Pembangunan Hutan Kota Dan Ketersediaan Lahan Oleh: Dikson Junus
Ahstract
Town forest
in
its growth, ahead hqve been converted to become thefarm of agricalture and residence in line with resident growth, growth
of
centre of activities which is one with the residence have instituted to form an urban region. hs his ll/eak is society knowledge, governmental agency and also the straightening of existing lmu, and on the other hand quickly it him resident growth claim the availibility of farm
for
the settlement of and effort tendingto to
pushthe
town growthto
developmentof
medium and infrastructure of eye physical, qnd tend to the green air-gop minimizqtion or town forest as town lung. functioned to displaced more amount town farm become the commerce area, industriql area and settlement area and also prasarana walke and otherKeyrvord: Townforest, open space green, area settlemettt
Pendahuluan
Perkembangan kota
yangsemakin cepat terutama
dalampenyediaan fasilitas seperti perumahan, pendidikan, industri dan usaha lainnya
semakin meningkatkan
permintaanlahan.
Perkembangankota
tersebutdibarengi oleh
kepadatan lalulintaskenderaan
bermotor,
sehingga kota menjaditidak
sehat yang disebabkanoleh polusi, kebisingan
yang ditimbulkan oleh kenderaan bermotor.Meningkatnya pemanfaatan beberapa peralatan kebutuhan penduduk dan
pertarnbahan jalur
transPortasi menambah jumlah bahan pencemar dantelah menimbulkan
berbagaiketidaknyamanan di
lingkunganperkotaan.
Permintaan akan pemanfaatan
lahan kota yang terus
tumbuh danbersifat akseleratif untuk
untukpembangunan berbagai
fasilitasperkotaan. Hal ini
umumnyamerugikan keberadaan ruang terbuka
hijau (RTH) yang sering
dianggap sebagailahan
cadangandan
tidak ekonomis.Di lain pihak,
kemajuan penggunaan kebutuhan rumah tangga dan pertambahanjalur
transportasi dansistem pengamanan utilitaslinstalasi, sebagai bagian dari peningkatan taruf
hidup warga kota, juga
telah menambah jumlah bahan pencemar dantelah
menimbulkan berbagai ketidak nyamanandi
lingkungan perkotaan.Untuk
mengatasikondisi
lingkungan kota sepertiini
sangat diperlukan areauntuk ditanami
pepohonan sebagaisuatu teknik bioengineering
dan bentukanbiofilter yang relatif
lebihmurah, aman, sehat,
danmenyamankan. Keberadaan tanaman
pohon tersebut penting
dalammengendalikan dan
memeliharakualitas lingkungan. Untuk
itu,pengedalian
pembangunan wilayahperkotaan harus dilakukan
secaraproporsional dan berada
dalam keseimbanganantara
pembangunan dan fungsi-fungsi lingkungan.Pengertian hutan kota menurut Fakura (dalam Dahlan
E.N.
1992:29) adalah tumbuhan atau vegetasi berkayu di rvilayah perkotaan yang memberikanmanfaat lingkungan yang
sebesar- besarnyadalam
kegunaan-kegunaanproteksi, estetika, rekreasi
dan kegunaan-kegunaankhusus
lainnya.Hutan kota
merupakanbagian
dari program Ruang Terbuka Hijau (RTH).Menurut Peraturan
Menteri Dalam NegeriNomor I
tahun 2007, tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan (RTHKP), bahwaruang terbuka dinyatakan
sebagai ruang-ruang dalam kota atau wilayah 1,anglebih
luas,baik
dalam bentukmembulat maupun dalam
bentukmemanjang/jalur di rnana
dalam penggunannyalabih
bersifat terbuka 1,ang pada dasarnya tanpa bangunan.Cakupan RTHKP terdiri dari RTHKp
publik dan RTHKP privat
dan salah satujenisnya adalah hutan kota.Semakin pesatnya
pertambahan
jumlah penduduk
di daerah perkotaan adalah sejalan denganperkembangan
kota sebagai
pusatperdagangan, jasa,
permukiman, pemerintahan, budaya dan pendidikan.Di
sampingitu
adanya anggapan kota sebagai daerah yang menjanjikan ataumenarik dengan fasilitas
yang
telahdisediakan
menyebabkan terjadinya arus perpindahan pendudukdari
desake kota
(migrasi) yang hampir tidak terkendalikan.Meningkatnya
jumlahpenduduk
di
daerah perkotaan telahmenyebabkan peningkatan
fisik
yangkritis, hal ini terjadi
sebagai akibat semakin tingginya pembangunan dan pemekaranfisik kota. Masalah
ini menimbulkan tekananyang
semakinbesar terhadap sumber daya
danlingkungan,
industri dan
pusat-pusat kegiatankota yang
cenderung akan menimbulkan dampak negatif terhadap masyarakat perkotaan itu sendiri.Gagasan tentang pembangunan kawasan hijau
di
perkotaan khususnya hutan kota pertamakali
muncul dan dibahas pada 1978 yaitu pada kongreskehutanan Se-Dunia VIII
yangdiselenggarakan
di
Jakarta, meskipunsecara eksplisit implementasi
di lapangan belum mulai tersentuh. Akan tetapi pada eraini
banyak pihak mulaimenyadari tentang issue
dan permasalahanyang timbul
akibat kurangnya kawasanhijau
terbuka diperkotaan khususnya hutan
kota sehingga mulailah digalakan kegiatan- kegiatan penghijauan di perkotaan.Pembangunan hutan
di
daerah perkotaandi
Indonesia pertama kali dicanangkanoleh
PresidenRI
padarangkaian kegiatan Pekan Penghijauan
Nasional (PPN) ke 30 di
kota Gorontalo. Pembangunan hutan kotamulai
ditumbuhkandi
sebelas kotabesar yang diawali
dengan pembangunanhutan kota di
lakarta denganluas
arcal 2.327di
Ha (Johari 2002:52)
Untuk
menguatkan kebijakan pembangunanhutan kota di
setiapdaerah maka diterbitkanlah Instruksi Menteri Dalam Negeri
No.
14 tahun 1998 tentang penataan Ruang TerbukaHijau, Instruksi Presiden
tentang Panamamn "Sejuta Pohon" (lrwan Z.Dj 2005:86) dan lnstruksi Menteri Dalam21
Negeri
tentang pembangunan hutankota penyandang adiPura,
kota terbersihdan
ternyamandari
aspeklingkungan. Pada tahun 1992 penataan
ruang telah diatur tersendiri
dalam Undang-Undang Nomor 24 tahtttt 1992 tentang Penataan Ruang (UUPR).Evaluasi Kinerja Kebijakan
Masa LaluDalam kebijakan masa
lalu pembangunanhutan kota masih
diwarnai oleh
beberapahal
Yaitu:Pertama, Penyelenggaraan
pembangunan
hutan kota
cenderunglebih bersifat dari atas (toP
downmodel) baik dalam
Perencanaanmaupun
pelaksanaannya. Pedoman pembangunan diterbitkanoleh
pusatdan diikuti dengan
penganggaran pembangunan. Kedua, Jenis tanaman adalah berupa pohon pelindung dengan tanpa pertimbangan sisi kualitas jenis,bibit dan ekonominya.
Ketiga,Penyelenggaraan pembangunan
bersifat keproyekan dan
kurang menyentuh peran masyarakat dan mitradalam pengelolaan
selanjutnYa.Keempat, Kurangya koordinasi antar
instansi yang
berwenang sehingga pelaksanaan di lapangan menjadi kacau balau. Contoh Koordinasi antara dinas tata kota dengan instansi PT. Telkom, PT. PLN. Kedua instansi tersebut tidak ingin instalasi kabel terhalang denganpepohonan. Kelima, Belum
adakepastian hukum atas penyelenggaraan pengelolaan hutan kota sehingga tidak ada jaminan kelestarian hutan karena hutan kota yang ada mudah
di
rubahuntuk
penggunaanlain (alih
fungsikawasan hijau/resapan
air
menjadiareal bangunan fisik).
Keenam,Masyarakat ditetapkan
sebagaipelaksana pembangunan
dan
bukanpenyelenggara (subyek)
sehinggakurang merasa
memiliki dan
bukan memelihara.Ketujuh,
Pembangunan hutankota lebih
cenderungke
arah pengutamaan kebersihanfisik
teknis dan kurang memperhatikan segi sosialekologi
lDengan melihat
kebijakan-kebijakan yang dilaksanakan tersebut, beberapa kelemahan dalam kebijakan
tesebut yaitu: Pertama,
KurangYapartisipasi masyarakat dan
peran ,stakeholder dalam
memeliharakelestarian hutan kota
karenakurangnya rasa memiliki dan menerima manfaat dari pembangunan hutan kota.
Kedua, Jenis tanamarl
yang
ditanam potensinyakurang optimal
karenafungsinya hanya
sebagai pelindungakan tetapi tidak memiliki
nilaiekonomis. Ketiga, Beluni
adanyaperangkat hukum yang
mengaturpenyelenggaraan
hutan kota
baikperaturan pemerintah,
peraturuandaerah maupun peraturan perudangan lainnya. Demikian halnya
juga
belum ada pengaturan dalam koordinasi antar sektoraldalam
pembangunan hutankota.
