• Tidak ada hasil yang ditemukan

pendahuluan - Jurnal Ilmiah Mahasiswa STKIP PGRI Sumbar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "pendahuluan - Jurnal Ilmiah Mahasiswa STKIP PGRI Sumbar"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Seiring perkembangan zaman, tuntutan untuk memiliki kompetensi diri yang lebih baik juga semakin meningkat sehingga seseorang dapat lebih kompetitif dalam menjalani kehidupannya, seperti kebutuhan untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, meningkatkan harkat dan martabat sosial serta mampu bergaul dengan baik di dalam lingkungan sosialnya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan melanjutkan pendidikan, kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) atau pun Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

Ada beberapa hal yang secara umum menjadi persoalan bagi seseorang yang ingin melanjutkan pendidikannya ke peguruan tinggi, di samping masalah ekonomi, persoalan akses terhadap pusat pendidikan juga sangat mempengaruhi. Terkecuali bagi mereka yang dekat dengan pusat pendidikan dan telah mendapatkan perguruan tinggi yang mereka inginkan, biasanya seseorang yang berasal dari kampung atau jauh dari pusat pendidikan dan mereka yang menginginkan perguruan tinggi tertentu berdasarkan kriterianya masing-masing namun tidak ada di daerahnya, mereka mau tidak mau harus merantau ke luar daerah, ke luar kota dan ada juga sebagian yang kuliah ke luar negeri.

Selain itu persoalan yang tidak kalah pentingnya adalah masalah tempat dimana mereka akan tinggal di negeri orang. Rumah merupakan tempat tinggal manusia, tempat manusia hidup, baik secara individu maupun berkelompok. Sudah tentu dalam perkembangannya, rumah yang menjadi elemen terbentuknya perumahan dan pemukiman menjadikan manusia menjadi lebih sempurna dalam kehidupan sosialnya.

Sebenarnya untuk urusan tempat tinggal, memang ada beberapa dari mahasiswa yang tinggal dengan kerabat bagi yang memilikinya di daerah tujuan, namun bagi mahasiswa yang tidak memilikinya pada umumnya mereka menggunakan jasa penyediaan tempat tinggal, seperti: hotel, motel, losmen, kontrakan, kos-kosan dan masih banyak lagi jenis jasa penyediaan tempat tinggal lainnya. Tentu setiap mahasiswa memiliki kriteria tersendiri dalam urusan memilih tempat tinggal yang mereka inginkan. Tempat tinggal yang mewah dan fasilitas yang lengkap sepertinya bukanlah yang menjadi landasan para mahasiswa untuk menentukan pilihan tempat tinggalnya, akan tetapi masih banyak faktor lainnya, seperti: kenyamanan, harga sewaan, jauh atau dekatnya akses ke kampus dan juga lingkungan sosial masyarakatnya (Anonim, 2012: 6).

Dari sekian banyak jenis jasa penyediaan tempat tinggal, kos merupakan

(2)

“jawara” yang cukup banyak dipilih oleh para mahasiswa. Rumah kos adalah rumah sewa yang penggunaannya sebagian atau seluruhnya dijadikan sumber pendapatan oleh pemiliknya dengan jalan menerima penghuni rumah kos minimal satu bulan dengan memungut uang kos. Dibandingkan dengan hotel dan penginapan mewah lainnya yang harga sewaannya sangat fantastis, tentu tidaklah sesuai dengan isi saku kebanyakan mahasiswa. Kontrakan pun yang hampir sama dengan kos menjadi pilihan kedua bagi mahasiswa. Kontrakan sebagai tempat tinggal tahunan meskipun lebih murah dari segi ekonomis akan tetapi kebanyakan berada lebih jauh dari kampus dan yang mendiaminya adalah mahasiswa yang memiliki alat transportasi seperti mobil, motor dan tentunya bagi mahasiswa yang tidak memiliki alat transportasi akan sulit bagi mereka dalam menjalani aktivitas perkuliahannya serta harus mengeluarkan dana tambahan untuk ongkos transportasi (Kadir, 2010: 134).

