SKRIPSI
diajuan kepada Institut Agama Isalam Negeri (IAIN) Jember disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Fakultas Tarbiah dan Ilmu Keguruan
Jurusan Pendidikan Islam
Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini
Oleh:
Siti Holila NIM: T201511072
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI (PIAUD) INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER
FAKULTAS TARBIAH DAN ILMU KEGURUAN JUNI 2019
MOTTO ﻢﻟﺎﺴﻟا ﻢﺴﺠﻟا ﻲﻓ ﻢﻟﺎﺴﻟا ﻞﻘﻌﻟأ
Akal yang sehat terdapat pada badan yang sehat1
اَﺮْﯿِﻐَﺻ ْﻲِﻧﺎَﯿﱠﺑَرﺎَﻤَﻛﺎَﻤُﮭْﻤَﺣْراَو ﱠيَﺪِﻟاَﻮِﻟَو ْﻲِﻟْﺮِﻔْﻏا ﱠﻢُﮭّﻠﻟَا taklupa pula saya persembahkan karya ini kepada
yang telah memberikan perhatiannya serta selalu memotivasi dan mebantu dalam hal apapun baik muril maupun nun muril. juga saya persembahkan karya ini
2. Kepada saudara-saudri saya yang selalu memberikan dorongan serta do’anya demi kesuksesan saya selama menempuh dibangku perkuliahan yang selalu menemani dalam setiap saat.
3. Kepada Suami tercinta yang selalu memberikan semangat demi terselesaikannya penyusunan skripsi ini
4. Kepada putra putri tercinta yang menjadi penyemangat dalam setiap langkah ku
ﻢﯿﺣﺮﻟا ﻦﻤﺣﺮﻟا ﷲ ﻢﺴﺑ
Segenap puji syukur disampaikan kepada Allah karena atas rahmat dan karunianya,perencanaan, pelaksanaan, dan penyelesaian skripsi yang berjudul
"Upaya Meningkatkan Motorik Kasar Melalui Bermain Engklek Pada Anak Kelompok B Di Raudhatul Athfal Nurus Salamah Kecamatan Mumbulsari Kabupaten Jember Tahun Pelajaran 2018/2019".Sebagai salah satu syarat menyelesaikan program sarjana, dapat terselesaikan dengan lancar. Walau berbagai hambatan dan tantangan dalam penyusunan skripsi ini, tetapi berkat adanya dorongan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan.
Kesuksesan ini dapat diperoleh karena dukungan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis menyadari dan menyampaikan Syukran Katsir kepadamereka:
1. Bapak Prof. Dr. Babun Suharto, SE, MM selaku Rektor IAIN Jember, yang telah memberi kesempatan kepada saya sebagai mahasiswi fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan di program studi PIAUD
2. Ibu Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd selaku Dekan FTIK, yang telah memberikan motovasi dan semangat kepad asaya
3. Bapak Dr. H. Mundir, M.Pd selaku Dosen Pembimbing, yang telah membimbing saya dengan sangat sabar untuk menyelesaikan tugas akhir/skripsi ini
Jember, 10 Juni2019
Penulis
Siti Holila, 2019 : Upaya Meningkatkan Motorik Kasar Melalui Bermain Engklek Pada Anak Kelompok B Di Raudhatul Athfal Nurus Salamah Kecamatan Mumbulsari Kabupaten Jember Tahun Pelajaran 2018/2019
Perkembangan motorik merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam perkembangan individu secara keseluruhan, karena pertumbuhan dan perkembangan motorik terjadi dari bayi hingga dewasa.
Adapun fokus masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana cara guru dalam meningkatkan motorik kasar anak melalui permainan engklek pada anak kelompok B di RA Nurus Salamah kecamatan Mumbulsari kabupaten Jember tahun pelajaran 2018/2019? (2) Bagaimana upaya meningkatkan motorik kasar anak melalui permainan engklek pada anak kelompok B di RA Nurus Salamah Kecamatan Mumbulsari Kabupaten Jember tahun pelajaran 2018/2019.
Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mendeskripsiakan cara guru dalam meningkatkan motori kasar anak melalui permainan engklek pada anak kelompok B di RA Nurus Salamah kecamatan mumbulsar kabupaten jember tahun pel;ajaran 2018/2019, (2) Untuk mendeskripsikan upaya dan dampak permainan engklek terhadap peningkatan motorik kasar anak pada RA Nurus Salam Kecamatan Mumbulsari Jember 2018/2019
Untuk memperoleh data dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian Kualitatif dari data yang dihasilkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini dilaksanakan di kelompok B RA Nurus Salamah Mumbulsari Jember
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa : 1) Permainan engklek dalam meningkatkan motorik kasar anak usia dini pada kelompok B di RA Nurus Salamah Mumbulsari Jember sudah berjalan dengan baik sesuai dengan cara dan strategi guru sehingga motorik kasar anak mengamai peningkatan terbukti dengan bisanya anak melompat dengan seimbang. 2) Permainan engklek dapat meningkatkan kemampuan motorik kasar anak pada kelompok B di RA Nurus Salamah dengan adanya upaya guru melalui penyusunan RPPH dengan indikator melompat, sehingga kemampuan motorik kasar anak usia dini mengalami peningkatan yang signifikan terbukti dengan cara melompat anak yang seimbang.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Cara guru meningkatkan motorik kasar melalui permainan engklek yaitu:a) Guru harus memiliki strategi yang cocok, (b) Guru harus memiliki metode yang cocok, (c) Permainan engklek dibuat semenarik mungkin, (d) Memberikan pujian kepada anak, (2) Upaya guru dalam meningkatkan motorik kasar anak melalui permainan engklek yaitu:
(a) Guru menyusun RKH, (b) Guru membuat 2 pola engklek, (c) Guru mengkondisikan peserta didik, (d) Guru memberikan pengarahan, (e) Guru menjelaskan kegiatan, (f) Guru menempatkan anak di kedua gambar engklek, (g) Guru memberikan aba-aba, dan (h) Guru menyemangati dan memotivasi anak saat bermain.
Pengesahan ... iii
Motto ... iv
Persembahan ... ... v
Kata Pengantar... ... vi
Abstrak ... ... viii
Daftar Isi... ... xi
Daftar Lampiran... ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Fokus Penelitian ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
E. Definisi Istilah ... 7
F. Sistematika Pembahasan ... 8
BAB II KAJIAN TEORI ... 10
A. Penelitian Terdahulu ... 10
B. Kajian Teori ... 12
1. Pengertian Motorik Kasar ... 12 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi peningkatan Motorik
3. Tahap-tahap Motorik Kasar Anak ... 15
C. Permainan Bagi Anak Usia Dini ... 17
1. Pengertian Bermain ... 18
2. Fungsi dan Manfaat Bermain ... 20
D. Permainan Engklek ... 27
1. Definisi Permanian Engklek... 27
2. Alat yang Digunakan ... 29
3. Cara Bermain Engklek ... 29
4. Jenis, Manfaat Dan Fungsi Engklek ... 31
BAB III METODE PENELITIAN ... 38
A. Metode Penelitian ... 38
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 38
2. Lokasi Penelitian ... 39
3. Subyek Penelitian ... 39
4. Teknik Pengumpulan Data ... ... 40
5. Analisis Data ... 43
6. Keabsahan Data ... 45
7. Tahap-tahap Penelitian ... 47
BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA ... 48
A. Temuan Umum Penelitian ... 48
B. Penyajian Data dan Analisis Data... 54
C. PembahasanTemuan ... 60
DAFTAR PUSTAKA ... 67
Lampiran:
1. Pedoman Tehnik Pengumpulan Data ... 1
2. Surat Keterangan ... 2
3. Jurnal Kegiatan Penelitian... 3
4. Pernyataan Keaslian Tulisan ... 4
5. Foto Kegiatan Bermain Engklek ... 5 Biodata Penulis
Pendidikan anak usi adini (PAUD) adalah upaya pendidikan dalam memfasilitasi perkembangan dan belajar anak sejak lahir sampai dengan usia enamtahun melalui pengalaman dan stimulasi yang bersifat mengembangkan, terpadu, danmenyeluruh sehingga anak dapat tumbuh kembang secara sehat dan optimal sesuain dengan nilai dan norma yang ada.1 Dalam pendidikan anak usia dini ada beberapajalur pendidikan yaitu: pendidikan formal, pendididikan nonformal, dan pendidikan informal. Pendidikan formal yang terdiri dari pendidikan paling dasar: yaitu (tamankanak-kanak, Raudhatul Athfal atau bentuk lain yang sederajat), pendidikan non formal yang terdiri dari: Kelompok Bermain, tempat Penitipan Anak atau bentuklain yang sederajat, Pendidikan informal yang terdiri dari: pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan. Disinilah peran penting pemerintah dalam menggembangkan pendidikan anak usia dini di indonesia.
