STUDI KASUS PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA PENDERITA OSTEOARTHRITIS
DENGAN PENDEKATAN KELUARGA BINAAN DI DESA SIWALANPANJI BUDURAN
SIDOARJO
\
Oleh :
FEBYLAH NURJANAH CHAFSOH 1901043
PROGRAM DIII KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KERTA CENDEKIA SIDOARJO
2022
STUDI KASUS PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA PENDERITA OSTEOARTHRITIS
DENGAN PENDEKATAN KELUARGA BINAAN DI DESA SIWALANPANJI BUDURAN
SIDOARJO
Sebagai Prasyarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya Keperawatan (Amd.Kep) Di Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo
\
Oleh :
FEBYLAH NURJANAH CHAFSOH 1901043
PROGRAM DIII KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KERTA CENDEKIA SIDOARJO
2022
i
ii z
iii
iv Motto
“Always remember : you’re the leader of your own life.
I have come to love myself for who I am, for who I was, and for who I hope to become. Believe in yourself and all your possibilities even the small ones.
Because only you can create your future.”
“Selalu ingat : Anda adalah pemimpin hidup anda sendiri.
Saya datang untuk mencintai diri saya sendiri untuk siapa saya, untuk siapa saya, dan untuk siapa saya berharap untuk menjadi. Percaya pada diri sendiri dan semua
kemungkinan anda bahkan yang kecil.
Karena hanya anda yang dapat menciptakan masa depan anda.”
( Bangtan Boys )
v
PERSEMBAHAN
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat-Nya dan atas dukungan serta doa dari orang – orang yang tercinta, akhirnya Karya Tulis Ilmiah ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya. Oleh karena itu, dengan rasa bangga dan bahagia saya menyampaikan rasa syukur dan terimakasih kepada :
1. Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya, maka Karya Tulis Ilmiah ini dapat dibuat dan selesai tepat pada waktunya.
2. Teruntuk orang tua dan keluarga saya yang telah memberikan dukungan moril maupun materi serta doa, sehingga saya bisa ada ditahap ini. Saya sangat bersyukur dan mengucapkan terimakasih, saya paham bagi saya ucapan ini tidak akan cukup untuk membalas semua kebaikan dan pengorbanan orang tua serta keluarga saya. Namun saya benar – benar berterimakasih, insya Allah saya akan membalas semuanya dengan jalan yang sudah disiapkan Allah SWT.
Aamiin.
3. Kepada teman smp saya Chika Rizky Irwana dan ibunya, yang sudah mau membantu dan perhatian kepada saya dalam mencarikan responden untuk Karya Tulis Ilmiah ini. Tanpa bantuan mereka mungkin saat ini saya sudah ganti kasus, semoga kebaikan kalian dibalas dengan berlipat lipat ganda oleh Allah SWT. Aamiin.
4. Teruntuk Dosen Pembimbing 1 Faida Annisa, S.Kep., Ns.MNS dan Dosen Pembimbing 2 Agus Sulistyowati, S.Kep. M.Kes yang selama ini telah tulus dan ikhlas meluangkan waktunya untuk menuntun dan mengarahkan saya dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini hingga menjadi lebih baik. Terimakasih banyak Ibu dosen atas ilmu, bimbingan dan pelajaran hidup yang telah diberikan kepada saya, jasa kalian akan selalu saya ingat.
vi
5. Untuk sahabat saya “Wanita Hemat”, Syarifah, Tiara dan Titis. Terima kasih karena hingga saat ini kita semua tetap bertahan dan saling mensupport untuk menyusun Karya Tulis Ilmiah ini, saya paham dimomen seperti ini kita semua sedang diuji oleh masalah pribadi masing – masing, namun kita tetap saling menguatkan. Terima kasih sudah mau menjadi sahabat saya, saya berharap persahabatan kita tidak sampai disini saja. Terima kasih untuk sahabat spesial saya, Almarhumah Dira Fani Anjani yang sudah rela menjadi sahabat saya, mengajarkan banyak hal tentang kebaikan kepada saya selama Almarhumah hidup. Walaupun dunia kita sudah berbeda, insya Allah saya akan terus ingat kepadamu. Alfatihah.
6. Kepada seluruh teman seperjuangan di Poltekkes Kerta Cendekia Sidoarjo, terima kasih atas kebersamaan selama tiga tahun ini, suka dan duka yang kita lewati semua untuk menjadi sebuah pendewasaan bagi kita semua. Semoga kita dapat meraih kesuksesan sesuai yang kita harapankan. Aamiin.
7. Teruntuk Idol saya, Kim Namjoon, Kim Seokjin, Min Yoongi, Jung Hoseok, Park Jimin, Kim Taehyung, Jeon Jungkook (BTS) yang selalu memotivasi untuk mencintai diri sendiri ‘love yourself’, yang telah memberi inspirasi melalui prestasi, lagu dan konten – kontennya. Semoga saya bisa datang ke konser kalian, aamiin. Bts – Army.
8. Last but not least, I wanna thank me. I wanna thank me for believing in me. I wanna thank me for doing all these hard work. I wanna thank me for having no days off. I wanna thank me for never quitting. I wanna thank me for always being a giver and trying to give more than I receive. I wanna thank me for trying to do more right than wrong. I wanna thank me for just being me all time.
vii
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Studi Kasus Penerapan Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Penderita Osteoarthritis Dengan Pendekatan Keluarga Binaan Di Desa Siwalanpanji Buduran Sidoarjo” ini dengan tepat waktu sebagai persyaratan akademik dalam menyelesaikan program studi DIII Keperawatan di Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo.
Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Tuhan Yang Maha Esa.
2. Ibu Agus Sulistyowati, S.Kep.,M.Kes selaku Direktur dan Dosen Pembimbing 2 yang telah membimbing dan memberikan motivasi selama pelaksanaan studi di program studi DIII Keperawatan Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo.
3. Ibu Faida Annisa, S.Kep., Ns.MNS selaku Dosen Pembimbing 1 Yang telah meluangkan waktu, pikiran dan perhatian dalam membimbing serta mengarahkan dalam pembuatan proposal ini.
4. Orangtua dan keluarga yang telah memberi dukungan dan doa dalam menjalani studi ini.
5. Kedua responden saya yang sudah meluangkan waktu dalam membantu menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
6. Teman-teman dan pihak lain yang turut berjasa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Penulis sadar bahwa Karya Tulis Ilmiah ini belum mencapai kesempurnaan, sebagai bekal perbaikan, penulis akan berterima kasih apabila para pembaca berkenan memberikan masukan, baik dalam bentuk kritikan maupun saran demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini.
Penulis berharap Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi keperawatan.
Sidoarjo, 28 Juni 2022
Febylah Nurjanah Chafsoh
viii DAFTAR ISI
Sampul Depan ...
Sampul dalam dan prasyarat gelar ...
