SKRIPSI
PENGEMBANGAN BUKU CERITA INSPIRATIF PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA LOKAL 3S
(SIPAKAINGE’, SIPAKALEBBI’, SIPAKATAU) UNTUK MAHASISWA JURUSAN TP FIP UNM
DARMAWAN 1741042022
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2021
▸ Baca selengkapnya: rpp menyusun cerita inspiratif kelas 9
(2)PENGEMBANGAN BUKU CERITA INSPIRATIF PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA LOKAL 3S
(SIPAKAINGE’, SIPAKALEBBI’, SIPAKATAU) UNTUK MAHASISWA JURUSAN TP FIP UNM
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Teknologi Pendidikan Strata Satu
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar
DARMAWAN 1741042022
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2021
▸ Baca selengkapnya: lkpd mengidentifikasi teks cerita inspiratif
(3)ii
iii
iv
Pengembangan Buku Cerita Inspiratif Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Lokal 3S (Sipakainge’, Sipakalebbi’, Sipakatau) Untuk Mahasiswa Jurusan TP FIP UNM
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Darmawan Nim : 1741042022
Jurusan : Teknologi Pendidikan Fakultas : Ilmu Pendidikan Judul :
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar merupakan hasil karya dan bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran sendiri. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa skripsi ini hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.
Makassar, 10 Agustus 2021 Yang Membuat Pernyataan,
Darmawan
v MOTTO Perubahan yang baik pasti butuh proses!
Menjadikan pengalaman untuk perubahan menjadi karakter yang lebih baik.
(Darmawan. 2021)
Dengan rendah hati, kuperuntukkan karya ini kepada:
Bapak dan Mamaku yang tercinta, Adikku tersayang (Danang Satrio, Shan Dzhaki, dan Muhammad Faisal), pengorbanan kalian memberikan semangat untuk terus berjuang menyelesaikan studi S-1 ini.
vi ABSTRAK
Darmawan. 2021. Pengembangan Buku Cerita Inspiratif Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Lokal 3S (Sipakainge’, Sipakalebbi’, Sipakatau) Untuk Mahasiswa Jurusan TP FIP UNM.
Dibimbing oleh Dr. Arnidah, S.Pd., M.Si dan Dr. Nurhikmah H, S.Pd., M.Si Masalah dalam penelitian ini adalah sudah diterapkannya program penguatan pendidikan karakter di UNM melalui Pusat Layanan MKU, MKK, PK LP2MP UNM, tetapi masih membutuhkan beberapa dukungan perangkat khususnya yang dapat digunakan pada kegiatan intrakurikuler mahasiswa yang berbasis lokal wisdom 3S. Tujuan Penelitian ini 1) untuk mengetahui nilai-nilai dalam pengembangan Buku Cerita Inspiratif Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Lokal 3S (Sipakainge’, Sipakalebbi’, Sipakatau), 2) mendesain buku digital Cerita Inspiratif sebagai program penguatan pendidikan karakter berbasis budaya lokal 3S (sipakainge’, sipakalebbi’, sipakatau), 3) menganalisis tingkat validitas dan kepraktisan buku Cerita Inspiratif sebagai program penguatan pendidikan karakter berbasis budaya lokal 3S (sipakainge’, sipakalebbi’, sipakatau) untuk Mahasiswa Jurusan TP FIP UNM. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan model ADDIE, (analysis), (design), (development), (implementation), dan (evaluation). Lokasi penelitian di Jurusan Teknologi Pendidikan FIP UNM. Subjek penelitian berjumlah 22 mahasiswa angkatan 2020 TP FIP UNM. Teknik Pengumpulan data dengan menggunakan Teknik Obsevasi, dan Angket. Teknik analisis data yang digunakan adalah Analisis Deskriptif Kualitatif, dan Analisis Statistik Deskriptif. Hasil yang dicapai evaluasi ahli isi/materi menunjukkan bahwa isi/materi penguatan pendidikan karakter pada kualifikasi sangat baik. Hasil evaluasi ahli media/desian pembelajaran menunjukkan pada kualifikasi sangat baik. Sedangkan hasil dari uji coba kelompok kecil menunjukan pada kualifikasi sangat baik. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut buku digital cerita inspiratif ini dapat dijadkan sebagai salah satu perangkat pembelajaran penguatan pendidikan karakter di intrakurikuler terutama berbasis lokal wisdom 3S. Analisis Kebutuhan buku cerita inspiratif 3S penguatan pendidikan karakter untuk mahasiswa, menunjukan bahwa buku digital cerita inspiratif baik untuk dikembangkan sebagai pedoman materi pelaksanaan penguatan pendidikan karakter di UNM. Dari hasil tersebut peneliti menyimpulkan bahwa buku cerita yang dikembangkan sesuai kebutuhan mahasiswa. Buku Cerita Inspiratif Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Lokal 3S (sipakainge’, sipakalebbi’, sipakatau) Untuk Mahasiswa dikatakan valid dan praktis berdasarkan hasil validasi media/desain pembelajaran yang mendapat persentase dengan kualifikasi sangat baik dan dari hasil validasi isi/materi mendapatkan kualifikasi sangat baik. Dikatakan praktis berdasarkan hasil uji coba kelompok kecil, rerata persentase buku digital cerita inspiratif berada pada kualifikasi sangat baik.
Kata kunci: Pendidikan karakter, buku digital, budaya lokal 3S (Sipakainge’, Sipakalebbi’, Sipakatau).
vii PRAKATA
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan rahmat-Nya serta usaha dan perjuanganlah yang mampu membuat penulis menghadirkan karya sederhana yang berjudul “Pengembangan Buku Cerita Inspiratif Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Lokal 3S (Sipakainge’, Sipakalebbi’, Sipakatau) Untuk Mahasiswa Jurusan TP FIP UNM” yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelas sarjana pendidikan pada Prodi Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar.
Selama dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis seringkali mengalami hambatan yang sangat sulit. Tetapi semua hambatan itu penulis jadikan motivasi untuk terus berusaha semaksimal mungkin. Lewat lembaran ini, Penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah memberikan motivasi, bimbingan, serta kebersamaan selama dan proses penyelesaian studi hingga terselesaikannya karya ini.
Demikian pula, penulis hanturkan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Dr. Arnidah, S.Pd., M.Si. selaku pembimbing I sekaligus Penasehat Akademik dan Ibu Dr. Nurhikmah H, S.Pd., M.Si. selaku pembimbing II. Meraka telah sabar, tekun, tulus, dan ikhlas meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan bantuan atas masalah yang peneliti hadapi, memberikan motivasi, arahan, adan saran-saran yang berharga kepada selama penyusunan skripsi.
Dengan kerendahan hati, penulis juga menyampaikan banyak terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1. Rektor Prof. Dr. Ir. H. Husain Syam, M.TP., IPU., ASEAN Eng. Universitas Negeri Makassar yang telah memberikan kesempatan untuk menyelesaikan studi strata 1 Jurusan Teknologi Pendidikan FIP UNM.
2. Dekan FIP Universitas Negeri Makassar Dr. Abdul Saman, M. Si Kons. Yang telah memberi izin melaksanakan penelitian.
3. Ketua Prodi Teknologi Pendidikan FIP Universitas Negeri Makassar Dr. Abdul Hakim, S.Pd., M.Si. Yang telah memberikan kemudahan
administrasi dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Seluruh Dosen dan Staf Jurusan Teknologi Pendidikan yang telah membekali ilmu pengetahuan selama menuntut ilmu di Universitas Negeri Makassar, serta bantuan yang telah diberikan kepada peneliti selama menempuh strata 1.
5. Terima kasih kepada Teknologi Pendidikan Angkatan 2020 yang telah bersediah menjadi informan penulis.
6. Teknologi Pendidikan Angkatan 2017 “Inferno” tanpa terkecuali. Terima kasih atas segala doa, dukungan telah diberikan kepada penulis.
7. Terima kasih untuk Kak Dian, S.Pd yang senantiasa memberikan motivasi, dukungan, bantuan dan doa sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.
