• Tidak ada hasil yang ditemukan

panduan SUB ETIK DAN DISIPLIN

dina afriani

Academic year: 2023

Membagikan "panduan SUB ETIK DAN DISIPLIN"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

PANDUAN

SUB KOMITE DISIPLIN DAN ETIK KOMITE KEPERAWATAN

RSUP H. ADAM MALIK

2018

J L . B U N G A L A U - M E D A N

PANDUAN ETIK DAN DISIPLIN PROFESI PERAWAT

D I S U

S U N

OLEH

KOMITE KEPERAWATAN

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pelayanan keperawatan dan kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang memiliki kontribusi besar dalam berperan penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit. Sehingga, perawat dan bidan yang merupakan bagian dari tenaga kesehatan memiliki peranan penting dalam mencapai tujuan pembangunan kesehatan.

Pelayanan pada pasien (manusia) merupakan fungsi utama tenaga perawat dan bidan serta sebagai dasar adanya profesi keperawatan dan kebidanan.Pelayanan tersebut didasarkan pada kebutuhan manusia yang tidak membedakan suku bangsa, warna kulit, politik, status sosial, dan lain-lain. Selain itu, pelayanan keperawatan dan kebidanan juga didasarkan pada kepercayaan bahwa tenaga perawat dan bidan akan melakukan suatu hal yang benar, hal yang diperlukan, dan hal yang dapat memberikan keuntungan bagi pasien dan kesehatannya (Suhaemi, 2004).

Profesi keperawatan dan kebidanan memiliki kontrak sosial dengan pasien sebagai individu atau kelompok masyarakat, yang berarti pasien memberi kepercayaan kepada perawat dan bidan untuk memberikan pelayanan yang dibutuhkan.Konsekuensi dari hal tersebut tentunya setiap keputusan dari tindakan keperawatan harus mampu dipertanggungjawabkan dan dipertanggung-gugatan dan setiap pengambilan keputusan tentunya tidak hanya berdasarkan pada pertimbangan ilmiah semata tetapi juga dengan mempertimbangkan etika (Wulan & Hastuti, 2011).

(3)

Namun, perawat maupun bidan cenderung melakukan tugas rutin dalam memberikan pelayanan keperawatan dan kebidanan tanpa mampu menyelesaikan konflik akibat masalah etik dan disiplin dengan baik dan jarang dilakukannya pembinaan etika profesi(Wahyuningsih, 2006; Permenkes RI, 2013).

Selain itu, perawat maupun bidan terkadang dihadapkan pada situasi sulit (dilema moral) yang membutuhkan keputusan dalam mengambil suatu tindakan, baik dalam memberikan asuhan keperawatan dan kebidanan pada pasien, keluarga, dan masyarakat, menerima tanggung jawab untuk menciptakankeadaan lingkungan fisik, sosial, dan spiritual yang memungkinkan untuk penyembuhan, menekankan pencegahan penyakit, dan dalam meningkatkan kesehatan melalui penyuluhan kesehatan. Oleh karena tenaga keperawatan dan kebidanan sebagai manusia yang memiliki perbedaan dalam berinteraksi dan bertingkah laku, maka diperlukannya

suatu pedoman yang ditujukan untuk memberikan arahan bagaimana keharusan dalam bertindak, berperilaku, dan bertanggung jawab (Suhaemi, 2004; Wahyuningsih, 2006).

Etik memberi keputusan mengenai tindakan yang diharapkan benar, tepat, atau bermoral, sehingga etik sangat diperlukan bagi tenaga keperawatan dan kebidanan sebagai landasan dalam memberikan pelayanan yang berpusat pada pasien secara manusiawi.Etik merupakan perilaku dan dalam skala yang lebih luas, etik merupakan sikap yang menuntun perawat dan bidan dalam bertindak sebagai anggota profesi.Etik berkaitan dengan hak, tanggung jawab dan kewajiban dari perawat dan bidan sebagai tenaga kesehatan yang profesional serta institusi pelayanan di mana pasien dirawat.Oleh karena itu, etika profesi menjadi sangat penting untuk

(4)

dipahami oleh setiap individu sebagai perawat maupun bidan dan dijadikan sebagai pedoman untuk menumbuhkan tanggung jawab atau kewajibannya sebagai anggota profesi.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Membuat secara spesifik apakah suatu tindakan dilarang, diperlukan, atau diizinkan dalam suatu keadaan.

2. Tujuan Khusus

a.Mengenal dan mengidentifikasi unsur-unsur moral dalam praktik keperawatan dan kebidanan.

b.Membentuk strategi untuk menganalisa masalah-masalah moral yang terjadi dalam praktik keperawatan dan kebidanan.

c.Menghubungkan prinsip-prinsip moral/pelajaran yang baik yang dapat dipertanggungjawabkan pada diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan kepada Tuhan sesuai dengan kepercayaannya.

C. Sistematika

Sistematika penyusunan buku Etik dan Disiplin Profesi Keperawatan/Kebidanan ini sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

BAB II KODE ETIK PROFESI KEPERAWATAN BAB III KODE ETIK PROFESI KEBIDANAN BAB IV PRINSIP-PRINSIP MORAL ETIK

BAB V JENIS-JENIS PELANGGARAN DAN MEKANIK PENANGANAN PELANGGARAN ETIK

BAB VI PENUTUP

(5)

BAB II

KODE ETIK PROFESI KEPERAWATAN

Keperawatan adalah suatu profesi yang mempunyai pohon pengetahuan (Body of Knowledge)dan keterampilan khusus yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan.Pelayanannnya dilakukan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan demi kepentingan pasien sebagai individu yang sehat maupun yang sakit untuk dapat menjalankan fungsi hidup sehari-harinya.Profesi keperawatan mempunyai otonomi dalam mengatur dirinya sendiri dan salah satu ciri khasnya adalah patuh terhadap kode etik.Sebagai seorang profesional, perawat menerima tanggung jawab dan mengemban tanggung jawab untuk membuat keputusan dan mengambil langkah-langkah tentang asuhan keperawatan yang diberikan.Perawat juga bekerja di berbagai tatanan dan mengemban berbagai peran yang membutuhkan interaksi bukan saja dengan pasien, keluarga, dan masyarakat, tetapi juga dengan profesi kesehatan lainnya.Kode etik profesi merupakan pernyataan yang komprehensif dari bentuk tugas dan pelayanan dari profesi yang memberi tuntunan bagi anggota dalam melaksanakan praktek di bidang profesinya, baik yang berhubungan dengan pasien, keluarga, masyarakat dan teman sejawat, profesi dan diri sendiri. Sedangkan kode etik keperawatan merupakan daftar prilaku atau

bentuk pedoman/panduan etik prilaku profesi keperawatan secara professional (Aiken, 2003) dengan tujuan utama adanya kode etik keperawatan adalah memberikan perlindungan bagi pelaku dan penerima praktek keperawatan.