Surat Pernyataan ... i
Lembar Persetujuan ... ii
Halaman Pengesahan ... iii
Motto ... iv
Persembahan ... v
Kata Pengantar ... vii
Daftar Isi... viii
Daftar Tabel ... x
Daftar Gambar ... xi
Daftar Lampiran ... xii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 3
1.3.1 Tujuan Umum ... 3
1.3.2 Tujuan Khusus ... 3
1.4 Manfaat Studi Kasus ... 4
1.5 Metode Penulisan ... 5
1.5.1 Metode ... 5
1.5.2 Teknik Pengumpulan Data ... 5
1.5.3 Sumber Data ... 5
1.5.4 Studi Kepustakaan ... 6
1.6 Sistematika Penulisan ... 6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA KONSEPTUAL, DAN HIPOTESIS PENELITIAN ... 8
2.1 Konsep Osteoarthritis ... 8
2.2 Konsep Lansia ... 23
2.3 Asuhan Keperawatan Osteoarthritis ... 32
2.3.1 Pengkajian ... 32
2.3.2 Diagnosa Keperawatan ... 37
2.3.3 Intervensi Keperawatan ... 39
2.3.4 Implementasi Keperawatan ... 43
2.3.5 Evaluasi ... 43
2.4 Kerangka Masalah ... 44
BAB 3 TINJAUAN KASUS ... 45
3.1 Pengkajian ... 45
3.2 Analisa Data ... 58
3.3 Diagnosa Keperawatan sesuai dengan Prioritas Masalah ... 60
3.4 Rencana Keperawatan ... 61
3.5 Tindakan Keperawatan ... 64
3.6 Catatan Perkembangan ... 70
3.7 Evaluasi ... 73
ix
BAB 4 PEMBAHASAN ... 76
4.1 Pengkajian ... 76
4.2 Diagnosa Keperawatan ... 78
4.3 Perencanaan ... 79
4.4 Pelaksanaan ... 80
4.5 Evaluasi ... 83
BAB 5 PENUTUP ... 85
5.1 Simpulan ... 86
5.2 Saran ... 86
DAFTAR PUSTAKA ... 88
LAMPIRAN ... 91
x
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Tabel Halaman
Tabel 2.1 Klasifikasi Osteoarthritis berdasarkan Etiologi ... 11
Tabel 2.2 Klasifikasi Osteoarthritis berdasarkan lokasi sendi yang terkena ... 12
Tabel 2.3 Diagnosa Keperawatan ... 38
Tabel 2.4 Intervensi ... 39
Tabel 3.1 Identitas ... 45
Tabel 3.2 Riwayat Kesehatan ... 45
Tabel 3.3 Riwayat Psikososial ... 48
Tabel 3.4 Riwayat Nutrisi dan Cairan ... 49
Tabel 3.5 Indeks KATZ Klien 1 ... 50
Tabel 3.6 Indeks KATZ Klien 2 ... 50
Tabel 3.7 Modifikasi Barthel Indeks Klien 1 ... 51
Tabel 3.8 Modifikasi Barthel Indeks Klien 2 ... 51
Tabel 3.9 Pengkajian SPMSQ Klien 1 ... 52
Tabel 3.10 Pengkajian SPMSQ Klien 2 ... 53
Tabel 3.11 Pemeriksaan Fisik ... 53
Tabel 3.12 Analisa Data ... 58
Tabel 3.13 Daftar Diagnosa Keperawatan sesuai dengan Prioritas Masalah ... 60
Tabel 3.14 Rencana Keperawatan ... 61
Tabel 3.15 Tindakan Keperawatan Klien 1 ... 64
Tabel 3.16 Tindakan Keperawatan Klien 2 ... 67
Tabel 3.17 Catatan Perkembangan Klien 1 ... 70
Tabel 3.18 Catatan Perkembangan Klien 2 ... 71
Tabel 3.19 Evaluasi Klien 1 ... 73
Tabel 3.20 Evaluasi Klien 2 ... 74
xi
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Gambar Halaman
Gambar 2.1 Tulang Rawan ... 8
Gambar 2.2 Perbedaan tulang normal dan osteoarthritis ... 9
Gambar 2.3 Radiologis Grade Osteoarthritis berdasarkan grade Kellgren-Lawrence ... 22
Gambar 2.4 Kerangka Masalah ... 44
Gambar 3.1 Genogram Klien 1 ... 47
Gambar 3.2 Genogram Klien 2 ... 48
Gambar 3.3 Foto Polos Rontgen ... 57
xii
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran Judul Lampiran Halaman
Lampiran 1 Informed Consent ... 91
Lampiran 2 Dokumentasi ... 93
Lampiran Satuan Acara Penyuluhan ... 94
Lampiran Leaflet ... 103
Lampiran Data Riwayat Hidup ... 105
1 BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pada penderita osteoarthritis, tulang rawan sendi telah mengalami penipisan yang menyebabkan permukaan rawan sendi menjadi tidak rata dan bergelombang. Semua sendi pada tubuh dapat dipengaruhi oleh osteoarthritis, tetapi pada bagian bahu, siku, dan pergelangan kaki cenderung tidak terkena osteoarthritis kecuali pada kondisi traumatik. Dari semua sendi yang rentan yaitu sendi pada lutut, atau bisa dikenal dengan sebutan encok lutut. (Yekti, 2017). Osteoarthritis merupakan penyakit dengan gejala nyeri dan kaku pada persendian yang menyebabkan penderita mengalami gangguan pada alat gerak yang mengakibatkan masalah gangguan mobilitas fisik (Hartoyono DKK, 2018) Fenomena yang terjadi di Desa Siwalanpanji yaitu masih banyak masyarakat yang belum bisa atau belum mengetahui macam macam rasa nyeri yang mereka alami, mereka masih beranggapan bahwa nyeri sendi terutama lutut merupakan nyeri dari asam urat (gout athritis) atau karna faktor penurunan usia. (Kader Kesehatan Siwalanpanji, 2021).
Diberbagai masalah kesehatan, gangguan muskuloskeletal menempati urutan kedua yaitu sekitar 14,5% setelah penyakit kardiovaskular dalam desain penyakit kelompok usia lebih dari 55 tahun (ismaningsih & selviani, 2017).
Pada korban Osteoarthritis secara keseluruhan telah mencapai 355 juta orang, diperkirakan akan terus bertambah hingga tahun 2025. Prevalensi osteoarthritis di indonesia mencapai 5% pada usia kurang dari 40 tahun, 30% pada usia 40- 60 tahun, dan 65% pada usia lebih dari 61 tahun. Untuk prevalensinya
1
osteoarthritis lutut cukup tinggi yaitu 15,5% pada pria dan 12,7% pada wanita.
Berdasarkan Tinjauan WHO di Jawa menemukan bahwa osteoartritis menempati posisi pertama, yaitu 49% dari desain penyakit lansia (ismaningsih
& selviani, 2017).
Belum diketahui secara pasti penyebab Osteoarthritis, namun ada beberapa faktor risiko yang dapat memicu terjadinya Osteoarthritis. Faktor risiko dibagi menjadi 2 kelompok yaitu yang dapat dimodifikasi dan tidak dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi yaitu indeks massa tubuh (IMT), diabetes melitus (DM), hiperkolesterolemia, hipertensi, dan merokok.
Sedangkan untuk faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi yaitu usia, jenis kelamin, cacat fisik/imbalance tubuh, riwayat trauma, dan etnis. Osteoarthritis terjadi akibat ketidakrataan tulang rawan sendi dengan disusul ulserasi dan hilangnya tulang rawan sendi sehingga terbentuknya kista subkodral, osteofit di tepi tulang dan respons radang dalam membran synovial. Penebalan membran synovial, regangnya ligament, serta pembengkakan sendi dan kapsul sendi, menyebabkan ketidakstabilan dan deformitas. Otot yang ada di sekitar sendi menjadi tidak berdaya karena emisi sinovial dan mengabaikan pembusukan di satu sisi dan kecocokan otot di sisi lain dan disuse atropi di satu sisi dan kecocokan otot di sisi lain. (Ismaningsih & Selviani, 2018).
Lembaga international, The Osteoarthritis Research Society International (OARSI) melakukan berbagai riset dan evidence based tentang osteoarthritis yang merekomendasikan metode nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri dan disabilitas akibat osteoarthritis lutut yang meliputi program edukasi, pengurangan berat badan, dan program – program latihan
fisik seperti Range og Motion (ROM), latihan regangan otot penyokong sendi, aerobic dengan low impact, patellar tapping, kompres hangat, dan akupuntur (Richmond, 2018). Oleh karena itu, peran perawat pada pasien yang menyandang osteoarthritis mampu sebagai asuhan keperawatan (care giver) untuk membantu penderita yang sedang dalam masa penyembuhan dan pemulihan kesehatannya atau dalam pemulihan penyakit tertentu dengan kebutuhan kesejahteraan klien secara komprehensif meliputi dekat dengan rumah, mendalam, dan sosial.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah asuhan keperawatan pada lansia dengan diagnosa medis osteoarthritis di Desa Siwalanpanji Sidoarjo?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada lansia dengan diagnosa medis osteoarthritis di Desa Siwalanpanji Sidoarjo.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi pengkajian pada lansia dengan diagnosa medis osteoarthritis di Desa Siwalanpanji Sidoarjo
1.3.2.2 Merumuskan diagnosa keperawatan pada lansia dengan diagnosa medis osteoarthritis di Desa Siwalanpanji Sidoarjo
1.3.2.3 Merencanakan tindakan keperawatan pada lansia dengan diagnosa medis osteoarthritis di Desa Siwalanpanji Sidoarjo
1.3.2.4 Melaksanakan tindakan keperawatan pada lansia dengan diagnosa medis osteoarthritis di Desa Siwalanpanji Sidoarjo
1.3.2.5 Mengevaluasi tindakan keperawatan pada lansia dengan diagnosa medis osteoarthritis di Desa Siwalanpanji Sidoarjo
1.3.2.6 Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada lansia dengan diagnosa medis osteoarthritis di Desa Siwalanpanji Sidoarjo
1.4 Manfaat Studi Kasus 1.4.1 Manfaat teoritis
1.4.1.1 Bagi ilmu pengetahuan
Menambah pengalaman baru khususnya dalam pengkajian asuhan keperawatan pada lansia dengan ditemukannya osteoarthritis.
1.4.1.1 Bagi akademik
Untuk menambah tulisan tentang keperawatan yang dapat dimanfaatkan oleh pembaca karya tulis ilmiah ini dalam eksplorasi tambahan yang berhubungan dengan asuhan keperawatan pada lansia dengan kesimpulan osteoarthritis.
1.4.2 Manfaat praktisi 1.4.2.1 Bagi penulis
Untuk menambah wawasan dan pengalaman penulis dalam mempersiapkan, mengumpulkan, dan menginformasikan data hasil asuhan keperawatan yang telah diberikan pada klien lansia osteoarthritis.
1.4.2.1 Bagi klien
Klien mendapatkan pengetahuan tentang pentingnya penerapan senam rematik untuk mengurangi rasa nyeri akibati osteoarthritis.
1.5 Metode Penulisan 1.5.1 Metode
Mengutip dari buku Salim (2019), Penelitian Pendidikan: Metode, Pendekatan, dan Jenis. Metode deskriptif yaitu metode yang sifatnya mengungkapkan beberapa masalah aktual apa adanya saat penelitian berlangsung. Mendeskripsikan peristiwa menulis berkonsentrasi pada ulasan itu, mengumpulkan, dan memeriksa informasi dengan studi pendekatan interaksi keperawatan tanpa memberikan perlakuan khusus terhadap peristiwa tersebut.
1.5.2 Teknik Pengumpulan Data 1.5.2.1 Wawancara
Informasi diambil atau diperoleh melalui diskusi baik dengan klien maupun keluarga.
1.5.2.2 Observasi
Informasi diambil melalui persepsi kepada klien.
1.5.2.3 Pemeriksaan
Menggabungkan penilaian aktual yang dapat menegakkan diagnosa dan perawatan lebih lanjut.
1.5.3 Sumber Data 1.5.3.1 Data Primer
Data printer adalah data yang diperoleh dari klien.
1.5.3.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah informasi yang diperoleh dari keluarga klien atau individu terdekat, catatan klinis petugas medis. Konsekuensi dari penilaian dan kelompok kesejahteraan lainnya.
1.5.4 Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan dikonsentrasikan pada sumber-sumber buku yang berhubungan dengan judul penelitian kontekstual dan isu-isu yang dibicarakan.
1.6 Sistematika Penulisan
Agar lebih jelas dan mudah untuk mempelajari dan memahami analisis kontekstual ini, secara umum dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1.6.1 Bagian awal, memuat halaman judul, surat pernyataan, persetujuan pembimbing, pengesahan, motto, persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar lampiran.
1.6.2 Bagian inti, terdiri dari dua bab, yang masing – masing bab terdiri sub bab berikut ini:
Bab 1 : Pendahuluan, berisi latar belakang masalah, tujuan, manfaat penelitian, sistematika penulisan, penulisan studi kasus
Bab 2 : Tinjauan pustaka, berisi tentang konsep penyakit dari sudut medis dan asuhan keperawatan klien dengan diagnosa osteoarthritis serta kerangka masalah
Bab 3 : Tinjauan kasus, berisi tentang deskripsi data hasil pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
Bab 4 : Pembahasan, berisi tentang perbandingan antara teori dengan kenyataan yang ada dilapangan
Bab 5 : Penutup, berisi tentang simpulan dan saran 1.6.3 Bagian akhir, terdiri dari daftar pustaka dan lampiran.
8 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab kedua ini akan dijelaskan secara hipotetis tentang ide dan asuhan keperawatan pada pasien dengan osteoarthritis. Ide dasar penyakit akan digambarkan mengenai definisi, etiologi, dan pengobatan klinis. Asuhan keperawatan akan menggambarkan masalah yang akan muncul pada osteoarthritis dengan melakukan asuhan keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
2.1. Konsep Osteoarthritis 2.1.1 Definisi
Osteoarthritis berasal dari bahasa yunani yaitu osteo (tulang), arthro (sendi), dan itis (inflamasi). Osteoarthritis yaitu penyakit sendi menahun yang ditandai dengan anomali pada ligamen sendi dan tulang sekitarnya.
Gambar 2.1 Tulang Rawan (Suhaimin, 2019)
Kartilago yaitu bagian sendi yang melapisi ujung tulang, yang bertugas untuk memudahkan pergerakan pada sendi. Jika pada kartilago sendiri mengalami kerusakan maka akan mengakibatkan tulang bergesek satu sama lain dan menimbulkan gejala kekakuan, nyeri serta pembatasan dalam gerak sendi yang bisa mengakibatkan gangguan mobilitas fisik
8
(Ismaningsih dan Selviani, 2018). Osteoarthritis yaitu penyakit dengan perkembangan slow progressive dengan ditandai adanya perubahan biokimia, metabolik, struktur tulang rawan sendi serta jaringan disekitarnya. Kelainan utamanya yaitu penebalan pada tulang subkondral, pertumbuhan osteofit, kerusakan ligament dan peradangan ringan pada sinovium sehingga sendi yang bersangkutan menimbulakan effusi.
Gambar 2.2 Perbedaan tulang normal dan osteoarthritis (Susanti &
Wahyuningrum, n.d.)
Osteoarthritis termasuk penyakit artritis kronis, yang paling banyak ditemui dengan faktor risiko. Penyakit sendi ini paling sering terjadi pada usia dewasa hingga usia lanjut di seluruh dunia. Osteoarthritis dapat menyerang di sendi pergelangan tangan, tulang belakang, namun lebih ditemukan di area lutut dan panggul (Tracey, 2016). Osteoarthritis sering terjadi di usia lebih dari 61 tahun, dan lebih banyak menyerang lutut yaitu 6,13% pada pria dan 8,46% pada wanita (Riskesdas, 2018). Banyak masyarakat yang beranggapan jika osteoarthritis ini merupakan penyakit degeneratif, namun untuk saat ini sudah tidak lagi.
Sekalipun usia menjadi salah satu dari faktor risiko timbulnya osteoarthritis, usia dia atas 65 tahun hanya sekitar 50% menunjukkan gambaran radiologis sesuai osteoarthritis. Meskipun hanya 10% laki-laki dan 18% perempuan diantaranya yang menujukkan gejala klinik gambaran
osteoarthritis, dan sekitar 10% yang mengalami disabilitas karena osteoarthritis nya (Perhimpunan Reumatologi indonesia, 2014).
2.1.2 Klasifikasi Osteoarthritis
Klasifikasi osteoarthritis dibagi menjadi dua kelompok, yaitu (Soeroso et al., 2014):
2.1.2.1 Osteoarthritis primer: Osteoarthritis yang tidak mempunyai hubungan pada penyakit dasar lainnya atau perubahan yang terjadi pada persendian, Osteoarthritis primer lebih sering dijumpai dibandingkan dengan osteoarthritis sekunder.
2.1.2.2 Osteoarthritis sekunder: Osteoarthritis disertai dengan masalah mendasar seperti siklus provokatif, masalah endokrin, masalah metabolisme, keturunan, perkembangan, cedera skala penuh miniatur, dan imobilisasi tertunda.
Tabel 2.1 Klasifikasi Osteoarthritis berdasarkan Etiologi Sumber : (Perhimpunan Reumatologi indonesia, 2014)
Metabolik Kelainan Anatomi / Struktur Sendi
Trauma Inflamasi 1. Artritis
kristal (Gout, speudogout) 2. Acromegaly 3. Ochronosis
(alkaptonuri a)
4. Hemochrom atosis 5. Wilson
disease
1. Slipped femoral epiphysis 2. Epiphyseal
dysplasia 3. Blount’s disease 4. Legg-Perthe
disease
5. Congenital coxal dislocation 6. Panjang tungkai
tidak sama 7. Valgus/varus
deformity 8. Sindroma
hypermobility
1. Trauma sendi mayor
2. Fraktur pada sendi atau osteonecrosis 3. Bedah tulang
(eg:
meniscectomy) 4. Jejas kronik
(occupational arthropathy/te rkait
pekerjaan), beban mekanik kronik (obesity)
1. Semua artropati inflamasi 2. Artritis septik
Tabel 2.2 Klasifikasi Osteoarthritis berdasarkan lokasi sendi yang terkena Sumber : (Perhimpunan Reumatologi indonesia, 2014)
Osteoarthritis Tangan
1. Heberden dan Bouchard nodes (nodal) 2. Interphalangeal erosive arthritis 3. Carpal metacarpal I
Osteoarthritis Lutut
1. Bony enlargement 2. Genu valgus 3. Genu varus Osteoarthritis Kaki
1. Haluks valgus 2. Haluks rigidus
3. Jari kontraktur (hammer/cock up toes) 4. Talonaviculare
Osteoarthritis Koksa (Panggul)
1. Eksentrik (superior)
2. Konsentrik (axillary, medial) 3. Diffuse (koksa senilis)
Osteoarthritis Vertebra
1. Sendi apofiseal 2. Sendi intervertebral 3. Spondilosis (osteophytes)
4. Ligamentum (hyperostosis, penyakit Forestier, diffuse idiopathic skeletal hyperostosis; DISH)
Osteoarthritis di tempat lainnya
1. Glenohumeral 2. Acromioclavicular 3. Tibiotalar
4. Sacroiliac
5. Temporomandibular Osteoarthritis
generalisata/sistemik Meliputi tiga atau lebih daerah yang tersebut di atas 2.1.3 Etiologi
Seiring bertambahnya usia, terjadi penurunan jumlah kolagen dan kadar air yang terjadi karena perubahan fisik dan biokimia tubuh. Salah satu penyebab osteoarthritis yaitu faktor obesitas, karena akan menambah beban sendi penopang berat badan. Sebaliknya, nyeri atau cacat yang disebabkan oleh osteoarthritis bisa mempengaruhi mobilitas fisik dan dapat menambah kegemukan (Hadi, 2016).
.
Faktor – faktor predisposisi Osteoarthritis menurut (Fernanda, 2018):
2.1.3.1 Bertambahnya Usia
Biasanya osteoarthritis terjadi pada lanjut usia, sedikit sekali ditemukan penderita osteoarthritis dibawah 40 tahun seringnya terjadi di atas 60 tahun.
2.1.3.2 Jenis Kelamin
Perempuan lebih sering terkena osteoarthritis di lutut dan sendi, sedangkan laki–laki di paha, pergelangan tangan dan leher. Frekuensi osteoarthritis sering terjadi pada perempuan hal ini karena adanya hormonal pada patogenesis osteoarthritis. .
2.1.3.3 Genetik
Dari faktor herediter juga memiliki peran timbulnya osteoarthritis seperti contoh ibu dari anak perempuan dengan osteoarthritis sendi – sendi interfalang distal cenderung bisa dua – tiga kali lipat anak perempuan tersebut terkena osteoarthritis dari pada ibu dari anak perempuan tanpa osteoarthritis.
2.1.3.4 Suku
Terkenanya osteoarthritis ini nampak ada perbedaan diantara masing- masing suku bangsa, seperti contoh osteoarthritis paha sangat sedikit sekali terjadi pada orang-orang kulit hitam dan Asia dari pada caucasian.
osteoarthritis sering terjadi pada orang - orang asli Amerika dari pada orang yang berkulit putih. Pengaruh dari perbedaan gaya hidup maupun frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan ini bisa jadi penyebab perbedaannya.
2.1.3.5 Obesitas
Berat badan berlebihan juga sangat berpengaruh terhadap risiko timbulnya osteoarthritis baik wanita maupun pria. Setiap penambahan kilogram (kg) berat badan atau masa tubuh dapat menambah beban lutut sekitar 4 kg.
Obesitas tak hanya memberikan dampak pada sendi lutut yang membawa beban namun bisa terjadi pada sendi lainnya seperti tangan atau sternoklavikula. Obesitas dibedakan menjadi tiga yaitu:
1) Obesitas berat: IMT lebih dari 27 kg/m2 2) Obesitas ringan: IMT 25-27 kg/m2
3) Tidak obesitas: IMT kurang dari 25 kg/m2 2.1.3.6 Riwayat trauma
Luka pada persendian, khususnya persendian yang menahan beban, misalnya persendian lutut berisiko tinggi terkena osteoartritis, hal ini disebabkan oleh cedera lutut yang parah mengingat robekan pada tendon cruciatum dan meniskus yang menyebabkan osteoarthritis lutut.
2.1.3.7 Pekerjaan dengan beban berat
Bekerja dengan timbunan yang memiliki berat normal 24,2 kg dan masa kerja lebih dari 10 tahun merupakan faktor pertaruhan osteoartritis lutut.
Orang yang mengangkat beban sekitar 25 kg pada usia 43 tahun berisiko terkena osteoarthritis dan meningkat tajam pada usia di atas 50 tahun.
2.1.3.8 Penyakit lain
Diabetes mellitus (DM), hipertensi dan hiperurikemia terbukti berhubungan dengan osteoarthritis lutut dengan catatan penderita tidak mengalami obesitas.
2.1.3.9 Osteoporosis
Osteoporosis yaitu salah satu faktor resiko penyebab osteoarthritis. Alkohol termasuk salah satu dari penyebab osteoporosis, sehingga semakin banyak orang yang mengkonsumsi alkohol maka semakin banyak orang yang terkena osteoporosis dan akan menyebabkan osteoarthritis.
2.1.3.10 Faktor gaya hidup
Kebiasaan merokok, sudah banyak peneliti yang memaparkan bahwa ada hubungan positif antara merokok dapat memperluas zat racun dalam darah dan membunuh jaringan karena kekurangan oksigen yang memungkinkan kerusakan pada sel-sel ligamen dan ligamen sendi. Hubungan antar keduanya pada osteoarthritis dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Merokok mampu meningkatkan tekanan oksidan serta mempengaruhi hilangnya tulang rawan.
2) Merokok mampu meningkatkan kandungan karbonmonoksida di dalam darah, menyebabkan jaringan kekurangan oksigen serta dapat menghambat pembentukan tulang rawan (kartilago).
3) Merokok mampu merusak sel serta menghambat proliferasi sel tulang rawan sendi.
2.1.4 Manifestasi Klinis
Efek samping paling terkenal yang dialami pada kasus osteoarthritis adalah krepitasi. Pada tahap pengembangan lebih lanjut, ada pembesaran sendi yang seimbang, distorsi, dan desain langkah yang tidak biasa (Rifhan, 2011). Tanda gejala dari osteoarthritis meliputi rasa nyeri pada sendi yang merupakan bentuk primer pada osteoarthritis, nyeri akan lebih terasa saat
melakukan aktivitas fisik dan saat melakukan kegiatan terlalu lama serta akan berkurang rasa nyerinya saat istirahat (Purwanto, 2016). Tanda dan gejala osteoarthritis yaitu:
2.1.4.1 Nyeri
Nyeri yang semakin lama akan muncul dan bertambah saat bergerak dan istirahat (Sinusas, 2012). Menurut (Abdurrachman et al., 2019), nyeri terjadi pada sendi lutut dapat memburuk oleh gerakan, weight bearing dan jalan.
2.1.4.2 Stiffness (Kekakuan)
Menurut (Sinusas, 2012), osteoarthritis lutut memiliki gejala yang khas dan sering dijumpai yaitu stiffness atau kekauan yang terjadi setiap pagi selama 30 menit dan sekitar waktu malam sebelum tidur. Sedangkan menurut (Abdurrachman et al., 2019), gejala yang sering ditemukan yaitu terjadinya kesulitan atau kekakuan saat memulai gerakan terutama ligamentum, kapsul, otot dan permukaan sendi.
2.1.4.3 Krepitasi
Menurut (Abdurrachman et al., 2019), ini disebabkan oleh permukaan sendi yang kasar karena degredasi dan rawan sendi.
2.1.4.4 Joint Unstable (Sendi tidak stabil)
Keluhan pasien yang sangat umum yaitu Joint Unstable, bisa jadi akibat patologi yang terjadi sehingga mengganggu pergerakkan sendi (Sinusas, 2012). Berkurangnya kekuatan otot disekitar sendi lutut yang mencapai satu pertiga dari kekuatan otot yang normal dan juga kendornya ligamentum sekitar sendi (Abdurrachman et al., 2019).
2.1.4.5 Deformitas
Menurut (Fernanda, 2018), distruksi kartilago, tulang dan jaringan lunak sekitar sendi merupakan penyebab terjadinya osteoarthritis yang paling berat. Kerusakan kopartemen medial dan kendornya ligamentum akan terjadi deformitas varus.
2.1.4.6 Kelemahan Otot
Kelamahan otot tidak termasuk bagian dari osteoarthritis, kekuatan isometric dari otot merupakan factor yang berperan pada osteoarthritis.
Otrofi otot dapat ditimbulkan bersama effusi sendi, sedangkan gangguan gait (gaya berjalan tidak normal) merupakan manifestasi awal dari osteoarthritis yang menyerang sendi penopang berat badan (Fernanda, 2018).
2.1.4.7 Keterbatasan Lingkup Gerak Sendi
Menurut (Abdurrachman et al., 2019), keterbatasannya lingkup gerak sendi diakibatkan oleh timbulnya osteophyte, penebalan kapsuler, muscle spasme serta nyeri yang membuat pasien tidak lagi melakukan gerakan secara maksimal sampai normal, sehingga dalam beberapa waktu tertentu mengakibatkan keterbatasan lingkup gerak sendi. Keterbatasan dalam gerak biasanya bersifat pola capsuler yaitu gerakan fleksi lebih terbatas dari pada gerakan ekstensi.
2.1.5 Patofisiologis
Patofisiologi osteoarthritis menggabungkan campuran kerangka mekanik, sel, dan biomekanik di mana hubungan antara siklus ini mendorong perubahan dalam penciptaan dan sifat mekanik ligamen
artikular (Arya & Jain, 2013). Perluasan sendi, penebalan membrane synovial dan perpanjangan tendon menyebabkan ketidakstabilan dan kerusakan. Otot – otot di sekitar sendi menjadi lemah karena radiasi synovial dan pembusukan di satu sisi dan spasme otot di sisi lain.
Menurut (Felson & Schaible, 2010), faktor pencetus nyeri sendi salah satunya yaitu osteoarthritis, sejak nyeri sendi merupakan keluhan utama yang muncul pada pasien dengan osteoarthritis. Menurut (Suriani &
Lesmana, 2013), Perubahan biomekanik yang diikuti oleh kimia organik di mana masalah pencernaan kondrosit karena susunan katalis metaloproteinase yang menahan proteoglikan dan kolagen. Meingkatnya aktivitas subtamine P sehingga menaikkan nociceptor dan mengakibatkan nyeri. Ada beberapa fase pada penyakit osteoarthritis yang dapat berkembang, yaitu:
2.1.5.1 Fase Pertama
Akan terjadi disintegrasi proteolitik pada lapisan ligamen. Pencernaan kondrosit dipengaruhi dan membangun pengembangan senyawa metaloproteinase, yang kemudian dilenyapkan di lapisan ligamen.
Kondrosit menghasilkan inhibitor protease dan mempengaruhi proteolisis yang dapat menyebabkan ligamen berkurang. .
2.1.5.2 Fase Kedua
Tahap selanjutnya termasuk fibrilasi dan disintegrasi permukaan ligamen, bergabung dengan kedatangan proteoglikan dan potongan kolagen ke dalam cairan sinovial.
2.1.5.3 Fase Ketiga
Kerusakan item ligamen mendorong reaksi provokatif di sinovial. Makrofag sinovial, misalnya metalloproteinase, growth corruption factor-alpha (TNF- a), dan interleukin one diperluas. Kondisi ini menyebabkan kerusakan ligamen dan perubahan susunan sendi serta mempengaruhi perkembangan tulang karena kepadatan sendi. Perubahan perkembangan sendi dan tekanan berapi-api mempengaruhi permukaan artikular menjadi masalah prognostik (Helmi, 2012).
2.1.6 Komplikasi Osteoarthritis
Ketidaknyamanan yang muncul bergantung pada area sendi yang mengalami osteoarthritis dan bagaimana teknik perkembangannya terjadi selama perawatan. Sebagian dari ketidaknyamanan yang disebabkan oleh patologi yang berbeda adalah osteofit, emanasi sinovial, dan degenerasi jaringan di sekitar sendi. Penghancuran sendi osteoarthritis dapat menyebabkan varus atau valgus. Deskontinuitas permukaan sendi yang berbentuk berupa debris pada kavum synovial atau badan osteokondral yang melekat pada permukaan sendi pertama. Di sendi lutut, radiasi synovial dapat menyebabkan luka spesialis di fossa poplitea (Perhimpunan Reumatologi indonesia, 2014). Sementara itu menurut (Bakara, 2016), kelemahan fleksibilitas dapat menyebabkan keterikatan, khususnya hipotensi ortostatik, ketidakteraturan tonus, apoplexy vena yang dalam dan kontraktur.
2.1.7 Pemeriksaan Penunjang
Belum ada pemeriksaan penunjang khusus seperti pemeriksaan darah untuk mendiagnosis osteoarthritis, pemeriksaan darah dapat menyisihkan diagnosis lain dan monitor terapi. Pemeriksaan radiologi dilakukan agar klasifikasi diagnosis atau mendapatkan rujukan ke ortopedi, namun pemeriksaan tersebut tidak berhubungan langsung dengan tanda klinis yang timbul. Hasil foto rontgen sendi yang mendukung dalam penegakan diagnosis osteoarthritis yaitu: Pembatasan ruang sendi yang sering hilter kilter (lebih berat pada bagian bantalan timbunan), meluasnya ketebalan tulang subkondral (sklerosis), bone acne, osteofit pada tepi sendi, dan perubahan konstruksi fisik sendi (Bararah & Aceh, 2016).
Pemeriksaan pada osteoarthritis adalah x-ray yang menunjukkan penurunan dinamis massa ligamen sendi sebagai pembatas rongga sendi. Uji serologi dan cairan sinovial (untuk menentukan penyebab nyeri apakah gout atau infeksi) (Purwanto, 2016). Foto rontgen yang diambil setiap saat dapat memperlihatkan hilangnya kartilago dan menyempitnya rongga sendi.
Pemeriksaan sinar-x menunjukkan abnormalitas kartilago, erosi sendi, pertumbuhan tulang yang abnormal dan osteopenia (mineralisasi tulang menurun) (Fernanda, 2018).
2.1.8 Penatalaksanaan
Prosedur penatalaksanaan klien dan pilihan jenis pengobatan ditentukan oleh letak sendi yang terkena osteoarthritis, sesuai dengan karakter masing – masing serta keperluannya. Penatalaksanaan osteoarthritis umumnya bersifat simptomatik yang terfokus di beberapa hal,
yaitu memperhambat lajunya penyakit, meninjau beberapa gejala yang muncul, dan menaikan kualitas hidup penderita. Penatalaksanaan osteoarthritis dibedakan menjadi tiga macam, yaitu secara farmakologis, nonfarmakologis, dan prosedur medis atau operasi (Sinusas, 2012) :
2.1.8.1 Farmakologis
Terapi farmakologis yang diberikan yaitu NSAID, naproxen, acetaminophen, axaprozin, sulindac, meloxicam, diclofenac, n nabumatone dan celebrax (Sinusas, 2012).
2.1.8.2 Non-farmakologis
Pengobatan nonfarmakologis untuk osteoarthritis dapat menggunakan modalitas atau latihan yang berbeda. Modalitas perbaikan yang sering digunakan yaitu infrared, ultrasound, SWD, dan, MWD.
American Collage of Reumatology (ACR) dalam hip and knee osteoarthritis Treatment tahun 2012 menyarankan, pengobatan nonfarmakologis untuk osteoarthritis lutut khususnya hydrotherapy exercise, aerobic exercise, strengthening exercise, dan pengurangan berat badan (Nejati et al., 2014).
2.1.8.3 Operasi Pembedahan
Tindakan medis merupakan pilihan terakhir dalam hal kondisi pasien tidak efektif diberikan terapi farmakologis atau nonfarmakologis. Total knee replacement adalah operasi pembedahan pada pasien osteoarthritis di sendi lutut. Sedangkan penatalaksanaan menurut (Nurarif & Kusuma, 2015) terapi lain juga sangat penting yaitu terapi fisik maupun rehab. Penderita osteoarthritis bisa mengalami kesusahan berjalan akibat rasa sakit, tapi ini dilakukan agar melatih pasien supaya persendiannya masih bisa digunakan
dan melatih penderita untuk memproteksi sendi yang sakit. Terapi yang dimaksud adalah latihan Range Of Motion (ROM) yang dapat dilakukan perawat kepada penderita osteoarthritis.
Terapi konservatif meliputi kompres hangat, mengistirahatkan sendi, pemakaian alat – alat ortotik untuk menyangga sendi yang mengalami inflamasi. Penurunan berat badan juga termasuk dalam penatalaksanaan penderita osteoarthritis. berat badan yang berlebihan adalah variabel yang mengiritasi osteoarthritis. Dengan cara ini, berat badan harus dijaga agar tidak terlalu tinggi dan upaya dilakukan untuk mendapatkan bentuk untuk orang – orang yang sekarang gemuk.
2.1.9 Derajat Osteoarthritis Kellgren- Lawrence
Keseriusan Osteoarthritis disurvei dari skala peringkat Kellgren- Lawrence (K-L system). K-L system adalah perangkat evaluasi yang digunakan untuk mensurvei keseriusan osteoarthritis lutut pada X-Ray.
Skala tinjauan Kellgren-Lawrence, Osteoarthritis dipartisi menjadi lima fase:
Gambar 2.3 Radiologis Grade Osteoarthritis berdasarkan grade Kellgren- Lawrence (Kohn et al., 2016)
2.1.9.1 KL 0
Sendi pada tahap ini dapat dianggap dalam klasifikasi yang khas, sendi tidak memberikan indikasi osteoartritis. Serta diharapkan penggunaan bersama dan tanpa masalah siksaan.
2.1.9.2 KL 1
Pada tahap ini bisa dibilang tahap awal dari munculnya osteoarthritis, tahap satu ini awal terjadi pembentukan osteofit yang merupakan tumbuhnya tulang yang terjadi di sendi atau bisa dikatkan dengan ‘spurs’.
2.1.9.3 KL 2
Tahap ini masih diklasifikasikan sebagai tahap ringan osteoarthritis. Ada pembatasan ruang sendi sedang dan sklerosis subkondral sedang.
2.1.9.4 KL 3
Lebih dari 50% tahap ini terjadi restriksi sendi, penyesuaian kondilus femoralis, sklerosis subkondral yang luas, perkembangan osteofit yang luas.
2.1.9.5 KL 4
Di tahap ini derajat osteoarthritis sudah termasuk kategori berat. Pada tahap ini, pasien akan merasakan nyeri dan ketidaknyamanan saat berjalan. Akan ada penghancuran sendi, hilangnya ruang sendi, luka subkondral pada titik tertinggi tibia dan pada kondilus femoralis.
(Joern, 2010).
2.2. Konsep Lansia 2.2.1. Definisi
Lansia merupakan fase akhir dalam siklus kehidupan manusia (Syamsuddin Ericha, n.d.). Seseorang dikatakan lansia bukan langsung menjadi lansia,
ada proses tahapan seseorang hingga mencapai lansia yaitu pertumbuhan dari bayi, anak–anak, remaja, dewasa, dan akhirnya menjadi tua. Lansia menjadi proses alami yang diiringi dengan perubahan fisik dan perilaku dimana mengalami penurunan fisik, mental dan social secara perlahan (Artinawati, 2014).
Data WHO tahun 2016 menyatakan lansia berjumlah 7,49% dari total populasi, tahun 2016 jadi 7,69% dan tahun 2018 diperoleh rasio lansia sebesar 8,1% dari total populasi. kejadian peningkatan jumlah penduduk lansia dikarenakan perbaikan status kesehatan sebab kecanggihan teknologi dan beberapa penelitian kedokteran, perbaikan status gizi, peningkatan pendapatan jiwa (Fatma, n.d.).
4.2.1. Klasifikasi Lansia
Lansia yaitu seseorang yang berusia 60 tahun ke atas (Saifudin, 2018). Menurut organisasi kesehatan dunia (Nugroho, n.d.) siklus hidup lansia yaitu:
2.2.2.1 Usia pertengahan (middle age), kelompok usia 49 – 59 tahun.
2.2.2.2 Lanjut usia (elderly), kelompok usia 60 – 74 tahun.
2.2.2.3 Lanjut usia (old), kelompok usia 75 – 90 tahun.
2.2.2.4 Lanjut sangat tua (very old), kelompok usia >90 tahun.
5.2.1. Ciri – Ciri Lansia
Menurut (Kemenkes, 2016), ciri – ciri lansia yaitu : 2.2.3.1 Lansia melambangkan fase kemunduran
Kemunduran lansia muncul dari variabel aktual dan faktor mental sehingga inspirasi memiliki peran penting dalam kejatuhan yang lama.
Misalnya, semakin tua kurang inspirasi dalam melakukan latihan, maka akan mempercepat masa keruntuhan yang sebenarnya, namun ada juga lansia yang memiliki inspirasi yang kuat, maka pada saat itu penurunan yang sebenarnya akan terjadi lebih lama.
2.2.3.2 Lansia mempunyai status komunitas minoritas
Keadaan sekarang ini menjadi penyebab kurang baiknya perilaku sosial terhadap yang lama dan didukung oleh kesimpulan-kesimpulan yang menyusahkan, misalnya lansia yang suka mengejar gaji, sikap sosial di mata masyarakat menjadi pesimis, namun ada juga lansia. individu yang memiliki kapasitas untuk menanggung orang lain sehingga cara berperilaku sosial daerah setempat menjadi positif.
2.2.3.3 Menua memerlukan perubahan karakter
Perubahan karakter pada orang lansia seharusnya dilakukan berdasarkan harapan mereka sendiri, bukan ketegangan dari iklim. Misalnya, lansia memiliki status sosial secara lokal sebagai ketua RW, daerah setempat tidak boleh menggulingkan lansia sebagai ketua RW mengingat usia mereka.
2.2.3.4 Adaptasi yang buruk pada lansia
Perspektif yang buruk pada lansia membuat mereka akan sering mengembangkan ide diri yang buruk sehingga mereka dapat menunjukkan cara berperilaku yang buruk. Efek dari mentalitas yang mengerikan ini membuat transformasi lansia menjadi mengerikan juga. Misalnya, orang tua yang tinggal bersama keluarga sering kali dikecualikan dari menentukan pilihan karena mereka menganggap pandangan mereka sudah ketinggalan
zaman, kondisi ini membuat orang tua keluar dari iklim, cepat tersinggung dan bahkan memiliki kepercayaan diri yang rendah.
5.2.2. Transisi Lansia
Dengan bertambahnya usia, terjadi proses pendewasaan degeneratif yang akan mempengaruhi perubahan pada manusia, perubahan aktual, tetapi juga pada perasaan, mental, sosial dan seksual. (Azizah, 2011).
2.2.4.1 Perubahan Fisik 1) Sistem Indera
Sistem pendengaran : Prebiacusis (ketidakberuntungan mendengar) karena hilangnya kapasitas pendengaran di telinga bagian dalam, terutama terhadap suara atau suara yang tajam, suara yang kabur, kata – kata yang sulit dipahami, setengahnya terjadi pada individu diatas 60 tahun.
2) Sistem Integumen
Kulit lansia akan mengalami pembusukan, bebas, tidak elastis, kering dan berkerut parah. Kulit akan mengering sehingga menjadi sedikit dan berantakan. Kekeringan kulit disebabkan oleh pembusukan organ sebaceous dan organ sudoritera, adanya warna tanah pada kulit dikenal sebagai bintik-bintik hati.
3) Sistem Muskuloskeletal
Perubahan sistem muskuloskeletal pada lansia meliputi jaringan orang tengah (kolagen dan elastin), tulang, otot, ligamen, dan sendi.
Kolagen sebagai penopang utama kulit, ligamen, ligamen, dan jaringan ikat mengalami substitusi sebagai peregangan yang tidak terduga.
(1) Ligamen: Jaringan ligamen pada persendian ternyata halus dan mengalami granulasi, sehingga permukaan persendian menjadi rata. Kekuatan ligamen untuk pulih terkuras dan degenerasi yang terjadi pada umumnya akan bersifat sedang, akibatnya ligamen pada persendian menjadi tidak berdaya melawan kontak.
(2) Tulang : Bagian dari penuaan fisiologi dicap dengan berkurangnya kepadatan tulang, sehingga akan memicu osteoporosis dan jika berkepajangan akan berakibat nyeri, deformitas dan fraktur.
(3) Otot: Perubahan susunan otot dalam pematangan sangat berbeda, penyusutan jumlah dan ukuran filamen otot, perluasan jaringan ikat dan jaringan lemak di otot membuat konsekuensi yang merugikan.
(4) Sendi: Di masa tua, jaringan ikat di sekitar sendi, misalnya, ligamen, tendon, dan selempang mengalami adaptasi yang matang.
4) Sistem Kasdiovaskuler
Perubahan sistem kardiovaskular pada lansia, khususnya, peningkatan massa jantung, hipertropi ventrikel kiri sehingga perluasan jantung berkurang, keadaan ini terjadi sebagai akibat dari penyesuaian jaringan ikat. Perubahan ini diharapkan terjadi agregasi lipofusin, karakterisasi SA Hub dan perubahan jaringan konduksi menjadi jaringan ikat.
5) Sistem Respirasi
Sistem pematangan berubah menjadi penyesuaian jaringan ikat paru-paru, batas paru-paru lengkap tetap, tetapi paru-paru menyimpan peningkatan volume untuk menebus ekspansi di ruang paru-paru, aliran udara ke paru-paru berkurang. Perubahan pada otot, ligamen dan sendi dada membuat perkembangan pernafasan terhambat dan kemampuan untuk memanjangkan dada menjadi menurun.
6) Pencernaan dan Metabolisme
Perubahan-perubahan yang terjadi pada sistem yang berhubungan dengan lambung, misalnya, penurunan produksi sebagai kehilangan kemampuan yang nyata karena kekurangan gigi, berkurangnya rasa perasa, berkurangnya rasa lapar, berkurangnya hati dan berkurangnya ruang ekstra, serta berkurangnya aliran darah.
7) Sistem Perkemihan
Dalam kerangka kemih, ada kontras yang luar biasa. Banyak kemampuan menurun, misalnya kecepatan filtrasi, pelepasan, dan reabsorpsi oleh ginjal.
8) Sistem Saraf
Sistem sensorik mengalami perubahan anatomi dan pembusukan moderat pada untaian saraf yang lama. Semakin tua mengalami penurunan koordinasi dan kapasitas untuk menyelesaikan latihan sehari- hari
9) Sistem Reproduksi
Perkembangan ini digambarkan dengan membatasi ovarium dan rahim. Pembusukan payudara terjadi. Pada pria, testis benar-benar menghasilkan spermatozoa, meskipun terjadi penurunan terus-menerus.
2.2.4.2 Perubahan Kognitif 1) Daya ingat (Memory)
2) Tingkat kecerdasan (Intellegent Quetient) 3) Kemampuan Belajar (Learning)
4) Kemampuan Pemahaman (Comprehension) 5) Pemecahan Masalah (Problem Solving) 6) Pengambilan Keputusan (Decision Making) 7) Kelihaian (Wisdom)
8) Kinerja (Performance) 9) Motivasi (Motivation) 2.2.4.3 Perubahan Mental
Faktor yang mempengaruhi perubahan mental : 1) Perubahan aktual, terutama reseptor
2) Kesejahteraan umum 3) Tingkat pendidikan 4) Keturunan (Hereditas) 5) Lingkungan
6) Gangguan syaraf panca indera, defisiensi visual dan tuli muncul 7) Gagasan diri terhambat karena kehilangan posisi
8) Pengaturan kemalangan, misalnya kehilangan hubungan dengan orang yang dicintai
9) Hilangnya kekuatan dan kekokohan aktual, perubahan potret diri mental, perubahan ide diri. Perubahan dunia lain dalam agama atau keyakinan semakin terkoordinasi dalam kehidupan yang ketat, ini harus terlihat dalam penalaran dan tindakan sehari –hari.
