• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Masyarakat Kabupaten Natuna

N/A
N/A
Riyadh Syafa

Academic year: 2025

Membagikan "Pengembangan Masyarakat Kabupaten Natuna"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN MASYARAKAT KABUPATEN NATUNA

Disusun untuk memenuhi Tugas mata kuliah Perencanaan Berbasis Komunitas Semester Ganjil Tahun Akademik 2020/2021

oleh:

Dzariil Ghifari P L S 10070318013 Fahad Aldi Rizki 10070318017 Alamsyah Al Ghani 10070318018 Riyadh Syafa Hendarsyah 10070318020 Muhammad Reihan Alfaridzi 10070318026

Kelas B

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG 2020 M / 1441 H

(2)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep yang menekankan pada pembangunan ekonomi pada mulanya yang dikembangkan berdasarkan nilai- nilai masyarakat. Konsep ini mencerminkan pandangan baru yang menekankan pada peran serta masyarakat kesinambungan serta fokus pembangunan pada manusia.

Konsep pemberdayaan masyarakat sebagai salah satu alternatif pembangunan yang merubah pandangan pendekatan nasional menjadi pendekatan yang lebih partisipatif. Sebagai suatu usaha, pembangunan merupakan tindakan aktif yang harus dilakukan oleh setiap daerah dalam rangka meningkatkan pendapatan.

Dengan demikian, sangat dibutuhkan peran serta masyarakat, pemerintah, dan semua elemen yang terdapat dalam suatu daerah untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan. Hal ini dilakukan karena kenaikan pendapatan mencerminkan perbaikan dalam kesejahteraan masyarakat.

Pemberdayaan adalah suatu kegiatan yang berkesinambungan, dinamis, secara sinergis mendorong keterlibatan semua potensi yang ada secara evolutif, dengan keterlibatan semua potensi. Dengan cara ini akan memungkinkan terbentuknya masyarakat madani yang majemuk, penuh keseimbangan kewajiban dan hak saling menghormati tanpa ada yang merasa asing dalam komunitasnya (Suhendra, 2006:

75).

Kabupaten Natuna adalah bagian dari Provinsi Kepulauan Riau yang kaya dengan sumberdaya alam seperti minyak dan gas bumi serta kaya dengan hasil laut berupa perikanan. Selain itu, Kabupaten Natuna juga terkenal dengan penghasil minyak dan gas. Secara umum ada tiga masalah pokok yang berkaitan dengan pembangunan di Kabupaten Natuna, yaitu masalah keterbatasan infrastruktur, masalah kemiskinan dan masalah sumberdaya manusia. Oleh karena itu, pemerintah Kabupaten Natuna merancang lima rencana strategis pembangunan menuju Natuna Emas yaitu meningkatan iman dan taqwa, meningkatkan ekonomi, peningkatan kesehatan, peningkatan pendidikan, peningkatan penertiban penegakan hukum (Bappeda, 2007).

(3)

Tanggung jawab pembangunan tidak bisa ditangungkan hanya kepada pemerintah secara keseluruhan, peran serta pihak swasta atau Perusahaan, serta masyarakat diharapkan mampu memberikan kontribusi penyeimbangan struktur dunia usaha lewat program pengembangan masyarakat (community development).

Program- program pemberdayaan masyarakat tersebut diupayakan sinergi dengan program pemerintah setempat.

Berdasarkan program perencanaan pembangunan Kabupaten Natuna, serta menyadari adanya berbagai keterbatasan yang dimiliki oleh pemerintah daerah, maka program pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh Perusahaan dapat dipadukan dengan program-program yang dilaksanakan baik oleh pemerintah daerah, maupun pihak swasta yang lain.

Kajian ini difokuskan pada pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pembangunan struktur perekonomian Kabupaten Natuna. Konsep pemberdayaan hampir menjadi agenda kerja setiap pemerintah. Baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah derah yang menaungi masyarakat paling terkecil. Munculnya konsep pemberdayaan berkaitan dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, berkaitan dengan hal tersebut, maka hal itu dikeluarkan oleh pemerintah sebagai cara untuk mensejahterakan masyarakat, maka dari konsep tersebut, masyarakat mampu mandiri dan disesuaikan dengan potensi yang dimiliki.