Sedangkan kebanyakan tempat kos itu berada lebih dekat dengan kampus sehingga memudahkan akses mahasiswa ke kampus, meskipun mereka tidak memiliki kendaraan mereka bisa mencapainya dengan berjalan kaki dan jika letih atau ada keperluan mendesak bisa langsung pulang karna memang jaraknya yang dekat dari kampus. Kelebihan lainnya adalah dengan

tinggal di rumah kos mahasiswa bisa mencari tempat tinggal lain jika tidak betah dan tidak bisa beradaptasi di lingkungannya tersebut karna kos yang sifatnya merupakan tempat tinggal sewa yang dibayar perbulan.

Jadi, mahasiswa tidak perlu rugi membayar satu tahun atau menghabiskan masa sewanya seperti kontrakan jika sudah tidak betah dan ingin mencari tempat tingal yang baru.

Tidak hanya sampai disitu saja, persoalan yang paling penting adalah bagaimana mahasiswa kos ini mampu beradaptasi untuk dapat diterima di lingkungan masyarakat tempat ia tinggal.

Sebagai seorang pendatang yang akan hidup dan melakukan aktivitas sehari-hari di lingkungan sosialnya yang baru dalam jangka waktu yang lama, mahasiswa harus menyadari bahwa mereka secara langsung sudah berada dalam satu sistem sosial masyarakat setempat di lingkungannya. Oleh sebab itu ia tentunya harus mengkondisikan dirinya agar dapat berbaur dengan masyarakat, baik berpartisipasi di dalam kegiatan-kegiatan masyarakat atau pun setidaknya ia bukanlah aktor yang memicu perpecahan di tengah masyarakat, melainkan sebagai seseorang yang menjaga dan menciptakan keseimbangan sosial (equilibrium) masyarakat tersebut.

Berkaitan dengan kehadiran mahasiswa sebagai masyarakat pendatang, masyarakat setempat dengan alasannya

(3)

masing-masing juga memiliki tanggapan yang beragam menanggapi kehadiran mahasiswa di lingkungan mereka. Hal ini bisa kita perhatikan langsung di dalam beberapa fenomena sosial, seperti konflik yang terjadi di antara kedua elemen sosial tersebut yang menunjukkan bahwa adanya disintegrasi yang sedang terjadi. Namun di dalam beberapa fenomena lain, kita juga sering melihat masyarakat yang berbaur dengan mahasiswa seperti gotong royong bersama, berdiskusi bersama, dan melakukan aktivitas-aktitas lainnya secara bersama, hal ini menunjukkan di antara mahasiswa dan masyarakat telah terjalin hubungan sosial yang baik atau integratif.

Seperti realitas yang terjadi di kelurahan Gunung Pangilun, yang mana mahasiswa kos di sini berjumlah sekitar 3000 orang. Sekitar (70 %) atau 2.100 orang kuliah di STKIP PGRI Sumatera Barat, dan (30 %) atau 900 Orang lainnya kuliah di Jurusan Kebidanan, AKBID Halifah, Univesitas Negeri Padang (UNP), Universitas Bung Hatta (UBH), dan lain sebagainya.

Tabel 1.

Persebaran Mahasiswa Kos Berdasarkan Perguruan Tinggi

No Perguruan Tinggi

Jumlah Persentase 1 STKIP PGRI

Sumatera

2.100 orang

70%

Barat 2 Perguruan

tinggi lainnya (Jurusan Kebidanan, AKBID Halifah, Univesitas Negeri Padang, Universitas Bung Hatta)

900 orang

30%

Total jumlah mahasiswa kos

3000 orang

100%

(Sumber: hasil observasi peneliti pada tanggal 24 Oktober 2013)