Kode etik profesi disusun dan disyahkan oleh organisasi profesinya sendiri yang akan membina anggota profesinya baik secara nasional maupun internasional (Rejeki, 2005). Konsep etik yang merupakan panduan profesi merupakan tanggung jawab dari anggota untuk melaksanakannya. Profesi

(6)

keperawatan sebagai salah satu profesi yang profesional dan mempunyai nilai-nilai atau prinsip moral dalam melakukan prakteknya, maka kode etik sangatlah diperlukan. Perawat sebagai anggota profesi keperawatan hendaknya dapat menjalankan kode etik keperawatan yang telah dibuat dengan sebaik-baiknya dengan tetap memegang teguh dan selalu dilandasi oleh nilai-nilai moral profesionalnya (Misparsih, 2005). Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menyadari bahwa perawat Indonesia yang

berjiwa pancasila dan UUD 1945 merasa terpanggil untuk menunaikan kewajiban dalam bidang keperawatan dengan penuh tanggung jawab yang berpedoman pada dasar-dasar kode etik profesi keperawatan sebagai berikut

A. Perawat dan Pasien

1. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai harkat dan martabat manusia, keunikan pasien, dan tidak terpengaruh olehpertimbangan kebangsaan,kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik, danagama yang dianut serta kedudukan sosial.

2. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan kelangsungan hidup beragama dari pasien.

3. Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang membutuhkan asuhan keperawatan.

4. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya kecuali jika diperlukan oleh yang berwenang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

B. Perawat dan Praktik

1. Perawat memelihara dan meningkatkan kompetisi di bidang keperawatan melalui belajar terus menerus.

(7)

2. Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai kejujuran professional yang menerapkan pengetahuan serta keterampilan keperawatan sesuai dengan kebutuhan pasien.

3. Perawat dalam membuat keputusan didasarkan pada informasi yang akurat dan mempertimbangkan kemampuan serta kualifikasi seseorang bila melakukan konsultasi, menerima delegasi, dan memberikan delegasi kepada orang lain.

4. Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan selalu menunjukkan perilaku professional.

C. Perawat dan Teman Sejawat

1. Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan sesama perawat maupun dengan tenaga kesehatan lainnya, dan dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara menyeluruh.

2. Perawat bertindak melindungi pasien dari tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis dan ilegal.

D. Perawat dan Profesi lainnya

1. Perawat mempunyai peran utama dalam menentukan standar pendidikan dan pelayanan keperawatan serta menerapkannya dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan keperawatan.

2. Perawat berperan aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi keperawatan.

3. Perawat berpartisipasi aktif dalam upaya profesi untuk membangun dan memelihara kondisi kerja yang kondusif demi terwujudnya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi.

(8)

E. Perawat dan Masyarakat

Perawat mengemban tanggung jawab bersama masyarakat untuk memprakarsai dan mendukung berbagai kegiatan dalam memenuhi kebutuhan dan kesehatan masyarakat.

(9)

BAB III

KODE ETIK PROFESI KEBIDANAN

Bidan merupakan profesi yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang dibuat sehubungan dengan pasien dan harus memiliki tanggung jawab moral terhadap keputusan yang diambil. Untuk dapat menjalankan praktek kebidanan dengan baik tidak hanya dibutuhkan pengetahuan klinik yang baik, serta pengetahuan yang up to date, tetapi bidan juga harus mempunyai pemahaman isu etik dalam pelayanan kebidanan (Wahyuningsih, 2006).

Seorang bidan harus mampu menyesuaikan dengan keadaan dirinya dan berlandaskan pada kode etik dan standar profesi. Bidan tidak dapat memaksakan untuk mengadapatasi suatu teori etika secara kaku, karena hal ini akan merugikan bidan itu sendiri. Bidan harus menilai kemampuan dirinya dalam melakukan sesuatu namun tidak menyimpang dari prinsip pelayanan, yaitu berusaha mengutamakan keselamatan pasien serta keluarga (Wahyuningsih, 2006; Soepardan & Hadi, 2007).

Sesuai dengan wewenang dan peraturan kebijaksanaan yang berlaku bagi bidan, kode etik merupakan pedoman dalam berperilaku yang disusun berdasarkan pada penekanan keselamatan pasien. Kode etik bidan ini telah tertulis dan dijelaskan dalam Kemenkes No. 369/MENKES/SK/III/2007, yaitu:

A. Bidan dan Klien dan Masyarakat

1. Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah jabatannya dalam melaksanakan tugas pengabdiannya.

2. Setiap bidan dalam menjalankan tugas profesinya menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan yang utuh dan memelihara citra bidan.

(10)

3. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa berpedoman pada peran, tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat.

4. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa mendahulukan kepentingan klien, menghormati hak klien dan nilai-nilai yang dianut.

5. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya mendahulukan kepentingan klien, keluarga dan masyarakat dengan identitas yang sama sesuai dengan kebutuhan berdasarkan kemampuan yang dimilikinya.

6. Setiap bidan senantiasa menciptakan suasana yang serasi dalam hubungan pelaksanaan tugasnya dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatannya secara optimal.

B. Bidan dan Tugasnya

1. Setiap bidan senantiasa memberikan pelayanan paripurna kepada klien, keluarga dan masyarakat sesuai dengan kemampuan profesi yang dimilikinya berdasarkankebutuhan klien, keluarga dan masyarakat. 2

2. Setiap bidan berkewajiban memberikan pertolongan sesuai dengan kewenangandalam mengambil keputusan termasuk mengadakan konsultasi dan/rujukan.