Dalam undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditunjukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membentuk pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak agar mereka memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan yang lebih
1Khadijah, Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah, Medan: (Perdana Mulya Sarana,2012),4.
lanjut. Masa ini ditandai dengan pertumbuhan danperkembangan yang pesat yang disebut dengan masa emas (golden age).2 Sebab pada usia ini terjadi perkembangan yang sangat menakjubkan dan terbaik bagi hidup manusia.Perkembangan yang menakjubkan tersebut mencakup perkembangan fisik, perkembangan inteligensi, perkembangan bahasa, perkembangan sosial, dan perkembangan moral.3
Perkembangan motorik merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam perkembangan individu secara keseluruhan, karena pertumbuhan dan perkembangan motorik terjadi dari bayi hingga dewasa.
Perkembangan motorik anak akan mempengaruhi di setiap kehidupansehari- hari anak, jika perkembangan motorik anak berkembang dengan baik,perkembangan yang lainnya pun akan berkembang dengan baik pula.Perkembangan motorik adalah perkembangan semua bagian tubuh dan fungsinya,yang meliputi: perubahan ukuran badan, perubahan bentuk badan, perkembanganotak, perkembangan motorik kasar dan perkembangan motorik halus.
Dalam hal ini Hurlock menyatakan “Perkembangan motorik berarti perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, gerakan urat syaraf, dan otot yang terkoordinasi. Pengendalian tersebut berasal dari perkembangan refleksi dan kegiatan masa yang ada pada waktu lahir. Selama 4 atau 5 tahun pertama kehidupan pasca lahir anak dapat
2 Undang-undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Eka Jaya),
3Masganti Sitorus, Psikologi Perkembangan Anak usia Dini Jilid I, (Medan: Perdana Publishing,
mengendalikan gerakan yang kasar (motorik kasar). Gerakan tersebut melibatkan bagian badan yang digunakan dalam berjalan, berlari, melompat, berenang, dan sebagainya. Setelah umur 5 tahun, terjadi perkembangan yang lebih besar dalam mengendalikan koordinasi yang lebih baik yang melibatkan kolompok otot yang lebih kecil (motorik halus) yang digunakan untuk menganyam, melempar, menangkap bola, menulis dan menggunakan alat- alat.”4
Dari pengertian motorik tersebut dapat disimpulkan bahwa perkembangan motorik merupakan perkembangan pengendalian pada jasmaniah (fisik) yang melibatkan gerakan urat syaraf, pusat syaraf, dan otot yang terkoordinasi. Pengendalian gerak tersebut terjadi selama 4-5 tahun pertama kehidupan pasca lahir, pada saat itu anak dapat mengendalikan gerakan kasar dan gerakan halusnya. Karena perkembangan motorik merupakan bagian dari perkembangan jasmaniah (fisik), maka perkembangan fisik dan motorik namanya sering dipadukan menjadi fisik motorik.
Dalam pelaksanaan penelitian nanti, akan menyajikan permainan tradisional engklek dengan gerakan melompat-lompat dengan satu kaki pada suatu gambar yang dibuat di tanah atau dilapangan dengan cara melempar gacuk sebagai alat permainan engklek tersebut.
Setelah melakukan observasi ternyata perkembangan motorik kasar anak di Raudhatul Athfal Nurus Salamah Mumbulsari, penulis melihat masih banyak anak-anak yang perkembangan motorik kasarnya masih belum
4 Elizabeth B Hurlock, Perkembangan Anak Jilid I, (Jakarta: 1978), 150.
mengalami perkembang secara maksimal. Dikarenakan guru-gurunya disana hanya mengajarkan permainan yang itu-itu saja dan tidak banyak mengajarkan permainan-permainan yang lain, terutama permainan tradisional. Padahal di dalam laporan perkembangan peserta didik sudah dijelaskan bahwa permainan tradisional itu seharusnya diajarkan atau dikembangkan kepada peserta didik, karena permainan tradisional itu sudah termasuk di dalam kurikulum pembelajaran di Raudhatul Athfal yang dapat meninggkatkan motorik kasar anak agar otot-otot mereka tidak kaku saat bermain. Selain itu permainan tradisional bisa dijadikan sebagai warisan budaya karena agar mereka tahu ternyata permainan.
Permainan engklek ini merupakan permainan asli dari nenek moyang mereka, serta permainan engklek ini harus dijaga kelestariannya agar permainan engklek ini tidak punah dan terlupakan.
Berdasarkan latar belakang ini, maka penulis tertarik untuk mengetahui masalah Anak Usia Dini dengan judul: Upaya Meningkatkan Motorik Kasar Melalui Bermain Engklek Pada Anak Kelompok B di RA Nurus Salamah Angsanah Mumbulsar Jember tahun 2018/2019
B. Fokus Penelitian
1. Bagaimana cara guru dalam meningkatkan motori kasar anak melalui permainan engklek pada anak kelompok B di RA Nurus Salamah kecamatan mumbulsar kabupaten jember tahun pelajaran 2018/2019?
2. Bagaimana Upaya Meningkatkan Motorik Kasar Anak Melalui Permainan Engklek Pada Anak Kelompok B di RA Nurus Salamah Kecamatan Mumbulsari Kabupaten Jember Tahun pelajaran 2018/2019?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penilitian merupakan gambaran tentang arah yang akan di tuju dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian harus mengacu kepada masalah-masalah yang telah dirumuskan sebelumnya.
Secara umum tujuan penelitian adalah untuk menemukan, mengembangkan, dan membuktikan pengetahuan. Sedangkan secara khusus tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menemukan. Menemukan sebelumnya yang belum pernah ada atau belum diketahui. Berdasarkan fokus penelitian diatas, maka peneliti bertujuan untuk :
1. Untuk mendeskripsiakan cara guru dalam meningkatkan motori kasar anak melalui permainan engklek pada anak kelompok B di RA Nurus Salamah kecamatan mumbulsar kabupaten jember tahun pel;ajaran 2018/2019
2. Untuk mendeskripsikan upaya dan dampak permainan engklek terhadap peningkatan motorik kasar anak pada RA Nurus Salam Kecamatan Mumbulsari Jember 2018/2019
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian berisi tentang kontribusi apa yang akan diberikan setelah melakukan penelitian. Kegunaan dapat berupa kegunaan yang bersifat teoritis dan kegunaan praktis. Dan kegunaan atau manfaat dari penelitian
harus realistis. Disamping tujuan yang ingin dicapai dari penelitian, maka ditentukan pula dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat positif diantaranya:
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat, serta menjadikan pengalaman dan wawasan kepada Kepala Madrasah dan Guru tentang peningkatan Motorik kasar anak sehingga memudahkan guru dalam melakukan pembelajarn yang sesuai dengan standart pembelajaran yang ada pada Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis hasil penelitian ini diharapakan bermanfaat dan memberikan kontribusi pemikiran kepada berbagai pihak antara lain:
a. Bagi Guru
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan tentang peningkatan motorik kasar anak melalui permainan Engklek b. Bagi lembaga
Untuk memberikan pengetahuan tentang permainan tradisional khususnya permainan Engklek, serta menjadi bahan ajar, permainan Engklek hanyalah salah satu dari beberapa pemainan yang dapat membuat anak meningkat dan bagus dalam hal motorik kasar.
c. Bagi IAIN Jember
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan literatur bagi lembaga dan mahasiswa yang akan mengembangkan kajian pendidikan.
E. Definisi Istilah
Definisi istilah berisi tentang pengertian istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian peneliti didalam judul penelitian. Tujuannya agar tidak terjadi kesalah pahaman terhadap makna istilah sebagaimana yang dimaksud oleh peneliti.
