PENDAHULUAN
Latar Belakang
Terdapat 442 kasus kejang demam di provinsi Jawa Timur selama bulan Januari 2018 (Dinkes, 2018). Terdapat 43 kasus kejang demam di RSUD Bangil Pasuruan pada bulan Januari-Oktober 2019 (Rekam Medis RSUD Bangil, 2019).
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
Manfaat Penelitian
- Akademis
- Praktis
Sebagai tambahan pengetahuan bagi profesi keperawatan dan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai asuhan keperawatan pada anak dengan diagnosa medis kejang demam.
Metode Penulisan
- Metode
- Teknik Pengumpulan Data
- Sumber Data
- Studi Kepustakaan
Sistematika penulisan
- Bagian Awal
- Bagian Inti
- Bagian akhir
Pada bab 2 secara teoritis akan dijelaskan konsep penyakit dan asuhan keperawatan pada anak kejang demam. Agar keluarga pasien mengetahui gejala kejang demam. 3. Kompresi pada lipatan tubuh dapat menurunkan suhu dan mengurangi penguapan.
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Penyakit
- Pengertian Kejang Demam
- Penyebab Kejang Demam
- Jenis-jenis Kejang Demam
- Klasifikasi Kejang Demam
- Manifestasi Klinis
- Penatalaksanaan
- Pemeriksaan Penunjang
- Komplikasi Kejang Demam
- Diagnosa Banding
Kejang demam yang berlangsung <5 detik. Gambaran klinis yang diamati adalah gerakan ekstensi dan fleksi berulang pada lengan atau keempat anggota badan yang terjadi secara cepat. Kejang demam berkepanjangan terkadang disertai hemiparesis sehingga sulit dibedakan dengan kejang akibat proses intrakranial.
Konsep Tumbuh Kembang Anak
- Pengertian Tumbuh Kembang
- Tahapan Tumbuh Kembang Anak
- Tahapan Pertumbuhan Bayi
- Tahapan Pertumbuhan Anak
- Perkembangan Social Anak
- Perkembnagn Psikoseksual Anak
- Perkembangan Psikososial Anak
- Perkembangan Moral Anak
- Perkembangan Kognitif Anak
Pada tahap ini, anak menggunakan energi fisik dan psikologis yang merupakan sarana untuk mengeksplorasi pengetahuan dan pengalamannya melalui aktivitas fisik dan sosial. Pada tahap ini, remaja belajar berinteraksi lebih mendalam dengan orang lain.
Konsep Dampak Masalah
- Kosep Hospitalisasi
- Dampak hospitalisasi pada anak usia sekolah
- Efek Hospitalisasi pada anak
- Reaksi orang tua terhadap hospitalisasi
- Konsep Solusi
Mereka mungkin menunjukkan ketidaksenangan ketika orang tuanya kembali atau pergi, menolak mengikuti rutinitas waktu makan, tidur, atau toilet yang normal, atau mengalami kemunduran ke tingkat perkembangan yang lebih primitif. Secara umum, anak-anak usia sekolah lebih mudah menghadapi perceraian, stres, dan seringkali akibat penyakit atau rawat inap, yang dapat meningkatkan kebutuhan mereka akan rasa aman dan bimbingan orang tua. Anak-anak sekolah menengah dan akhir mungkin lebih bereaksi terhadap keterpisahan dari aktivitas biasa dan teman sebayanya dibandingkan ketidakhadiran orang tua.
Anak-anak prasekolah juga menderita kehilangan kendali karena keterbatasan fisik, perubahan rutinitas, dan ketergantungan pada kepatuhan. Anak-anak usia sekolah biasanya rentan terhadap peristiwa-peristiwa yang dapat mengurangi rasa kendali dan kekuasaan mereka. Perubahan peran keluarga, ketidakmampuan fisik, ketakutan akan kematian, penelantaran atau cedera permanen, ketidakmampuan mengelola stres sesuai ekspektasi budaya yang ada dapat menyebabkan hilangnya kendali.
