• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan model problem based learning untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah siswa dalam pembelajaran pendidikan agama islam pada materi Zakat Mal di Kelas X MIA-3 SMAN 1 Praya Timur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Penerapan model problem based learning untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah siswa dalam pembelajaran pendidikan agama islam pada materi Zakat Mal di Kelas X MIA-3 SMAN 1 Praya Timur"

Copied!
150
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING

UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PADA MATERI ZAKAT MAL DI KELAS X MIA-3 SMAN 1 PRAYA TIMUR

Oleh Yuliatin Ismi NIM 180101149

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

MATARAM 2022

(2)

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING

UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PADA MATERI ZAKAT MAL DI KELAS X MIA-3 SMAN 1 PRAYA TIMUR

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Melengkapi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh:

Yuliatin Ismi NIM. 180101149

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

MATARAM 2022

ii

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi

(7)

MOTTO

َقُت ْنَا ْمُتْقَفْش َاَء وْجَن ْيَدَي َنْيَب ا ْوُمِّد

قَدَص ْمُكى

ۗ ٍت ُٰاللّ َباَت َو ا ْوُلَعْفَت ْمَلْذِاَف للَلااوُوْيِق َاَف ْمُكْيَلَل

َوَةو ا لزلاا وُت

ك

َ ٰاللّ وُعْيِط اَو َةو َل ْوََُُْو

ۗۗ

ُٰاللّ َو ِ بۢبْيِيَب َن ْوُلَوْعَت اَو

Artinya: Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum Mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S al-Mujadilah ayat 13)

vii

(8)

PERSEMBAHAN

“Skripsi ini saya persembahkan untuk kedua orang

tuaku tercinta (Bapak Mainah) dan Ibunda (Ernawati) serta adekku (Alifatul Yumna) yang telah menjadi support sistem peneliti dan selalu memberikan doa dan dukungan kepada peneliti sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan”

viii

(9)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillahirabbil „Aalamiin, segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, juga keluarga, sahabat, dan semua pengikutnya. Aamiin.

Tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena ut, penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sebagai berikut:

1. Bapak Dr. Mukhlis, M.Ag., selaku pembimbing I yang sudah banyak meluangkan waktu dalam proses bimbingan dan penyusunan skripsi ini.

2. Bapak Dr. Azhar, M.Pd.,BI., selaku pembimbing II yang banyak memberikan support dan dorongan dalam proses bimbingan dan penyusunan skripsi ini.

3. Bapak H. M. Taisir, M.Ag., selaku Ketua dan Bapak Erwin Fadli.M, Hum., selaku Sekertaris Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Mataram.

4. Bapak Dr. Jumarim, M.HI., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Mataram.

5. Bapak Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag, selaku Rektor UIN Mataram.

6. Bapak/Ibu Dosen jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Mataram yang telah banyak membantu penulis.

7. Bapak dan ibu tercinta beserta keluarga yang selalu memberikan doa dan dukungan kepada penulis.

Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah swt, dan semoga karya ilmiah ini bermanfaat nagi semesta. Aamiin.

Mataram, Juni 2022 Penulis

Yuliatin Ismi

ix

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

ABSTRAK ... xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Sasaran Tindakan ... 7

C. Rumusan Masalah ... 7

D. Tujuan Penelitian ... 8

E. Manfaat Penelitian ... 8

F. Ruang Lingkup Penelitian ... 9

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Kajian Pustaka ... 11

1. Pengertian Belajar dan Pembelajaran... 11

2. Problem Based Learning (PBL) ... 15

3. Pembelajaran PAI Materi Zakat Mal ... 23

B. Hipotesis Tindakan... 36

BAB III METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian ... 37

B. Sasaran Tindakan ... 37 x

(11)

C. Rencana Tindakan ... 38

D. Jenis Instrumen dan Cara Penggunaannya ... 44

E. Pelaksanaan Tindakan ... 52

F. Cara Pengamatan ... 52

G. Refleksi ... 53

H. Teknik Analisis Data ... 53

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Setting Penelitian ... 54

1. Letak Geografis SMAN 1 Praya Timur ... 54

2. Visi dan Misi SMAN 1 Praya Timur ... 54

3. Profil SMAN 1 Praya Timur ... 55

4. Keadaan Guru SMAN 1 Praya Timur ... 55

5. Keadaan Guru SMAN 1 Praya Timur ... 59

6. Keadaan Sarana dan Prasarana... 60

B. Hasil Penelitian ... 62

1. Hasil Penelitian Siklus I ... 62

2. Hasil Penelitian Siklus II ... 75

C. Pembahasan ... 90

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 93

B. Saran ... 94

DAFTAR PUSTAKA ... 96 LAMPIRAN-LAMPIRAN

xi

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Lembar Observasi Guru Siklus I, 46 Tabel 3.2 Lembar Observasi Siswa Siklus I, 49.

Tabel 3.3 Kriteria Tingkat Keberhasilan, 53.

Tabel 4.1 Keadaan Guru SMAN 1 Praya Timur Tahun Ajaran 2021/2022, 56.

Tabel 4.2 Keadaan Siswa SMAN 1 Praya Timur Tahun Ajaran 2021/2022. 60.

Tabel 4.3 Sarana SMAN 1 Praya Timur, 60.

Tabel 4.4 Prasarana SMAN 1 Praya Timur, 61.

Tabel 4.5 Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus I, 66.

Tabel 4.6 Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I, 69.

Tabel 4.7 Hasil Belaajar Siswa Pada Siklus I, 72.

Tabel 4.8 Hasil Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I, 73.

Tabel 4.9 Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus II, 81.

Tabel 4.10 Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II, 84.

Tabel 4.11 Hasil Kemampuan Belajar Siswa Siklus II, 87.

Tabel 4.12 Hasil Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I, 88.

Tabel 4.13 Peningkatan Hasil Belajar, 91.

xii

(13)

DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN PENELITIAN SIKLUS I

Lampiran 1 Rpp Siklus I

Lampiran 2 Lembar Observasi Aktivitas Guru Siklus I Lampiran 3 Lembar Observasi Aktivitas Siswa Siklus Ii Lampiran 4 Soal Tes Siklus I

Lampiran 5 Kunci Jawaban Soal Siklus I Lampiran 6 Rekap Jawaban Siklus I

LAMPIRAN PENELITIAN SIKLUS II Lampiran 1 RPP Siklus II

Lampiran 2 Lembar Observasi Aktivitas Guru Siklus II Lampiran 3 Lembar Observasi Aktivtas Siswa Siklus II Lampiran 4 Soal Tes Siklus II

Lampiran 5 Kunci Jawaban Tes Siklus II Lampiran 6 Rekap Jawaban Siklus II

xiii

(14)

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING

UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PADA MATERI ZAKAT MAL DI KELAS X MIA-3 SMAN 1 PRAYA TIMUR

Oleh:

Yuliatin Ismi NIM 180101149

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah siswa dalam pembelajaran PAI pada materi zakat mal melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di SMAN 1 Praya Timur.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilakukan dengan kerja sama antara observer dan guru.

Penyelidikan ini dibagikan dalam 4 tahapan yaitu perancangan, pelaksanaan, pemerhatian dan refleksi pada setiap siklusnya. Teknik-teknik pengumpulan datayang digunakan yakni : observasi dan tes. Prosedur analisis data yaitu, data yang diperoleh melalui tindakan dianalisis, data yang bersifat kualitatif berasal dari observasi (lembar observasi guru dan siswa). Sedangkan data yang yang bersifat kuantitatif berasal dari tes yang dilakukan pada setiap akhir siklusnya.

