• Tidak ada hasil yang ditemukan

pendahuluan - Jurnal Ilmiah Mahasiswa STKIP PGRI Sumbar

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "pendahuluan - Jurnal Ilmiah Mahasiswa STKIP PGRI Sumbar"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

(2)

2

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kerinci merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jambi.Sebagai salah satu Kabupaten di Provinsi Jambi, daerah Kerinci memiliki berbagai macam kesenian yang perlu mendapat perhatian terus menerus sesuai dengan perkembangan dan kemajuan pembangunan, terutama dalam menghadapi era globalisasi saat ini. Kesenian tradisional harus dilestarikan, salah satu cara untuk melestarikanya yaitu dengan cara melakukan penelitian, pendokumentasian, dan pembinaan pewarisan demi kelangsungan hidupnya di tengah- tengah masyarakat.

Kerinci kaya dengan seni dan budaya, itu terbukti dari banyaknya kesenian-kesenian tradisional khas Kabupaten Kerinci, hampir disetiap desa dan kecamatan di Kabupaten Kerinci semuanya memiliki kesenian daerah masing- masing. Kesenian-kesenian yang ada di Kerinci yaitu seperti Tari Ranggouk,1 Tari Marcok,2 Sike Rebana,3 Tari Niti Naik Mahligai4, Asyeik,5Seruling Bambu6 dan masih banyak lagi

1 Tari Ranggouk adalah tarian adat daerah Kerinci. Kata Ranggouk adalah bahasa daerah Kerinci, berasal dari dua suku kata, yaitu rang yang berarti orang dan gouk yang berarti mengangguk. Ranggouk sama artinya sama dengan orang yang mengangguk.

2Tari Marcok berarti melicak atau mericak adalah puncak dari upacar tradisional masyarakat Kerinci yang dinamakan Asyeik.Upacara ini bertujuan untuk acara pengobatan, tolak bala, melepas niat dan syukuran.Tarian marcok ini merupakan tarian yang memperlihatkan kesatuan antara kehidupan lahir dan batin manusia untuk menyampaikan niatnya terhadap sesuatu maksud di dalam kehidupan.

3Sike Rebana (Zikir Rebana) adalah kesenian musik tradisional Kabupaten Kerinci yang tergolong dalam bentuk musik rakyat yang bernafaskan Islam, perpaduan dua macam seni musik dan suara yang berakar dari irama padang pasir Timur Tengah dengan lantunan vokalnya bertemakan memuja dan memuji Nabi besar Muhammad SAW, Syair dan lagunya dikemas dengan irama Kerinci yang dikutip darikitab Al- Barzanji dan lagu-lagu Arab lainnya. Sesuai dengan dialek Kerinci, Zikir rebana disebut Sike.

4Tari NitiNaik Mahligai adalah tarian yang dilakukan secara khusuk untuk mencapai sebuah tujuan yaitu memperoleh tahta atau istana.

5Asyeik berasal dari bahasa Arab yang berarti indah.Dalam bahasa Indonesia berarti sibuk.Asyeik ini merupakan gabunagn antara tarian dan nyanyian, acara ini merupakan acara persembahan untuk memanggil roh nenek moyang dengan bernyanyi dan menari.Upacara ini diadakan selama satu minggu dan berfungsi agar

kesenian-kesenian yang ada di Kabupaten Kerinci.7 Kesenian-kesenian ini biasanya ditampilkan apabila ada acara-acara adat, seperti Kenduri Sko8 dan menyambut kedatangan tamu kehormatan atau dalam bahasa Kerincinya nyambut mendah.

Adapun kesenian tradisional yang masih ada dan dipertunjukkan oleh masyarakat adalah kesenian Sike Rebana. Sike Rebana (Zikir Rebana) adalah kesenian musik tradisional Kabupaten Kerinci yang tergolong dalam bentuk musik rakyat yang bernafaskan Islam, perpaduan dua macam seni musik dan suara yang berakar dari irama padang pasir Timur Tengah dengan lantunan vokalnya bertemakan memuja dan sanjungan kepada Nabi Muhammad SAW, syair dan lagunya dikemas dengan irama bahasa daerah Kerinci yang dikutip dari kitab Al-Barzanji dan lagu-lagu Arab lainnya. Sesuai dengan dialek Kerinci, Zikir rebana disebut Sike.Berkembangnya Sike Rebana ini di daerah Kerinci karena berkembangnya agama Islam di Kerinci.Masuknya pengaruh Islam di Kerinci pada abad ke-13 M.9 Kesenian Sike Rebana berfungsi sebagai wadah dakwah Islamiah dan juga sebagai sarana hiburan serta pesan penyemangat.10