1. Peningkatan Motorik Kasar
Peningkatan Motorik kasar (gerakan) sendiri adalah proses perkembangan gerak pada anak yang melibatkan semua gerakan yang mungkin dilakukan oleh seluruh tubuh. Disebut gerakan kasar, bila gerakan yang dilakukan melibatkan sebagian besar tubuh dan biasanya memerlukan tenaga karena dilakukan oleh otot-otot yag lebih besar.
Misalnya gerakan membalik dan telungkup menjadi telentang atau sebaliknya. Contoh lain adalah yang termasuk di buatgerakan kasar melompat dengan satu kaki pada setiap kotak yang sudah di buat guru 2. Bermain Engklek
Bermain Engklek merupakan permainan tradisional lompat-lompat yang menggunakan sebuah bidang-bidang datar yang dibuat di atas tanah dengan gambar kotak yang akan dilompati oleh kaki
Jadi yang dimaksud dengan judul penelitian ini adalah peningkatan motorik kasar anak kelompok B di RA Nurus Salamah melalui permainan Engklek
F. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan merupakan rangkuman sementara dan isi Proposal ini yang bertujuan untuk mengerti secara global dari seluruh pembahasan yang ada. Terkait dengan materi yang akan dibahas pada dasarnya terdiri dari lima bab, dan setiap bab memiliki beberapa sub bab, antara bab yang satu dengan bab yang lain saling berhubungan bahkan merupakan pendalaman pemahaman dari bab sebelumnya. Untuk lebih mudahnya maka dibawah ini akan dikemukakan gambaran umum secara singkat dari pembahasan Proposal ini.
Bab satu pendahuluan, didalam bab ini dibahas mengenai latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, serta sistematika pembahasan.
Bab dua berisi kajian kepustakaan yang didalamnya mencakup penelitian terdahulu dan kajian teori yang erat kaitannya dengan masalah- masalah yang diteliti. Yang dalam hal ini mengkaji tentang implementasi penilaian berbasis kurikulum 2013 pada pendidikan agama islam.
Bab tiga berisi metode penelitian, dalam bab ini dibahas mengenai pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subyek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data, serta tahap-tahap penelitian.
Bab empat berisi tentang penyajian data dan analiasis data, dalam bab ini dibahas mengenai gambaran dari keseluruhan dari objek penelitian, penyajian data dan analisis, serta pembahasan temuan.
Bab lima berisi penutup atau kesimpulan dari hasil penelitian.
Kesimpulan mencakup jawaban dari rumusan masalah yang telah ditentukan pada bab pertama. Sedangkan saran diberikan sebagai masukan bagi penelitian selanjutnya. Pada bab ini berfungsi menyampaikan hasil yang ditemukan.
KAJIAN TEORI A. Penelitian Terdahulu
Pada bagian ini peneliti mencantumkan berbagai hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang hendak dilakukan, kemudian membuat ringkasan. Dengan melakukan langkah seperti ini, maka akan dapat diketahui sejauh mana orsinalitas penelitian ini dengan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti lain.
Pertama, Imma’u Rohmani Mahaiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta tahun 2016 dengan judul “Permainan Tradisional Engklek Berpengaruh Terhadap Perkembangan Motorik Anak” di TKIT Baiturrahman Prambanan Kabupaten Klaten Tahun ajaran 2015/2016.
Penelitian ini merupakan jenis ekprimen dengan jenis One Group Pretest-Posttest, yang disertai dengan pengujian hipotesis. Adapun teknik yang digunakan untuk memperoleh data yang akurat penelitian ini menggunakan metode Observasi, sedeangkang analisa datanya yang digunakan adalah diskriptif infrensial yang tujuannya untuk mengetahui satatus perkembagan motorik anak.
Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa permainan tradisional engklek berpengaruh terhadap perkembangan motorik anak.
Kedua, Yhana Pratiwi, M. Kristanto, dalam Jurnal Jurnal Penelitian PAUDIA dengan judul “Upaya Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar
(Keseimbangan Tubuh) Anak Melalui Permainan Tradisional Engklek di Kelompok B Tunas Rimba II tahun ajaran 2014/2015.
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode analisis deskriptif.
Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa kegiatan permainan Engklek dari kelompok B pada awalnya 53,33% disebabkan kurangnya variasi dalam kegiatan bermain. Setelah diadakan perbaikan tindakan dengan kegiatan bermain Engklek secara individu diperoleh sebesar 65,33% ini berada pada tahap awal sedangkan pada tahap selanjutnya diperoleh sebuah kesimpulah sebesar 83,17%. Hal ini menunjukkanadanya peningkatan hasil belajar kemampuan motorik kasar anak.
Perbedaan penelitian pertama dengan penelitian yang sedang dilakukan terletak pada lokasi penelitian, selain lokasi penelitian juga perbedaannya terletak pada variabel penelitian. Dalam penelitian ini merupakan pengaruh permainan tradisional Engklek terhadap perkembangan motorik anak, sedangkan penelitian yang dilakukan sekarang mengenai Upaya meningkatkan motorik kasar melalui permainan Engklek pada anak Usia dini.
Pada penelitian kedua perbedaanya terletak pada lokasi dan variabel.
Dalam penelitian ini upaya peningkatan motorik kasar (keseimbangan Tubuh) anak sedangkan penelitian yang sekarang adalah lebih luas lagi yaitu tentang meningkatkat motirk kasar anak.
B. Kajian Teori
1. Pengertian Motorik Kasar
Secara garis besar, pembelajaran motorik di sekolah meliputi pembelajaran motorik hal us dan motorik kasar. Motorik (gerakan) adalah semua gerakan yang mungkin dilakukan oleh seluruh tubuh.5 Disebut gerakan kasar, bila gerakan yang dilakukan melibatkan sebagian besar tubuh dan biasanya memerlukan tenaga karena dilakukan oleh otot- otot yang lebih besar. Misalnya gerakan membalik dan telungkup menjadi telentang atau sebaliknya. Contoh lain adalah yang termasuk gerakan kasar berjalan, berlari, dan melompat.
Menurut pendapat Sujiono bahwa gerkan motorik kasar merupakan kemampuan yang memerlukan koordinasi sebagaian besar tubuh anak.
Oleh sebeb itu biasanya membutuhkan tenaga karena dioprasikan oleh otot-otot tertentu yang bisa membuat anak dapat memanjat, berlari meloncat menaiki sepda serta berdiri menggunakan satu kaki. Kaki, tangan dan seluruh tubuh merupakah hal yang harus digerakan dalam motorik kasar.6
Rahyubi memaparkan bahwa Aktivitas motorik kasar merupakan keterampilan gerak tubuh yang memakai otot-otot besar sebagai pijakan utama gerakannya. Keterampilan motorik kasar meliputi pola lokomotor atau gerakan yang menyebabkan perpindahan tempat seperti berjalan
5 Ahmad Susanto, Perkembangan Anak Usia Dini, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2014), 163.
6Yuliani Sujiono, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini,(Jakarta: Macanan Jaya Cemerlang,
kaki, menendang, berlari naik turun tangga, melompat, meloncat. Juga keterampilan menguasai bola seperti melempar dan memantulkan bola.7
Berdasarkan paparan di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa aktivitas motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot- otot besar atau sebaggian besar tubuh untuk melakukan suatu aktivitas motorik kasar seperti: menangkap, berlari, melompat, mendorong, menendang, melempar dan lain sebagainya, kegiatan semacam itu membutuhkan dan memfungsikan otot-otot besar pada tubuh seseorang.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan motorik kasar
Faktor-faktor yang mempengaruhi petumbuhan motorik kasar seorang anak secara global merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembangnya anak. Motorik kasar seorang anak bekermbang secara bertahap dan unik pada setiap individunya. Perkembangan atau peningkatan motorik kasar anak berbanding lurus dengan pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya.
Menurut Soetjia ningsih8 hal yang mempengaruhi terhadap peningkatan motorik kasar anak dalah:
1) Faktor Genetik: faktor genetik merupakan sebab pertama atau modal yang paling dasar untuk meraih sebuah hasil akhir proses tumbuh kembangnya seorang anak.
2) Faktor Lingkungan: faktor Lingkungan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap sebuah potensi bawaan tercapai atau
7 Heri Rahyubi, Teori-teori Belajar dan Aplikasi Pembelajaran Motorik. (Majalengka: Referens, 2012), 222.
8 Soetjiningsih, Tumbuh Kembang Anak.(Jakarta: EGC, 2012), 2.
tidaknya. Sehingga apabila lingkungan yang ada disekitar anak baik maka potensi yang ada pada diri anak akan tumbuh baik pula, namun sebaliknya apabila lingkungan yang ada di sekitar anak kurang baik bahkan jelek, maka pengaruhnya akan menjadikan potensi yang dimliki akan menjadi tidak baik juga.
Secara garis besar faktor lingkungan ini dapat di klasifikasikan sebagai berikut:
Pertama Faktor lingkungan yang mempengaruhi anak pada waktu masih dalam kandungan atau pranatal adalah: Gizi ibu saat hami, Mekanis, Toksin atau Zat Kimia, Endokrin, Infeksi, stres, Imunitas dan Anoksia Embrio.9
Kedua adalah faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembnagnya anak setelah lahir atau yang dikenal dnegan istilah post natal adalah Lingkungan biologis, dalam lingkungan biologis didalamnya mencakup ras atau suku bangsa, jenis kelamain, umur, gizi, perawwatan kesehatan, kepekaan terhadap penyakit, penyakit kronis, fungsi metabolisme dan hormon. Selain faktor biologis yang mempengaruhi tumbuh kembangnya anak setelah lahir adalah faktor fisik: yang mana dalam faktor fisik ini yang mempengaruhi meliputi cuaca, keadaan giografis suatu daerah, sanitasi, keadaan rumah dan radiasi.10
9Ibid.,3.
Ketiga faktor yang mempengaruhi terhadap pekembangan atau tumbuh kembangnya anak adalah faktor psikososial yang merupakan hubungan antara kondisi sosial seseoarang dengan kesehatan mental, emosionalnya, maka psikososial mengharuskan melibitakan psikologis anak dan lingkungan sosial. Faktor psikososial meliputi: stimulasi, motivasi belajar, reward dan punisment yang wajar, kelompok yang sebaya, sekolah, cinta dan kasih sayang, kualitas hubungan anatara anak dan orang tua.
Keempat adalah adat istiadat dan keluarga merupakan hal yang menajdi faktor pertumbuhan dan peningkatan anak yaitu meliputi pendapatan keluarga, tingkat pendidikan orang tua, kuantitas saudar, jenis kelamin dalam keluarga, stabilitas dalam keluarga atau jalannya dalam berumah tangga, kepribadian oarang tua yanitu bapak dan ibu, adat istiadat dan norma-norma, agama dan kehidupan politik dalam masayarakat yang mempengaruhi prioritas kepentingan anak anggaran dan lain-lain.11
3. Tahap-tahap Motorik Kasar Anak
Dalam peraturan mentri pendidikan nasional nomor 58 tahun 2009 landasan tingkat pencapaian perkembangan motorik kasar anak usia 5-6 tahun setidaknya sudah dapat melakukan gerakan tubuh secara
11Soetjiningsih,Tumbuh Kembang Anak.(Jakarta: EGC, 2012), 2.
terkoordinasi untuk melatih keseimbangan dan kelincahan.12 Perkembangandaerah sensorik dan motorik pada konteknya yang memungkinkan koordinasi yang lebih baik antara apa yang diinginkan oleh anak dan apa yang dapat dilakukannya. Tulang dan otot anak usia dini kuat dan kadar paru mereka semakin bertambah besar, maka apabila yang terjadi seperi ini dimungkinkan anak dalam melakukan gerakan seperti memanjat, melompat dan berlari jauh lebih cepat dan lebih kuat.
Berikut adalah tabel daftar perkembangan motorik kasar anak usia dini yaitu pada usia 3-4 tahhun dan usia 5-6 tahun. (Permen Dikbud Nomor 137 Tahun 2014).
Tabel 1. Tahapan Motorik Kasar Anak13
Usia 3-4 tahun 5-6 tahun
1. Berlari sambil membawa sesuatu yang ringan (bola)
2. Naik turun tangga atau tempat yang lebih tinggi dengan kaki bergantian
3. Meniti di atas papan yang cukup lebar
4. Melompat turun dari ketinggian
1. Melakukan gerakan tubuh secara terkoordinasi untuk
melatih klenturan, keseimbangan dan kelincahan
2. Melakukan koordinasi gerakan mata, kaki, tang, kepala dalam menirukan
12 Permendiknas Nomor 58 Tahun 2009, Tentang Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan, (Jakarta: Eka Jaya),
13 Perment Dikbud RI, Nomor 137 tahun 2014, 14-21.
kurang lebih 20 cm (di bawah tinggi lutut anak)
5. Meniru gerakan senam sederhana seperti meniru gerakan pohon, kelinci melompat
6. Berdiri dengan satu kaki
tarian atau senam
3. Melakukan permainan fisik dengan aturan
4. Terampil menggunakan tangan kanan dan tangan kiri
5. Melakukan kebersihan diri
C. Permainan Bagi Anak Usia Dini
Bagi anak-anak bermain adalah hal yang sangat menyenangkan, dan bermain bagi anak-anak merupakan tuntutan dan kebutuhan yang sangat esensial, yang tidak dapat digantikan oleh kegiatan yang lain. Karena dengan bermain anak-anak dapat memuaskan kebutuhan perkembangan dan peningkatan dimensi motorik, kognitif kreativitas dan bahasa serta emosi, sosial, nilai dan sikap hidup bermasyarkat.
Namun tidak jarang, terkadang melihat orang tua ketika anak-anak bermainmasih mencegah dan melarang dengan alasan kotor, menyia-nyiakan waktu yang sepatutnya digunakan untuk kegiatan yang lebih positif seperti belajar dan takut kepanasan dan terserang bakteri dan lain-lain. Padahal bermain bagi anak-anak merupakan pengalaman belajar yang sangat berharga
bagi anak-anak sebagaimana yang dikatakan oleh Hurlock yang dalam Novi Mulyani.14
Dalam kehidupan anak, bermain mempunyai arti yang sangat penting.
Dapat dikatakan nahwa setiap anak yang sehat selalu mempunyai dorongan untuk bermain sehingga dapat dipastikan bahwa anak yang tidak bermain pada umumnya dalam keadaan sakit, baik jasmini maupun ruhani.
Para ahli berkesimpulan bahwa anak adalah makhluk yang aktif dan dinamis. Kebutuhan jasmaniah dan ruhaniah anak yang mendasar sebagian besar dipenuhi melalui bermain, baik bermain sendiri maupun bersama teman-teman sebayanya atau yang dikenal dengan bermain kelompok.15 Jadi bermain adalah kebutuhan anak.
1. Pengertian Bermain
Bermain bagi anak mutlak diperlukan untuk mengembangkan daya cipta, imajinasi, perasaan, kemauan, motivasi dalam suasana riang gembira.16 Sarana permainan adalah semua peralatan yang dapat digunakan untuk melatih psikis dan fisik anak dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, sarana tersebut berupa kertas kayu, batu dan lain- lain.
Menurut Seafeldt dan Barbour, aktivitas bermain merupakan suatu kegitan yang sepontan pada anak yang menghubungkanya dengan orang
14 Novi Mulyani, Super Asyik Permainan Tradisional Anak Indonesia, (Yogyakarta: DIVA Press, 2016), 23-24.
15 B. E. F. Montolalu dkk, Bermain dan Permainan Anak, (Tangerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka, 2012), 1.
16 Soegeng Santoso, Dasar-dasar Pendidikan TK, (tangerang Selatang: Penerbit Universitas
dewasa dan lingkungan termasuk didalamnya imajinasi, penampilan anak dengan menggunakan seliruh anggota tubuh dan perasaan. Bermain menurut Hurlock adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa mempertimbangkan hasil akhir.
Dengan kata lain bermain dilkakukan dengan suka rela. Sedangkan menurut Bettelheim bermain adalah kegiatan yang ditetapkan pemain sendiri dan tidak ada hasil akhir.
