PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Menurut (Khasanah, 2017), kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan yang sangat penting dalam proses pendidikan. Dengan demikian, penerapan metode Cultural Responsive Teaching (CRT) dalam proses pembelajaran akan membentuk kemampuan berpikir kritis siswa di tengah keberagaman.
Identifikasi Masalah
Pembatasan Masalah
Rumusan Masalah
Bagaimana kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen dengan metode pembelajaran culturely responsive teaching (CRT) untuk siswa IV. kelas di MIS YMPI Tanjung Balai. Apa dampak metode Cultural Responsive Teaching (CRT) terhadap kemampuan berpikir kritis siswa IV. kelas di MIS YMPI Tanjung Balai.
Tujuan Penelitian
Bagaimana kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas kontrol tanpa menggunakan metode culturely responsive teaching (CRT) pada siswa IV. kelas di MIS YMPI Tanjung Balai.
Manfaat Penelitian
LANDASAN TEORITIS
Kerangka Teoritis
- Metode Pembelajaran Cultural Responsive Teaching (CRT)
- Kemampuan Berpikir Kritis Siswa
- Materi Pembelajaran Tematik
Adinda dalam (M. Azizah et al., 2018) Orang yang mampu berpikir kritis adalah orang yang mampu menyimpulkan apa yang diketahuinya. Menurut Wade dalam (Magdalena, Hasna Aj, dkk., 2020) identifikasi indikator berpikir kritis adalah sebagai berikut.
Kerangka Konseptual
Dalam pembelajaran, siswa harus mempunyai kesempatan untuk bernegosiasi dan berpikir kritis terhadap nilai-nilai yang dianutnya. Melalui penggunaan metode Cultural Responsive Teaching (CRT) mendorong siswa memperoleh kemampuan mengaktualisasikan, menginternalisasikan dan menafsirkan kembali pengetahuan, sehingga dalam proses pembelajaran akan terbentuk kemampuan berpikir kritis siswa di tengah keberagaman.
Hipotesis Penelitian
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
- Lokasi Penelitian
- Waktu Penelitian
Populasi dan Sampel
- Populasi Penelitian
- Sampel Penelitian
Sampel penelitian ini diambil dari dua kelas yang digunakan sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas IV A dipilih sebagai kelas eksperimen yang berjumlah 21 orang, dan Kelas IV B sebagai kelas kontrol yang berjumlah 23 orang.
Variabel Penelitian
Definisi Operasional Variabel
- Metode Cultural Responsive Teaching (CRT)
- Kemampuan Berpikir Kritis
- Pengaruh Metode Pembelajaran dengan Kemampuan Berpikir
Metode Cultural Responsive Teaching (CRT) merupakan metode pembelajaran yang mensyaratkan persamaan hak bagi setiap siswa dalam menerima guru tanpa membedakan latar belakang budaya siswa. Kepedulian merupakan ciri utama dari Cultural Responsive Teaching (CRT), yang mendorong penentuan nasib sendiri sebagai suatu keharusan nilai, etika dan moral (Halim, 2021).
Instrumen Penelitian
- Tes
Pengaruh metode pembelajaran terhadap kemampuan berpikir kritis Penggunaan metode pembelajaran yang baik akan menyebabkan penggunaan metode pembelajaran yang baik akan menghasilkan kemampuan berpikir kritis siswa yang baik. Guru merupakan orang yang mempunyai pengaruh besar terhadap kemampuan siswa. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis berupa soal kemampuan berpikir kritis. Hasil kemampuan berpikir kritis siswa hendaknya diukur untuk mengetahui bagaimana metode pembelajaran inovatif yang diberikan.
Instrumen tes kemampuan berpikir kritis siswa diawali dengan menyusun kisi-kisi soal sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis menurut Ennis dalam (Wijayanti & Siswanto, 2020). Instrumen tes essay digunakan agar terlihat bahwa jawaban yang diberikan siswa bukan sekedar hasil tebakan saja, namun juga melihat dan menggali kemampuan berpikir kritis siswa serta pemahaman materi. Dalam penelitian ini Taksonomi Bloom yang telah direvisi khususnya pada ranah kognitif digunakan untuk membuat soal tes sebagai alat ukur kemampuan berpikir kritis siswa.
Kisi-kisi soal tes berpikir kritis yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3.3 di bawah ini. Rangkuman nilai tes berpikir kritis yang diperoleh setiap siswa yang mencakup seluruh subindikator berpikir kritis.
Teknik Analisis Data
- Uji Validitas
- Uji Reliabilitas
- Uji Prasyarat Analisis
- Uji Hipotesis
Distribusi frekuensi skor pre-test keterampilan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut ini. Distribusi frekuensi skor posttest keterampilan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut ini. Distribusi frekuensi nilai pretest kemampuan berpikir kritis siswa kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 4.7 berikut ini.
Distribusi frekuensi nilai postes keterampilan berpikir kritis siswa kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 4.9 berikut ini. Hasil Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas Eksperimen (Metode Pengajaran Responsif Budaya).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Data Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh sebelum dan sesudah penggunaan metode Cultural Responsive Teaching (CRT) terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV MIS YMPI Tanjung Balai. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes yang diberikan sebelum perlakuan (pre-test) dan setelah perlakuan (post-test). Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu melakukan uji validitas pada siswa kelas V MIS YMPI Tanjung Balai terhadap soal yang akan digunakan.
Setelah diperoleh hasil uji validasi, peneliti memberikan pre-test kepada siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Setelah mendapat hasil, peneliti menawarkan perlakuan berupa penggunaan metode Cultural Responsive Teaching (CRT) pada kelas eksperimen dan metode konvensional pada kelas kontrol. Setelah mendapat perlakuan, kesimpulannya adalah dengan dilakukannya post-test kepada siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol untuk mengetahui derajat kemampuan berpikir kritis siswa dalam menjawab soal tes yang diberikan.
Hasil Uji Validitas
Hasil Uji Reliabilitas
Analisis Data Tahap Awal
- Pre-test Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas
- Pre-test Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas Kontrol
- Post-test Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas Kontrol
Pada penilaian pre-test kelas eksperimen pada soal nomor 1 mayoritas siswa memperoleh nilai sangat baik dengan jumlah 18 orang (85,7%). Penilaian pre-test kelas eksperimen pada soal nomor 3 mayoritas siswa memperoleh nilai sangat baik dengan jumlah 8 orang (38,1%). Pada penilaian pre-test kelas eksperimen pada soal nomor 6 sebagian besar siswa memperoleh nilai sangat baik dengan jumlah 11 orang (52,4%).
Pada penilaian pre-test kelas kontrol pada soal nomor 1 mayoritas siswa memperoleh nilai sangat baik dengan jumlah 18 orang (78,3%). Pada penilaian pre-test kelas kontrol pada soal nomor 6 mayoritas siswa memperoleh nilai sangat baik dengan jumlah 12 orang (52,5%). Pada penilaian post test kelas kontrol pada soal nomor 1 mayoritas siswa memperoleh nilai sangat baik dengan jumlah 12 orang (52,5%).
Pada saat penilaian posttest kelas kontrol pada soal nomor 5 mayoritas siswa mendapat nilai sangat baik yaitu sebanyak 12 orang (52,2%). Pada saat penilaian posttest kelas kontrol pada soal nomor 6 mayoritas siswa mendapat nilai sangat baik yaitu sebanyak 12 orang (52,5%).
Pengujian Persyaratan Analisis
- Hasil Uji Normalitas
- Hasil Uji Homogenitas
Pada penilaian post-test kelas kontrol pada soal nomor 9 sebagian besar siswa mendapat nilai buruk sebanyak 9 orang (39,1%). Pada evaluasi post-test kelas kontrol pada soal nomor 10 mayoritas siswa mendapat nilai sangat buruk sebanyak 9 orang (39,1%). Dilihat dari hasil post-test kelas kontrol pada soal nomor 11 mayoritas siswa memperoleh nilai sangat baik dan baik dengan jumlah 10 orang (43,5%).
Pada saat penilaian pretest kelas kontrol soal nomor 12 sebagian besar siswa mendapat nilai rendah yaitu sebanyak 7 orang (30,4%). Berdasarkan tabel 4.11 di atas diketahui nilai (Sig.) seluruh data pada uji Kolmogorov-Smirnov dan uji Shapiro-Wilk sebesar 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data penelitian berdistribusi normal. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah kelas eksperimen dan kelas kontrol mempunyai keberagaman yang sama atau tidak.
Kriteria pengambilan keputusan dalam uji homogenitas adalah apabila nilai karakteristik (Sig) berdasarkan mean > 0,05 maka data mempunyai versi yang homogen.
Pengujian Hipotesis
Berdasarkan tabel 4.13 di atas, karena datanya homogen maka dapat dilihat dari asumsi equal variance yang menghasilkan nilai Sig (2-tailed) sebesar 0,000 0,05.
Diskusi Hasil Penelitian
- Hasil Kemampuan Berpikir Kritis Siswa di Kelas Eksperimen
- Hasil Kemampuan Berpikir Kritis Siswa di Kelas Kontrol
- Pengaruh Penerapan Metode Cultural Responsive Teaching
Artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara penggunaan metode pembelajaran Cultural Responsive Teaching (CRT) terhadap Kemampuan Berpikir Kritis siswa kelas IV MIS YMPI Tanjung Balai. Setelah diberikan treatment dengan metode Cultural Responsive Teaching (CRT), diberikan soal post-test keterampilan berpikir kritis. Pengaruh Penerapan Metode Cultural Responsive Teaching (CRT) Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas IV MIS YMPI Pada Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas IV MIS YMPI Tanjung Balai.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode Cultural Responsive Teaching (CRT) memberikan dampak terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Hasil data mengenai kemampuan berpikir kritis siswa yaitu rata-rata pre-test yang diperoleh siswa pada kelas eksperimen setelah mendapat perlakuan adalah 51,55.Nilai rata-rata yang diperoleh pada post-test adalah 81,13. Keterampilan berpikir kritis matematis dengan menggunakan metode pembelajaran pemecahan masalah lebih baik digunakan dibandingkan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah, hal ini terlihat dari perhitungan uji t yang menunjukkan nilai thitung (5,093) > ttabel (2,002).
Ardiansyah, 2018) dalam penelitian yang berjudul “Dampak Metode Pembelajaran Brainstorming Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Berdasarkan Kemampuan Awal Siswa”. Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa antara kelas eksperimen yang menggunakan metode pembelajaran brainstorming dengan kelas kontrol yang menggunakan pendekatan konvensional.
Keterbatasan Penelitian
Hasil tes kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen menunjukkan rata-rata nilai pre-test sebesar 51,55 meningkat menjadi 81,13 setelah diberikan treatment dan post-test. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan metode pembelajaran Cultural Responsive Teaching (CRT) berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen. Hasil tes berpikir kritis siswa kelas kontrol menunjukkan rata-rata nilai pre-test sebesar 51,41 meningkat menjadi 65,40 setelah diberikan treatment dan post-test.
Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan metode konvensional berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen. Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil tes kemampuan berpikir kritis siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol yang diperoleh pada kedua kelas penelitian, diketahui bahwa metode Cultural Responsive Teaching (CRT) memberikan pengaruh yang jauh lebih baik terhadap kemampuan kritis siswa. berpikir. kemampuan. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh metode Cultural Responsive Teaching (CRT) terhadap kemampuan berpikir kritis siswa Kelas IV MIS YMPI Tanjung Balai.
Meningkatkan sikap disiplin dan kemampuan berpikir kritis siswa dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah. MENGEMBANGKAN HOT WORKSHOP PANGAN SEHAT BERBASIS WEB UNTUK MENINGKATKAN BERPIKIR KRITIS SISWA.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis temuan selama penelitian, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut. Hal ini ditunjukkan dengan hasil post-test t-test siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, dengan skor kemampuan berpikir kritis Sig.
Saran
3 Sekiranya terdapat 3 aspek yang dipenuhi 2 Jika terdapat 2 aspek yang dipenuhi 1 Jika terdapat 1 aspek yang dipenuhi Analisis. 3 Jika terdapat 3 aspek dipenuhi 2 Jika terdapat 2 aspek dipenuhi 1 Jika terdapat 1 aspek dipenuhi 2 Membangunkan. 3 Sekiranya terdapat 3 aspek yang dipenuhi 2 Jika terdapat 2 aspek yang dipenuhi 1 Jika terdapat 1 aspek yang dipenuhi 3 Kesimpulan-.
3 Jika ada 3 aspek yang terpenuhi 2 Jika ada 2 aspek yang terpenuhi 1 Jika ada 1 aspek yang terpenuhi. 3 Jika 3 aspek terpenuhi 2 Jika 2 aspek terpenuhi 1 Jika 1 aspek terpenuhi 5 Menyusun. 3 Jika 3 aspek terpenuhi 2 Jika 2 aspek terpenuhi 1 Jika 1 aspek terpenuhi Interaksi.