3. Setiap bidan harus menjamin kerahasiaan keterangan yang didapat dan/atau dipercayakan kepadanya, kecuali bila diminta oleh pengadilan atau diperlukan sehubungan dengan kepentingan klien.

C. Bidan dan Teman Sejawat

1. Setiap bidan harus menjalin hubungan dengan teman sejawatnya untuk menciptakan suasana kerja yang serasi.

2. Setiap bidan dalam melaksanakan tugasnya harus saling menghormati baik terhadap sejawatnya maupun tenaga kesehatan lainnya.

D. Bidan dan Profesi

1. Setiap bidan wajib menjaga nama baik dan menjunjung tinggi citra

(11)

profesi dengan menampilkan kepribadian yang bermartabat dan memberikan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat.

2. Setiap bidan wajib senantiasa mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuanprofesinya sesuai dengan perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi.

3. Setiap bidan senantiasa berperan serta dalam kegiatan penelitian dan kegiatan sejenisnya yang dapat meningkatkan mutu citra profesinya.

E. Bidan dan Diri Sendiri

1. Setiap bidan wajib memelihara kesehatan agar dapat melaksanakan tugas profesinya dengan baik.

2. Setiap bidan wajib meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan sesuai dengan perkembangan ilmu kesehatan dan teknologi.

(12)

BAB IV

PRINSIP-PRINSIP MORAL ETIK KEPERAWATAN

Terdapat delapan prinsip moral etika keperawatan yang wajib diketahui dan diimplikasikan oleh setiap perawat dan bidan dalam memberikan layanan keperawatan kepada pasien sebagai individu, keluarga, dan masyarakat, yaitu :

A. Autonomy (Otonomi)

Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa mampu memutuskan sesuatudan orang lain harus menghargainya. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri.

B. Beneficience (Berbuat baik)

Prinsip ini menuntut perawat untuk melakukan hal yang baik dengan begitu dapat

mencegah kesalahan atau kejahatan.

C. Justice (Keadilan)

Prinsip ini direfleksikan dalam praktek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktik, dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.

D. Nonmaleficince (Tidak merugikan)

Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya atau cedera fisik dan psikologis pada pasien.

E. Veracity (Kejujuran)

Prinsip ini bukan hanya dimiliki oleh perawat, namun harus dimiliki oleh seluruh pemberi layanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran setiap pasien untuk meyakinkan pasien supaya mengerti.Informasi yang diberikan harus akurat, komprehensif, dan objektif.Kebenaran merupakan dasar

(13)

membina hubungan saling percaya.Pasien memiliki otonomi sehingga mereka memiliki hak untuk mendapatkan informasi yang ingin diketahui oleh pasien.

F. Fidelity (Menepati Janji/Setia)

Prinsip ini berhubungan dengan tanggung jawab yang besar bagi seorang perawat dalam meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan, dan meminimalkan penderitaan pasien. Untuk mencapai itu perawat harus memiliki komitmen menepati janji dan menghargai komitmennya kepada orang lain.

G. Confidentiality (Kerahasiaan)

Prinsip ini menjaga kerahasiaan informasi tentang pasien yang harus dijaga.Dokumentasi tentang keadaan kesehatan pasien hanya bisa dibaca guna keperluan pengobatan dan peningkatan kesehatan pasien.Diskusi tentang pasien di luar area pelayanan harus dihindari.

H. Accountability (Akuntabilitas / Tanggung jawab)

Prinsip ini merupakan standar yang pasti bahwa tindakan seorang profesional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanda terkecuali.

(14)

BAB V

JENIS - JENIS PELANGGARAN

DAN MEKANISME PENANGANAN PELANGGARAN ETIK

Setiap perawat harus memiliki moral etik dan disiplin profesi yang tinggi dalam memberikan asuhan keperawatan dengan menerapkan standar pelayanan, prosedur operasional serta menerapkan etika profesi dalam praktiknya.Profesionalisme tenaga keperawatan dapat ditingkatkan dengan melakukan pembinaan dan penegakan disiplin profesi serta penguatan prinsip-prinsip moral etik dalam kehidupan profesi. Berikut ini akan dijelaskan mengenai pelanggaran kode etik keperawatan dan pelanggaran prinsip moral etik :

A. Pelanggaran Kode Etik Keperawatan

1. Tanggung jawab perawat/bidan terhadap pasien

a. Membedakan dalam melakukan pelayanan asuhan keperawatan kepada pasien yang didasarkan atas perbedaan kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik, dan agama yang dianut serta kedudukan sosial.

b. Tidak mengorientasikan tempat (ruangan) dan petugas kesehatan kepada pasien.

c. Memberikan informasi kepada pasien yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, sehingga merugikan pasien dan/atau keluarga pasien.

d. Membiarkan pasien dalam keadaan tidak rapi.

e. Tidak mencuci tangan setiap kali akan dan selesai berkontak dengan pasien atau melakukan tindakan.

f. Kurang menunjukkan sikap empati kepada pasien dan keluarga pasien.

g. Tidak memberikan informasi kepada pasien dan/atau keluarga pasien saat akan melakukan tindakan keperawatan.

(15)

h. Melakukan tindakan atau perilaku yang dapat mengganggu kenyamanan atau ketenangan pasien dan/atau keluarga pasien.

i. Tidak membantu memenuhi kebutuhan dasar dam fisiologis pasien.

j. Tidak memberikan bimbingan rohani atau menunjuk pada pemuka agama padasaat pasien membutuhkan atau dalam sakratul maut.

k. Melakukan tindakan keperawatan kepada pasien tidak sesuai dengan Standar Prosedur Operasional, yang dapat merugikan atau menyebabkan kecacatan/ kematian pada pasien.

l. Kesalahan dalam pemberian pengobatan.

m. Tidak bertindak pada saat pasien dalam keadaan sekarat/henti jantung/pain (kecuali keinginan keluarga).

n. Tidak memperhatikan keamanan pasien (misal: pasien jatuh, tergelincir, keracunan, salah obat, salah transfusi, dan lain-lain).

1. Meminta imbalan kepada pasien/keluarga.

a. Bersikap judes dan tidak ramah dalam melayani pasien dan/atau keluarga pasien.

b. Membicarakan informasi mengenai kondisi penyakit, sikap, perilaku, atau rahasia pasien di luar tempat kerja, pada orang yang tidak berhak mendapatkan informasi tersebut, atau dimuat/dipublikasikan di sosial media massa.

2. Tanggung jawab perawat/bidan terhadap tugas/praktik

a. Tidak berusaha memahami berbagai prosedur dan kebijakan rumah sakit yang terkait dengan tugas sebagai perawat/bidan.

b. Tidak mampu membuat keputusan dan menentukan pelimpahan tugas wewenang (delegasi) yang diberikan kepada perawat/bidan lain.

c. Tidak mampu menjalankan dan mempertanggungjawabkan tugas pelimpahan wewenang (delegasi) yang diberikan.

d. Mengambil suatu keputusan dan melakukan tindakan asuhan keperawatan yang tidak didasarkan pada kemampuan/kompetensi

(16)

yang dimiliki atau tanpamelakukan konsultasi/nasehat terlebih dahulu kepada perawat/bidan/tenaga kesehatan lainnya yang lebih kompeten /pakar.

e. Tidak menunjukkan perilaku yang profesional, seperti: memakai uniform yang tidak lengkap, tidak menjaga kesopanan dalam berkomunikasi, tidak disiplin, tidak menepati janji, tidak jujur dalam menjalankan tugas/pekerjaan, tidak menghargai hak dan memojokkan/menghakimi pasien.

f. Tidak melakukan antisipasi terhadap keamanan kenyamanan pasien.

g. Tidak memelihara mutu pelayanan dan asuhan keperawatan/kebidanan secara optimal.

h. Tidak melakukan evaluasi setelah melakukan tindakan keperawatan (misal: respon pasien, kondisi pasien, dan lain-lain).

i. Tidak cakap dalam menjalankan pemberian asuhan keperawatan/kebidanan meski telah dicoba ditempatkan pada beberapa jenis pekerjaan yang dianggap sesuai dengan kemampuannya, prestasi menurun walaupun sudah diberi teguran dan tidak ada usaha untuk memeperbaiki/meningkatkan diri.

j. Mengoperasikan mesin, peralatan atau menggunakan bahan-bahan atau peralatan tidak sesuai dengan perintah atasan atau Standar Prosedur Operasional (SPO) sehingga membahayakan dirinya sendiri/orang lain atau menimbulkan kerugian bagi RSUP H. Adam Malik.

k. Mempergunakan barang milik RSUP H. Adam Malik untuk kepentingan pribadi tanpa izin dari atasan atau pihak berwenang.

l. Mengubah atau memalsukan catatan asuhan keperawatan pasien.

2. Tanggung jawab perawat/bidan terhadap sesama perawat/bidan dan tenaga kesehatan lain

(17)

a. Kurang menghargai privacy, hasil kerja, martabat perawat/bidan lain atau tenagakesehatan lain.

b. Tidak menghargai kelebihan/prestasi perawat/bidan lain atau tenaga kesehatanlain.

c. Tidak menghormati hak sesama perawat/bidan dan atau tenaga kesehatan lain.

d. Tidak ingin bekerjasama dalam tugas dengan sesama perawat/bidan atau tenagakesehatan lain.

e. Tidak ingin membantu perawat/bidan lain dalam menjalankan tugas saat dibutuhkan.

f. Tidak memelihara suasana kerja yang harmonis dan kondusif.

g. Melemparkan tanggung jawab kepada perawat/bidan lain.

h. Tidak ingin memberikan/transformasi ilmu, keterampilan, dan pengalamanan kepada perawat/bidan lain atau tenaga kesehatan lain.

i. Tidak ingin menerima pengetahuan, pengalaman, keterampilan dari semua perawat/bidan dan profesi lain dalam rangka peningkatan keterampilan di bidang keperawatan/kebidanan.

j. Membicarakan kekurangan atau keburukan perawat/bidan atau tenaga kesehatan lain di depan/kepada pasien dan/atau keluarga pasien.

k. .Bertengkar dengan sesama perawat/bidan atau tenaga kesehatan lain.

l. Melakukan tindakan tidak etis terhadap sesama perawat/bidan atau tenaga kesehatan lain.

m. Mencelakakan perawat/bidan dan tenaga kesehatan lain.

n. Mengadu domba sesama perawat/bidan atau tenaga kesehatan lain.

o. Melindungi perbuatan perawat, bidan, atau tenaga kesehatan lain yang telah memberikan pelayanan kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis, atau ilegal.

(18)

3. Tanggung jawab perawat/bidan terhadap profesi keperawatan/kebidanan a. Menolak untuk meningkatkan pendidikan formal dan non formal

dalam rangka pengembangan profesi keperawatan/kebidanan.

b. Tidak berupaya meningkatkan kemampuan profesional.

c. Tidak menjunjung tinggi nama baik profesi dengan menunjukkan perilaku dan sifat pribadi yang tercela.

d. Menjual nama organisasi profesi Keperawatan/Kebidanan untuk kepentingan pribadi, mencari dana atas nama profesi lain untuk kepentingan pribadi, promosi produk tertentu dikaitkan dengan profesi untuk kepentingan pribadi.

B. Pelanggaran Prinsip Moral Etik 1. Autonomy (Otonomi)

Tidak menghormati dan menghargai hak-hak pasien, seperti:

a. Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di rumah sakit.

b. Pelayanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi.

c. Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi danstandar prosedur operasional.

d. Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi.

e. Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan.

f. Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan yang berlaku di rumah sakit.

g. Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit.

h. Dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat klinis dan pendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar.

(19)

i. Meminta konsultasi kepada dokter lain yang terdaftar di rumah sakit tersebut(second opinion) terhadap penyakit yang dideritanya dengan sepengetahuan dari dokter yang merawatnya.

j. Keleluasaan pribadi ”privacy” dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya, dll.

k. Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya.

l. Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan.

m. Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya.

n. Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis.

o. Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya.

p. Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit.

q. Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya.

r. Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya.

s. Menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdataataupun pidana.

t. Mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan peraturanperundang-undangan

2. Beneficience (Berbuat baik)

(20)

A. Tidak menjalankan peran perawat sebagai:

1) Pemberi Asuhan Keperawatan

Perawat memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis keperawatan agar bisa direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian dapat dievaluasi tingkat perkembangannya. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.

