PENETAPAN DAN PENERAPAN REGULASI PANGAN PERATURAN PANGAN
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Ir. Christine Fransin Mamuaja, MS
Disusun Oleh:
Agnes Angelia Sekeon 220311050001 Sammy Immanuel Rumainum 220311050007 Clandya Fracia Hutabarat 220311050009 Vincent Theodorus Rumondor 220311050020
TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO 2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa sebab atas segala rahmat dan karunia-Nya makalah “Penetapan dan Penerapan Regulasi Pangan” ini dapat diselesaikan tepat waktu. Meskipun kami menyadari masih banyak terdapat kesalahan di dalamnya. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Ibu Dosen Prof. Dr. Ir. Christine Fransin Mamuaja, MS, selaku penanggung jawab mata kuliah Peraturan Pangan yang telah membimbing dan memberikan tugas ini.
Kami sangat berharap dengan adanya makalah ini dapat memberikan manfaat dan edukasi mengenai Peraturan Pangan. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk kemudian makalah kami ini dapat perbaiki dan menjadi lebih baik lagi. Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini bermanfaat.
Manado, 9 September 2024
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1 Pendahuluan...1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...3
2.1 Pengertian Regulasi Pangan...3
2.2 Tujuan Regulasi Pangan... 4
2.3 Strategi Regulasi Pangan...5
2.3.1 Penetapan Regulasi Pangan...5
2.3.2 Kebijakan Negara dalam Regulasi Pangan...5
2.4 Penerapan Regulasi Pangan...7
BAB III PENUTUP...11
3.1 Kesimpulan... 11
DAFTAR PUSTAKA...12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan
Pangan merupakan kebutuhan manusia yang sangat mendasar karena berpengaruh terhadap eksistensi dan ketahanan hidupnya, baik dipandang dari segi kuantitas dan kualitasnya. Mengingat kadar kepentingan yang demikian tinggi, pada dasarnya pangan merupakan sepenuhnya menjadi hak asasi setiap lapisan masyarakat indonesia. Tersedianya pangan yang cukup, aman, bermutu dan bergizi merupakan prasayarat utama yang harus dipenuhi dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Industri pangan di Indonesia dari tahun ke tahun semakin berperan penting dalam pembangunan industri nasional, sekaligus dalam perekonomian keseluruhan. Perkembangan industri pangan nasional menunjukkan perkembangan yang cukup berarti. Hal ini ditandai oleh berkembangnya berbagai jenis industri yang mengolah bahan baku yang berasal dari sektor pertanian.
Komoditi pangan merupakan salah satu komoditi strategis berhubungan dengan bobotnya yang cukup besar dalam pengeluaran rumah tangga. Komoditi seperti ini pada satu sisi memberikan manfaat bagi konsumen karena kebutuhan akan produk yang diinginkan dapat terpenuhi, serta semakin terbuka lebar. Namun disisi lain kondisi ini juga berdampak buruk bagi konsumen, dimana konsumen menjadi objek aktivitas bisnis para pelaku usaha yang mencari keuntungan semata, baik melalui promosi, cara penjualan, mutu produk, maupun kandungan makanan yang akan dikonsumsi oleh konsumen.
Keamanan pangan menjadi salah satu komponen utama kebijakan pangan. Di indonesia sendiri masalah keamanan pangan menjadi suatu hal yang
memprihatinkan, karena masalah keamanan pangan tersebut berpengaruh besar bagi kehidupan manusia terutama dalam bidang kesehatan. Harga pangan yang mahal membuat oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab akhirnya melakukan perbuatan yang menguntungkan bagi mereka, tetapi merugikan bagi masyarakat yang akan mengakibatkan keracunan makanan bagi masyarakat.
