PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PAI DI SDN 2
MENDAWAI
Nely Fathonah
Institiut Agama Islam Negeri Palangka Raya E-mail: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aktivitas guru dan siswa dalam penerapan model Cooperative Learning tipe STAD dan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar PAI pada siswa kelas IV di SDN 2 Mendawai setelah diterapkan model Cooperative Learning tipe STAD. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN 2 Mendawai Tahun Pelajaran 2023/2024 yang berjumlah 21 orang dan objek penelitiannya adalah hasil belajar PAI pada materi Asmaul Husna. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi dan tes. Selanjutnya diolah menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas guru dan siswa pada Siklus I ke siklus II semakin meningkat dari kategori cukup baik menjadi sangat baik Persentase hasil belajar PAI pada Pra Siklus sebesar 52,38%, pada siklus I sebesar 71,43% dan pada siklus II sebesar 95,24%. Peningkatan hasil belajar PAI pada Pra Siklus ke Siklus I sebesar 19,05 %, selanjutnya pada Siklus I ke Siklus II sebesar 23,81%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Cooperative Learning Tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar PAI siswa kelas IV di SDN 2 Mendawai.
Kata Kunci : Cooperative Learning, hasil Belajar, STAD
Pendahuluan
Pendidikan sangat erat kaitannya dengan perkembangan zaman, hal ini berfungsi untuk mempersiapkan manusia dimasa depan agar dapat hidup lebih baik, karena itu pendidikan dapat dipandang sebagai proses perubahan sosial yang terencana. Menurut Umaedi (2014:13) salah satu tujuan pendidikan adalah menyiapkan individu (dalam memenuhi kebutuhan individualnya) untuk dapat beradaptasi/menyesuaikan diri atau memenuhi tuntutan-tuntutan sosial wilayah tertentu (nasional,regional, ataupun global) yang senantiasa berubah. Dengan adanya Pendidikan diharapkan dapat
meningkatkan sumber daya manusia yang bermutu. Mutu pendidikan yang menjadi tujuan ini menyangkut dimensi proses dan hasil pendidikan.
Di luar lingkungan sekolah, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan melimpah, cepat dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Selain perkembangan yang pesat, perubahan juga terjadi dengan cepat. Karenanya diperlukan kemampuan untuk memperoleh, dan mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. Kemampuan ini membutuhkan pemikiran, antara lain berpikir sistematis, logis, kritis yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Salah satu materi dalam mata pelajaran PAI adalah Asmaul Husna. Oleh karena itu pendidik dalam memberikan materi ini selain memberikan pengajaran yang bersifat teori, harus pula memberikan contoh atau mengajak siswa secara langsung untuk menerapkan materi yang diajarkannya.
PAI pada penerapannya tidak lepas dari berbagai kendala, masih kurang optimalnya hasil mata pelajaran PAI, hal ini terjadi karena ada beberapa faktor penyebabnya, antara lain seperti dikemukakan oleh Solihatin (2012:12) yakni faktor guru meliputi keterampilan mengajar, mengelola tahapan pembelajaran dan memanfaatkan metode, faktor siswa yang harus diperhatikan adalah karakter siswa, faktor kurikulum yaitu bagaimana merumuskan tujuan pembelajaran dan faktor lingkungan yaitu lingkungan fisik dan non fisik yang menunjang pembelajaran.
Adanya berbagai faktor tersebut tentu saja memberikan dampak dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam seperti rendahnya prestasi siswa terhadap mata pelajaran PAI. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil belajar PAI siswa kelas IV SDN 2 Mendawai yang pertama hanya 52,38% siswa mencapai nilai ≥70 padahal idealnya minimal harus mencapai 85% siswa mendapat nilai
≥70. Kondisi tersebut disebabkan oleh kenyataan sehari-hari yang menunjukkan bahwa siswa kelihatannya jenuh mengikuti pelajaran PAI.
Pembelajaran sehari-hari menggunakan metode ceramah dan latihan-latihan soal secara individual, dan tidak ada interaksi antar siswa yang pandai, sedang, dan normal. Hal ini terbukti sebagian besar siswa mengeluh apabila diajak belajar PAI. Sering jika diberi tugas tidak selesai tepat waktu, dan lebih suka bermain dan mengobrol, alasannya pelajaran PAI memusingkan dan lain-lain.
Proses mengajar yang efektif memang melibatkan kemampuan mempresentasikan suatu topik atau mendemostrasikan suatu keterampilan sedemikian rupa sehingga para siswa dapat memahami materi tersebut.
(Ormrod, 2008:3). Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan guru harus pandai mengambil perhatian siswa. Model pembelajaran yang aktif melibatkan
siswa dalam kegiatan belajar mengajar dapat berperan dalam ingatan jangka panjang, sehingga siswa tidak mudah untuk melupakan apa yang mereka pelajari.
Dari uraian di atas, maka perlu adanya perubahan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Agar pembelajaran PAI dapat efektif dan kreatif maka guru harus bisa menentukan suatu model pembelajaran , karena model pembelajaran adalah suatu prosedur atau cara yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Semakin tepat model pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam mengajar, diharapkan semakin efektif pula pencapaian tujuan pembelajaran. Salah satu model yang cocok diterapkan pada pembelajaran PAI adalah Cooperative Leraning tipe STAD (Student Team Achievement Divisison).
Model Cooperative Learning tipe STAD adalah model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana.
Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim (Isjoni, 2009:22). Menurut Suprijono (2010:54) Model pembelajaran cooperative adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang dipimpin oleh guru atau diarahkan guru.
Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (dalam Slavin, 2015 ) merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan model pembelajaran kooperatif. Dalam model Cooperative Learning tipe STAD siswa ditempatkan dalam kelompok belajar yang berjumlah 4-5 orang dengan kemampuan akademik yang berbeda sehingga dalam setiap kelompok terdapat siswa yang berprestasi tinggi, sedang dan rendah atau variasi jenis kelamin, kelompok ras dan etnis atau kelompok sosial lainnya.
Menurut Syamsuri (2020) penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD mampu meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran agama secara efektif. Sejalan dengan hal itu Hasanuddin (2018), dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat menjadi variasi pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa sehingga terbukti meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar siswa di kelas.
Hasil belajar merupakan hasil akhir yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran di kelas. Menurut Ahmadi (2014:13), hasil belajar adalah hasil yang dicapai dalam suatu usaha. Dalam hal ini tentunya usaha belajar dan mewujudkan hasil belajar yang dapat dilihat pada nilai yang diperoleh pada setiap tes. Sejalan dengan hal itu Sanjaya (2011:14) indikator
hasil belajar merupakan kemampuan siswa yang dapat diobservasi (observable), artinya pada hasil yang diperoleh siswa setelah mereka mengikuti proses pembelajaran.
Hasil belajar dalam penelitian ini adalah aspek kognitif yang sesuai dengan indikator-indikator hasil belajar pada pembelajaran PAI siswa kelas IV SDN 2 Mendawai. Aspek kognitif yang lebih ditekankan pada metode fun learning yaitu Knowledge (pengetahuan), Comprehension (pemahaman), dan Application (penerapan).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan aktivitas guru dan siswa dalam penerapan model Cooperative Learning tipe STAD dalam meningkatkan hasil belajar PAI siswa kelas IV di SDN 2 Mendawai dan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar PAI siswa kelas IV di SDN 2 Mendawai.
Metode/Metodologi
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK dipilih karena peneliti ingin memperbaiki proses pembelajaran dengan mengidentifikasi permasalahan yang terjadi di kelas. Penelitian ini akan dilaksanakan dalam beberapa siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan hasil yang optimal. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 2023 sampai 21 Agustus 2023. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV di SDN 2 Mendawai kota Pangkalan Bun yang berjumlah 21 orang terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan.
Adapun rancangan dari penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan yaitu (1) Tahap Perencanaan (2) Tahap Tindakan (3) Tahap Observasi (4) Tahap Refleksi.
Rancangan penelitian ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 1. Model Kurt Lewin
Tahap Perencanaan tersebut adalah sebagai berikut: (1) Mengajukan izin kepada Kepala Sekolah untuk mengadakan penelitian (2) Mengadakan
Observasi Refleksi
Rencana
Refleksi Aksi
Observasi
dst.
pertemuan dengan 1 orang guru kelas sebagai observer yang membicarakan tentang langkah-langkah penelitian (3) Mempersiapkan rencana pembelajaran yaitu membuat Modul Ajar, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), media pembelajaran dan instrumen pengamatan.
Tahap Tindakan tindakan ini disesuaikan dengan Modul Ajar yang telah dibuat. (1) Siswa berkelompok dengan anggota 4-5 orang siswa yang heterogen kemampuannya (2) Setiap kelompok bekerja sama menyelesaikan tugas yang sudah ditentukan (3) Setiap kelompok unjuk kerja melakukan presentasi disepan kelas secara bergiliran.
Tahap Observasi dilakukan oleh tim observer yang terdiri dari 1 orang guru untuk mengetahui bagaimana kegiatan pembelajaran berlangsung.
Beberapa kegiatan penting yang perlu diamati adalah: (1) Fase pembelajaran klasikal, berapa persen siswa yang aktif: melihat, mendengar, bertanya, menjawab, dan mencatat. Pada fase ini observer menggunakan instrumen pengamatan (2) Fase pembelajaran kelompok, yang perlu diamati adalah bagaimana kegiatan masing-masing anggota kelompok dalam memainkan peranannya dalam kelompoknya, antara lain : kerja sama, berpendapat, sem angat kerja, dan hasil kerja. Fase ini menggunakan instrumen pengamatan (3) Semua aktifitas pembelajaran baik guru dan siswa yang positif maupun negatif perlu dicacat sebagai bahan pertimbangan untuk perencanaan siklus berikutnya.
Tahap Refleksi Pada kegiatan refleksi ini, peneliti mengadakan pertemuan dengan pengamat untuk membahas hasil observasi. Data yang terekam pada instrumen observasi dievaluasi dan diambil kesimpulan untuk membuat rencana pelaksanaan siklus II. Berdasarkan hasil refleksi ini peneliti dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan pada saat proses pembelajaran sehingga dapat menentukan upaya perbaikan pada siklus selanjutnya.
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan tes dan observasi. Tes hasil belajar berupa pretest dan posttest dengan jumlah soal yang diberikan dalam bentuk subjektif dengan lembaran tes. Lembar observasi yang digunakan untuk mendapatkan catatan secara sistematis mengenai aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Observasi dilakukan untuk mengamati proses pembelajaran mengenai segala sesuatu yang terjadi pada proses pembelajaran tersebut. Selanjutnya hasil observasi akan dievaluasi oleh peneliti untuk perbaikan pada siklus selanjutnya.
Untuk dapat menetapkan keberhasilan tindakan yang dilakukan, penetapan kriteria atau indikator keberhasilan mutlak diperlukan. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila dalam proses pembelajaran
terlihat adanya peningkatan jumlah siswa yang tuntas pemahaman dari siklus 1 ke siklus berikutnya dengan kriteria 85% dari total siswa dalam kelas.
Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah (1) Memilih data/reduksi data (2) Mendeskripsikan data/memaparkan data (3) Menarik kesimpulan hasil deskripsi data. Pada tahap reduksi data peneliti memilih data yang relevan dengan tujuan perbaikan pembelajaran. Setelah data terkumpul kemudian data diolah dengan rumus persentase sebagai berikut:
Rata-rata nilai siswa :
Persentase ketuntasan:
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 2023 sampai dengan 21 Agustus 2023. Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk siklus, dengan subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN 2 Mendawai tahun pelajaran 2023/2024 yang berjumlah 21 orang yang terdiri dari 13 orang siswa perempuan dan 8 orang siswa laki-laki.
Pra Siklus berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada saat proses pembelajaran terlihat bahwa hasil belajar PAI siswa kelas IV masih rendah. Hal ini bisa dilihat dari nilai hasil pretest siswa pada mata pelajaran PAI yang telah dilakukan di mana sebagian besar siswa belum mencapai nilai KKM yaitu sebanyak 10 siswa belum mencapai nilai KKM sedangkan 11 siswa sudah mencapai nilai KKM dengan jumlah rata-rata nilai 66,19 dengan persentase 52,38%. Di bawah ini adalah rekapitulasi persentase hasil belajar siswa pada Pra Siklus:
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar PAI Pra Siklus No Rentang Nilai Jumlah Persentase Keterangan
1 90-100 0 0,00% Tuntas
2 80-89 6 28,58% Tuntas
3 70-79 5 23,80% Tuntas
4 60-69 6 28,58% Belum Tuntas
5 < 60 4 19,04% Belum Tuntas
Jumlah 21 100%
Berdasarkan tabel 1 diatas dapat dilihat bahwa ketuntasan belajar siswa sebelum diadakan tindakan berjumlah 10 siswa yang tidak tuntas dengan persentase 47,62% dengan rata-rata 66,19. Sedangkan yang sudah mencapai ketuntasan berjumlah 11 siswa dengan persentase 52,38%. Nilai terendah
adalah 50 dan nilai tertinggi 80. Sehingga peneliti perlu melakukan tindakan pembelajaran demi membantu meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya siswa kelas IV SD Negeri 2 Mendawai.
Siklus I Perencanaan tindakan Siklus I yaitu sebagai berikut: (1) Guru merancang skenario pembelajaran berdasarkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang akan digunakan selama proses pembelajaran (2) Guru menyusun Modul Ajar berdasarkan capaian pembelajaran serta tujuan pembelajaran (3) Menyiapkan media dan bahan pembelajaran (d) Menyiapkan sumber belajar yang akan digunakan dalam proses pembelajaran (4) Menyusun alat evaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa.
Pada pelaksanaan tindakan Siklus I, langkah-langkah yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut: (1) Guru membuka pelajaran dengan salam dan absensi terlebih dahulu (2) Guru melakukan asesmen awal dengan mengajukan pertanyaan pemantik (3) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai (4) Guru menjelaskan materi melalui video pembelajaran (5) Guru mengadakan tanya jawab mengenai video pembelajaran (6) Guru membagi kelompok secara heterogen yang terdiri dari 4 atau 5 orang siswa (7) Siswa mengerjakan lembar kerja dengan diskusi berkelompok (8) Masing-masing kelompok melakukan presentasi/
membacakan hasil diskusi (9) Guru memberikan apresiasi atau reward kepada kelompok terbaik dan memotivasi kelompok yang lain (10) Menyimpulkan hasil pembelajaran bersama siswa dan memberikan penguatan atau motivasi agar lebih giat belajar.
Saat berlangsungnya proses pembelajaran, observasi dilakukan observer yaitu teman sejawat (guru kelas) dengan menggunakan pedoman instrumen pengamatan observasi terhadap aktivitas siswa pada saat penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Hasil dari observasi tersebut adalah (a) Sebagian siswa masih bingung dalam menentukan tempat duduk karena siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran yang akan diajarkan dan siswa masih malu-malu dengan temannya (b) Siswa masih canggung dalam mengeluarkan pendapat pada saat diskusi dan masih di dominasi oleh siswa yang merasa lebih pintar (c) Banyak siswa yang tidak mendengarkan penjelasan dari guru dan bermain sendiri dengan teman kelompoknya (d) Proses belajar mengajar berjalan dengan baik meskipun masih banyak mengalami kekurangan seperti ada anak yang kurang mendengarkan dan bercanda dengan temannya. Hasil pengamatan observer menunjukkan bahwa aktivitas guru sudah melaksanakan pengajaran yang baik dengan menggunakan model Cooperative Learning Tipe STAD walaupun masih ada yang perlu diperbaiki dalam proses pembelajaran pada Siklus berikutnya.
Berikut disajikan grafik Distribusi Frekuensi Nilai PAI Siswa Kelas IV Siklus I.
Tabel 2. Disribusi Frekuensi Hasil Belajar PAI Siklus I No Rentang Nilai Jumlah Persentase Keterangan
1 90-100 2 9,52% Tuntas
2 80-89 8 38,10% Tuntas
3 70-79 5 23,81% Tuntas
4 60-69 6 28,57% Belum Tuntas
5 < 60 0 00,00% Belum Tuntas
Jumlah 21 100%
Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa nilai ketuntasan belajar siswa setelah diadakan model pembelajaran STAD tersebut pada siklus I berjumlah 6 siswa yang tidak tuntas dengan persentase 28,57% dengan rata-rata 72,86.
Sedangkan yang sudah mencapai ketuntasan berjumlah 15 siswa dengan persentase 71,43%. Nilai terendah adalah 60 dan nilai tertinggi 90. Dari tabel nilai hasil kentuntasan belajar siklus I dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar PAI di kelas IV terbukti dengan hasil peningkatan pada siklus I tersebut yang sudah mencapai nilai KKM 70.
Refleksi dilakukan dengan mengkaji hasil observasi serta permasalahan yang dihadapi selama tindakan yang berlangsung pada siklus pertama. Pada siklus pertama diperoleh data bahwa siswa memiliki semangat bekerja sama dalam mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini
Siklus II Perencanaan tindakan pada siklus II berdasarkan hasil refleksi pada siklus I yaitu dengan membuat Modul ajar yang dalam kegiatan inti lebih ditekankan pada peningkatan kompetensi dengan pendalaman materi.
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I belum sesuai rencana awal sebelum pembelajaran dilakukan. Siswa masih belum optimal dalam berdiskusi dan menyampaikan pendapat dengan baik. Keaktifan siswa dalam berdiskusi juga masih kurang. Nilai rata-rata siswa pada siklus I terendah mencapai 60 yang artinya nilai rata-rata tersebut belum mencapai nilai KKM. Mengacu pada hasil refleksi siklus I itulah guru berasumsi bahwa perlu dilakukan perbaikan pada tahap selanjutnya yaitu tahap siklus II.
Pengamatan pada siklus II ini setelah dilakukan penerapan dengan model pembelajaran tipe STAD, peneliti memperoleh hasil yang menunjukkan bahwa pelaksanaan tindakan pada Siklus II telah berjalan sesuai dengan rencana awal yang telah dibuat sebelum pelaksanaan tindakan Siklus I. Hal tersebut dapat dibuktikan pada pertemuan Siklus II. Proses pembelajaran terlihat tenang, siswa tertarik dengan materi yang diberikan oleh guru. Pada
saat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru siswa sudah meningkat aktivitasnya sehingga tidak lagi mengandalkan hasil pekerjaan teman yang dianggap mampu / pintar. Terbukti bahwa ketika guru memberi sebuah pertanyaan hampir semua siswa mnegacungkan jari karena ingin bertanya.
Disamping itu juga terlihat pada nilai Siklus II yang meningkat dengan signifikan. Hal ini terjadi karena siswa sudah mulai terbiasa dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pada Siklus II ini menunjukkan bahwa aktivitas guru sudah sangat baik dalam proses pembelajaran dengan menggumakan model Cooperative Learning tipe STAD.
Setelah menganalisis hasil belajar siswa pada Siklus II . maka dapat disajikan tabel rekapituasi persentase perolehan siswa pada Siklus II sebagai berikut:
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar PAI Siklus II No Rentang Nilai Jumlah Persentase Keterangan
1 90-100 8 38,10% Tuntas
2 80-89 6 28,57% Tuntas
3 70-79 6 28,57% Tuntas
4 60-69 1 4,76% Belum Tuntas
5 < 60 0 00,00% Belum Tuntas
Jumlah 21 100%
Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat bahwa nilai ketuntasan belajar siswa setelah diadakan pembelajaran dengan model STAD tersebut pada siklus II berjumlah 20 siswa (95,24%) dengan kategori tuntas sedangkan 1 siswa (4,76%) dengan kategori tidak tuntas. Nilai terendah yaitu 60 sedangkan nilai tertinggi 100. Hal dapat menjadi bukti bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa ketika di dalam kelas. Nilai pada Pra Siklus sebelum menerapkan model pembelajaran kooperatif diperoleh nilai terendah 50 dengan jumlah 10 siswa belum tuntas belajar dan setelah menerapkan model pembelajaran STAD nilai terendah pada siklus I yaitu 60 dengan jumlah 6 siswa belum tuntas belajar, sedangkan pada siklus II nilai terendah 60 dengan jumlah hanya 1 siswa. Dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan yang signifikan nilai hasil belajar siswa setelah diterapkannya model kooperatif STAD tersebut. Sedangkan nilai tertinggi Pra Siklus sebelum menerapkan model kooperatif STAD diperoleh nilai 80 dengan jumlah 11 siswa tuntas belajar sedangkan pada siklus I diperoleh nilai tertinggi 90 dengan jumlah 15 siswa tuntas belajar. Sedangkan pada siklus II nilai tertinggi 100 dengan jumlah 20 siswa Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II terdapat peningkatan hasil belajar, walaupun 1 siswa yang belum mencapai nilai KKM 70. Untuk lebih jelasnya peningkatan hasil belajar PAI siswa kelas IV dapat dilihat pada diagram di bawah ini:
Gambar 2. Diagram Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dari Pra Siklus, Siklus I Dan Siklus II
Dalam pembahasan ini diuraikan hasil penelitian mengenai meningkatnya hasil belajar PAI melalui penerapan model Cooperative Learning tipe STAD. Berdasarkan penelitian, penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD ternyata dapat meningkatkan hasil belajar PAI pada siswa kelas IV di SDN 2 Mendawai. Hal ini dikarenakan pembelajaran dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe STAD dapat memotivasi siswa sehingga membantu meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru. Peserta didik lebih tertarik mengikuti proses pembelajaran sehingga dalam penyampaian materi siswa tidak merasa jenuh. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudjana (2005) bahwa dengan model pembelajaran STAD siswa lebih banyak melakukan aktivitas selama proses pembelajaran, tidak hanya mendengarkan, menghafal, mendemonstrasikan. Selain itu pembelajaran dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe STAD mampu meningkatkan hasil belajar siswa karena dapat membantu siswa untuk mampu berpendapat sendiri (Rusman, 2013).
Berdasarkan hasil observasi pada Siklus I keaktifan peserta didik masih kurang, hal ini dikarenakan sebagian proses pembelajaran dikuasai oleh guru.
Maka dari itu pada Siklus II guru melakukan pembaharuan pada proses pembelajaran yaitu dengan mengaktifkan siswa yang belum berani dengan memberikan kesempatan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan - pertanyaan yang diajukan oleh guru sehingga keaktifan siswa meningkat.
Selain itu guru terus memotivasi dan membimbing siswa untuk bekerja sama dalam kelompok.
Berdasarkan hasil perolehan nilai hasil evaluasi yang dicapai pada Pra Siklus, Siklus I, dan Siklus II dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan Cooperative Learning tipe STAD ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat melatih siswa dalam berbicara dan melatih daya pikir agar terus
berkembang. Selain itu juga dapat meningkatkan keaktifan siswa di dalam kelas. Hal ini sesuai dengan penelitian Hasanuddin (2018), Esminarto dkk (2016) dan Suparmini (2021) yang menyatakan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa melalui model Cooperative Learning tipe STAD ada peningkatan dalam beberapa hal yaitu (1) aktivitas guru dan siswa meningkat menjadi lebih aktif (2) Hasil belajar siswa meningkat dari Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II. Dari seluruh kegiatan yang diberikan kepada siswa dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan merupakan hal baru, siswa merasa senang mengikuti pelajaran, siswa tidak merasa jenuh saat penyampaian materi, tugas lebih mudah dikerjakan, merasa siap untuk menjawab pertanyaan . Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar PAI mendapat respon positif dari siswa. Dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa lebih mudah belajar , hal ini disebabkan adanya bimbingan dari teman sekelompoknya melalui diskusi yang berlangsung.
KESIMPULAN
Dengan adanya penerapan model Cooperative Learning tipe STAD dapat meningkatkan aktivitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran di kelas pada Siklus I dari kategori cukup baik menjadi sangat baik pada Siklus II. Hasil belajar PAI pada siswa kelas IV di SDN 2 Mendawai meningkat secara signifikan. Hal ini berdasarkan persentase hasil belajar PAI siswa kelas IV pada Pra Siklus sebesar 52,38% mengalami peningkatan sebesar 19,05% pada Siklus I akan tetapi belum mencapai indikator keberhasilan yaitu sebesar 85% maka dilanjutkan pada Siklus II. Pada Siklus II menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa yang signifikan yaitu sebesar 95,24%. Ini artinya hasil belajar meningkat sebesar 23, 81% pada Siklus II. Hal ini menjadi bukti bahwa dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar PAI pada siswa kelas IV di SDN 2 Mendawai.
REFERENSI
Ahmadi, Abu. 2014.Psikologi Sosial. Jakarta : Rineka Cipta
Esminarto dkk. 2016. Implementasi Model STAD Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. https://jurnal.unublitar.ac.id/index.php/briliant/article/view/2 Hasanuddin, Zainal. 2018. Efektifitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Peserta Didik Kelas V SD Sekolah Alam Bangka Belitung.
https://ejournal.uika-bogor.ac.id/index.php/TEK/article/view/1004
Isjoni, 2009. Cooperatif Learning meningkatakan Kecerdasan Komunikasi Antar Peserta Didik. Bandung: Pustaka Belajar
Omrod, Jeanne Ellis. 2008. Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh Dan.
Berkembang Edisi Keenam Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Rusman, 2013. Role Playing (Metode Bermain Peran). (Bandung: Pustaka Setia Sanjaya, Winna. 2011 Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media Grouf
Slavin, Robert E. 2015. Cooperative Learning. Bandung: Nusa Media
Solihatin, Etin.2007. Cooperatif Learning Analisis Model Pembelajaran IPS. Jakarta:
Bumi Aksara
Sudjana, Nana. 2013. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Suparmini, Made. 2021. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar . Di akses dari https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JEAR/article/view/31559 Suprijono, Agus. 2010. Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem. Yogyakarta:
Pustaka Belajar
Syamsuri. 2020. Penggunaan Metode STAD Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Di akses dari https://cahaya-ic.com/index.php/JPAII/article/view/60
Umaedi , Hadiyanto, Siswantari.2014. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta:
Universitas Terbuka