Kesenian Sike Rebana Kabupaten Kerinci juga sudah banyak ditampilkan diluar daerah dalam berbagai acara dan dilombakan baik itu tingkat nasional sampai tingkat Internasional. Adapun acara yang pernah diikuti oleh kesenian Sike Rebana ialah sebagai berikut:

1. Acara Pawai Pertukaran Pemuda Indonesia di Mesjid Kemantan Darat pada tahun 1986.11

2. Perlombaan kesenian Sike Rebana di Gedung Nasioal Sungai Penuh tahun 1987.12

keinginandan niat terkabul serta untuk menyembuhkan penyakit.

6Seruling Bambu adalah bentuk musik tradisional Kerinci yang dimainkan secara berkelompok, yang alat musiknya adalah seruling yang terbuat dari bambu.

7Zahakir Haris dan Syafriadi, Bumi Sakti Alam Kerinci Sekepal Tanah Surga,(Bandung, 2005), hal. 50.

8Kenduri adalah perhelatan sedangkan Sko adalah perbuatan atau peraturan yang berlaku turun temurun. Perbuatan disini adalah yang telah sesuai dengan adat dan kebiasaan.

9 Iskandar Zakaria, Tambo sakti Alam Kerinci Jilid 3, (Sungai Penuh, 1985),hal. 79.

10Arsip, Nasir M., Sinopsis Zikir Rebana (Sike), (Kecamatan Air Hangat : Penilik Kebudayaan, 1995).

11Wawancara dengan Nasir. M di Kemantan Kebalai, Kamis, 18 Juni 2015.

12Wawancara dengan Pelsi di Siulak Kecil, Jumat, 10 Juli 2015.

(3)

3

3. MTQ Kabupaten Kerinci di Mesjid Siulak Deras Kecamatan Gunung Kerinci tahun 1989.13

4. Acara ABRI Masuk Desa di Koto Aro Kecamatan Gunung Kerinci tahun 1990.14 5. MTQ tingkat Provinsi Jambi tahun 1991.15 6. Pekan Pesona Budaya Jambi ke II tahun

1993.16

7. Lomba BINTER Tingkat Nasional di Koramil 41702 Gunung Kerinci tahun 1993.17

8. Festival Zikir Rebana di Graha Bhakti Budaya TIM, Jakarta tahun 1993.18 9. Pekan Pesona Budaya Jambi tahun 1994.

10. Festival Zikir Rebana di Taman Ismail Marzuki (TIM) tahun 1994.

11. MTQ Nasional XVIII di Jambi tahun 1997.

12. Pasar Tontonan Jakarta (PASTOJAK) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) tahun 1997.19

13. Pekan Seni Ipoh di Perak, Malaysia tahun 1997.20

14. Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci (FMPDK) yang Pertama tahun 1999.21 15. Festival Walisongo di Surabaya tahun

1999.22

16. Pekan Seni Pertunjukan Tradisional Jambi tahun 2000.23

17. MTQ ke-30 tingkat Provinsi Jambi di Sungai Penuh Kerinci tahun 2000.24

13Wawancara dengan Pelsi di Siulak Kecil, Jumat, 10 Juli 2015.

14Wawancara dengan Yuda di Siulak Kecil, Jumat, 10 Juli 2015.

15Jambi Independent, Soepriadi “Menabuh Sike Mendulang Harapan” Kamis, 09 Oktober 1997, hal. 11.

16Jambi Independent, Afrizal Dkk “Tarian Sike dari Kerinci Memukau Para Penonton” Jumat, 8 Januari 1993, hal. 03.

17Tropi kesenian Sike Rebana tahun 1993.

18Republika, Ridwan Efendi “Festival Zikir Rebana: Suguhan yang tak sekadar Hiburan”

Rabu, 22 Desember 1993, hal. 12.

19 Tom Ibnur, Sike Sakti Alam Kerinci, (Jakarta :Pusat Olah Seni Tari Indonesia, 1997), hal. 03.

20 Tom Ibnur, Pekan Seni Ipoh,(Kerinci : Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata Kerinci, 1997),hal. 01.

21Jambi Ekspres, Jonianto “Oktober 1999, Pemerintah Daerah Kerinci Gelar Festival Danau”Minggu, 08 Agustus 1999,hal. 14.

22Wawancaradengan Alimin Depati. Di Sungai Penuh, Selasa, 30 Juni 2015.