Persebaran tempat tinggal kos mahasiswa di sini dipengaruhi oleh pilihan- pilihan terhadap jauh atau dekatnya rumah kos dengan kampus dan juga karena alasan ketersediaan transportasi yang dimiliki oleh mahasiswa kos .Mahasiswa kos di sini berasal dari beragam daerah di Provinsi Sumatera Barat Seperti: Solok Selatan, Sijunjung, Dharmasraya, Mentawai, Pesisir Selatan, Pasaman, Solok, dan masih banyak lagi daerah lainnya, bahkan juga ada yang berasal dari luar provinsi seperti: Riau, Jambi, Bengkulu dan lain sebagainya.

Perbedaan daerah asal dan termasuk di dalamnya merujuk kepada perbedaan budaya masing-masing daerah asal mahasiswa kos tentu akan sangat berpengaruh terhadap cara bertindak dan berperilaku mahasiswa kos itu sendiri dalam berhubungan sosial dengan masyarakat setempat yang juga memiliki latar belakang yang berbeda.

(4)

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi strategi adaptasi sosial mahasiswa kos dengan masyarakat setempat di Kelurahan Gunung Pangilun, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang.

Penelitian relevan dilakukan oleh Anggraini (2011), dengan judul

“Strategi Adaptasi Orang Nias (Studi Etnosains Pada Orang Nias di Korong Tanjung Basung II Nagari Sungai Buluh, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman”. Tujuan penelitiannya yaitu mengidentifikasi strategi adaptasi orang Nias (studi etnosains pada orang Nias di Korong Tanjung Basung II Nagari Sungai Buluh, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa kelompok etnis nias sebagai pendatang cenderung harus mengikuti aturan main (kebudayaan dominan) yang ada atau berlaku pada masyarakat setempat yaitunya orang Minangkabau.

Penelitian serupa juga pernah diteliti oleh Pratiwi (2011) dengan judul “Adaptasi Waria Dengan Masyarakat Kota Pariaman (Studi Kasus Waria Pekerja Salon di Pasar Pariaman)”. Tujuan penelitiannya yaitu untuk mengetahui bagaimana adaptasi waria dengan masyarakat Kota Pariaman (studi kasus waria pekerja salon di pasar Pariaman). Hasil penelitiannya adalah waria di sini beradaptasi dengan masyarakat

dengan cara mengikuti kegiatan-kegiatan masyarakat, seperti: PKK, Arisan dan Musyawarah. Waria juga mengajarkan keterampilan dalam bidang tata rias salon dan make up pengantin kepada masyarakat yang ingin memiliki keterampilan tersebut.

Penelitian yang peneliti teliti ini memiliki beberapa perbedaan dengan penelitian sebelumnya terutama tentang objek penelitiannya. Di dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan kajian secara lebih mendalam terhadap bagaimana strategi mahasiswa kos di lingkungan masyarakat Kelurahan Gunung Pangilun, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang dalam beradaptasi dengan masyarakat setempat, serta semua dinamika hubungan sosial yang terjadi. Mahasiswa kos di sini peneliti lihat sebagai manusia yang memiliki karakter unik dan memiliki latar belakang budaya yang sangat beragam sehingga hal tersebut tentu akan sangat mempengaruhi cara pandang atau ide dari setiap mahasiswa kos dalam melakukan hubungan sosial dengan masyarakat setempat, khususnya yang berkaitan dengan strategi beradaptasi mahasiswa kos tersebut dengan lingkungan masyarakat setempat.

JENIS DATA DAN METODE

Penelitian ini mulai dilakukan sejak tanggal 1 September sampai 6 Oktober 2013.

Tempat penelitian ini, di Kelurahan Gunung

(5)

Pangilun, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif.

Penelitian kualitatif menurut Keirl dan Miller dalam Moleong adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia, kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya.

