PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO PADA PT ASDP (ANGKUTAN SUNGAI DANAU DAN PENYEBERANGAN) INDONESIA FERRY
Muhammad Rizki Fernanda1, Hafizh Husain Amirullah2, Dika Pradito3, Vivian Karim Ladesi4, Siti Sahara5.
1-5Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta email: [email protected],
[email protected], [email protected], [email protected], [email protected]
Abstract:
This study applies risk management to PT ASDP Ferry Indonesia to deal with the risks of river, lake and ferry transportation operations in Indonesia. Through a qualitaty approach as case studies in companies, this study analyzes the adopted risk management practices. PT ASDP Ferry Indonesia has identified, evaluated and handled risks with structured steps and an integrated management framework.
Management involvement, high risk awareness, effective communication and training, cooperation with related parties, strict operational guidelines, as well as prevention and recovery measures are key success factors. The implementation of effectifity risk management is important for operational safety and sustainability in the marine transportation industry.
Keywords: Risk Management, Crossing Transportation, Ports, Operations 1. PENDAHULUAN
Indonesia sebagian besar hamparan wilayahnya dikelilingi laut atau perairan yang luas, maka dari itu dapat dikatakan bahwa Indonesia merupakan negara maritim. Negara maritim mendorong rakyatnya untuk ke laut [1]. Indonesia termasuk negara bahari yang terdiri dari pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke, dengan total 17.508 pulau. Jarak antar pulau tentunya dibutuhkan untuk mendukung konektivitas guna mendukung stabilitas perekonomian negara
[2]
. Terdapat insentif dan perlindungan perundang-undangan bagi usaha-usaha di dan lewat laut, khususnya insentif perbankan dan perpajakan untuk industri dan jasa maritim, terutama angkutan laut dan galangan kapal. Keduanya adalah kegiatan usaha yang padat modal dan pengembaliannya berjangka panjang, namun mampu mendorong pendapatan negara berkali lipat. Maka diperlukan pula dukungan kegiatan terhadap keselamatan, kenyamanan dan keamanan terhadap angkutan penyeberangan tersebut dengan penerapan manajemen risiko.Laut merupakan jalur transportasi yang sangat luas selain jalur transportasi darat.
Transportasi laut mempunyai nilai strategis
melalui penghubung antar pulau di negeri ini, maka perlu dikembangkan dan ditingkatkan jumlah, mutu pelayanan dan aspek keselamatan bagi para pengguna layanan jalur transportasi laut. Manajemen risiko ini memiliki sasaran utama yaitu mengelola risiko guna mengatasi terjadinya kecelakaan dan peristiwa yang tidak diinginkan melalui alur proses identifikasi bahaya, melakukan penilaian risiko dan pengendaliannya. Transportasi darat, laut dan udara merupakan salah satu lingkungan kerja yang rawan terjadinya kecelakaan.
Penerapan manajemen risiko pada penyeberangan kapal dalam PT ASDP Ferry Indonesia (Persero) melibatkan identifikasi, evaluasi, dan pengendalian manajemen risiko yang mungkin muncul selama operasi penyeberangan kapal. Ini termasuk risiko seperti cuaca buruk, kecelakaan kapal, masalah teknis, dan masalah keamanan. Tujuan manajemen risiko ini ialah untuk mengurangi potensi kerugian dan memastikan keselamatan pelayaran bagi para penumpang dan kapal.
Manajemen risiko dilakukan melalui berbagai tindakan, seperti pelatihan kru, pemeliharaan rutin kapal, dan pemantauan cuaca sebelum setiap pelayaran.
Model pendekatan manajemen risiko pernah dikemukan oleh berapa ahli. Salah satu diantaranya yaitu Husain Umar (1998) menggambarkan proses alur manajemen risiko disusun dan diterapkan pada suatu perusahaan.
Penerapan manajemen risiko perusahaan dengan mengidentifikasikan potensi risiko yang dapat timbul, menetapkan kebijakan, mengambil tindakan, dan memantau risiko.
Proses alur manajemen berlangsung secara kontinyu. Apabila diimplementasikan secara maksimal, manajemen risiko dapat menunjang manajemen guna mengevaluasi kekuatan dan kelemahan.
2. METODE PENELITIAN
Manajemen risiko telah membentuk sector bidang ilmu yang mengkaji bagaimana suatu perusahaan mengimplementasikan ukuran guna mengetahui permasalahan yang ada melelui penempatan berbagai pendekatan ilmu manajemen dengan komprehensif serta sistematis [3]. Melalui pendekatan tersebut, manajemen risiko mencakup proses identifikasi, penilaian, dan prioritisasi berbagai risiko yang berbeda. Apabila risiko- risiko tersebut mempunyai identifikasi, manajemen akan menyusun suatu rencana guna memperkecil serta mengeliminasi dampak negatif bilamana sesuatu terjadi.
Manajemen risiko tradisional terpusat kepada risiko-risiko yang muncul oleh penyebab fisik dan legal (seperti bencana alam serta kebakaran, kematian, atau tuntutan hukum).
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif melalui pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif merupakan metode yang mengilustrasikan tahapan yang terjadi di perusahaan serta bertujuan untuk menguraikan alur penerapan ketika penelitian dilakukan [4][1]. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan penerapan manajemen risiko dengan lokasi penelitian ini dilaksanakan di Pelabuhan Merak pada PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero). Peneliti menggunakan data primer dalam bentuk observasi sehingga dapat diperoleh jawaban secara langsung dari perusahaan serta data sekunder yang berupa
dokumentasi dan catatan. Berikut adalah alur
umum manajemen risiko di perusahaan ASDP:
1. Identifikasi Risiko: Mengidentifikasi potensi risiko yang mungkin muncul dalam operasi bisnis.
Gambar 1. Alur Manajemen Risiko PT ASDP Ferry
Indonesia
2. Evaluasi Risiko: Menilai kemungkinan dan dampak potensi risiko yang teridentifikasi.
3. Prioritas Risiko: Menentukan prioritas risiko berdasarkan hasil evaluasi dan menentukan apakah perlu diterima atau diatasi.
4. Pembentukan Strategi: Menentukan strategi untuk mengatasi atau meminimalkan risiko.
5. Implementasi Strategi: Menerapkan strategi yang ditentukan untuk mengatasi risiko.
6. Monitoring dan Review: Memantau efektivitas strategi dan melakukan review secara teratur untuk memastikan bahwa risiko tetap teratasi.
7. Update dan Adjustment: Melakukan update dan perubahan pada strategi jika diperlukan untuk mengatasi risiko baru atau perubahan dalam kondisi bisnis.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelabuhan dan Logistik Maritim
Pelabuhan Menurut Peraturan Pemerintah No.69 Tahun [5] Pasal 1 ayat 1, berkenaan dengan pelabuhan, yang dimaksud dengan pelabuhan adalah suatu tempat yang terdiri dari daratan dan perairan sekitarnya dengan batas-batas tertentu, tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi, tempat kapal bersandar, berlabuh, naik penumpang dan/atau bongkar muat barang, dilengkapi dengan fasilitas pelayaran. Fasilitas keamanan dan kegiatan pendukung pelabuhan dan lokasi untuk transportasi intra-moda dan antarmoda.
Adapun logistik maritim mencakup seluruh spektrum subjek, mencakup perkembangan logistik terbaru dalam industri pengiriman kapal dan pelabuhan. [6].
Diketahui pelabuhan merupakan suatu tempat yang terdiri dari daratan tertentu dan perairan sekitarnya, yang digunakan sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan perekonomian, digunakan sebagai tempat kapal berlabuh, berlabuh, menaiki penumpang dan/atau bongkar muat barang, dilengkapi dengan fasilitas keamanan pelayaran dan
kegiatan penunjang pelabuhan , serta titik internal dan Transshipment untuk transportasi multimoda serta kebutuhan sumber daya manusia yang sesuai keahlian dengan logistik dan transportasi [7].
PT ASDP Ferry Indonesia
Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan, maka pengangkutan laut memainkan peranan penting dalam menghubungkan satu wilayah dengan wilayah yang lain. Salah satu alat pengangkutan laut yang banyak digunakan oleh masyarakat ialah feri. Ferry sejenis angkutan penyeberangan kapal laut yang digunakan sebagai angkutan penumpang atau barang dengan menggunakan jalur serta trayek tertentu. Keuntungan yang ditawarkan dengan menggunakan Ferry yakni para penumpang yang akan menyeberang ke daerah dibatasi oleh perairan atau laut diberi layanan kecepatan serta kenyamanan [8].
Kapal Ferry tidak hanya mengangkut manusia saja tetapi juga mengangkut kendaraan motor, mobil, truk dan bus. Guna melayani pengguna yang membutuhkan sarana angkutan transportasi laut maka PT ASDP Ferry Indonesia (Persero) telah mempunyai beberapa kantor cabang untuk pelayanan yang tersebar di seluruh Indonesia salah satunya di Pelabuhan Merak kota Cilegon, Banten [9]. PT ASDP Indonesia Ferry Persero ialah Pengelola penumpang, kendaraan dan kargo perusahaan jasa angkutan penyeberangan dan terminal penyeberangan. Fungsi utama perusahaan adalah menyediakan angkutan umum antar pulau serta menyatukan Kepulauan Besar, serta menyediakan angkutan umum ke daerah-daerah yang belum memiliki jalur lintas batas untuk mempercepat pembangunan.
Keinginan penduduk satu pulau dari satu pulau ke pulau lain tentu saja berbeda-beda dalam keinginan komoditas, begitu pula komoditas yang dihasilkan. Oleh karena itu, distribusi dari satu pulau ke pulau lain memerlukan sarana transportasi laut yang ekonomis yaitu kapal laut yang mampu mengangkut orang dan barang dalam jumlah besar. Guna melaksanakan semua tuntutan
tersebut, pemerintah Indonesia mengupayakan fasilitas akomodasi dan transportasi yang lebih memadai. Selain transportasi kargo, transportasi penumpang merupakan bagian penting dari bisnis transportasi laut. PT ASDP Ferry (Persero) Cabang Merak memiliki usaha pokok menyediakan jasa angkutan transportasi laut yang meliputi jasa angkutan penumpang serta jasa angkutan muatan barang pada antar pulau. Sesuai misinya yaitu: “Megelola dan mengembangkan angkutan laut guna menjamin aksebilitas masyarakat untuk menunjang terwujudnya wawasan nusantara”. Tugas PT ASDP Ferry (Persero) Indonesia menyediakan jasa angkutan penyeberangan penumpang dan barang.
Penerapan Manajemen Risiko
Manajemen risiko penyeberangan kapal dalam PT ASDP Ferry Indonesia (Persero) melibatkan identifikasi, evaluasi, dan pengendalian risiko yang mungkin muncul selama operasi penyebaran kapal. Ini termasuk risiko seperti cuaca buruk, kecelakaan kapal, masalah teknis, dan masalah keamanan. Tujuan dari manajemen risiko ini adalah untuk mengurangi potensi kerugian dan memastikan keselamatan pelayaran bagi para penumpang dan kapal. Manajemen risiko dilakukan melalui berbagai tindakan, seperti pelatihan kru, pemeliharaan rutin kapal, dan pemantauan cuaca sebelum setiap pelayaran.
Manajemen risiko penyeberangan kapal adalah tindakan yang diambil oleh perusahaan PT ASDP Ferry Indonesia (Persero) untuk meminimalisasi potensi risiko dan kerugian yang dapat terjadi selama proses penyebarangan kapal. Berikut adalah beberapa tindakan manajemen risiko yang dapat dilakukan oleh perusahaan:
A. Perencanaan yang baik: Persiapkan rencana penyebarangan kapal dengan detail, termasuk rute, jadwal, dan kebutuhan sumber daya. Ini akan membantu mengurangi risiko keterlambatan atau kendala teknis selama proses penyebarangan.
B. Inspeksi rutin: Melakukan inspeksi secara berkala pada kapal sebelum proses penyebarangan. Ini akan memastikan bahwa kondisi kapal sesuai standar dan aman untuk digunakan.
C. Personil terlatih: Pastikan bahwa personil yang terlibat dalam proses penyebarangan memiliki kualifikasi dan pelatihan yang cukup untuk melakukan tugas mereka dengan baik.
D. Insuransi: Asuransikan kapal selama proses penyebarangan untuk memastikan perlindungan finansial dalam hal terjadi kerugian atau kerusakan.
E. Monitoring: Terus memantau proses penyebarangan dan mengambil tindakan segera jika terjadi risiko atau kegagalan.
Dengan melakukan tindakan manajemen risiko yang baik, PT ASDP Ferry Indonesia (Persero) dapat meminimalisasi potensi risiko dan kerugian selama proses penyeberangan kapal. Sebagaimana data observasi yang peneliti dapatkan, tindakan penerapan manajemen risiko tersebut memiliki penjelasan alur sebagai berikut:
Gambar 2. Penerapan Manajemen Risiko PT ASDP Ferry Indonesia (Persero)
1) Identifikasi risiko: Pertama, perusahaan ASDP Indonesia Ferry melakukan identifikasi risiko melalui pengumpulan informasi dan analisis internal dan eksternal. Ini termasuk menilai potensi kejadian dan dampak negatif yang mungkin terjadi.
2) Penilaian risiko: Setelah identifikasi risiko, perusahaan melakukan penilaian risiko untuk menentukan tingkat risiko yang sesuai dengan tingkat prioritas. Ini dilakukan dengan menilai probabilitas terjadinya risiko dan tingkat dampak yang mungkin terjadi.
3) Pemilihan tindakan manajemen risiko:
Setelah penilaian risiko, perusahaan memilih tindakan manajemen risiko yang sesuai dengan tingkat risiko yang diidentifikasi. Ini bisa berupa menghindari, menerima, mengurangi atau memindahkan risiko.
4) Implementasi tindakan manajemen risiko:
Setelah memilih tindakan manajemen risiko, perusahaan melakukan implementasi tindakan manajemen risiko dengan melakukan tindakan-tindakan yang dibutuhkan untuk mengatasi risiko.
5) Monitoring dan evaluasi: Perusahaan ASDP Indonesia Ferry melakukan monitoring dan evaluasi terhadap tindakan manajemen risiko untuk memastikan efektivitas tindakan dan membuat perubahan yang diperlukan jika ada perubahan situasi.
6) Pengendalian dan revisi: Jika perubahan situasi membutuhkan revisi tindakan manajemen risiko, perusahaan melakukan pengendalian dan revisi tindakan manajemen risiko untuk memastikan efektivitas dan kelancaran operasi.
Adapun contoh studi kasus permasalahan di PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) dan cara penanganan manajemen resiko yaitu:
Kasus permasalahan PT ASDP Ferry Indonesia:
Keterlambatan pelayaran: Keterlambatan pelayaran menjadi masalah besar bagi PT ASDP Ferry Indonesia. Keterlambatan ini dapat menimbulkan kekecewaan pelanggan dan kerugian bagi perusahaan.
Kecelakaan pelayaran: Kecelakaan pelayaran dapat menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan dan juga kerugian bagi pelanggan. Kecelakaan ini juga dapat mempengaruhi citra perusahaan dan menimbulkan kecemasan pada pelanggan.
Kerusakan sarana pelayaran: Kerusakan sarana pelayaran dapat menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan dan juga menimbulkan kecemasan pada pelanggan.
Kerusakan ini dapat mempengaruhi pelayanan perusahaan dan mempengaruhi citra perusahaan.
Risiko-risiko yang terdapat di PT ASDP Ferry Indonesia (Persero) Cabang Merak adalah risiko SDM, terminal penumpang, kapal dan penumpang kapal. Dari risiko yang disebutkan, penulis memberi saran untuk penanganan disetiap risiko yang ada, penanganannya sebagai berikut:
Penanganan manajemen risiko:
Menjaga kualitas pelayanan: Perusahaan harus menjaga kualitas pelayanan dan meningkatkan kualitas pelayanan untuk mengurangi risiko keterlambatan pelayaran.
Menjaga keselamatan pelayaran: Perusahaan harus menjaga keselamatan pelayaran dan memastikan bahwa sarana pelayaran dalam kondisi baik.
Menjaga kualitas sarana pelayaran:
Perusahaan harus menjaga kualitas sarana pelayaran dan memastikan bahwa sarana pelayaran dalam kondisi baik.
Memastikan ketersediaan sarana pelayaran:
Perusahaan harus memastikan ketersediaan sarana pelayaran dan memastikan bahwa sarana pelayaran dalam kondisi baik.
Menjaga citra perusahaan: Perusahaan harus menjaga citra perusahaan dan memastikan bahwa pelanggan memiliki persepsi positif terhadap perusahaan.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian pembahasan sebagaimana telah dikemukakan pada metode sebelumnya mengenai proses penerapan manajemen risiko untuk mengoptimalkan penyeberangan kapal di PT ASDP Ferry Indonesia (Persero), maka dapat diambil kesimpulan bahwa: Secara umum proses alur manajemen risiko sudah diterapkan dan dilaksanakan sesuai prosedur-prosedur yang telah disusun, sehingga dalam pelaksanaannya menciptakan keselamatan operasional kapal dan mencegah potensi risiko untuk melindungi semua aspek yang ada dalam dunia pelayaran.
Menajemen risiko menjadi bagian penting dalam proses bisnis, terutama pada tahap dilakukannya perencanaan. Pemilihan metode dan pilihan strategi dalam manajemen risiko diselaraskan dengan berbagai aspek untuk mencapai keberhasilan yang optimal.
Manajemen risiko sebaiknya menjadi proses kontinyu dan berkesinambungan dalam perusahaan. Untuk itulah perusahaan pelayaran dalam hal ini PT ASDP Ferry Indonesia (Persero) mengadakan persiapan dan pelaksanaan penerapan manajemen resiko yang sesuai dengan ketentuan, yaitu identifikasi, evaluasi, dan pengendalian risiko yang mungkin muncul selama operasi penyeberangan kapal. Ini termasuk risiko seperti cuaca buruk, kecelakaan kapal, masalah teknis, dan masalah keamanan. Tujuan dari manajemen risiko ini adalah untuk mengurangi potensi kerugian dan memastikan keselamatan pelayaran bagi para penumpang dan kapal.
.
5. REFERENSI