23 Tom Ibnur, Pekan Seni Pertunjukkan Tradisional,(Jambi : PT. Panca Jaya Utama, 2000),hal. 01.

18. The Arts Festival Kick di Singapura tahun 2001.

19. Acara Pergelaran Seni Budaya di Kabupaten Merangin tahun 2006.25 20. Pesta Gendang Nusantara dan Jemputan

Antara Bangsa XIV di Majlis Bandaraya Melaka Bersejarah, Malaysia, tahun 2011.26

21. Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci (FMPDK) ke-9 di Kerinci.27

Berdasarkan latar belakang yang telah di ungkapkan di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti tentang kesenian Sike Rebana yang berjudul “Perkembangan Kesenian Sike Rebana Di Kerinci (1980-2011).”

B. Batasan dan Rumusan Masalah 1. Batasan Masalah

Penelitian ini memfokuskan pada perkembangan Kesenian Sike Rebana di Kerinci.Batasan spatial (tempat) adalah Kerinci.Sementara batasan temporal (waktu) adalah dari tahun 1980-2011.

Tahun 1980 dijadikan tahun awal karena mulai tahun 1980 kaum wanita mulai mencoba-coba belajar Sike Rebana yang didasarkan atas ide Nasir. M. Sedangkan batasan waktu akhirnya 2011, karena pada tahun 2011 ini kesenian Sike Rebana masih berkembang di tingkat Internasional dan membuat masyarakat Kerinci merasa lebih bangga, sehingga kesenian Sike Rebana ini berkembang hampir di setiap desa-desa di Kerinci.

2. Rumusan Masalah

a. Bagaimana sejarah kesenian Sike Rebana di Kerinci?

b. Bagaimana perkembangan kesenian Sike Rebana di Kerinci tahun 1980- 2011?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan

a. Mendeskripsikan sejarah kesenian Sike Rebana di Kerinci.

b. Mendeskripsikan perkembangan kesenian Sike Rebana di Kerinci tahun 1980-2011.

24Jambi Independent, Asy“Gubernur Buka MTQ “Milenium” ke-30” Selasa, 04 Juli 2000, hal.

346.

25 Arsip Dokumen Iskandar Zakaria, Sungai Penuh tahun 2006.

26Arsip Penghargaan Kesenian Sike Rebana tahun 2011.

27Wawancara dengan Irfalina S.Pd di Siulak Panjang, Sabtu, 20 Juni 2015.

(4)

4

2. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:

a. Manfaat Akademis:

1) Bagi mahasiswa, diharapakan dapat memberikan informasi kepada mahasiswa secara umum dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah khusunya tentang Kesenian Sike Rebana Kerinci.

2) Bagi penulis/peneliti, dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan memperluas wawasan berpikir peneliti dalam ilmu sejarah dan dalam penggunaan Kesenian Sike Rebana Kerinci khususnya.

3) Bagi ilmu sejarah, sebagai data- data baru, menambah informasi baru.

b. Manfaat Praktis:

1) Bagi masyarakat, untuk ikut menjaga dan melestarikan Kesenian Sike Rebana yang menjadi kesenian khas dan jati diri kebudayaan Kerinci agar tidak hilang dari Kerinci yang menjadi tempat kelahiran kesenian Sike Rebana.

2) Bagi pemerintah Kerinci, penelitian ini diharapakan agar pemerintah lebih memahami,

memperhatikan, dan

melestarikan kesenian Sike Rebana Kerinci.

3) Bagi lembaga, sebagai bahan masukan bagi lembaga adat, Pariwisata dan Budaya Kerinci.

D. Tinjauan Pustaka

1. Kerangka Konseptual

Penelitian ini termasuk ke dalam Sejarah Budaya.Konsep-konsep kunci yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kebudayaan. Di dalam kebudayaan terdapat tujuh unsur kebudayaan secara Universal yakni: bahasa, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, organisasi sosial, sistem pengetahuan, religi dan kesenian.

Dari tujuh unsur kebudayaan ini, memberikan bukti bahwa dalam ruang lingkup kebudayaan sangat konkrit.Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi,28 kebudayaan adalahhasil karya, rasa dan cipta manusia.

28 Sarjono, Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2013), Halm. 149.

Menurut Edwar Burnett Tylor,29 kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Sike rebana merupakan musik yang disajikan dengan menggunakan alat musik dan vokal, Alat musik yang digunakan adalah rebana besar.Lagu-lagu musik Sike Rebana ada yang berbahasa Arab dan ada yang berbahasa Kerinci.Isi dari pada lagu-lagu Sikeyaitu pujian- pujian kepada Nabi Muhammad SAW.30Sike ini dilagukan secara bersama- sama, baik oleh wanita saja maupun oleh laki-laki saja dan kadang-kadang juga oleh wanita dan laki-laki bernyanyi bersama- sama.31

2. Studi Relevan

Beberapa karya yang relevan dalam penelitian ini adalah karya-karya berkisar tentang kesenian tradisional.Pertama yaitu Elvin Martius. 2013. (Universitas Negeri Padang). Jurusan Sendratasik.