2) Advokasi pasien

Peran yang dilakukan perawat dalam membantu pasien dan keluarga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan atau informasi lain khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien, juga dapat berperan mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien yang meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas privasi, hak untuk menentukan nasibnya sendiri dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian.

3) Edukator

Peran yang dilakukan perawat dalam membantu pasien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan, sehingga terjadi perubahan perilaku dari pasien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

4) Koordinator

Peran ini dilaksanakan perawat dengan mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberian pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan pasien.

5) Kolaborator

(21)

Peran perawat disini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapis, ahli gizi, dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan bentuk pelayanan selanjutnya.

6) Konsultan

Peran disini adalah sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan.Peran ini dilakukan atas permintaan pasien terhadap informasi tentang tujuan pelayanan keperawatan yang diberikan.

7) Peneliti / Pembaharu

Peran sebagai pembaharu dapat dilakukan dengan mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan.

b. Tidak menjalankan fungsi perawat : 1) Fungsi independen

Merupakan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain, dimana perawat dalam melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan tindakan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti pemenuhan kebutuhan fisiologis (pemenuhan kebutuhan oksigenasi, cairan dan elektrolit, nutrisi, kebutuhan aktivitas, dan lain-lain), pemenuhan kebutuhan keamanan dan kenyamanan, cintai mencintai, harga diri dan pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri.

2) Fungsi dependen

Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatan atas pesan atau instruksi dari perawat lain. Sehingga sebagian tindakan pelimpahan tugsa yang diberikan.hal ini biasanya dilakukan oleh perawat spesialis kepada perawat umum atau dari perawat primer ke perawat pelaksana.

(22)

3) Fungsi interdependen

Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan di antara tim satu dengan yang lainnya. Fungsi ini dapat terjadi apabila bentuk pelayanan membutuhkan kerja sama tim dalam pemberian pelayanan seperti dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang mempunyai penyakit kompleks. Keadaan ini tidak dapat diatasi dengan tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun yang lainnya.

3. Justice (Keadilan)

a. Tidak mampu memberikan pelayanan asuhan keperawatan secara adil b. Tidak mampu memberikan pelayanan asuhan keperawatan yang

didasarkanatas prioritas masalah/kondisi atau kebutuhan pasien.

4. Nonmaleficience (Tidak merugikan)

Perawat/bidan melakukan tindakan yang menimbulkan bahaya atau cedera fisik dan psikologis pada pasien.

5. Veracity (Kejujuran)

a) Memberikan informasi yang salah atau tidak akurat kepada pasien dan/atau keluarga pasien.

b) Tidak jujur dalam bekerja.

6. Fidelity (Menepati Janji / Setia)

Tidak bertanggung jawab dalam meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan, dan meminimalkan penderitaan pasien.

7. Confidentiality (Kerahasiaan)

a. Tidak dapat menjaga kerahasiaan informasi tentang pasien.

b. Diskusi tentang pasien di luar area pelayanan.

8.Accountability (Akuntabilitas/Tanggung jawab) Tidak dapat bertanggungjawab pada diri sendiri, profesi, pasien, sesama temansejawat, profesi lain, karyawan lain, atau masyarakat.

C. Mekanisme Penanganan Masalah Etik

(23)

Penanganan masalah etika keperawatan dan kebidanan merupakan penanganan masalah yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan pelanggaran masalah Kode Etik Keperawatan, prinsip moral etik keperawatan, dan Kode Etik Kebidanan.

Yang bertanggung jawab dalam masalah etik adalah : 1) Direktur RSUP H. Adam Malik.

2) Manajer Keperawatan.

3) Koordinator Mutu dan Penunjang serta Kepala Ruangan 4) Ketua Komite Keperawatan melalui Sub KomiteDisiplin EtikKeperawatan.

Mekanisme penyelesaian masalah etika meliputi : a. Membuat kronologis kejadian.

b. Menilai bobot masalah dan pemberian kode pelanggaran (hijau, kuning, atau merah).

1) Kode Hijau ( Ringan )

 Diberikan kepada perawat/bidan yang baru melakukan pelanggaran pertamakali.

 Diberikan kepada perawat atau bidan yang melakukan pelanggaran yang

menyebabkan risiko cedera fisik dan psikologis bagi pasien.

2) Kode Kuning ( sedang )

 Diberikan pada perawat atau bidan yang melakukan pelanggaran yang sama seperti pelanggaran yang telah dilakukan sebelumnya (perawat pernah melakukan pelanggaran kode hijau).

 Diberikan pada perawat atau bidan yang melakukan pelanggaran yang merugikan pasien secara fisik (tidak menyebabkan kecacatan atau kematian) psikologis, dan atau materi.

3) Kode Merah ( Merah )

(24)

 Diberikan pada perawat atau bidan yang telah melakukan pelanggaran yang sama untuk ketiga kalinya.

 Diberikan pada perawat atau bidan yang telah melakukan pelanggaran yang merugikan pasien secara fisik (kecacatan sampai dengan kematian), psikologis, dan materi.

 Perawat atau bidan diberikan sanksi pencabutan kewenangan klinik sementara hingga tetap.

Penyelesaian masalah secara berjenjang, yaitu: Kepala Ruangan, Kordinator, Manager Keperawatan, Direktur dengan melibatkan Komite Keperawatan (Subkomite Disiplin dan Etik ) dan organisasi profesi (PPNIdan IBI).

2. Proses Penanganan masalah etik sesuai dengan kode pelanggaran a. Pelanggaran Kode Hijau

1) Perawat atau bidan yang melakukan pelanggaran etik diberikan teguran atauperingatan secara lisan oleh atasan (Kepala ruangan Koordinator/Manajer Keperawatan ) untuk tidak mengulangi lagi kesalahan atau pelanggaranyang sama di kemudian hari.

2) Perawat/bidan yang melakukan pelanggaran membuat laporan kronologis padaformulir Laporan Kronologis Pelanggaran Disiplin dan Etik Profesi Keperawatan/Kebidanan.

3) Atasan (Kepala ruangan Koordinator/Manajer Keperawatan) mengisi Formulir Peringatan Lisan dan ditandatangani oleh perawat atau bidan yang diberi peringatan dan pihak yang memberi peringatan (atasan).