Jika hal ini tidak memungkinkan, sebaiknya orang tua dapat selalu menjenguk anaknya untuk menjaga kontak/komunikasi antara orang tua dan anak. Orang tua diharapkan bekerjasama dalam perawatan anak yang sakit, terutama dalam pengobatan yang dapat dilakukan. Salah satu teknik untuk mengurangi gangguan dalam pelaksanaan aktivitas sehari-hari adalah dengan jadwal aktivitas terstruktur yang mencakup aktivitas penting bagi anak, seperti tata cara tindakan, bermain dan menonton TV, yang disiapkan oleh perawat, orang tua, dan anak bersama-sama.
Konsep Asuhan Keperawatan
- Pengkajian
- Analisa Data
- Diagnosa Keperawatan
- Intervensi Keperawatan
- Implementasi
- Evaluasi
- Kerangka Masalah
Ibu pasien mengatakan melahirkan di rumah sakit dengan bantuan dokter SC, persalinan berlangsung selama dua jam dan tidak ada komplikasi setelah melahirkan. Ibu pasien mengatakan anaknya diimunisasi dengan 5 jenis imunisasi yaitu BCG dilakukan satu kali pada saat anak lahir, tidak ada reaksi setelah diberikan imunisasi. Ibu pasien mengatakan, saat anaknya berusia 0-6 bulan, makanan yang diberikan adalah ASI dan setelah itu tidak ada keluhan lagi.
Ibu pasien mengatakan, anaknya saat ini mendapat asupan nasi sebagai sumber nutrisinya dan tidak ada keluhan setelah pemberiannya. Keluarga pasien mengatakan pasien buang air besar satu kali sehari, konsistensi lunak, warna kuning, tinja berbau khas, tidak menggunakan obat pencahar, dan bising usus normal 20x/menit. Sedangkan tinjauan kasus menunjukkan bahwa pada pemeriksaan : Bentuk dada simetris, tidak ada retraksi otot pernafasan, tidak ada batuk, tidak ada alat bantu nafas, ritme nafas teratur, pola pernafasan teratur.
Sedangkan pada peninjauan kasus diperoleh data yaitu untuk pemeriksaan klien Inspeksi : Tidak ada sianosis, jari tidak ada kedutan, Palpasi : Nadi kuat, CRT. Sedangkan pada pemeriksaan kasus diperoleh data pemeriksaan: Selaput lendir bibir kering, lidah bersih, rongga mulut bersih, gigi bersih, tidak sulit menelan, perut simetris, normal, mudah bergaul. Sedangkan pada pemeriksaan kasus ditemukan tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada pembesaran kelenjar parotis.
TINJAUAN KASUS
Pengkajian
Ibu pasien mengatakan selama hamil ia rutin memeriksakan diri ke bidan sebulan sekali, imunisasi TT satu kali, ibu pasien mengalami kejang saat usia kehamilan 6 bulan. Kata ibu pasien, pasien bisa menggaruk buku, membalik halaman, membuat lingkaran, menggambar garis. Ibu pasien mengatakan pasien dapat berjalan, naik turun tangga, berjalan mundur, berdiri dengan satu kaki, melempar bola ke atas kepala, menangkap bola dan mendorong mainan.
Ibu pasien mengatakan pasien dapat berbicara dengan lancar, memahami kata-kata perintah, dan membandingkan dua benda. Ibu pasien mengatakan, sepengetahuannya ASI merupakan makanan penting bagi bayi agar anaknya tidak mudah sakit. Saat berumur 6-12 bulan, ia diberi ASI dan bubur dan tidak ada keluhan setelah pemberiannya.