Analisis Bentuk Musik Sike Garapan Sanggar Melati Desa Kemantan Kebalai Kecamatan Air Hangat Timur Kabupaten Kerinci.Kedua yaitu Pebriko Herzen.

2015. (Universitas Negeri Padang).

Jurusan Sendratasik. Studi Estetika Kesenian Sike Rebana Dalam Acara Pesta Perkawinan Masyarakat Desa Koto Rendah Kecamatan Siulak Kabupaten Kerinci.Ketiga yaitu Dafrianto. 2014.

(STKIP PGRI Sumatera Barat).

Pendidikan Sejarah. Eksistensi Grup Randai Sinar Tampalo Nagari Padang Laweh Kabupaten Sijunjung (2002- 2013).

METODE PENELITIAN

Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti merupakan penelitian Sejarah. Ada beberapa tahap dalam penulisan, yaitu Heuristik,

29 Sarjono, Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2013), hal.

150.

30Syaiful, Hayatunnufus,Proses Pewarisan Tale Haji dalam Masyarakat Desa Koto Majidin Kecamatan Air Hangat Kabupaten Kerinci (E- Jurnal, Padang : UNP, 2013), hal. 2.

31 Iskandar, Zakaria, Tambo Sakti Alam Kerinci Jilid 2, (Sungai Penuh, 1984), hal. 62.

(5)

5

kritik sumber, interpretasi dan penulisan karya ilmiah atau skripsi (historiografi).32

Tahap pertama, heuristik.Kata heuristik berasal dari kata “heuriskein” dalam bahasa Yunani berarti mencari atau menemukan. Dalam bahasa latin“ars inveniendi” “seni mencari”.33Heuristik merupakan tahap pengumpulan data untuk mendapatkan berbagai sumber primer maupun sekunder.Data primer (Primary sources) yaitu data yang diperoleh melalui pengamatan langsung ke lokasi tempat Kesenian Sike Rebana dilakukan serta wawancara mendalam.Sedangkan data sekunder (secondary sources) adalah data yang didapat dari studi literatur.Sumber data sekunder disampaikan bukan oleh orang yang menyaksikan atau partisipan suatu peristiwa sejarah.34

Untuk mengumpulkan data peneliti juga melakukan studi kepustakaan, yang dilakukan di perpustakaan UNP, perpustakaan STKIP PGRI Sumatera Barat, ruang baca prodi sejarah, perpustakaan Sendratasik UNP, Arsip pribadi Nasir. M di Kemantan Kebalai Kabupaten Kerinci, Balai Perpustakaan Daerah Kabupaten Kerinci, Dinas Olahraga Pariwisata Dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci, Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata Kerinci dan artikel.

Tahap kedua, kritik sumber, bukti-bukti sejarah adalah kumpulan fakta-fakta atau informasi-informasi sejarah yang sudah diuji kebenarannya melalui proses validasi yang dalam ilmu sejarah disebut Kritik Sumber.35Ada dua jenis kritik sumber yaitu kritik internal dan kritik eskternal yaitu penulis melakukan pengujian terhadap keaslian dan keabsahan data. Data yang telah diperoleh diuji keabsahannya dengan cara, pertanyaan wawancara tersebut dipertanyakan kembali di hari yang berbeda. Kritik eksternal ingin menguji otentisitas (keaslian) suatu sumber, agar diperoleh sumber yang sungguh-sungguh asli dan bukan tiruan atau palsu, sedangkan kritik internal menguji lebih jauh lagi mengenai isi dokumen.Apakah isi informasi yang terkandung dalam suatu dokumen benar dan dapat dipercaya, kredibel, dan reliebel.36

Tahap ketiga, interpretasi yang berarti menafsirkan atau memberikan makna kepada fakta- fakta (facts) atau bukti-bukti sejarah (evidences).37Interpretasi melakukan analisis dan interpretasi atau penafsiran kembali terhadap data yang telah didapatkan.Data yang diperoleh

32Gottschashlk, Louis, Mengerti Sejarah, (Jakarta : UI Press, 2010), hal. 35.