Analisis kuantitatif dari data yang diperoleh dilakukan untuk menentukan integritas individu dan integritas klasik. Hasil penelitian membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran PBL dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa pada pembelajaran PAI materi zakat mal. Hal ini terlihat dari perolehan siswa pada siklus I yaitu tingkat ketuntasan klasikal sebesar 67,74%.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus I siswa klasikal tidak tuntas karena siswa yang mencapai nilai 75 berada di bawah persentase ketuntasan klasikal yang diharapkan yaitu 85%. Sedangkan untuk observasi aktivitas guru pada siklus I tingkat pelaksanaanya sebesar 67,74% dan tingkat aktivitas siswa sebesar 64%.

Pada siklus II diperoleh data integritas klasikal sebesar 87,09%. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa klasikal telah tuntas, karena siswa yang mendapat nilai 75 memiliki ketuntasan klasikal lebih besar dari yang diharapkan sebesar 85%.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran PBL pada pembelajaran PAI SMAN 1 Praya Timur dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa.

Kata kunci: Kemampuan memecahkan masalah, Model Pembelajaran Problem Based Laerning (PBL).

xiv

(15)

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Islam terdiri dari berbagai komponen yang saling terkait dan berinteraksi untuk secara ideal mencapai hasil yang diinginkan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Namun, komponen pendidikan seringkali berjalan dengan real, alami dan tradisional. Salah satu permasalahannya adalah metode pembelajaran sering dikaitkan dengan struktur dan infrastruktur yang lemah, dll. Akibatnya kualitas pendidikan Islam berulang kali menunjukkan status yang rendah. 1

Materi zakat mal merupakan salah satu pembahasan yang ada pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Zakat termasuk salah satu rukun Islam yang sering disebutkan sejajar dengan shalat pada 82 ayat. Allah telah menetapkan hukum zakat adalah wajib. Diharuskan mengeluarkan zakat harta pada tahun kedua Hijriyah setelah mengeluarkan zakat fitrah.2

Zakat menurut bahasa ialah: tumbuh, berkat atau kebaikan. Sedangkan menurut istilah (ahli fiqh) zakat adalah kadar harta tertentu yang wajib diberikan kepada kelompok-kelompok tertentu dengan berbagai syarat.

Disebut demikian karna harta itu tumbuh (berkembang) sebab diberikannya pada orang dan doa dari penerima.3

1 Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 1-4.

2 Abdul Hamid dan Beni Ahmad Saebani, Fiqh Ibadah, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 206-207

3 Abdul Fatah Idris dan Abu Hamid, Fikih Islam Lengkap, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 98-99.

1

(16)

Secara arti kata zakat yang berasal dari bahasa Arab dari akar kata ىكس mengandung beberapa arti seperti membersihkan, bertumbuh dan berkah.

Digunakan kata zak dengan arti “membersihkan”, karena memang zakat itu di antara hikmahnya adalah untuk membersihkan jiwa dan harta orang yang berzakat. Dalam terminologi hukum (syara‟) zakat artinya pemberian tertentu dari harta tertentu untuk orang tertentu menurut syarat-syarat yang ditetapkan.

Hukum zakat ialah wajib „aini dalam arti kewajiban yang ditetapkan untuk diri pribadi dan tidak mungkin dibebankan kepada orang lain, walaupun dalam pelaksanaanya dapat diwakilkan kepada orang lain.4

Dasar hukum yang mewajibkan mengeluarkan zakat adalah terdapat dalam QS. At-Taubah (9) : 103.

ُزِّهَطُت ًتَقَدَص ْمِهِنا َىْمَا ْهِمْذُخ ٌمْيِهَع ٌعْيِمَس ُ هاللّٰ َو ۗ ْمُهَّن ٌهَكَس َكَتىٰهَص َّنِا ۗ ْمِهْيَهَع ِّمَص َو اَهِب ْمِهْيِّكَشُت َو ْمُه

Artinya: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Q.S. At-Taubah:103).5

Menurut UU Republik Indonesia No 23 Tahun 2011 pasal 1 tentang zakat “zakat ialah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim ataupun badan usaha untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam”.

Inilah yang membuktikan pentingnya zakat dalam Islam tersebut.

Meskipun begitu, banyak sekali siswa yang rendah pengetahuannya tentang zakat bahkan tidak memahami secara jelas apa itu zakat. Akibatnya tidak

4 Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh, (Jakarta: Kencana, 2003), hlm. 37-38.

5 Ibid., hlm. 207

(17)

sedikit masalah yang muncul tentang pembagaian zakat, perhitungan zakat dan pengumpulan zakat. Sebagian orang mengeluarkan zakat tidak lebih dari hanya menggugurkan kewajiban saja. Rendahnya pemahaman tentang zakat inilah yang menjadi penyebab, sebagian orang berat untuk mengeluarkan zakat, terutama zakat mal, selain itu juga rendahnya pengetahuan tentang kelebihan dan keutamaan zakat itu sendiri.

Menurut penelitian kurangnya hasil belajar siswa oleh dominannya proses pembelajaran tradisional. Suasana atau proses pembelajaran didalam kelas lebih cenderung berpusat pada guru, sehingga memungkinkan siswa untuk pasif. Namun, guru lebih memilih untuk menerapkan model ini karena tidak memerlukan alat dan bahan praktis. Dalam hal ini, siswa tidak diajarkan strategi pembelajaran untuk mengajarkan mereka belajar berpikir dan berpikir untuk memotivasi diri, padahal aspek-aspek tersebut penting untuk keberhasilan belajar. Oleh karena itu, perlu digunakan suatu metode yang dapat membantu siswa memahami materi dan penerapannya serta relevansinya dalam kehidupan sehari-hari.6

Guru dan siswa harus aktif dalam proses pembelajaran. Aktif dalam cara yang baik dalam hal mentalitas, sikap dan tindakan. Dalam proses pemebelajaran, siswa harus lebih aktif daripada guru. Guru seharusnya hanya bekerja sebagai fasilitator atau mentor. Sehingga proses pembelajaran bisa aktif/dialog.7

6 Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencana 2009), hlm. 5-6.

7 Nurfuadi, Profesionalisme Guru, (Purwokerto: STAIN Press, 2012), hlm. 73.

(18)

Pendidikan Agama Islam khususnya pelajaran zakat mal merupakan pelajaran yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu metode yang mendorong siswa untuk peka terhadap lingkungan dan berusaha memecahkan masalah adalah dengan menggunakan model pembelajaran Probelem Based Learning (PBL).

Model pembelajaran PBL merupakan model pembelajaran yang menuntut siswa untuk berpikir kritis, sistematis dan logis. Mengembangkan sikap ilmiah dengan meenggali data empiris untuk mencari alternatif pemecahan masalah. Dalam model pembelajaran PBL ini, siswa belajar memecahkan masalah secara mandiri. Proses pemecahan masalah adalag kolaboratif beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari.8

Model pembelajaran PBL adalah salah satu model pembelajaran yang dimana penalaran nyata bisa diterapkan secara komprehensif, karena didalamnya ada unsur menemukan masalah dan memecahkan masalah. Unsur yang ada didalamnya, yakni menemukan permasalahan dan memecahkan masalah.9

Di antara materi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang dipelajari di SMAN 1 Praya Timur ialah materi zakat mal. Materi zakat mal diharapkan bisa memberikan motivasi pada siswa untuk mengingat dan memahami bermacam informasi dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

8 Lestari Yuni, Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Fiqih Kelas VII A MTs Hidayutul Muhsinin Tahun Pelajaran 2019/2020, (Skripsi, UIN Mataram, Mataram 2020), hlm. 2-3.