Keamanan pangan, masalah dan dampak penyimpangan mutu, serta kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam pengembangan sistem mutu industri pangan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, industri dan konsumen, yang saat ini sudah harus mulai mengantisipasinya dengan implementasi sistem mutu pangan. Sehingga terpenuhinya kebutuhan akan pangan dapat terjamin yang dicirikan oleh terbebasnya masyarakat dari jenis pangan yang berbahaya bagi kesehatan.
Keamanan pangan atau kualitas pangan kini menjadi tolak ukur manusia dalam memenuhi kebutuhan pangannya agar sesuai dengan pemenuhan nutrisi dan gizi dalam tubuh. Tersedianya pangan yang cukup, aman dan bermutu, dan bergizi merupakan prasyarat utama yang harus terpenuhi. Makalah ini akan membahas tentang “Penetapan dan Penerapan Regulasi Pangan”. Dimana regulasi pangan baik Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, dan standar-standar yang digunakan untuk mengatur pangan ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. Penerapan dari regulasi tersebut diawasai oleh lembaga pemerintah yang mengawasi bidang pangan seperti: BPOM, Kemenkes, Kemenag (MUI). Dalam menetapkan standar keamanan pangan tersebut pemerintah juga beracuan terhadap regulasi pangan internasional yang dikeluarkan oleh CODEX (FAO – WHO).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Regulasi Pangan
Pengertian regulasi pangan dapat ditinjau dari beberapa perspektif. Forsythe dan Hayes (1998) menyatakan bahwa regulasi merupakan aturan yang wajib dan mengikat secara hukum bagi seluruh negara anggota, tanpa memerlukan perubahan hukum nasional untuk pelaksanaannya. Dalam konteks ini, regulasi bersifat langsung dan universal, terutama di kawasan dengan kerangka hukum supranasional, seperti Uni Eropa.
Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), regulasi berarti pengaturan, yang lebih berfokus pada tindakan atau proses pengendalian dan pengawasan. Berdasarkan kedua pandangan ini, regulasi pangan dapat diartikan sebagai serangkaian aturan yang mengatur produksi, perdagangan, distribusi, dan penanganan makanan guna memastikan keamanan pangan serta kualitas yang memadai.
Penjelasan lebih lanjut mengenai regulasi pangan juga banyak dibahas dalam berbagai jurnal ilmiah yang memperkuat pemahaman ini. Menurut jurnal Food Policy (2010), regulasi pangan memiliki tujuan utama untuk melindungi konsumen dengan memastikan makanan yang diproduksi dan dijual memenuhi standar keamanan dan kualitas yang telah ditetapkan. Selain itu, jurnal Regulatory Toxicology and Pharmacology (2015) menjelaskan bahwa regulasi pangan juga berperan penting dalam mengendalikan risiko kesehatan masyarakat dengan menetapkan batas maksimum kontaminan, residu pestisida, dan zat aditif yang diperbolehkan dalam produk pangan.
Oleh karena itu, regulasi pangan dapat didefinisikan sebagai seperangkat peraturan dan standar, termasuk Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah, yang bertujuan untuk mengatur setiap tahap rantai pasok pangan, mulai dari produksi hingga
distribusi, guna memastikan keamanan pangan dan melindungi kesehatan konsumen.
Pengaturan ini juga mencakup standar mutu yang harus dipatuhi oleh pelaku industri pangan, baik di pasar lokal maupun internasional.
2.2 Tujuan Regulasi Pangan
Tujuan Penetapan Regulasi Pangan adalah untuk menjamin keberlanjutan penyediaan pangan yang aman, bermutu, dan terjangkau bagi masyarakat, sekaligus melindungi kepentingan kesehatan dan ekonomi rakyat. Berdasarkan berbagai aspek yang disebutkan dalam UU Nomor 12 Tahun 2009, regulasi pangan tidak hanya mencakup jaminan ketersediaan pangan yang memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan gizi, tetapi juga menciptakan sistem perdagangan pangan yang transparan dan bertanggung jawab. Secara lebih rinci, regulasi pangan bertujuan untuk:
1. Menjamin ketersediaan pangan yang aman dan bermutu: Regulasi ini bertujuan memastikan bahwa pangan yang tersedia bagi masyarakat memiliki nilai gizi yang cukup dan tidak membahayakan kesehatan.
2. Mewujudkan perdagangan pangan yang jujur: Regulasi ini juga mendorong transparansi dalam perdagangan pangan, sehingga melindungi konsumen dari praktik perdagangan yang merugikan.
3. Melindungi konsumen dari pangan yang berbahaya: Dengan adanya regulasi, produk pangan yang berbahaya bagi kesehatan dapat dicegah beredar di pasaran, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pangan sehat.
4. Meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha pangan: Regulasi juga dirancang untuk mendukung petani, nelayan, dan pelaku usaha pangan, dengan memastikan harga pangan tetap terjangkau namun layak bagi produsen.
5. Melindungi kekayaan sumber daya pangan nasional: Sumber daya pangan lokal dipertahankan dan dilestarikan, sekaligus meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditas pangan di pasar domestik dan internasional.
2.3 Strategi Regulasi Pangan 2.3.1 Penetapan Regulasi Pangan
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan 2. Peraturan Kepala BPOM Nomor 23 Tahun 2021 tentang Pangan Olahan 3. Peraturan Kepala BPOM Nomor 29 Tahun 2018 tentang Label dan Iklan 4. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan Pangan 5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
722/Menkes/Per/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Pangan 2.3.2 Kebijakan Negara dalam Regulasi Pangan
A. Kebijakan Badan POM dalam Pengawasan Obat dan Makanan
Pengawasan obat dan makanan menghadapi lingkungan strategis yang semakin kompleks dan tidak dapat diprediksi dimana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, ekspetasi masyarakat, perdagangan global, perubahan life style, era perdagangan bebas berimplikasi segnifikan pada strategi dan kebijakan pengawasan obat dan makanan yang harus ditetapkan.
Untuk itu, Badan POM telah menetapkan strategi pengawasan obat dan makanan yaitu:
a. Peningkatan intensitas pengawasan pre-market obat dan makanan untuk menjamin keamanan, khasiat/manfaat dan mutu produk.
b. Penguatan System, Sarana dan Prasarana Laboratorium Obat dan Makanan.
c. Peningkatan Pengawasan Post Market Obat dan Makanan.
d. Pemantapan Regulasi dan Standar di Bidang Pengawasan Obat dan Makanan.
e. Pemantapan Peran Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Bidang Tindak Pidana Obat dan Makanan.
f. Perkuatan Institusi
g. Peningkatan Kerjasama Lintas Sektor dalam Rangka Pembagian Peran Badan POM dengan Lintas Sektor Terkait.
Pengawasan mutu produk obat dan makanan yang beredar di masyarakat dilakukan melalui rangkaian kegiatan yaitu: penilaian melalui prosedur registrasi, pemeriksaan sarana produksi, distribusi dan saranan pelayanan, pengambilan contoh dan pengujian laboratorium terhadap contoh produk tersebut, kemudian tindak lanjut terhadap hasil pemeriksaan dan pengujian laboratorium.
B. Kebijakan Sistem Mutu dan Keamanan Pangan
Adapun sasaran program keamanan pangan adalah:
a. Menghindarkan masyarakat dari jenis pangan yang berbahaya bagi kesehatan, yang tercemin dari meningkatnya pengetahuan dan kesadaran produsen terhadap mutu dan keamanan pangan.
b. Memantapkan kelembagaan pangan yang antara lain dicerminkan oleh adanya peraturan perundang-undangan yang mengatur keamanan pangan.
c. Meningkatkan jumlah industry pangan yang memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.
C. Kebijakan Program Ketahanan Pangan
Pemerintah meluncurkan program Ketahanan Pangan Nasional yang memberi dukungan terhadap pasokan rantai makanan seperti melalui penyediaan peralatan mesin pertanian dan peningkatan produktivitas lahan.
Kebijakan program Ketahanan Pangan Nasional pada tahun 2021 berfokus pada mendorong produksi komoditas pangan dengan membangun sarana prasarana dan penggunaan teknologi. Berikut kebijakan program ketahanan pangan
a. Mendorong komoditas pangan dengan membangun sarana dan prasana dan penggunaan teknologi
b. Revitalisasi sistem pangan nasional antara laindengan memperkuat korporasi petani/nelayan dan distribusi pangan
c. Pengembangan food estate di Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Papua (Marauke) untuk meningkatkan produktivitas pangan antara lain dengan pemberdayaan trasmigrasi/petani existing dan investasi smallfarming pada lahan seluas 165.000 Ha
2.4 Penerapan Regulasi Pangan
Penerapan regulasi pangan di Indonesia mencakup berbagai aspek yang bertujuan untuk memastikan keamanan, mutu, dan gizi pangan. Terdapat 3 aspek utama dalam penerapan regulasi pangan, yakni:
1. Konsumen
Konsumen adalah pihak yang perlu mengetahui segala informasi yang berkaitan dengan produk yang akan dikonsumsi. Konsumen memiliki hak untuk menentukan pilihan, “consumers has to take a decision on which to purchase” (Jukes, 2000). Informasi berupa kandungan nutrisi, manfaat, komposisi nutrisi dan bahkan cara pengolahan perlu diketahui oleh mereka.
Regulasi harus menjamin bahwa kebutuhan konsumrn terpenuhi serta komsumen dapat dengan bebas mengajukan klaim atas produk
2. Produsen
Produsen merupakan pihak yang memproduksi barang bagi konsumen yang dimana produk yang diproduksi haruslah aman, sehat, utuh, dan berkualitas, serta dapat menginformasikannya kepada konsumen sehinggsa mereka tertarik untuk mengkomsumsi produk yang diluncurkan ke pasar.
Produsen memiliki tujuan untuk menjual produk sebanyak mungkin ditengah persaingan dengan kompetitor lainnya yang memiliki produk sejenis. Produsen haruslah bisa memproduksi barang yang konsumen butuhkan tanpa melewatkan segala regulasi yang ada. Regulasi yang ada haruslah tidak membatasi produsen untuk mengembangkan produk mereka bagi konsumen,
tetapi regulasi hanya bersifat menjaga dan mempertahankan hak konsumen dari produk yang disediakan oleh produsen.
3. Pemerintah
Potter and Hotchkiss (1995) “Government worldwide regulates food with two general objectives: The first is to ensure the safety and wholesomeness of the food supply. The second is to prevent economic fraud or deception.
Recently, the third objective, to inform consumers about the nutritional contents of food”.
“Pemerintah di seluruh dunia membuat peraturan tentang pangan dengan dua tujuan yaitu memastikan keamanan dan ketersediaan pangan serta untuk mencegah kecurangan dan penipuan. Belakangan ini muncul tujuan ketiga yaitu untuk menginformasikan tentang kandungan gizi dan makanan”.
Pemerintah adalah pihak terakhir dalam penerapan regulasi pangan.
Pemerintah dituntut untuk menciptakan regulasi yang ada dalam dunia pangan.
tiap negara memiliki badan yang bertugas mengawasi perdagangan dan perlindungan terhadap konsumen. Badan tersebut melayani kebutuhan produsen agar dapat tetap berkompetisi sekaligus menjamin keamanan konsumen. Regulasi harus menjamin bahwa kebutuhan konsumen dipenuhi.
Konsumen juga mendapatkan kebebasan untuk memilih serta mengajukan klaim. Di sisi lain, regulasi harus memastikan bahwa produsen tidak dirugikan serta tidak terjadi persaingan tidak sehat antar produsen. Regulasi juga harus dapat memberikan keleluasaan bagi ilmu pengetahuan dan teknologi untuk berkembang dengan batasan tertentu, sehingga memungkinkan untuk ditemukannya produk-produk yang lebih berkualitas. Pengembangan tersebut akan sangat bermanfaat untuk menarik informasi baru mengenai dunia pangan yang ada pada saat ini.
Penerapan regulasi pangan di Indonesia telah banyak diterapkan baik dalam masyarakat dan perusahaan pangan yang ada di Indoenesia. Hal tersebut
diwakilkan lewat penetapan dan kebijakan-kebijakan badan pangan yang ada Indonesia baik BPOM, Bahan Ketahanan Pangan, dan lain sebagainya. Namun, dari beberapa studi, penerapan regulasi pangan dinilai kurang di mata dunia.
Beberapa hal yang membuat penerapan regulasi kurang di mata dunia adalah:
1. Regulasi Pengawasan Impor Pangan Segar di Indonesia:
Kesenjangan dengan Kriteria ASEAN: Penelitian ini menemukan bahwa regulasi pengawasan impor pangan segar di Indonesia belum sepenuhnya sesuai dengan kriteria pengawasan impor pangan ASEAN. Misalnya, Indonesia belum sepenuhnya menerapkan rencana sampling berbasis risiko yang direkomendasikan oleh ASEAN.
Penanganan Situasi Darurat: Regulasi di Indonesia juga belum optimal dalam menangani situasi darurat terkait keamanan pangan.
Hal ini mencakup respons cepat terhadap temuan cemaran atau kontaminasi dalam produk pangan impor.
2. Analisis Regulasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan Tuna di Indonesia:
Adopsi Rekomendasi Codex Alimentarius Commission (CAC):
Penelitian ini menunjukkan bahwa regulasi keamanan pangan di Indonesia belum sepenuhnya mengadopsi rekomendasi dari CAC.
Misalnya, dalam hal penentuan kriteria bahan pangan yang baik dan implementasi analisis risiko.
Implementasi Analisis Risiko: Regulasi di Indonesia masih perlu memperkuat implementasi analisis risiko untuk memastikan keamanan pangan tuna, terutama untuk produk yang diekspor ke negara-negara dengan standar keamanan pangan yang ketat.
3. Studi Perbandingan Kebijakan Pangan Fungsional di Indonesia dan Beberapa Negara Lainnya:
Perubahan Peraturan: Penelitian ini membahas perubahan peraturan terkait pangan fungsional di Indonesia dan membandingkannya dengan negara lain. Misalnya, regulasi di Indonesia masih dalam tahap pengembangan dibandingkan dengan negara-negara maju yang sudah memiliki regulasi yang lebih matang.
Tantangan di Masa Depan: Studi ini juga memetakan tantangan yang dihadapi Indonesia dalam mengatur pangan fungsional, seperti kebutuhan untuk memperkuat penelitian dan pengembangan serta harmonisasi regulasi dengan standar internasional.
4. Model Pengawasan Pangan:
Pendekatan Rantai Pangan (Food Chain Approach): Penelitian ini menyoroti pentingnya pendekatan rantai pangan dalam pengawasan pangan. Ini berarti pengawasan dilakukan dari tahap produksi hingga konsumsi untuk memastikan keamanan pangan di setiap tahap.
Kondisi dan Regulasi: Studi ini juga membahas kondisi yang dihadapi dalam implementasi kebijakan keamanan pangan, termasuk regulasi yang ada dan tantangan dalam penerapannya.
Misalnya, perlunya peningkatan kapasitas pengawasan dan koordinasi antar lembaga terkait.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Penetapan regulasi pangan telah ditetapkan dengan adanya Undang-undang yang berlaku. UU yang mengatur regulasi pangan:
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan:
1. Peraturan Kepala BPOM Nomor 23 Tahun 2021 tentang Pangan Olahan 2. Peraturan Kepala BPOM Nomor 29 Tahun 2018 tentang Label dan Iklan 3. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan Pangan 4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
722/Menkes/Per/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Pangan
Regulasi pangan telah diterapkan dengan adanya kebijakan-kebijakan oleh pemerintah lewat badan pangan yang ada di Indonesia, beberapa badan pangan seperti BPOM, Badan Ketahanan Pangan Nasional, dan lain sebagainya. Beberapa kebijakan yang berlaku dalam penerapan regulasi pangan di Indonesia berupa:
1. Peningkatan intensitas pengawasan pre-market obat dan makanan untuk menjamin keamanan, khasiat/manfaat dan mutu produk.
2. Peningkatan Pengawasan Post Market Obat dan Makanan.
3. Pemantapan Regulasi dan Standar di Bidang Pengawasan Obat dan Makanan.
4. Menghindarkan masyarakat dari jenis pangan yang berbahaya bagi kesehatan, yang tercemin dari meningkatnya pengetahuan dan kesadaran produsen terhadap mutu dan keamanan pangan.
5. Memantapkan kelembagaan pangan yang antara lain dicerminkan oleh adanya peraturan perundang-undangan yang mengatur keamanan pangan.
DAFTAR PUSTAKA
Anna S. Wahongan, Yumi. S., dan Vecky. Y. Gosal. 2021. Strategi Mewujudkan Keamanan Pangan alam Upaya Perlindungan Konsumen. Lex et Societatis, 9(3):41-66.
Anonim. (2021). Kebijakan Ketahanan Pangan Nasional pada Tahun 2021 oleh Pemerintah. DJPb. Diakses tanggal 6 September 2024 pada https://djpb.kemenkeu.go.id/kppn/tarakan/id/data-publikasi/artikel/2846- kebijakan-program-ketahanan-pangan-nasional-pada-tahun-2021-oleh- pemerintah.html#:~:text=Pemerintah%20meluncurkan%20program
%20Ketahanan%20Pangan,kita%20simak%20infografis%20di%20bawah!
Panggabean, F.L., Fardiaz, D., dan Purnomo, E.H., 2016. Regulasi Pengawasan Impor Pangan Segar di Indonesia dan Kesenjangannya dengan Kriteria Pengawasan Impor Pangan ASEAN. Jurnal Mutu Pangan: Indonesian Journal of Food Quality, 3(2), pp.145-152.
Prof. Dr. Ir. C. Hanny Wijaya, M.Agr (n.d.). Ruang Lingkup Pengaturan Pangan Dan Kegunaannya.https://pustaka.ut.ac.id/lib/wp-content/uploads/pdfmk/
PANG4415-M1.pdf.
Trilaksani, W., Bintang, M., Monintja, D.R. and Hubeis, M., 2010. Analisis regulasi sistem manajemen keamanan pangan tuna di Indonesia dan negara tujuan ekspor.
https://d1wqtxts1xzle7.cloudfront.net/72042522/67-libre.pdf?
1633842441=&response-content-disposition=attachment%3B+filename
%3DStudi_Perbandingan_Kebijakan_Pangan_Fung.pdf&Expires=172623559 7&Signature=UWOMh57DMFYhjfM~gy4NM1vWvQYNZVPEQaRpMKE9 qedhc3xxk1zVpPXBxAg~2AfECauntNZevEhHYoNShAfDtYaZy96qhg3qbX Nmzwxn~I2PBBea8o40YzM~FFamubXV~~m1HXoGub1MBt9PqdXIJnwllp y-PjpxqEqlaGL9Ol-
rvJXdRKYsxzUYxo6XVIeOoKoRUXIxEX0cONM8JK0qHa~lsS89OPlBSL wUa465onuzwUYCbvk1XPM3K5eaiyrx6JNBh6OTmUleiG4APwEHtksYnN cSaStLai5A~c7SNZOcNtg9f73toM~J14D-k~X2ZyIJv5zb04LomeGm- 5zHaA__&Key-Pair-Id=APKAJLOHF5GGSLRBV4ZA