33 Daliman A, Metode Penelitian Sejarah, (Yogyakarta :Ombak, 2010), hal. 52.

34Ibid, hal. 55.

35Ibid, hal.66.

36Ibid, hal.72.

37Ibid, hal.81.

dilakukan pemilahan dan seleksi yang dianggap relevan dengan kajian dan dapat dipercaya kebenarannya.

Tahap keempat, yaitu Historiografi yakni penyajian data dan hasil penelitian dalam bentuk tulisan ilmiah atau skripsi.38

PEMBAHASAN :

A. Latar Belakang Kesenian Sike Rebana di Kerinci

1. Islam di Kerinci

Penyebaran agama Islam umumnya datang dari arah barat, yaitu dari Minangkabau, dari Inderapura dan Muara Labuh. Masuk pada abad ke-13 M.

Bukti-bukti yang menyatakan bahwa agama Islam datang dari daerah tersebut adalah karena para pengembangnya berasal dari daerah tersebut, dan umumnya pangkal nama mereka diberi nama “siak”, sebab pada umumnya para orang alim atau para ulama disebut orang siak.39

Ada tujuh orang pengembang agama Islam yang terkenal di Kerinci, yaitu: Siak Jelir, di Koto Jelir – Siulak (Kecamatan Gunung Kerinci), Siak Rajo, di Sungai Medang (Kecamatan Air Hangat), Siak Ali, di Koto Beringin – Sungai Liuk (Kecamatan Sungai Penuh), Siak Langih, di Koto Panian – Sungai Penuh (Kecamatan Sungai Penuh), Siak Sati, di Koto Jelatang (Kecamatan Sitinjau Laut), Siak Baribut Sati, di Koto Merantih – Terutung (Kecamatan Gunung Raya) dan Siak Haji, di Lunang (daerah Inderapura).40

2. Tokoh-tokoh Penyebaran Islam di Kerinci

Berbicara tentang perkembangan Islam di Kerinci, tidak terlepas dari tokoh- tokoh atau ulama itu sendiri.tokoh yang menyebarkan agama secara keseluruhan adalah para ulama dari Kerinci itu sendiri, sepulangnya mereka belajar agama di Jawa dan Arab diantaranya yaitu:

a. Abdul Latif yang berasal dari Pulau Tengah.

b. Syekh Mukhtar Amabai berasal dari Ambai.

c. Syekh Haji Mohammad Sekin.

38 Mestika Zed, Metodologi Sejarah, (Padang : Universiats Negeri Padang, 1999),hal.

37-39.

39 Iskandar Zakaria, Tambo sakti Alam Kerinci Jilid 3, (Sungai Penuh, 1985), hal. 79.

40 Iskandar Zakaria, Tambo sakti Alam Kerinci Jilid 3, (Sungai Penuh, 1985), hal. 79.

(6)

6

3. Pengaruh Agama Islam di Kerinci a. Bangunan

Dalam perkembangan agama Islam di Kerinci, masyarakat Kerinci memiliki dua mesjid yang dianggap menjadi bukti atas peninggalan penyebaran agama Islam, yaitu mesjid Keramat Pulau Tengah, dan mesjid Agung Pondok Tinggi.

b. Kebudayaan

Penyebaran agama Islam di Kerinci juga dilaksanakan melalui kesenian.Adapun kesenian di Kabupaten Kerinci yang merupakan hasil dari pengaruh kebudayaan agama Islam adalah Sike Rebana, Tari Rangguk, Tale, dan Ratib Syaman.

B. Sejarah Kesenian Sike Rebana Sebelum Tahun 1980 di Kerinci

Sike Rebana berasal dari tanah Arab.Orang Kerinci yaitu H. Abdul Latif pergi ke Arab untuk belajar agama Islam, sehingga mereka juga belajar tentang Sike Rebana dengan Muhammad Syaman.Maka Abdul Latif mengajarkan Sike Rebana di Kerinci sebagai alat untuk berdakwah dan mengajarkan agama Islam kepada masyarakat Kerinci agar lebih menarik.Daerah yang pertama dikembangkan Sike Rebana ialah di Desa Pulau Tengah Kecamatan Keliling Danau pada abad ke-17 M.41

Kesenian Sike Rebana dari tahun 1720-1950 tujuannya untuk dakwah, khususnya untuk menarik generasi muda agar rajin beribadah yang diselenggarakan di mesjid, surau atau langgar dan rumah.42 Acaranya duduk bersila dan biasanya berlangsung sejak selesai sholat isya atau sekitar pukul 20.30 sampai subuh, sekitar pukul 03.30 WIB.43

Sike Rebana yang dimainkan oleh kaum laki-laki berfungsi sebagai kesenian agama untuk menarik generasi muda agar rajin beribadah, pesan penyemangat dan juga sebagai sarana hiburan untuk memeriahkan acara-acara keramaian atau perhelatan, misalnya perkawinan, khitanan dan lain- lainnya.

