Nama : Ivanna Ayudhea Oktarike NIM : D11.2021.03330
Kelas : 72
Matkul : Manajemen Stratejik
Penerapan Balanced Scorecard di Rumah Sakit Abadi Sejahtera
A.Latar Belakang
Saat ini masih banyak Rumah Sakit yang mengukur kinerjanya hanya berdasarkan pada tolak ukur keuangannya saja. Padahal dalam menghadapi lingkungan bisnis yang semakin kompleks seperti saat ini, pengukuran kinerja yang hanya berdasar pada tolak ukur keuangan sudah tidak lagi memadai karena memnpunyai banyak kelemahan, antara lain seperti Pemakaian kinerja keuangan sebagai satu-satunya penentu kinerja Rumah Sakit bisa mendorong kepala Rumah Sakit untuk mengambil tindakan jangka pendek dengan
mengorbankan kepentingan jangka panjang. Misalnya, untuk menaikkan profit atau ROI (Return on investment), seorang kepala Rumah Sakit bisa saja mengurangi anggaran untuk pengembangan atau pelatihan bagi karyawan, termasuk investasi dalam sistem teknologi untuk kepentingan Rumah Sakit dimasa depan. Dalam jangka pendek kinerja keuangan meningkat, namun dalam jangka panjang akan menurun.
Kesuksesan Rumah Sakit tidak dapat dimotivasi atau diukur dalam jangka pendek dengan model manajemen keuangan tradisional saja. Balanced Scorecard merupakan kerangka kerja baru untuk mengintegrasikan ukuran yang diperoleh dari strategi. Dengan tetap mempertahankan ukuran keuangan sebelumnya, Balanced Scorecard memperkenalkan item tambahan yang meliputi konsumen, proses bisnis internal, dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan.
Upaya untuk menyeimbangkan pengukuran aspek keuangan dengan aspek non- keuangan menghasilkan Balanced Scorecard yang pertama kali dikembangkan oleh Kaplan dan Norton (1996).Penerapan metode Balanced Scorecard, para manajer suatu perusahaan akan mampu mengukur bagaimana unit bisnis mereka melakukan penciptaan nilai saat ini dengan tetap mempertimbangkan kepentingan-kepentingan yang akan datang. Awalnya balanced scorecard dirancang untuk digunakan pada organisasi laba, tetapi berkembang dan kemudian diterapkan pada organisasi nirlaba. Adanya perbedaan yang signifikan terhadap penggunaan pada organisasi laba dengan organisasi nirlaba, yaitu pada organisasi laba perspektif finansial/keuangan adalah tujuan utama dari perspektif yang ada, sedangkan pada organisasi nirlaba perspektif konsumen merupakan tujuan utama dari perspektif yang ada.
Balanced Scorecard lebih dari sekedar sistem pengukuran. Rumah Sakit dapat
menggunakan Balanced Scorecard sebagai dasar untuk mengatur kerangka kerja untuk proses manajemen mereka. Rumah Sakit dapat membangun Balanced Scorecard mula-mula dengan tujuan yang terbatasBalanced scorecard mendidik manajemen dan organisasi pada umumnya
bisnis internal, dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan yang menghubungkan pengendalian operasional jangka pendek ke dalam visi dan strategi bisnis jangka panjang.
Seperti yang telah disebutkan diatas, Balanced Scorecard mengklarifikasi pengukuran kinerja ke dalam 4 perspektif yaitu, keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, dan
pembelajaran dan pertumbuhan. Keempat perspektif ini menawarkan suatu keseimbangan antara tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang, yaitu hasil yang diinginkan, pemicu kinerja, dan tolak ukur kinerja.
Rumah Sakit Abadi Sejahtera merupakan rumah sakit kelas B yang berlokasi di wilayah perkotaan dengan kapasitas 250 tempat tidur. Rumah sakit ini melayani rata-rata 900 pasien rawat inap dan 3.800 pasien rawat jalan setiap bulan. Seiring dengan pertumbuhan pasien dan kenaikan biaya operasional, rumah sakit menghadapi tantangan untuk
mempertahankan kualitas layanan dan efisiensi.