Dengan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, penulis dengan ikhlas memohon semoga pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini diberikan kesehatan dan dimudahkan segala urusannya. Aamiin.
ix
MOTTO v
ABSTRAK vi
PRAKATA vii
DAFTAR ISI ix
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR GAMBAR xii
DAFTAR LAMPIRAN xii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 8
C. Tujuan Penelitian 8
D. Manfaat Penelitian 9
E. Spesifikasi Produk 10
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR 12
A. Kajian Pustaka 12
B. Kerangka Pikir 35
BAB III METODE PENELITIAN 36
A. Jenis Penelitian 36
B. Tahap-Tahap Penelitian 36
C. Uji Coba Produk 40
D. Lokasi Penelitian 40
E. Subjek dan Objek Penelitian 41
F. Definisi Konsep 41
G. Sumber Data 42
H. Jenis Data 42
I. Teknik Pengumpulan Data 42
J. Teknik Analisis Data 46
BAB IV HASIL PENGEMBANGAN DAN PEMBAHASAN 49
A. Hasil Pengembangan 49
B. Pembahasan 63
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 68
A. Kesimpulan 68
B. Saran 69
DAFTAR PUSTAKA 70
LAMPIRAN-LAMPIRAN 64
RIWAYAT HIDUP 111
xi
Tabel 3.1 Kisi-kisi Instrumen untuk penilaian pengembangan buku digital cerita
inspiratif 3S untuk mahasiswa. 44
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen untuk mengukur validitas media/buku digital cerita inspiratif 3S. 45
Tabel 3.3 Kisi-kisi instrument untuk mengukur Validitas konten/isi penguatan karakter. 46
Tabel 3.4 Konversi tingkat pencapaian skala 5 48
Tabel 4.1 identifikasi kebutuhan mahasiswa jurusan TP FIP UNM 50
Tabel 4.2 Uraian kemampuan dan kebutuhan Mahasiswa 51
Tabel 4.3 Bagian story board buku cerita inspiratif 3S 54
Tabel 4.4 Hasil Validasi Ahli Desain 56
Tabel 4.5 Hasil Validasi Ahli Isi 58
Tabel 4.6 Hasil Uji Coba Kelompok Kecil 61
xii
Gambar 2.2 Nilai-nilai Inti 23
Gambar 2.3 Skema Kerang Pikir 35
Gambar 3.1 Tahap-Tahap Pengembangan 39
Gambar 4.1 Tampilan Cover Depan 59
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Identifikasi Kebutuhan Mahasiswa 75
Lampiran 2 Uraian Kempuan Dan Kebutuhan Mahasiswa 78
Lampiran 3 Story Board Buku Digital Cerita Inspiratif 3S 79
Lampiran 4 Validasi Media/Desain 86
Lampiran 5 Validasi Isi/Materi 88
Lampiran 6 Uji Coba Kelompok Kecil 90
Lampiran 7 Persetujuan Pembimbing 101
Lampiran 8 Undangan Seminar Proposal 102
Lampiran 9 Pengesahan Usulan Penelitian 103
Lampiran 10 Surat Izin Meneliti 104
Lampiran 11 Surat Selesai Meneliti 105
Lampiran 12 Surat Kesedian Menjadi Validator Media/Desain 106
Lampiran 13 Surat Kesedian Menjadi Validator Isi/Materi 107
Lampiran 14 SK Pembimbing 108
Lampiran 15 Dokumentasi 110
Lampiran 16 Riwayat Hidup 111
1 A. Latar Belakang
Perguruan tinggi merupakan satuan pendidikan penyelenggara pendidikan tinggi yang berkewajiban untuk ikut andil dalam pembentukan karakter bangsa.
Perguruan tinggi perlu memberikan pendidikan untuk penguatan karakter mahasiswa karena karakter yang baik akan mendorong, dan memudahkan seseorang untuk mengembangkan kebiasaan baik. Kebiasaan itu tumbuh dan berkembang dengan didasari oleh kesadaran, keyakinan, kepekaan, dan sikap.
Dengan demikian, karakter dapat berkembang menjadi kebiasaan baik karena adanya dorongan dari dalam, bukan paksaan dari luar. Hal tersebut di kuatkan oleh pendapat Pala (2011:24)
The intentional teaching of good character is particularly important in today’s society since our youth face many opportunities and dangers unknown to earlier generations. They are bombarded with many more negative influences through the media and other external sources prevalent in today’s culture.
Artinya yaitu pengajaran karakter baik, yang disengaja sangat penting dalam masyarakat saat ini karena kaum muda kita menghadapi banyak peluang bahaya yang tidak diketahui oleh generasi sebelumnya. Mereka dibombardir dengan lebih banyak pengaruh negatif melalui media dan sumber eksternal lainnya yang lazim dalam budaya saat ini.
Tenaga pendidik perguruan tinggi merupakan pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, serta
menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Tridarma Perguruan Tinggi).
Tenaga pendidik perguruan tinggi secara profesional memiliki fungsi sebagai pengajar, pendidik, dan pelatih sehingga dapat mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik mahasiswa.
Hal ini sesuai dengan pembangunan nasional yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional Tahun 2005 – 2025 (UU No. 17 Tahun 2007) antara lain adalah “dalam mewujudkan masyarakat yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila”. Salah satu upaya untuk merealisasikannya dengan cara memperkuat jati diri dan karakter bangsa melalui pendidikan. Upaya ini bertujuan untuk membentuk dan membangun manusia Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mematuhi aturan hukum, memelihara kerukunan internal dan antar umat beragama, melaksanakan interaksi antarbudaya, mengembangkan modal sosial, menerapkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, dan memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dalam rangka memantapkan landasan spiritual, moral, dan etika pembangunan bangsa.
Pendidikan karakter bagian penting kehidupan manusia yang belum pernah ada Pengecualian. Kemendiknas (2011) mengungkapkan Pendidikan karakter adalah usaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik (habituation) sehingga peserta didik (mahasiswa) mampu bersikap dan bertindak bersadarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya. Pendidikan karakter didefinisikan oleh para pakar pendidikan secara beragam. Santrock (2007) mengatakan bahwa pendidikan
karakter merupakan pendekatan langsung untuk pendidikan moral dengan memberi pelajaran kepada peserta didik tentang pengetahuan moral dasar untuk mencegah mereka melakukan perilaku tidak bermoral atau membahayakan bagi diri sendiri maupun orang lain. Elkind & Sweet (2004) menambahkan pendidikan karakter adalah upaya yang disengaja untuk membantu orang memahami, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika yang terpuji. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter mengacu pada proses penanaman nilai, berupa pemahaman-pemahaman yang baik, tata cara merawat dan menghidupi nilai-nilai itu, serta bagaimana mahasiswa memiliki kesempatan untuk dapat melatihkan nilai-nilai tersebut secara nyata dan tidak merugikan orang lain.
Berdasarkan uraian di atas, secara formal upaya menyiapkan kondisi, sarana/prasarana, kegiatan, pendidikan, dan kurikulum yang mengarah kepada pembentukan watak dan budi pekerti generasi muda bangsa memiliki landasan yuridis yang kuat agar mahasiswa memiliki etika yang baik saat di bangku perkuliahan karena banyaknya kasus mahasiswa yang berprestasi secara akademik tetepi memiliki etika tidak terpuji.
Di era seperti sekarang ini, ancaman hilangnya karakter mahasiswa semakin nyata. Nilai-nilai karakter yang luhur tergerus oleh arus globalisasi, utamanya kesalahan dalam memahami makna kebebasan sebagai anak kandung demokrasi diterjemahkan sebagai free will, kebebasan berkehendak tanpa aturan yang baku, iklim kebebasan tidak jarang diartikan dengan kebebasan bertindak. Tawuran antar mahasiswa, antar organda, main hakim sendiri, tidak jujur, mabok-mabokan, menjiplak karya orang lain, mengemis padahal mampu, dan sebagaimana
berlangsung diberbagai tempat, sekaligus menjauhkan kehidupan masyarakat yang beradab, berkarakter, dan berakhlak mulia.
Beberapa data sepuluh tahun terakhir tentang perilaku mahasiswa UNM yang menyebabkan terjadinya beberapa permasalahan baik internal maupun eksternal kampus yaitu: pada tahun 2010, ratusan mahasiswa UNM menyambut kedatangan Presiden Susilo Bambang Yodhoyono di Makassar dengan aksi demonstrasi yang berujung tindakan anarkis dan kerusuhan dengan pihak aparat keamanan, Agustina (2010). Pada kasus kenaikan BBM Maret 2012 lalu, ratusan mahasiswa UNM melakukan aksi demonstrasi yang berujung pada bentrok dengan pihak aparat, mahasiswa membakar pos polisi yang berada di titik aksi mahasiswa Aisyah (2012).