Ibu pasien mengatakan sebelum sakit, nafsu makan anak baik, frekuensi makan 3 kali sehari dengan 1 porsi, menu nasi, tidak ada pantangan makanan, tidak ada pantangan makanan, cara pemberian makan . untuk makan sendiri, ritual saat makan adalah berdoa sebelum makan. Ibu pasien mengatakan saat sakit, anaknya tidak mau makan, frekuensi makan pasien 5 sendok makan 3 kali sehari, menu nasi putih dan ASI, tidak ada pantangan makanan, cara makannya adalah diberi makan oleh ibu, dan ritual saat makan adalah berdoa. Ibu pasien mengatakan, sebelum sakit, kebutuhan cairan anaknya dipenuhi dengan memberikan air putih dan ASI sekitar 1800cc.
Diagnosa Keperawatan
Intervensi
Implementasi
Anjurkan keluarga untuk tetap memberi makan sedikit tapi sering (pasien ingin makan meski sedikit). Anjurkan keluarga untuk terus memberi makan sedikit tapi sering (pasien ingin makan meski sedikit demi sedikit).
Catatan perkembangan
Evaluasi
Identitas Klien : Berdasarkan tinjauan literatur, anak yang mengalami kejang demam biasanya terjadi pada usia 6 bulan – 5 tahun dan tidak ada perbedaan gender. Dalam pemeriksaan kasus ditemukan hal yang sama, yaitu anak usia 1 tahun 8 bulan, menurut penelitian, usia tersebut rentan terhadap penyakit sehingga mudah mengalami kejang demam. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Atut dkk menunjukkan bahwa anak yang memiliki riwayat keluarga dengan kejang demam mempunyai serangan kejang demam pertama yang lebih awal.
Oleh karena itu, tidak adanya keluhan batuk dan pilek pada penderita bukan merupakan indikator mutlak terjadinya kejang demam. Menurut peneliti, pasien mengalami kejang demam bukan karena perilaku orang tuanya, namun pasien mempunyai riwayat kejang. Diagnosa keperawatan risiko keterlambatan perkembangan ditegakkan pada case review, namun diagnosis berbeda dibuat pada case review karena kejang demam tidak mempengaruhi perkembangan dan kecerdasan anak, kecuali pada anak yang dilahirkan dengan cacat lahir atau cacat pertumbuhan. gangguan.
Dewanti dkk; Analisis faktor yang berhubungan dengan terjadinya kejang demam: E-Jurnal Medika, Vol.8 No.4 April 2019. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan kepada keluarga mengenai kejang demam dan pengobatannya sangat penting. Kejang demam adalah kejang yang terjadi ketika suhu tubuh naik (suhu rektal diatas 38o C) yang disebabkan oleh proses tersebut.
PEMBAHASAN
Pengkajian
Untuk memeriksa : bentuk dada simetris, pola pernafasan teratur, ritme pernafasan teratur, frekuensi pernafasan normal, batuk sesekali, tidak ada retraksi otot pernafasan, tidak ada alat pernafasan. Pemeriksaan didapatkan : tekanan vena jugularis menurun, jari tabuh tidak ada, nyeri dada tidak ada, sianosis, Palpasi : nadi meningkat, denyut kuat, CRT <3 detik, Perkusi : tumpul normal, ukuran dan bentuk jantung, kira-kira pada kejang demam masih dalam batas normal, Audisi : irama jantung normal, bunyi jantung S1, S2, tunggal. Sedangkan kesadaran klien pada penilaian kasus komposit, GCS : 4-5-6, terdapat kejang tipe klonik, tidak ada kekakuan leher, nyeri kepala tidak diperiksa, tidak ada kelainan saraf kranial.
Pada pemeriksaan didapatkan : pada laki-laki testis turun, terdapat lubang uretra, pada wanita labia mayora menutupi labia minora, terdapat lubang vagina, BAK tampak pekat, keluaran urin menurun Palpasi : tidak nyeri pada simfisis daerah. Data yang Diperoleh : Inspeksi Klien : tidak ada patah tulang, tidak ada dislokasi, kulit bersih, kulit kemerahan Palpasi : akral hangat, turgor kulit kembali <3 detik, kelembaban kulit kering, elastisitas menurun. Saat diperiksa pasien rewel, tidak ada patah tulang, tidak ada dislokasi, kulit hangat, akral hangat, turgor elastis, cairan baik dan lembab, tidak ada edema.