Manajemen rumah sakit baru saja menyelesaikan restrukturisasi organisasi dan memilih Balanced Scorecard (BSC) sebagai alat manajemen strategis untuk menyelaraskan kegiatan operasional dengan tujuan jangka panjang. Penerapan BSC akan difokuskan pada empat perspektif utama: keuangan, pasien, proses internal, dan pembelajaran &
pertumbuhan.
B.Tujuan
Mengukur serta memantau perkembangan perusahaan dalam memenuhi target.
Mengomunikasikan target perusahaan.
Menentukan prioritas proyek, layanan dan produk.
Informasi pegawai dalam pengukuran kinerja keuangan dan non keuangan
Media untuk mengukur aktivitas operasional yang dilakukan sebuah perusahaan.
C
.Konsep Balanced Scored
Balanced Scorecard (BSC) adalah kerangka manajemen kinerja yang digunakan untuk mengukur dan mengelola strategi organisasi melalui empat perspektif utama:
1. Perspektif Keuangan: Fokus pada kinerja finansial dan efisiensi penggunaan sumber daya.
2. Perspektif Pelanggan/Pasien: Berfokus pada kepuasan, loyalitas, dan pengalaman pelanggan.
3. Perspektif Proses Internal: Mengukur efektivitas dan efisiensi proses yang terjadi di dalam organisasi.
4. Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan: Berfokus pada pengembangan sumber daya manusia dan inovasi.
D.Keunggulan Balanced Scorecard
Mengukur Komprehensif
Dengan menekankan bahwa pengukuran kinerjanya dari aspek kuantitatif dan juga pada aspek kualitatif.
Koheren
Kekoherenan menjadikan sasaran kinerja keuangan itu sangat dalam lingkungan bisnis yang kompetitif.
Seimbang
Menyeimbangkan keempat perspektif dalam melakukan sebuah penetapan sasaran- sasaran strateginya
Terukur
Seluruh sasaran strategi ditentukan oleh ukurannya dari perspektif keuangan dan perspektif nonkeuangan
E.Kelemahan Balanced Scorecard
Ketidak jelasan dalam mekanisme perbaikan, terdapat perusahaan tidak mempunyai rencana dalam peningkatan. Koheren
Tidak ada pembaruan ukuran, perusahaan tidak mencocokkan dengan perubahan strategi. Menyebabkan tidak ada perubahan yang terjadi di perusahaan tersebut.
Kesulitan dalam menetapkan bobot, beberapa perusahaan tidak memiliki bobot untuk masing – masing pengkuran maka perushaan menjadi sulit dalam menggabungkan aspek keuangan dan nonkeuangan.
F.
Analisis Situasi Rumah Sakit Abadi Sejahtera
Perspektif Keuangan
Perspektif ini fokus pada kinerja keuangan organisasi, yang mencerminkan seberapa baik strategi organisasi berkontribusi pada hasil keuangan.Tujuannya adalah memastikan
keberlanjutan dan profitabilitas, baik di sektor bisnis maupun di sektor pelayanan seperti kesehatan.
Pendapatan bersih rumah sakit mencapai Rp 4,5 miliar per bulan, tetapi meningkatnya biaya operasional, terutama untuk obat-obatan dan tenaga kerja, menjadi tantangan. Dengan biaya operasional yang meningkat 12% per tahun, rumah sakit harus mencari solusi untuk menekan pengeluaran tanpa mengurangi kualitas layanan. Target keuangan rumah sakit adalah meningkatkan pendapatan bersih sebesar 18% dalam satu tahun.
GOALS MEASURE
meningkatkan pendapatan bersih sebesar 18% dalam satu tahun.
Total pendapatan rumah sakit Ratio pendapatan per pasien =
Jumlah pasien
Perspektif Pasien
Perspektif pelanggan berfokus pada kepuasan, retensi, dan nilai yang diberikan kepada pelanggan (dalam konteks kesehatan: pasien).Tujuannya menilai bagaimana organisasi memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan.
Saat ini, tingkat kepuasan pasien berada di 70%, dan 35% keluhan pasien terkait dengan waktu tunggu yang lama. Manajemen berkomitmen untuk meningkatkan kepuasan menjadi 85% dalam satu tahun.
GOALS MEASURE
meningkatkan kepuasan menjadi 85% dalam satu tahun.
Jumlah responden yang puas x 100 Tingkat Kepuasan Pasien =
Total responden survei
Perspektif Proses Internal
Perspektif ini berfokus pada seberapa baik proses internal organisasi beroperasi untuk mencapai tujuan strategisnya. Tujuannya menilai bagaimana organisasi memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan.
Waktu tunggu rata-rata pasien adalah 55 menit, sementara targetnya adalah 30 menit.
Selain itu, tingkat kesalahan medis saat ini 0,6%, dan manajemen menargetkan penurunan menjadi 0,3%.
GOALS MEASURE
targetnya adalah 30 menit
Waktu rata-rata pelayanan = Total waktu pelayanan untuk semua pasien Jumlah pasien
menargetkan penurunan
menjadi 0,3%. Rasio insiden medis = jumlah insiden medis yang dilaporkan x 100 Total pasien yang dirawat
Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan
Perspektif ini fokus pada pengembangan kapabilitas organisasi, terutama yang berkaitan dengan sumber daya manusia, inovasi, dan sistem yang mendukung perbaikan kinerja di masa depan.
Kepuasan karyawan saat ini berada di angka 65%, dan tingkat turnover mencapai 18%
per tahun. Rumah sakit menargetkan kepuasan karyawan mencapai 75% dengan memberikan pelatihan kepada 50% karyawan setiap tahun.
GOALS MEASURE
menargetkan kepuasan karyawan mencapai 75%
Tingkat Retensi
Tenaga Kesehatan = Jumlah tenaga Kesehatan yang tetap bekerja x100 Jumlah total tenaga Kesehatan
Penerapan BSC membutuhkan langkah-langkah strategis sebagai berikut:
1. Membentuk Tim Implementasi: Tim khusus akan dibentuk untuk mengawasi penerapan BSC di setiap departemen.
2. Sosialisasi dan Komunikasi Internal: Semua karyawan harus memahami tujuan penerapan BSC dan peran mereka dalam mencapai target.
3. Pengembangan Indikator Kinerja Utama (KPI): Setiap perspektif BSC akan memiliki KPI spesifik untuk memantau pencapaian target.
4. Pengintegrasian Sistem Informasi: Penerapan sistem informasi manajemen akan mendukung pengumpulan data dan pelaporan secara real-time.
5. Review dan Penyesuaian Berkala: Evaluasi kinerja dilakukan secara berkala untuk menyesuaikan strategi jika diperlukan.
H . Evaluasi dan Monitoring Kinerja
Untuk memastikan penerapan BSC berjalan efektif, rumah sakit akan melakukan evaluasi secara berkala. Beberapa metode yang dapat digunakan:
Dashboard Kinerja: Setiap departemen akan memiliki akses ke dashboard kinerja untuk memantau pencapaian KPI.
Laporan Bulanan dan Triwulanan: Manajemen akan mengadakan rapat bulanan dan triwulanan untuk mengevaluasi perkembangan.
Survei Kepuasan Pasien dan Karyawan: Survei rutin akan dilakukan untuk mengukur efektivitas program yang telah dijalankan
I.Kesimpulan dan Rekomendasi
Penerapan Balanced Scorecard di Rumah Sakit Abadi Sejahtera merupakan langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas pelayanan. Dengan fokus pada empat perspektif BSC, rumah sakit dapat menyelaraskan kegiatan operasional dengan tujuan jangka panjang.
Beberapa rekomendasi untuk memastikan keberhasilan implementasi:
1. Komitmen Manajemen: Manajemen harus terlibat aktif dalam setiap tahap implementasi BSC.
2. Pengembangan SDM: Investasi pada pelatihan dan pengembangan karyawan sangat penting untuk mencapai target.
3. Monitoring Berkala: Evaluasi kinerja secara konsisten diperlukan untuk menjaga fokus pada pencapaian target.
4. Inovasi Berkelanjutan: Rumah sakit harus terus berinovasi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan.