OLEH
MUHAMMAD ANDIKA NIM. 170501251
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
2021
PERILAKU KONSUMSI MASYARAKAT DI KECAMATAN WANASABA KABUPATEN LOMBOK TIMUR
Skripsi
Diajukan kepada Universitas Agama Islam Negeri Mataram Untuk melengkapi persyaratan mencapai
Gelar sarjana ekonomi
OLEH
MUHAMMAD ANDIKA NIM. 170501251
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
2021
Jalani hidup sesuai dengan kemampuan dan isi dompetmu Jangan hidup besaran pasak dari pada tiang
“Skripsi ini saya persembahkan untuk kedua orang tercinta, semua keluarga besar yang tak bisa disebutkan satu persatu, untuk semua guru dan dosen yang telah mendidikku, serta sahabat-sahabatku terutamanya sahabat seperjuangan (Angel squad dan sedekah for yatim Mataram) yang selalu mendoakan dan mendukung
sampai terselsaikannya skripsi ini”.
Segala puji bagi Allah Swt atas limpahan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad Saw, para sabahat, keluarga, dan pengikutnya.
Dalam penyusuanan skripsi ini, penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dan kekeliuran, ini semata–mata karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang penulis miliki. Penulis menyadari dalam penyelesaikan skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan penghargaan yang setinggi–tingginya dan ucapan terimakasih kepada pihak–pihak yang telah membantu sebagai berikut:
1. Drs. Ma’ruf, S.H., M.Ag. Selaku dosen pembimbing I dan ibunda Umu Rosyidah, M.E.I. Selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, arahan, dan masukan dalam proses bimbingan.
2. Bapak Prof. Dr. H. Mutawali, M.Ag. Selaku rektor Universitas Islam Negeri Mataram.
3. Bapak Dr. H. Amir Aziz, M.Ag. Selaku dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Mataram
4. Bapak Bahrur Rasyid, M.M. Selaku ketua prodi ekonomi syariah dan ibunda Dahlia Bonang, M. S.I. Selaku sekertaris prodi ekonomi syariah.
sebutkan satu persatu yang telah memberikan ilmu dan bimbingannya sampai dengan saat ini.
6. Kedua orang tercinta ibunda Suhadah dan ayahanda Junaidi terimakasih atas doanya, perhatiannya, pengorbanan, dan motivasinya sehingga penulisan skripsi ini dapat diselsaikan
7. Kepada kakakku Hamzan Wadi dan Adikku Hidayat Nur Ikhsan terimakasih atas dukungannya.
8. Kepada keluargaku yang tidak bisa disebutkan satu persatu terimakasih atas dukungan dan doanya.
9. Camat Wanasaba yang telah bersedia memberikan waktu dan kesepatannya kepada penulis untuk melaksanakan penelitian
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN SAMPUL ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi
HALAMAN MOTO ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xix
ABSTRAK ... xx
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A.Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 7
A.Kajian Teori ... 7
B. Penelitian Terdahulu ... 17
C. Kerangka Berpikir ... 22
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 25
A.Jenis dan Pendekatan Penelitian ... 25
B. Populasi dan Sampel ... 25
C. Waktu dan Tempat Penelitian ... 27
D.Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 27
E. Variabel Penelitian ... 28
F. Instrumen Penelitian ... 29
G.Prosedur Penelitian ... 30
H.Teknik Analisis Data ... 31
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 37
A.Hasil Penelitian ... 37
1. Gambaran Umum Lokasi Objek Penelitian ... 37
a. Sejarah Kecamatan Wanasaba ... 37
b. Letak Geografis ... 39
2. Karateristik Responden... 42
a. Karakteristik Berdasarkan Desa ... 42
b. Karakteristik Berdasarkan Umur ... 43
c. Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin ... 44
d. Karakteristik Berdasarkan Pendidikan Terakhir... 44
e. Karakteristik Berdasarkan Pekerjaan ... 45
f. Karakteristik Berdasarkan Pendapatan ... 45
3. Analisis Deskriptif Hasil Angket ... 46
a. Uji Validitas dan Realibilitas ... 75
b. Uji Asumsi Klasik ... 80
1) Uji Normalitas ... 80
2) Uji Multikolinearitas ... 81
3) Uji Heteroskedastisitas ... 82
c. Uji Hipotesis ... 83
1) Uji T (Uji Parsial) ... 83
2) Uji F (Uji Simultan) ... 85
3) Uji Determinasi ... 86
d. Uji Analisis Regresi Berganda ... 87
B. Pembahasaan ... 88
BAB V PENUTUP ... 99
A.Kesimpulan ... 99
B. Saran... 100 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Tabel 1.1 Variabel dan Indikator Penelitian ... 29
Tabel 1.2 Kriteria Uji Realibilitas ... 32
Tabel 1.3 Luas Wilayah ... 40
Tabel 1.4 Jumlah Penduduk ... 41
Tabel 1.5 Mata Pencaharian Masyarakat ... 42
Tabel 1.6 Karateristik Responden Menurut Desa ... 43
Tabel 1.7 Karateristik Responden Menurut Umur ... 43
Tabel 1.8 Karateristik Responden Menurut Jenis Kelamin ... 44
Tabel 1.9 Karateristik Responden Menurut Pendidikan Terakhir ... 44
Tabel 2.0 Karateristik Responden Menurut Pekerjaan ... 45
Tabel 2.1 Karateristik Responden Menurut Pendapatan ... 46
Tabel 2.2 Pendapatan Yang Setiap Bulannya Mencukupi Untuk Memenuhi Hidup. ... 47
Tabel 2.3 Pendapatan Yang Diterima Setiap Bulannya Berbeda–Beda ... 48
Tabel 2.4 Selalu Rutin Menerima Pendapatan Setiap Bulannya ... 48
Tabel 2.5 Pendapatan Yang Diterima Bersumber Dari Pekerjaan Yang Dilakukan. ... 49
Tabel 2.6 Pekerjaan Yang Dilakukan Menjadi Sumber Pendapatan. ... 50
Tabel 2.7 Melakukan Pekerjan Supaya Bisa Memperoleh Pendapatan. ... 50
Tabel 2.8 Pendapatan Sesuai Dengan Jumlah Anggaran Pendidikan Yang Dikeluarkan. ... 51
Tabel 3.0 Pendapatan Yang Diterima Sesuai Dengan Jumlah Anggota
Keluarga ... 52 Tabel 3.1 Pendapatan Yang Diterima Bisa Mencukupi Untuk Menanggung
Kebutuhan Keluarga ... 53 Tabel 3.2 Menghabiskan Waktu Luang Dengan Berbelanja. ... 54 Tabel 3.3 Berbelanja Untuk Mengikuti Keinginan Dari Pada Kebutuhan... 54 Tabel 3.4 Selain Berbelanja Menghabiskan Waktu Luang Dengan Liburan. .. 55 Tabel 3.5 Membeli Sesuatu Yang Sedang Trend Agar Terlihat Menarik. ... 55 Tabel 3.6 Suka Membeli Sesuatu Walaupun Tidak Dibutuhkan. ... 56 Tabel 3.7 Membeli Sesuatu Dengan Merek Yang Sudah Terkenal... 57 Tabel 3.8 Rasa Percaya Diri Meningkat Ketika Membeli Suatu Yang
Bermerek dan Mahal ... 57 Tabel 3.9 Berbelanja Dapat Meningkatkan Citra Diri Yang Dimiliki ... 58 Tabel 4.0 Ketika Menggunakan Barang Yang Bermerek dan Mahal
Dapat Membuat Orang Terkagum ... 58 Tabel 4.1 Bertambahnya Usia Membuat Gaya Hidup Meningkat Membeli
Sesuatu ... 59 Tabel 4.2 Lingkungan Yang Berubah Ikut Mengubah Gaya Hidup Untuk
Membeli Barang ... 40 Tabel 4.3 Jumlah Anggota Keluarga Mempengaruhi Jumlah Pengeluaran
Untuk Membeli Barang ... 61
Yang Sedang Trend Agar Meningkatkan Status Sosial ... 61 Tabel 4.5 Pendapatan Yang Dimiliki Lebih Banyak Digunakan Untuk
Konsumsi Kebutuhan Pokok. ... 62 Tabel 4.6 Meningkatkan Konsumsi Apabila Pendapatan Yang Diterima
Bertambah ... 63 Tabel 4.7 Kekayaan Rumah Tangga Yang Banyak Membuat Gaya Hidup
Untuk Melakukan Konsumsi Meningkat ... 63 Tabel 4.8 Kekayaan Rumah Tangga Yang Dimiliki Membuat Selalu
Tertarik Membeli Barang Yang Bermerek ... 64 Tabel 4.9 Menghabiskan Sebagian Besar Kekayaan Rumah Tangga Untuk
Melakukan Konsumsi... 65 Tabel 5.0 Lebih Memilih Membelanjakan Pendapatan Untuk Membeli
Barang Yang Tahan Lama Bila Dibandingkan Dengan Barang
Yang Cepat Habis. ... 65 Tabel 5.2 Lebih Memilih Membelanjakan Pendapatan Untuk Membeli
Barang–Barang Yang Tahan Lama Meskipun Tidak Digunakan ... 66 Tabel 5.2 Ketika Bunga Bank Naik Menunda Mengeluarkan Pendapatan
Untuk Melakukan Konsumsi ... 67 Tabel 5.3 Untuk Membelanjakan Pendapatan Memperhatikan Tingkat
Bunga Dalam Melakukan Konsumsi ... 68 Tabel 5.4 Perkiraan Pendapatan Yang Akan Meningkat Membuat Tidak
Takut Untuk Mengkonsumsi Barang. ... 68
Dimasa Yang Akan Datang Membuat Segera Membelanjakan Pendapatan. ... 69 Tabel 5.6 Prospek Karir Pekerjaan Yang Akan Selalu Menjanjikan Dimasa
Depan Membuat Tidak Takut Mengeluarkan Pendapatan
Untuk Membeli Barang–Barang Yang Bermerek ... 70 Tabel 5.7 Jumlah Anggota Keluarga Yang Banyak Membuat Mengeluarkan
Pendapatan Lebih Banyak Untuk Konsumsi. ... 70 Tabel 5.8 Tingginya Pendapatan Dan Banyaknya Jumlah Anggota Keluarga
Membuat Pengeluaran Konsumsi Meningkat ... 71 Tabel 5.9 Perubahan Jumlah Penduduk Yang Terus Meningkat
Mempengaruhi Gaya Hidup Untuk Melakukan Konsumsi ... 72 Tabel 6.0 Gaya Hidup Masyarakat Disekitar Mempengaruhi Tingkat
Konsumsi. ... 72 Tabel 6.1 Tingkat Pendidikan Yang Tinggi Membuat Pendapatan
Menjadi Tinggi Sehingga Digunakan Untuk Konsumsi
Barang Sesuai Dengan Minat.. ... 73 Tabel 6.2 Lebih Memilih Membelanjakan Pendapatan Dialfamart Atau
Indomart Dari Pada Dipasar Tradisional. ... 74 Tabel 6.3 Keinginan Untuk Meniru Masyarakat Lain Membuat Selalu
Berminat Untuk Membeli Barang Yang Bermerek. ... 75 Tabel 6.4 Uji Validitas Pendapatan ... 76 Tabel 6.5 Uji Validitas Gaya Hidup ... 77
Tabel 6.7 Uji Realibilitas Pendapatan ... 79
Tabel 6.8 Uji Realibilitas Gaya Hidup ... 79
Tabel 6.9 Uji Realibilitas Perilaku Konsumsi ... 80
Tabel 7.0 Uji Normalitas ... 81
Tabel 7.1 Uji Multikolinearitas ... 82
Tabel 7.2 Uji Heteroskedastisitas ... 83
Tabel 7.3 Uji T (Uji Parsial) ... 84
Tabel 7.4 Uji F (Uji Simultan) ... 85
Tabel 7.5 Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 86
Tabel 7.6 Uji Regresi Berganda ... 88
Gambar 1.1 Peta wilayah Kecamatan Wanasaba ... 40
PERILAKU KONSUMSI MASYARAKAT DI KECAMATAN WANASABA KABUPATEN LOMBOK TIMUR
Oleh:
Muhammad Andika NIM. 170501251
ABSTRAK
Konsumsi merupakan penggunaan barang dan jasa yang ditujukkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut beberapa ahli konsumsi ditentukan oleh faktor ekonomi, demografi, dan faktor non ekonomi. Selain itu juga konsumsi ditentukan oleh pendapatan dan kekayaan, tingkat suku bunga, dan spekulasi, sikap berhemat, budaya, gaya hidup, dan keadaan perekonomian. Namun dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti hanya meneliti faktor pendapatan dan gaya hidup. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pendapatan dan gaya hidup baik secara parsial maupun secara simultan terhadap perilaku konsumsi masyarakat di Kecamatan Wanasaba kabupaten Lombok timur.
Adapaun metodologi dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian asosiatif dengan pendekatan kuantitatif. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kemudian teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji validitas, uji reabilitas, uji asumsi klasik, uji T (uji parsial), uji F (uji simultan) dan uji analisis regresi. Adapun data alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisis data dengan bantuan software SPSS.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial variabel pendapatan dan gaya hidup berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumsi. Kemudian, secara simultan variabel pendapatan dan gaya hidup secara bersama–sama (simultan) berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumsi. Pengaruh tersebut sebesar 45,4 % dan sisanya 54,6 % dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian.
Kata kunci:Pendapatan, gaya hidup, perilaku konsumsi
A. Latar Belakang Masalah
Konsumsi merupakan penggunaan barang dan jasa yang ditujukan secara langsung untuk memenuhi kebutuhan hidup.1 Tingkat konsumsi memberikan gambaran tingkat kemakmuran seseorang atau masyarakat.
Adapun pengertian kemakmuran adalah semakin tinggi tingkat konsumsi seseorang maka semakin makmur.2
Pendapatan merupakan suatu penerimaan bagi seseorang atau kelompok dari hasil sumbangan, baik tenaga dan pikiran yang dicurahkan sehingga memperoleh balas jasa.3 Pendapatan terhadap konsumsi mempunyai hubungan yang erat, hal ini sesuai dengan yang dikatakan Winardi pola konsumsi masyarakat ditentukan oleh tingkat pendapatan, semakin tinggi tingkat pendapatan masyarakat maka semakin baik juga pola konsumsinya.
Hal ini dikarenakan masyarakat mempunyai kemampuan untuk kebutuhan konsumsi.
Ada juga faktor gaya hidup yang dapat menentukan konsumsi masyarakat. Gaya hidup yang biasa dikenal dengan lifestyle ini meliputi aspek kehidupan di antaranya cara berpakaian, pilihan kendaraan yang
1 Veithal Rival Zainal, H. Nurul Huda, Ratna Ekawati, Sri Vandayuli Riorini, Ekonomi Mikro Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2018), hlm. 246 - 247
2 Elvina, “Pengaruh Pendapatan dan Konsumsi Terhadap Perilaku Konsumen Di Kabupaten Labuhanbatu”, Jurnal Ecosbima, Vol. 5, Nomor. 2, Juni 2018, hlm. 120 - 121
3 Nurlaila Hanum, “Analisis Pengaruh Pendapatan Terhadap Perilaku Konsumsi Mahasiswa Universitas Samudra Di Kota Langsa”, Jurnal Ekonomika, Vol. 1 Nomor. 2, Oktober 2017, hlm. 108
digunakan, alat komunikasi yang dipakai, serta sekolah yang akan dipilih para orang tua bagi anak–anaknya merupakan salah satu gaya hidup yang terlihat di era globalisasi sekarang ini.4
Perilaku konsumsi merupakan aktivitas dan tindakan yang diambil oleh seseorang atas penggunaan sumber daya dalam rangka pemenuhan kebutuhan. Termasuk dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi tersebut di antaranya pengeluaran untuk pakaian, sandang, pangan dan papan.5
Terdapat penelitian terdahulu terkait dengan judul penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti, sebelumnya sudah dilakukan oleh Tanti Dwi Hardiyanti pada tahun 2019 dalam penelitian yang berjudul “Pengaruh Pendapatan dan Gaya Hidup Terhadap Pola Konsumsi Masyarakat Kecamatan Medan Perjuangan”. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa ada pengaruh secara bersama–sama pendapatan dan gaya hidup terhadap pola konsumsi masyarakat Medan Perjuangan.6
Sejalan dengan penjelasan sebelumnya, berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti pada objek penelitian yakni di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur ditemukan bahwa masyarakat Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur, dari hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti ditemukan bahwa rata–rata pendapatan yang diterima oleh masyarakat yang ada di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok
4 Fadilla, “Hubungan Antara Pendapatan dan Gaya Hidup Masyarakat dalam Pandangan Islam”, Jurnal Ilmu Syariah, Vol. 5 Nomor. 1 April 2017, hlm. 40
5 Jenita, “Konsep Konsumsi dan Perilaku konsumsi Islam, Jurnal JEBI, Vol. 2 Nomor. 1, Januari 2017, hlm. 75
6 Tanti Dwi Hardiyanti, “Pengaruh Pendapatan dan Gaya Hidup Terhadap Pola Konsumsi Masyarakat Kecamatan Medan Perjuangan”, (Skripsi, FEBI UIN Sumatra Utara, Medan, 2019), hlm. 91 - 92
Timur, dibelanjakan untuk memenuhi konsumsinya guna memenuhi kebutuhan sehari–harinya. Tingkat konsumsi yang dilakukan oleh masyarakat di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur tentukan oleh masing– masing jumlah pendapatan yang diterimanya.
Konsumsi yang dilakukan oleh masyarakat di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur. Tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah pendapatan yang diterimanya, namun gaya hidup yang dimiliki perubahan Gaya hidup mendorong perilaku konsumsi masyarakat yang semakin baik. Selain itu juga munculnya berbagai toko yang didirikan secara pribadi oleh masyarakat maupun ritel modern seperti indomart ataupun alfamart bisa mendorong perilaku konsumsi.
Permasalahan yang ditemukan oleh peneliti terkait dengan judul yang diangkat mengenai pengaruh pendapatan dan gaya hidup terhadap perilaku konsumsi masyarakat, dikarenakan konsumsi berhubungan erat dengan pendapatan dan gaya hidup. Dalam melakukan konsumsi maka seseorang perlu memperhatikan jumlah pendapatan dan gaya hidup yang dimiliki. Akan tetapi, sekarang ini masyarakat melakukan konsumsi banyak yang mendahulukan keinginan dari pada kebutuhannya sehingga pendapatan yang dimilikinya banyak teralokasikan untuk konsumsi. Namun, apabila pendapatannya konstan sedangkan gaya hidupnya untuk melakukan konsumsi terus meningkat maka perlu untuk menurunkan konsumsinya pada tingkatan yang rendah, jika tidak maka akan mempengaruhi tingkat kesejahteraannya.
Hal membedakan dari kebanyakan desa yang ada di Kecamatan Wanasaba
Kabupaten Lombok Timur, dimana di Kecamatan Wanasaba terdapat 14 Desa, selain itu Kecamatan Wanasaba sebagai daerah agraris dan sebagai salah satu daerah pemasok sayur–sayuran di daerah Lombok sehingga dalam melakukan konsumsi yang bersifat kebutuhan pokok seperti beras maupun sayur–sayuran dan lain–lain, masyarakat ada yang di Kecamatan Wanasaba banyak mengandalkan dari hasil pertanian mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Berdasarkan masalah yang terdapat dalam uraian latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pendapatan Dan Gaya Hidup Terhadap Perilaku Konsumsi Masyarakat Di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah pendapatan berpengaruh terhadap perilaku konsumsi masyarakat di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur ?
2. Apakah gaya hidup berpengaruh terhadap perilaku konsumsi masyarakat di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur ?
3. Apakah pendapatan dan gaya hidup secara bersama–sama (simultan) berpengaruh terhadap perilaku konsumsi masyarakat di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur ?
C. Tujuan Dan Manfaat penelitian 1. Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui apakah pendapatan berpengaruh terhadap perilaku konsumsi masyarakat di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur.
b. Untuk mengetahui apakah gaya hidup berpengaruh terhadap perilaku konsumsi masyarakat di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur.
c. Untuk mengetahui apakah pendapatan dan gaya hidup secara bersama– sama (simultan) berpengaruh terhadap perilaku konsumsi masyarakat di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur.
2. Manfaat
a. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini akan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan mengenai perkembangan ilmu ekonomi terutama mengenai pengaruh pendapatan dan gaya hidup terhadap perilaku konsumsi.
b. Manfaat praktis 1) Bagi peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan peneliti dan bisa digunakan sebagai wahana untuk mengkaji secara ilmiah
tentang pengaruh pendapatan dan gaya hidup terhadap perilaku konsumsi masyarakat.
2) Bagi penelitian selanjutnya
Penelitian ini diharapkan menjadi bahan informasi dan refrensi bagi yang tertarik dan membutuhkan pada masa yang akan datang untuk meneliti terkait pengaruh pendapatan dan gaya hidup terhadap perilaku konsumsi masyarakat.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori
Kerangka teori dalam penelitian dibutuhkan karena berfungsi untuk menjelaskan kerangka umum. Selain itu, untuk menjawab pertanyaan teoritis dari beberapa rumusan masalah yang diajukan oleh peneliti. Adapun teori yang dibutuhkan dalam penelitian ini di antaranya teori mengenai pendapatan, gaya hidup, dan perilaku konsumsi. Adapun teori–teori tersebut akan dijelaskan adalah sebagai berikut:
1. Pendapatan
a. Pengertian pendapatan
Dalam kamus istilah ekonomi pendapatan adalah uang dan segala pembayaran yang diterima oleh seseorang dan perusahaan dalam bentuk upah, gaji, laba, bunga (interest), sewa, dan lain–lain, bersama–sama dengan tunjungan pengangguran, uang pensiun, dan lain–lain7. Sedangkan, menurut Wiryohasmono pendapatan adalah keseluruhan penghasilan yang diterima dari suatu usaha atau kegiatan tertentu sedangkan penerimaan adalah setiap hasil yang diterima dari suatu usaha atau kegiatan tertentu.8
7 Julians Ifnul Mubarok, Kamus Istilah Ekonomi, (Bandung: Yrama Widya, 2012), hlm.
192
8 Wiryohasmono, Konsep Pendapatan Rumah Tangga Di Indonesia, (Jakarta: Salemba Empat, 2014), hlm. 3
Menurut Sadono Sakirno pendapatan merupakan penghasilan yang diterima tanpa memberikan suatu kegiatan apapun yang diterima oleh suatu Negara.9 Sedangkan, menurut Mardiasmo pendapatan merupakan setiap penambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari dalam negeri mapun dari luar negeri yang dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan dengan nama dan bentuk apapun.10
b. Indikator pendapatan
Adapun indikator pendapatan antara lain sebagai berikut:11 1. Pendapatan yang diterima perbulan
Merupakan penerimaan yang diterima oleh seseorang maupun badan usaha yang diterima dari balas jasa yang telah dilakukannya.
2. Pekerjaan
Merupakan suatu hubungan yang melibatkan dua pihak yakni antara perusahaan dengan keryawan.
3. Anggaran pendidikan
Merupakan penerimaan dan pengeluaran yang direncanakan dalam suatu periode kebijakan keuangan (Financial), serta didukung data yang mencerminkan kebutuahan dengan tujuan proses pendidikan.
9 Sadono Sukirno, Mikro Ekonomi Teori Pengantar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), hlm. 384
10 Mardiasmo, Perpajakan, (Yogyakarta: Andi, 2003) hlm. 109
11 Novia Bramastuti, “Pengaruh Prestasi Sekolah dan Tingkat Pendapatan Terhadap Motivasi Berwirausaha Siswa SMK Bakti oetama Gondanrejo Karanganyar”, (Skripsi, FKIP Universitas Muhammadiyah, Surakarta, 2009), hlm. 48
4. Beban keluarga yang ditanggung
Merupakan jumlah pengeluaran yang digunakan oleh anggota keluarga lainnya yang dihitung dalam periode tertentu.
c. Pengaruh pendapatan terhadap konsumsi
Pendapatan akan mempengaruhi banyaknya barang yang dikonsumsikan. Bahkan seringkali dijumpai bertambahnya pendapatan, maka barang yang dikonsumsi bukan saja bertambah, tapi juga kualitas berang tersebut ikut menjadi perhatian.12
Pendapatan berpengaruh terhadap besarnya pengeluaran konsumsi seseorang. Dikarenakan untuk membeli barang–barang konsumsi, individu menggunakan pendapatannya. Seamkin tinggi pendapatan maka biasanya pengeluaran konsumsi akan mengalami peningkatan.
Seseorang yang memiliki pendapatan lebih tinggi maka ia mempunyai lebih banyak uang yang bisa digunakan untuk melakukan konsumsi.
Sehingga semakin tinggi pendapatan, maka biasanya semakin tinggi pula tingkat konsumsi seseorang. Oleh karena itu pendapatan dapar mempengaruhi tinggi perilaku konsumsi seseorang.
2. Gaya hidup
a. Pengertian gaya hidup
Gaya hidup secara luas didefinisikan sebagai cara hidup yang diidentifikasikan oleh bagaimana seseorang menghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam
12 M. Suparmoko, Teori Ekonomi Mikro, (Yogyakarta: BPFE, 2011), hlm.241
lingkungan (ketertarikan), dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri, dan juga dunia sekitarnya (pendapat).13 Sedangkan menurut, David Haney gaya hidup adalah pola–pola tindakan yang membedakan orang yang satu dengan dengan orang lain.14
Menurut Kotler dan Keller, gaya hidup merupakan sebagai pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menunjukkan seluruh pola seseorang dalam beraksi dan berinteraksi di dunia.15
b. Indikator gaya hidup
Adapun indikator dari gaya hidup adalah sebagai berikut:16
1. Aktivitas adalah mengungkapkan apa yang dikerjakan konsumen, produk apa yang dibeli atau digunakan, kegiatan apa yang dilakukan untuk mengisi waktu luang. Walaupun kegiatan ini biasanya diamati, alasan untuk tindakan tersebut jarang dapat diukur secara langsung.
2. Minat menggemukakan apa minat, kesukaan, kegemaran, dan prioritas dalam hidup konsumen tersebut.
3. Opini adalah berkisar sekitar pandangan dan perasaan konsumen dalam menanggapi isu–isu global, lokal oral ekonomi dan sosial.
Opini digunakan untuk mendeskripsikan penafsiran, harapan, dan
13 Nugroho J. Setiadi, Perilaku Konsumen, (Jakarta: Pramedia Group, 2018), hlm. 80
14 David Chaney, Lifestyle:suatu Pengantar Komprehensif, (Yogjakarta: Jalasutra, 2003), hlm. 40
15 Kotler dan Keller, Manajemen Pemasaran, (Jakarta: Erlangga, 2012), hlm. 192
16 Rini Dwiastuti, Agustina Shinta, Riyanti Isaskar, Ilmu Perilaku Konsumen, (Malang:
Un Press, 2012), hlm. 75 - 78
evaluasi, seperti kepercayaan mengenai maksud orang lain, antisipasi sehubungan dengan pristiwa masa datang dan penimbangan konsekuensi yang memberi ganjaran atau menghukum dari jalan tindakan alternatif.
4. Demografi adalah sebuah ilmu yang mempelajari mengenai jumlah penduduk dan komposisi penduduk
c. Pengaruh Gaya hidup terhadap konsumsi
Adapun pengaruh gaya hidup terhadap perilaku konsumsi yaitu sebagai berikut:17
a. Pengalaman
Pengalaman seorang konsumen maupun pengalaman yang dibuat sedemikian baik untuk brand suatu produk sangat mampu meningkarkat minat beli konsumen.
b. Ekonomi
Tingkat ekonomi seseorang juga menjadi faktor yang menentukan gya hidup seseorang demi sebauh ambisi untuk memiliki produk dengan brand image yang bagus.
c. Kebutuhan
Bagi gaya hidup kalangan menengah keatas kebutuhan merupakan yang paling terakhir untuk menjadi alasan konsumen membeli suat produk. Demikian dengan kefanatikannya dengan memeandang suatu produk dengan kualitas brand image yang konsisten
17 Silvia Nuriah, Pengaruh Gaya Hidup dan Brand Image Terhadap Konsumsi, (Makalah:
Oktober 2014), hLM. 5
meningkatkan pada setiap inovasi–inovasi yang dikeluarkan oleh produsen disetiap periodenya.
3. Perilaku Konsumsi a. Pengertian konsumsi
Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia, konsumsi diartikan sebagai pemakaian barang hasil produksi berupa pakaian, makanan, dan lain sebagainnya atau barang yang memenuhi kebutuhan hidup manusia. Dengan kata lain, konsumsi adalah kegiatan manusia yang secara langsung menggunakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhannya dengan tujuan untuk memperoleh kepuasaan yang berakibat mengurangi ataupun menghabiskan nilai guna suatu barang/jasa.18
b. Fungsi Konsumsi
Fungsi konsumsi menunjukkan keterkaitan antara jumlah pendapatan dan pengeluaran. Sedangkan fungsi tabungan menunjukkan hubungan antara tingkat tabungan dengan pendapatan.
Fungsi konsumsi dan tabungan dapat dinyatakan dalam persamaan:
a. Fungsi konsumsi C = a + b Y b. Fungsi tabungan
S = -a + (1 – b)Y
18 Adesy, Ekonomi Dan Bisnis Islam, (Depok: Raja Grafindo Persada, 2016), hlm. 317 - 318
Dimana a adalah konsumsi rumah tangga ketika pendapatan nol, b adalah kecenderungan mengkonsumsi marginal, C adalah tingkat konsumsi, dan Y adalah tingkat pendapatan. Fungsi konsumsi dan tabungan dapat pula menunjukkan hubungan diantara konsumsiatau tabungan dengan pendapatan disposibel Yd.19
c. Faktor konsumsi rumah tangga
Ada pun faktor–faktor yang mempengaruhi besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga:20
1) Faktor ekonomi
Maksudnya ialah ekonomi atau pendapatan dari seseorang itu sangat berpengaruh dalam memakai ataupun menghabiskan suatu barang atau jasa guna memenuhi kepuasanya. Setidaknya terdapat enam faktor yang menentukan tingkat konsumsi, yaitu:
a) Pendapatan rumah tangga (Household income).
Pendapatan rumah tangga amat besar pengaruhnya terhadap tingkat konsumsi. Biasanya makin tinggi pendapatan, tingkat konsumsi makin tinggi. Karena ketika tingkat pendapatan meningkat, kemampuan rumah tangga untuk membeli aneka kebutuhan konsumsi menjadi semakin besar atau mungkin juga pola hidup menjadi konsumtif, setidak– tidaknya semakin menuntut kualitas yang baik.
19 Paul A. Samuelson dan William D. Nordhaus, Ilmu Mikroekonomi, Ed. 17, (Jakarta:
Media Global Edukasi, 2003)
20 Dewi Sartika Nasution, Pengantar Ekonomi, (Mataram: IAIN Mataram, 2015), hlm. 99 - 103
b) Kekayaan rumah tangga (household wealth).
Tercakup dalam pengertian kekayaan rumah tangga adalah kekayaan riil (rumah, tanah, dan mobil) dan finansial (deposit jangka, saham, dan surat–surat berharga). Rumah atau mobil yang disewakan, deposito, saham, surat–surat berharga yang dimiliki akan menghasilkan penghasilan berupa dividen tentunya dapat meningkatkan pendapatan non upah (non wages income). Sebagai tambahan penghasilan tersebut digunakan sebagai konsumsi yang tentunya akan meningkatkan pengeluaran konsumsi.
c) Jumlah barang–barang konsumsi tahan lama dalam masyarakat.
Pengeluaran juga dipengaruhi oleh jumlah brang– barang tahan lama (consumers durables) yang dikonsumsi masyarakat. Sebagai contoh misalnya semakin banyak masyarakat memiliki kendaraan bermotor menyebabkan semakin berkurangnya moda transportasi masal disuatu daerah, tetapi disisi lain akan banyak terjadi pengeluaran BBM yang menghabiskan subsidi, bengkel perawatan dan perbaikan kendaran bermotor dan lain sebagainya. Barang–barang tahan tahan lama pada umumnya berharga mahal dan untuk membelinya dibutuhkan waktu untuk menabung sehingga
mengurangi konsumsi, sebaliknya untuk pembelian dengan sistem kredit fase penghematan adalah sesuatu pelunasan.
d) Tingkat bunga (inteterest rate).
Tingkat bunga tinggi dapat mengurangi keinginan konsumsi. Dengan tingkat bunga yang tinggi, maka biaya ekonomi (opportunity cost) dari kegiatan konsumsi akan semakin mahal. Bagi mereka yang ingin mengkonsumsi dengan berutang dahulu, misalnya dengan meminjamkan dari bank atau menggunakan kartu kredit, biaya bunga semakin mahal, sehingga lebih menunda/mengurangi konsumsi.
e) Kebijakan pemerintah mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan.
Keinginan pemerintah untuk mengurangi ketimpangan dalam distribusi pendapatan ternyata akan menyebabkan bertambahnya konsumsi masyarakat secara keseluruhan.
Sebagai contoh misalnya apabila pemerintah menarik pajak dari golongan masyarakat berpendapatan tinggi sebesar Rp 100 juta maka akan menyebabkan konsumsi sebesar Rp 65 juta (dengan MPC sebesar 0,65). Disisi lain, tambahan pendapatan sebesar Rp 100 juta terhadap masyarakat berpenghasilan rendah akan meningkatkan pertambahan konsumsi sebanyak Rp 80 juta (dengan MPC sebesar 0,80). Ini artinya dengan tingkat konsumsi masyarakat menjadi lebih besar
dibandingkan dengan sebelumnya karena pemerintah banyak melakukan redistribusi pendapatan nasional.
f) Perkiraan tentang masa depan (household expectation about the future).
Faktor–faktor internal yang dipergunakan untuk memperkirakan prospek masa depan rumah tangga antara lain pekerjaan, karir, dan gaji yang menjanjikan, banyak anggota keluarga yang telah bekerja. Sedangkan faktor–faktor eksternal yang mempengaruhi antara lain kondisi prekonomian domestik dan internasional, jenis–jenis dan tarif kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintah.
2) Faktor-faktor demografi (kependudukan) a) Jumlah penduduk.
Jumlah penduduk yang banyak akan memperbesar pengeluaran konsumsi secara menyeluruh, walaupun pengeluaran rata–rata per orang atau per keluarga relatif rendah. Pengeluaran konsumsi suatu negara akan sangat besar, bila jumlah penduduk sangat banyak dan berpendapatan per kapita sangat tinggi.
b) Komposisi penduduk
Pengaruh komposisi penduduk terhadap tingkat konsumsi antara lain: produktifitas, artinya semakin banyak penduduk yang berusia kerja atau produktif (15–64 tahun),
akan semakin besar pula tingkat konsumsinya karena penghasilannya juga akan semakin besar; tingkat pendidikan, artinya semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, tingkat konsumsinya juga akan semakin tinggi, sebab pada saat seseorang atau suatu keluarga makin berpendidikan tinggi maka kebutuhan hidupnya banyak; demografis, artinya semakin banyak penduduk tinggal di wilayah perkotaan (urban) pengeluaran konsumsi juga semakin tinggi karena pada umumnya pola hidup masyarakat perkotaan lebih konsumtif dibandingkan dengan masyarakat pedesaan.
3) Faktor–faktor non ekonomi
Faktor–faktor non ekonomi yang paling berpengaruh terhadap besarnya konsumsi adalah faktor sosial budaya masyarakat, misalnya saja, berubahnya pola kebiasaan makan, perubahan etika dan tata nilai karena ingin meniru kelompok masyarakat lain yang dianggap lebih hebat/ideal. Contoh konkrit dari faktor non ekonomi adalah berkembangnya pasar swalayan modern menghilangkan budaya tawar menawar seperti yang terjadi di pasar tradasional. Demikian juga halnya dengan menjamurnya rumah makan atau restoran diberbagai tempat menyebabkan sekarang banyak keluarga atau rumah tangga yang jarang melakukan ritual masak sendiri di rumah, terutama dikota–
kota besar.
B. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu merupakan pembahasan mengenai yang telah dilakukan oleh penelitian sebelumnya yang memiliki kaitan dengan penelitian yang dilakukan. Perbedaan terperinci penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian terdahulu adalah sebagai berikut.
1. Penelitian yang dilakukan oleh Hasnira pada tahun 2017 yang berjudul
“Pengaruh Pendapatan dan Gaya Hidup terhadap Pola Konsumsi Masyarakat Wahdah Islamiyah Makassar”. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pendapatan dan gaya hidup berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat konsumsi wahdah islamiyah Makassar berarti jika pendapatan naik maka konsumsi pun naik dan jika gaya hidup naik maka konsumsi pun naik. Selain itu hasil perhitungan diperoleh nilai koefiesien determinasi (𝑅2) sebesar 0,528 berarti variabel independen mampu mempengaruhi variabel dependen sebesar 52,8 % artinya kontribusi variabel pendapatan dan gaya hidup dalam menjelaskan variasi nilai variabel konsumsi masyarakat sebsar 52,8% dan sisanya sebesar 47,2 % dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian.21
Kesamaan dengan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah pada variabel independennya yang sama–sama tentang pendapatan dan gaya hidup. Sedangkan perbedaannya terletak pada variabel dependennya yang mana pada penelitian sebelumnya mengenai
21Hasnira, “Pengaruh Pendapatan dan Gaya Hidup Terhadap Pola Konsumsi Masyarakat Wahdah Islamiyah Makassar”, (Skripsi, FEBI UIN Alaiuddin Makassar, Makassar, 2017), hlm. 79 - 80
pola konsumsi, sedangkan yang akan diteliti oleh peneliti mengenai perilaku konsumsi.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Haisah Hasibuan pada tahun 2019 yang berjudul “Pengaruh Pendapatan, Religiusitas dan Gaya Hidup terhadap Konsumsi Masyarakat Muslim Di Kecamatan Kota Pinang Kabupaten Labuhan Batu Selatan”. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pendapatan, religiustitas dan gaya hidup secara bersama–sama berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap tingkat konsumsi masyarakat muslim Kecamatan kotapinang. Hal ini dilihat dari uji f hitung
(47,123) > f table (2,700) dengan signifikan 0,000 < 0,05. Selain itu dari hasil perhitungan diperoleh koefisien determinasi (𝑅2) sebesar 0,583 (58,3%) yang menunjukkan bahwa kontribusi variabel pendapatan, religiusitas dan gaya hidup dalam menjelaskan variasi nilai konsumsi masyarakat muslim sebesar 58,3%, sedangkan sisanya sebesar 41,7%
dipengaruh oleh variabel lain yang tidak masuk penelitian ini.22
Kesamaan penelitian sebelumnya dengan penelitain yang akan dilakukan oleh peneliti terletak pada variabel independennya mengenai pendapatan dan gaya hidup, sedangkan perbedaannya objek penelitiannya dimana pada penelitain sebelumnya objeknya masyarakat muslim, sedangkan objek penelitian yang akan dilakukan oleh penelitian adalah masyarakat secara umum.
22 Haisah Hasibuan, “Pengaruh Pendapatan, Religiusitas dan Gaya Hidup Terhadap Pola Konsumsi Masyarakat Muslim Kecamatan Kotapinang Kabupaten Labuhanbatu Selatan”, (Skripsi, FEBI UIN Sumatera Selatan, Medan, 2019), hlm. 79 - 80
3. Penelitian yang dilakukan oleh Risnawati pada tahun 2020 yang berjudul,
“Pengaruh Pendapatan dan Gaya Hidup terhadap Perilaku Konsumsi Masyarakat Dalam Perspektif Ekonomi Islam (Studi Di Kecamatan Ulee Banda Aceh)”, berdasarkan hasil penelitian tersebut diperoleh variabel pendapatan dan gaya hidup secara bersama–sama berpengaruh secara signifikan terhadap variabel perilaku konsumsi. Selain itu juga, nilai koefisien determinasinya sebesar 0,200 atau sebesar 20 % artinya variabel pendapatan dan gaya hidup mempengaruhi variabel perilaku konsumsi sebesar 20 % dan sisanya sebesar 80 % dipengaruhi oleh variabel lain diluar variabel penelitian.23
Adapun persamaan penelitian yang dilakukan oleh Risnawati dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penelitian yakni terletak pada subjek penelitian mengenai perilaku konsumsi masyarakat dan variabel independen penelitian yaitu pendapatan dan gaya hidup. Sedangkan perbedaan terletak pada kajiannya dimana penelitian yang dilakukan oleh Risnawati mengkaji perilaku konsumsi masyarakat itu dari segi perspektif ekonomi islam, namun pada penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yakni konsumsi masyarakat secara umum.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Titi Rismayanti dan Serli Oktapiani pada tahun 2020 yang berjudul “Pengaruh Uang Saku dan Gaya Hidup terhadap Perilaku Konsumtif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Teknologi Sumbawa”, dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa
23 Risnawati, “Pengaruh Pendapatan dan Gaya Hidup Terhadap Perilaku Konsumsi Masyarakat Dalam Perspektif Ekonomi Islam (Studi Di Kecamatan Ulee Banda Aceh)”, (Skripsi, FEBI UIN Ar – Raniry, Banda Aceh 2020), hlm. 91- 92
uang saku dan gaya hidup berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif. Selain itu, berdasarkan uji koefisien determinasi diperoleh hasil R-Square sebesar 0,169 atau 16,9 % artinya variabel uang saku dan gaya hidup mempengaruhi perilaku konsumtif sebesar 16,9 % dan sisanya 83,1
% dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian.24
Adapun persamaan penelitian tersebut dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terletak pada variabel independennya yakni sama-sama menggunakan dua variabel independen. Sedangkan, perbedaannya terletak pada subjeknya dimana pada penelitian tersebut meneliti mengenai perilaku konsumtif sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti mengenai perilaku konsumsi.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Nuryuliani dan Rahmatiah pada tahun 2020 yang berjudul “Pengaruh Pendapatan, Gaya Hidup, dan Jenis kelamin terhadap Konsumsi Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika UIN Alauddin Makassar”, dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pendapatan, gaya hidup, dan jenis kelamin berpengaruh positif dan signifikan terhadap konsumsi mahasiswa jurusan pendidikan matematika.
Selain itu berdasarkan uji koefisien determinasi (R2) diperoleh hasil sebesar 0,832 atau 83,2 % artinya variabel pendapatan, gaya hidup, dan
24 Titi Rismayanti, Serli Oktapiani, “Pengaruh Uang Saku dan Gaya Hidup Terhadap Perilaku Konsumtif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Teknologi Sumbawa”, ISSN, Vol. 02, Nomor 02 Desember 2020, hlm. 35-36
jenis kelamin mempengaruhi variabel konsumsi sebesar 83,2 % dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian.25
Adapun persamaan penelitian tersebut dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terletak pada variabel dependennya yakni mengenai konsumsi. Sedangkan, perbedaannya terletak pada variabel independennya yakni pada penelitian tersebut menggunakan tiga variabel indenpenden sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh peneliti hanya menggunakan dua variabel independen.
C. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir merupakan sebuah diagram yang menjelaskan secara garis besar alur logika berjalannya sebuah penelitian. Kerangka berpikir disusun berdasarkan pertanyaan penelitian dan mewakili suatu himpunan dari beberapa konsep serta hubungan dari beberapa konsep tersebut.
Dalam penelitian ini, peneliti mengkaji seberapa besar pengaruh pendapatan dan gaya hidup terhadap perilaku konsumsi masyarakat di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur. Kerangka berpikir menggambarkan hubungan variabel independen, dalam hal ini adalah pendapatan (X1) dan gaya hidup (X2) terhadap variabel dependen yakni perilaku konsumsi (Y).
25 Nuryuliani, Rahmatiah, “Pengaruh Pendapatan, Gaya Hidup, dan Jenis kelamin terhadap Konsumsi Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika UIN Alauddin Makassar”, Jurnal Ekonomi pembangunan, Vol. 6, Nomor 1, Maret 2020, hlm. 17 - 19
Pendapatan merupakan hasil yang diperoleh dari perusahaan atau dari orang lain atas pekerjaan yang telah dilakukannya yang meliputi pendapatan pokok, pendapatan tambahan, dan pendapatan lainnya yakni apakah pendapatannya meningkat atau konstan yang digunakan untuk konsumsi.
Gaya hidup merupakan pola hidup seseorang didunia yang diekspresikan dengan aktivitas, minat dan opinisi. Gaya hidup mengambarkan keseluruhan diri seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Pendapatan yang meningkat dan diiringi oleh perubahan gaya hidup yang tinggi mampu mengubah tingkat konsumsi seseorang. Hal itu didorong atas kebutuhan maupun keinginan seseorang untuk memiliki barang. Adapun kerangka berpikir yang digunakan peneliti dalam merumuskan masalah ini adalah :
Pengaruh pendapatan dan gaya hidup terhadap perilaku konsumsi masyarakat di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur.
D. Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang
Gaya hidup (X2)
Perilaku konsumsi (Y) Pendapatan (X1)
diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta–fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.26
Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka teori di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut:
Ho1: Tidak ada pengaruh pendapatan terhadap perilaku konsumsi masyarakat di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur.
Ha1: Ada pengaruh pendapatan terhadap perilaku konsumsi masyarakat di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur.
Ho2: Tidak ada pengaruh gaya hidup terhadap perilaku konsumsi masyarakat di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur.
Ha2: Ada pengaruh gaya hidup terhadap perilaku konsumsi masyarakat di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur.
Ho3: Tidak ada pengaruh pendapatan dan gaya hidup secara bersama–sama (simultan) terhadap perilaku konsumsi masyarakat di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur.
Ha3: Ada pengaruh pendapatan dan gaya hidup secara bersama–sama (simultan) terhadap perilaku konsumsi masyarakat di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur.
26 Sugiyono, Metode Penelitian Manajemen, (Bandung: Alfabeta, 2014), hlm. 134–135.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Dan Pendekatan Penelitian 1. Jenis penelitian
Jenis penelitian yang akan dilakukan pada penelitian ini dapat digolongkan pada penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikat dan apabila ada seberapa eratnya pengaruh atau hubungannya, serta berarti atau tidaknya pengaruh atau hubungan itu.27
2. Pendekatan penelitian
Pada penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif.
digunakan untuk menguji sebuah teori, untuk menyajikan suatu fakta dan mendeskripsikan statistik dan untuk menunjukkan hubungan variabel yang ada didalamnya.28
B. Populasi Dan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek yang akan/ingin diteliti.
Populasi sering juga disebut dengan universe. Anggota populasi dapat berupa benda hidup maupun benda mati, dan manusia, dimana sifat–sifat
27 Sugiono, Metodologi Penelitian Bisnis, (Bandung: CV. Alfabeta, 2011), hlm. 37
28 Cholid Nurbuko dan Abu Ahmadi, Metodologi penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), hlm. 20
yang ada padanya dapat diukur atau diamati.29 Adapun populasi yang tercakup dalam penelitian ini adalah 69.240 masyarakat di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karateristik yang dimiliki oleh populasi tersebut, ataupun bagian kecil dari anggota populasi yang diambil menurut prosedur tertentu sehingga dapat mewakili populasinya.30 Dari uraian di atas, dengan jumlah populasi 69.240 orang, dengan ukuran taraf tingkat kesalahan sebesar 10 %. Maka penentuan jumlah sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus slovin:
𝑛 = 𝑁
1 + 𝑁(𝑒)2 Keterangan:
𝑛= Ukuran Sampel 𝑁 =Ukuran Populasi
𝑒 =Ukuran tingkat kesalahan
𝑛 = 69,240 1 + 69,240(0.1)2 𝑛 = 69,240
1 + 69,240(0.01) 𝑛 = 69,240
1 + 692,40 𝑛 = 99, 855
29 Syahrum, Salim, Metodologi Penelitian Kuantitatif, (Bandung: Caita Pustaka Media, 2012), hlm. 113
30 Sandu Siyoto, M. Ali Sodik, Dasar Metodologi penelitian, (Sleman: Literasi Media Publishing, 2015), hlm. 64
Dari hasil perhituangan di atas menggunakan rumus slovin dengan tingkatan kesalahan 10 %, maka yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah sebesar 99, 855 dan dibulatkan menjadi 100 sampel.
C. Waktu Dan Tempat Penelitian
Waktu penelitian ini akan dilaksanakan selama dua minggu yang dimulai dari tanggal 25 Mei–8 Juni 2021. Tempat penelitian merupakan lokasi dimana peneliti melakukan penelitian untuk memperolah data yang diperlukan. Sesuai dengan judul penelitian ini tempat penelitian akan dilaksanakan di Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur.
D. Definisi operasional variabel penelitian
Untuk mempermudahkan memperoleh kejelasan dan menghindari kesalahan dalam pembahasan penulisan ini, maka penulis merasa perlu mengemukakan pengertian atau batasan dari berbagai istilah yang dianggap penting di dalamnya di antaranya:
1. Pendapatan adalah sejumlah penerimaan yang diperoleh seseorang pada periode tertentu (per bulan atau per tahun) yang diukur dalam satuan mata uang (rupiah). Pendapatan yang dimaksudkan yaitu sejumlah uang yang dibayar oleh orang yang memberi pekerjaan atas jasanya seseuai dengan perjanjian.
2. Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan
“keseluruhan diri seseorang” dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Selain itu juga gaya hidup diidentifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka, apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga dunia sekitarnya.
3. Perilaku konsumsi adalah bentuk pengeluaran individu/kelompok dalam rangka pemakian barang dan jasa hasil produksi sebagai pemenuhan kebutuhan. Konsumsi juga diartikan kegiatan seseorang untuk mengurangi atau menghabiskan nilai suatu barang dan jasa.
E. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga memperoleh informasi tentang hal tersebut kemudian ditarik kesimpulan.31
Adapun variabel–variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel bebas atau variabel penyebab (independent variables)
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat).
Berdasarkan pengertian tersebut variabel bebas (independent) dalam penelitian ini adalah pendapatan dan gaya hidup.
31 Sahyana Anggara, Metode Penelitian Administrasi, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2015), hlm. 75 - 77
2. Variabel terikat atau variabel tergantung (dependent variables)
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Berdasarkan pengertian tersebut yang menjadi variabel terikat (dependent) dalam penelitian ini adalah perilaku konsumsi.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan dalam metode pengambil data oleh peneliti untuk menganalisa hasil penelitian yang dilakukan pada langkah penelitian selanjutnya.32 Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah Kuesioner
Kuesioner merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulan data pertama merupakan kuesioner atau angket. Jenis pertanyaan yang ada dalam kuesioner yaitu jenis pertanyaan yang dibutuhkan dalam laporan penelitian.
Tabel 1.1
Variabel dan indikator penelitian
No Variabel Indikator variabel Skala pengukuran 1 Pendapatan -Pendapatan yang diterima
perbulan -Pekerjaan
-Tingkat pendidikan
-Beban keluarga yang ditanggung
Likert
2 Gaya hidup -Aktivitas.
-Minat.
-Opini.
-Demografi.
Likert 3 Perilaku konsumsi -Faktor ekonomi pendapatan Likert
32 Dhiah Tyas Untari, Metode Penelitian:penelitian kontemporer bidang ekonomi dan bisnis, (Banyumas: CV. Pena Persada, 2018), hlm. 40–41
rumah tangga
-Faktor ekonomi kekayaan rumah tangga
-Faktor ekonomi barang konsumsi tahan lama
-Faktor ekonomi tingkat bunga
-Faktor perkiraan dimasa depan
-Faktor demografi jumlah penduduk
-Faktor demografi komposisi penduduk
-Faktor non ekonomi sosial budaya masyarakar
G. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian merupakan langkah–langkah operasional metode ilmiah dengan memperhatikan unsur–unsur keilmuan. Penelitian kuantitaif sebagai kegiatan ilmiah berawal dari masalah, merujuk teori, mengemukakan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data, dan menarik kesimpulan.
Penelitian kuantitatif berawal dari ditemukannya masalah yang dapat dikali dari sumber empiris dan teoritis, sebagai seuatu aktivitas penelitian terdahulu (pra riset). Agar masalah yang ditemukan dengan baik memerlukan fakta–
fakta empiris dan diiringi dengan penguasaan teori yang diperoleh dari mengkaji berbagai literatur yang relevan.33
33 Hj. Neliwati, Metodologi Penelitian Kuantitatif (Kajian teori dan praktik), (Medan:
CV. Widya Puspita, 2018), hlm. 114.
Adapun prosedur dalam penelitian ini adalah sebagai berikut dibawah ini:
H. Teknik Analisis Data 1. Uji validitas
Validitas adalah menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur mampu mengukur apa yang ingin diukur (a valid measure if it successfully measure the phenomenon).34 Penguji dilakukan dengan taraf signifikan sebesar 0,05 dengan menggunakan alat bantu SPSS. Dengan kriteria pengujian sebagai berikut:
34 Syofian Siregar, Metodologi Kuantitatif Dilengkapi Dengan Perbandingan Perhitungan Manual dan SPSS, (Jakarta: Kencana, 2013), hlm. 46
Menentukan fokus
penelitian Studi penelitian Merumuskan masalah Menyusun kerangka teori Menyusun krangka berpikir penelitian
Hipotesis
Memilih pendekatan dan metode
Menentukan variabel dan indikator
Menentukan sumber data Menentukan
dan menyusun instrumen
Mengumpulkan data Analisis data
Menarik kesimpulan
1) Jika r hitung > r tabel, maka dinyatakan valid 2) Jika r tabel < r tabel, maka dinyatakan tidak valid 2. Uji reliabilitas
Reliabilitas adalah indikator tingkat keandalan atau kepercayaan terhadap suatua hasil pengukuran. Suatu pengukuran disebut reliable atau memiliki kendalan konsisten dapat memberikan jawaban yang sama.35 Kriteria realibilitas suatu penelitian
Tabel 1.2
Kriteria uji realibilitas
Interval koefisien reabilitas Tingkat hubungan 0,800–0,1000 Sangat reliable
0,600–0,800 Reliable
0,400–0,600 Cukup reliable
0,200–0,400 Kurang reliable
0,00–0,200 Tidak reliable
3. Uji asumsi klasik
Uji asumsi klasik merupakan uji yang digunakan guna mengetahui kecocokan sebuah data yang digunakan untuk di uji secara regresi ataupun secara analisa jalur. Dalam analisis regresi berganda sangat diperlukan uji asumsi klasik dengan maksud apakah data penelitian yang digunakan BLUE (best, linear, unbiased, estimated). Pada umumnya uji asumsi klasik dibagi menjadi beberapa uji di antaranya sebagai berikut:
35 Morissan, Metodologi penelitian Survei, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2012), hlm. 99
1) Uji normalitas
Uji normalitas digunakan guna mengetahui apakah data yang diperoleh terdistribusi normal atau tidak. Dalam pengambilan keputusan merupakan jika nilai L hitung > L tabel maka Ho ditolak, dan jika nilai L hitung < L table maka Ho diterima. 36 Hipotesis statistik yang digunakan adalah sebagai berikut:
Ho:Sampel berdistribusi normal
H1:sampel data terdistribusi tidak normal 2) Uji multikolineritas
Uji multikolinearitas bertujuan guna mendeteksi apakah variabel independen pada model regresi saling berkolerasi. Untuk mengetahui kriteria BLUE, tidak boleh terdapat korelasi antara setiap variabel independen, maka variabel tersebut dapat dikatakan tidak orthogonal. kriteria putusan sebagai berikut:37
a) Apabila tolerance value > 0.1 dan VIF < 10, maka dapat disimpulkan tidak terjadi gejala multikoloneritas antar variabel independen pada model regresi.
b) Apabila tolerance value < 0.1 dan VIF > 10, maka dapat disimpulkan terjadi gejala multikoloneritas antar variabel independen pada model regresi.
36 Nuryati, Tutut Dewi Astuti, Endang Sri Utami M. Budiantara, Dasar–Dasar Statistik Penelitian, (Yogyakarta: Sibuku Media, 2017), hlm. 79 - 80
37 R. Rina Novinaty Ariawaty, Siti Noni Evita, Metode Kuantitatif Praktis, (Bandung:
PT. Bima Pratama Sejahtera, 2018), hlm. 26
3) Uji heterokedastisitas
Uji heterokedastsitas merupakan uji yang digunakan untuk mengetahui ketidak samaan variance dari residual suatu pengamatan yang lainnya.38 Untuk menguji terjadi atau tidaknya gejala heteroskedastisitas dapat menggunakan grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residualnya (SRESID) dengan dasar keputusan sebagai berikut:
a) Jika pada grafik scatter plot terlihat titik–titik yang membentuk pola tertentu, maka dapat disimpulkan terjadi masalah heteroskedastisitas.
b) Jika pada grafif scatter, titik–titik menyebar di atas dan dibawah angka nol pada sumbu Y serta tidak membentuk pola tertentu yang teratur maka dapat disimpulkan tidak terjadi masalah heteroskedastisitas (variance sama/homokedastisitas).
4. Uji analisis regresi berganda
Analisis ini juga digunakan guna mengetahui apakah antar masing–masing variabel independen berhubungan positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen mengalami penaikan atau penurunan. 39 Persamaan regresi yang digunakan adalah sebagai berikut:40
38 Echo Perdana K, Olah Data Skripsi Dengan SPSS 22, (Bangka Belitung: Lab Kom.
Manajemen FE UBB, 2016), hlm. 49
39 Mudrajad kuncoro, Metode Untuk Bisnis dan Ekonomi: Bagaimana meneliti & menulis tesis, (Jakarta:PT. Gelora Aksara Pratama, 2009), hlm. 239
40 Suliyanto, Ekonometrika Terapan: Teori & Aplikasi dengan SPSS, (Yogyakarta: Andi Yogyakarta, 2011), hlm. 53
Rumus:
Y = a + b1 X1 + b2 X2 + e Keterangan:
Y = Perilaku konsumsi a = konstanta interception b1, b2 = koefisien regresi e = standar eror X1 = pendapatan X2 =Gaya Hidup 5. Uji hipotesis
a. Uji parsial (uji t)
Uji t bertujuan untuk mengetahui apakah variabel–variabel bebas yang digunakan dalam model persamaan regresi berpengaruh secara parsial terhadap variabel terikat dengan taraf signifikan sebesar 0,05. Kriteria keputusannya adalah sebagai berikut.
1) Apabila t hitung > t tabel atau t statistik < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima.
2) Apabila t hitung < t tabel atau t statistik > 0,05, maka Ho diterima dan Ha ditolak.41
b. Uji simultan (uji f)
Uji simultan (uji f) digunakan untuk mengetahui kualitas keberartian regresi antara tiap–tiap variabel bebas/independen secara
41 Anwar Sanusi, Metodologi Penelitian Bisnis, (Jakarta: Salemba Empat, 2011), hlm. 131 - 132
bersama–sama terdapat berpengaruh atau tidak terhadap variabel terikat/dependen.42 Kriteria pengujian adalah sebagai berikut:
1) Jika nilai signifikan > 0,05, atau F hitung > F tabel maka Ha diterima.
2) Jika nilai signifikan < 0,05, atau F hitung < F tabel maka Ho ditolak..
c. Uji koefisien determinasi (uji R2)
Uji koefisien determinasiatau R2 merupakan suatu uji yang digunakan untuk ukuran yang penting dalam regresi, karena dapat menginformasikan baik atau tidaknya model regresi yang terestimasi.
Suatu persamaan regresi yang baik ditentukan oleh R2nya yang mempunyai nilai antara nol dan satu.43
42 Laurencia Veronika Santosa, “Analisis Pengaruh Price, Overall Satisfaction, Dan Trust Terhadap Intention To Return Pada Online Store Lazada”, Jurnal Agora, Vol 6. No 1, Juli 2018, hlm. 36
43 Imam Ghozali, Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS, (Semarang:
Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006), hlm. 87
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Gambaran umum lokasi penelitian a. Sejarah Kecamatan Wanasaba
Pada akhir abad ke-12 kepatihan Aria Banjar Getas runtuh, Raja Selaparang membangun suatu tempat musyawarah/bersaba-saba yang bernama Wanaseba, Wana artinya Hutan Seba yang berarti Musyawarah jadi Wanaseba dengan kebiasaan lidah berubah sebutan menjadi Wanasaba.
Kemudian pada akhir abad 13 Kerajaan Selaparang runtuh akibat serangan secara mendadak oleh pasukan Raja Karang Asem Bali.
dengan runtuhnya kerajaan selaparang memaksa keluarga kerajaan mengungsi dan berpindah ke berbagai Desa antara lain ada yang ke- Wanasaba dan ada yang ke-Masbagik dan lain-lain kemudian membentuk Raja - Raja kecil yang disebut Datu.
Pada awal abad ke 14 Putra-Putra dari Raden Wiradipati Tanjung salah satunya adalah Raden Prinuk hijrah dari selaparang ke pesanggerahan Wanasaba yang sudah barang tentu diikuti oleh kaula beliu yang setia. Kemudian pada tahun 1472 Putra dari Raden Prinuk bernama Raden Wira Sejanggi membentuk suatu pemerintahan pada waktu itu disebut dengan Datu dan dia menjadi Datu pertama dengan
gelar Raden Wiradipayas pertama, memerintah dari tahun 1472-1530 M (58 Th).
Setelah dia wafat pada tahun 1530, maka dia diganti oleh putranya yang bernama Raden Wiradipati Tuban sebagai datu yang ke dua memerintah selama 61 tahun sejak tahun 1531-1592 secara turun temurun. Pemerintahan pada masa itu terus berlangsung, setelah dia wafat diganti oleh Raden Wirasinggih selama 80 tahun sejak tahun 1593-1673 sebagai datu yang ke tiga. kemudian setelah itu dia diganti oleh Raden Wiradipayas Dua memerintah selama 82 Tahun sejak tahun 1674-1756 sebagai Datu yang ke empat.
Setalah wafatnya dia maka diganti oleh Raden Wiradipati yang masa pemerintahannya selama 66 tahun sejak tahun 1757-1823, dia merupakan datu yang ke-lima. Seetelah dia Wafat pada tahun 1823 kemudian diganti oleh Raden Nuna Wira Candra Satu merupakan datu yang ke-enam atau yang terahir memerintah selama 50 Tahun dari tahun 1824-1874 dan setelah wafatnya Datu tuan yang ke enam ini, kedatuan berubah menjadi Desa.
b. Letak geografis
Kecamatan Wanasaba merupakan salah satu bagian dari wilayah Kabupaten Lombok Timur yang dimana terbagi menjadi 14 Desa dengan luas setiap Desanya itu bervariasi dimana Desa terluas adalah Desa Bebidas seluas 12,41 km2 sebesar 22,20 % dari total luas Kecamatan Wanasaba sedangkan Desa terkecil yakni Desa Mamben
Baru yakni sebesar 0,31 km2 sebesar 0,55% dari luas Kecamatan Wanasaba secara keseluruhan. Luas Kecamatan Wanasaba sekitar 55,89 km2 yang terdiri dari lahan sawah sebesar 22,08 km2 bangunan dan pekarangan 6,13 km2, tegal/kebun 27,6 km2 dan lahan lainnya sebesar 0,02 km2.
Jarak dari pusat pemerintahan dengan seluruh Desa di Kecamatan Wanasaba tidak begitu jauh, desa yang paling jauh dari pusat pemerintahan adalah Desa Mamben Baru yang berjarak sekitar 7,5 km sedangkan yang terdekat dengan pusat kepemerintahan adalah Desa Wanasaba. Kecamatan Wanasaba berada pada 116,5672 derajat bujur timur dan 8,5672 lintang selatan yang berada pada ketinggian 111 – 453 meter dari permukaan laut.
Kecamatan Wanasaba memiliki batas–batas wilayah sebagai berikut
1. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Sembalun 2. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Aikmel
3. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Aikmel dan Kecamatan Labuhan Hajji
4. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Pringgabaya dan Kecamatan Suela.