41Wawancaradengan Alimin Depati di Sungai Penuh, Selasa, 30 Juni 2015.

42Kompas, Nasrul Tahar “Rebana Sike Kerinci, dari Mesjid ke atas Pentas” Selasa, 22 Februari 1994, hal. 16.

43Kompas, Nasrul Tahar “Rebana Sike Kerinci, dari Mesjid ke atas Pentas” Selasa, 22 Februari 1994, hal. 16.

C. Latar Belakang Pergantian Pemain Pergantian pemain dari kaum laki- laki ke kaum wanita disebabkan karena Pertama, kesenian Sike Rebana yang dilakukan oleh kaum laki-laki monoton atau hanya dilakukan mesjid, surau atau langgar dan rumah saja, sehingga prestasinya tidak ada. Kedua, atas ide seorang penilik kebudayaan yaitu Nasir. M yang menginginkan Sike tetap berkembang di Kerinci, maka Sike Rebana diajarkan kepada kaum wanita.Ketiga, kaum wanita dianggap lebih menarik untuk menyajikan kesenian Sike Rebana. Sehingga hasilnya tampak jelas seperti bentuk tari yang bervariasi, berfungsi untuk berbagai acara dan yang paling utama kesenian Sike Rebana ini sangat berkembang pesat pada masa kaum wanita, seperti ditampilkan keluar daerah. Keempat, karena perkembangan zaman, jadi agar kesenian Sike Rebana ini tidak punah dan tetap berkembang dan dilestarikan maka dikembangkan kepada kaum wanita, yang merupakan salah satu kesenian tradisional khas Kabupaten Kerinci, walaupun tidak dimainkan oleh kaum laki-laki.44

D. Perkembangan Kesenian Sike Rebana Tahun 1980 – 2011 di Kerinci

Pertama kali kesenian Sike Rebana berkembang kepada kaum wanita ialah di daerah Sungai Penuh terutama Dusun Empih, Lima Lurah Sungai Penuh, Pondok Tinggi dan Dusun Baru, Sike Rebana dilakukan oleh kaum wanita.45

Pada tahun 1986, kesenian Sike Rebanasering ditampilkan dan menarik perhatian.Sehingga pemerintah Kabupaten Kerinci terutama di bidang kebudayaan mulai mengembangkan kesenian Sike Rebana ke kecamatan-kecamatan yang ada di Kabupaten Kerinci.

Perkembangan lagu yang digunakan dimulai tahun 1990.Lagu-lagu yang digunakan disesuaikan dengan acara yang dilaksanakan.Acara besar Islam, seperti Maulid Nabi, Isra’Mi’raj menggunakan lagu yang berbahasa Arab, seperti salawat. Acara penyambutan tamu kehormatan lagu yang digunakan ialah memuja-memuji tamu kehormatan tersebut dan mengucapkan selamat datang dengan tetap menggunakan

44Wawancara dengan Iskandar Zakaria, Alimin Depati, Nasir. M, Bahruddin di Kerinci.

2015.

45Jambi Independent, Supriadi “Menabuh Sike Mendulang Harapan” Kamis, 09 Oktober 1997, hal. 11.

(7)

7

irama yang sama tapi syairnya berbeda atau ditukar. Acara khitanan, sunat rasul, pesta pernikahan, turun mandi anak, aqiqah menggunakan lagu yang mendoakan orang yang mempunyai acara tersebut.Nyanyian Sike Rebana diolah dalam irama tale (nyanyian khas Kerinci).46

Tahun 1990, pakaiannya mulai berkembang. Kalau tampil di mesjid dalam acara hari besar Islam, maka pakaian yang digunakan ialah pakaian muslim. Sedangkan pakaian adat digunakan dalam acara menyabut tamu kehormatan.Untuk mengisi acara-acara kesenian baik dalam daerah Kerinci maupun ke luar daerah Kerinci menggunakan dua pakaian tersebut.47 Pakaian yang digunakan wanita dan laki-laki sama, bedanya terletak pada laki-laki menggunakan kopiah dan wanita menggunakan jilbab.

Fungsi kesenian Sike Rebana juga berkembang mulai tahun 1990. Fungsi kesenian Sike Rebana ialah mengisi acara hari besar Islam seperti Maulid Nabi dan Isra’

mi’raj, penyambutan tamu kehormatan, Kenduri Sko, Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci (FMPDK), acara hajatan atau sunat rasul, turun mandi anak, aqiqah, menaiki rumah baru, pesta pernikahan, serta hiburan setelah pengajian kelompok majlis taklim wanita setiap minggu.48

Pada tahun 1990 kesenian Sike Rebana tidak hanya dilaksanakan di mesjid, suaru atau langgar dan rumah, tetapi juga diselenggarakan di tempat yang terbuka seperti lapangan, gedung kesenian, serta tampil di atas pentas, pada saat kegiatan gotong royong.49

Pada tahun 1991, gerakan-gerakan yang digunakan dalam kesenian Sike Rebana juga ikut berkembang.Ada beberapa gerakan dalam kesenian Sike Rebana yang digunakan yaitu, Posisi duduk dengan gerakan kepala direbahkan ke kanan kemudian ke kiri sesuai dengan lantunan musik rebana, tangan kiri memegang rebana dan tangan kanan memukul rebana. Rebana tidak hanya diletakkan di atas paha, tetapi di angkat ke kanan, kiri, atas dan

46Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci, Pesona Budaya KerinciProvinsi Jambi Upacara Tradisional Batandang, (Sungai Penuh, 1996), hal. 27.

47Wawancara dengan Bahruddin di Desa Baru Siulak, Minggu, 14 Juni 2015.

48Wawancara dengan Bahtiar Anif di Siulak Mukai, Jumat 03 Juli 2015.

49Kompas, Nasrul Tahar “Rebana Sike Kerinci, dari Mesjid ke atas Pentas” Selasa 22 Februari 1994, hal. 16.

bawah dan terkadang diputar. Sedangkan posisi berdiri dengan gerakan kaki melangkah ke kanan kemudian ke kiri, serta ke depan dan belakang. Dengan tangan kiri yang memegang rebana dan tangan kanan yang memukul rebana tersebut.Kemudian dilakukan pertukaran posisi berdiri, dengan posisi membentuk berbagai pola, seperti membentuk lingkaran, persegi, berbaris memanjang dan lain-lain.Sedangkan kaum laki-laki posisi dan gerakannya hanya duduk bersila saja sambil menabuh rebana besar mengiringi gerakan wanita.50

Perkembangan Sike Rebana ternyata sangat luas, berawal dari daerah pinggiran yang tertutup oleh pegunungan, di tepi danau Kerinciberkembang ke dari daerah-daerah yang ada di Kerinci, terus menyusuri ke luar daerah Provinsi Jambi, keluar daerah Sumatera sehingga sampai ke pulau Jawa, dan akhirnya berkembang ke mancanegara yaitu Malaysia dan Singapura dan hampir dibawa oleh Tom Ibnur51 ke negara-negara Islam seperti Yordania.52

KESIMPULAN

Kesenian Sike Rebana adalah salah satu kesenian tradisional Kerinci yang merupakan hasil pengaruh kebudayaan agama Islam di Kerinci.Sike Rebana ada di Kerinci pada abad ke-17 M. Sike Rebana awalnya berfungsi sebagai wadah dakwah Islamiah dan juga sebagai sarana hiburan serta pesan penyemangat oleh para pengembang agama Islam. kemudian berkembang sebagai sebuah kesenian yang dimainkan oleh kaum laki-laki untuk mengisi waktu luangnya di malam hari dan mengisi acara hajatan sunat rasul, kemudian dikembangkan lagi kepada kaum wanita, yang akhirnya berkembang secara umum dalam masyarakat Kerinci mulai dari anak-anak, remaja, sampai kepada ibu-ibu majlis taklim.

Perkembangan Sike Rebana tidak hanya berkembang sebatas perkembangan daerahnya saja, tetapi juga berkembang pada bagian alat musik, fungsi, pakaian, gerakan dan lagu / ceritanya. Perkembangannya sangat pesat mulai tahun 1980-2011.Anggota grup Sike Rebana terdiri dari laki-laki dan wanita, tetapi didominasi oleh wanita.

SARAN

50Wawancara dengan Nasir. M di Kemantan Kebalai, Kamis, 18 Juni 2015.

51Tom Ibnur adalah seorang koreografer dan budayawan Jambi.

52Independent, Soepriadi “Usai di Ippoh, Diboyong ke Yordania” Sabtu, 11 Oktober 1997, hal. 15.