Keempat,Belum
adanya mitradan
pengelolaprofesional
sehinggatidak
menumbuhkan pengembanganmanfaat
dalam luasan hutan
kota,bahkan tidak jarang menjadi kawasan kumuh yang tidak terawat.
Pada saat
ini
dengan Undang- Undang nomor 26 tahun 2007 tentangpenataan ruang dan
PeraturanMendagri nomor 1 tahun 2007 tentang penataan
raung, pemerinlah
mulaimelakukan perbaikan
danpenyempumaan kebijakan,
baikkebijakan yang bersifat
teknis,manajerial maupun yuridis
Yang&.pkan
dapat dipergunakan sebagairhsan
penyelenggaraandi
,nararg
akan datang.Berdasarkan pada tujuan dari
nbangunan
hutan kotayaitu
untuk-rjaga iklim mikro; nilai
estetikahgkungan dan fungsi sebagai resapan
dipilih
darijenis
yangmemiliki
nilai ekonomibaik kayu dan buah
sertadapat memberikan kesejukan
dan kenyamanan. Kelima, Luas hutan kota disesuaikan dengan potensi wilayah, jumlah penduduk, kondisi dan potensi pencemaran udara, air maupun kondisifisik
perkotaanyaitu minimal
20oh- 30%dai
luas wilayah.Penilaian Lingkup dan
Jenis MasalahKebijakan pembangunan hutan
kota belum melihat
aspek-aspek relevansi dengankondisi
lingkungan yang ada yang telah mengarah padaasas
kelestarian, pemanfaatan sertademokratisasi dari dalam
penyelenggaraan hutan kota. walaupun
berbagai kebijakan yang
sudahditerapkan oleh pemerintah
sejakdahulu
sampai sekarangmasih
ada pembangunankota yatg
kurangmemperhatikan aspek
lingkungan sepertidi
Jakartayaitu
pembangunan perumahan elit di kawasan pantai indahkapuk dan pada
kawasan-kawasan resapan air dan hal ini berdampak padabanjir. Kurangnya
komitmen pemerintahdalam
pegelolaan hutankota juga di barengi
lemahnya pengetahuan masyarakatdan
aparatpemerintah,
dan
lemahnya perangkat hukum.Diagnosis Masalah
Kawasan perkotaan saat
sudah
menjadi tempat yang
sangatmenarik bagi masyarakat
untuk mengembangkankehidupan
sosial ekonomi.Hal ini jika
dibandingkan dengan kondisi di desa, fasilitas-fasiltasyang ada di kota begitu
lengkap tersedia. Beberapa permasalahan yang serta menciptakan keseimbangankeserasian lingkungan
kota
danFingkatan
manfaat ekonomika makaDs
penyelenggaraanhutan
kotadetah sebagai berikut
pertama,,kencanaan
pembangunan hutan kotakus
dilaksanakanbnprehensif,
integratedsecara
gntisipatif dengan
mengutamakandanlnyelenggaraan
pembangunanfrsidrf pemerintah
daerahrs5rarakat.
Kedua, Penyelenggaraan;rnbangunan hutan kota berdasarkan
1nda kebijakan otonomi
daerahlcrlandaskan
pada
peraturan hukumymg berlaku dan
memberikanlewenangan pengaturan
kepadaBupatiAValikota 'setempat
sesuaidengan
Undang-Undangnomor
32 rrhun 2004 tentang otonomi daerah dan Undang-Undang nomor 33 tahun 2004 tsntang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Ketiga,kinsip
kemitraan dengan memberikankesempatan
seluas-luasnya kepada masyarakatdan
swastauntuk
dapat berpartisipasi dalam pembangunan danpengelolaan
h,utan kota di
manapemerintah
dapat berfungsi
sebagaifasilitator dan motivator.
Keempat,Penggunaan jenis pohon
untuktanaman hutan kota di
sesuaikandengan kondisi setempat
danmenggunakan
jenis-jenis
unggulanyang mampu untuk
menurunkantingkat pencemaran udara
dan meredam kebisingankota
dan jugaatas dan
-az-)
dihadapi
di
perkotaan terutama yangberhubungan dengan
ketersediaan lahan untuk kawasan terbuka hijau atauhutan kota.
Permasalahan tersebutadalah tingginya
Pertumbuhanpenduduk alamiah dan
arusperpindahan penduduk
dari
desa kekota, telah mengakibatkan
tidak terkendalinya perkembangan permukiman, perumahan dan kawasanhunian kumuh
termasukhunian
di bantaran sungai"Di
Indonesia tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggal di daerah perkotaan meningkat pesat dari tahun 1961 sampai tahun 2005'Lemahnya pengetahuan
masyarakat, aparat
Pemerintah, lemahnya perangkat hukum Yang ada dan ditambah lagi dengan pertumbuhanpenduduk yang semakin
cePatmenuntut
ketersediaanlahan
untuk pemukiman dan usaha cenderung untukmendorong kegiatan
Pembangunankota kearah pembangunan sarana dan prasarana
fisik
semata dan cenderungmeminimalkan areal untuk
ruangterbuka hijau (RTH) Yang
daPatberfungsi sebagai
Paru-Paru kota, sehingga menghilangkanwajah
alam dan kenyamanan. Lahan Yang ada dikota banyak difungsikan
untukkawasan perdagangan,
kawasanindustri, kawasan
Permukiman, prasaranajalan dan
bangunan fisik lainnya.Tingkat partisiPasi masYarakat terhadap pengelolaan
ruang
terbuka hijau (RTH) saatini
masih rendah, halini disebabkan karena
lemahnYapersepsi masyarakat terhadap fungsi
dan manfaat RTH. Tidak
sedikit pembangunan rumah oleh masYarakatmenyediakan lahan hrjau
Yangseirnbang sebagai resapan
ait,umumnya sebagian besar pekarangan
atau
halamanrumah
sudah plester beton sehingga fungsi resapan air tidakada lagi.
Tanaman-tanaman seperti bunga,pohon mini dan
sebagainYasudah diternpatkan dalam
sebuahmedia
pot
yangdi
letakandi
halamanatau
di
pekarangan rumah yang sudah plester dibeton dengan alasan mudah ditata atau dipindahkanBelum ada aturan
ataukebijakan yang mengatur
tentang pendirian sebuah bangunan atau rumah yang mensyaratkan untuk menyediakan ruang terbukahijau dan
penanamanpohon pelindung di
halaman ataupekarangan
yaflg berfungsi
sebagairesapan
air
atau merelai polusi udaradan air
tanah.Di
beberapa daerah belum ada atauran atau kebijakan yangditujukan kepada
pengembangperumahan atau developer
Yangmensyaratkan untuk
menYediakan ruang terbukahijau dan
Penanaman pohon pelindungdi
lokasi perumahan yang akan dibangun.Selama
ini
pembangunan di perkotaan lebih menitik beratkan pada pembangunan saranadan
Prasarana fisik dan mengeyampingkan pelestarian ruang terbuka hijau. Sehingga hal ini menyebabkankota maju
secara fisikekonomi akan tetapi
mengalamikemunduran secara
ekoligis. Di
kotalahan untuk ruang terbuka
hrjau menjadi tertekandan
bertambahnya permukiman yang kedapair. Hal
ini menjadi permasalahan yang dihadapioleh
beberapadaerah yang
Padatdengan
bangunan-bangunan. danpemukiman penduduk
menemuikesulitan tentang keterbatasan lahan kota yang diperuntukan RTH.
Kebutuhan Analisis
Analisis kebijakan
pernbangunan hutan kota
dan ketersediaanlahan saat ini
relevandilakukan atas dasar
hasil
observasi&n
penilaian kebijakan masa lalu dan masa sekarang, serta hasil peramalantinerja kebijakan masa yang
akan datang.Variabel-variabel yang
dijadikan
sebagaianalisis
kebijakan saatini
dan ke depan adalah: Pertama, Variabel(X) terdiri dari:
Penduduk,baik
pertambahan penduduk secaradamiah
di
kota maupun perpindahandari desa ke kota; Sarana
fisikbangunan (industri,
perkantoran,pendidikan, perumahan,
perdagangan/usaha" utilitas/instalasi dan lain-lain); Transportasi kenderaan
bermotor. Kedua, Variabel (y)
Keterseidaan
lahan
untuk pembangunan hutan kotaStakeholder Utama.
Stakeholder yang
terlibat dalam penataan ruang terbuka hijau'tau hutan kota di tingkat
daerah;Pertama,
Kelembagaan Eksekutifadalah lembaga-lembaga
dalam struktur pemerintah kota yang terkaits€cara langsung dengan
proses penataan ruang. Kedua, KelembagaanLegislatif, yaitu
Lembaga legislatifl'ang dimaksud adalah
LembagaDewan Perwakilan Rakyat
Daerah,dimana dalam struktur
kelembagaannya terdapat komisi yang terkait dengan tata ruang yakni Komisi
)'ang membidangi
pembangunan.Ketiga, Kelembagaan
Masyarakat.Kelembagaan masyarakat
sebagaistakeholders seharusnya
berperan cukup penting dalam proses kegiatanpemanfaatan dan pengendalian ruang.
Berbagai lembaga
terkait
yang harusterlibat adalah
lembaga-lembagaprofesi
masyarakatyang
menempatiruang
secarasignifikan
(HimpunanTani), para kelompok
pemerhatilingkungan hidup,
kelompok pemberdayaan masyarakat. Keempat, KelembagaanSektor Privat,
yaitu Sektor privat berperan strategis dalamhal
pemanfaatanruang
ekonomi,karena keterlibatannya
membawadampak peningkatan
perekonomian kawasan-kawasantertentu.
Sektor privat berperan dalam hal peningkatan investasi untuk peman faatan ruang.Tujuan dan sasaran
Adapun yang menjadi tujuan
dalam dokumen analisis
kebijakan pengembanganhutan kota
adalah adalah mewujudkan penyediaan lahanuntuk
pemanfaatan pengembangan hutan kota dan mendukung tercapainya pembangunan bersih, indah, harmonis dan lestari. yang berkelanjutan. Sasaranyang akan dicapai
adalahmengembalikan dan
menjagakeberadaan hutan kota dan fungsi hutan
kota di daerah perkotaan
secarakonsisten sehingga
memberikan manfaat lingkungan kota yang optimal secara ekologis, sosial, ekonomi danmenjamin keharmonisan
hidup masyarakatdan lingkungan
secara berkesinambungan.Analisis
Alternatif
Dalam upaya
mewujudkanpembangunan hutan kota
danmemenuhi ketersediaan lahan minimal
20% untuk hutan kota atau
ruangterbuka hijau di daerah
perkotaan25
beberapa altematif
pemecahannya sebagai berikut:Alternatif Pertama,
yangterdiri dari: (a)
Pembangunan fisikgedung terutama
perumahan,perkantoran, sekolah,
tempatusaha/perdagangan
dilakukan
secaravertikal. (b)
Pemerintahkota
harusmembatasi pembangunan
fisikterutama gedung yang
tidakmenyediakan areal terbuka
hijaudengan tidak mengeluarkan
tjin mendirikan bangunan(lMB),
khususuntuk kota
yang sudah sangat padatdengan sarana
dan
prasarana fisikpemerintah kota tidak perlu
lagimengeluarkan ijin
mendirikanbangunan terutama
gedung-gedungmilik pribadi
seperti rumah, tempat usahaskala kecil
sampai menengah sepertikios, toko. Hal ini
dilakukanuntuk menjaga
ketersediaan lahanuntuk
kawasanterbuka hijau.
(c)Pemerintah
kota
mempunyai otoritas terhadap penguasaan tanah dengan caramembeli tanah kepada
pemilik,terutama lahan pertanian,
lahan kosong, lahan terdapat bangunan yangtidak
difungsikan,kemudian
lahan-lahan tersebut di
peruntukanpembangunan hutan kota atau RTH. (d) Pusat pendidikan terutama perguruan
tinggi di
arahkanke
luar kota, sebab pembangunan sarana pendidikan untuk perguruantinggi
memerlukan lahan yang luas. (e) Kawasan industri sebagaifaktor penyumbang migrasi penduduk
ke
kota sudah saatnyadi
relokasi ke daerah-daerah luar kota atau pinggiran kota.Alternatif
kedua, yang terdiridari (a) Untuk
mengurangi migrasi pendudukdari desa ke kota
perlu dilakukan pembenahan di desa dengan:Pendayagunaan lahan
denganoptimalisasi pemanfaatan potensi lokal
yang dimiliki, diikuti
denganpenyebaran
fasilitas dan
pelayanan sosialyang
merata; Pembukaan dandiversivikasi lapangan kerja
baru(khususnya pertanian)
untukmengurangi ketimpangan pendapatan;
Peningkatan
kualitas SDM
melaluijalur
pendidikan dan ketrampilan. Halini
harus harus ada kerjasama antarapemerintah pusat dan
pemerintahdaerah (daerah
yang belum
padat'penduduk) atau kerjasama antar daerah.
(b)
Pembangunan perumahan dan pemukimandi
kota selalu menghadapi permasalahanpertanahan
terutamaketersediaan lahan, ada
baiknyapembangunan perumahan
dan pemukiman diarahkan ke luar kota. Hal ini juga akan berdampak pada daerah . tersebut(di
luar kota) terutama dalam l peningkatan ekonomi. (c) Pembangunan sarana pendidikan untuk perguruantinggi
memerlukan lahanyang luas, untuk itu
pembangunan sarana pendidikan tinggidi
arahkan ke luar kota, halinijuga
akan berdampakpada kenyaman belajar
bagi mahasiswa,dan berdampak
pada peningkatan pendapatan daerah dan masyarakatterutama
dalam'menyediakan tempat kost.
(d)Penyediaan rumah susun
untukkeluarga yang
berpenghasilan menengah kebawah di luar kota disertai denganfasilitas
pendukung seperti sekolah, saranan pelayanan kesehatan,pasar/tempat usaha. (e)
Untuk mendukung pembangunan rumah susun bagi masyarakat yang berpengahasilanmenengah ke bawah
pemerintahmemindahkan kawasan industri sebagai salah satu fasilitas tempat bekerja
Ffiarrgupn tiTepun
dan[[apun
fisik
oleh instansi/pihak harus Beberapa langkah yang harusdmbil
oleh pemerintah terkait denganhrrbatrsan
lahan untuk pembagunanb
kotadi
masa yang akan datang&hh: Pertama,
Menyediakanptrgkat aturan
perundangan di&hnnya
memuat antaralain:
setiapberdampak pada nilai
ekonomi, diperlukan pemilihanjenis
tanamanyang mempunyai
nilai
ekonomis danjuga jenis
tanamanyang
berdampakpada nilai ekologis dan estetika.
Hambatan dan Fisibiltas
Poltik Dalam
perumusan kebijakanboleh dikata tidak akan
mengalami hambatan,tetapi dalam
pelaksanaan kebijakanini
akan mengalami kendala seperti: Pertama, Biaya pembangunanhutan kota
memerlukanbiaya
yangtinggi. Kedua, Alokasi
anggarapembangunan hutan kota
akanmengalami kesulitan,
karena pembangunanhutan kota bisa
sajabelum menjadi proritas
bagi
daerah-daerah. Prioritas
kebijakanpembangunan di daerah
lebihmengarah kepada
pertumbuhanekonorni yang cepat
sepertipembangunan aspek fisik
yangmenunjang kegiatan investasi. Ketig4
Alokasi ruang terbuka hijau
terkait dengan status pemilikan lahan. Lahan dengan statushak milik lebih
sulitdiatur dibandingkan lahan
yangdikuasai negara, atau pada
lahanmarjinal lain yang terlantar.
Olehkarenanya perlu
peningkatankepedulian masyarakat
terhadap lingkungandan
kesadarannya untuk berpartisipasi dalam penghijauan.Kesimpulan Dan Rekomendasi
a.
Kelayakan TeknisSecara
teknis
kelayakan terhadapkebijakan ini
dalam implementasi dilapangan, tidakakan mengalamai
hambatankarena didukung
olehmasyarakat, LSM,
organisasimahasiswa dan
organisasi salanadari
m1-ertakan/menyediakan
kawasannrhka hijau
atau penanaman pohonplindung
minimal 20Yo dari luas areallme
akan didirikan bangunan; sanksiErhadap
pihak
yangcmatikan/menebang pohon
untuk@ntingan
pribadi tanpaseijin
dari@ak
berwenang. Kedua, Menciptakan;tlim
investasidi
daerah-daerah nonpcrkotaan dengan tujuan
daerahrsebut
berkembang dan menghambatrus migrasi penduduk ke
kota.$femberikan kemudahan kepada pihak snasta untuk menanamkan modal di daerah-daerah.
Ketiga, Prinsip
dari pembangunan ruang terbuka hijau atauhrtan kota
di
masa mendatang adalahnenempatkan dan
mengutamakanirisiatif dan partisipasi aktif
darimasyarakat dan
menempatkan pemerintahsebagai fasilitator
danmotivator. Keempat,
Penguatankelembagaan pengelola
kawasan terbukahijau
termasukdi
dalamnyahutan
kota
dan; penegakan aturan main dalam pengelolaan kawasan terbukahijau dan hutan kota.
Kelima,\{engoptimalkan pemanfaatan lahan terbuka yang ada
di
daerah perkotaan(lahan tidur) untuk
kawasan pembangunanhutan kota.
Keenam,Untuk meningkatkan peran
sertamasyarakat agff peduli
terhadap pengembanganhutan kota
yang27
l
b.
d.
Kelayakan(kemudahan Untuk kemudahan
implementa sr/ ac t ionab I e\
administrasi dalam mendapatkan dalam masyarakat lainnya dan sifatnya perencanaan
dan
pengelolaanhutan kota
dilaksanakan dari bawah (bottom up).Kelayakan Politik
Secara politis kebijakan ini
akan didukung oleh para
elitpolitik di legislative
terutamadalam proses
penyusunanperaturan daerah
tentangpembangunan hutan
kota.Memberikan ruang
demokrtiskepada masyarakat
dalammenentukan
kebijakanpembangunan
dan
pengelolaanhutan kota, dan
meningkatkanpartisipasi masyarakat
dalampengambilan keputusan
yangdidasarkan pada
musyawarah mufakat.Kelayakan ekonomi
Kelayakan ekonomi
kebijakan ini
walaupun akanmemerlukan biaya yang tinggi, tetapi akan memberikan manfaat yang banyak untuk kemakmuran
penduduk kota dengan
tetaPmenjaga kelestarian
dankelangsungan fungsi hutan kota
masyarakat yang dapat dilakukan
dalam berbagai bentuk
gunamenumbuhkan
kesadaranmasyarakat akan
pentingnya hutan kota.Strategi Im plementasi/Aksi
Setiap kebijakan di
daerahtentang penataan Ruang Terbuka Hijau
Kawasan Perkotaan
(RTHKP)khususnya dalam pembangunan hutan kota dengan mempertimbangkan aspek ketersediaan lahan, tetap mengacu pada Undang-Undang Nomor 26 tahut 2007 dan Keputusan
Menteri
Dalam Negeri Nomor 1 tahun 2007 tentang penataan ruang. Bahwa lahan kawasan terbukahijau minimal 20%-30%
danmenetapkan
kawasan hutan
kota sebagai kawasan lindung dan kawasan budiaya yang kemudian diatur dalam peraturan daerah.Untuk
mengimplementasikanhal
tersebutdi
atas dapat dilakukan sebagai berikut: Pertama, Obtimalisasifisik
hutankota.
Kedua, Penguatan kelembagaan pengelolaan hutan kota.Ketiga, Peningkatan peran stakeholder.
Keempat, Memaksimal keterbatasan lahan perkotaan peruntukan hutan kota.
Penanganan pembatasan arus perpindahan penduduk
dari
desa ke kota, perlu dilakukan hal-hal sebagaiberikut: Pertama,
Memberlakukanaturan ijin
sementara (tergantung keperluan) kepada para pendatang dariluar kota dan tidak
memberikan layanan pembuatan KTP kota.Hal
inidilakukan
untuk membatasipertambahan penduduk
yangdiakibatkan oleh
perpindahan pendudukdari desa ke kota
sertamembatasi
kepemilikan lahan
olehpenduduk dari luar kota.
Kedua, mengimplementasikan kebijakanpembangunan hutan
kota,pemerintah daerah
sebaiknYamempelopori usaha pelaksanaan pengembangan hutan
kota
danmemberikan dukungan melalui penyederhanaan dalam Perijinan, keringanan pajak kePada badan
usaha dan atau jika
Perlumemberikan stimulan
Padalhogram perbaikan kampung
di
kota-h sekitar kota inti
(besar) perluffir[rrken dan
disesuaikan dengandfrtrmrika perkotaan dan
diperluasLfoga menjangkau
daerah-daerah?a'dEsa-n- Ketiga, Perlu meningkatkan
firy:n-
kota-kotakecil di
sekitar kotail-
sehingga arus migrasi menuju kota-i akan berkurang.
pertumbuhan" g
il'firngsi di kota inti (sebagai pusatptrintanan, perdagangan
danfimihrsi
barang, keuangan, pariwisata,hanti dan lain-lain) perlu
dibatasifu
bahkan fungsi-fungsiyang
ada porfu untuk dikurangi atau dipindahkanlc
tota-kota lain. Keempat, Kerjasamapbangunan
antar kotainti
dan kota-lmr
kecil di sekitarnya atau kota besar&r8nn
kota kecildi
sekelilingnya, halhr
merupakankunci utama
dalammqiemen perkotaan.
programmbangunan
perlu dilakukan bersamafu harus disesuaikan
denganFtncaDaan
tata ruangkota inti
danlauta-kota d isekitarnya.
Penanganan penggunaan alat
;xrsportasi
kenderaan bermotor agarlihk
menimbulkan polusi yang lebihhrratq
perlu dilakukan hal-iral sebagailcrikut
Pertama,Khusus
kota-kotaLEse seperti Jakarta,
Surabaya,D{atassar,
Medan, Yogyakarta
dancbagainya,
mengurangi penggunaanhderaan pribadi dalam kota
danmrggunakan
kendaraan umum yang ryeman dan ramah linkungan. Olehnyatarena itu
pemerintahlebih
banyak nenyediakan transportasi umum yangrlaman
dan ramah lingkungan sepertiEans Jakart4 trans Jogya.
