan adanya hak atau kewajiban untuk memberikan perlindungan menurut hukum perang, tetapi sesungguhnya perbuatan tersebut merupakan suatu khianat perang. Perbuatan licik yaitu antara lain:

1) Berpura-pura bermaksud untuk melakukan perdamaian dengan membawa bendera gencatan senjata atau menyerah.

2) Berpura-pura tidak berdaya karena luka atau sakit;

3) Berpura-pura berstatus sebagai orang sipil atau non kombatan.atau 4) Berpura-pura berada dalam status perlindungan dengan menggunakan lambang, tanda dan simbol perlindungan atau menggunakan seragam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau Negara netral atau Negara lain yang tidak terlibat dalam sengketa.

c. Penggunaan yang Tidak Benar Dari Simbol dan Tanda Perlindungan.

Tidak dibenarkan menyalahgunakan dengan sengaja simbol pembeda Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, bendera gencatan senjata dan tanda perlindungan untuk benda-benda budaya serta tanda pembeda yang dimiliki PBB. Dalam suatu sengketa bersenjata dilarang menggunakan bendera, simbol militer, tanda pangkat atau badge atau seragam dari negara netral atau negara lain yang tidak terlibat dalam sengketa. Juga dilarang menggunakan bendera, simbol militer, tanda pangkat/budge atau seragam dari pihak musuh pada saat melakukan penyerangan atau untuk menjadikannya sebagai tameng, keuntungan, perlindungan atau menghambat operasi militer. Setiap prajurit yang tertangkap sedang melakukan pengumpulan keterangan intelijen (operasi intelijen), tetapi tidak menggunakan seragam militer akan diperlakukan sebagai mata-mata, dan diadili atas perbuatannya sebagai kriminal serta tidak mendapat status tawanan perang.

(15)

d. Keharusan Memberi Tempat Berteduh/Tempat Perlindungan (Quarter).

Dilarang untuk mengeluarkan perintah tidak ada tawanan yang akan dibawa, mengancam musuh dengan perintah tidak ada tawanan atau melakukan pertempuran dengan memerintahkan meniadakan sama sekali tawanan.

e. Kelaparan dan Pemusnahan. Membuat kelaparan orang-orang sipil sebagai cara dalam berperang dilarang. Obyek-obyek yang sangat vital bagi kelangsungan hidup penduduk sipil seperti makanan, daerah pertanian, peternakan, air minum instalasi irigasi tidak boleh diserang, dihancurkan atau dirusak untuk tujuan agar penduduk sipil tidak bisa mempertahankan hidup mereka. Benda instalasi tersebut diatas dapat diserang dan dihancurkan bila benar-benar hanya digunakan untuk angkatan bersenjata.

f. Perlindungan Lingkungan Hidup. Setiap cara (metode) berperang yang direncanakan, atau menyebabkan kerusakan lingkungan hidup yang berat dan luas dan membahayakan kelangsungan atau timbulkan kerusakan berat bagi kesehatan penduduk tidak diperbolehkan.

4. Sasaran Yang Boleh Diserang.

Sasaran dalam Hukum Humaniter ditinjau dari jenisnya terbagi menjadi sasaran orang, sasaran tempat dan sasaran benda, sedangkan ditinjau dari legal atau tidaknya untuk diserang dibagi menjadi 2(dua) yaitu sasaran yang boleh diserang (sasaran yang legal) dan sasaran yang tidak boleh diserang (sasaran yang illegal). Sasaran yang legal biasa disebut dengan sasaran militer (military objectives) merupakan obyek yang sah untuk diserang. Selanjutnya sasaran yang boleh diserang (sasaran yang legal) antara lain:

a. Sasaran Orang. Biasa disebut dengankombatan atau anggota Angkatan Bersenjata yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk bertempur, kecuali petugas dan obyek-obyek kesehatan dan rohaniawan.

Selain kombatan, sasaran orang yang boleh diserang adalah orang-orang yang membawa senjata secara terbuka dan orang-orang yang terlibat aktif dalam perang.

b. Sasaran Benda. Benda yang boleh diserang adalah peralatan/persenjataan militer, instalasi militer, lokasi markas, bangunan-bangunan

(16)

dan kedudukan Angkatan Bersenjata serta tempat penyimpanan perlengkapan dan barang-barang militer serta obyek sipil yang digunakan untuk mendukung kepentingan militer.

c. Sasaran Tempat. Tempat yang boleh diserang adalah zona/tempat yang dipertahankan seperti benteng dan kubu pertahanan serta zona sipil untuk kepentingan militer. Obyek-obyek lainnya meliputi:

1) yang menurut sifat, lokasi, tujuan dan penggunaannya memberikan kontribusi yang efektif terhadap kegiatan militer.

2) yang penghancuran, penguasaan atau netralisasi dari obyek tersebut, sesuai kondisi yang ada saat itu, memberikan keuntungan militer yang menentukan.

Keberadaan non kombatan di dalam dan di sekitar suatu sasaran militer tidak mengubah sifatnya bisa dianggap sebagai sasaran militer. Non kombatan yang berada dekat sasaran militer dan tidak menghindari bahaya perang yang berlangsung akan menanggung resiko yang dihadapi oleh sasaran militer tersebut. Namun demikian pihak yang bertikai harus memberikan perlindungan yang maksimal dan proporsional sesuai prinsip pembedaan dalam ketentuan hukum humaniter karena pada dasarnya penduduk sipil adalah non kombatan merupakan korban perang yang harus dilindungi.

5. Sasaran yang Tidak Boleh Diserang. Sasaran ini biasa disebut dengan sasaran yang illegal, sehingga apabila melakukan penyerangan, perusakan dan penghancuran terhadap sasaran ini maka perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang melanggar aturan Hukum Humaniter. Sasaran yang tidak boleh diserang terdiri dari:

a. Sasaran Orang yang Tidak Boleh Diserang, antara lain:

1) Non kombatan, yang termasuk dalam kategori non kombatan sebagai berikut:

a) Orang sipil.

b) Hors de combat, antara lain:

(1) Tawanan perang.

(17)

(2) Prajurit yang luka dan sakit di medan tempur darat dan di laut.

(3) Pilot pesawat terbang yang terjun dengan parasut dari pesawat yang mengalami kerusakan.

2) Personel kesehatan tidak boleh diserang bila sedang melaksanakan tugasnya.

Personel kesehatan dapat berasal dari:

a) Personel kesehatan anggota angkatan bersenjata.

b) Personel kesehatan angkatan bersenjata tambahan.

c) Anggota-anggota dari organisasi pertolongan.

d) Personel kesehatan dan rohaniawan sipil.

3) Orang-orang yang bertugas menjaga benda cagar budaya.

4) Para tawanan perang diberi perlindungan seperti orang sipil asalkan tidak melakukan tindakan yang merusak statusnya sebagai sipil.

b. Sasaran Benda yang Tidak Boleh Diserang, yaitu:

1) Harta benda yg dilindungi, yang terdiri dari:

a) Harta benda sipil atau milik sipil.

b) Perlindungan terhadap satuan dan tempat perawatan kesehatan seperti rumah sakit.

c) Angkutan (transport) kesehatan.

d) Benda-benda budaya.

2) Pekerjaan dan Instalansi yang berbahaya.

3) Obyek yang sangat penting bagi kelangsungan hidup penduduk sipil.

c. Sasaran Tempat yang Tidak Boleh Diserang, yaitu:

(18)

1) Tempat-tempat yang tidak dipertahankan (kota terbuka);

2) Tempat/daerah yang dilindungi;

3) Zona keselamatan.

4) Zona yang dinetralisir.

5) Lingkungan alam.

6. Tanda-Tanda Perlindungan.

Tanda-tanda perlindungan sangat terkait dengan penentuan sasaran. Tanda-tanda perlindungan dan tempat-tempat yang dilindungi, yang diakui keberadaannya tidak boleh dijadikan sasaran serangan. Dalam Hukum Humaniter penentuan sasaran (baik yang legal atau boleh diserang maupun ilegal atau yang tidak boleh diserang) meliputi sasaran orang, sasaran tempat, dan sasaran benda.

Obyek-obyek sipil berarti suatu objek yang bukan merupakan sasaran militer.

Obyek yang secara normal merupakan obyek sipil, menurut situasi militer, dapat menjadi obyek militer (misalnya rumah atau jembatan yang secara taktis digunakan oleh pihak yang bertahan dan oleh karenanya merupakan suatu target serangan).

Dalam hal terjadi keragu-raguan tentang apakah suatu obyek yang secara normal ditunjuk untuk kepentingan atau tujuan sipil (misalnya tempat beribadah, rumah penduduk, sekolah) merupakan obyek militer, maka obyek tersebut harus dianggap sebagai obyek sipil.

Kegiatan-kegiatan perlindungan masyarakat adalah kegiatan perlindungan yang terorganisir dari penduduk sipil terhadap bahaya akibat suatu pertempuran, dan dilindungi menurut hukum sengketa bersenjata. Tanda pembeda dari perlindungan mayarakat adalah suatu segitiga biru sama sisi diatas dasar berwarna orange: penduduk, kendaraan serta alat yang memasang tanda ini tidak boleh diserang. Para petugas perlindungan masyarakat dapat dipersenjatai dengan senjata ringan perorangan untuk perlindungan diri mereka sendiri atau untuk memelihara ketertiban.

Obyek-obyek yang mempunyai suatu nilai budaya tinggi, atau dicurahkan untuk kepentingan keagamaan dari setiap nilai budaya seperti monument sejarah, bangunan dan tema kesenian serta tempat beribadah yang merupakan suatu warisan budaya atau warisan spiritual penduduk harus dilindungi. Imunitas obyek-obyek seperti ini tidak dapat

(19)

ditarik kembali, berlawanan dengan obyek-obyek budaya nilai obyek-obyek demikian secara umum telah diakui dan tidak memerlukan latihan identifikasi khusus. Obyek-obyek lain yang memiliki suatu nilai budaya seperti tersebut diatas terpisah dari sifat keagamaan atau sekurangnya dapat diberikan:

a. Perlindungan umum.

b. Perlindungan khusus.

Tanda-tanda pembeda atas obyek-obyek budaya dibawah perlindungan umum adalah suatu segitiga biru dan putih. Sedangkan untuk obyek-obyek budaya yang berada dibawah perlindungan khusus digunakan 3 (tiga) buah segitiga biru yang lebih kecil.

Para pengurus benda-benda budaya berarti para personel yang bertugas dalam melindungi dan menjaga benda-benda budaya dibawah perlindungan umum atau khusus.

Personel yang ditugasi untuk menjaga benda-benda budaya dibawah perlindungan khsusus dapat dipersenjatai dengan sejata ringan perorangan. Benda-benda budaya yang dijaga oleh petugas yang bersenjata demikian, atau yang dijaga oleh seorang polisi yang bertanggung jawab untuk menjaga ketertiban umum, tidak boleh dianggap sebagai objek yang digunakan untuk tujuan-tujuan militer. Sarana transportasi benda-benda budaya mengacu pada setiap alat transportasi yang digunakan untuk mengangkut benda-benda budaya di bawah perlindungan khusus.

Suatu bangunan atau instalasi yang membahayakan misalnya bendungan, waduk atau pembangkit listrik tenaga nuklir, apabila diserang dan dihancurkan dapat menyebabkan timbulnya kekuatan yang membahayakan sehingga menyebabkan kerugian yang luar biasa bagi penduduk sipil. Tanda perlindungan yang jelas, terdiri dari kelompok tiga lingkaran berwarna orange terang yang berjarak sama. Senjata yang digunakan untuk melindungi intalasi atau bagunan yang mengandung tenaga yang membahayakan harus dibatasi hanya untuk senjata yang mampu menghalau setiap serangan yang ditujukan pada bangunan atau instalasi tersebut.

Hukum Humaniter memungkinkan adanya berbagai macam zona yang dibentuk untuk melindungi penduduk dari bahaya peperangan. Zona ini meliputi rumah sakit, zona netral dan zona demiliterisasi serta daerah-daerah yang tidak dipertahankan. Secara umum zona-zona ini dilndungi dari serangan dan operasi-operasi militer.

(20)

Zona-zona ini dibentuk oleh penguasa tertinggi yang akan mengumumkan secara rinci aturan-aturan yang harus dipatuhi, walaupun menurut hukum kebiasaan suatu daerah yang tidak dipertahankan yang terbuka bagi pendudukan tidak dapat diserang.

Adapun tanda-tanda atau lambang perlindungan yang terdapat dalam Hukum Humaniter dan diakui oleh dunia internasional adalah sebagai berikut:

Dinas Kesehatan.

Orang sipil, militer dan petugas keamanan.

Warna merah di atas dasar putih.

Perlindungan Masyarakat.

Warna: Segitiga Biru diatas dasar orange.

Benda-benda budaya yang penting.

(Museum, monumen, tempat ibadah) Warna: Berwarna biru dan putih.

Instalasi yang mengandung energi yang berbahaya.

(Waduk, Tanggul, Pusat Nuklir).

Warna tiga buah lingkaran orange

Bendera perdamaian berwarna putih (dipakai untuk berunding atau sebagai tanda menyerah).

(21)

PROGRAM PEMBELAJARAN

1. Bab IV : Penggunaan Senjata

2. Sasaran Pelajaran : Selesai pelajaran ini diharapkan siswa dapat:

- Mengerti tentang dasar dan prinsip penggunaan senjata dengan baik dan benar.

3. Waktu Pembahasan

a. Teori : 1 Jam Pelajaran b. Praktek : - Jam Pelajaran 4. Tempat Pelajaran : Kelas Kodikmar.

5. Penugasan Siswa : Membaca dan mempelajari materi pelajaran Bab IV dan membuat ringkasan.

(22)

BAB IV

PENGGUNAAN SENJATA

1. Umum. Prinsip utama dalam penggunaan senjata sebagaimana diatur dalam hukum humaniter adalah bahwa selama perang nilai-nilai kemanusiaan harus dihormati.

Tujuannya bukan untuk menolak hak negara untuk melakukan perang atau menggunakan kekuatan senjata untuk mempertahankan diri (self defence), melainkan untuk membatasi penggunaan senjata oleh suatu negara dalam menggunakan hak berperang tersebut untuk mencegah penderitaan dan kerusakan yang berlebihan dan yang tidak sesuai dengan tujuan militer.

2. Dasar Hukum Penggunaan Senjata.

Komponen Hukum Humaniter Internasional dewasa ini terdiri dari ketentuan Hukum Den Haag dan Hukum Jenewa serta Hukum Gabungan antara Hukum Den Haag dan Hukum Jenewa. Dari hukum tersebut terdapat peraturan yang khusus membahas tentang penggunaan senjata dalam suatu peperangan. Adapun Hukum Den Haag yang mengatur tentang penggunaan senjata antara lain:

a. Deklarasi Den Haag tanggal 29 Juli 1899 tentang Peluru-peluru yang mengembang.

b. Konvensi Den Haag VIII tanggal 18 Oktober 1907 tentang Peletakan Ranjau Kotak Otomatis di Laut.

c. Konvensi Den Haag IX tanggal 18 Oktober 1907 tentang Pemboman oleh Kapal Perang di Waktu Perang.

(23)

d. Deklarasi Den Haag XIV tanggal 18 Oktober 1907 tentang Larangan Pelepasan Proyektil dan Bahan Peledak dari Balon.

Selain Hukum Den Haag tersebut di atas, terdapat beberapa Konvensi dan Protokol yang dikeluarkan di Jenewa (Hukum Jenewa) yang mengatur tentang larangan penggunaan senjata-senjata tertentu, sebagai berikut:

a. Protokol tentang Larangan Penggunaan di Waktu Perang Gas Cekik, Gas Beracun dan Gas lainnya, dan mengenai Metode Berperang dengan menggunakan Senjata Bakteri tanggal 17 Juni 1925.

b. Konvensi tentang Larangan atau Pembatasan Penggunaan Senjata-senjata Konvensional tertentu yang menimbulkan cedera yang berlebihan atau akibat yang membabi-buta tanggal 10 Oktober 1980, dengan empat buah Protokolnya, yaitu:

1) Protokol I tentang Fragmen-fragmen yang tak dapat dideteksi;

2) Protokol II tentang Larangan atau Pembatasan Penggunaan ranjau, Booby-traps dan alat-alat lainnya.

3) Protokol III tentang Larangan atau Pembatasan Penggunaan Senjata- senjata Pembakar.

4) Protokol IV tentang Larangan Penggunaan Senjata-senjata Laser yang mengakibatkan Kebutaan permanen pada mata.

3. Prinsip-Prinsip Penggunanaan Senjata.

a. Penggunaan Senjata Dalam Konflik Bersenjata Adalah Terbatas. Artinya penggunaan senjata dibatasi dan harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum humaniter dan perjanjian-perjanjian internasional mengenai senjata. Pembatasan penggunaan senjata bertujuan untuk mencegah terjadinya kerusakan yang berlebihan, penderitaan yang tidak perlu, serta untuk mengurangi korban dan memperkecil kerugian dari pihak-pihak yang bersengketa serta masyarakat sipil.

b. Penggunaan Senjata yang Dibenarkan Dalam Suatu Sengketa Bersenjata, yaitu bahwa senjata harus digunakan sesuai dengan peruntukannya, dan senjata yang diperbolehkan dipergunakan dalam suatu pertempuran dapat berubah menjadi tidak boleh dipakai atau digunakan dalam pertempuran, apabila

(24)

digunakan tidak sesuai dengan peruntukannya, karena akan menimbulkan penderitaan yang berlebihan dan tidak perlu.

c. Senjata yang Penggunaannya Sah. Yaitu senjata yang tidak menimbulkan penderitaan yang tidak perlu dan luka yang berlebihan. Penggunaan senjata harus sesuai dengan tujuan pembuatannya.

d. Senjata yang Dilarang Untuk Digunakan.

1) Senjata yang direncanakan, diperhitungkan atau dimodifikasi untuk menyebabkan penderitaan yang berlebihan, misalnya: anak peluru yang ujung depannya digergaji, sehingga pecahannya menyebar didalam organ tubuh dan sulit untuk diselamatkan. proyektil yang diisi dengan pecahan kaca atau senjata tajam yang diberi racun.

2) Senjata-senjata yang menimbulkan luka karena menggunakan fragmen-fragmen yang tidak terdeteksi dengan sinar X di dalam tubuh manusia.

3) Proyektil kaliber kecil yang beratnya kurang dari 400 gram tapi mengandung zat yang mudah meledak setelah mengenai tubuh;

4) Gas cekik, gas beracun atau gas lainnya.

5) Senjata biologi dan senjata kimia.

6) Senjata nuklir dilarang digunakan karena menimbulkan kerugian dan kerusakan yang sangat dahsyat serta bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar hukum humaniter.

e. Senjata yang sah tetapi dibatasi penggunaannya. Persenjataan yang sah tetapi penggunaannya dibatasi, artinya boleh dipergunakan secara benar dan tepat sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan dalam suatu perjanjian internasional, misalnya dalam Konvensi tentang Senjata Konvensional Tertentu tahun 1980 dan Protokolnya.

1) Senjata pembakar yaitu senjata atau amunisi yang dirancang untuk menimbulkan kebakaran, misalnya: penyembur api, bom napalm.

Pembatasan penggunaannya:

(25)

a) Dilarang digunakan untuk menyerang penduduk sipil, perorangan atau obyek sipil dengan senjata pembakar yang ditembakkan dari udara.

b) Dilarang digunakan untuk menyerang obyek militer yang berlokasi di tengah pemukiman sipil dengan menggunakan senjata pembakar yang ditembakkan dari udara, terkecuali sasaran militer tersebut telah diisolir (orang-orang sipil telah dievakuasi) dan dilakukan dengan kehati-hatian guna mengurangi kerugian dan kerusakan berlebihan terhadap kehidupan dan harta benda penduduk sipil.

c) Dilarang digunakan untuk membakar hutan atau tanaman yang rimbun, kecuali terdapat sasaran militer yang tersembunyi di dalam hutan atau tanaman yang rimbun tersebut.

2) Ranjau Laut. Lokasi penempatan ranjau laut harus dicatat, tidak ditanam pada perairan netral.

3) Ranjau Darat. Boleh digunakan dengan batasan

penggunaannya sebagai berikut:

a) Tidak boleh digunakan secara membabi-buta, hal ini dimaksudkan untuk menghindari kerugian yang berlebihan dan jatuhnya korban yang tidak terlibat dalam tindakan permusuhan, khususnya terhadap penduduk sipil, bila dibandingkan dengan keuntungan militer yang ingin dicapai.

b) Lokasi penanamannya harus dicatat.

4) Booby Traps. Penggunaannya tidak boleh diletakkan pada:

a) Gedung-gedung, bangunan-bangunan atau tempat-tempat yang terdapat simbol perlindungan yang diakui secara internasional, seperti Palang Merah Internasional, benda cagar budaya, perlindungan masyarakat, instalasi berbahaya, dan lain-lain.

b) Mayat, korban luka atau orang sakit.

c) Kuburan, tempat kremasi atau pemakaman.

(26)

d) Fasilitas, peralatan, bahan pengobatan dan angkutan kesehatan.

e) Mainan anak-anak.

f) Benda-benda yang bernilai keagamaan.

g) Makanan dan minuman.

h) Perlengkapan dan peralatan dapur.

i) Monumen sejarah, karya seni, dan tempat ibadah.

j) Hewan dan kulit binatang.

5) Pemboman, roket, misil hanya ditujukan terhadap sasaran-sasaran militer yang jauh dari pemusatan pemukiman penduduk sipil.

(27)

PROGRAM PEMBELAJARAN

1. Bab V : Perlakuan terhadap Tawanan Perang dan

Korban Perang

2. Sasaran Pelajaran : Selesai pelajaran ini diharapkan siswa dapat:

- Mengerti tentang perlakuan terhadap Tawanan Perang dan Korban Perang dengan baik dan benar.

3. Waktu Pembahasan

a. Teori : 1 Jam Pelajaran b. Praktek : - Jam Pelajaran 4. Tempat Pelajaran : Kelas Kodikmar.

5. Penugasan Siswa : Membaca dan mempelajari materi pelajaran Bab V dan membuat ringkasan.

(28)

BAB V

PERLAKUAN TERHADAP TAWANAN PERANG DAN KORBAN PERANG

1. Umum. Tawanan perang diatur dalam Konvensi Jenewa III dan Protokol Tambahan II Tahun 1977, sedangkan untuk perlindungan terhadap korban perang diatur dalam Konvensi Jenewa I tahun 1949 tentang Perbaikan Perawatan bagi Anggota- anggota Angkatan Bersenjata di Darat; Konvensi Jenewa III tentang Perlindungan bagi oarang-orang sipil dalam masa perang. Disamping ketentuan-ketentuan tersebut masalah perlindungan korban perang juga diatur dalam Protokol Tambahan Jenewa Tahun 1977 tentang Perlindungan bagi korban Sengketa Bersenjata Internasional dan non Internasional. Konvensi Jenewa 1949 sudah diratifikasi menjadi undang-undang nasional yang berlaku mengikat yaitu diundangkan dengan Undang-Undang R.I. Nomor 59 Tahun 1958 (Lembaga Negara tahun 1958 No.108), dengan demikian sebagai sebuah konsekuensi bahwa ketentuan-ketentuan yang ada didalam Konvensi Jenewa 1949 harus dilaksanakan.

2. Tawanan Perang dan Kombatan yang Tertangkap. Status tawanan perang diterapkan hanya kepada setiap kombatan musuh yang tertangkap dalam suatu sengketa bersenjata internasional. Disini ketentuan-ketentuan dalam Konvensi Jenewa III diterapkan secara penuh. Para kombatan yang jatuh ke tangan musuh pada saat terlibat pada jenis konflik lainnya, berhak secara minimum atas jaminan-jaminan perlindungan yang terdapat dalam pasal III ketentuan yang bersamaan pada Konvnensi Jenewa 1949, dan Pasal 4 dan 6 dari Protokol Tambahan II Tahun 1977. Hukum kebiasaan menyatakan

(29)

bahwa para kombatan yang tertangkap adalah merupakan tawanan perang pihak Negara musuh, bukan tawanan dari individu atau atau satuan-satuan militer yang menangkap mereka.

3. Orang-Orang yang Luka, Sakit dan Korban Kapal Karam.Orang-orang yang luka dan sakit berarti setiap orang apakah ia militer atau orang sipil, yang karena trauma, menderita penyakit atau gangguan fisik maupun mental yang membutuhkan bantuan atau perawatan medis, serta yang tidak dapat lagi terlibat dalam setiap tindakan pertikaian.Para korban kapal karam berarti setiap orang, apakah ia berstatus anggota militer atau penduduk atau orang sipil, yang menjadi korban kapal karam dari pendaratan darurat dilaut dari kapal atau pesawat udara. Orang-orang ini tidak dapat dijadikan objek serangan. Para kombatan diharuskan untuk mencapai dan mengumpulkan para korban kapal karam, orang-orang yang luka dan sakit, serta menjamin perawatan yang memadai bagi mereka. Status korban kapal karam akan tetap melekat sampai akhir pertolongan.

Kemudian mereka yang ditolong akan menjadi tawanan perang atau non kombatan.

4. Orang-Orang yang Meninggal dan Hilang. Prinsip-prinsip dasar mengenai orang-orang yang meninggal dunia dan yang hilang baik orang tersebut anggota angkatan bersenjata maupun penduduk sipil adalah berdasarkan atas hak keluarga untuk mengetahui meninggalnya para kerabatnya mereka setiap saat, dan terutama setelah pertikaian para pihak yang bersengketa harus melakukan setiap tindakan untuk mencari dan mengumpulkan orang yang meninggal dunia dan mencegah keadaan mereka menjadi busuk dan tidak dapat dikenali lagi. Di samping itu, segera setelah keadaan memungkinkan atau pada saat akhir dari suatu pertempuran, setiap pihak pihak yang bersenjata harus mencari orang-orang yang dilaporkan hilang oleh pihak musuh.

(30)

DAFTAR PROGRAM PEMBELAJARAN

NO BAB POKOK AJARAN TEMPAT ALINS METODE

1 I PENDAHULUAN

1. Umum

2. Maksud dan Tujuan 3. Ruang Lingkup 4. Referensi

Kelas Flashdisk a. Ceramah b. Tanya jawab

II KOMBATAN DAN NON KOMBATAN

1. Umum 2. Kombatan 3. Non Kombatan

Kelas Flashdisk a. Ceramah b. Tanya jawab

III SASARAN YANG BOLEH DISERANG DAN YANG TIDAK BOLEH DISERANG

1. Umum

2. Prinsip Hukum Humaniter 3. Metode Berperang

4. Sasaran yang boleh di serang 5. Sasaran yang tidak boleh diserang

6, Tanda-tanda Perlindungan

Kelas Flashdisk a. Ceramah b. Tanya jawab

IV PENGGUNAAN SENJATA Kelas Flashdisk a. Ceramah

(31)

1. Umum

2. Dasar Hukum Penggunaan Senjata

3. Prinsip-prinsip Penggunaan Senjata

b. Tanya jawab

V PERLAKUAN TERHADAP

TAWANAN PERANG DAN ORBAN PERANG

1. Umum

2. Tawanan Perang dan Kombatan yang Tertangkap

3. Orang-orang yang luka, sakit dan korban Kapal karam

4. Orang-orang yang Meninggal dan Hilang

Kelas Flashdisk a. Ceramah b. Tanya jawab c. Praktek

(32)

PENYUSUN

PAKET INSTRUKSI : HUKUM HUMANITER

UNTUK : DIKLATSARMIL KOMPONEN CADANGAN TA.2022

DISUSUN OLEH :

1. LETKOL MAR INGGIT DAHANA S, S. Pd. NRP 12975/P 2. MAYOR MAR DIDI HARYONO NRP 14247/P

3. MAYOR MAR KUSWANDI NRP 16478/P 4. MAYOR MAR ALOYSIUS S.N. NRP 16678/P 5. MAYOR MAR MULJANTO NRP 16999/P

Referensi

Dokumen terkait

Apabila tidak diperjanjikan lain antara Negara netral dan Negara-negara yang bersengketa, maka orang-orang yang luka, sakit atau karam yang telah didaratkan di pelabuhan

Pelanggaran HAM dan Pelanggaran HAM berat yang dimaksud disini Pasal 1 ayat (6) Undang-undang No.39 Tahun 1999 tentang HAM dengan pelanggaran hak asasi manusia

Menyadari bahwa peperangan adalah sesuatu yang pasti akan terjadi, belum lagi ketakutan terhadap masa lalu yang begitu kelam dalam buku-buku sejarah seputar perang dunia pertama

Bila pesan al-Maidah:32, konsep dasar Islam sebagai rahmat bagi alam seisinya dengan memahami esensi keragaman ( diversity ) yang tak dapat selalu diseragamkan

Dilarang menyerang atau menembak petugas penerangan ( wartawan, jurnalistik dan lain-lain ). Melanggar Pasal 338 KUHP, diancam dengan pidana penjara paling lama 15

Mereka itu terdiri atas: angkatan bersenjata yang terorganisir (organized armed forces), kelompok-kelompok atau unit- unit yang berada di bawah suatu komando yang

Perlindungan yang seharusnya diterima oleh warga sipil yang menjadi korban dalam suatu konflik bersenjata non-internasional seperti yang terjadi di Filipina Selatan

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa