PENGARUH TINGKAT SUKU BUNGA, PENDAPATAN, TINGKAT INFLSI, TINGKAT INVESTASI, KONSUMSI TERHADAP TABUNGAN MASYARAKAT KABUPATEN PESISISR SELATAN TAHUN 2005-2015
Fitriana, Ansofino, Yolamalinda
Program Studi Pendidikan Ekonomi STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]
ABSTRACT
This study aims to determine 1) the influence of the interest rate on the Community Cycle.2) the influence of income on the savings of society 3) the influence of inflation on the savings of society. 4) the influence of investment level on the saving of society 5) the influence of consumption to the saving society. The type of research used in this research is descriptive research. The type of data used is secondary data obtained from the Central Bureau of Statistics (BPS) Pesisir Selatan and West Sumatra with the amount of data for 11 years from 2005-2015. Method of analysis used is Autoregression-Moving Average (ARIMA) The results showed that: First interest rate influences 1 period before and next 4 periods to the savings of society and the sector itself Second Revenue affects 1 period before and 7 period next to Saving Masyrakat and sector itself.
The third inflation affects 1 period before and 5 period next to the savings of society and sector itself The four levels of investment influence 1 period before and 7 period next to the Savings and the sectors of the society itself Fifth Consumption influences 1 period before and 7 periods later on saving society and sector itself.
Keywords: Interest Rate, Income, Inflation, Investment, Consumption, Savings PENDAHULUAN
Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produk suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Suatu negara mengalami pertumbuahan ekonomi apabila terjadi peningkatan GNP rill di negara tersebut. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi. Membangun ekonomi
merupakan suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita. Dengan menghitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundemental dalam struktur ekonomi suatu negara dan pemeretaan pendapatan bagi penduduk suatu negara.
Menurut Hasibuan (2002:82) tabungan masyarakat pada dasarnya
adalah bagian dari pendapatan yang diterima masyarakat yang tidak digunakan untuk konsumsi atau dengan kata lain tabungan masyarakat merupakan selisih antara pendapatan masyarakat dikurangi dengan konsumsi masyarakat.
Masyarakat menggunakan bagian dari pendapatan yang tidak dikonsumsi tersebut untuk beberapa tujuan, yaitu: disimpan saja tanpa digunakan, disimpan atau ditabung pada lembaga-lembaga keuangan, dipinjamkan kepada anggota masyarakat lainnya, serta digunakan untuk penanaman modal produktif (Sukirno, 2000:56).
Menurut Kamsir (2010:25) bank sebagai perusahaan jasa dalam struktur pemodalan pada dasarnya adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk- bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan teraf hidup masyarakat.
Tabungan dunia usaha merupakan bagian dari laba yang di investasikan kembali sehingga tidak
dibagikan kepada pemegang saham.
Tabungan dari dunia usaha dan tabungan rumah tangga perorangan disebut tabungan masyarakat. Pada umumnya tingkat tabungan masyarakat ditentukan oleh kemampuan dan kemauan masyarakat untuk menabung.
Menurut Sukirno (2008:273) lembaga keuangan atau instansi keuangan adalah semua perusahaan yang kegiatan utamanya adalah meminjamkan uang yang disimpankan kepada mereka, mendorongkan masyarakat untuk membuat tabungan mereka. Sebagai balas jasa para menabung akan diberi pendapatan berupa bunga keatas tabungan yang mereka buat.
Berdasarkan uraian di atas, untuk memacu pertumbuhan ekonomi diperlukan pemanfaatan dana pembiayaan pembangunan secara efektif dan efisien serta terus menggali sumber-sumber pembiayaan pembangunan yang potensial. Diantaranya mengusahakan dana dari dalam negeri melalui peningkatan tabungan masyarakat dan pemerintah. Dalam perekonomian suatu negara,
tabungan dan investasi merupakan indikator yang dapat menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi.
Seperti kita ketahui BPR adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberi jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Usaha BPR mengimpun dan dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito berjangka, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang bersamaan dengan itu. Sedangkan
Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensial atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Usaha bank umum salah satunya menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, tabungan deposito, dan simpanan berjangka. Dari defenisi atau arti dari UU No. 10 Tahun 1998 Pasal 1 ini maka dapat dibedakan kedua jenis bank ini dalam kegiatannya.
Tabel 1. Fenomena Data Tabungan Masyarakat Di BPR PerKabupaten Di Propinsi
Sumatera Barat pada Tahun 2010-2014 N0 Jenis simpanan 2010
(Juta Rp)
2011 (Juta Rp)
2012 (Juta Rp)
2013 (Juta Rp)
2014 (Juta Rp)
1 Kab. Agam 111.880 128.210 383.033 435.188 478.506 2 Kab. Pasaman 216.708 448.827 588.019 511.925 581.021 3 Kab. Limapuluh Koto 70.148 83.635 158.379 176.648 196.869 4 Kab. Solok Selatan 326.828 374.373 185.593 175.298 188.651 5 Kab. Padang Pariaman 34.917 141.085 473.762 554.022 542.889 6 Kab. Pesisir Selatan 447.858 364.197 393.945 433.774 504.227 7 Kab. Tanah Datar 490.332 570.051 463.336 516.762 591.555 8 Kab. Sijunjung 510.625 500.105 505.217 460.452 513.677 9 Kab. Kepulauan Mentawai 104.201 62.326 61.092 114.656 90.417 10 Kab. Pasaman Barat 90.048 299.271 200.286 333.052 421993 11 Kab. Dharmasraya 153.578 257.160 287.184 366.212 399.539
12 Kab. Solok 9.520 10.920 10.254 80.151 73.637
Sumber: Bank Indonesia (Statistik Ekonomi Keuangan Daerah) 2014
Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa, dari 12 Kabupaten yang ada di Propinsi Sumatera Barat, dimana tabungan masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan mengalami fluktuasi yang draktis secara terus menerus dari tahun 2010-2014. Sedangkan 11 Kabupaten lainnya tabungan masyarakat berfluktuasi dari tahun 2010-2014.
Berdasarkan tabel di atas sehingga saya tertarik mengambil objek penelitian simpanan masyarakat di Kabupaten Pesisir Selatan untuk melihat sejauh mana mengalami peningkatan simpanan masyarakat pada BPR tersebut.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi serta mendorong tingkat tabungan masyarakat. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah tabungan masyarakat, salah satu faktor penting adalah tingkat pendapatan per kapita masyarakat.
Studi Chenery dan Sirquin mendapati bahwa makin tinggi pendapatan perkapita makin besar tingkat tabungan yang dapat dilakukan masyarakat Sukirno, (2005:89).
Salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi tabungan selanjutnya adalah tingkat suku bunga.
Selain itu Sukirno (2002:105) menyebutkan bahwa ada enam faktor yang mempengaruhi tabungan rumah tangga yaitu kekayaan yang terkumpul, tingkat bunga, sikap berhemat, keadaan perekonomian, distribusi pendapatan, dan tersedia tidaknya dana pensiun yang mencukupi. Dan kemauan untuk menabung juga ditentukan oleh faktor-faktor budaya, sosial, ekonomi dan politik. Maka dari faktor-faktor ini lah yang harus diperhatikan dalam mengkaji permasalahan tabungan masyarakat di suatu negara ataupun daerah
Kemampuan masyarakat menabung ditentukan oleh tingkat pendapatan masyarakat. Menurut Sukirno (2006:47) pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diterima oleh penduduk atas prestasi kerjanya selama satu periode tertentu, baik harian, mingguan, bulanan, ataupun tahunan. Pendapatan merupakan suatu yang bisa mempengaruhi besarnya tabungan rumah tangga, ini terbukti hipotesis pendapatan absolut dari Keynes, bahwa tingginya tingkat
tabungan masyarakat tergantung kepada besarnya pendapatan yang siap dibelanjakan (disposible income). Hasrat menabung dari pendapatan yang siap dibelanjakan tersebut akan meningkat sesuai dengan tingkat pendapatan. Oleh karena itu, penduduk Pesisir Selatan dengan meningkatnya pendapatan masyarakat disana akan berpengaruh positif untuk menabung sebagian hasil dari pendapatan perminggu, perbulan, maupun pertahunnya.
Inflasi memiliki peran terhadap jumlah dana yang disimpan masyarakat di bank, termasuk pada bank-bank Prekreditan Rakyat.
Inflasi adalah peristiwa yang cenderung mendorong naiknya tingkat harga. Dalam proses kegiatan ekonomi, investasi merupakan salah satu komponen yang sangat diperlukan. Hal ini karena investasi berkaitan erat dengan kegiatan menanamkan uang dengan harapan mendapatkan keuntungan atau peningkatan kapasitas sistem produksi sehingga tercipta peningkatan nilai tambah (value added) pada masa yang akan datang.
Lembaga keuangan atau instansi
keuangan adalah semua perusahaan yang kegiatan utama perusahaan yang kegiatan utamanya adalah meminjamkan uang yang disimpan kepada mereka. Mendorong masyarakat untuk membuat tabungan mereka Sukirno (2008:273)
Tingkat inflasi yang sangat mengawatirkan akan memberikan dampak kepada penanaman modal dalam negri terjadi inflasi atau kenaikan haraga barang yang sangat terus menerus sehingga akan mengakibatkan terjadinya perubahan kemampuan masyarakat dalam memberi barang-barang produksi dan cenderung untuk menabung. Apabila inflasi semakin meningkat masyarakat akan menambah permintaan terhadap barang konsumsi, jadi akan menyebabkan tabungan menurun.
Pendapatan di Kabupaten Pesisir Selatan lebih tinggi dari pada kabupaten lainnya, sehingga mereka dapat menyisihkan sebagian pendapatannya untuk menabung di bank dan dana yang tehimpun di bank tersebut yang akan digunakan nantinya oleh pera pengusaha untuk mengembangkan suatu usaha dalam
meningkatkan pertumbuhan ekonomi di suatu daerah
PDRB perkapita Atas Dasar Harga Konstan mengalimi fluktuasi.
Pada tahun 2005-2013 mengalami peningkatan secara terus menerus.
yaitu pada tahun 2013 sebesar Rp.2.487.507,62 juta rupiah dengan laju pertumbuhan paling tinggi sebesar 5,87% menjadi sebesar Rp2.108.066,19 juta rupiah dengan laju pertumbuhan yang paling rendah -15,25% yaitu pada tahun 2014. Jadi, semakin besar pendapatan yang diterima oleh masyarakat maka semakin tinggi minat masyarakat untuk menabung uangnya di bank.
Dengan lebih tingginya PDRB Perkapita tahun 2015 ini sangat mencerminkan bahwa secara rata- rata tingkat kesejahteraan penduduk Pesisir Selatan semakin baik.
Diharapkan tingkat kesejahteraan ini dapat terdistribusikan secara adil, sehingga tidak ada lagi penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan.
Perkembangan tingkat inflasi dari tahun ketahun mengalami fluktuasi secara draktis pada tahun 2005-2015. Pada tahun 2005 tingkat
inflasi sebesar 8,50% naik pada tahun 2006 sebesar 12,25%. Tingkat inflasi yang paling tertinggi terletak pada tahun 2006 sebesar 12,25 %.
Namun, inflasi yang paling terendah terletak pada tahun 2012 sebesar 5,75
%. Dengan turun naik nya tingkat inflasi maka akan berpengaruh pula terhadap tabungan masyarakat tersebut.
Tingkat investasi mengalami fluktuasi setiap tahun 2005-2015.
Investasi pada tahun 2005-2008 mengalami kenaikan yaitu investasi sebesar Rp.30.907.000 Juta rupiah terletak pada tahun 2005 menjadi sebesar Rp.724.661.000 Juta rupiah terletak pada tahun 2008. Namun, investasi yang paling tertinggi terletak pada tahun 2011 sebesar Rp.759.273.000, dan investasi yang paling terendah terletak pada tahun 2005 sebesar Rp.30.907.000 Juta rupiah.
Perkembangan konsumsi mulai dari tahun 2005 hingga tahun 2015 mengalami fluktuasi. Jumlah konsumsi rumah tangga tertinggi pada tahun 2010 dengan jumlah nilai Rp. 691.037.999 Juta rupiah dengan laju pertumbuhan 34.91%, dan
konsumsi rumah tangga yang terendah terletak pada tahun 2005 dengan jumlah Rp. 105.728.259 dengan laju pertumbuhan -83.22%
Juta rupiah.
Perkembangan posisi tabungan masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan fluktuasi mulai tahun 2005- 2015. Tabungan masyarakat yang tertinggi sebesar Rp. 559.563 pada tahun 2015 Juta rupiah. Tingkat simpanan masyarakat yang terendah terletak pada tahun 2005 sebesar Rp.
110.408 Juta rupiah.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis tertarik untuk membahas skripsi dengan judul “Pengaruh Tingkat Suku
Bunga, Pendapatan, Tingkat Inflasi, Tingkat Investasi, dan konsumsi Terhadap Tabungan Masyarakat Pada BPR Kabupaten Pesisir Selatan
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pesisir Selatan
dengan jumlah data sebanyak 11 Tahun dari 2005-2015.
Adapun variabel dalam penelitian ini adalah variabel pertumbuhan ekonomi sebagai variabel terikat (Y), Tabungan Masyarakat (X1), Tingkat Suku Bunga (X2), Pendapatan (X3), Inflasi (X4), Investasi (X5) Konsumsi.
Teknik analisis data yang digunakan adalah Autoregression- Moving Average (ARMA).
HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Variabel Tabungan Masyarakat (Y)
Perkembangan tabungan masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan mengalami kenaikan secara terus menerus mulai pada tahun 2005-2015. Pada tahun 2007 laju pertumbuhan tertinggi sebesar 41.20%, pada tahun 2008 laju pertumbuhan mengalami penurunan sebesar 11.54% , pada tahun 2010 laju pertumbuhan mengalami peningkatan sebesar 92.62%. Dari laju pertumbuhan diatas hasil rata- ratanya sebesar 20.61%. Sehingga dapat dapat dicari nilai standar deviasi sebesar 29.95%.
Deskripsi Variabel Tingkat Suku Bunga (X1)
tingkat suku bunga yang dikeluarkan Bank Indonesia mengalami fluktuasi setiap tahun yaitu pada tahun 2005-2015. Laju pertumbuhan yang paling tertinggi yaitu pada tahun 2013 sebesar 17,39%. sehingga rata-rata yang diperoleh dari laju pertumbuhan tingkat suku bunga tersebut sebesar 0,57%. Dilihat dari standar deviasi sebesar 13,70%.
Deskripsi Variabel Pendapatan (X2)
PDRB perkapita Atas Dasar Harga Konstan mengalami kenaikan secara terus menerus setiap tahun yaitu mulai pada tahun 2005-2015.
Dari data diatas laju pertumbuhan yang paling tertinggi terletak pada tahun 2015 yaitu sebesar 18,00%.
Dan laju pertumbuhan yang paling terendah terletak pada tahun 2014 sebesar -15,25%. Sehingga diperoleh rata-rata dari PDRB diatas Rp.
2.073.021,3 dan laju pertumbuhan sebesar 4,64%. Dan standar deviasi sebesar 8,03%..
Deskripsi Variabel Inflasi (X3) Perkembangan tingkat inflas dari tahun ketahun mengalami fluktuasi.
Laju pertumbuhan yang tertinggi terletak pada tahun 2006 yaitu sebesar 44,12%. Dan laju pertumbuhan yang paling terendah terletak pada tahun 2007 yaitu sebesar -32,65%. Dan diperoleh median dari data diatas yaitu sebesar 1,92%. Sehingga standar deviasi diperoleh sebesar 21,65%.
Deskripsi Variabel Investasi (X4) Tingkat investasi mengalami fluktuasi setiap tahun 2005-2015.
Pada tahun 2007 laju pertumbuhan tertinggi sebesar 87,87%. Dan laju pertumbuhan yang paling terendah terletak pada tahun 2006 -21,15%.
Sehingga standar deviasi sebesar 35,05%.
Deskripsi Variabel Konsumsi (X5) perkembangan konsumsi dari tahun 2005-2015 mengalami peningkatan secara terus menerus.
Pada tahun 2008 laju pertumbuhan teringgi sebesar 147,57%. Dan laju pertumbuhan terendah terletak pada
tahun 2013 sebesar -83,22%.
Sehingga diperoleh median sebesar 12,83%. Maka standar deviasi sebesar 61.30%.
Uji Stationer
Berdasarkan hasil analisis data untuk uji stationer diperoleh bahwa nilai probability untuk semua variabel nilainya lebih kecil dari tingkat signifikan yang digunakan (α
= 0,05) dan nilai DF > test critical values 5%. Jadi dapat dikatakan bahwa data hasil penelitian ini sudah stationer, sehingga data hasil penelitian dapat dilanjutkan dengan
menggunakan analisis
Autoregression-Moving Average (ARMA).
Uji Autoregression (AR) dan Moving Average (MA)
1. Hasil Uji pada Variabel Y (Tabungan Masyarakat) Berdasarkan hasil analisis data terlihat bahwa nilai koefisien AR(1) - 0,330347 dengan nilai probability ≤ 0,05, hal ini menunjukkan bahwa variabel Tabungan Masyarakat (Y) dipengaruhi oleh 1 periode
sebelumnya terhadap tabungan masyarakat itu sendiri, dan nilai koefisien MA (4) -0,965011 dengan nilai probability ≤ 0,05, hal ini menunjukkan Tabungan masyarakat berpengaruh pada 4 periode selanjutnya.
2. Hasil Uji pada Variabel X1
(Tingkat Suku Bunga)
Berdasarkan hasil analisis data terlihat bahwa nilai koefisien AR(1) - 1,284953 dengan nilai probability <
0,05, hal ini menunjukkan bahwa Tingkat Suku Bunga (X1) dipengaruhi oleh 1 periode sebelumnya terhadap sektor itu sendiri, dan nilai koefisien MA (7) - 0,982523 dengan nilai probability <
0,05,hal ini menunjukkan tingkat suku bunga berpengaruh 7 periode selanjutnya.
3. Hasil Uji pada Variabel X2
(Pendapatan)
Berdasarkan hasil analisis data terlihat bahwa nilai koefisienAR(1) - 1,2849 dengan nilai probability <
0,05, hal ini menunjukkan bahwa Pendapatan (X1) dipengaruhi oleh 1 periode sebelumnya terhadap sektor
itu sendiri, dan nilai koefisien MA (7) -0,9825 dengan nilai probability
< 0,05, hal ini menunjukkan pendapatan berpengaruh 7 periode selanjutnya
4. Hasil Uji pada Variabel X3
(Inflasi)
Berdasarkan hasil analisis data terlihat bahwa nilai koefisien AR(2) 0,6279 dengan nilai probability <
0,05, hal ini menunjukkan bahwa Tingkat Inflasi (X3) dipengaruhi oleh 1 periode sebelumnya terhadap Tingkat inflasi itu sendiri, dan nilai koefisien MA (5) -6,2473 dengan nilai probability < 0,05, hal ini menunjukkan bahwa tingkat inflasi berpengaruh pada 5 periode selanjutnya
5. Hasil Uji pada Variabel X4
(Ivestasi)
Berdasarkan hasil analisis data terlihat bahwanilai koefisien AR(1) - 0,6879 dengan nilai probability <
0,05, hal ini menunjukkan bahwa Tingkat Investasi (X4) dipengaruhi oleh 1 periode sebelumnya terhadap Investasi itu sendiri, dan nilai koefisien MA(7) 0,9826 dengan nilai
probability < 0,05, hal ini menunjukkan bahwa Investasi berpengaruh pada 7 periode selanjutnya
6. Hasil Uji pada Variabel X5
(Konsumsi)
Berdasarkan hasil analisis data terlihat bahwa nilai koefisien AR(1) - 0,160827 dengan nilai probability <
0,05, hal ini menunjukkan bahwa Konsumsi (X5) dipengaruhi oleh 1 periode sebelumnya terhadap Konsumsi itu sendiri, dan nilai koefisien MA (7) 0,982572 dengan nilai probability < 0,05, hal ini menunjukkan bahwa konsumsi berpengaruh pada 7 periode selanjutnya
1. Pengaruh Tingkat Suku Bunga (X1) Terhadap Tabungan Masyarakat (Y)
Berdasarkan hasil uji Autoregressive-Moving Average (ARMA) antara X1 (Tingkat Suku Bunga) terhadap Y (Tabungan Masyarakat) yang diuji menggunakan Eviews 6. Pada tabel terlihat H0 ditolak dan Ha diterima karena nilai koefisien sebesar -
0,215003 dan -0,984699 dengan nilai probability < 0,05 pada variabel tingkat suku bunga, dan nilai tstatistic sebesar 5,243961 dan -124,9377 >
ttabel sebesar 2,0150, yang
menunjukkan tingkat suku bunga terhadap tabungan masyarakat dan sektor itu sendiri berpengaruh 1 Tahun sebelumnya. Dalam 1 tahun sebelumnya pengaruh tingkat suku bunga terhadap tabungan masyarakat dan sektor itu sendiri dapat dirasakan. Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 6 tahun selanjutnya. Jadi model yang tepat dalam mencari pengaruh variabel tingkat suku bunga terhadap tabungan masyarakat sektor itu sendiri adalah model Autoregressive- Moving Average (ARMA).
Menurut Sukirno (2008:73) suku bunga menentukan besarnya tabungan maupun investasi yang akan dilakukan dalam perekonomian.
Setiap perubahan dalam suku bunga akan menyebabkan perubahan perlu dalam tabungan rumah tangga dan permintaan dana untuk investasi perusahaan. Perubahan dalam suku bunga akan terus-menerus berlangsung sebelum kesamaan di
antara jumlah tabungan dengan jumlah permintaan dana investasi tercapai. Suku bunga merupakan salah satu variabel dalam perekonomian yang senantiasa diamati secara cermat karena dampaknya yang luas.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Dini Kurniati (2015)menguji bagaimana Pengaruh inflasi dan tingkat suku bunga terhadap simpanan Deposito Mudharabah (pada beberapa Bank Umum Syariah Periode 2009-2013..
2. Pengaruh Pendapatan (X2) Terhadap Kesejahteraan Masyarakat (Y)
Berdasarkan hasil uji Autoregressive-Moving Average (ARMA) antara X2 (pendapatan) terhadap Y (Tabungan Masyarakat) yang diuji menggunakan Eviews 6.
Pada tabel terlihat bahwa H0 ditolak karena nilai koefisien sebesar - 1,2849 dan -0,9825 dengan nilai probability < 0,05 pada variabel pendapatan, dan nilai t-statistic sebesar -12,0664, dan -58,4408<
ttabel sebesar 2,01505 yang
menunjukkan pendapatan terhadap tabungan masyarakat dan sektor itu
sendiri berpengaruh 1 periode sebelumnya yang mana dalam satu periode terdiri 1 tahun. Jadi dalam 1 tahun sebelumnya pengaruh pendapatan terhadap tabungan masyarakat dan sektor itu sendiri dapat dirasakan.Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 7 periode atau 7 tahun selanjutnya. Jadi model yang tepat dalam mencari pengaruh variabel pendpatan terhadap tabungan dan sektor itu sendiri adalah model Autoregressive-Moving Average(ARMA).
Menurut Sukirno (2008:47) pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diterima oleh penduduk atas pretasi kerjanya satu periode tertentu, baik harian, mingguan, bulanan ataupun tahunan.
Menurut Sukirno (2008:72) dalam perekonomian yang lebih maju penerima-penerima pendapatan akan menyisihkan sebagian pendapatan mereka untuk ditabung. Tabungan ini akan dipinjamkan kepada para pengusaha dan mereka akan menggunakan tabungan ini untuk investasi yaitu melakukan pembelian barang modal. Sebagai balas jasa kepada kesediaan penerima
pendapatan untuk menabung sebagian dari pendapatan mereka, pengusaha akan membayar bunga keatas seluruh tabungan yang disediakan oleh sektor rumah tangga.
Hasil penelitian ini sejalan dengan Asrad Ragandhi (2009) Pengaruh Pendapatan Nasional, Infalsi, Dan Suku Bunga Deposito Terhadap Konsumsi Masyarakat menunjukkan bahwa Hasil penelitian menunjukakan bahawa pendapatan nasional, suku bunga deposito dan signifikan terhadap konsumsi masyarakat dalam jangka waktu panjang, sementara dalam jangka pendek pendapatan nasional tidak signifikan terhadap konsumsi masayarakat.
3. Pengaruh Tingkat Inflasi (X3) Terhadap Tabungan Masyarakat (Y)
Berdasarkan hasil uji Autoregressive Moving Average (ARMA) antara X3 (Tingkat Inflasi) terhadap Y (Tabungan Masyarakat) yang diuji menggunakan Eviews 6.
Pada tabel terlihat bahwa H0 ditolak karena nilai koefisien sebesar 0,6279 dan -6,2473 dengan nilai probability
< 0,05 pada variabel tingkat inflasi,
dan nilai t-statistic sebesar -29,0556 dan -3,0586< ttabel sebesar 2,01505 yang menunjukkan tingkat inflasi terhadap tabungan masyarakat dan itu sendiri berpengaruh 1 periode sebelumnya yang mana dalam satu terdii satu tahun. Jadi dalam 1 tahun sebelumnya pengaruh tingkat inflasi terhadap tabungan masyarakat dan inflasi itu sendiri dapat dirasakan.Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 5 tahun selanjutnya. Jadi model yang tepat dalam mencari pengaruh variabel tingkat inflasi terhadap tabungan masyrakat dan inflasi itu sendiri adalah model Autoregressive- MovingAverage (ARMA).
Menurut Sukirno (2005:100) akibat dari inflasi ialah kemerosotan pendapatan yang diterima masyarakat. Pendapatan pekerja- pekerja tidak selalu mengalami perubaShan untuk menyesuaikan dengan keadaan inflasi. Ini merupakan salah satu alasan penting menyebabkan masalah inflasi perlu dihindari. Disamping itu inflasi perlu dihindari oleh karena ia menimbulkan berbagai buruk ke atas kegiatan dalam perekonomian yang
pada akhirnya menimbulkan ketidakstabilan. Inflasi yang serius yaitu yang kelanjutannya sudah tidak dapat dikendalikan, akan mengurangi tabungan, mengurangi gairah perusahaan untuk melakukan investasi yang produktif dan dapat menimbulkan kemerosotan nilai mata uang defisit dalam neraca pembayaran.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ade Kamaludin (2008)meneliti bagaimana Pengaruh Prodak Domestik Bruto (PDB), Inflasi Dan Tingkat Suku Bunga Terhadap Tabungan Di Indonesia Selama Periode 1985-2007. Dari hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa Prodak Domestik Bruto, Inflasi, dan Tingkat Suku Bunga berpengaruh terhadap tabungan di Indonesia.
4. Pengaruh Tingkat Investasi (X4) Terhadap Tabungan Masyarakat (Y)
Berdasarkan menunjukkan hasil uji Autoregressive-Moving Average (ARMA) antara X4(Tingkat Investasi) terhadap Y (Tabungan Masyarakat) yang diuji menggunakan Eviews 6. Pada tabel
terlihat bahwa H0ditolak karena nilai koefisien -0,6879 dan 0,9826 dengan nilai probability < 0,05 pada variabel investasi, dan nilai t-statistic sebesar -6,0667 dan -77760< ttabel sebesar 2,01505 yang menunjukkan investasi terhadap tabungan masyarakat dan tabungan itu sendiri berpengaruh 1 periode sebelumnya yang mana dalam satu periode adalah 1 tahun.
Jadi dalam 1 tahun sebelumnya pengaruh investasi terhadap tabungan masyarakat dan investasi itu sendiri dapat dirasakan. Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 7 periode atau 7 tahun selanjutnya. Jadi model yang tepat dalam mencari pengaruh variabel investasi terhadap tabungan masyarakat dan investasi itu sendiri adalah model Autoregressive-MovingAverage (ARMA).
Menurut Mankiw (2006:12) investasi adalah pembelian barang yang nantinya akan digunakan untuk memproduksi lebih banyak barang dan jasa. Investasi adalah jumlah dari pembelian peralatan modal persediaan dan tabungan atau struktur. Investasi bangunan mencakup pengeluaran untuk
mendapatkan tempat tinggal baru merupakan sutu bentuk pembelian rumah tangga yang dikategorikan sebagai investasi dan bukan konsumsi. Jadi investasi dalam kegiatan ekonomi mempunyai arti yang sangat luas. Investasi selalu dikaitkan dengan kegiatan menambahkan uang dalam peningkatan kualitas sistem pada masa yang akan datang.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Deprianto (2013) Pengaruh Konsumsi Dan Investasi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Kota Padang. Dengan hasil Pertumbuhan ekonomi di kota padang dipengarugi oleh konsumsi masyarakat di kota padang.
5. Pengaruh Konsumsi (X5) Terhadap Tabungan Masyarakat (Y)
Berdasarkan hasil uji Autoregressive-Moving Average (ARMA) antara X5 (Konsumsi) terhadap Y (Tabungan Masyarakat) yang diuji menggunakan Eviews 6.
Pada tabel terlihat bahwa H0 ditolak karena nilai koefisien sebesae -
0,1608 dan 0,9825 dengan nilai probability < 0,05 pada variabel konsumsi, dan nilai t-statistic sebesar -2,8038 dan -53,8869< ttabel sebesar 2,01505 yang menunjukkan konsumsi terhadap tabungan masyarakat dan konsumsi itu sendiri berpengaruh 1 periode sebelumnya yang mana dalam satu periode terdiri satu tahun. Jadi dalam 1 tahun sebelumnya pengaruh konsumsi terhadap tabungan masyarakat dan konsumsi itu sendiri dapat dirasakan.
Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 7 periode atau 7 tahun selanjutnya. Jadi model yang tepat dalam mencari pengaruh variabel konsumsi terhadap tabungan dan konsumsi itu sendiri adalah model Autoregressive-MovingAverage (ARMA).
Menurut Todaro (2002:213)
“secara umum konsumsi diartikan
sebagai penggunaan barang-barang dan jasa yang secara langsung akan memenuhi kebutuhan manusia”.
Konsumsi sebagai pembelanjaan yang dilakukan oleh rumah tangga atas barang-barang dan jasa-jasa untuk konsumen akhir atau dibutuhkan oleh seseorang atau
masyarakat. Dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dari orang yang melakukan pekerjaan tersebut.
Untuk dapat mengkonsumsi, harus mempunyai pendapatan, besar kecilnya pendaptan seseorang sangat menentukan tingkat konsusmsinya.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Deprianto (2013) dengan judul Pengaruh Konsumsi Dan Investasi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Kota Padang dan hasil penelitian Pertumbuhan ekonomi di kota padang dipengarugi oleh konsumsi masyarakat di kota padang.
KESIMPULAN
Berdasarkan pertanyaan penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, bahwa model yang tepat dalam penelitian ini adalah
model Autoregressive-
MovingAverage (ARMA) dengan kesimpulan sebagai berikut:
1. Tingkat Suku Bunga berpengaruh terhadap Tabungan Masyarakat yang ditunjukkan oleh nilai koefisien sebesar 0,5875 dan -2,6040 dengan nilai probability < 0,05 pada variabel
tingkat suku bunga, dan nilai tstatistic sebesar 4,5900 dan - 2,9378 > ttabel sebesar 2,0150, yang menunjukkan tingkat suku bunga terhadap tabungan masyarakat dan sektor itu sendiri berpengaruh 1 Tahun sebelumnya. Dalam 1 tahun sebelumnya pengaruh tingkat suku bunga terhadap tabungan masyarakat dan sektor itu sendiri dapat dirasakan. Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 4 tahun selanjutnya.
2. Pendapatan berpengaruh terhadap Tabungan Masyarakat yang ditunjukkan oleh nilai koefisien sebesar -1,2849 dan - 0,9825 dengan nilai probability
< 0,05 pada variabel pendapatan, dan nilai t-statistic sebesar - 12,0664, dan -58,4408 < ttabel
sebesar 2,01505 yang menunjukkan pendapatan terhadap tabungan masyarakat dan sektor itu sendiri berpengaruh 1 periode sebelumnya yang mana dalam satu periode terdiri 1 tahun. Jadi dalam 1 tahun sebelumnya pengaruh pendapatan terhadap
tabungan masyarakat dan sektor itu sendiri dapat dirasakan. Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 7 periode atau 7 tahun selanjutnya.
3. Tingkat Inflasi berpengaruh terhadap Tabungan Masyarakat yang ditunjukkan oleh nilai koefisien sebesar 0,6279 dan - 6,2473 dengan nilai probability
< 0,05 pada variabel tingkat inflasi, dan nilai t-statistic sebesar -29,0556 dan -3,0586 <
ttabel sebesar 2,01505 yang
menunjukkan tingkat inflasi terhadap tabungan masyarakat dan itu sendiri berpengaruh 1 periode sebelumnya yang mana dalam satu terdii satu tahun. Jadi dalam 1 tahun sebelumnya pengaruh tingkat inflasi terhadap tabungan masyarakat dan inflasi itu sendiri dapat dirasakan. Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 5 tahun selanjutnya.
4. Tingkat Investasi berpengaruh terhadap Tabungan Masyarakat yang ditunjukkan oleh nilai koefisien sebesar -0,6879 dan 0,9826 dengan nilai probability
< 0,05 pada variabel investasi,
dan nilai t-statistic sebesar - 6,0667 dan -77760 < ttabel sebesar 2,01505 yang menunjukkan investasi terhadap tabungan masyarakat dan tabungan itu sendiri berpengaruh 1 periode sebelumnya yang mana dalam satu periode adalah 1 tahun. Jadi dalam 1 tahun sebelumnya pengaruh investasi terhadap tabungan masyarakat dan investasi itu sendiri dapat dirasakan. Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 7 periode atau 7 tahun selanjutnya.
5. Konsumsi berpengaruh terhadap Tabungan Masyarakat yang ditunjukkan oleh nilai koefisien sebesar -0,1608 dan 0,9825 dengan nilai probability < 0,05 pada variabel konsumsi, dan nilai t-statistic sebesar -2,8038 dan -53,8869 < ttabel sebesar 2,01505 yang menunjukkan konsumsi terhadap tabungan masyarakat dan konsumsi itu sendiri berpengaruh 1 periode sebelumnya yang mana dalam satu periode terdiri satu tahun.
Jadi dalam 1 tahun sebelumnya pengaruh konsumsi terhadap
tabungan masyarakat dan konsumsi itu sendiri dapat dirasakan. Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 7 periode atau 7 tahun selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ade, K. (2008). Pengaruh PDB, Suku Bunga Dan Inflasi Terhadap Tabungan Di Indonesia Periode Tahun 1985- 2007. Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi.
Asrad, R. (2013). Pengaruh Pendapatan Nasional, Inflasi Dan Suku Bunga Deposito
Terhadap Konsumsi
Masyarakat. Jurnal studi
Ekonomi Indonesia.
http://eprints.uns.ac.id/id/eprints /1803.
Deprianto. (2011). Pengaruh konsumsi dan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi di kota padang, 1–17.
Dini, K. (2015). Pengaruh Inflasi Dan Tingkat Suku Bunga Terhadap Simpanan Deposito Mudharabah (Pada Beberapa Bank Umu Syariah Periode 2009-2013. Skripsi Akuntansi.
Bandung, Universitas Islam Bandung.
http://karyailmiah.unisba.ac.id/i ndex.php/akuntansi/article/view /570
Efrida, Ningsih, DKK. (2013).
Analisis Pertumbuhan Ekonomi, Konsumsi, Dan Tabungan Di Sumatera Barat. vol.1 No.2 (1- 22). Jurnal Kajian Ekonomi.
http://ejournal.unp.ac.id/index.p hp/ekonomi/article/view/620.
Hasibuan, M. S. (2002). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta:
Bumi Aksara.
Kamsir. (2010). Bank Dan Keuangan Lainnya. Jakarta: Rajawali Pers.
Lovelly, Dwinda Dahen. (2016).
Analisis Pengaruh Pendapatan Nelayan Pemilik Di Kecamatan Koto Tangah Kota Padang.
Journal of Economica and Economic Education, Jurusan Pendidikan Ekonomi STKIP PGRI Sumbar Vol.5 No.1 (47- 57) ISSN : 2302 - 1590, E-ISSN
: 2460 - 190X.
http://ejournal.stkip-pgri-
sumbar.ac.id/index.php/economi ca/article/view/891/688.
http://doi.org/10.22202/economi ca.2016.v5.i1.891.
Muthia, Roza Linda, Dkk. (2015).
Pengaruh Inflasi, Kurs, Dan Tingkat Suku Bunga Terhadap Non Perforrming Loan Pada PT.
Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Cabang Padang.
Journal of Economica and Economic Education, Jurusan Pendidikan Ekonomi STKIP PGRI Sumbar Vol.3 No.2 (137- 145) ISSN : 2302 - 1590 E-ISSN :2460-190X.http://ejournal.stkip- pgri-
sumbar.ac.id/index.php/economi ca/article/view/251/642.
http://doi.org/10.22202/eonomic a.2015.v3.i2.251
Sukirno, S. (2000). Makro Ekonomi Modern: Perkembangan Pemikiran Dari Klasik Hingga Keynesian Baru. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Sukirno, S. (2002). pengantar ekonomi makro. Edisi Kedua.
Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Sukirno, S. (2005). Makro Ekonomi Modern. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Sukirno, S. (2006). Mikro Ekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Sukirno, S. (2008). Makro Ekonomi Modern. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.