Kedua,Regenerasi kembali
terhadap kendaraan bermotoryang
sudah tuadengan membatasi
beroperasinya kenderaanyang berumur di
atassepuluh tahun.
Ketiga, Agar
terjadi keseimbanganantara
ketersediaan lahan untuk pengembangan hutan kota denganjumlah
kenderaan bermotor supaya tercipta iklim udarayang bersih dan mengurangi polusi dan kebisinganyang ditumbulkan oleh
kenderaan bermotor, perlu dilakukan pembatasan kepemilikan kenderaan bermotor dalam satu keluarga. Contohsatu
keluarga dengan jumlah anggota keluarga lima orang, hanya boleh memiliki kenderaan bermotor maksimal satu mobil dan satu sepeda motorPenanganan sarana
dan prasarana perkotaan,perlu
dilakukanhal-hal sebagai berikut:
Pertama,Adanya
kerjasamaatau
kemitraan antarakota inti
dengan kota-kota disekitarnya
dalam mengatasipermasalahan pembangunan
danpengelolaan prasarana
dan
saranaperkotaan, khususnya di
kawasanperbatasan.
Dengan
adanya sistem pengelolaan yang terintegrasi mutu danpelayanan prasarana dan
saranaperkotaan tentunya akan menjadi lebih
baik. Kedu4 Untuk
mengatasi kepadatan pembangunan sarana dan prasarana di kota(inti)
atau kota besar perlu ada pengaturan lahan antara kotainti
dan kota-kotakecil
disekitarnya,hal ini ditujukan dalam
upaya penyediaandan
pemanfaatan tanah sesuai dengan tata ruang kota.29
Daftar Pustaka
Budiardjo, Eko. 1997, Tata Ruang Perkotaan. Alumni. Bandung.
---,1997, Lingkungan Binaan dan Tata Ruang Kota. Andi. Yogyakarta.
---, 1 9 98, S ej uml ah Mas al ah P emukiman Ko t a. Alunni. Bandung.
Budiman, Arief.
Aplikasi
Penataan Perumahandan
Permukiman MasyarakatDalam
Penantaan RuangKota
Sesuai Kebiiakan Pemerintah. 2005 (http:/www.google.com, diakses 18 Mei 2008)Dahlan, Endes
N.
1992, Hutan Kota Untuk Pengelolaan dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup. Asosiasi Pengusaha Hutan lndonesia (APHI). Jakarta.Dlraroko, Atyanto. 2008,
Perkembangan PembangunanPerumaltan
dan Permukiman Kotadi
Indonesia. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Fakultas Teknik UGM. YogYakarta.Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum. 20A5, Ruang
Terbuka Hijau \fry Wilayah Perkotaan. Makalah
Lokakarya.(http:/www.google.com, diakses 18 Mei 2008)
Devans,
Nick
and Rakodi, Carole (ed). 1993, Managing Fast Growing Cities.Longman Scientific
&
Technical. New York.Dunn, Wilian
N.
1994, Public Policy Analysis An Introduction. Pearson Prentice Hall. New JerseY.Irwan, Zoef aini Djamal. 2005, Tantangan Lingkungan dan Lasekap Hutan Kota.
PT Bumi Aksara. Jakarta.
Jolrari, Harry Irawan. 2002, Rencana Pengelolaan dan Penataan Ruang Untuk Hutan
Kota di Kota
Yogtakarta' Laporan, Hukum Lingkungan UGM YogYakartaNurmandi, Achrnad. 2006, Manaiemeru Perkotaan. Sinergi Publishing' Yogyakarta Soegijoko dkk (ed). 2A05, Bunga Rampai Pembangunan Kota Indoensiq Dalam
Abad 21.
Yayasan Sugijanto Soegijokodan Urban and
RegionalDevelopment Institute: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi, Universitas Indoensia. Jakarta.
Tjiptoherijanto, Prijono. 1997, Migrasi (Jrbanisasi dan Pasar Kerja
di
Indonesia.UI-Press. Jakarta.
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007' Penataan Ruang.
Undang-Undang Nomor 24 Tahun
1992.(http:/www.google.com, diakses 18 Mei 2008)
Asa Mandiri. Jakarta
Penataan
Ruang.Penataan Ruang.
Kota.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 Tentang (http:/www.google.com, diakses 18 Mei 2008).
Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun Tentang
Hutan(http:/www.google.com, diakses 30 Mei 2008).