Sedangkan Gallhue berpendapat bahwwa bermain adalah kebutuhan anak yang paling mendasaruntuk berinteraksi dengan dunia sekitar, melalui bermain anak melakukan. Bermain menjadi suatu aktifitas yang langsung dan spontan dilakukan oleh seorang anak bersama orang lain atau menggunakn benda-benda sekitar dilakukan dengan senang, suka rela dan imajinatif, serta dengan menggunakan perasaannya, tangannya atau seluruh anggota tubuhnya.17
Jadi apabila diambil kesimpulan dari definisi bermain dari beberapa ahli, bahwa bermain bagi anak- anak adalah kegiatan yang menyenangkan dan tidak mempunyai aturan serta tidak memperhitungkan hasil akhir dari sebuah permainan yang dilakukan oleh nak-anak tersebut dan terjadi dengan sepontan.
Adapun kreterian bermain bagi anak setidaknya terdapat lima kreteria yaitu:
17 Novi Mulyani,Super AsyikPermainanTradisionalAnak Indonesia,(Yogyakarta: Diva Press, 2016), 24-25.
1) Motivasi Intrinsik. Adalah tingkah laku bermain termotivasi dari dalam diri anak. Mereka melakukan itu untuk diri sendiri dan bukan karena adanya tuntutan dari masyarakat atau fungsi-fungsi tubuh.
2) Pengaruh positif. Tingkah laku itu menyenangkan untuk dilakukan.
3) Bukan dikerjakan sambil lalu. Artinya bermain dilakukan bukan karena sambil lalu sehingga tidak mengikuti pola sebenarnya, melainkan lebih bersufat pura-pura.
4) Cara atau tujuan. Cara bermain lebih diutamakan dari pada tujuannya.
5) Kelenturan. Bermain merupakan prilaku lentur. Kelenturan ditunjukkan baik dalam bentuk maupun dalam hubungan serta berlaku dalam setiap situasi.18
2. Fungsi dan Manfaat Bermain
Dunia anak adalah bermain. Oleh karena itu, maka wajar saja apabila dalam aktivitas anak sehari-hari lebih banyak bermainnya dari pada belajarnya. Tetapi sebenarnya dari bermain itulah anak-anak belajar.19 Sebagi orang tua, guru tidak boleh terlalu memaksakan apa yang ada dalam pikirannya, karena dalam bermain terdapat fungsi dan manfaat bagi anak.
18 Novi Mulyani, Super Asyik Permainan Tradisonal anak Indonesia, (Yogyakarta: Diva Press, 2016),25-26.
19 Ahmad Susanto, Perkembangan Anak Usia Dini, Pengantar Dalam Berbagai Aspeknya,
Setidaknya tedapat delapan fungsi barmain bagi anak-anak seperti yang dikutip oleh Masitoh dkk dalam Hartley, Frank dan Goldenson, yaitu:
1) Menirukan apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Contohnya, meniru ibu memasak di dapur, meniru dokter yang sedang mengobati pasiennya dan sebagainya.
2) Untuk melakukan berbagai peran yang ada dalam kehidupan nyata seperti guru mengajar di kelas, sopir mengendari bus dan petani menggarap sawah.
3) Untuk mencerminkan hubungan dalam keluarga dan pengalam hidup yang nyata. Contohnya, ibu memandikan adek, ayah membaca koran, kakak mengerjakan tugas sekolah.
4) Untuk menyalurkan perasaan yang kuat seperti memukul-mukul kaleng, menepuk-nepuk air.
5) Untuk melepaskan dorongan-dorongan yang tidak dapat diterima, seperti berperan sebagai pencuri, menjadi anak nakal dan lain sebagainya.
6) Untuk kilas balik peran yang bisa dilakukan seperti, gosok gigi, sarapan pagi, naik angkutan kotan dan lain-lain.
7) Mencerminkan pertumbuhan, misalnya, semakin gemuk badannya, semakin tinggi badannya dan sebagainya.
8) Untuk memecahkan masalah dan mencoba berbagai penyelesaian masalah seperti menghias ruangan, menyiapkan jamuan makanan, pesta ulang tahun dan lain sebgainya.20
Selain beberapa fungsi bermain yang disebutkan oleh para pakar diatas tersebut, menurut Moeslichatoen ada beberapa fungsi bermain lainnya bagi anak-anak yaitu:
1. Mempertahankan keseimbangan
Kegiatan bermain dapat membantu penyaluran kelebihan tenaga. Setelah melakukan kegiatan bermain, anak memperoleh keseimbangan antara kegiatan dengan menggunakan tenaga dengan menggunakn tenaga dan kegiatan yang memerlukan ketenangan.
Kegiatan bermain juga memberikan penyaluran dorongan emosi secara aman. Misalnya, melepaskan doronga-dorongan yang tidak dapat diterima dalam kehidupan nyata.
2. Menghayati berbagai pengalaman yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari.
Anak yang sedang bermain seolah-olah berada dalam perjalanan kereta api, melakukan jual beli di pasar, sedang menyuntik pasien, mengatur makanan di meja untuk sarapan, adalah kegiatan bermain yang didasarkan pada penghayatan atas peristiwa- peristiwa yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari. Fungsi
20 Masitoh dkk, Strategi pembelajaran TK, (Tangerang selatan: Penerbit Universitas Terbuka, 2012), 9.5.
bermain sebagai sarana untuk menghayati kehidupan sehari-hari ini bermanfaat untuk menumbuhkan kebiasaan pada anak. Selain juga untuk mengenal beberapa profesi seperti dokter, sopir,penjual dan lain sebgainya.
3. Mengantisipasi peran yang akan dijalani di masa yang akan datang.
Ketika anak berpura-pura memerankan seorang ayah, ibu, dokter, polisi dan lain-lain, sebenarnya kegiatan tersebut adalah upaya untuk mempersiapkan anak melakukan di masa mendatan sebgai perannya, misalnya berperan sebgai ayah, berarti anak mencoba menghayati priku, perasaan dan sikap orang tua pada umumnya.
4. Menyempurnakan keterampilan-keterampilan yang dipelajari.
Tumbuhnya keterampilan anak tidak hanya dari aspek gerak saj, tetapi juga cara ia berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Seperti belajar sepeda roda tiga pada saat anak berumur 3 tahun kemudian akan dilanjutkan pada saat umur 4 tahun dengan cara menyempurnkan keterampilan yang sudah dipelajarinya.
5. Menyempurnakan keterampilan memecahkan masalah.
Dengan cara bermain anak-anak dapat menyalurkan rasa ingin tahu seperti bagaimana caranya memasak air, mengapa es batu bisa cair. Karena bermain ternya dapat membantu menyelesaikan memecahkan maslah yang dihadapinya.
6. Meningkatkan keterampilan berhubungan dengan anak lain.
Melalui bermain anak dapat meperoleh kesempat untuk meningkatkan keterampilan bergaul dengan anak yang lain yang sebaya dnegannya. Anak juga bisa menghindari pertentangan dengan temannya karena tidak ada untungnya. Anak juga belajar mengkomonikasikan apa yang ia rasakan dan pikirkan, disamping memahami apa yang teman-temanya bicarakan.21
Adapun manfaat bermain bagi anak dengan harapan dapat memanfaatkan kegiatan bermain dapat memunculkan gagasan baru bagi orang tua dan guru dalam menyusun program pengembangan yang sesuai dengan anak usia dini.
1. Bermain Memicu Kreativitas Anak
Dalam lingkungan bermain yang aman dan menyenangkan dapat memacu kreativitas anak, karena dengan bermain anak-anak dapat menemukan ide-ide serta menggunakan daya hayalnya. Karena antara bermain dan kreativitas ada asumsi yang menyatakan ada keterkaitan soalnya, bermain maupun kreativitas sama-sama mengandalkan kemampuan anak menggunakan simbol-simbol.
Seperti saat anak main dokter-dokteran dilngkungan keluarga, balok yang dijadikan alat untuk bermain di jadikan telpon untuk menelpon dokter agar datang mengobati anaknya, betapa kreatif ketilaka melihat tingkahnya dan mendengar percakapannya.