Selanjutnya, formulir diserahkan ke Komite Keperawatan dengan tembusan kepada Manager Keperawatan, Koordinator Kepala ruangan, dan perawat atau bidan yang bersangkutan.

4) Laporan kronologis yang telah ditandatangani perawat/bidan yang melakukan pelanggaran, dilampirkan dan diserahkan kepada Komite Keperawatan sebagai arsip atau dokumentasi pelaporan masalah etik.

(25)

5) Ketua Komite Keperawatan mendisposisikan laporan pelanggaran etik dan

Disiplin kepada Subkomite Disiplin dan Etik

6) Subkomite Disiplin dan Etik melakukan verifikasi, peringatan lisan, dan memberikan pembinaan etik atau pengarahan konseling terhadap perawat atau bidan yang melakukan pelanggaran.

7) Subkomite Disiplin dan Etik mengisi Formulir Laporan Kejadian Pelanggaran Kode Etik Keperawatan/Kebidanan sesuai pelanggaran yang telah dilakukan oleh Perawat/Bidan.

8) Subkomite Disiplin dan Etik membuat dan menyerahkan laporan hasil verifikasi dan rekomendasi tindak lanjut kepada Ketua Komite Keperawatan.

b. Pelanggaran Kode Kuning

1) Atasan (Manajer Keperawatan) melakukan

teguran atau peringatan secara tertulis kepada perawat atau bidan yang melakukan pelanggaran, untuk tidak mengulang kembali ketiga kalinya di kemudian hari hingga pencabutan kewenangan klinik sementara.

2) Perawat atau bidan yang melakukan pelanggaran membuat laporan kronologis pada Formulir Laporan Kronologis Pelanggaran Etik dan

Disiplin Profesi Keperawatan/Kebidanan.

3) Atasan (Manajer Keperawatan/Senior Manager Keperawatan) mengisi Formulir Peringatan Tertulis dan ditandatangani oleh perawat/bidan yang diberi peringatan dan pihak yang memberi peringatan (Atasan).

Selanjutnya, formulir diserahkan ke Komite Keperawatan dengan tembusan kepada Senior Manager Keperawatan,Supervisi/Koordinator, dan perawat atau bidan yang bersangkutan.

4) Laporan kronologis yang telah ditandatangani perawat/bidan yang melakukan

(26)

pelanggaran, dilampirkan dan diserahkan kepada Komite Keperawatan sebagai arsip atau dokumentasi pelaporan masalah etik.

5) Ketua Komite Keperawatan mendisposisikan laporan pelanggaran etik kepada Subkomite Etik Keperawatan.

6) Subkomite Etik dan Disiplin melakukan verifikasi bersama Mitra Bestari, pembinaan etik atau pengarahan konseling, memberitahukan mengenai pencabutan kewenangan klinis sementara, dan memberikan penugasan kepada perawat atau bidan yang melakukan pelanggaran, seperti:

membuat Asuhan Keperawatan, makalah keperawatan, atau presentasi kasus.

7) Subkomite DisiplinEtik mengisi Formulir Laporan Kejadian Pelanggaran Kode Etik Keperawatan/Kebidanan sesuai pelanggaran yang telah dilakukan oleh Perawat/Bidan.

8) Subkomite Etik Keperawatan membuat dan menyerahkan laporan hasil verifikasi dan rekomendasi tindak lanjut kepada Ketua Komite Keperawatan.

9) Surat rekomendasi tindak lanjut penanganan masalah etik diserahkan kepada Direktur RSUP.H.Adam.Malik yang telah ditandatangani oleh Ketua Komite Keperawatan.

10) DirekturRSUP.H.Adam.Malikmengeluarkan Surat Pemberitahuan kepada Manajer Keperawatan mengenai tindak lanjut pada perawat atau bidan yang melakukan pelanggaran etik sesuai yang telah direkomendasikan oleh Komite Keperawatan.

11) Direktur RSUP.H.Adam.Malik mengeluarkan Surat Pencabutan Kewenangan Klinis sementara untuk perawat atau bidan yang telah melakukan pelanggaran.

c. Pelanggaran Kode Merah

1) Perawat/bidan yang melakukan pelanggaran membuat laporan kronologis pada Formulir Laporan Kronologis Pelanggaran Disiplin dan Etik Profesi

(27)

Keperawatan/Kebidanan.

2)Laporan kronologis yang telah ditandatangani oleh perawat/bidan yang melakukan pelanggaran, dilampirkan dan diserahkan kepada Komite Keperawatan sebagai arsip atau dokumentasi pelaporan masalah etik.

3) Ketua Komite Keperawatan mendisposisikan laporan pelanggaran etik kepada Subkomite Etik dan Disiplin.

4) Subkomite Disiplin dan Etik melakukan verifikasi bersama dengan Mitra Bestari, pembinaan etik atau pengarahan konseling, dan memberitahukan mengenai pencabutan kewenangan klinis sementara, pencabutan kewenangan klinis menetap, sampai pencabutan Surat Tanda Registrasi (STR) kepada perawat atau bidan bersangkutan sesuai pelanggaran yang telah dilakukannya.

5)Subkomite Disiplin dan Etik mengisi Formulir Laporan Kejadian Pelanggaran Kode Etik Keperawatan/Kebidanan sesuai pelanggaran yang telah dilakukan oleh Perawat/Bidan.

6) Subkomite Disiplin dan Etik membuat dan menyerahkan laporan hasil verifikasi dan rekomendasi tindak lanjut pencabutan kewenangan klinik kepada Ketua Komite Keperawatan.

7) Surat rekomendasi Pencabutan Kewenangan Klinik ditandatangai oleh Ketua Komite Keperawatan

8)Direktur RSUP.H.Adam.Malik mengeluarkan Surat Pencabutan Kewenangan Klinik Sementara atau tetap untuk perawat atau bidan yang telah melakukan pelanggaran.

9) Komite Keperawatan dan Bidang Keperawatan memberitahukan dan melibatkan Komite Etik RSUP.H.Adam Malik, organisasi profesi keperawatan (PPNI), atau organisasi profesi kebidanan (IBI), mulai dari tingkat DPK RSUP.H.Adam Malik , DPD atau DPW, hingga DPP (jika diperlukan), dan juga dapat melibatkan Majelis Kode Etik Keperawatan (MKEK) atau Majelis Pertimbangan Etik Bidan (MPEB) (jika diperlukan)

(28)

untuk penanganan lebih lanjut dalam menyelesaikan masalah pelanggaran etik profesi perawat atau bidan.

3. Sistem Pencatatan dan Pelaporan

Setiap terjadi pelanggaran Kode Etik Keperawatan dilakukan pencatatan dan pelaporan menggunakan formulir baku yang ditentukan oleh RSUP.H.Adam.Malik sebagai berikut:

a. Formulir Laporan Kronologis Pelanggaran Etik dan Disiplin Profesi Keperawatan/Kebidanan (Lampiran 1)

Formulir ini ditujukkan untuk perawat atau bidan yang melakukan pelanggaran kode etik keperawatan/kebidanan yang diisi dan ditandatangani oleh perawat atau bidan yang bersangkuta.

b. Formulir Peringatan Lisan (Lampiran 2)

Formulir ini ditujukan untuk perawat atau bidan yang melakukan pelanggaran kode etik keperawatan/kebidanan yang diisi oleh Koordinator./Manajer Keperawatan/Senior Manager Keperawatan.

c. Formulir Peringatan Tertulis (Lampiran 3)

Formulir ini ditujukan untuk perawat atau bidan yang melakukan pelanggaran kode etik keperawatan/kebidanan yang diisi oleh Koordinator/Manajer Keperawatan/Senior Manager Keperawatan.

d. Formulir Laporan Kejadian Pelanggaran Kode Etik (Lampiran 4)

Formulir ini berfungsi untuk mencatat laporan kejadian pelanggaran kode etik profesi keperawatan/kebidanan yang diisi oleh Subkomite Etik dan Disiplin.

e. Formulir Pengarahan/Konseling (Lampiran 5)

Formulir ini berfungsi bahwa perawat/bidan yang bersangkutan telah melakukan pelanggaran sebagai pengakuan dan telah diberikan pengarahan. Formulir ini diisi oleh yang telah memberikan pengarahan (konselor) dan ditandatangani oleh perawat/bidan yang bersangkutan.

4. Penomoran Pelanggaran

(29)

Setiap pelanggaran Kode Etik Keperawatan/Kebidanan terdapat nomor pelanggaran yang sesuai jenis pelanggaran etika keperawatan/kebidanan.

Contoh penomoran tersebut adalah : a. Kasus I :

Seorang perawat/bidan tidak memberikan informasi kepada pasien dan/atau keluarga pasien saat akan melakukan tindakan keperawatan.

Maka nomor pelanggaran perawat/bidan tersebut adalah A1g, yaitu pelanggaran etik (A), terkait tanggung jawab perawat/bidan terhadap pasien (1), di point tidak memberikan informasi kepada pasien dan/atau keluarga pasien saat akan melakukan tindakan keperawatan.

b. Kasus II :

Seorang perawat/bidan tidak melakukan evaluasi respon pasien setelah melakukan tindakan keperawatan. Maka nomor pelanggaran perawat/bidan tersebut adalah A2h, yaitu pelanggaran etik (A), terkait tanggung jawab perawat/bidan terhadap tugas/praktik (2), di point tidak melakukan evaluasi setelah melakukan tindakan keperawatan (misal:

respon pasien, kondisi pasien, dan lain-lain) (h).

5. Proses Pemulihan Kewenangan Klinis a. Pemulihan kewenangan klinis sementara

1) Perawat atau bidan yang telah dicabut kewenangan klinis sementara, tidak dapatmelakukan tindakan keperawatan mandiri atau tindakan yang didelegasikan atau dimandatkan selama satu (1) sampai dengan 12 bulan.

2) Kewenangan klinis perawat atau bidan yang melakukan pelanggaran akan diberikan kembali setelah perawat atau bidan tersebut menjalani proses bimbingan, evaluasi, dan dinyatakan kompeten oleh Subkomite Mutu Profesi Keperawatan dan Mitra Bestari.

b. Pemulihan kewenanganan klinis menetap

1) Perawat atau bidan yang telah dicabut kewenangan klinis menetap, tidak dapatmelakukan tindakan keperawatan mandiri atau tindakan yang

(30)

didelegasikan atau dimandatkan dalam waktu yang tidak dapat ditentukan.

2) Kewenangan klinis perawat atau bidan yang melakukan pelanggaran kode etik profesi akan diberikan kembali setelah perawat atau bidan tersebut:

a) Menjalani proses sidang etik profesi oleh Tim Komite Etik Rumah Sakit, organisasi profesi, dan sidang kode etik melalui MKEK atau MPEB.

b) Menjalani proses bimbingan, evaluasi, dan dinyatakan kompeten oleh Subkomite Mutu Profesi Keperawatan dan Mitra Bestari jika perawat atau bidan yang melakukan pelanggaran telah diperbolehkan kembali oleh organisasi profesi dan atau MKEK/MPEB untuk melakukan asuhan keperawatan atau asuhan kebidanan.

6. Pencabutan dan Pemulihan STR Perawat/Bidan

Pencabutan dan pemulihan STR perawat atau bidan yang melakukan pelanggaran kode etik profesi merupakan kewenangan dari organisasi profesi ( PPNIdan IBI ) melalui sidang kode etik profesi oleh MKEK atau MPEB.

(31)

BAB VI PENUTUP

Dengan ditetapkannya Pedoman Disiplin dan Etik Profesi Keperawatan dan Kebidanan, maka diharapkan pelanggaran yang ada dapat ditangani sesuai dengan acuan yang sudah berlaku pada Peraturan di RSUP H. Adam Malik.

(32)

DAFTAR PUSTAKA Kemenkes RI. (2007). Standar profesi bidan. Jakarta.

Permenkes RI. (2013). Komite keperawatan rumah sakit. Jakarta.

Soepardan, S., & Hadi, D, A. (2008).Etika kebidanan dan hukum kesehatan.

Jakarta: EGC.

Suhaemi, M, E. (2004). Etika keperawatan.Aplikasi pada praktik. Jakarta:

EGC.

Wahyuningsih, H, P. (2006). Etika profesi kebidanan sebuah pengantar.

Yogyakarta: Fitrimaya.

Wulan, K., & Hastuti, M. (2011).Pengantar etika keperawatan.Panduan lengkap menjadi perawat profesional berwawasan etik. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

(33)

Lampiran 1

LAPORAN KRONOLOGIS PELANGGARAN ETIK DAN DISIPLIN PROFESI KEPERAWATAN/KEBIDANAN

No. : ... / 20....

Nama Perawat/Bidan : ...

NIP : ...

Jabatan : ...

Ruangan : ...

Lama Bekerja : ...

Ka.Ruangan / Kordinator Unit : ...

Sosialisasi yang sudah diperolah dan siapa yang mensosialisasikan :

...

...

Masalah:

...

...

...

...

Tempat/Waktu

Kejadian : ...

Nama Pasien : ...(jika masalah terkait dengan pasien) No.RM : ...(jika masalah terkait dengan pasien) Uraian Masalah :

...

...

...

...

Demikian laporan ini saya tulis dengan sebenarnya dan tidak ada suatu rekaan cerita ataupun

paksaan dari pihak manapun.

Medan, ...20...

Mengetahui,Pembuat Laporan Subkomite Etik Keperawatan

(...) (...) NIP. ... NIP. ...

(34)

Lampiran 2

PERINGATAN LISAN

Peringatan Lisan ini diberikan kepada :

Nama : ...

NIK : ...

Profesi : Perawat/Bidan*)

Unit Kerja : ...

Hari/ Tanggal : ...

Jam : ...

Pada hari..., tanggal..., Saudara/i telah melakukan pelanggaran etik dan disiplin

berupa...dan pelanggaran tersebut disaksikan oleh...(jika ada).

Saya sebagai Atasan memberikan peringatan secara lisan kepada Saudara/i untuk dapat memperbaiki perilaku/memelihara suasana kerja/hubungan kerja*) yang lebih baik. Bilamana di kemudian hari saudara/i berbuat kesalahan/pelanggaran yang serupa atau lainnya, maka saya selaku Atasan (Ka.Ruangan Koordinator ) akan mengambil tindakan yang lebih tegas sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, ... 20...

Yang Diberi Peringatan, Yang Memberi Peringatan,

... ...

NIP. ... NIP. ...

Tembusan :

1. Senior Manager Keperawatan 2. Koordinator

3. Perawat/Bidan Yang Bersangkutan

*) Coret yang tidak perlu

(35)

Lampiran 3

PERINGATAN TERTULIS Peringatan Tertulis ini diberikan kepada :

Nama : ...

NIK : ...

Profesi : Perawat/Bidan*)

Unit Kerja : ...

Hari/ Tanggal : ...

Jam : ...

Pelanggaran etik dan disiplin yang telah

dilakukan : ...

...

Pelanggaran disaksikan

oleh: ...

Saya selaku atasan memberikan peringatan sebagai berikut:

...

...

...

...

...

.

Medan, ... 20...

Yang Diberi Peringatan, Yang Memberi Peringatan,

(...) (...) NIP. ... NIP...

Tembusan :

1. Ka.Bid Keperawatan 2. Koordinator

3. Perawat/Bidan Yang Bersangkutan

*) Coret yang tidak perlu

(36)

Lampiran 4

LAPORAN KEJADIAN PELANGGARAN KODE ETIK KEPERAWATAN/KEBIDANAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : ...

NIP : ...

Jabatan : Subkomite Disiplin dan Etik Profesi Keperawatan Melaporkan bahwa Perawat/Bidan *) atas nama:

Nama : ...

NIP : ...

Jabatan : ...

Unit Kerja : ...

Lama Bekerja : ...

Telah melakukan pelanggaran Disiplin dan Etik dengan rincian sebagai berikut:

Hari/Tanggal Kejadian Pelanggaran : ...

Jam Kejadian : ...

Nomor Pelanggaran : ...

Kode Pelanggaran : Hijau / Kuning / Merah *)

Demikian laporan ini yang dapat saya sampaikan sebagai pemberitahuan.

Medan, ...20...

Subkomite Disiplin dan Etik

(...) NIP ...

*) Coret yang tidak perlu

(37)

Lampiran 5

PENGARAHAN / KONSELING Telah dilakukan pengarahan/konseling kepada :

Nama : ...

NIP : ...

Unit Kerja : ...

Hari/Tanggal : ...

Jam : ...

Kode Pelanggaran : Hijau / Kuning / Merah *) Nomor Pelanggaran : ...

Pengarahan yang diberikan :

...

...

...

...

...

Tanggapan Perawat Yang Dikonseling:

...

...

...

...

...

Medan... 20....

Perawat/Bidan yang dikonseling, Konselor,

( ...) (...) NIP ... NIP ...

Referensi

Dokumen terkait

Kepolisian Negara Republik Indonesia, Penegakan Hukum Disiplin Dan Kode Etik. Profesi Kepolisian Negara

Anda dapat menghubungi Komite Etik Grup untuk tiap masalah yang terkait dengan penerapan Kode Etik, khususnya untuk membantu Anda dalam segala pengambilan keputusan sensitif

Sidang Tahunan dipimpin oleh Ketua Komite Keperawatan atau Kepala Bidang Keperawatan dan dihadiri oleh Sekretaris Komite Keperawatan, Bendahara Komite Keperawatan

Untuk menjamin mutu pelayanan yang diterima oleh masyarakat di rumah sakit Santa Elisabeth (secara khusus di bidang pelayanan keperawatan ) Maka Sub Komite mutu pelayanan

Mengingat besarn!a populasi tenaga keperawatan di Rumah Sakit maka dibutuhkan tenaga keperawatan !ang kompeten, mampu berpikir kritis, selalu  berkembang serta memiliki

Demikian hasil pembuatan buku pedoman etik keperawtan ini dibuat. Mengacu pada kode etik keperawatan Indonesia dan kode etik bidan Indonesia denga menambahkandan

(5) Jika berdasarkan pemeriksaan Komite Kode Etik, Pegawai Negeri Sipil yang diduga melakukan Pelanggaran Kode Etik terbukti tidak bersalah, Komite Kode Etik menyampaikan

4231213 Bandung 40116 PERSETUJUAN ETIK ETHICAL APPROVAL Nomor: 107/KEPK-Unisba/XII/2020 Bismillahirrahmanirrahim Komite Etik Penelitian Kesehatan Universitas Islam Bandung, dalam