• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN KESEHATAN HIV AIDS

N/A
N/A
Rosi Ana

Academic year: 2024

Membagikan "PENDIDIKAN KESEHATAN HIV AIDS "

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

SATUAN ACARA PENYULUHAN PENDIDIKAN KESEHATAN HIV AIDS Pada Keluarga Pasien dan Masyarakat Sekitar

Di STIKES ABI SURABAYA

Oleh : Kelompok I Semester VI

Laila Rohmatin (2010002)

Melyana Watty (2010003)

Novalia Antoh (2010004)

Ricky Richard Pukar (2010005)

Rosiana Nur Fajar (2010006)

Sakarias SM Koda (2010007)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

ARTHA BODHI ISWARA SURABAYA

2023

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

PENDIDIKAN KESEHATAN HIV AIDS

PADA Keluarga Pasien Dan Masyarakat sekitar STIKES ABI SURABAYA

Kelompok I : Laila Rohmatin (2010002) Melyana Watty (2010003) Novalia Antoh (2010004) Ricky Richard Pukar (2010005) Rosiana Nur Fajar (2010006) Sakarias SM Koda (2010007)

Telah disetujui dalam rangka Memenuhi nilai tugas mata kuliah Keperawatan HIV AIDS. Mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Artha Bodhi Iswara Surabaya.

Mengetahui,

Pembimbing Institusi

( )

(3)

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

PENDIDIKAN KESEHATAN HIV AIDS PADA KELUARGA PASIEN DAN MASYARAKAT SEKITAR STIKES ABI SURABAYA.

Pokok Bahasan : HIV AIDS

Sub Pokok Bahasan : Definisi HIV AIDS, Penyebab AIDS, Tanda Gejala HIV AIDS, Cara Penularan HIV, Komplikasi HIV, Pencegahan HIV AIDS.

Sasaran : Keluarga pasien HIV AIDS dan masyarakat sekitar Kampus STIKES ABI

Tempat : STIKES ABI Surabaya

Hari/ Tanggal : Rabu, 4 Oktober 2023

Waktu : 10.00 s/d 10.15 WIB (15 Menit)

A. TUJUAN

a. Tujuan Instruksional Umum (TIU)

Setelah dilakukan pendidikan kesehatan, diharapkan pasien dan masyarakat sekitar Kampus STIKES ABI dapat mengerti dan memahami serta dapat mencegah penularan HIV ke diri.

b. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

Setelah diberikan pendidikan kesehatan, pasien dan masyarakat sekitar STIKES ABI dapat :

- Menjelaskan definisi HIV - AIDS - Menjelaskan penyebab AIDS

- Menjelaskan tanda dan gejala HIV-AIDS - Menjelaskan cara penularan HIV

- Menyebutkan komplikasi HIV

- Menyebutkan cara pencegahan HIV-AIDS dalam kehidupan sehari-hari B. SASARAN

Keluarga pasien yang sedang merawat pasien HIV-AIDS, masyarakat sekitar kampus STIKES ABI.

C. SUB POKOK BAHASAN 1. Definisi HIV

2. Penyebab AIDS

3. Tanda dan Gejala HIV-AIDS 4. Cara penularan HIV

5. Komplikasi HIV

6. Cara Pencegahan HIV-AIDS dalam kehidupan sehari-hari

(4)

D. METODE 1. Ceramah 2. Tanya jawab E. MEDIA

PPT

F. KRITERIA EVALUASI 1. Kriteria Struktur

a. Sasaran hadir di ruang Pertemuan STIKES ABI b. Waktu memulai penyuluhan

c. Kesiapan Media

d. Kesiapan keluarga Pasien dan masyarakat dalam menerima pendidikan kesehatan

2. Kriteria Proses

a. Peserta antusias terhadap materi yang diberikan b. Peserta konsentrasi mendengar materi yang diberikan

c. Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara lengkap dan benar

d. Peserta dapat menyebutkan cara pencegahan HIV-AIDS dalam kehidupan sehari-hari

3. Kriteria Hasil

a. Apa yang dimaksud dengan HIV b. Apa penyebab AIDS

c. Sebutkan Tanda dan Gejala HIV-AIDS d. Bagaimana cara penularan HIV

e. Apa saja komplikasi akibat HIV

f. Bagaimana cara pencegahan HIV-AIDS dalam kehidupan sehari-hari G. KEGIATAN PENYULUHAN

No. Waktu Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta 1 2 Menit Pembukaan :

1. Memberi salam 2. Memperkenalkan diri 3. Menjelaskan tujuan dan

pokok materi yang akan disampaikan

4. Mengkaji pengetahuan sasaran tentang HIV- AIDS

1. Menjawab salam

2. Mendengar dan

memperhatikan

3. Mendengar dan

memperhatikan

4. Menjawab sesuai pengetahuan yang dimiliki sasaran

(5)

2 7 Menit Pemaparan Materi : 1. Menjelaskan materi :

a. Definisi HIV b. Penyebab AIDS

c. Tanda dan Gejala HIV- AIDS

d. Cara penularan HIV e. Komplikasi HIV

f. Cara pencegahan HIV- AIDS dalam kehidupan sehari-hari.

2. Memberi sesi untuk bertanya

1. Mendengar dan

memperhatikan

2. Bertanya 3 10

Menit

Penutup :

1. Meminta peserta untuk menjelaskan kembali materi yang telah diberikan secara singkat 2. Mengajukan pertanyaan 3. Menyimpulkan hasil

penyuluhan 4. Menutup acara 5. Memberi salam

1. Menjelaskan kembali materi yang diberikan

2. Menjawab pertanyaan yang diberikan penyuluh

3. Mendengar dan

memperhatikan

4. Mendengar dan

memperhatikan 5. Menjawab salam

H. DAFTAR PUSTAKA

1. Sukmana N. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi III. Jakarta. Balai Penerbit FKUI, 2001.

2. Lachlan, MC. Diagnosis Dan Penyakit Kelamin. Jakarta. Penerbit IDI, 1996.

3. Djauzi S. Penatalaksanaan Infeksi HIV. Jakarta. Yayasan Penerbit IDI. 1997.

4. M.D, Woodley, Michele & Alison Whelan, M.D. Pedoman Pengobatan. Yogyakarta.

Penerbit Yayasan Essentia Medica.

5. Sukandar, Yulinah, Elin, dkk. ISO Farmakoterapi. Penerbit PT. ISFI. Jakarta.

(6)

Lampiran Materi

ETIKA BATUK DAN BERSIN A. Definisi HIV

HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu kelompok virus tertentu yang ditularkan dari manusia yang terinfeksi ke individu yang sehat. Virus ini tidak dapat ditularkan oleh gigitan serangga seperti gigitan nyamuk. Setelah seseorang terinfeksi virus HIV, maka dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. HIV menyerang limfosit CD4 dari sistem kekebalan tubuh. Hal ini menyebabkan kerusakan besar pada tingkat kekuatan kekebalan tubuh manusia. Ketika kekebalan tubuh menjadi lemah, sangat mudah untuk terinfeksi penyakit lain dan dapat menyebabkan kanker yang menyerang tubuh.

CD 4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel- sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. CD4 pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol).

Sel yang mempunyai marker CD4 di permukaannya berfungsi untuk melawan berbagai macam infeksi. Di sekitar kita banyak sekali infeksi yang beredar, entah itu berada dalam udara, makanan ataupun minuman. Namun kita tidak setiap saat menjadi sakit, karena CD4 masih bisa berfungsi dengan baik untuk melawan infeksi ini. Jika CD4 berkurang, mikroorganisme yang patogen di sekitar kita tadi akan dengan mudah masuk ke tubuh kita dan menimbulkan penyakit pada tubuh manusia.

Sistem kekebalan dianggap defisien ketika sistem tersebut tidak dapat lagi menjalankan fungsinya dalam memerangi infeksi dan penyakit- penyakit. Orang yang kekebalan tubuhnya defisien (Immunodeficient) menjadi lebih rentan terhadap berbagai ragam infeksi, yang sebagian besar jarang menjangkiti orang yang tidak mengalami defisiensi kekebalan. Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan defisiensi kekebalan yang parah dikenal sebagai “infeksi oportunistik”

(7)

karena infeksi-infeksi tersebut memanfaatkan sistem kekebalan tubuh yang melemah.

Jika terinfeksi virus ini, maka akan dimungkinkan tetap berada di lingkaran itu selamanya, belum ada obat yang pasti untuk menyembuhkannya.

Namun ada perawatan yang membantu mengontrol perkembangan penyakit dan mengurangi infeksi HIV.

Sedangkan AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome. Kondisi ini berkembang dari infeksi HIV. Kecuali seseorang tidak terinfeksi HIV, maka dia tidak bisa terkena AIDS. Hal ini mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan penurunan fungsi normal. Kondisi ini disebut sindrom karena ada banyak penyakit dan infeksi yang mempengaruhi orang secara bersama-sama. Ketika gejala berbagai penyakit yang berbeda terlihat, hal ini menujukkan AIDS. Tidak ada tes khusus untuk mendeteksi AIDS. Jika seseorang tidak mematuhi pengobatan antivirus yang disarankan oleh dokter, HIV akan berkembang cepat menjadi AIDS dan akan lebih cepat lagi apabila orang yang terinfeksi dengan gizi buruk, usia tua dan stress berat.

B. Penyebab AIDS

HIV adalah suatu retrovirus manusia sitopatik dari famili lentivirus.

Dalam bentuknya yang asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel limfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut CD4. Didalam sel limfosit T, virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain, dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif.

Walaupun demikian virus dalam tubuh pengidap HIV selalu dianggap infectious yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan selama hidup penderita tersebut.

Secara morfologis HIV terdiri atas 2 bagian besar yaitu bagian inti (core) dan bagian selubung (envelop). Bagian inti berbentuk silindris tersusun atas dua untaian RNA (Ribonucleic Acid), enzim reverce transcriptase dan beberapa jenis protein. Karena informasi genetik virus ini berupa RNA, maka virus ini harus mentransfer informasi genetiknya yang berupa RNA menjadi DNA sebelum diterjemahkan menjadi protein-protein. Dan untuk tujuan ini HIV memerlukan enzim reverse transcriptase. Bagian selubung terdiri atas lipid dan glikoprotein

(8)

(gp 41 dan gp 120). Glikoprotein yang lebih besar dinamakan gp 120, adalah komponen yang menspesifikasi sel yang diinfeksi. gp 120 ini terutama akan berikatan dengan reseptor CD4, yaitu suatu reseptor yang terdapat pada permukaan sel T helper, makrofag, monosit, sel-sel langerhans pada kulit, sel-sel glial, dan epitel usus (terutama sel-sel kripta dan sel-sel enterokromafin).

Glikoprotein yang besar ini adalah target utama dari respon imun terhadap berbagai sel yang terinfeksi. Glikoprotein yang lebih kecil, dinamai gp 41 atau disebut juga protein transmembran, dapat bekerja sebagai protein fusi yaitu protein yang dapat berikatan dengan reseptor sel lain yang berdekatan sehingga sel-sel yang berdekatan tersebut bersatu membentuk sinsitium.

Karena bagian luar virus (lemak) tidak tahan panas, bahan kimia, maka HIV termasuk virus sensitif terhadap pengaruh lingkungan seperti air mendidih, sinar matahari dan mudah dimatikan dengan berbagai desinfektan seperti eter, aseton, alkohol, iodium hipoklorit dan sebagainya, tetapi relatif resisten terhadap radiasi dan sinar utraviolet. Virus HIV hidup dalam darah, saliva, semen, air mata dan mudah mati diluar tubuh. HIV dapat juga ditemukan dalam sel monosit, makrofag dan sel jaringan otak.

C. Tanda dan Gejala HIV-AIDS a. Masa Inkubasi

Masa inkubasi adalah waktu terjadinya infeksi sampai munculnya gejala pertama pada pasien. Pada infeksi HIV hal ini sulit diketahui. Dari penelitian pada sebagian besar kasus dikatakan masa inkubasi rata-rata 5-10 tahun, dan bervariasi sangat lebar, yaitu antara 6 bulan sampai lebih dari 10 tahun. rata-rata 21 bulan pada anak-anak dan 60 bulan pada orang dewasa walaupun belum ada gejala, tetapi yang bersangkutan telah dapat menjadi sumber penularan.

b. Stadium awal infeksi

Gejala ini serupa dengan gejala infeksi virus umumnya yaitu berupa demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, mialgia, pembesaran kelenjar dan rasa lemah.Pada sebagian orang, infeksi dapat berat disertai kesadaran menurun.10Sindrom ini akan menghilang dalam beberapa minggu. Dalam waktu 3-6 bulan kemudian tes serologi baru akan positif, karena telah terbentuk

(9)

antibodi. Masa 3-6 bulan ini disebut window periode, dimana penderita dapat menularkan naamun secara laboratorium hasil tes HIV-nya negatif.

c. Stadium tanpa gejala

Fase akut akan diikuti fase kronik asimptomatik yang lamanya bisa bertahun- tahun (5-7 tahun). Virus yang ada didalam tubuh secara pelan-pelan terus menyerang sistem pertahanan tubuhnya. Walaupun tidak ada gejala, kita tetap dapat mengisolasi virus dari darah pasien dan ini berarti bahwa selama fase ini pasien juga infeksius. Tidak diketahui secara pasti apa yang terjadi pada HIV pada fase ini. Mungkin terjadi replikasi lambat pada sel-sel tertentu dan laten pada sel- sel lainnya. Tetapi jelas bahwa aktivitas HIV terjadi dan ini dibuktikan dengan menurunnya fungsi sistem imun dari waktu ke waktu. Mungkin sampai jumlah virus tertentu tubuh masih dapat mengantisipasi sistem imun.

d. Stadium AIDS related compleks

Stadium ARC (AIDS Related Complex) adalah bila terjadi 2 atau lebih gejala klinis yang berlangsung lebih dari 3 bulan, antara lain :

 Berat badan turun lebih dari 10%

 Demam lebih dari 380C

 Keringat malam hari tanpa sebab yang jelas

 Diare kronis tanpa sebab yang jelas

 Rasa lelah berkepanjangan

 Herpes zoster dan kandidiasis mulut

 Pembesaran kelenjar limfe, anemia, leucopenia, limfopenia, trombositopenia

 Ditemukan antigen HIV atau antibody terhadap HIV.

e. Stadium AIDS

Gejala klinis utama yaitu terdapatnya kanker kulit yang disebut Sarkoma Kaposi (kanker pembuluh darah kapiler) juga adanya kanker kelenjar getah

(10)

bening. Terdapat infeksi penyakit penyerta misalnya pneomonia, pneumocystis, TBC, serta penyakit infeksi lainnya seperti toksoplasmosis dsb.

Gejala gangguan susunan saraf

 Lupa ingatan

 Kesadaran menurun

 Perubahan Kepribadian

 Gejala–gejala peradangan otak atau selaput otak

 Kelumpuhan

Umumnya penderita AIDS sangat kurus, sangat lemah dan menderita infeksi.

Penderita AIDS selalu meninggal pada waktu singkat (rata-rata 1-2 tahun) akan tetapi beberapa penderita dapat hidup sampai 3 atau 4 tahun.

D. Cara Penularan HIV-AIDS

Penularan AIDS dapat dibagi dalam 2 jenis, yaitu :

Secara Kontak Seksual

a. Ano-Genital

Cara hubungan seksual ini merupakan perilaku seksual dengan resiko tertinggi bagi penularan HIV, khususnya bagi kaum mitra seksual yang pasif menerima ejakulasi semen dari pengidap HIV.

b. Ora-Genital

Cara hubungan ini merupakan tingkat resiko kedua, termasuk menelan semen dari mitra seksual pengidap HIV.

c. Genito-Genital / Heteroseksual

Penularan secara heteroseksual ini merupakan tingkat penularan ketiga, hubungan suami istri yang mengidap HIV, resiko penularannya, berbeda-beda antara satu peneliti dengan peneliti lainnya.

(11)

Secara Non seksual

Penularan secara non seksual ini dapat terjadi melalui : a. Transmisi Parental

Penggunaan jarum dan alat tusuk lain (alat tindik, tatto) yang telah terkontaminasi, terutama pada penyalahgunaan narkotik dengan mempergunakan jarum suntik yang telah tercemar secara bersama-sama.

Penularan parental lainnya, melalui transfusi darah atau pemakai produk dari donor dengan HIV positif, mengandung resiko yang sangat tinggi.

b. Transmisi Transplasental

Transmisi ini adalah penularan dari ibu yang mengandung HIV positif ke anak, mempunyai resiko sebesar 50%. Disamping cara penularan yang telah disebutkan di atas ada transmisi yang belum terbukti, antara lain:

 ASI

 Saliva/Air liur

 Air mata

 Hubungan sosial dengan orang serumah

 Gigitan serangga

Walaupun cara-cara transmisi di atas belum terbukti, akan tetapi karena prevalensi HIV telah demikian tinggi, maka tetap dianjurkan :

- Ibu yang mengidap supaya tidak menyusui bayinya.

- Mengurangi kontaminasi saliva pada alat seduditasi pada saat berciuman dan pada anak-anak yang mengidap HIV yang menderita gangguan jiwa dan sering digigit serangga.

- Bagi dokter ahli mata dianjurkan untuk lebih berhati-hati berhubungan dengan air mata pengidap HIV.

(12)

Tetapi, perlu diketahui virus HIV tidak menular apabila:

 Hidup serumah dengan penderita AIDS ( asal tidak mengadakan hubungan seksual).

 Bersentuhan dengan penderita.

 Berjabat tangan.

 Penderita AIDS bersin atau balik di dekat kita.

 Bersentuhan dengan pakaian atau barang lain dari bekas penderita.

 Berciuman pipi dengan penderita.

 Melalui alat makan dan minum.

 Gigitan nyamuk dan serangga lainnya.

 Bersama-sama berenang di kolam.

E. Komplikasi Penyakit Lain saat terkena HIV a. Oral Lesi

Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat.

b. Neurologik

 Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi social.

 Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis/ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total/parsial.

(13)

 Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler, hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis.

 Neuropati karena inflamasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV)

c. Gastrointestinal

 Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia, demam, malabsorbsi, dan dehidrasi.

 Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma, sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik, demam atritis.

 Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rektal, gatal-gatal.

d. Respirasi

Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek, batuk, nyeri, hipoksia, keletihan, dan gagal nafas.

e. Dermatologik

Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri, gatal, rasa terbakar, infeksi sekunder dan sepsis.

f. Sensorik

 Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan

 Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri.

F. Cara Pencegahan HIV-AIDS

(14)

Cara mencegah masuknya suatu penyakit secara umum di antaranya dengan membiasakan hidup sehat, yaitu mengkonsumsi makanan sehat, berolahraga, dan melakukan pergaulan yang sehat. Beberapa tindakan untuk menghindari dari HIV atau AIDS antara lain:

 Hindari hubungan seksual diluar nikah dan usahakan hanya berhubungan dengan satu pasangan seksual.

 Pergunakan selalu kondom, terutama bagi kelompok perilaku resiko tinggi.

 Seorang ibu yang darahnya telah diperiksa dan ternyata positif HIV sebaiknya jangan hamil, karena bisa memindahkan virusnya kepada janin yang dikandungnya. Akan bila berkeinginan hamil hendaknya selalu berkonsultasi dengan dokter.

 Orang-orang yang tergolong pada kelompok perilaku resiko tinggi hendaknya tidak menjadi donor darah.

 Penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya seperti; akupunktur, jarum tatto, jarum tindik, hendaknya hanya sekali pakai dan harus terjamin sterilitasnya.

 Jauhi narkoba, karena sudah terbukti bahwa penyebaran HIV atau AIDS di kalangan panasun (pengguna narkoba suntik) 3-5 kali lebih cepat dibanding perilaku risiko lainnya.

Adapun usaha-usaha yang dapat dilakukan pemerintah dalam usaha untuk mencegah penularan AIDS yaitu, memberikan penyuluhan-penyuluhan atau informasi kepada seluruh masyarakat tentang segala sesuatau yang berkaitan dengan AIDS, melalui seminar-seminar terbuka, melalui penyebaran brosur atau poster-poster yang berhubungan dengan AIDS, ataupun melalui iklan di berbagai media massa baik media cetak maupun media elektronik. Penyuluhan atau informasi tersebut dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan, kepada semua lapisan masyarakat, agar seluruh masyarakat dapat mengetahui bahaya AIDS, sehingga berusaha menghindarkan diri dari segala sesuatu yang bisa menimbulkan virus AIDS.

Referensi

Dokumen terkait

HIV ditemukan oleh Luc Montagner (France) dan Robert Gallo (USA) pada tahun 1984 HIV masuk dalam tubuh manusia dan bermultiplikasi dalam limfosit (CD4) Virus baru akan masuk

Sel-sel sistem kekebalan tubuh (misalnya, sel T Pembunuh) malas bergerak karena tidak disuruh bergerak.. Virus-virus dan kuman-kuman selain HIV dibiarkan memperbanyak dan

AIDS disebabkan oleh infeksi HIV atau Human Immuno-deficiency Virus (Depkes, 2005). HIV dapat menimbulkan AIDS dengan langkah melawan sel darah putih yang disebut sel

d) AIDS, nama virus penginfeksi yakni Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sel-sel darah putih, sel darah putih yang berperan menjaga system kekebalan tubuh. sel darah

HIV/ Human Immunodeficiency Virus masuk dalam sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang menimbulkan menurunnya imun tubuh. Menurunnya imun biasanya diikuti meningkatnya

Darah ikan terdiri atas sel darah merah (eritrosit) dan sel darah putih (leukosit). Leukosit mempunyai peran sangat penting dalam sistem kekebalan. Sel darah putih terdiri

Infeksi opurtunistik adalah infeksi oleh patogen yang biasanya tidak bersifat invasif namun dapat menyerang tubuh saat kekebalan tubuh menurun, seperti pada orang yang terinfeksi

Kesimpulan HIV Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4, sehingga merusak sistem kekebalan tubuh