Abdurrahman (2013) pada tanggal 14 Juli 2013, mahasiswa Universitas Negeri Makassar yang menolak rencana pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), aksi tersebut awalnya berlangsung kondusif, namun aksi berakhir dengan pelemparan yang dilakukan antara pihak polisi, warga, dan mahasiswa di Jalan A.P. Pettarani. Himawan (2019) dua kelompok mahasiswa UNM terlibat tawuran yang saling melempar batu dan busur tepat dihari sumpah pemuda yang terjadi di halaman kampus parangtambung. Bentrok di UNM yang mengakibatkan 2 mahasiswa FBS yang berujung penikaman, Himawan (2019). Hernawan (2019) mahasiswa UNM meninggal dunia saat hamil tua di dalam kos diakibatkan pergaulan bebas. Yunus (2020) Mahasiswa UNM yang dianiaya oleh seniornya dan mengalami luka di mata sehingga melaporkan ke polisi. Sebenarnya masih banyak kasus penganiayaan terhadap junior tetapi masih banyak mahasiswa takut untuk meloporkan ke pihak berwenang yang diakibatkan penganjaman oleh pelaku. Hal
tersebut dikuatkan oleh Ibrahim dan Qalbi (2020) dalam penelitiannya yaitu Senioritas dan Perilaku Kekekarasan di Kalangan Mahasiswa. Agustang dan Nur (2020) dalam penelitiannya tentang Konflik Mahasiswa Parang Tambung Universitas Negeri Makassar mengungkapkan. Konflik yang terjadi di kampus Parangtambung UNM dapat di katakana sebagai konflik tahunan dikarenakan hampir setiap tahun terjadi bentrok antar mahasiswa dan banyak perikalaku penghasutan yang dapat menimbulkan konflik sangat merugikan kampus.
Banyaknya kasus perilaku yang menyimpang ini menunjukkan bahwa nilai-nilai moral perlu ditingkatkan di lingkungan kampus. Penguatan karakter ini diharapkan dapat membentuk karakter mahasiswa yang agar berperilaku baik dalam hidup bermasyarakat.
Potensi Teknologi Pendidikan dalam memberikan solusi terhadap permasalahan Pendidikan karakter yaitu memfasilitasi pembelajaran melalui pengembangan, penggunaan dan pengelolaan yang tepat. AECT (2008) mengeluarkan difinisi terbaru teknologi pendidikan “Educational Technology is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological process and resources”.
Teknologi Pendidikan adalah studi dan etika praktek untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan, menggunakan, dan mengelola proses teknologi yang sesuai dan sumber daya (Januszewski & Molenda, 2008:1). Pengertian tersebut memuat beberapa kata kunci, antara lain pembelajaran, etika praktis, fasilitas pembelajaran, peningkatan kinerja, kreasi, pemanfaatan, pengelolaan, teknologi dan sumber daya. Dalam hal ini, peran Teknologi
Pendidikan dalam memecahkan masalah degredasi moral, etika dan budi pekerti mahasiswa adalah memfasilitasi pembelajaran melalui pengembangan buku cerita penguatan pendidikan karakter yang berbasis budaya lokal. Penguatan pendidikan karakter ini dapat difasilitasi oleh Teknologi Pendidikan melalui sebuah sumber belajar, yaitu buku yang berbasis digital dapat dijadikan sebagai bahan bacaan yang memuat nilai-nilai positif dan lebih kekinian dalam proses belajar.
Observasi awal yang dilakukan pada tanggal 1-4 Agustus 2020, peneliti menemukan bahwa sudah diterapkannya pendidikan karakter di pusat layanan matakuliah umum (MKU), matakuliah kependidikan (MKK) dan pendidikan karakter (PK) di Universitas Negeri Makassar tetapi belum tersedianya bahan dan pedoman materi pelaksanakan penguatan pendidikan karakter yang ingin digunakan di intrakurikuler terutama berbasis lokal wisdom 3S. Kasus yang sama terjadi di Universitas Negeri Yogyakarta sesuai dengan penelitian tahun 2013 dari Winarni yaitu Integrasi Pendidikan Karakter Dalam Perkuliahan, dari hasil penelitian menjelaskan untuk penguatan pendidikan karakter idealnya dimulai secara serentak pada pembelajaran semua mata kuliah, semua kegiatan pembinaan kemahasiswaan, dan pengelolaan semua bidang. Namun demikian, disadari bahwa memulai implementasi secara serentak tersebut bukan sesuatu yang mudah. Kondisi sumber daya manusia dan sumber daya lainnya sangat mempengaruhi penguatan pendidikan karakter. Oleh karena itu, implementasi pendidikan karakter secara terintegrasi dapat dimulai dari beberapa mata kuliah, sejumlah kegiatan kemahasiswaan, dan pengelolaan beberapa bidang.
Pendidikan karakter sebenarnya bukan hal yang baru bagi mahasiswa UNM karena sebelumnya pendidikan karakter sudah diterapkan namun belum melembaga seperti saat ini, dimana terdapat satu Pusat Layanan di bawah naungan LP2MP UNM yang disebut Pusat Layanan MKU, MKK, dan PK. Dengan ini penguatan pendidikan karakter sangat diperlukan di perguruan tinggi bertujuan menghasilkan calon pemimpin bangsa yang tidak hanya mampu di bidang akademik, namun juga terpuji secara karakternya.
Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya yang menjadi rujukan serta hasil observasi awal yang sudah dilakukan, peneliti tertarik untuk mengembangan buku digital yang di harapkan mampu memberikan penguatan karakter terhadap potensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, bertoleransi, berilmu, dan bertanggung jawab dan mandiri. Maka dari itu peneliti mengembangkan buku digital dan mengemasnya dalam judul “Pengembangan Buku Cerita Inspiratif Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Lokal 3S (Sipakainga’, Sipakalebbi’, Sipakatau) Untuk Mahasiswa Jurusan TP FIP UNM” dimana materinya bersifat Local wisdom yang sangat penting guna menanamkan karakter kepada mahasiswa melalui pendekatan ilmiah dengan memanfaatkan kearifan lokal masyarakat agar pembelajaran lebih kontektual dengan kehidupan mahasiswa dan mengoptimalkan kearifan lokal dalam membangun pendidikan karakter bagi mahasiswa.
Keunggulan dari buku ini dikemas dalam bentuk e-book untuk memudahkan mahasiswa dalam penggunaan secara mandiri. Selain praktis karena bisa diakses melalui PC dan Android, e-book ini mudah untuk dibaca dan memiliki desain
menarik yang mampu mendukung penguasaan tercapainya penguatan pendidikan karakter secara mandiri.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dirumuskan:
1. Bagaimana kebutuhan nilai-nilai dalam pengembangan Buku Cerita Inspiratif Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Lokal 3S (Sipakainge’, Sipakalebbi’, Sipakatau) Untuk Mahasiswa Jurusan TP FIP UNM?
2. Bagaimana desain Buku Cerita Inspiratif Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Lokal 3S (Sipakainge’, Sipakalebbi’, Sipakatau) Untuk Mahasiswa Jurusan TP FIP UNM?
3. Bagaimana validitas dan kepraktisan buku Cerita Inspiratif sebagai program Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Lokal 3S (sipakainge’, sipakalebbi’, sipakatau) Untuk Mahasiswa Jurusan TP FIP UNM?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan, maka tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk:
1. Mengetahui nilai-nilai dalam kebutuhan Buku Cerita Inspiratif Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Lokal 3S (Sipakainge’, Sipakalebbi’, Sipakatau) Untuk Mahasiswa Jurusan TP FIP UNM.
2. Mendesain buku digital Cerita Inspiratif sebagai program penguatan pendidikan karakter berbasis budaya lokal 3S (sipakainge’, sipakalebbi’, sipakatau) Untuk Mahasiswa Jurusan TP FIP UNM.
3. Menganalisis tingkat validitas dan kepraktisan buku Cerita Inspiratif sebagai program penguatan pendidikan karakter berbasis budaya lokal 3S (sipakainge’, sipakalebbi’, sipakatau) Untuk Mahasiswa Jurusan TP FIP UNM.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian dilakukan dengan memperhatikan kepentingan beberapa pihak yang dijadikan sebagai acuan terhadap pengembangan yang dilakukan.
Pentingnya pengembangan dalam penelitian ini lebih jelasnya diuraikan sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis
a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah keilmuan bagi dunia pendidikan khususnya dalam pendidikan karakter.
b. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan referensi pada pelaksanaan penguatan pendidikan karakter bagi mahasiswa melalui kegiatan intrakulikuler dengan menggunakan media, khususnya media berupa buku digital.
c. Diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan acuan atau pedoman pelaksanaan pendidikan karakter melalui intrakulikuler dengan materi Local wisdom 3S (sipakainga’, sipakalebbi’, sipakatau) di UNM.
2. Manfaat Praktis 1. Bagi peneliti
Diadakannya penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman dan referensi peneliti mengenai penguatan pendidikan karakter mahasiswa melalui buku digital.
2. Bagi Universitas Negeri Makassar
Diharapkan buku digital ini diterapkan di Pusat layanan MKU/MKK/PK agar meningkatkan kesadaran bagi Universitas Negeri Makassar untuk memberikan penguatan karakter melalui materi atau acuan dari buku digital cerita inspiratif.
3. Bagi Dosen
a. Memberi gambaran sejauh mana upaya penguatan pendidikan karakter melalui intrakulikuler di UNM
b. Meningkatkan motivasi bagi dosen betapa pentingnya penguatan pendidikan karakter bagi mahasiswa UNM
4. Bagi mahasiswa
a. Memberi informasi bagi mahasiswa terhadap penguatan pendidikan karakter melalui buku cerita inspiratif yang dikembangkan oleh UNM.
b. Meningkatkan kebiasaan dalam bertindak, bersikap, dan berucap sesuai dengan nilai-nilai karakter yang baik.
E. Spesifikasi Produk
Spesifikasi produk buku digital cerita inspiratif ini adalah;
1. Materi
Materi meliputi tentang pengenalan apa itu 3S dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari beserta cerita yang diadaptasi sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.
2. User
a) Mahasiswa
Mahasiswa merupakan sasaran utama dari penggunaan produk buku digital cerita inspiratif 3S ini dan dapat melakukan hal-hal seperti berikut:
1) Dapat mempelajari materi pengenalan apa itu budaya 3S bugis.
2) Melihat video pembelajaran terkain materi pengenalan apa itu budaya bugis 3S.
3) Melihat gambar ilustrasi dari cerita 3S.
b) Dosen
Dosen bisa menjadikan buku digital cerita inspiratif 3S ini sebagai salah satu sumber bacaan atau referensi dalam pembelajaran.
3. Gambar dan Video
Gambar dan Video adalah sebagai penunjang agar buku cerita 3S tersebut menjadi lebih menarik, sehingga minat mahasiswa untuk membacanya menjadi meningkat. Selain itu Gambar dan Video juga dibutuhkan untuk meningkatkan daya ingat mahasiswa terhadap materi yang dibacanya.
12 A. Kajian Pustaka
Penelitian ini, tinjauan pustaka yang digunakan adalah teori–teori yang menjadi landasan dalam penelitian, selain dari buku, kajian pustaka juga melalui jurnal penelitian nasional dan internasional
1. Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan kumpulan materi dan informasi yang disusun guna sebagai pendukung proses pembelajaran, referensi yang mengacu pada kurikulum.
Dengan kata lain, bahan ajar merupakan alat atau sarana pembelajaran yang berisi materi, metode, batasan-Batasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang secara untuk mahasiswa. Hal tersebut dikuatkan oleh National Centre for Competency Based Training (Prastowo, 2011:16) “bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu dosen atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran”. Sedangkan menurut Suparlan (2012) mengatakan bahan ajar merupakan komponen yang saling terkait dengan isi setiap matakuliah atau pendukung (referensi) yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Bahan Ajar menurut Majid (2007) mengelompokkan 4 komponen dari: a) Bahan ajar berbasis cetak, b) Bahan ajar berbasis digital (buku digital), c) Bahan ajar berbasis audio, dan d) Bahan ajar berbasis video. Dalam hal ini peneliti berfokus pada pengembangan buku digital sebagai pendukung materi penguatan
pendidikan karakter berbasis budaya lokal bugis 3S di pusal layanan LP2MP UNM yang bebasis interaktif yang digunakan di TP FIP UNM.
2. Buku Digital
Buku digital atau dikenal dengan istilah e-book (bahan ajar digital) merupakan dokumen yang tertulis, berisi teks, gambar, audio atau video yang dimuat secara digital sehingga hanya dapat diakses menggunakan perangkat elektronik, seperti komputer, PC/Laptop, Handphone dan lainnya. Landoni (2003) e-book adalah sebuah bentuk digital, sebuah media di mana informasi diorganisasikan dan terstruktur sehingga dapat dipresentasikan ke pembaca.
E-book juga didefinisikan sebagai publikasi buku (bahan ajar) dalam bentuk digital, terdiri dari teks, gambar, atau keduanya, dan mudah dibaca pada komputer atau peralatan elektronik lainnya Gardiner dkk (2010). Sementara itu, kamus besar Oxford memberikan pengertian yang lebih sederhana, yaitu versi elektronik dari sebuah buku cetak.
Merujuk pada pengertian-pengertian yang ada, dapat disimpulkan bahwa buku digital atau elektronik bukan hanya dalam bentuk PDF melainkan publikasi buku dalam bentuk digital yang mendukung unsur-unsur multimedia (teks, gambar, suara, animasi, dan video) dan dapat dibaca melalui pembaca elektronik, termasuk peralatan mobile (smartphone dan tablet).
a. Fungsi Buku Digital
Fungsi buku digital atau e-book dalam proses pembelajaran sebagai tindakan untuk mempermudah literasi di zaman sekarang. Menurut Hidayati, dkk (2013) fungsi buku digital terdiri dari:
1. Fungsi Afektif penulisan pada media buku digital terdapat gambar pada keterangan materi sehingga dapat meningkatkan kenikmatan mahasiswa dalam belajar mandiri.
2. Fungsi Kognitif penulisan rumus dan gambar dapat memperjelas materi yang terkandung didalam buku digital sehingga dapat memperlancar pencapaian tujuan pembelajaran.
3. Fungsi Kompensatoris penulisan materi pada buku digital yang singkat dan jelas dapat membantu mahasiswa yang lemah membaca untuk memahami materi dalam teks dan mengingatnya kembali.
4. Fungsi Psikomotoris penulisan materi buku digital yang singkat dan jelas dapat mempermudah mahasiswa untuk menghafalkannya
5. Fungsi Evaluasi penilaian kemampuan mahasiswa dalam pemahaman materi dapat dilakukan dengan mengerjakan soal-soal evaluasi yang terdapat pada buku digital.
Nurchaili (2016) menambahkan buku digital memiliki berbagai fungsi, antara lain:
a) Sebagai salah satu alternatif media untuk penguatan pendidikan karakter;
b) Berbeda dengan buku cetak, buku digital dapat memuat konten multimedia di dalamnya sehingga dapat menyajikan bahan ajar yang lebih menarik dan membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan;
c) Sebagai media berbagi informasi;
d) Dibandingkan dengan buku cetak, buku digital dapat disebarluaskan secara lebih mudah, baik melalui media seperti website, kelas maya, email dan media digital lainnya; dan
e) Seseorang dapat dengan mudah menjadi pengarang serta penerbit dari buku yang dibuatnya sendiri.
Berdasarkan dua pendapat di atas dapat disimpulkan fungsi dari buku digital untuk mahasiswa yaitu untuk meningkatkan kemudahan dalam proses pembelajaran karena lebih praktis dan menarik saat mempelajari penguatan pendidikan karakter.
b. Manfaat buku digital
Menurut pribadi peneliti mengenai fungsi buku digital yang peneliti kembangkan yaitu:
a) Penyampaian materi penguatan pendidikan karakter dengan menggunakan buku digital dapat diseragamkan dan ringkas.
b) Proses penguatan karakter dengan menggunakan buku digital menjadi lebih jelas, menyenangkan dan menarik.
c) Desain buku digital yang menarik dan bersifat multimedia menumbuhkan sikap positif mahasiswa dalam proses penguatan karakter.
3. Makna Penguatan Pendidikan Karakter a. Makna pendidikan
Pendidikan dapat diartikan sebagai usaha sadar dan sistematis untuk mencapai taraf hidup atau untuk kemajuan lebih baik. Secara sederhana, Pengertian pendidikan merupakan proses pembelajaran bagi peserta didik untuk dapat mengerti, paham, dan membuat manusia lebih kritis dalam berpikir.
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana dalam proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam mengembangkan potensi dirinya atau usaha mendewasakan manusia melalui upaya pembelajaran dan pelatihan. Kualitas pendidikan tidak semata-mata diukur dari mutu keluaran pendidikan secara utuh akan tetapi dikaitkan dengan konteks dimana mutu itu harus ada dalam standar pendidikan nasional (Akhwan, 2008:49).
Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara (Suparlan 2015) mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.
Berdasarkan kesimpulan di atas pendidikan merupakan pembentuk pribadi yang berkualitas dan berkarakter, yang mampu beradaptasi secara cepat dan tepat terhadap lingkungan sekitar sehingga memiliki cara pandang yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita-cita yang diharapkan.
b. Makna Karakter
Karakter merupakan perpaduan antara moral, etika, dan akhlak. Moral lebih menitikberatkan pada kualitas perbuatan, tindakan atau perilaku manusia atau apakah perbuatan itu bisa dikatakan baik atau buruk, atau benar atau salah.
Sebaliknya, etika memberikan penilaian tentang baik dan buruk, berdasarkan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tertentu, sedangkan akhlak tatanannya lebih menekankan bahwa pada hakikatnya dalam diri manusia itu telah tertanam keyakinan di mana keduanya (baik dan buruk) itu ada. Karenanya, pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik
itu, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.
a) Menurut Pala (2011:25) Character education is a national movement creating schools that foster ethical, responsible and caring young people by modelling and teaching good character through emphasis on universal values that we all share. Artinya Pendidikan karakter merupakan gerakan nasional yang menciptakan sekolah yang menumbuhkan generasi muda yang beretika, bertanggung jawab, dan peduli dengan mencontoh, mengajarkan karakter yang baik melalui penekanan pada nilai-nilai universal yang kita semua miliki.
b) Suyanto (2009) “karakter merupakan cara berpikir dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa maupun Negara”.
c) Setiawati (2017) menambahkan Karakter kumpulan nilai-nilai yang khas baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata berkehidupan baik) yang terpatri dalam diri dan terwujud dalam perilaku. Hubungannya dengan pendidikan, pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan mahasiswa untuk memberikan keputusan baik buruk, memelihara kebaikan, mewujudkan dan menebar kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dengan sepunuh hati.
d) Samsuri (2015) menyatakan bahwa termologi karakter sedikitnya memuat dua hal: value (nilai-nilai) dan kepribadian. Suatu karakter merupakan
cerminan dari nilai apa yang melekat dalam sebuah entitas. Sebagai aspek kepribadian, karakter merupakan cerminan dari kepribadian secara utuh.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa dalam mewujudkan pendidikan yang berkarakter adalah dengan mampu menanamkan nilai-nilai karakter kepada mahasiswa sebagai pondasi agar terbentuknya generasi yang berkualitas yang mampu hidup mandiri sesuai dengan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga nantinya bisa menjadi manusia insan kamil yang memiliki prinsip suatu kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan. Oleh karena itu, hakekat pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri dalam rangka membina kepribadian generasi muda yang baik.
c. Strategi Penguatan Pendidikan Karakter
Marten (2004) mengusulkan strategi pembelajaran karakter yang efektif, yakni harus dilakukan secara lebih konkret. Ada tiga tahapan yang perlu dilakukan dalam pembelajaran karakter, yakni: identifikasi nilai, pembelajaran nilai, dan memberikan kesempatan untuk menerapkan nilai tersebut.
1) Indentifikasi Nilai
Identifikasi nilai terkait dengan nilai-nilai moral apa saja yang sekurang- kurangnya harus dimiliki oleh individu (mahasiswa). Dalam realitas kehidupan, ada sejumlah nilai yang terkonstruksi di dalam masyarakat yang boleh jadi antara masyarakat yang satu dengan yang lain berbeda. Ada kalanya konstruksi nilai dipengaruhi oleh kultur tempat nilai tersebut dibentuk. Karena itu, untuk
menghindari pemahaman yang berbeda atas suatu nilai, perlu diidentifikasi dulu nilai-nilai yang berlaku universal atau yang ditargetkan.
2) Pembelajaran Nilai
Setelah proses identifikasi nilai dilakukan dan ditemukan nilai moral yang ditargetkan, nilai moral tersebut selanjutnya ditanamkan kepada mahasiswa melalui langkah-langkah sebagai berikut.
a) Menciptakan lingkungan yang memungkinkan nilai-nilai moral tersebut diterapkan. Peran ini begitu penting dilakukan oleh dosen dalam rangka membangun kesamaan wawasan mencapai tujuan, menciptakan iklim moral bagi mahasiswa.
b) Adanya keteladanan atau model perilaku moral. Menunjukkan perilaku bermoral memiliki dampak yang lebih kuat daripada berkata-kata tentang moral.
c) Menyusun aturan atau kode etik berperilaku baik. Mahasiswa perlu mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Artinya, ada pemahaman yang sama terkait dengan perilaku moral.
d) Menjelaskan dan mendiskusikan perilaku bermoral. Ketika usia anak-anak, belajar perilaku moral dilakukan dengan cara imitasi dan praktik tanpa harus mengetahui alasan mengapa hal itu dilakukan atau tidak dilakukan. Memasuki usia remaja dan dewasa, kemampuan bernalarnya telah berkembang.
e) Karena itu, perlu ada penjelasan dan bila perlu ada proses diskusi untuk sampai pada pilihan perilaku moral yang diharapkan.
f) Mendorong individu mahasiswa mengembangkan nilai yang baik. Dosen perlu menciptakan situasi dan menginspirasi mahasiswa untuk menampilkan perilaku moral.
3) Penerapan Nilai
Setelah pengajaran nilai dilakukan, tahap ketiga yang perlu dilakukan adalah memberikan kesempatan untuk mengaplikasikannya. Hal terpenting terikat dengan penerapan nilai adalah konsistensi antara apa yang diajarkan dengan apa yang diterapkan. Artinya, apa yang dikatakan harus berbanding lurus dengan apa yang dilakukan, baik pada lingkungan kampus maupun dalam keluarga dan masyarakat.
Terkait dengan penerapan nilai, ada dua model yang dapat diaplikasikan, a) membentuk kebiasaan rutin yang bermuatan nilai-nilai moral.
b) memberikan reward bagi mahasiswa yang menampilkan perilaku bernilai moral.
Menanamkan dan membentuk nilai moral memang tidak secepat mengajarkan keterampilan seperti menendang atau memukul bola. Untuk hal tersebut dibutuhkan proses yang relatif panjang, konsisten, dan tidak sekali jadi. Bisa jadi mahasiswa belum sepenuhnya menampilkan perilaku bernilai moral sebagaimana yang diinginkan. Karena itu, penghargaan tidak harus diberikan ketika mahasiswa mengakhiri serangkaian kegiatan, melainkan juga dalam proses “menjadi”.
Penghargaan dapat diberikan dalam berbagai bentuk. Misalnya, dalam bentuk sertifikat, stiker, peran tertentu seperti mentor bagi temannya, dan lain sebagainya.
Berdasarkan grand design yang dikembangkan (Kemendiknas 2010), secara psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan
fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat, Hasanah (2013).
Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial- kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam: olah hati (spiritual and emotional development), olah pikir (intellectual development), olah raga dan kinestetik (physical and kinestetic development), dan olah rasa dan karsa (affective and creativity development) yang secara diagrammatik dapat ditunjukkan pada Gambar dibawah ini,
Gambar 2.1 Grand Design Pendidikan Karakter di Indonesia (Kemendiknas, 2010)
Nilai-nilai karakter yang diterapkan diperguruan tinggi khususnya di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) sebagai penghasil tenaga pendidik, hanya memilih nilia-nilai karakter inti (core values) yang akan dikembangkan dalam implementasi pendidikan karakter, khususnya pada masing-masing jurusan/program studi. Berikut gambarnya,
Keempat nilai-nilai karakter inti di atas menjadi dasar implementasi pendidikan karakter di perguruan tinggi (LPTK). Penyelenggaraan pendidikan karakter di perguruan tinggi dilakukan secara terpadu melalui tiga jalur, yaitu:
terintegrasi dalam pembelajaran, manajemen jurusan dan program studi, serta pada kegiatan kemahasiswaan.
Pada Gambar 2.2 dapat dijelaskan bahwa karakter seorang mahasiswa sangat ditentukan oleh personalitas dari;
1) Otak (head, mind) dan hati (heart).
Hal itu bukan berarti aspek olahraga (kinestetika), olah rasa dan karsa tidak ikut menentukan, tetapi keduanya ditentukan oleh bagaimana pikiran dan hati berproses.
Rasa dan karsa jelas bersumber dari proses yang berlangsung dalam hati.
Timbulnya motivasi karena adanya proses di dalam hati, sedangkan gerakan raga ditentukan oleh hasil proses di otak. Perilaku tersebut ada yang bersifat personal tanpa harus terkait dan ditentukan oleh bagaimana pengaruh kominakasi dengan yang lain, tetapi ada juga yang terbentuk dari komunikasi dengan orang lain sehingga bersifat sosial.
Gambar 2.2 Nilai-nilai Inti (Core Volues) (Diadaptasi dari Muchlas Samani, 2011)
2) Karakter jujur
Jelas bersumber dari hati. Pengertian jujur sangat sulit dipisahkan dari sikap adil. Orang yang jujur menilai dirinya sendiri dan orang lain akan bersikap adil karena selalu berharap apa yang dilakukannya kepada orang lain, juga dilakukan orang lain terhadap dirinya.
3) Karakter peduli
Sifat peduli juga bersumber dari hati. Dalam interaksi dengan orang lain, hati yang peka akan ikut merasakan bagaimana sedih, pilu, dan derita yang dialami orang lain karena dia mampu bercermin secara jernih bagaimana jika hal tersebut terjadi pada diri dan keluarga terdekatnya.
4) Karakter Tangguh
Kecerdasan sekaligus kecerdikan, kreativitas dan inovatif, kritis, dan analitis, semua bersumber dari hasil olah pikir. Orang yang cerdas dan cerdik akan mampu keluar dari situasi sulit dengan anggun karena melakukannya dengan penuh percaya diri. Sementara itu, semakin hari semakin dirasakan bahwa dalam ikut berkompetisi secara global, ancaman yang dihadapi semakin besar. Orang harus menjadi the risk taker (pengambil resiko) setiap tindakan yang ia pilih dan harus tangguh lahir dan batin untuk menerima setiap tindakan, karena setiap tindakan yang kita pilih harus siap dengan konsekuensinya.
Secara rinci turunan dari nilai-nilai karakter inti (core values) dapat dilihat di tabel 2.1
Tabel 2.1 Nilai-nilai Turunan dari Nilai-nilai karakter Inti (Core Values)
No Nilai-nilai Inti (Core Values) Nilai-nilai Terunan
Personal
1 Jujur
Kesalehan, keyakinan, iman dan taqwa, integritas, dapat menghargai diri sendiri, dapat menghormati Sang Pencipta, ketulusan hati, pertanggungjawaban, sportifitas, amanah
2 Cerdas
Analistis, akal sehat, kuriositas, kreativitas, kekritisan, inovatif, inisiatif, suka memecahkan masalah, produktivitas, kepercayaan diri, kontrol diri, disiplin diri, kemandirian, ketelitian, kepemilikan visi.
Sosial
3 Peduli
Penuh kasih sayang, perhatian, kebajikan, kewarganegaraan, keadaan, komitmen, keharuan, kegotongroyongan, kesantunan,rasa hormat, demokratis, kebijaksanaan, disiplin, empati, kesetaraan, suka memberi maaf, persahabatan, kesahajaan, kedermawanan, kelemahlembutan, pandai berterima kasih, pandai bersyukur, suka membantu, suka menghormati, keramahtamahan, kemanusiaan, kerendahan hati, kesetiaan, kelembutan hati, moderasi, kepatuhan, keterbukaan, kerapian, patriotisme, kepercayaan, kebanggaan, ketepatan waktu, suka menghargai, punya rasa humor, kepekaan, sikap berhemat, kebersamaan, toleransi, kearifan.
4 Tangguh
Kewaspadaan, antisipatif, ketegasan, kesediaan, keberanian, kehatihatian, keriangan, suka berkompetisi, keteguhan, bersifat yakin, keterandalanan, ketetapan hati, keterampilan dan kecekatan, kerajinan, dinamis, daya upayah, ketabahan, keantusiasan, keluesan, keceriaan, kesabarab, ketabahan, keuletan, suka mengambil resiko, beretos kerja.
Berdasarkan hal diatas telah dijabarkan maka, penerapannya ada 3 di UNM yang sudah mulai mengembangkan saat ini dalam program pendidikan karakter yang perlu dikuasai dan direalisasikan mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari.
1) Pengembangan materi pembelajaran untuk setiap kegiatan jurusan/program studi.
2) Pengembangan rancangan pelaksananaan setiap kegiatan di jurusan/prodi (tujuan, materi, fasilitas, jadwal, pengajar/fasilitator, pendekatan pelaksanaan, evaluasi)
3) Menyiapkan fasilitas pendukung pelaksanaan program pendidikan pembentukan karakter.
Penerapannya pun sudah diterapkan di UNM melalui payung Core values, mulai pembelajaran, manajemen jurusan dan program studi, serta pada kegiatan kemahasiswaan yaitu yang secara khusus sudah di terapkan Fakultas Ilmu Pendidikan.
Pembentukan dan pengembangan telah dilakukan di Fakultas Ilmu pendidikan melalui Buku Panduan Operasional Penguatan Pendidikan Karakter Bagi Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan yang dikembangkan oleh Tim pendidikan karakter fakultas, yang diketuai oleh Dr. Abdul Haling, S.Pd., M.Pd. dalam buku panduan tersebut terdapat nilai-nilai yang dikembangkan meliputi; Pembelajaran pada mata kuliah; dengan nilai-nilai religius, disiplin, rajin, kebersihan dan rapi.
Peneliti kembangkan yang mengaitkan materi berbasis budaya lokal untuk referensi di matakuliah dan berbagai hal yang terkait dengan karakter inti yakni: jujur, cerdas, tangguh, dan peduli dirancang dan diimplementasikan dalam pembelajaran
kesemua mata kuliah. Hal ini dimulai dengan pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Penguatan karakter dikegiatan Kokurikuler meliputi nilai-nilai; Peduli sesama, tanggung jawab, kreatifitas dan kemandirian dalam kegiatan workshop kewirausahaan. Untuk pengembangan diri meliputi nilai-nilai sportivitas dan keteladaan. Adapun untuk kegiatan Out Bound meliputi nilai-nilai tanggung jawab, kerjasama dan peduli sosial.
Pembentukan karakter yang terpadu dengan kegiatan kemahasiswaan (ektrakurikuler). Beberapa kegiatan kemahasiswaan yang memuat nilai-nilai karakter inti, yakni jujur, disiplin, kerja sama, tanggung jawab dan peduli dapat dikemas dalam bentuk kegiatan, seperti: olahraga, kegiatan keagamaan (baca tulis Al-Qu’ran, kajian hadist, ibadah, dan lain-lain), seni budaya (menari, menyanyi, melukis, teater), kepramukaan, latihan dasar kepemimpinan, PMR, pameran, lokakarya, dan lain-lain.
4. Kegiatan Intrakurikuler
Kegiatan intrakurikuler merupakan kegiatan yang tercantum dalam jadwal pelajaran/perkuliahan yang bisa dilaksanakan di luar jam pembelajaran untuk mendukung proses penguatan pendidikan karakter yang sesuai dengan materi yang mendukung saat proses pembelajaran di kelas. Menurut Kunandar dalam bukunya yang berjudul Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru (2007:177) “Kegiatan intrakurikuler merupakan kegiatan pengembangan diri yang dilaksanakan sebagian
besar di dalam kelas”. Kegiatan intrakurikuler tidak terlepas dari proses perkuliahan baik belajar mengajar yang merupakan proses inti yang terjadi di kampus sebagai suatu lembaga pendidikan formal.
5. Kearifan Local (Local wisdom)
Rahyono (Fajarani 2014) berpendapat bahwa kearifan lokal merupakan nilai- nilai khas pada satu kultur masyarakat dan biasanya tidak dimiliki oleh kelompok lain karena lahir dan berkembang murni dari kelompok itu sendiri serta menjadi ciri khas baik berupa ide, aktivitas sosial, peninggalan dalam bentuk fisik, dan lain-lain.
Sedangkan menurut Isiawati (2016) kearifan lokal juga dapat dimaknai sebagai pemikiran tentang kehidupan. Pemikiran tersebut didasari oleh akal jernih, sikap baik dan hal-hal positif di dalamnya.
Penguasaan atas kearifan lokal akan mengusung jiwa manusia semakin berbudi luhur. Mengacu kepada definisi-definisi di atas, maka kearifan lokal Bugis dapat disimpulkan sebagai nilai-nilai kebijaksanaan yang tumbuh di dalam budaya masyarakat bugis setempat.
Masyarakat bugis menurut ahli Anthropologi budaya bugis Leonard (Rizani 2020) apabila seseorang dikenal ataupun belum dikenal datang bertamu kerumah orang Bugis dan dijamu oleh tuan rumah, maka tuan rumah akan mengatakan bahwa anda sudah meminum air dirumahku maka secara tidak langsung kita telah mengikat persaudaraan. Dari hal tersebut dapat kita simpulkan dari ahli budaya bugis Leonard bahwasannya suku Bugis memiliki persaudaraan yang begitu tinggi.
a) Budaya 3S
1) Budaya Sipakatau (saling memanusiakan)
Inilah dasar yang melandasai seluruh adap sopan santun kita sebagai manusia, seharusnya saling memanusaiakan dengan manusia lainnya, apapun
latarbelakangnya. Sebagaimana tertera pada falsafah bugis tentang manusia dalam bahasa bugis (Tau) sebagai berikut, Rizani (2020):
Sipakatauwwi tauwe nasaba taumi
(Manusia saling memanusaiakan karena ia manusia) Sipakalebbi tauwe nasaba tauwi ancajingenna
(Manusia saling memuliakan, karena dari manusia asal kejadiannya)
Nasaba akkatauwanna (Sebab kemanusiaannya)
Sitanrereangngi tauwe siri’na, nasaba gau sipakatau (Manusia saling mendukung karena siri’nya. Karena perbuatan
saling memanusaiakan)
Nae rekkuwa tauwe nawelaiwi sipakataue
(Apabila manusia sudah meninggal saling memanusiakan) Pasilaingngi tauwe ripura onrona
(Yang membedakan manusia pada tempatnya)
Nasaba pangissengenna
(Perbedaan itu karena pengetahuannya)
Patanrei alebbirenna tauwe (Tinggikanlah kemuliaan manusia)
Nasaba akkaleng madacengna (Sebab akal baiknya)
Campu’ni koritu siassakkarenna appakatauwangnge (Maka muncullah saling menyangkal arti kemanusiaan)
Pribahasa di atas merupakan prinsip orang bugis yang disebut ‘Siri’ dikutip dari buku berjudul Pawalung. Karena itu perilaku sopan santun harus selalu mencermin sifat yang terkandung dalam falsafah ‘Siri’. Manusia dalam bahasa bugis adalah (Tau) memiliki pandangan bahwasannya manusia jangan dilihat sebatas raganya saja tapi lebih dalam dari itu.
Dapat disimpulkan bahwasannya jika manusia tidak saling memanusiakan, maka tidak ada bedanya dengan sikap seperti binatang yang hanya melihat ras dan kekuasaan.
Memanusiakan manusia berararti senantiasa menghargai dan menghormati harkat dan manusia lainnya. Memanusiakan manusia ialah tidak menghardik, tidak bersifat kasar, tidak menyakiti. Memanusiakan manusia berarti memanusiakan antar sesama manusia dengan memberikan rasa percaya, hormat, kedamaian dan kesejahteraan hidup. Sikap yang tidak manusiawi terhadap manusia lain hanya akan merendahkan harga diri kita. Sifat Sipakatau juga sejalan dengan HAM (Hak Asasi Manusia) dikarenakan membuat manusia sadar akan jadi dirinya.
Rizani (2020) berpendapat, kelebihan manusia adalah akal budinya, tetapi juga memiliki kekurangan, maksudanya yaitu seseorang berbeda dengan satu sama lain.
Naba naccekkengi gauk olo kolo’
(Sebab sudah ditunggai perbuatan binatang) Lenynyei gau sipakatauwe
(Maka hilanglah perbuatan saling memanusiakan)
Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa kita harus saling menghormati sesama tanpa melihat dia miskin/kaya, fisik sempurna/tidak atau dalam keadaan apapun.
Sipakatau dalam suku bugis berguna menjaga budaya dalam kehidupan, bermasyarakat dan berbangsa, pada dasarnya berasal dari prinsip hidup ‘Siri’ dan
‘Passe’ yang menunjukan ia harus patuh dan taat pada 1) Hukum, 2) Peradaban, 3) Selalu menjaga diri dari sikap etika dan moral. Pada prinsipnya ‘Siri’ dan
‘Passe’ bagi setiap manusia bugis dituntun untuk selalu menegakkan harga diri dan kehormatan baik bagi dirinya, keluarganya, serta bangsanya Rizani (2020).
Bagi orang Bugis ‘Siri’ dalam adat sopan santun tidak boleh asal berkata, dan asal bicara. Sebab kata-kata yang sudah keluar dari mulut bukan lagi milik kita, orang bugis tidak boleh asal mengeluarkan pendapat yang tidak bermakna. Dalam hal ini masalah bicara pada umumnya orang bugis tidak banyak bicara (pendiam), meraka lebih baik diam daripada membicarakan sesuatu yang tidak berguna.
Nilai-nilai dari Sipakatau ada 4 yaitu;
1). Sifat Jujur (Lempu), jika bersalah atau dipersalahkan, dia minta maaf.
2). Cerdas (Acca), yaitu mampu melihat dan memahami kemungkinan akibat yang akan terjadi dari suatu perbuatan atau tindakan yang akan diambilnya.
3). Berani (Warani) maksudnya berani mengambil tindakan untuk mempertahankan dan membela kehormatan.
4). Tegas (Gatteng) yaitu berani mengambil keputusan dengan cepat.
Makna dari Sipakatu bahwa apa dalam diri kita, sama dengan apa yang ada pada diri manusia lainnya, sehingga hal ini dapat melahirkan suatu persaudaraan sejati. Maka hal ini kita harus senantiasa memanusiakan manusia dalam menjalani
kehidupan sehari-hari tanpa memandang apapun untuk saling menghargai, saling menolong, bertutur kata yang baik dan saling mencintai.
2) Budaya Sipakalebbi’ (Saling memuliakan)
Dalam interaksi kita sehari-hari antar sesama manusia harus saling memuliakan. Makna Sipakalebbi’ menurut Rizani (2020) dalam hubungan interaksi antara manusia dengan manusia lainnya tidaklah sekedar adap sopan santun, tapi lebih dari itu, sebab Sipakalebbi’ melahirkan sikap kemulian yang didapat dari kita saling memuliakan manusia.
Sipakalebbi’ berasal dari kata ‘Lebbi’ dalam bahasa bugisnya artinya: lebih, juga berarti: mulia. Dua makna ini saling menerangkan yaitu manusia baru dianggap memiliki kelebihan, kalau ia memiliki sifat mulia atau manusia baru dianggap memiliki kelebihan dari manusia lainnya seperti; Sopan dalam berperilaku, santun dalam bertutur kata, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, disamping itu memiliki sikap jujur, memilii ilmu pengetahuan yang cukup memadai, memiliki jiwa yang tegas dan berani. Dalam tradisi adat orang bugis, makna kemuliaan itu tidak dapat dinilai dari kekayaan, keturunan dan kebangsawanan, nama gelar, jabatan maupun status, yang akan membuat serta merta orang dimuliakan, disenangi, dicintai oleh orang-orang sekitar, Rizani (2020).
Pendapat diatas dapat disimpulkan bahwasannya kemulian itu bisa didapatkan dengan kita senantiasa bertutur kata yang sopan dan santun dalam tindakan dan tidak dapat dari gelar, ststus sosial ataupun jabatan.
Orang bugis menjaga adap sopan santun dalama budaya Sipakalebbi’ yaitu dengan memperbaiki cara bicara agar tidak melukai hati, memperbaiki tingkah laku, gerak langkah sederhana atau tidak angkuh (sombong), tidak melebihi. Dalam hal ini senantiasa menjaga tutur katanya, tahu diri, lihat diri, berbuat berdasarkan kepatutan dan tidak dihinakan oleh kepelitan, tidak bangkrut karena boros.
3) Budaya Sipkainge’
Sipakainge’ Merupakan arti dari mengingatkan. Dalam budaya bugis pentingnya saling mengingatkan. Sipakainge', merupakan sifat saling mengingatkan. Hal yang tak dapat di pungkiri dari manusia yaitu, memiliki kekurangan. Karena tentunya manusia tidaklah sempurna, walaupun manusia adalah ciptaan-Nya yang paling sempurna di muka bumi ini. Budaya Sipakainge’
hadir sebagai penuntun bagi masyarakat bugis untuk saling mengingatkan satu samalain. Sipakainge’ ini diperlukan dalam kehidupan untuk memberikan masukan baik berupa kritik dan saran satusama lain. Mengingat manusia tidak terlepas dari kekhilafan dan dosa sehingga sebagai manusia yang hidup dalam struktur masyarakat diharapakan saling mengingatkan ketika melakukan tindakan yang di luar norma dan etika yang ada. Kritik dan saran ini tentunya dibutuhkan untuk melakukan perbaikan atas kesalahan dan kekurangan yang dilakukan (Razak, 2015).
Adab-adab menginatkanpun tidak terlepas dari pegangan orang bugis yaitu dalam mengingatkan harus;
a) tulus
b) mendahulukan prasangka baik
c) pada waktu dan tempat yang tepat
d) bijak dan lemah lembut saat kita mengingatkan
Diantara sifat Sipakainge’ terdapat pula aplikasi diantaranya ‘Rebba sipatokkong’ artinya tolong menolong dalam hal berintraksi dalam lingkungan.
Dalam hal demikian orang bugis juga harus bisa senantiasa mengingatkan dirinya (intropeksi diri) juga agar bisa tahu diri, tentang kapasitas diri dan kemampuannya sehingga tidak serta merta berperilaku diluar kapasitasnya Rizani (2020).
Dalam adat istiadat orang bugis, salah satu unsur untuk saling mengingatkan agar manusia tidak terjerumus kedalam hal-hal tercela yang dapat menghilangkan kehormatan seseorang. Secara tidak langsung sifat Sipakainge’
yaitu ‘Rebba sipatokkong’ berdampak pula pada penanggulangan kemiskinan, kebodohan, pengangguran yang sangat berbahaya dalam masyarakat, karena dapat membawa seseorang melakukan kejahatan, yaitu mencuri, memajak, membegal dst. Sehingga menyalahi norma-norma hukum.
Rizani (2020) mengatakan Sipakainge’ adalah sebuah nasehat yang bertujuan menyadarkan atau mendidik seseorang dengan memberikan peringatan berdasarkan kebenaran dengan maksud dan tujuan yang baik.
Karena itu nasehat selalu bersifat mendidik. Namun dalam realitanya sebuah nasehat sering bersifat relatif, bergantung standar yang digunakan oleh penasehat maupun yang dinasehati.
Bagan 2.3 Skema Kerangka Pikir B. Kerangka Pikir
Penggunaan buku digital yang menarik ditambah dengan cerita inspiratif layaknya sebuah novel untuk mahasiswa dapat mendukung ketertarikan untuk membacanya sehingga proses penguatan pendidikan karakter diharapkan mampu terlaksana dan bisa menambah motivasi untuk selalu belajar memperkuat karakter pada diri mahasiswa dan bisa diterapkan di kehidupan bermasyarakat sesuai dengan nilai-nilai moral.
Berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan sebelumnya kemudian ide untuk mengembangkan buku digital yang dapat digunakan sebagai penguatan karakter mahasiswa tersebut muncul. Untuk lebih jelasnya dalam memahami pembahasan dalam penelitian ini maka peneliti menggambarkan melalui kerangka pikir sebagai berikut:
MATERI BUDAYA PENDIDIKAN
KARAKTER (LOCAL WISDOM) 3S
BUKU CERITA DIGITAL
Teks Suara Gambar Karakter
Video
1. BUDAYA SIPAKATAU 2. BUDAYA
SIPAKAINGE'
3. BUDAYA SIPAKALEBBI’
beserta cerita inspiratif 3S di kalangan remaja.
Identifikasi Kebutuhan Desain
Uji Validitas dan Kepraktisan U
36 A. Jenis Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pengembangan atau dikenal dengan istilah Research & Development (R&D). R&D merupakan penelitian yang dilakukan melalui tahapan untuk mengembangkan dan melakukan validasi untuk menghasilkan produk buku digital untuk pendidikan karakter mahasiswa di Universitas Negeri Makassar.
Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini mengadopsi langkah-langkah pada model pengembangan ADDIE dalam Januszewski and Molenda (2008) yakni melalui langkah-langkah analisis (analysis), desain (design), pengembangan (development), implementasi (implementation), dan evaluasi (evaluation).
Alasan memilih model pengembangan ADDIE dikarenakan model pengembangan ini terdiri dari tahap yang relatif mudah (lima tahap). ADDIE merupakan kerangka kerja yang runtut dan sistematis dalam mengorganisasikan rangkaian kegiatan penelitian desain dan pengembangan.
B. Tahap-Tahap Penelitian
Sesuai dengan model penelitian Cahyadi (2019) dan pengembangan buku digital penguatan pendidikan karakter mahasiswa melalui intrakurikuler mengadaptasi langkah-langkah model ADDIE.
1. Tahap analysis
Tahap pertama yaitu tahap analisis. Langkah atau tahap pertama yang harus dilakukan sebelum mengembangkan buku cerita inspiratif penguatan pendidikan karakter yaitu dengan menganalisis masalah mendasar yang melatarbelakangi dikembangkannya buku digital penguatan pendidikan karakter di UNM. Cara untuk menentukan adalah dengan melakukan observasi dan wawancara.
Wawancara dapat dilakukan terhadap ketua MKU/MKK/PK. Hasil dari observasi tersebut selanjutnya digunakan sebagai pedoman untuk mencari solusi terhadap permasalahan yang dialami di UNM.
2. Tahap Design
Tahap kedua yaitu tahap design. Tahap kedua yaitu mendesain produk yang telah ditentukan. Desain produk ini dilakukan enam (6) tahap.
1. Telah memilih dan menetapkan software yang digunakan. Software yang digunakan untuk membuat buku digital ini adalah flipbook kvisoft.
2. Membuat sampul depan buku saku dengan tampilan-tampilan yang menarik dengan menggunakan software adobe photoshop untuk mengedit gambar.
3. Membuat halaman beranda, yang berisi halaman menu.
4. Pada halaman menu, terdapat beberapa bagian yaitu pendahuluan, materi, dan cerita. Materi yang telah disusun dalam program Microsoft Word 2013 di copy lalu paste ke program flipbook kvisoft pada halaman menu bagian materi. Dan terakhir ialah daftar pustaka berisi sumber-sumber yang didalam dalam penyusunan buku digital.
5. Menentukan warna, gambar, video yang menarik sebagai pendukung penguatan pendidikan karakter.
6. Setelah selesai, media yang dihasilkan disimpan dalam file berektensi .exe .fdr .html dan apk agar dapat dijalankan di PC maupun android.
3. Tahap Development
Tahap ketiga yaitu tahap pengembangan (development). Pada tahap ini dilakukan pembuatan buku digital. Pertama pembuatan dan mengumpulkan berbagai bahan seperti;
1. Gambar
Dalam hal ini, pengembang membuat karakter untuk ilustrasi pada buku cerita inspiratif penguatan pendidikan.
2. Audio
Audio dalam buku cerita inspiratif 3S menggunakan Fx (Sound Effect) sebagai efek untuk membuka halaman kertas, agar terkesan nyata seperti sedang membuka buku dalam bentuk cetak.
3. Video
Video dalam buku cerita inspiratif 3S sebagai pendukung materi tentang Bugis, seperti perbedaan Suku Makassar, Suku Bugis dan Sulawesi Selatan, 6 Falsafah Masyarakat Suku Bugis dan Asal-usul Masyarakat Suku Bugis.
4. Kemudian langkah selanjutnya adalah pengeditan (layout) menggunakan Microsoft office word.
Pengeditan (layout) tidak terlepas dari acuan story board buku digital cerita inspiratif 3S. Hasil dari produk yang telah selesai diolah akan dikonsultasikan
Analysis
Design
Development Implementation
Evaluation
Gambar 3.1 langkah-langkah model, ADDIE Cahyadi (2019)
kepada ahli isi/materi dan ahli desain/media pembelajaran untuk mengetahui tingkat validitas dari produk yang telah dibuat, kemudian akan direvisi sesuai dengan masukan dan saran dari ahli isi/materi dan ahli desain/media pembelajaran.
5. Tahap Implementation
Tahap kelima yaitu tahap implementasi (implementation). Pada tahap ini telah diimplementasikan produk buku digital cerita inspiratif penguatan pendidikan karakter berbasis budaya lokal 3S kepada mahasiswa angkatan 2020 guna mengetahui kelayakan dan kepraktisan dari buku yang peneliti kembangkan.
6. Tahap Evaluation
Tahap kelima yaitu tahap evaluasi (evaluation). Tahap ini merupakan tahap yang dilakukan untuk mengevaluasi proses pengembangan produk sesuai dengan model yang digunakan. Pada tahap ini digunakan evaluasi formatif yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kepraktisan buku yang dikembangkan. Dalam hal ini diujikan (uji kelompok kecil) produk buku digital dengan 22 mahasiswa Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar.