• Tidak ada hasil yang ditemukan

pandangan tokoh agama islam desa sukoreno

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "pandangan tokoh agama islam desa sukoreno"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Sehubungan itu, Wahbah Zuhaili berpendapat bahawa para ulama bersepakat tentang kebolehan lelaki Islam mengahwini wanita daripada Ahl al-Kitab. Menurut Rashid Ridh, wanita-wanita Ahl al-Kitab dimaksudkan adalah wanita-wanita musyrik Arab zaman dahulu. Sedangkan ahli sihir, Sabian, penyembah berhala India, China dan seumpamanya adalah kitab-kitab yang (kitab-kitab mereka) sehingga kini mengandungi konsep tauhid (tauhid).

Fokus Penelitian

Selain itu peneliti juga tertarik bagaimana masing-masing tokoh agama Islam di desa Sukoreno memaknai QS. Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti mengangkat judul: ‘Pandangan Tokoh Agama Islam di Desa Sukoreno Terhadap Pernikahan Beda Agama (Studi Tafsir Q.S. Al-Baqarah: 221, QS.

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Penyebaran informasi sikap tokoh agama Islam terhadap pernikahan beda agama di Desa Sukoreno Jember.

Definisi Istilah

Tafsir : Tafsir yang dalam hal ini menggunakan sudut pandang tokoh agama Islam di desa Sukoreno. Islam, Kristen, Budha.13 Dalam hal ini peneliti menggunakan lima pandangan tokoh agama Islam, karena seharusnya mewakili 15-20 tokoh agama Islam yang ada di Desa Sukoreno. Dari definisi operasional di atas dapat disimpulkan bahwa pandangan tokoh agama Islam di Desa Sukoren mengenai perkawinan beda agama (kajian tafsir QS.. Nur: 03) yang dimaksud adalah pandangan atau penilaian lima tokoh agama Islam di Desa Sukoren mengenai perkawinan beda agama. pernikahan.agama yaitu antara kaum muslimin dengan Ahl al-Kitab, serta tafsir atau penjelasan ayat-ayat yang digunakan lima tokoh agama islam dalam menyikapi pernikahan beda agama, keduanya QS.

Sistematika Pembahasan

Dan dihalalkan bagi kamu mengawini wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelum kamu, jika kamu membayar mahar mereka untuk mengahwini mereka, bukan dengan maksud berzina dan tidak menjadikan wanita sebagai belaian. Sesiapa yang kufur sesudah beriman, maka sia-sialah amalannya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” Dalam kajian lepas, pengkaji akan menghuraikan beberapa kajian berkaitan perkahwinan antara agama yang telah diteliti oleh pengkaji terdahulu.

KAJIAN KEPUSTAKAAN

Kajian Terdahulu

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkawinan beda agama di Thailand dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu perkawinan antara laki-laki muslim dengan perempuan Ahlul Kita dan perkawinan perempuan muslim dengan Ahlul Kita. Dari hasil penelitian tersebut terlihat bahwa Muhammad Quraish Shihab merupakan salah satu tokoh yang membolehkan pernikahan beda agama. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, dalam hal ini mengenai keluarga yang berbeda agama.

Kajian Teori

  • Pernikahan
  • Pernikahan Beda Agama
  • Perspektif Teori Sosial

Bedanya, dalam hal ini peneliti hanya memfokuskan penelitian pada pandangan tokoh agama Islam di Desa Sukoreno mengenai pernikahan beda agama, dan mengkaji tafsir QS. Perkawinan beda agama adalah perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang keduanya berbeda agama, yaitu perkawinan antara seorang Muslim dengan Ahl al-Kitab. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif ini, peneliti ingin mengungkap data yang ada di lapangan mengenai pandangan tokoh agama Islam terhadap pernikahan beda agama di Desa Sukoreno.

Fenomena yang dimaksud dalam hal ini adalah pandangan para pemuka agama Islam di Desa Soekoreno mengenai pernikahan beda agama. Berdasarkan pengamatan sebelumnya, masyarakat Desa Sukoreno terkenal dengan tingkat toleransinya yang tinggi, sehingga adanya pernikahan beda agama di desa tersebut tidak menjadi masalah. Belum pernah dilakukan penelitian mengenai pernikahan beda agama di desa ini.

Ketiga, setelah melewati tahap pengembangan, peneliti melakukan analisis atau penelitian aktual yaitu penelitian terkait pemahaman tokoh agama mengenai pernikahan beda agama di desa Sukoreno Kabupaten Jember. Data yang diperoleh terkait “Pandangan Tokoh Agama Islam Terhadap Pernikahan Lintas Agama di Desa Sukoreno (Studi Interpretasi QS. Salim) memberikan gambaran salah satu kasus pernikahan yang dimaksud, yakni pernikahan beda agama yang menganut agama masing-masing.

Dalam hal ini Pak H. Ali Fikri memahaminya sebagai ayat yang juga berkaitan dengan pembahasan pernikahan beda agama.

Jenis Penenelitian

Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian menunjukkan di mana penelitian itu dilakukan.35 Penelitian ini dilakukan di Desa Sukoreno, tepatnya di Kecamatan Umbulsari, Jember, Jawa Timur. Secara geografis desa ini terletak di sebelah utara berbatasan dengan Desa Mundurejo, di sebelah timur berbatasan dengan Desa Gunungsari, di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Wonorejo dan di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Kencong. Adanya keterbukaan dari masyarakat terutama dari para informan yaitu tokoh agama Islam di Desa Sukoreno.

Subjek Penelitian

Teknik Pengumpulan Data

  • Observasi
  • Wawancara
  • Dokumentasi

Banyak fakta dan data yang tersimpan dalam materi dalam bentuk dokumentasi.38 Dalam hal ini peneliti mencoba untuk memperoleh data dokumenter yang ada di Desa Sukoreno yang berhubungan dengan permasalahan yang kami teliti yaitu berkaitan dengan perkawinan beda agama. Pernikahan beda agama antara wanita Ahl al-Kitab dengan pria Muslim diperbolehkan menurut hukum Islam, namun ada syarat yang harus dipenuhi, seperti yang telah peneliti bahas di atas. Di tengah reaksi munculnya pernikahan beda agama, muncul beberapa pendapat tentang pernikahan beda agama di kalangan ulama.

Namun keberadaan perkawinan beda agama di Desa Sukoreno dipandang tidak perlu diperdebatkan khususnya di kalangan masyarakat Desa Sukoreno sendiri karena mereka mengembalikannya pada Bhinneka Tunggal Ika (beragam namun tetap satu). Dia mengatakan pernikahan beda agama diperbolehkan jika pasangan non-Muslim masuk Islam, kecuali suaminya beragama Islam. Pandangan yang jelas-jelas tidak membenarkan pernikahan beda agama adalah pandangan Pak. Mushalli, tokoh agama Islam yang saat ini menjabat sebagai kepala sekolah MI Miftahul Huda.

Di satu sisi laki-laki bertanggung jawab kepada Allah, oleh karena itu perkawinan dalam konteks ini harus seagama, tidak boleh beda agama dengan laki-laki.Jadi laki-laki muslim boleh menikah dengan Ahl al-Kitab, itu saja. Sebab, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, perkawinan beda agama di Desa Sukoreno sudah ada sejak tahun 90an, dan hingga saat ini perkawinan tersebut sudah menjadi tradisi sehingga dianggap sebagai bentuk toleransi, sehingga para pemuka agama Islam di Desa Sukoreno dalam tahap internalisasi. berbeda . berbeda dalam prosesnya. Bagi pembaca agar membaca penelitian atau buku lain yang berkaitan dengan pernikahan beda agama untuk menambah wawasan.

Kepada peneliti selanjutnya agar lebih memperdalam penelitian ini, karena penelitian terkait perkawinan beda agama di Desa Sukoreno merupakan penelitian pertama yang dilakukan peneliti, sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut bagi peneliti selanjutnya.

Analis Data

  • Reduksi data
  • Penyajian data
  • Penarikan kesimpulan

Keabsahan Data

Pada tahap ini, peneliti mengembangkan data melalui analisis kecil yang dilakukan dengan mengumpulkan beberapa argumen, atau segala sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan beda agama. Dalam pengamatannya mengenai perkawinan beda agama, beliau mengatakan bahwa perkawinan beda agama sudah terjadi sejak tahun 90-an,61 ketika masih terdapat transmigran Kristen, Hindu, Katolik, dan Islam di Desa Sukoreno yang saat itu mayoritas penduduknya beragama Islam. Reaksi masyarakat terhadap pernikahan beda agama tidak berdampak sama sekali, selama pernikahan tersebut tidak mengganggu warga lain di sekitar desa Sukoreno, maka tidak ada masalah jika proses pernikahan tersebut dilangsungkan.

Alasan masih terjadinya pernikahan beda agama di desa ini karena warganya sangat memegang teguh toleransi antar umat beragama. Sebenarnya menurut Al-Qur'an, menikah dengan seorang budak lebih baik daripada menikah dengan orang yang berbeda agama. Dari penjelasan tersebut, ia berpendapat bahwa perkawinan beda agama dianggap sebagai sebuah fenomena yang terpaksa ia anggap wajar karena masyarakat Desa Sukoreno memiliki rasa toleransi yang tinggi, sehingga mau tidak mau mereka menoleransi perkawinan beda agama di Desa Sukoreno.

Oleh karena itu dalam Al-Qur'an dijelaskan bahwa lebih baik menikah dengan seorang budak daripada menikah dengan orang yang berbeda agama, karena jika pernikahan beda agama diteruskan maka rumah tangga tidak akan harmonis, kecuali masuk Islam terlebih dahulu. 77. Kalau masuk islam di tengah nikah, tetap dikatakan nikah beda agama, jadi wajib nikah lagi. Iya, tidak boleh karena beda agama, oleh karena itu muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki Ahl al-Kitab, termasuk laki-laki Ahl al-Kitab Yahudi dan Kristen, tetapi laki-laki Muslim diperbolehkan menikahi wanita Muslim, wanita Ahl al-Kitab Yahudi dan Kristen.

Melarang pernikahan beda agama namun disisi lain mereka juga memaklumi pernikahan beda agama karena melihat keadaan masyarakatnya yang mempunyai rasa toleransi yang tinggi.

Tahapan Penelitian

PENYAJIAN DATA DANANALISIS

Gambaran Objek Penelitian

  • Kondisi Geografis Lokasi Penelitian
  • Konteks Historis Desa Sukoreno
  • Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Sukoreno
  • Mata Pencaharian Masyarakat Desa Sukoreno
  • Pola Keagamaan MasyarakatDesa Sukoreno
  • Interpretasi Tokoh Agama Islam di Desa Sukoreno ayat yang

“Perkawinan beda agama itu haram, kalau ada yang melakukannya tentu haram, itu tertulis dalam Al-Qur’an.”67. Namun pernikahan diperbolehkan jika pasangan non-Muslim terlebih dahulu masuk Islam, baik itu kartu identitas, kartu keluarga atau sejenisnya. agar nantinya tidak dikatakan sebagai pernikahan beda agama. Menurutnya, perkawinan beda agama haram jika dikaitkan dengan ayat tersebut, sehingga segala aktivitas setelah menikah yang awalnya bernilai ibadah akan berubah status menjadi haram jika sama-sama menganut keyakinan agama masing-masing.

Meminjam teori tersebut, peneliti menafsirkan bahwa pemuka agama Islam di Desa Sukoreno pada tahap eksternalisasi mengatakan bahwa perkawinan beda agama tidak diperbolehkan dalam Islam. Dari sini terlihat bahwa pemuka agama berinteraksi dengan struktur yang ada (struktur yang dilembagakan atau diakui) oleh masyarakat yaitu sikap toleransi), namun pada tahap objektifikasi tidak dapat memaksa, mencegah atau bahkan melarang perkawinan beda agama.

Pembahasan Temuan

PENUTUP

Kesimpulan

Umat ​​beragama Islam di Desa Sukoreno mempunyai pendapat yang berbeda-beda mengenai adanya perkawinan beda agama, berikut penjelasannya :. Menjelaskan bahwa umat Islam baik laki-laki maupun perempuan tidak boleh menikah dengan Ahl Al-Kitab. Pertama, menjelaskan bahwa laki-laki Islam boleh menikah dengan perempuan Ahl al-Kitab, tidak hanya dari kalangan Yahudi dan Nasrani, tetapi juga dari agama Hindu, Budha, dan agama lain selain Islam.

Kedua, menjelaskan bahwa laki-laki Islam boleh menikah dengan perempuan Ahl al-Kitab, yaitu hanya orang Yahudi dan Nasrani. Ketiga, menjelaskan bahwa laki-laki muslim diperbolehkan menikahi wanita Ahl al-Kitab, dengan syarat wanita Ahl al-Kitab itu muhshanat, yaitu menjaga kehormatannya. Menjelaskan bahwa seorang muslim tidak boleh menikah kecuali muslim lainnya, sebagaimana halnya seorang pezina tidak boleh menikah dengan seorang pezina.

Saran

Jabatan: Sekretaris IPPNU (Himpunan Mahasiswa Putra Nahdatul Ulama), ketua cabang Kandang Rejo, anggota BMT Sidogiri. Jabatan : Pengajar Pondok Pesantren PERSIS Bangil dan Ma'had Al-Ittihad Al-Islami Camplong, serta Pembina Lembaga Keuangan Perbankan Syariah. Sekretaris BASESTRAM (Bagian Seni, Sastra dan Keterampilan) RITMA (Robithatu Thalabah li Ma'hadi Tahfidzul Quran) Al-Amien Prenduan, Sumenep.

Referensi

Dokumen terkait

Menurut pendapat khanafi boleh juga dilakukan oleh pihak mempelai laki-laki atau wakilnya dan Kabul oleh pihak perempuan (wali atau wakilnya) apabila perempuan itu

Dalam kitab I'anatut Thalibin misalnya, Imam Abi Bakar menyatakan bahwa menikahi wanita ahli kitab diperbolehkan. 4 Dalam hal ini pernikahan dengan ahlu kitab bisa

Hampir sama sepertipasal 40 huruf (c) bahwasanya seorang wanita tidak boleh kawin dengan laki-laki yang tidak beragama Islam dalam artian yang melangsungkan

Wali boleh melarang dan tidak memberi izin wanita yang berada di bawah perwaliannya menikah dengan laki-laki kafir (beragama selain Islam). Ini menunjukkan adanya hak

Quraish Shihab yang menyatakan tidak mendukung adanya pernikahan laki-laki muslim dengan wanita Ahli Kitab dalam praktiknya karena dikhawatirkan tidak tercapainya

Peran Majelis Agama Islam dalam pernikahan beda agama antara laki-laki muslim dengan perempuan Ahl al-Kitāb , yaitu menerima pendaftaran nikah, menjadi wali hakim

Selain tidak boleh salah dalam menafsirkan kitab suci Al- Qur’an dan tidak boleh terjebak pada formalisasi agama, keberadaan Islam sebagai rahmat, sehingga mampu

Para ulama di semua negara Islam telah menerima hadist ini dan menjadikannya dasar hukum bahwa seorang wanita tidak boleh menjadi pemimpin laki-laki dalam wilayah kepemimpinan umum.10