2.2.4.4 Perubahan Psikososial 1) Kesepian
Terjadi ketika pasangan hidup atau teman dekat meninggal, terutama jika lansia mengalami penurunan kesejahteraan, seperti mengalami penyakit serius yang serius, kelemahan fleksibilitas atau cacat fisik, terutama pendengaran.
2) Duka cita (Bereavement)
Kematian belahan jiwa, pendamping tersayang, atau bahkan hewan peliharaan dapat mengurangi perlindungan jiwa yang umumnya lembut pada lansia. Ini dapat memicu masalah fisik dan medis.
3) Depresi
Melanjutkan dengan melankolis membuat sensasi kekosongan, diikuti oleh keinginan untuk menangis dan masuk ke episode yang memberatkan. Kesengsaraan juga dapat disebabkan oleh tekanan ekologis dan berkurangnya keserbagunaan.
4) Gangguan cemas
Dibagi menjadi beberapa kategori: fobia, panik, gangguan kecemasan umum, gangguan stres pasca trauma dan gangguan obsesif
kompulsif, gangguan ini menetap di masa dewasa muda dan berhubungan dengan efek sekunder penyakit medis, depresi, efek samping obat, atau gejala tiba-tiba. penarikan diri dari suatu penyakit.
5) Parafrenia
Suatu bentuk skizofrenia pada lansia, yang ditunjukkan dengan waham, lansia sering merasa bahwa tetangganya mengambil barang miliknya atau berniat membunuhnya. Biasanya terjadi pada lansia yang terisolir atau terisolasi atau menarik diri dari kegiatan sosial.
6) Sindroma Diogenes
Sebuah gangguan di mana orang tua menunjukkan perilaku yang sangat mengganggu. Rumah atau kamar kotor dan bau karena orang tua bermain dengan kotoran dan air kencingnya, sering menumpuk barang tidak teratur. Bahkan setelah dibersihkan, situasi ini bisa terjadi lagi.
2.2.5 Tujuan Pelayanan Kesehatan pada Lansia
Tujuan penyelenggaraan kesejahteraan lanjut usia, terdiri dari:
2.2.5.1 Menjaga status kesejahteraan lansia dengan tingkat yang paling tinggi, untuk menghindari infeksi atau pengaruh yang meresahkan
2.2.5.2 Sangat fokus pada penyakit dengan latihan fisik dan mental
2.2.5.3 Carilah tenaga sebanyak yang diharapkan dengan tujuan bahwa lansia yang mengalami efek buruk dari penyakit atau kebingungan dapat tetap mempertahankan kebebasan ideal.
2.2.5.4 Ikut serta memberikan bantuan moral dan bantuan kepada lansia yang berada di tahap terminal sehingga lansia dapat menghadapi kematian dengan tenang dan dengan kemuliaan. Kemampuan administrasi dapat
diselesaikan di tempat bansos yang lama, fokus data bansos yang lama, dan fokus peningkatan bansos yang lama serta penguatan komunitas yang lama.
2.3 Asuhan Keperawatan Osteoartritis 2.3.1 Pengkajian
Sumber data pengkajian yang dilakukan pada pasien dengan osteoarthritis meliputi :
2.3.1.1 Identitas klien
Mengetahui nama klien, usia yang memberikan panduan sehubungan dengan variabel kecenderungan infeksi. Osteoarthritis jarang dijumpai usia dibawah 40 tahun, seringnya pada umur 60 tahun keatas serta yang paling banyak tekena yaitu perempuan daripada laki – laki. Ada perbedaan diantara masing – masing suku bangsa, orang – orang yang berkulit hitam dan Asia jarang sekali terkena penyakit osteoarthritis dari pada orang asli Amerika yang berkulit putih. Selain itu juga bisa mempengaruhi seseoran mengetahui faktor pekerjaan yang diharuskan untuk mengangkat beban juga bisa menyebabkan nyeri dan menjadi pemicu munculnya osteoarthritis (Debora, 2012).
2.3.1.2 Riwayat kesehatan 1) Keluhan utama
Penderita osteoarthritis adalah nyeri sendi. Di riwayat kesehatan sekaran, kebanyakan pasien mengeluh nyeri saat bergerak dan merasa kaku di persendian.
2) Riwayat kesehatan saat ini
Berupa paparan mengenai penyakit yang diderita oleh klien dari ulai timbulnya keluhan yang dirasakan hingga klien dibawa ke rumah sakit, dan apakah pernah periksa ke tempat lain selain di rumah sakit umum serta pengobatan apa yang pernah diberikan, bagaimana perubahannya dan data yang didapatkan saat pengkajian.
3) Riwayat kesehatan sebelumnya
Informasi yang diperoleh biasanya klien yang pernah mengalami akromegali dan kejengkelan pada persendian seperti artropati.
4) Riwayat penyakit keluarga
Biasanya didaptkan adanya data keluarga yang menderita osteoarthritis sebelumnya. Penyakit osteoarthritis biasanya terjadi karena faktor genetic. Jika anggota keluarga mengalami penyakit ini maka kemungkinan bisa menurun pada keluarga selanjutnya (Debora, 2012).
2.3.1.3 Riwayat keperawatan
Dalam pengkajian riwayat keperawatan, perawat perlu mengidentifikasi adanya :
1) Rasa nyeri / sakit tulang punggung (bagian bawah), leher dan pinggang 2) Berat badan menurun
3) Biasanya di atas 45 tahun
4) Jenis kelamin sering pada wanita 5) Pola latihan dan aktivitas
6) Keadaan nutrisi (eg: kurang vitamin D dan C, serta kalsium) 7) Merokok, mengkonsumsi alkohol dan kafein
8) Adanya penyakit endokrin: diabetes mellitus, hipertiroid, hiperparatiroid, sindrom cushing, akromegali hipogonadisme.
2.3.1.4 Pemeriksaan fisik : 1) Keadaan umum
Lansia yang mengalami masalah otot luar biasanya lemah, kesadaran klien biasanya composmentis dan acuh tak acuh.
2) Tanda vital
Suhu pada lansia dalam batas normal (<37°C) Nadi pada lansia meningkat (N : 70-82x/menit) TD pada lansia meningkat atau dalam batas normal Pernafasan biasanya megalami peningkatan atau normal 3) Pemeriksaan Review Of System (ROS)
(1) Sistem Respirasi (B1)
Inspeksi : Pada lansia, osteoartritis dapat dilacak sebagai perluasan kekambuhan pernapasan atau masih berada di dalam titik batas yang khas.
Palpasi : Rongga dada dengan vocal fremitus simetris atau tidak Auskultasi & Perkusi : Kelainan yang sering ditemukan beberapa paru obstruktif dan kelainan pleura (effusi pleura, nodul subpleura).
(Putra et al, 2013)
(2) Sistem Kardiovaskuler (B2)
Inspeksi : Pada lansia osteoarthritis tekanan darah dan nadi mungkin meningkat, namun pada penyakit osteoarthritis sendiri jarang di dapatkan ada masalah
Palpasi : Kaji ada tidaknya vena jugulari biasanya pada penderita osteoarthtis jarang kita jumpai
Auskultasi & Perkusi : Kelainan jantung yang simtomatis jarang di dapatkan
(3) Sistem Persarafan (B3)
Inspeksi : Pada lansia dengan osteoartritis, terdapat berbagai gangguan neuritis karena vaskulitis yang sering terjadi sebagai kemalangan nyata di titik terjauh dengan efek samping kaki atau pergelangan tangan turun. (Putra et al, 2013).
(4) Sistem Genetourinaria (B4)
Inspeksi : Pada lansia osteoarthritis perubahan pola perkemihan, seperti disuria, distensi kandung kemih, warna dan bau urin.
(5) Sistem Pencernaan (B5)
Inspeksi : Pada lansia osteoarthritis keadaan mulut, gusi, gigi dan abdomen jarang dijumpai adanya pembengkakan / benjolan
Palpasi & Perkusi : Tidak ada nyeri tekan pada abdomen (6) Sistem Muskuloskeletal & Integumen (B6)
Pada lansia dengan osteoartritis, ketidakteraturan otot luar super yang dapat dilihat selama evaluasi termasuk penurunan tonus otot, hilangnya massa, dan kontraktur. Pengkajian rentang gerak merupakan data dasar yang penting dimana hasil pengukuran nantinya dibandingkan untuk mengevaluasi terjadinya kehilangan mobilisasi sendi. Rentang gerak di ukur dengan menggunakan
geniometer. Pengkajian rentang gerak dilakukan di daerah seperti bahu, kaki, lengan, siku, panggul, dan.
Inspeksi : Perhatikan warna kulit, ukuran, kehalusan kulit, pembesaran, pelengkap penuh. Kepala biasanya mengalami sianosis.
Palpasi : Kekuatan otot, pembengkakan kaki pada persendian.
Untuk mengetahui skala penderitaan pada pasien yang menggunakan metode numerik. (Andarmoyo, 2013).
Perkusi : Akan terjadi menggigil pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jaringan, dan perluasan sendi yang seimbang.
(7) Sistem Pengindraan (B7)
Inspeksi & Palpasi : Penderita osteoarthritis pada lansia bisa dilakukan test ketajaman penglihatan. Sfingter pupil timbul sklerosis dan respon terhadap sinar menghilang; kornea lebih berbentuk sferis (bola), lensa lebih suram (kekeruhan pada lansia) dan berlanjut menjadi katarak, terjadi peningkatan ambang, pengamatan sinar, kemampuan adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, dan susah melihat dalam gelap, terjadi penurunan atau menghilangnya daya akomodasi, dengan tanda dan gejala presbiopia, lansia juga sulit melihat dekat karena dipengaruhi oleh kurangnya elastisitas lensa; luas pandangan berkurang, dan daya membedakan warna menurun terutama warna hijau dan biru pada skala.
(8) Sistem Endokrin dan Kelenjar Limfe (B8)
Pada lansia yang terkena osteoarthritis jarang di dapatkan pembesaran thyroid dan kasus yang berhubungan dengan sistem endokrin, kelenjar limfe.
1) Riwayat Psikososial
Penyakit ini sering terjadi pada wanita. Biasanya sering muncul kecemasan, takut melakukan aktivitas, dan perubahan konsep diri.
Perawat perlu mengkaji masalah – masalah psikologi yang timbul akibat proses ketuaan dan efek penyakit yang menyertainya.
2) Pengkajian Khusus
(1) Kemampuan mental SPMSQ (2) Screening Fall
(3) Status praktis (katz indeks) (4) MMSE
(5) Skala depresi (6) Skala Norton 2.3.2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis tentang reaksi individu, keluarga, dan area lokal terhadap masalah medis asli atau potensial atau proses kehidupan yang menjadi alasan pemilihan mediasi keperawatan untuk mencapai hasil. (Deden, 2012). Masalah keperawatan yang muncul seperti yang ditunjukkan oleh (Tim Pokja SDKI, 2017).
Tabel 2.3 Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri kronis berhubungan dengan kondisi muskuloskeletal kronis
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kekakuan sendi.
No Dx Gejala dan Tanda Mayor Gejala dan Tanda Minor D.0054 Subjektif
1. Mengeluh sulit
menggerakan ekstermitas.
Objektif
1. Kekuatan otot menurun 2. Rentang gerak menurun
(ROM)
Subjektif
1. Nyeri saat bergerak 2. Enggan melakukan
pergerakan
3. Merasa cemas saat bergerak Objektif
1. Sendi kaku
2. Gerakan tidak terkoordinasi 3. Gerakan terbatas
4. Fisik lemah
3. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi No Dx Gejala dan Tanda Mayor Gejala dan Tanda Minor D.0111 Subjektif
1. Menanyakan masalah yang dihadapi
Objektif
1. Menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran 2. Menunjukkan persepsi
yang keliru terhadap masalah
Subjektif (tidak tersedia) Objektif
1. Menjalani pemeriksaan yang tidak tepat
2. Menunjukkan perilaku berlebihan (mis. Apatis, bermusuhan, agitasi, histeria) No Dx Gejala dan Tanda Mayor Gejala dan Tanda Minor D.0078 Subjektif
1. Mengeluh nyeri
2. Merasa depreri (tertekan) Objektif
1. Tampak meringis 2. Gelisah
3. Tidak mampu
menuntaskan aktivitas
Subjektif
1. Merasa takut mengalami cedera berulang
Objektif
1. Bersikap protektif (mis. Posisi menghindari nyeri)
2. Waspada
3. Pola tidur berubah 4. Anoreksia
5. Fokus menyempit
6. Berfokus pada diri sendiri
39 2.3.5 Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan lansia adalah rencana permainan syafaat keperawatan yang berbeda yang berharga untuk mencegah, mengurangi atau mengurangi masalah yang lama. (Kholifah, 2016). Intervensi keperawatan adalah obat-obatan yang diselesaikan oleh petugas berdasarkan informasi dan penilaian klinis untuk mencapai hasil yang normal (Tim Pokja SLKI, 2018).
Tabel 2.4 Intervensi
Intervensi menurut (Tim Pokja SLKI, 2018) & (Tim Pokja SIKI, 2018)
Diagnosa Keperawatan SLKI SIKI
Kode Diagnosis Kode Luaran Kode Intervensi
D.0078 Nyeri kronis berhubungan dengan kondisi muskuloskeletal
kronis L.08066
L.08063
Setelah dilakukan tindakan / kunjungan selama 2x diharapkan tingkat nyeri klien menurun, dibuktikan dengan kriteria hasil : Luaran Utama
Tingkat Nyeri
1. Kemampuan menuntaskan aktivitas meningkat
2. Keluhan nyeri menurun 3. Ketegangan otot menurun 4. Meringis menurun
Luaran Tambahan 1. Kontrol Nyeri
I.08238
Intervensi Utama Manajemen Nyeri Observasi
1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, insensitas nyeri
2. Identifikasi skala nyeri Terapeutik
3. Berikan teknik
nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hipnosis, akupresur, terapi musik,
40 I.08245
I.09326
biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)
4. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan) 5. Fasilitas istirahat dan
tidur Edukasi
6. Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri 7. Jelaskan strategi
meredakan nyeri 8. Anjurkan memonitor
nyeri secara mandiri Kolaborasi
Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu Intervensi Tambahan 1. Perawatan Kenyamanan 2. Terapi Relaksasi
D.0054 Gangguan mobilitas fisik berhubungan
Setelah dilakukan tindakan / kunjungan selama 2x diharapkan mobilitas fisik klien meningkat, dibuktikan dengan kriteria hasil :
I.05173
Intervensi Utama Dukungan Mobilisasi Oservasi
41 dengan kekakuan
sendi. L.05042
L.05041 L.05044
Luaran Utama Mobilitas Fisik
1. Pergerakan ekstermitas meningkat 2. Kekuatan otot meningkat
3. Rentang gerak (ROM) meningkat 4. Kaku sendi menurun
Luaran Tambahan 1. Koordinasi Pergerakan 2. Pergerakan Sendi
I.06171
1. Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya 2. Identifikasi toleransi fisik
melakukan pergerakan Terapeutik
3. Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu (mis. Pagar tempat tidur)
4. Fasilitasi melakukan pergerakan, jika perlu Edukasi
5. Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi 6. Anjurkan melakukan
mobilisasi dini 7. Ajarkan mobilisasi
sederhana yang harus dilakukan (mis. Duduk di tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke kursi) Intervensi Tambahan Dukungan Ambulasi D.0111 Defisit
pengetahuan berhubungan
Setelah dilakukan tindakan / kunjungan selama 2x diharapkan tingkat pengetahuan klien meningkat, dibuktikan dengan kriteria hasil :
I.12383
Intervensi Utama Edukasi Kesehatan Observasi
42 dengan kurang
terpapar informasi L.12111
L.12110
Luaran Utama Tingkat Pengetahuan
1. Perilaku sesuai anjuran meningkat 2. Perilaku sesuai dengan pengetahuan
meningkat
3. Pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun
4. Persepsi yang keliru terhadap masalah menurun
Luaran Tambahan 1. Tingkat Kepatuhan
I.12360 I.12362
1. Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
Terapeutik
2. Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
3. Berikan kesempatan untuk bertanya Edukasi
4. Jelaskan faktor risiko yang dapat
mempengaruhi kesehatan 5. Ajarkan perilaku hidup
bersih dan sehat Intervensi Tambahan 1. Bimbingan Sistem
Kesehatan
2. Edukasi aktivitas/istirahat
43 2.3.6 Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan bagian yang berfungsi dalam asuhan keperawatan, penolong melakukan tindakan sesuai dengan yang diharapkan.
Kegiatan bersifat ilmiah, khusus, dan relasional sebagai upaya yang berbeda untuk memenuhi persyaratan dasar klien. Aktivitas keperawatan menggabungkan aktivitas keperawatan, persepsi keperawatan, kesejahteraan/instruksi keperawatan, dan aktivitas klinis yang dilakukan oleh petugas. (Saifudin, 2018).
2.3.7 Evaluasi
Evaluasi diselesaikan dengan mempertimbangkan langkah-langkah yang ditentukan sebelumnya dalam mengatur, membandingkan konsekuensi dari kegiatan keperawatan yang telah dilakukan dengan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dan mengevaluasi kelayakan sistem keperawatan mulai dari tahap penilaian, pengaturan dan pelaksanaan.
Penilaian dikumpulkan menggunakan SOAP (Fadhilla, 2018).