Adapun jenis atau tipe penelitian ini adalah penelitian studi kasus (Case Study). Arikunto (1986) mengemukakan bahwa penelitian studi kasus adalah penelitian yang dilakukan secara intensif, terperinci dan mendalam terhadap suatu organisme (individu), lembaga atau gejala tertentu dengan daerah atau subjek yang sempit.

Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah: data yang diperoleh dari sumber data atau tangan pertama di lapangan. Dalam penelitian ini pengumpulan data primer adalah melalui key informan dan informan di lapangan (Kriyantono, 2006: 43). Data sekunder adalah: data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara atau dihasilkan pihak lain (Ruslan, 2003: 138). Teknik pengumpulan

data dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara. Model analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis data Miles dan Huberman.

HASIL PENELITIAN

1. Mematuhi Aturan Tata-Tertib Anak Kos

Suatu masyarakat memiliki nilai dan norma yang berbeda dengan masyarakat lain, hal ini terjadi karena nilai dan norma merupakan kesepakatan bersama yang dibuat oleh masyarakat itu sendiri untuk mewujudkan apa yang mereka cita-citakan dan harapkan di dalam masyarakat tersebut.

Mahasiswa kos sebagai pendatang di lingkungan masyarakat setempat dihadapkan secara langsung dengan aturan-aturan yang dimiliki oleh masyarakat setempat dan tentu aturan-aturan tersebut sebagian merupakan hal baru bagi mahasiswa kos dan berbeda dengan aturan-aturan yang ada di lingkungan mereka sebelumnya. Untuk dapat beradaptasi dengan masyarakat, mahasiswa kos harus mengikuti aturan-aturan yang ada di masyarakat setempat dan menjaga sikap serta tingkah laku agar tidak keluar dari nilai dan norma yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Ketika ada mahasiswa yang melanggar aturan-aturan yang ada di masyarakat setempat, tentu hal ini merupakan bentuk pelanggaran yang akan

(6)

membuat masyarakat memberikan hukuman (punishment) kepada mahasiswa tersebut, bentuk hukuman ini bisa berupa gunjingan, teguran bahkan pengucilan. Jika hal ini terjadi maka proses adaptasi sosial mahasiswa kos dengan masyarakat setempat akan mengalami hambatan, lebih lanjut mahasiswa kos tidak akan mampu bertahan lama untuk tinggal di lingkungan masyarakat setempat. Aturan yang dominan diikuti oleh mahasiswa kos di Kelurahan Gunung Pangilun, Kecamatan Padang Utara ini ialah merujuk kepada tata-tertib anak kos yang disepakati oleh warga secara bersama dengan pemerintahan setempat yang berisi aturan- aturan mengenai tata tertib mahasiswa kos di lingkungan masyarakat setempat.

2. Bertegur Sapa dengan Masyarakat Setempat

Ketika seseorang berada di lingkungan sosial baru, hal pertama yang biasanya ia pikirkan ialah bagaimana cara mengenal orang-orang di sekitarnya, kemudian juga dibarengi dengan keinginan untuk berteman dan bergaul serta berkumpul bersama. Meskipun di sisi lain juga tidak dapat dipungkiri bahwa pada beberapa orang juga bisa kita temukan kondisi dimana mereka yang tidak terlalu memikirkan hal tersebut, akan tetapi hal ini secara naluriah selalu ada di dalam diri seseorang walau seorang pribadi penyendiri sekalipun.

Mahasiswa kos sebagai pendatang di lingkungan masyarakat setempat, ia

dihadapkan kepada kondisi lingkungan sosial yang baru, orang-orang yang belum ia kenal, masyarakat yang belum ia kenal, bahkan teman satu kamar kos yang belum ia kenal.

Kondisi ini tentu tidak bisa dibiarkan berlangsung lebih lama karena setiap hari mereka akan berada dalam satu lingkungan yang sama, saling bertemu, saling membutuhkan dan oleh sebab itu tentu harus dimulai dengan saling mengenal satu sama lain.

Bertegur sapa dilakukan oleh mahasiswa kos dimulai dari lingkungan terkecil seperti lingkungan kamar kos-kosan dengan teman-teman baru satu kamar, lingkungan tempat kos-kosan dengan teman- teman satu tempat kos hingga lingkungan lebih luas adalah lingkungan masyarakat sekitar. Dibandingkan dengan lingkungan tempat kos, lingkungan masyarakat merupakan hal yang tidak begitu mudah dalam bertegur sapa bagi mahasiswa kos.

Jika di lingkungan tempat kos mahasiswa bisa bertegur sapa dengan saling berkenalan lebih intim, berbincang-bincang hingga persoalan pribadi, hingga bercanda gurau, dan dapat bertemu lebih sering, namun bertegur sapa dengan masyarakat adalah hal yang berbeda karena lingkungannya yang cukup luas untuk melakukan hubungan sosial lebih dekat, bahkan bertemu pun pada batas- batas waktu dan kondisi tertentu, misalnya:

bertemu di jalan, di warung, di tempat ronda,

(7)

di acara tertentu, hal ini tentu bukanlah keadaan yang sukup mudah untuk mengakrabkan diri dengan masyarakat setempat.

Melihat situasi ini, untuk bertegur sapa dengan masyarakat setempat mahasiswa kos berusaha mengenal dan mendekatkan diri yang salah satu caranya ialah dengan bertegur sapa ketika bertemu masyarakat dimanapun mereka bertemu. Strategi adaptasi sosial ini setidaknya akan memunculkan rasa saling menghormati dan menghargai antara mahasiswa kos dan masyarakat setempat, lebih lanjut hubungan sosial singkat tersebut melalui prosesnya masing-masing memungkinkan untuk bisa berkembang menjadi hubungan sosial yang lebih dekat antara mahasiswa kos dengan masyarakat setempat.

3. Mengikuti Kegiatan Masyarakat

Berada di lingkungan sosial yang baru memang beberapa hal akan terasa berbeda bagi mahasiswa kos, hal ini juga berkaitan dengan beberapa kegiatan-kegiatan atau budaya baru yang akan kita temui di lingkungan masyarakat setempat, baik yang sudah pernah atau belum pernah dilakukan sebelumnya. Apa yang akan terjadi jika seseorang yang berada di suatu lingkungan sosial baru dan tidak mau tau dengan budaya atau kegiatan-kegiatan masyarakat setempat?

Mungkin saja ia akan dikucilkan bahkan dimusuhi oleh masyarakat. Sebuah

masyarakat memiliki cara tersendiri untuk mengatur dan mengakrabkan anggota masyarakatnya yang salah satunya melalui kegiatan-kegiatan tertentu yang bertujuan agar terciptanya kebersaman atau paling tidak sekedar sebagai momen untuk berkumpul bersama. Misalnya saja melalui kegiatan pengajian, perlombaan, pertemuan antara pemilik kos dengan anak kos, dan hal klasik seperti gotong royong bersama.

Ternyata hal ini cukup dipahami oleh mahasiswa kos bahwa melalui kegiatan- kegiatan yang diadakan oleh masyarakat sebisa mungkin mereka ikuti dan berpartisipasi di dalamnya.

4. Bergaul dengan Tokoh Masyarakat Beberapa mahasiswa kos juga melakukan pendekatan yang cukup klasik untuk beradaptasi dengan masyarakat setempat yaitunya dengan bergaul atau melakukan pendekatan dengan tokoh (orang yang memiliki pengaruh) di masyarakat. Hal ini dilakukan dengan bermacam-macam cara oleh mahasiswa kos seperti: nongkrong bersama tokoh pemuda di warung, bertamu ke rumah “tokoh agama, adat, pemerintah, dan lainnya”.

Seperti kegiatan nongkrong yang dilakukan bersama tokoh pemuda di warung, pos ronda dan juga di tempat-tempat nongkrong lainnya. Kegiatan nongkrong ini diisi dengan berbagai aktivitas seperti bergitar-gitar, main catur, merokok dan juga

(8)

ada yang hanya sekedar ngobrol-ngobrol santai daripada tidak ada kegiatan.

Kemudian beberapa mahasiswa kos juga ada yang secara sengaja datang ke rumah tokoh masyarakat untuk mendiskusikan beberapa hal, masalah atau hanya sekedar ngobrol- ngobrol santai mengisi waktu, hal ini karena beberapa mahasiswa kos memang ada yang sudah menganggap beberapa tokoh masyarakat sebagai orang tua atau keluarga mereka di perantauan.

5. Menggunakan Bahasa Masyarakat Setempat

Bangsa Indonesia terkenal dengan masyarakat yang memiliki banyak budaya (multikultural), yang salah satunya ialah memiliki beragam bahasa. Banyak daerah di Indonesia memiliki karakter bahasa yang berbeda pula yang salah satunya ialah di masyarakat Kelurahan Gunung pangilun sebagai bagian dari wilayah Minangkabau dan Kota Padang Khususnya.

Mahasiswa kos yang berasal dari berbagai daerah juga memiliki karakter bahasa yang berbeda-beda dan begitu pula masyarakat Kelurahan Gunung Pangilun yang secara umum menggunakan bahasa Padang. Untuk dapat beradaptasi dengan masyarakat di sini mahasiswa kos yang memiliki beragam karakter bahasa pada umumnya atau lambat laun akan menggunakan bahasa yang digunakan oleh masyarakat setempat dalam bergaul dengan

masyarakat setempat. Walaupun beberapa mahasiswa kos memang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan bahasa masyarakat setempat, akan tetapi tidak jarang pula mahasiswa kos cepat beradaptasi dengan bahasa masyarakat setempat, hal ini karena secara umum mahasiswa kos di sini masih berasal dari daerah-daerah di Sumatera Barat yang meskipun berbeda bahasa, namun memiliki karakter bahasa yang tidak terlalu berbeda secara signifikan.

Seperti bahasa mahasiswa Solok Selatan kemana disebut dengan “kamano”dan di sini disebut “kama”. Tak hanya sampai di situ saja, bagi masyarakat Indonesia, bahasa Padang juga sudah memiliki karakter sendiri dan sudah cukup dikenal sehingga akan membantu mahasiswa kos dalam mempelajari bahasa Padang itu sendiri.

Penggunaan bahasa tentu akan mempengaruhi hubungan sosial antara mahasiswa kos dengan masyarakat setempat, karena dalam bergaul faktor bahasa merupakan salah satu faktor penentu berlangsung baik atau tidaknya komunikasi antara mahasiswa kos dengan masyarakat setempat. Melalui bahasa, mahasiswa kos dan masyarakat setempat dapat berkomunikasi, menyalurkan keinginan, harapan dan saling memberikan pengertian satu sama lain. Ketika bahasa yang digunakan tidak dapat saling dimengerti,

(9)

tentu hubungan sosial juga akan terganggu dan tidak akan berlangsung dengan baik.

KESIMPULAN

1. Mematuhi Aturan Tata-Tertib Anak Kos

Mengikuti aturan tata-tertip anak kos sebagai landasan berperilaku, berarti mahasiswa kos sudah mengurangi hambatan dalam beradaptasi dengan masyarakat setempat sehingga akan tercipta keseimbangan sosial antara harapan-harapan masyarakat dengan apa yang ditampilkan oleh mahasiswa kos di dalam kehidupan sosial masyarakat tersebut.

2. Bertegur Sapa dengan Masyarakat Setempat

Dengan bertegur sapa ketika mahasiswa kos bertemu dengan masyarakat dimana pun mereka bertemu setidaknya akan memunculkan rasa saling menghormati dan menghargai antara mahasiswa kos dan masyarakat setempat, lebih lanjut hubungan sosial singkat tersebut melalui prosesnya masing-masing memungkinkan untuk bisa berkembang menjadi hubungan sosial yang lebih dekat antara mahasiswa kos dengan masyarakat setempat.

3. Mengikuti Kegiatan Masyarakat Sebuah masyarakat memiliki cara tersendiri untuk mengatur dan mengakrabkan

anggota masyarakatnya yang salah satunya melalui kegiatan-kegiatan tertentu yang bertujuan agar terciptanya kebersaman atau paling tidak sekedar sebagai momen untuk berkumpul bersama. Melalui kegiatan bersama masyarakat ini, mahasiswa kos bisa bergaul dan mendekatkan diri dengan masyarakat setempat.

4. Bergaul dengan Tokoh Masyarakat Mahasiswa kos menyadari bahwa dengan bergaul dengan tokoh masyarakat yang tentunya memiliki pengaruh di tengah masyarakat maka secara tidak langsung mahasiswa kos akan terbantu dalam beradaptasi dengan lingkungan masyarakat setempat.

5. Menggunakan Bahasa Masyarakat Setempat

Mahasiswa kos menyadari bahwa dengan menggunakan bahasa masyarakat setempat, mahasiswa kos dapat berkomunikasi, menyalurkan keinginan, harapan dan saling memberikan pengertian dengan masyarakat setempat. Ketika bahasa yang digunakan tidak dapat saling dimengerti, tentu hubungan sosial juga akan terganggu dan tidak akan berlangsung dengan baik, bahkan bisa jadi akan menimbulkan kesalahpahaman di antara mahasiswa kos dengan masyarakat setempat.

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Afrizal. 2008. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif: Dari Pengertian Sampai Penulisan Laporan. Unand: Laboratorium Sosiologi FISIP Unand

Jauhari, Heri. 2010. Panduan Penulisan Skripsi dan Aplikasi. Bandung:

Pustaka Setia

Johnson, Doyle Paul.1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern Jilid1. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama:

Diterjemahkan Dari Sosiological Theory: Classical Founders And Contemporary Perspectives Oleh Robert M.Z Lawang

Moleong, Lexi J. 2000. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya

Muin, Idianto. 2006. Sosiologi SMA/MA.

Jakarta: Erlangga

Pelly, Usman. 1994. Urbanisasi dan Adaptasi: Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing.

Jakarta : LP3S

Ritzer, George.2012. Teori Sosiologi Edisi Kedelapan: Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern.Yogyakarta: Pustaka Pelajar: Diterjemahkan Dari Eight Edition Sociological Theory Skripsi:

Anggraini, Reni. 2011. “Strategi Adaptasi Orang Nias (Studi Etnosains Pada Orang Nias di Korong Tanjung Basung II Nagari Sungai Buluh, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman”.

Skripsi: Jurusan Sosiologi UNP Pratiwi, Rika Dita. 2011. “Adaptasi Waria

dengan Masyarakat Kota Pariaman (Studi Kasus Waria Pekerja Salon di Pasar Pariaman)”. Skripsi:

Jurusan Sosiologi UNP

Ridoan, MHD. 2012. “Persepsi Masyarakat Tentang Perubahan Kebudayaan di Kampung Bangun Raya Jorong Sentosa Nagari Padang Gelugur Kabupaten Pasaman”. Skripsi:

STKIP PGRI Sumbar Sumber Lain:

(http://supariarta.blogspot.com/2012/05/studi -rumah-kos-sebagai-

permukiman.html) diakses jari Jumat, 10 Januari 2014, pukul 11.28 WIB

(http://rubrikbahasa.wordpress.com/2011/04/

06/kos-kontrak-sewa/) diakses hari Rabu, 16 Januari 2013, Pukul 15:32 WIB

Referensi

Dokumen terkait

In this way, some conclusions can be taken from the study: • The ship had its trajectory deflect to starboard due to East winds, showing that wind has an influence on the ship behavior