2. Bermain Berguna Untuk Kecerdasan Otak
Bermain merupakan media yang sangat penting bagi anak- anak bagi proses berfikirnya. Bermain dapat membamntu perkembangan kognitif anak. Bermain dapat memberi kontribusi pada perkembangan intlektual berpikir denngan membukakan jalan menuju berbagai pengalaman yang tentu saja memperkaya cara berpikir anak.22
3. Bermain dapat menenggulangi konflik.
Pada anak usia dini tingkah laku yang muncul adalah tingkah laku menolak, bersaing, agresif, bertengkar, meniru, kerjasama, egois, simpatik, marah, ngambek, dan berkeingina untuk diterima dilingkungan sosial.apabila kita amati tingkah laku anak banayak yang asosial. Maka disebutlah masa-masa konflik, untuk menanggulangi konflik solusi yang sangat tepat bagi anak usis dini adalah dengan bermain, karena dengan bermain yang aman dan menyenangkan dapat menyelesaikan konflik yang terjadi dalam diri anak.
4. Bermain Dapat Melatih Empati
Empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang mengidentifikasi atau merasa dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran dan sikap yang sama dengan orang atau kelompok lain.
Dengan mengembangkan empati anak semakin pintar dan dapat
22 B.E.F Montolalu, Bermain dan Permaianan Anak, ( Tangerang Selatan: UT, 2012),18
menempatkan dirinya dan perasaanya serta sikapnya pada orang lain semakin menumbuhkan rasa tenggang rasa, seperti halnya bermain yang sangat sendiwara deramatis, maka sikap empati dapat dikembangkan.23
5. Bermain Dapat Mengasah Pancaindra
Kelima indra, penglihatan, pendengaran, penciuman, pengucapan dan perabaa merupakan alat yang sangat vital yang perlu diasah sejak masih bayi. Tujuannya agar anak lenih tanggap dan peka. Banyak alat permainan yang dapat mengasah pancaindra tersebut seperti, kotak aroma untuk penciuman, permainan “suara apa” untuk melatih pendengaran, gambar-gambar di buku untuk melatih penglihatan dan lain-lain.
6. Bermain Sebagai Media Terapi
Sigmund Freud mngemukakan bahwa anak menggunakan bermain sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah konflik dan kecemasannya. Berawal dari teori ini para ahli psikologi mendapat ilham untuk menggunakan bermain sebagai alat diagnosis mengobati anak bermasalah, yang dikalangan para ahli dikenal dengan terapi bermain, namun tidak semua orang dapat melakukannya karena ini memerlukan keahlian tertentu. Maka apabi ditemuka pada diri anak gejala-gejala, seperti agresip yang memiliki kelainan prilaku hendaknya di bawa kepada seorang yang ahli.
7. Bermain itu melakukan penemuan
Ini artinya dengan bermain dapat menghasilkan ciptaan baru.
Anak yang sedang bermain sedang menciptakan yang baru. Anak akan bertanya jika ada sesuatu yang dibutuhkan dan yang belum digahami. Bagi guru anak yang sedang bermain dilihat dan diperhatikan sedang melakukan penemuan baru. Seperti anak yang baru berpengalaman bahwa ikan-ikan ini besar sedangkan dirumah kecil. 24
D. Permainan Engklek
1. Definisi Permanian Engklek
Indonesia mempunyai permainan tradisional yang sangat kaya. Di Jawa Tengah dan Yogyakarta saja, berdasarkan hasil penelitian, kurang lebih terdapat 57 macam permainan tradisional yang berkembang di masyarakat. Namun demikian, lambat laun anak-anak masa kini lebih cendrung menyukai permainan modern, dari pada permainan tradisional yang berkembang diamsyarakat. Yang jelas permasalahan tersebut bukanlah hal yang sepele. Jika anak-anak tidak mengenali kebudayaan sendiri, lalu pertanyaanya siapa yang akan melestarikan kebudayaan kita?.
Oleh karena itu dibutuhkan suatu kesadaran dan pemahaman kepada masyarakat, orang tua, dan praktisi
24 B.E.F Montolalu, Bermain dan Permaianan Anak, 18-22.
Engklek merupakan permainan tradisonal lompat-lompatan pada bidang-bidang datar yang digambar di atas tanah, dengan membuat gambar kotak-kotak kemudian melompat dengan satu kaki dari kotak satu ke kotak berikutnya. Permainan ini mempunyai nama lain dalam bahasa sunda Manda ini biasanya dimainkan oleh anak-anak dengan 2-5 peserta.
Permainan engklek bermakna sebagai perjuangan manusia dalam meraih wilayah kekuasaan. Namun bukan dengan saling sruduk. Ada aturan tertentu yang harus disepakati untuk mendapatkan tempat berpijak.
Menurut Smpuck Hur Gronje, permaian engklek berasal dari Hindustan. Permaianan ini menyebar pada zaman kolonial belanda dengan latar belakang cerita perebutan petak sawah.25
Sedangkan menurut Megarisna, permainan ini berasal dari Roma italia. permainan ini disebut permainan Hopscotch yang mempunyai arti Hop (melompat atau lompat) dan scotch (garis-garis yang berada di dalam permainan tersebut). Awalmya di Roma permainan sondah atau engklek atau hopscotch ini digunakan untuk latihan perang para tentara roma di daerah Great North Road (perjalanan untuk penjajah daerah dari glogrow, skotlandia ke inggris) karena permainan dibuat
lebih luas yaitu lebih dari 100 kaki (31 meter) panjangnya.26 Permainan ini digunakan untuk melatih kecepatan, kekuatan dan stamina tentara roma sambil membawa perlengkapan perang.
2. Alat yang Digunakan
Adapun alat yang digunakan dalam permainan tradisoal engklek ini adalah pecahan genting, pecahan kramik, atau batu yang berbentuk datar dan sebagainya.27 Tergantung para pemain media apa saja yang mau digunakan untuk bermain yang penting menyenangkan.
3. Cara Bermain Engklek
Permainan tradisional engklek adalah sebuah permainan tradisional sederhana yang dilakukan dengan cara melemparkan sebuah pecahan genteng atau batu berbentuk pipih. Satu anak hanya akan memiliki 1 pecahan genting (kreweng) yang disebut gacuk.
Permainan dilakukan secara bergantian. Para pemain akan mengundi urutan pemain yang akan bermain. Pemain pertama harus melemparkan pecahan gentingnya kekotak pertama yang terdekat.
Setelah itu dia harus melompat-lompat kesemua kotak secara berurutan hanya dengan menggunakan 1 kaki, sedangkan kaki yang lainnya harus diangkat dan tidak boleh turun menyentuh tanah. Kotak yang terdapat gacuk milik pemain tersebut tidak boleh diinjak (harus dilewati). Dan
26 Megarisna, ‟‟7 Permainan Unik Dunia Seperti di Indonesia‟‟, dalam artikel http;//7 Permainan Unik Dunia Seperti Di Indonesia - E-Book Info.html. Diakses pada tanggal 13 Febuari Pukul 15.00 WIB.
27 Novi Mulyani.,Super Asyik Permaianan., 113
pemain yang sedang bermain dengan meloncat dilarang untuk menyetuh dan membatasi.28
Pemain permainan tradisional engklek harus meloncat kesetiap kotak sampai di ujung terjauh yang biasanya berbentuk setengah lingkaran atau kotak yang besar. Dari sana dia harus kembali dengan cara melompat lagi. Saat sampai di kotak yang terdapat gacuk miliknya, dia harus mengambil gacuk itu dengan tangannya, sementara itu sebelah kakinya harus tetap terangkat dan tidak boleh menyentuh tanah.
Kemudian dia harus melanjutkan membawa gacuk tersebut sampai keluar.
Pemain permainan tradisional engklek yang sedang bermain harus mengulang permainan ini dengan melempar gacuk dari mulai kotak pertama terus sampai semua kotak, dan akhirnya selesai kembali kekotak pertama lagi. Namun bagi pemain yang melanggar aturan tidak boleh melanjutkan permainan, dan digantikan oleh pemain berikutnya. Tapi dia boleh melanjutkan permainannnya setelah semua pemain mendapat giliran bermain.
Permainan selesai jika gacuk seorang pemain telah melalui semua kotak sampai kembali lagi kekotak pertama dengan selamat. Setelah itu pemain tersebut akan berdiri membelakangi lapangan engklek dan melemparkan gacuk-nya kebelakang. Jika beruntung gacuk itu akan berhenti di dalam salah satu yang kosong. Maka kotak itu akan menjadi
28Euis Kurniati, Permainan Tradisional Dan Perannya Dalam mengembangkan keterampilan Sosial Anak, (Jakarta: prenadamedia Group, 2016), 91.
miliknya atau rumahnya. Tapi jika lemparan gacuknya meleset keluar arena atau menyentuh garis batas, maka pemain itu harus mengulang lemparannya setelah pemain berikutnya melempar. Aturan lainnya adalah kotak yang sudah ada pemiliknya tidak boleh diinjak pemain lain ataupun disentuh oleh gacuk pemain lain yang dilempar.
4. Jenis, Manfaat Dan Fungsi Permainan Engklek a) Jenis permainan Engklek
Permainan engklek mempunyai banyak jenis dan ragamnya.
Pertama, adalah permainan engklek jenis gunung yang biasanya ditemui di sekitar kita. Selain memiliki tingkat kesulitan yang rendah, engklek jenis ini bisa di kreasikan sesuai kebutuhan bermain.
Adapun cara bermian dari jenis permainan engklek gunung menurut Aisyah (2014; 70) dimulai dengan pemain melempar pecahan genting (gacuk) kedalam busur nomor 3. Selanjutnya melompat dengan satu kaki (engkleng) pada kotak 1, 2, 3 dan brok bersamaan pada kotak 4 dan 5 (kaki kiri 4, kaki kanan 5), engkleng di kotak 6, dan brok bersama lagi pada kotak 7 dan 8. Setelah itu, berbalik sambil
‘brok’ pada kotak 8, dan 7.
Dilanjutkan jongkok mengambil pecahan genting sambil tetap menghadap ke belakang. Setelah dapat kembali engkleng di kotak 6 dan brok di kotak 5 dan 4. Lalu, kembali ke start dan engkleng lagi di kotak 3, 2, 1. Tahapan selanjutnya sama dengan tahapan engkleng yang pertama.
Gambar pola engklek gunung
Kedua, permainan engklek jenis yang berbentuk huruf T.
Adaapun cara bermain dari permainan jenis ini adalah para pemaian terlebih dahulu harus melakukan hompimpa, setelah itu yang dapat giliran pertama bermian melanjutkan dengan cara melemparkan gacuknya pada kotak yang pertama, setelah itu pemain melompati kotak yang ada gacuknya dengan menggunakan satu kaki sampai selesai.
Gambar pola engklek bentuk T
Ketiga, permainan engklek bentuk X yang baerawal dengan kotak-kotak sejajar. Adapun cara bermainnya bermula pada kotal yang
4
8 7
6
5
1 2 3
6 3 2
4 5
7
1
sejajar kemudia dilanjut pada kota yang berbentuk X. Dan teknisnya sama dengan permainan engklek sebelumnya. Namun biasanya pada permianan engklek pola ketiga ini dimulai dari kotak yang berbentuk silang atau X, tapi juga ada yang dumulai dari kotak yang sejajar, tergantu adat yang berlaku didaerah bagaimana cara bermainnya.
Gambar pola engklek bentuk X b) Manfaat Permainan Engklek
1) Bagi Motorik Kasar anak Usia Dini
Pada saat bermain engklek motorik kasar anak akan terlatih karena dalam permainan engklek di haruskan untuk melompat-lompat.
2) Bagi Motorik Halus Anak Usia Dini
Melatih jari-jari anak, pada saat menggambar petak dan melempar gacu.29
3) Bagi Pengembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini
29 Rae Pica, Permainan-Permainan Pengembangan Karakter Anak-Anak, ( Jakarta: PT Indeks, 2012), 139.
Melalui bermain engklek dapat mengasah kemampuananak untuk bersosialisasi dengan orang lain dan mengajarkan kebersamaan, menaati aturan-aturan permainan yang telah disepakati bersama, melatih perkembangan emosi, pada saat pemain tidak berhasil melemparkan gacuk ke dalam petak dan tidak boleh melanjutkan permainan, apabila anak tidak berhasil mendapatkannya gaco tersebut maka dinyatakan gagal dalam permainan tersebut.
4) Bagi Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini
Permainan engklek melatih untuk berhitung dan menentukan langkah-langkah yang harus dilewatinya.
Berdasarkan pendapat di atas penulis berpendapat bahwa manfaat permainan engklek selain mengembangkan motorik kasar, motorik halus, sosial emosional, dan kognitif anak juga mengajarkan displin kepada anak untuk menunggu giliran sesuai urutan nomor yang ditentukan dalam permainan engklek.
c) Fungsi Permainan Engklek
1) Untuk memperluas interaksi sosial serta dapat mengembangkan keterampilan sosial.
2) Dapat meningkatkan perkembangan fisik, koordinasi tubuh, dan mengembangkan keterampilan motorik halus.
3) Membantu dalam pemebentukan kepribadian dan emosi anak.
4) Mengajarkan anak untuk mematuhi aturan-aturan dalam permainan.30
d) Kecerdasan yang Dikembangkan dari Permainan Engklek
Selain bermanfaat terhadap perkembangan motorik kasar anak, Permainan engklek juga dapat mengembangkan beberapa kecerdasan, di antaranya sebagai berikut:
1) Linguistik, permainan engklek dilakukan secara berkelompok sehingga anak dilatih untuk berbicara dan mendengarkan temannya (komunikasi).
2) Logika matematik, melalui permainan ini anak dilatih untuk menghitung jarak antara pijakan pertama dengan kotak berikutnya dan memperkirakan ayunan tangan yang tepat untuk melempar kojo agar tepat sasaran.
3) Intrapersonal, permainan engklek melatih anak bersikap sabar, tidak memaksa kehendak, bersikap tenang, serta merasa nyaman dan terbiasa dalam kelompok
4) Interpersonal, permainan engklek dilakukan secara berpasangan atau berkelompok sehingga anak dilatih untuk memiliki rasa toleransi dan empati terhadap perasaan temannya.
5) Visual-spasial, pada permainan ini anak belajar menghitung jarak lempar, memperkirakan luas bidang yang ada sehingga lemparan kojo tidak keluar. 31
30 Khadijah, Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah, (Bandung: Citapustaka Media perintis, 2012), 152.
6) Natural, alat permainan engklek dibuat dari benda-benda yang ada disekitar. Aktivitas ini mendekatkan anak terhadap alam sekitarnya sehingga anak lebih menyatu dengan alam.
7) Kinestetik, permainan ini dilakukan dengan cara melompat dengan satu maupun dua kaki kesana kemari, maju mundur di dalam kotak yang terbatas dan melatih keseimbangan tubuh.
8) Spiritual, pada permainan ini anak belajar mengikuti aturan main dan mau menerima akibat jika melakukan kesalahan (sportivitas).32
e) Nilai-Nilai Pendidikan Dalam Permainan Engklek dalam Pengembangan Motorik Kasar Anak Usia Dini
1) Nilai Kedisiplinan
Transfer nilai pada permainan engklek terjadi melalui penghayatan para pemainnya. Nilai kedisiplinan ini ditunjukkan secara tidak langsung saat pemain mau mematuhi peraturan yang ada pada permainan engklek. Selain itu, ditunjukkan saat para pemain mau mengantri menunggu gilirannya main.
2) Nilai Ketangkasan
Nilai ketangkasan dapat dilihat dari gerakan anak saat melakukan permainan engklek. Gerakan lompat-lompatan dengan satu kaki dapat melatih ketangkasan anak dan juga keseimbangan fisik.
31 Ami Rahmawati, Permainan Tradisional Untuk Anak Usia 4-3 Tahun. (Bandung: Sandiarta Sukses, 2009), 9.
32 Ami Rahmawati, Permainan Tradisional Untuk Anak Usia 4-3 Tahun. (Bandung: Sandiarta
Dalam pengembangan motorik kasar anak usia dini dapat dilakukan melalui bermain. Melalui bermain pengembangan motorik dan sensitivitas anak dapat dikembangkan oleh sekolah, guru, dan aktivitas fisik lainnya yang dapat dilakukan anak sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya.33
Oleh karena itu permainan engklek sangat penting untuk diajarkan pada anak anak usia dini mengingat manfaat dan kegunaan dang fungsi serta nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya, selain itu permaianan engklek merupakan kekayaan budaya indonesia yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita sehingga perlu dilestarikan agar tidak hilang ditelan oleh arus zaman modern.
33 Bambang Sujiono, Metode Pengembangan Fisik, (Jakarta: Universita Terbuka, 2010), 23-24.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian
Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data, tujuan, dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut, terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu cara ilmiah, data, tujuan dan kegunaan. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian ini didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris dan sistematis.34 Adapun metode tersebut yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain. Secara menyeluruh dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khususnya yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.35
Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian kualitatif deskriptif. Karena penelitian ini bertujuan untuk menguraikan tentang sifat-sifat karakteristik suatu keadaan dalam bentuk kata-kata dan bahasa penelitian deskriptif adalah metode penelitian untuk membuat
34Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D(Bandung: Alfabeta,2012),02.
gambaran mengenai situasi atau kejadian, sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data dasar belaka. 36Jadi penelitian akan langsung dilakukan sendiri oleh peneliti yang akan melihat langsung tentang kondisi tempat atau lapangan yang akan diteliti, dengan respon dan partisipasi dari pihak lembaga. Maka dari itu, diharapkan peneliti dapat mendeskripsikan Upaya Meningkatkan Motorik Kasal Anak Melalui Permainan Engklek di RA Nurus Salamah Mumbulsari 2. Lokasi Penelitian
Lokasi yang dipilih adalah RA Nurus Salamah Kecamatan Mumbulsari Kabupaten jember. Alasan dipilih lokasi ini karena lembaga ini mudah dujangkau oleh peneliti, selain alasan inimasyarakat juga sangat antusias dalam menyekolahkan anaknya karena lembaga ini mampu mencetak anak-anak yang memiliki pribadi yang sehat serta memiliki kelincahan dalam bidang motorik kasarnya dengan baik serta juga tidak mengenyampingkan dibidang kognitifnya. Peneliti Mendapat Informasi berdasarkan hasil wawancara dengan Luluk eka budi selaku Informan yang mengajar sebagai guru kelas sekaligus menjadi wali murid.
3. Subyek Penelitian
Teknik sampling yang digunakan dalam penlitian kualitatif ini adalah purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu, dimana peneliti mengambil sampel dipilih
36Moh Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia,2014), 43.
berdasarkan pertimbangan sebagai informan yang bisa dijadikan sebagai partisipan.37 Berdasarkan uraian diatas maka yang bisa dijadikan sebagai subjek dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Kepala Sekolah RA Nurus Salamah ( Faridatul Hasanah, S.Pd.I ) b. Guru Kelas ( Siti Umi )
c. Wali Murid ( Ibu. Kiky ) d. Siswa ( Moh. Robit ) 4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan.38
Data merupakan hal yang sangat substansi dalam suatu penelitian, maka dalam pengumpulan data tentu tidak hanya mempertimbangkan tingkat efisiensinya, namun lebih dari itu juga harus dipertimbangkan mengenai kesesuaian teknik yang digunakan dalam menggali dan mengumpulkan data tersebut.
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini sebagai berikut:
a. Observasi
37Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D(Bandung: Alfabeta,2012), 219.
38
Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain. Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila penelitiab berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.39
Jenis observasi yang digunakan observasi non partisipan yaitu dimana peneliti akan datang ketempat kegiatan namun peneliti tidak terlibat dengan kegiatan tersebut. Adapun data yang ingin diperoleh dengan menggunakan observasi ini adalah:
1) Cara meningkatkan motorik kasar RA Nurus Salamah Mumbulsari
2) Upaya meningkatkan motrik kasar dengan cara bermain.
3) Dampak permainan Engklek terhadap peningkatan motorik kasar anak di RA Nurus Salama Mumbulsari.
b. Wawancara
Wawancara adalah suatu teknik untuk mendapatkan data dengan cara face to face relation. Wawancara dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung dilakukan dengan seorang perantara untuk mendapatkan data.40
Beberapa macam wawancara antara lain wawancara terstruktur, semiterstruktur dan tidak terstruktur. Wawancara yang akan peneliti lakukan menggunakan wawancara semiterstruktur diamana dalam
39Sugiyono, Metode Penelitian, 145.
40Mahmud, Metode Penelitian Pendidikan,(Bandung: Pustaka Setia,2011),100.
pelaksanaanya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara, diminta pendapat dan ide-idenya. Adapun data yang ingin diperoleh dengan menggunakan teknik wawancara ini adalah
1) Sejarah singkat berdirinya RA Nurus Salamah Mumbulsari serta kebijakannya. Wawancara dilakukan kepada kepala sekolah
2) Konsep belajar bermain. Wawancara dilakukan kepada Guru kelas
3) Dampak dari permainan engklek .wawancara dilakukan kepada guru kelas.
c. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni yang dapat berupa gambar, patung, film, dan lain-lain.
Studi dokumen merupakan perlengkapan dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Hasil penelitian
dari observasi dan wawancara kan lebih kredibel apabila didukung oleh foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada.41 5. Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data dalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang lain.
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi tahap tertentu diperoleh data yang dianggap kredibel. 42
Pada penelitian ini menggunakan analisis model Miles dan Huberman.Dengan alasan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Adapun Aktivitas dalam analisis data model ini adalah:
41Sugiyono, Metode Penelitian KombinasiMixed Methods ,(Bandung:Alfabeta,2015), 326-327.
42Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif, 334.
a. Koleksi data
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan hal-hal yang penting dan dicari tema polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. Reduksi data merupakan proses berfikir sensitif yang memerlukan kecerdasan dan keluasan dan kedalaman wawasan yang tinggi.
b. Kondensasi Data
Kondensasi data adalah proses menyeleksi, memfokuskan, menyederhanakan, mengabstraksi, dan mengubah catatan lapangan, transkrip wawancara, dokumen, dan materi (temuan) empirik lainnya. Berarti Kondensasi data dapat membantu peneliti dalam menyederhanakan dan menyesuaikan seluruh data yang dijaring tanpa harus memilah (mengurangi) data.43
c. Paparan data
Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya.
d. Penerikan kesimpulan
43 Miles, M. B., Hubberman, A. M., & Saldana, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods
Kesimpulan dalam penelitian kualitatif merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas.44 6. Keabsahan Data
Keabsahan data merupakan konsep yang menunjukkan keshahihan dan keadaan data dalam suatu penelitian.45yang dimaksud dengan validitas data atau keabsahan data adalah bahwa setiap keadaan harus memenuhi:
a. Menyediakan dasar agar hal itu dapat diterapkan.
b. Mendemonstrasikan nilai yang benar
c. Memperbolehkan keputusan luar yang dapat dibuat tentang konsistensi, prosedur dan kenetralannya dari temuan dan keputusan-keputusannya.
Penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Menurut Patton dalam Lexy Moleong, triangulasi sumber adalah membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode penelitian kualitatif.46
Adapun tekik triangulasi sumber adalah:
1) Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara
44Sugiyono, Metode penelitian, 247-252.
45Lexy Moleong, Metodologi Penelitian, 321.
46Ibid., 330.
2) Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi
3) Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu
4) Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan.
5) Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.47
Triangulasi Teknik adalah pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama, peneliti menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam dan dokumentsi untuk sumber data yang sama secara serempak.48 Keduannya digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan data yang kredibel.
7. Tahap-tahap Penelitian
Bagian ini menguraikan rencana pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti, mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya, serta sampai pada penulisan laporan.
47Lexy Moleong, Metodologi Penelitian,331.
48
a. Tahap persiapan
1) Menyusun rencana penelitian 2) Memilih lapangan penelitian 3) Menyusun perizinan
4) Memilih informan
5) Menyiapkan perlengkapan penelitian b. Tahap pelaksanaan dilapangan
1) Memahami latar penelitian 2) Memasuki lapangan penelitian 3) Mengumpulkan data
4) Menyempurnakan data yang belum lengkap c. Tahap pasca penelitian
1) Menganalisis data yang diperoleh 2) Mengurus perizinan selesai penelitian 3) Menyajikan data dalam bentuk laporan 4) Merevisi laporan yang telah disempurnakan