Mata Perolehan : Pupil biasanya menyempit saat cahaya mendekat, konjungtiva biasanya berwarna merah muda, sklera ikterik/tidak ada, ketajaman penglihatan tajam, gerakan mata mengikuti perintah, Hidung : tidak ada sekret, penciuman tajam, tidak ada kelainan, Telinga : bentuk telinga normal, pendengaran tajam, tanpa kelainan, pengecapan : normal ketajaman pengecapan dapat mengecap (manis, pahit, asam, asin), perabaan : meraba benda yang dipegang atau disentuh. Sedangkan dari pemeriksaan kasus didapatkan : Mata : pupil isokorik kanan/kiri, reflek cahaya kanan/kiri normal, konjungtiva kanan/kiri normal, tidak anemia, sklera kanan/kiri, kelopak mata kanan/kiri normal, tidak menggunakan alat bantu, gerak bola mata kanan/kiri normal, hidung : mukosa lembab, tidak ada sekret, telinga : kanan/kiri bentuk simetris, ketajaman pendengaran kanan/kiri baik, cara pengecekan dengan jam tangan, pengecapan : sensasi rasa pahit, perabaan : normal dengan tes jari . Tidak ada pembesaran tiroid, tidak ada pembesaran kelenjar parotis, tidak ada hiperglikemia, tidak ada hipoglikemia.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan hipertermia ditemukan pada studi literatur, sedangkan diagnosis yang sama ditemukan pada studi kasus. Karena suhu tubuh klien meningkat hingga 38 o C sehingga menyebabkan suhu tubuh naik diatas kisaran normal. Berdasarkan tinjauan literatur, diagnosis keperawatan ketidakseimbangan nutrisi ditemukan kurang dari kebutuhan tubuh, sedangkan pada studi kasus ditemukan diagnosis yang sama karena klien mengalami penurunan nafsu makan.
Pada tinjauan literatur ditemukan diagnosis keperawatan risiko aspirasi dan risiko jatuh, sedangkan pada tinjauan kasus ditemukan diagnosis berbeda karena kesadaran klien masih komposit. Pada case review ditemukan diagnosa keperawatan kurang pengetahuan, sedangkan pada case review ditemukan diagnosa berbeda karena ibu pasien memahami cara penanganan kejang di rumah. Pada case review didapatkan diagnosa keperawatan risiko tidak efektifnya perfusi jaringan otak, sedangkan pada case review.
Intervensi
Implementasi
Evaluasi
Setelah melakukan observasi dan melakukan asuhan keperawatan langsung pada anak kasus kejang demam di bangsal Asoka RSUD Bangil Pasuruan, penulis dapat menarik beberapa kesimpulan serta saran yang dapat berguna dalam meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. perawatan anak yang mengalami kejang demam. Untuk mengatasi masalah tersebut penulis melibatkan klien secara aktif dalam pelaksanaan asuhan keperawatan, karena banyak tindakan keperawatan yang memerlukan kerjasama antara perawat dan klien. Balita.http://elvinpasunda.blogspot.co.id/2011/10/perbangun-dan-kembang-toddler1.html. Diakses pada 12 Mei 2020 pukul 09.15 WIB.
Reza dkk; Analisis faktor yang berhubungan dengan terjadinya kejang demam: E-Jurnal Medika, Vol.8 No.4 April 2019. https://repository.usu.ac.id. 2010). Perkembangan moral menurut teori Lawrence Kohlberg. Berdasarkan hasil asesmen terhadap keluarga An.H pada tanggal 20 November 2019 diketahui bahwa keluarga An.H diketahui mengalami serangan demam dengan suhu 38oC dan mengalami 4 kali kejang.
PENUTUP
Kesimpulan
Saran