(8)

8

Diharapkan kepada pemerintah daerah Kerinci lebih memperhatikan secara khusus terhadap kesenian-kesenian yang ada di Kerinci, terutama kesenian Sike Rebana ini, karena merupakan warisan budaya tradisional yang menunjukkan kekayaan daerah yang khas dan beragam dari setiap daerah yang ada di negara Indonesia.

Agar semua masyarakat Kerinci selalu mempertahankan dan melestarikan kesenian kesenian Sike Rebana yang merupakan keunikan dan ciri khas budaya Kerinci, supaya tetap berkembang dan meraih prestasi gemilang yang membanggakan serta tidak luntur oleh kemajuan zaman.

DAFTAR PUSTAKA A. Arsip

Arsip. Nasir M. 1995. Sinopsis Zikir Rebana (Sike), (Kecamatan Air Hangat : Penilik Kebudayaan).

Arsip.Nasir M. Piagam Penghargaan Sike Rebana dalam acara Festival Gendang Nusantara di Malaysia Tahun 2011.

B. Buku

Daliman. A. 2010. Metode Penelitian Sejarah, Yogyakarta : Ombak.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci. 2004. Pesona Budaya Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi (Upacara Tradisonal Mandi Basantan). Sungai Penuh.

Gottshak, Louis. 2010.“Mengerti Sejarah”

terjemahan Notosusanto. Jakarta : UI Press.

Iskandar, Zakaria. 1984. Tambo Sakti Alam Kerinci Jilid 2. Sungai Penuh.

1985. Tambo Sakti Alam Kerinci Jilid 3.

Sungai Penuh.

Mestika, Zed. 1999. Metodologi Sejarah.

Padang : Universiats Negeri Padang.

Sarjono, Soekanto. 2013. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : PT. Raja Grafindo.

Tom, Ibnur. 1997. Sike Sakti Alam Kerinci.

Jakarta : Pusat Olah Seni Tari Indonesia.

1997. Pekan Seni Ipoh. Kerinci : Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata Kerinci.

2000. Pekan Seni Pertunjukkan Tradisional.

Jambi : PT. Panca Jaya Utama.

Zahakir, Haris dan Syafriadi.2005. Bumi Sakti Alam Kerinci Sekepal Tanah Surga Bandung.

C. Koran

Jambi Ekspres.Jonianto “Oktober 1999, Pemerintah Daerah Kerinci Gelar Festival Danau”Minggu, 08 Agustus 1999.Halm 03.

Jambi Independent. Afrizal Dkk. “Tarian Sike dari Kerinci Memukau Para Penonton”Jumat, 08 Januari 1993.Halm. 03.

Jambi Independent. Asy “Gubernur Buka MTQ “Milenium” ke-30”Selasa, 04 Juli 2000. Halm. 346.

Jambi Independent. Soepriadi “Menabuh Sike, Mendulang Harapan” Kamis, 09 Oktober 1997.Halm. 11.

Jambi Indepndent.Soepriadi “Usai di Ippoh, Diboyong ke Yordania” Sabtu, 11 Oktober 1997.Halm. 15.

Kompas.Nasrul Thahar “Rebana Zike Kerinci, dari Mesjid ke Atas Pentas” Selasa, 22 Februari 1994.Halm. 16.

Republika. Ridwan Effendi “Festival Zikir Rebana: Suguhan yang Tak Sekadar Hiburan”Rabu. 22 Desember 1993.Halm. 12.

D. Skiripsi

Dafrianto. 2014. Pendidikan Sejarah.

Eksistensi Grup Randai Sinar Tampalo Nagari Padang Laweh Kabupaten Sijunjung (2002- 2013).(STKIP PGRI Sumatera Barat).

Elvin Martius. 2013. Analisis Bentuk Musik Sike Garapan Sanggar Melati Desa Kemantan Kebalai Kecamatan Air Hangat Timur Kabupaten Kerinci.

Padang : UNP.

Pebriko Herzen. 2015. Studi Estetika Kesenian Sike Rebana Dalam Acara Pesta Perkawinan Masyarakat Desa Koto Rendah Kecamatan Siulak Kabupaten Kerinci. Padang : UNP.

E. Internet

Syaiful Hayatunnufus. 2013. Proses Pewarisan Tale Haji dalam Masyarakat Desa Koto Majidin Kecamatan Air Hangat Kabupaten Kerinci. E-Journal,Padang : UNP.

http://download.portalgaruda.org/articl e.php?article=101234&val=1538 diakses 22 April 2013, 13.00 WIB.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil data yang telah peneliti lakukan dapat simpulkan bahwa persepsi peserta didik tentang pengembangan karir oleh guru BK pada kelas XII SMKN 7 Padang dalam hal orentasi dan