9 Nur Rahmah Fatmawati, Peneparan Problem Based Learnig dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas V Sumayyah di Sekolah Dasar Islam Internasional Al Abidin Surakarta Tahun Pelajaran 2013/2014 (Naskah Artikel Publikasi, FAI Universitas Muhammadiyah Surakrta, 2014)

(19)

Metode pembelajaran yang digunakan di SMAN 1 Praya Timur masih cenderung monoton walaupun sarana dan prasarana sudah cukup lengkap akan tetapi metode pembelajaran yang digunakan masih kurang bisa memberikan pemahaman yang kuat pada siswa dalam proses pembelajarannya. Metode pembelajaran yang sering digunakan disana adalah metode ceramah, metode diskusi dan masih banyak yang berpatokan hanya pada buku pelajaran saja.

Hasil wawancara dengan beberapa siswa SMAN 1 Praya Timur pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam khususnya materi zakat mal sebagian besar mengalami kesulitan dalam memahami dan mengingat materi, serta kesulitan menghitung materi karena kurangnya latihan soal, kesulitan menghubungkan konsep dengan kehidupan sehari-hari, perasan mereka berada di sekitar.10

Berdasarkan hasil wawancara guru PAI di SMAN 1 Praya Timur menjelaskan bahwa masalah atau kesulitan yang dialami siswa pada materi zakat mal adalah pada cara pembagian dan perhitungannya karena harta yang dikeluarkan zakatnya berbeda-beda tergantung dari banyak harta yang didapatkan. Disini guru PAI nya masih menggunakan metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi sehingga siswa belum sepenuhnya memahami bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut sehingga disini guru perlu mengubah metode pembelajaran yang digunakan agar siswa bisa

10 Novita Sari, Wawancara, SMAN 1 Praya Timur, 31 Januari 2022

(20)

mudah memahami dengan baik bagaimana perhitungan pembagian zakat yang benar.11

Berdasarkan pengalaman peneliti ketika pada jenjang MA yang menjadi kesulitan pada materi zakat mal ini memang terdapat pada cara menghitungnya sehingga peneliti sulit untuk memahaminya, karena guru terkadang hanya memberikan penjelasan yang berpatokan pada buku bahan ajar dan jarang memberikan soal tentang perhitungan terkait pemabagian zakat mal, sehingga peneliti tertarik untuk mengangkat judul dengan permasalahan bagaimana cara meningkatkan kemapuan memecahkan masalah siswa pada materi zakat mal.

Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan trobosan dalam Pendidikan Agama Islam khususnya materi zakat, sehingga tidak menyajikan materi yang abstrak, tetapi juga harus melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Salah satunya adalah penerapan model pembelajaran PBL yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah lingkungan khususnya yang berkaitan dengan zakat harta, karena siswa dibimbing untuk mencari informasi, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, melakukan penyelidikan dan eksperimen, untuk menemukan konsep-konsep yang berhubungan dengan mata pelajaran.12 Berangkat dari hal tersebut, beberapa materi mendalam tentang apa dan bagaimana belajar dengan PBL kemudian diterapkan proses pembelajaran

11 Mukhti Ali, Guru PAI, Wawancara, SMAN 1 Praya Timur, 31 Januari 2022.

12 Fitri Ekasari, Penerapan Pendekatan Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah dalam Pembelajaran PAI Materi Zakat Mal di kelas VIII SMP Muhammadiyah 10 Belik Pemalang, (Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Negeri Purwokerto 2015), hlm. 5.

(21)

sehingga dapat memberikan masukan khususnya bagi para pendidik tentang PBL.13

Berdasarkan latar belakang diatas, peniliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah Siswa dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Materi Zakat Mal di SMAN 1 Praya Timur”.

B. Sasaran Tindakan

Adapun sasaran atau objek pelaku tindakan penelitian ini adalah guru dan siswa kelas X MIA-3 SMAN 1 Praya Timur tahun ajaran 2021/2022 yang berjumlah 31 orang. Sedangkan yang menjadi objeknya ialah Model Pembelajaran PBL.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan latar belakang di atas maka peneliti dapat merumuskan masalah penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana penerapan model PBL untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada materi zakat mal di SMAN 1 Praya Timur?

2. Bagaimana peningkatan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah terhadap pembelajaran pendidikan agama Islam pada materi zakat mal dengan menggunakan model PBL di SMAN 1 Praya Timur?

D. Tujuan Penelitian

13 Rusman, Model-model Pembelajaran; Menngembangkan Profesionalisme Guru (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hlm. 229

(22)

Berdasarkan rumusalan masalah diatas peneliti dapat merumusakan tujuan penelitian sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui penerapan model PBL untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada materi zakat mal di SMAN I Praya Timur

2. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada materi zakat mal dengan menerapkan model PBL di SMAN 1 Praya Timur.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini dapat dibagi menjadi 2 yakni manfaat teoritis dan manfaat praktis.

1. Manfaat teoritis

Secara teoritis manfaat yang diharapkan dari penelitian ini ialah sebagai penambah wawasan dan ilmu pengetahuan serta teori-teori yang bersangkutan dengan model pembelajaran PBL sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa di sekolah.

2. Manfaat praktis a. Bagi siswa

Sebagai pengalaman dan pembelajaran langsung siswa yang menggunakan model PBL untuk meningkatkan kemampuan

(23)

belajarnnya, penelitian ini diharapkan dapat memecahkan permasalahan yang dialami siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam terkait materi zakat dan menjadi motivasi bagi siswa di dalam dan di luar kelas.

b. Untuk Guru

Sebagai latihan bagi guru untuk menerapkan model PBL dalam proses pembelajaran, dan sebagai tambahan wawasan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan meningkatkan profesionalisme guru.

c. Untuk sekolah

Meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam, dalam kaitannya dengan materi zakat di sekolah dan sebagai bahan masukan yang digunakan dalam proses pembelajaran.

F. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Praya Timur, tepatnya di kelas X MIA-3 yang berjumlah 31 orang. Penelitian ini terdiri dari dua sub pokok bahasan yakni, penerapan model PBL untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah. Kedua hal ini menjadi acuan pokok pada penelitian ini.

Adapun pengertian dari kedua sub pokok tersebut. Problem Based Learning ialah suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar berfikir kritis serta

(24)

keterampilan memecahkan masalah dan utuk mendapatkan pengetahuan serta konsep yang esensi dari materi pelajaran.14

Adapun keterampilan memecahkan masalah bisa diajarkan.

Pemecahan masalah bisa dilihat sebagai manipulasi infromasi secara sistematis, langkah demi langkah, dengan mengolah informasi yang didapat lewat pengamatan untuk mencapai suatu hasil pemikiran sebagai respons terhadap problem yang dialami. Untuk memecahkan masalah harus melokasi informasi, menampilkannya dari ingatan lalu memprosesnya dengan maksud untuk mencari hubungan, pola, atau pilihan baru. Memecahkan masalah ialah mengambil keputusan secara rasional.15

14 Nurhayati Abas, Penerapan Model Pembelajaran berdasarkan Masalah (Problem Based Learning) dalam Pembelajaran Matematka di SMU, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.

No. 051. Th. Ke-10. November 2004, hlm. 833.

15 Nasution, Kurikulm dan Pengajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1989, hlm. 117.

(25)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Kajian Pustaka

1. Pengertian Belajar dan Pembelajaran a. Pengertian Belajar

Disadari atau tidak, belajar adalah bagian dari proses kehidupan manusia. Setiap orang harus melalui proses yang disebut belajar sepanjang hidupnya. Belajar memiliki banyak arti, dan para psikolog telah membuat banyak argument tentang definisi belajar itu sendiri.

Belajar adalah perubahan yang relative permanen dalam kemampuan seseorang setelah berhadapan dengan pengalaman yang diperolehnya dan praktik yang telah dilakukannya.16

Konsep belajar adalah proses mengubah prilaku dengan adanya pengalaman dan praktik. Dengan kata lain, tujuan belajar adalah untuk mengubah prilaku, termasuk pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Berdasarkan penilitian Morris L. Bigge yang dikutip oleh Maxdarsono et al. ini adalah perubahan permanen dari seseorang yang tidak dapat diwariskan. Morris lebih lanjut menunjukkan bahwa karena pengalaman dalam situasi tertentu, pemahaman (wawasan), prilaku, persepsi, motivasi, atau sistem hibrida mereka telah berubah.17

16 Peremendikbud RI Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah

17 Max Darsono dkk, Belajar dan Pembelajaran, (Semarang: CV. IKIP Semarang Press, 2000), hlm.2

(26)

Sedangkan menurut Abdul Mukti, belajar ditandai dengan perubahan pengetahuan, sikap, prilaku dan keterampilan. Perubahan tersebut relatif tetap berdasarkan tujuan yang diharapkan pada satu orang. Kedua, belajar terjadi melalui akumulasi latihan dan pengalaman. Ketiga, belajar merupakan proses konsturktif dan aktif yang terjadi melalui proses psikologis. Proses psikologis adalah serangkaian proses kognitif, meliputi persepsi, perhatian (attention), ingatan (memory), berpikir (thinking, reason) untuk memecahakan masalah, dan lain-lain.18

Menurut teori Behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi rangsangan dan tanggapan. Dengan kata lain, belajar adalah suatu bentuk perubahan yang dialami siswa dalam proses belajar. Dalam hal kemampuannya untuk bertindak dengan cara baru hasil interaksi stimulus dan respon. Jadi, orang yang belajar akan mengalami perubahan prilaku. Misalnya, siswa tidak dapat berdoa, bahkan jika dia mencoba, gurunya tetap sama telah berusaha keras untuk mengajar, tetapi jika siswa tidak bisa jika mengamalkan solat, maka tidak dianggap belajar. Karena dia tidak dapat menunjukkan perubahan tingkah laku karena belajar.19

b. Ciri-Ciri Belajar

Dari beberapa definisi para pakar diatas bisa disimpulkan terdapat beberapa ciri-ciri belajar anatara lain:

18 Chabib Thaha (editor), PNM-PAI di Sekolah, Eksistensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm.94-95

19 Putrie prihatiningtyas, Penggunaan…, hlm. 10

(27)

1) Belajar ditandai menggunakan adanya perubahan tingkah laku (change behavior).

2) Perubahan prilaku relatif permanen.

3) Perubahan tingkah laku tidak harus segara bisa diamati pada waktu proses belajar sedang berlangsung, perubahan sikap tadi bersifat potensial.

4) Perubahan tingkah artinya hasil latihan atau pengalaman.

5) Pengalaman atau latihan itu bisa memberi penguatan.20 c. Pengertian pembelajaran

Sedangkan untuk memperkaya pengetahuan siswa, pembelajaran tidak hanya dilakukan belajar saja, pembelajaran dapat didefinisikan sebagai perencanaan atau desain yang sistematis, pelaksanaan dan evaluasi sistem atau proses pembelajaran siswa untuk memungkinkan siswa mencapai tujuan pembelajaran mereka secara efektif dan efisien. Pembelajaran dapat dilihat dari dua perspektif:

pertama, pembelajaran dipandang sebagai suatu sistem, dan pembelajaran terdiri dari serangkaian komponen yang terorganisir, termasuk tujuan pembelajaran, materi, strategi dan metode, media, sumber belajar, organisasi kelas, penilaian dan pendidikan tinggi (pemulihan dan pembelajaran). Kedua, belajar dipandang sebagai suatu

20 Baharuddin, dkk, Teori Belajar dan Pembelajaran, Ar-ruzz Media, 2010

(28)

proses, jadi belajar adalah serangkaian usaha atau kegiatan yang digunakan guru untuk membantu siswa belajar.21

d. Karakteristik belajar dan pembelajaran

Belajar dan pembelajaran merupakan dua kegiatan yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan anatara belajar dan pembelajaran dapat digambarkan dengan suatu sistem. Belajar dan pembelajaran memerlukan input dasar (gross entry), yaitu pengalaman belajar dalam proses belajar (proses belajar mengajar), dan diharapkan dapat ditransformasikan menjadi kegiata outing keterampilan.22

e. Model Pembelajaran

Model pembelajaran ialah suatu proses perencanaan yang dipakai sebagai pedomanan pada proses pembelajaran. Model pembelajaran juga adalah salah satu bentuk pendekatan yang dipakai dalam rangka membentuk perubahan prilaku siswa untuk bisa mengembangkan motivasi pada proses pembelajaran. Konsep model pembelajaran begitu hubungannya dengan gaya belajar siswa dalam mengembangkan prestasi belajar. Konsep model pembelajaran harus mempunyai arti yang lebih luas yang terdiri dari:

1) Rasional teoritis yang valid dirangkai oleh para pencipta atau pengembangnya pada model pembelajaran.

2) Memiliki landasan terkait apa dan bagaimana siswa belajar dan memenuhi tujuan pembelajaran yang diharapkan.

21 Fitri Etikasari, Penerapan…, hlm. 15-16

22 Kokom komalasari, Pembelajaran Kontekstual:Konsep dan Aplikasi, (Bandung: PT Refika Aditama, 2010), hlm. 4

(29)

3) Adanya perubahan dalam cara mengajar yang harus dilaksanakan dengan baik yang sinkron dengan tujuan pembalajaran.

4) Pentingnya melibatkan lingkungan sebagai sumber belajar untuk memenuhi tujuan pembelajaran yang diinginkan.23

2. Problem Based Learning (PBL)

a. Pengertian Problem Based Learning

Problem Bsased Learning ialah kurikulum dan proses pembelajaran. Dalam kurikulumnya, disiapkan masalah-masalah yang menuntut siswa memperoleh pengetahuan yang penting, membuat mereka berbakat dalam memecahkan masalah, dan mempunyai startegi belajar sendiri serta meemiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim.

Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistematik atau terancang dalam memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti dibutuhkan dalam karir dan kehidupan sehari- hari. Pembelajaran berdasarkan masalah atau PBL merupakan suatu pendekatan yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang bagaimana cara berpikir kritis dan keterampilan dalam pemecahan masalah belajar.24

PBL adalah salah satu model pembelajaran yang bisa menjadikan siswa lebih aktif, mandiri, menyenangkan dan mampu membentuk kerja sama yang baik antara pendidik dengan siswa yang

23 Ponidi, dkk, Model Pembelajaran Inovatif dan Efektif, (Jawa Barat: Adanu Abimata, 2021), hlm. 10

24 Muhannimah, Peningkatan Hasil Belajar Fiqih Melalui Model Problem Based Learning (Peneilitian Tindakan Kelas VIII DI MTs Al-Ihsan Pondok Gede Bekasi), (Skripsi, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2016), hlm. 17

(30)

lainnya dalam menemukan dan memahami konsep tersebut. I wayan Dsana berpendapat bahwa PBL adalah pelaksanaan pembelajaran dimulai dari sebuah kasus tertentu dan setelah itu dianalasis lebih lanjut guna untuk ditemukan masalahnya, dan PBL merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar siswa menjadi lebih aktif.25

Menurut Siswono PBL merupakan suatu model pembelajaran yang dimulai dengan mengajukan masalah dan dilanjutkan dengan mengatasi masalah tersebut. Untuk mengatasai masalah tersebut siswa membutuhkan pengetahuan baru guna menemukan solusinya. Masalah itu dapat meningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang didalamnya meliputi kemampuan berpikir analitis atau mendalam.26

Sedangkan menurut, C. Asri Budningsih berpendapat bahwa model PBL mengacu pada proses belajar memecahkan masalah. Model pembelajaran PBL mengarah pada pandangan konstruktivisik. Siswa dapat mengembangkan kemampuannya dengan bermacam teknik dan startegi memecahkan masalah. Lewat model pembelajaran ini maka siswa pun bisa mengembangkan kemampuannya. Yang dimaksud dengan mengembangkan kemaampuan disini ialah dengan metode berbasis masalah ini, siswa akan bebas berpendapat, mengoptimalkan pemikiran mereka yang kreatif.

25 I wayan Dsana dan Sutrisni, Pembelajaran Berbasis Masalah (problem based learning), (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya 2007), hlm. 98

26 Asrani Assegaff, Uep Tatang Sontani, Upaya Meningkatan Kemampuan Berfikir Analitis Melalui Model Problem Based Learning, Vol. 1, Nomor. 1, Agustus 2016, hlm. 4

(31)

Sementara menurut Tan yang dikutip oleh Rusman menyatakan, PBL adalah inovasi dalam pembelajaran dimana kemampuan berpikir siswa benar-benar dioptimalisasikan dengan cara kerja kelompok atau tim yang sistematis sehingga dapat memberdayakan, menguji, mengasah dan mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan. Tujuan akhir diterapkannya model PBL ialah untuk membentuk sikap siswa yang unggul dengan kreatifitas dan berpikir kritis dalam menghadapi berbagai masalah.27

Model pembelajaran PBL dapat diartikan sebagai metode pendidikan yang mendorong siswa untuk belajar bagaimana belajar dan bekerja dalam kelompok untuk menemukan solusi dari masalah dunia nyata. Sebelum memulai mempelajari mata pelajaran, gutu dapat menggunakan simulasi masalah untuk merangsang keingintahuan siswa. PBL mempersiapkan siswa untuk berpikir kritis dan analitis, serta mampu memperoleh dan menggunakan sumber belajar dengan tepat. Model pembelajaran PBL merupakan metode penyajian materi pembelajaran dengan menggunakan soal sebagai titik awal diskusi, analisis dan diskusi, dalam upaya mencari solusi atau jawaban bagi siswa. Guru dapat bertanya atau bertanya kepada siswa, siswa dengan

27 Lukman Hakim, Implementasi Problem Based Learning pada Materi Qada dan Qadar untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas VI dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN GENDINGAN 5 NGAWI, (Skirpsi, UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, 2018), hlm. 15

(32)

gutu, atau siswa itu sendiri, kemudian digunakan untuk berdiskusi dan mencari solusi bagi kegiatan belajar siswa.28

b. Karakteristik dan ciri pembelajaran PBL

Model pembelajaran berbasis masalah dapat diartikan sebagai rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada pemecahan masalah secara ilmiah. Pembelajaran berbasis masalah memiliki tiga ciri utama, yaitu:

1) Merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran, artinya dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah siswa harus melakukan banyak kegiatan. Pembelajaran berbasis masalah tidak mengharapkan siswa hanya mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal pelajaran, tetapi melalui pembelajaran berbasis masalah, siswa secara aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menarik kesimpulan.

2) Kegiatan belajar dirancang untuk memecahkan masalah.

Pembelajaran berbasis masalah menggunakan masalah sebagai kata kunci dalam proses pembelajaran. Artinya tidak akan ada proses pembelajaran tanpa masalah.

3) Pemecahan masalah diselesaikan dengan menggunakan metode berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris. Sistem berarti berpikir ilmiah dilakukan pada tahapan

28 Marhamah Saleh, Staretgi Pembelajaran Fiqh Dengan Problem Based Learning, Vol.

XIV, Nomor 1, Agustus 2013, hlm. 203-204

(33)

tertentu dan pengalaman menunjukkan bahwa proses pemecahan masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.29

Menurut Wina Sanjaya ada 3 karakteristik pembelajaran model pembelajaran PBL yakni:

1) Memandu kegiatan pembelajaran agar siswa dapat aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menarik kesimpulan,

2) Kegiatan belajar ditujukan untuk memecahkan masalah.

Pertanyaan digunakan sebagai kata kunci dalam proses pembelajaran. Tidak ada masalah, tidak ada proses pembelajaran, dan

3) Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan metode berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif.30

c. Komponen- Komponen Model Pembelajaran PBL

Komponen pembelajaran PBL atau pembelajaran berbasis masalah yang dikemukakan oleh Arends antara lain:

1) Masalah nyata. Model pembelajaran berbasis masalah dapat menyusun masalah praktis yang penting bagi masyarakat dan bermanfaat bagi siswa. Permasalahan yang dihadapi siswa di dunia nyata tidak dapat diselesaikan dengan jawaban sederhana.

29 Ahmad La Roibafih, Efektivitas Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Guna Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pelajaran Fikih Di MA BILINGUAL KRIAN SIDOARJO, (Skripsi, UIN Sunan Ampel Surabaya, 2018), hlm 23-24

30 Ibid. hlm.16-17

(34)

2) Fokus interdisipliner. Ini bertujuan untuk memungkinkan siswa mempelajari pemikiran struktural dan belajar menggunakan berbagai sudut pandang ilmiah.

3) Pengamatan nyata. Ini bertujuan untuk menemukan solusi nyata.

Siswa dituntut untuk menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengemukakan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen, membuat kesimpulan dan menarik kesimpulan.

4) Menghasilkan produk dan memajangnya. Ini bertujuan agar siswa dapat menggambarkan atau mempersentasikan bentuk pemecahan masalah yang mereka temukan.

5) Kerja sama. Ini bertujuan untuk memberikan motivasi untuk terus- menerus terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan meningkatkan peluang untuk berbagi pertanyaan dan percakapan serta mengembangkan keterampilan sosial dan berpikir.

Dari komponen di atas, siswa perlu berpikir secara terstruktur dan belajar menggunakan berbagai sudut pandang ilmiah untuk menyelesaikan masalah praktis.31

d. Tahapan-Tahapan Pembelajaran PBL

Banyak ahli menjelaskan bentuk penerapan PBL. John Dewey merupakan PBL 6 langkah, yang kemudian disebutnya metode pemecahan masalah, yaitu:

31 Sakinah, Penerapan Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ssiswa Pada Pembelajaran Fiqh Di Kelas VII MTsS Babun Najah Kota Banda Aceh, (Skrispi, UIN Ar-Raniry Darussalam, Banda Aceh, 2016), hlm. 14

(35)

1) Mengajukan pertanyaan merupakan langkah yang dilakukan siswa untuk menentukan masalah yang akan dipecahkan.

2) Analisis masalah, yaitu langkah-langkah bagi siswa untuk meninjau masalah secara kritis dari semua sudut.

3) Mengusulkan hipotesis, yaitu langkah-langkah bagi siswa untuk merumuskan berbagai kemungkinan solusi berdasarkan pengetahuannya sendiri.

4) Kumpulkan data, yaitu langkah-langkah yang diambil siswa untuk menemukan dan mendeskripsikan informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah

5) Pengujian hipotesis mengacu pada langkah-langkah atau kesimpulan yang diambil siswa berdasarkan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan.

6) Penyusunan saran pemecahan masalah dapat didasarkan pada rumusan hasil uji hipotesis dan rumusan kesimpulan.32

e. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Problem Based Learning 1) Kelebihan model pembelajaran PBL sebagai model pembelajaran,

pembelajaran berbasis masalah memiliki beberapa kelebihan antara lain:

a. Pemecahan masalah adalah teknik yang baik untuk lebih memahami isi kursus.

32 Jumanta Hamdayana, Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2014), hlm. 212

(36)

b. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa dan memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru.

c. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa.

d. Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan untuk memahami masalah kehidupan nyata.

e. Pemecahan masalah dapat membantu siswa mengembangkan pengetahuan baru dan bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri.Selain itu, pemecahan masalah juga dapat mendorong siswa untuk menilai sendiri hasil dan proses pembelajaran.

f. Dengan menyelesaikan masalah, siswa dapat melihat fakta- fakta berikut: setiap topik pada dasarnya adalah cara berpikir, sesuatu yang harus dipahami siswa, bukan hanya belajar dari buku.

g. Pemecahan masalah dianggap lebih menarik dan disukai siswa.

2) Kelemahan Pembelajaran Problem Based Learning

Selain kelebihan, pembelajaran PBL juga memiliki kelemehan antara lain:

a) Ketika siswa tidak tertarik untuk mempelajari masalah atau tidak percaya bahwa itu sulit untuk diselesaikan, mereka akan merasa enggan untuk mencoba.

(37)

b) Waktu persiapan yang cukup diperlukan untuk berhasil mempelajari model dengan memecahkan masalah.

c) Jika mereka tidak mengerti mengapa mereka mencoba untuk memecahkan masalah yang mereka pelajari, mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelemahan dan kelebihan yang harus diatasi oleh setiap pendidik, agar tidak menemui kendala dan kendala dalam proses pembelajaran, dan tujuannya dapat tercapai dengan baik.33

3. Pembelajaran PAI Materi Zakat Mal a. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan melalui ajaran agama Islam, yang berupa bimbingan dan perlindungan bagi siswa agar kelas setelah lulus dan pendidik dapat memahami dan menghayati ajaran Islam serta mengamalkannya sebagai wawasan kehidupannya untuk kemaslahatan, keamanan dan ketentraman hidup di dunia dan di akhirat.34

Pendidikan Islam pada khasnya bersumberkan nilai-nilai dalam menanamkan dan menumbuhkan sikap hidup yang didalami oleh nilai- nilai agama Islam, juga meningkatkan kemampuan berilmu pengetahuan searah dengan nilai-nilai Islam yang mendasarinya.

33 Muhammad Ikhlasul Amal, Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Hasil Belajar Fikih Siswa MTs DDI Bowong Cindea KAB. Pangkep, (Skripsi, UIN ALAUDDIN Makasar, 2017), hlm. 26-28

34 Zakiah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 86.

(38)

Dalam hal ini, pendidikan Islam melainkan bersisikan terkait sikap dan tingkah laku masyarakat menuju hidup seseorang dan bersama, juga bersisikan keterampilan dalam ilmu pengetahuan yang searah dengan nilai-nilai Islam yang menjadi alasnya.35

b. Ruang Lingkup zakat 1) Pengertian Zakat

Zakat secara etimologi bisa dimaknai berkembang dan berkah, sesuai ungkapan berikut: ُع ْر َشنا اَك َس (tanaman itu berkembang( ُتَقَفَىنا تَك َس (nafkah itu berkah), dan اَك َس ٌنَلاُف (si Fulan besar kebaikannya). Melainkan itu, zakat bisa dimaknai membersihkan/menyucikan, seperti dalam firman Allah SWT:

ْهَم َحَهْفَأ ْدَق اَهَّٰك َس

٩ ۝

Artiinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu”. (QS. Asy-Syams (91): 9).

Maksud dari ayat diatas, yaitu membersihkan dari segala dosa. Zakat diucap demikian karna harta kekayaan yang dizakati bertambah berkembang berkat dikeluarkan zakatnya dan doa orang yang menerima zakat tersebut. Zakat juga menyucikan orang yang mengeluarkannya dari dosa dan memujinya, malah menjadi saksi atau bukti atas kesungguhan iman orang yang membayarkannya.36

Zakat menurut terminologi ialah sebagian (kadar) harta tertentu yang mencukupi syarat minimal (nishab) dalam tempo

35 Rudi Ahmad Suryadi, Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Budi Utama, 2018), hlm.

8.

36Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqih Ibadah, (Jakarta: Amzah, 2009), hlm. 343..

(39)

waktu satu tahun (haul) yang dikasih kepada yang berhak menerimanya (mustahiq) dengan syarat yang ditetapkan. Bilamana seseorang sudah menunaikan zakat berarti ia sudah menyucikan diri, jiwa dan hartanya. Dia sudah menyucikan jiwanya dari penyakit kikir serta menyucikan hartanya dari hak orang lain yang ada pada hartanya itu. Orang yang pantas menerimanyanya pun juga suci jiwanya dari penyakit dengki, iri hati kepada orang yang memiliki harta.37

2) Hukum Menunaikan Zakat

Zakat ialah konsep ajaran Islam yang dilandaskan pada Al- Qur‟an dan Sunnah Rasul bahwa harta kekayaan yang dimiliki seseorang ialah amanat dari Allah dan berfungsi sosial. Dengan begitu, zakat ialah suatu keharusan yang diperintahkan oleh Allah SWT. Hal ini dapat dilihat dalam dalil-dalil, baik yang ada pada Al-Qur‟an ataupun yang ada pada kitab-kitab hadis, yakni sebagai berikut:

a) Firman Allah SWT, “Dirikanlah shalat dan bayarlah zakat hartamu” (QS. An-Nisa [4]:77).

b) Firman Allah SWT, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku‟lah beserta orang-orang yang ruku” (QS. Al-Baqarah [2]: 43).

c) Hadis Nabi SAW

37 Kutbuddin Aibak, Kajian Fiqih Kontemporer, (Yogyakarta: Kalimedia, 2017), hlm.

157

(40)

Bila suatu kaum enggan memabayar zakat, Allah akan menguji mereka dengan bertahun-tahun kekeringan dan kelaparan (HR. Thabrani).

Dengan dalil-dalil atas, terkhusus yang meletakkan kata zakat, yang mengiring kata shalat, maka dapat ditetapkan bahwa status zakat adalah ibadah yang wajib yang sama pentingnya seperti shalat. Ini bermakna kalau zakat itu salah satu sendi satu tiang utama dari bangunan Islam. 38

3) Syarat-syarat Wajib Zakat a) Beragama Islam

Zakat tidak sah apabila ditunaikan orang kafir, karena Allah SWT tidak akan menerima amalan orang kafir.

b) Merdeka

Harta tidak diharuskan untuk budak dan hamba sahaya, karena dia dan hartanya menjadi kepunyaan tuannya.

c) Harta tersebut sudah mencapai nishab (jumlah tertentu)

Nisab ialah batasan antara apakah harta itu harus zakat atau tidak. Jadi, kekayaan yang dipunyai seseorang sudah memenuhui nishab, jadi harta itu harus dizakatkan. Syarat- syarat nishab, yakni: pertama, nishab adalah sisa dari kebutuhan pokok setiap perorangan, baik makanan, pakaian dan tempat tinggal. Kedua, harta yang masuk dalam ukuran

38 Elsi Kartika Sari, Pengantar Hukum Zakat dan Wakaf, (Jakarta: PT Grasindo, 2006), hlm. 11-13.

(41)

nishab ialah punya muzakki secara penuh. Zakat tidak harus ditunaikan dari harta yang bukan punya sendiri.

d) Telah sampai haul

Yaitu, apabila harta sudah memenuhi nishab tersebut dimiliki selama 1 tahun penuh (12 bulan) berlandaskan penanggalan Hijriah.39

4) Jenis-jenis Zakat

Jenis-jenis zakat dibagi menjadi dua, yakni:

a) Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah kewajiban yang sudah ditentukan oleh Rasulullah SAW ketika berbuka (selesai) dari bulan Ramadhan. Abdullah bin Umar berkata,

الله لىسر َض َزَف ِدْبَعْنا ىَهَع َناَضَم َر هِم ِزْطِفْنا َةاَك َس صلى الله عليه وسلم

, ِّزُحناو ِزيِبَكْنا َو ِزْيِغَّصنا َو ,ىَثْوُ ْلْا َو ِزَكَّذنا َو

َهيِمِهْسُمْنا َهِم

“Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitri (sesudah selesai) dari bulan Ramadhan atas budak, orang yang merdeka, laki-laki ataupun perempuan, anak kecil ataupun dewasa dari kalangan kaum muslim.” (H.R.Al-Bukhari dan Muslim)40 b) Zakat Mal (harta)

Istilah Mal jamak dari kata amwal bisa dimaknai menjadi segala sesuatu yang diinginkan sekali oleh manusia

39 Abdullah Salim Umar Bahamman, Fiqih Ibadah Bergambar, (Jakarta: Mutiara Publishing, 2014), hlm. 200-201.

40 Hari Ahadi, Fiqih Mudah Zakat Fitrah, (Kalimantan Timur: Nasehat Etam, 1442 H), hlm. 14.

(42)

buat mempunyai serta menyimpannya. Pada awalnya kekayaan sepadan dengan emas serta perak, tetapi kemudian berkembang sebagai segala barang yang dipunyai dan disimpan.41

Pada kitab Fathul Mu‟in dijelaskan zakat mal (harta) yakni zakat yang ditunaikan dari harta kekayaan tertentu seperti emas, perak, binatang, tumbuhan (biji-bijian), dan harta jual beli.42 Para pemikir ekonomi Islam masa kini mendeskripsikan zakat harta benda menjadi harta yang sudah ditentukan oleh pemerintah atau pejabat yang berhak, untuk masyarakat umum atau perorangan yang bersifat mengikat serta final, tanpa menerima imbalan tertentu yang dilaksanakan pemerintah sesuai dengan kapasitas pemilik harta, yang diperuntukkan untuk mencukupi kebutuhan 8 golongan yang sudah ditetapkan oleh Al-Qur‟an, dan untuk mencukupi tuntutan politik untuk keuangan Islam.43

Adapun syarat harta yang harus dizakati ialah antara lain:

(1) Harta tersebut punya orang yang beragama Islam (2) Harta tersebut ialah hak milik seutuhnya seseorang (3) Harta tersebut ialah harta yang menghasilkan (4) Harta tersebut sudah memenuhi satu nishab

(5) Harta tersebut adalah kelebihan dari kebutuhan primer

41 Musrsyidi, Akutansi Zakat Kontemporer, (Bandung: Rosyda Karya, 2003), hlm. 89.

42 Zainuddin bin Muhammad Al-Ghazali Al-Malibari, Fath Al-Mu‟in, (Bairut: Darul Al- Fikri), hlm. 34.

43 Nurdin Muhd Ali, Zakat Sebagai Instrument Dalam Kebijakan Fiskal, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 6.

(43)

(6) Dalam harta itu tidak ada tanggungan uang atau tidak dalam menanggung utang jatuh tempo yang bisa mengurangi nishab minimal

(7) Khusus harta seperti emas, perak, perternakan, tambang dan jual beli, maka wajiblah sudah berusia lebih dari 1 tahun.44

Zakat mal bisa dihitung melalui rumus: 2,5 % X jumlah harta yang disimpan selama setahun. Masing-masing macam harta mempunyai perhitungannya sendiri.45

Adapun untuk lebih rincinya nishab dan kadar zakat m ̅l ialah sebaagi berikut:

(1) Hasil Perternakan (a) Unta

Nishab (Ekor) Zakat yang wajib dikeluarkan 5-9 1 ekor domba

10-14 2 ekor domba 15-19 3 ekor domba 20-24 4 ekor domba

25-35 1 ekor anak unta betina (umur >1 tahun)

36-45 1 ekor anak unta betina (umur >2 tahun)

46-60 1 ekor anak unta betina (umur >3 tahun)

61-75 1 ekor anak unta betina (umur >4 tahun)

76-90 2 ekor anak unta betina (umur >2 tahun)

91-120 2 ekor anak unta betina (umur >3 tahun)

44 Gustian Djuanda, dkk, Pelaporan Zakat Pengurang Pajak Penghasilan, (Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 17.

45 Yulita Futria Ningsih, dkk, Fiqih Ibadah, (Bandung: Media Sains Indonesia, 2021), hlm. 53-54.

(44)

121-129 3 ekor anak unta betina (umur >2 tahun)

130-139 1 ekor anak unta betina (umur >3 tahun) ditambah 2 ekor anak unta betina (umur >2 tahun)

140-149 2 ekor anak unta betina (umur >3 tahun) ditambah 2 ekor anak unta betina (umur >2 tahun)

(b) Sapi/Lembu

Nishab (ekor) Zakat yang wajib dikeluarkan 5-9 1 ekor anak domba

30-39 1 anak sapi jantan atau betina (umur 1 tahun)

40-59 1 anak sapi betina (umur 2 tahun) 60-69 2 ekor anak sapi jantan (umur 1

tahun)

70-79 1 anak sapi betina (umur 2 tahun) ditambah 1 anak sapi jantan (umur 1 tahun)

80-89 2 ekor anak sapi betina 90-99 3 ekor anak sapi jantan

Berikutnya, setiap bertmabah 30 sapi, zakatnya ditambah juga 1 anak sapi jantan (umur 1 tahun), serta setiap bertambah 40 ekor, zakatnya ditambah 1 anak sapi betina (umur 2 tahun).46

(c) Kambing

Nishab (ekor) Zakat yang wajib dikeluarkan 40-120 1 ekor kambing

121-200 2 ekor kambing 221-300 3 ekor kambing

46 Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqih…, hlm.

353-354

(45)

Dilarang mengeluarkan zakat dengan hewan yang cacat. Tidak boleh juga mengeluarkan zakat hewan jantan kalau orang tersebut mempunyai hewan betina. Akan tetapi, jika orang itu tidak mempunyai hewan betina, maka boleh mengeluarkan zakat dengan hewan jantan sebagai kemudahan baginya.47

(2) Hasil kekayaan yang berbentuk emas, perak serta uang (a) Zakat emas yang wajib dilkeluarkan oleh seseorang,

selain wajib dipunyai secara pasti dan telah dipunyai selama 1 tahun (haul) juga wajib sampai jumlahnya (nishab), yakni 20 dinar atau jika diukur dengan emas Indonseia sepadan dengan 96 gram emas murni, dengan kadar zakat yang wajib dibayarkan ialah 2,5 %.

(b) Zakat perak yang wajib dibayarkan ialah perak yang sudah dipunyai selama 1 tahun (haul) dan jumlahnya (nishab) telah memenuhi 200 dirham atau sepadan dengan 672 gram perak murni, dengan kadar zakat perak yang wajib dibayarkan ialah 2,5%.

(c) Uang, baik uang giral ataupun uang kartal sesudah dipunyai selama 1 tahun (haul) dan sudah memenuhi jumlahnya (nishab) sepadan dengan 96 gram emas,

47 Ibid, hlm. 355.

(46)

maka kadar zakat yang wajib dibayarkan ialah sebesar 2,5%.48

(3) Hasil pertanian dan perkembunan

(d) Padi, jagung dan sagu serta jenis tumbuhan lain yang dianggap makanan pokok apabila nishabnya sudah mencapai 1.350 kg gabah atau sepadan dengan 750 kg beras, dengan kadar zakat yang dikeluarkan sebesar 10

% untuk sawah yang menggunakan pengairan dan tidak memerlukan tenaga serta biaya, sedangkan kadar zakat untuk sawah yang meggunakan pengairan yang memerlukan tenaga dan biaya maka kadar zakat yang dikeluarkan sebesar 5 %.

(e) Seluruh hasil bumi seperti biji-bijian, rempah-rempah, umbi-umbian, buah-buahan, sayur-sayuran, tanaman hias, rumput yang dibudidayakan dan lain sebagainya, nishabnya adalah setara dengan 85 gram emas, maka kadar zakat yang wajib dibayarkan adalah sebesar 2,5 % dengan keterangan bahwa dikategorikan dalam zakat perdagangan karena sengaja diproduksi untuk diperjual belikan bukan tujuan untuk dimakan sebagai makanan pokok.49

48 Prihatin Adnin, Zakat dan Tata Cara Pelaksanaanya Menurut Hukum Islam, Era Hukum, Nomor 1, September 2001, hlm. 60-61.

49 Ainun Abdullah, Model Perhitungan Zakat Pertanian, At-Tawassuth, Vol. II, Nomor.

1, 2017, hlm. 76.

(47)

2) Hasil perdagangan, pendapatan, serta usaha-usaha

(a) Industri, seperti: tekstil, baja, keramik, batu merah, genteng, kapur, tempe, tahu, batik, ukir-ukiran, dan semacamnya, apabila telah diperjul belikan selama 1 tahun (haul) dan nishabnya sudah sepadan dengan 96 gram emas murni, lalu kadar zakat yang wajib dibayarkan ialah 2,5 %.

(b) Industri pariwisata, semacam: hotel, cottage, penginapan, villa, restoran, bioskop, kolam renang dan semacamnya, apabila telah dijalankan selama 1 tahun dan jumlahnya telah sepadan dengan 96 gram emas murni, maka kadar zakat yang wajib dibayarkan ialah sebesar 2,5%.

(c) Perdagangan, seperti eksport import atau perdagangan dalam negeri misalnya: toko, warung, kios, percetakan serta penerbitan, apabila telah berjalan selama 1 tahun dan nishabnya telah sepadan dengan 96 gram emas murni, maka kadar zakat yang wajib dibayarkan adalah 2,5%.

(d) Jasa, seperti: notaris, pengacara, akuntan, travel biro, biro reklame, designer, salon, dan transportasi darat atau laut maupun udara, jika telah berjalan selama 1 tahun dan nishabnya telah sepadan dengan 96 gram

(48)

emas murni maka, kadar zakat yang wajib dibayarkan sebesar 2,5%

(e) Pendapatan, seperti: gaji, honorarium, komisi, maupun penghasilan dokter, apabila telah berjalan selama 1 tahun dan nishabnya telah sepadan dengan 96 gram emas murni, maka kadar zakat yang wajib dibayarkan ialah sebesar 2,5%.

(f) Usaha-usaha pertanian maupun perkebunan, seperti:

tambak, kebut teh atau karet atau kopi, perternakan ayam/bebek/kelinci, dan lainnya, apabila telah berjalan selama 1 tahun dan nishabnya telah sepadan dengan 96 gram emas murni, maka kadar zakat yang wajib dibayarkan ialah sebesar 2,5%.

(g) Uang simpanan, seperti: tabanas, deposito, uang tunai, dan semacamnya, apabila telah dipunyai selama 1 tahun dan nishabnya sudah sepadan dengan 96 gram emas murni, maka kadae zakat yang wajib dibayarkan sebesar 2,5%.50

5) Yang Berhak Menerima Zakat

a) Fakir; orang yang tidak mempunyai kekayaan dan tidak memiliki penghasilan

50 Prihatini Adnin, Zakat…,hlm. 62-63

(49)

b) Miskin; orang yang mempunyai harta serta memiliki mata pencaharian namun dibawah kecukupan.

c) Amil; panitia zakat yang bisa dipercaya sebagai pengumpul zakat dan membagikannya pada orang yang pantas menerima sesuai dengan hukum Islam

d) Muallaf; orang yang baru masuk Islam e) Riqab; orang yang memerdekakan budak f) Garim; orang yang memiliki hutang g) Fisabilillah

h) Musafir.51 6) Hikmah Zakat

a) Menyucikan dan menghindari diri dari sifat bakhil, dosa serta kesalahan.

b) Menyucikan harta dan mengembangkannya serta dapat mendatangkan keberkahan dari Allah SWT.

c) Zakat berperan sebagai media untuk menguji hamba Allah, apakah dia lebih mengedepankan cintanya pada Allah atau cintanya pada kekayaan.

d) Zakat bermaksud sebagai sarana untuk menolong orang-orang fakir dan mencukupi kebutuhan orang-orang yang membutuhkannya. Hal ini adalah wujud saling cinta dan simpati antara sesama umat Islam.

51 Ibid., hlm. 54-55.

(50)

e) Zakat memberikan kebiasaan untuk memberi dan berinfaq di jalan Allah SWT.52

B. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan rumusan masalah yang sudah dipaparkan sebelumnya maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini ialah Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) dapat Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah Siswa dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Materi Zakat Mal di Kelas X MIA-3 Di SMAN 1 Praya Timur.

BAB III

METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian

Lokasi penelitian berada di SMAN 1 Praya Timur, dan subjek penelitian ini adalah kelas X IPA 3 SMAN 1 Praya Timur, dengan jumlah siswa 31 orang. Alasan penelitian ini adalah: karena peneliti menggunakan metode pembelajaran tanya jawab di SMAN 1 Praya Timur, peneliti mencoba

52 Abdullah Salim Umar Bahammam, Fiqih…, hlm. 199.

(51)

menerapkan model PBL dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan proses pembelajaran dan meningkatkan proses belajar dan hasil belajar siswa, sehingga tercapai hasil yang baik, nilai yang baik, baik dalam kegiatan belajar.

B. Sasaran Penelitian

Untuk mengetahui tujuan penelitian ini, peneliti mendeskripsikan subjek dan objek penelitian. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X IPA 3 SMAN 1 Praya Timur tahun pelajaran 2021/2022 yang berjumlah 31 orang yang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan.

Tujuan penelitian ini adalah menerapkan model PBL untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi siswa kelas X IPA 3 SMAN 1 Praya Timur dengan menggunakan materi zakat mal dalam pembelajaran PAI. Penelitian dilakukan secara bertahap (2 siklus) untuk memahami bagimana siswa meningkatkan keterampilan pemecahan masalag mereka.

C. Rencana Tindakan

Penelitian ini, termasuk penelitian tindakan kelas, pada umumnya bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang menggambarkan penyebab dan akibat tindakan, menggambarkan apa yang terjadi ketika tindakan diberikan, dan menggambarkan proses dari awal tindakan sampai setelah tindakan. Dengan demikian, penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang menggambarkan proses dan hasil.53

53 Suharsimi Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumi Aksara, 2017), hlm. 1.

(52)

Adapun waktu penelitian dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2022. Untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan maka peneliti membuat beberapa tahapan yang akan dilakukan dalam penelitian tindakan kelas. Model ini terdiri dari 4 komponen, yakni perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Proses penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:

Berikut ini langkah-langkah penelitian tindakan kelas pada masing- masing siklus:

Siklus I

1. Perencanaan

Perencanaan merupakan tahapan dalam mempersiapkan sesuatu yang dibutuhkan dalam penelitian, antara lain:

a. Menyiapkan perangkat mengajar (alat dan bahan) yang berhubungan dengan penelitian yang akan dilaksanakan.

b. Menetapkan materi pembelajaran sebagai bahan ajar dalam penelitian yang disesuaikan dengan kurikulum mata pelajaran pada silabus.

Perencanaan

Refleksi Siklus I Pelaksanaan

Pengamatan Perencanaan

Siklus II Pengamatan

Refleksi Pelaksanaan

Referensi

Dokumen terkait