1.2 Rumusan Masalah

Kondisi kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Natuna pada umumnya dan Kecamatan Palmatak dan Kecamatan Siantan pada kususnya dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Pulau Jawa, tergolong tertinggal. Kondisi sosial masyarakat seperti pengetahuan, sikap, dan keterampilan belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Begitu juga halnya dengan kondisi ekonomi belum membaik, seperti pendapatan keluarga, kebutuhan sehari-hari, lapangan pekerjaan, pembangunan sarana dan perkembangan jenis usaha serta kondisi penguasaan teknologi. Kondisi ini sangat memerlukan penanganan yang sangat serius dari berbagai pihak, terutama sekali dari pemerintah daerah, namun harus didukung pula oleh masyarakat itu sendiri, serta pihak swasta dan perguruan tinggi.

Salah satu yang menjadi tujuan dari program pengembangan masyarakat (community development) Perusahaan Swasta dan Pemerintah adalah untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara perusahaan, masyarakat sekitar dan

(4)

stakeholders lainnya, sehingga terwujud suatu sinergi dalam pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki masing-masing pihak dalam rangka menciptakan sinergi diantara stakeholders. Oleh karena itu diperlukan strategi dan salah satunya adalah melalui kerjasama kemitraan yang saling melengkapi, saling mendukung, dan saling menguntungkan antara Perusahaan dengan pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Sehubungan dengan itu, pertanyaan dari kajian ini adalah bagaimana pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pembangunan struktur perekonomian Kabupaten Natuna oleh pemerintah dan pihak swasta dibantu partisipasi masyarakat.

1.3 Tujuan Penelitian

Secara umum tujuan kajian ini adalah mengetahui langkah-langkah dan strategi dalam upaya mensinergikan program-program community development Perusahaan dengan program pembangunan daerah Kabupaten Natuna. Secara khusus, penulisan ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui efektifitas dan pandangan stakeholders terhadap program community development dari sisi partisipasi masyarakat.

2. Mengkritisi hubungan pihak swasta dengan Pemerintah Kabupaten Natuna dalam upaya strategi perbaikan program community development di Kabupaten Natuna.

1.4 Tujuan Penelitian

Studi kasus yang di kritisi penulis dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan pembaca literature ini, manfaat tersebut dapat di jelasakan pada poin-poin berikut:

a. Bagi penulis

Penulis dapat mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki, untuk selanjutnya dapat menjadi pelajaran berharga untuk waktu yang akan datang dalam melakukan pengembangan masyarakat di waktu yang akan datang.

b. Bagi pembaca

Pembaca dapat mengetahui informasi yang di dapat melalui litelatur ini, juga menambah wawasan akan pengembangan masyarakat lewat studi kasus yang di kritisi oleh penulis, agar lebih memahami proses serta pengaplikasian pengembangan masyarakat di daerah yang dikaji.

(5)

1.5 Sistematika Penulisan

Untuk memahami lebih jelas laporan ini, maka materi-materi yang tertera pada Laporan Skripsi ini dikelompokkan menjadi beberapa sub bab dengan sistematika penyampaian sebagai berikut:

Bab 1 : Pendahuluan

Berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab 2 : Tinjauan Pustaka

Bab ini berisikan teori yang berupa pengertian dan definisi yang diambil dari kutipan buku yang berkaitan dengan penyusunan artikel serta beberapa literature review yang berhubungan dengan isi kajian.

Bab 3 : Gambaran Studi Kasus

Bab ini berisikan gambaran umum wilayah studi kasus, rencana pengembangan masyarakat, proses pengembangan masyarakat, serta tujuan pengembangan masyarakat di wilayah studi kasus.

Bab 4 : Analisa Kritis Studi Kasus

Bab ini penulis akan memberikan tanggapan dan kritisi serta solusi yang ada dalam contoh kasus pengembangan masyarakat, dan dapat menyimpulkan pengembangan masyarakat yang terjadi di wilayah studi kasus.

(6)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pengembangan Masyarakat

Pengembangan masyarakat merupakan upaya mengembangkan sebuah kondisi masyarakat secara berkelanjutan dan aktif berlandaskan prinsip-prinsip keadilan sosial dan saling menghargai. Selain itu pengembangan masyarakat juga diartikan sebagai komitmen dalam memberdayakan masyarakat lapis bawah sehingga masyarakat memiliki berbagai pilihan nyata menyangkut masa depan mereka.

Menurut Gordon G. Darkenwald dan Sharan B. Meriam, pengembangan masyarakat berintikan kegiatan sosial yang difokuskan untuk memecahkan masalah-masalah sosial. Dalam pengembangan masyarakat, batasan anatara belajar dan bekerja sangat tipis, karena keduanya berjalan secara terpadu.

Maka dari itu, pengembangan masyarakat dapat diartikan sebagai upaya untuk memungkinkan individu maupun kelompok masyarakat untuk dapat memecahkan masalah-masalah sosial serta memiliki pilihan nyata yang menyangkut masa depannya sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

2.2 Prinsip Pengembangan Masyarakat

Secara garis besar terdapat empat prinsip pengembangan masyarakat yaitu:

a. Pengembangan masyarakat menolak pandangan yang tidak memihak pada sebuah kepentingan (disinterest). Pada prinsip ini pengembangan masyarakat berupaya untuk menampakkan nilai- nilai dan mengartikulasikannya secara jelas. Pada prinsip ini pengembangan masyarakat berkomitmen pada masyarakat miskin dan keadilan sosial, hak asasi manusia dan kewarganegaraan, pemberdayaan dan penentuan diri sendiri, tindakan kolektif dan keanekaragaman.

b. Mengubah dan terlibat dalam konflik. Pengembangan masyarakat bertujuan untuk mengubah struktur yang diskriminatif, memaksa dan menindas di masyarakat. Untuk mencapai tujuan ini pengembangan masyarakat membangkitkan, menghadirkan informasi yang tidak menyenangkan dan kadang-kadang mengganggu. Di sini pengembangan masyarakat melengkapi kegiatannya dengan gerakan sosial yang baru seperti hak asasi

(7)

manusia dan gerakan perdamaian.

c. Membebaskan, membuka masyarakat dan menciptakan demokrasi partisipatori. Pembebasan atau liberasi adalah reaksi penentangan terhadap bentuk-bentuk kekuasaan, perbudakan dan penindasan. Pembebasan menuntut pemberdayaan dan otonomi. Pembebasan melibatkan perjuangan menentang dan membebaskan dari orang-orang, idiologi, dan struktur yang sangat berkuasa.

d. Kemampuan mengakses terhadap program-program pelayanan kemasyarakatan. Pengembangan masyarakat menempatkan program- programnya dilokasi yang strategis dapat diakses oleh masyarakat.

Lingkungan fisik yang dicipatakan melelui pengembangan masyarakat memiliki suasana yang bersahabat dan informal, bukan suasana birokratis, formal dan tertekan.

2.3 Fungsi Pengembangan Masyarakat

Pengembangan masyarakat mempunyai fungsi strategis selain mampu memunculkan kesadaran juga potensial menguatkan kapasitas (capacity buliding) sehingga masyarakat berdaya keluar dari jerat kondisi keertinggalan, keterbelakangan, kemerosotan moral, ketunaan, kebodohan, ketakberdayaan dan kemiskinan. Bebrapa fungsi strategis dari pengembangan masyarakat menurut Suharto yaitu:

a. Memberikan pelayanan sosial yang berbasis kepada masyarakat mulai dari pelayanan preventif untuk anak-anak sampai pelayanan kuratif dan pengembangan untuk keluarga yang berpendapatan rendah.

b. Menolong anggota masyarakat yang memiliki kesamaan minat untuk bekerjasama, mengidentifikasi kebutuhan berasama dan kemudian melakukan kegiatan bersama untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

c. Memenuhi kebutuhan orang-orang yang tidak beruntung atau tertindas, baik yang disebabkan oleh kemiskinan maupun oleh deskriminasi berdasarkan kelas sosial, suku, gender, jenis kelamin, usia dan kecacatan.

d. Menekankan pentingnya swadaya dan keterlibatan informal dalam mendukung strategi penanganan kemiskinan dan penindasan termasuk memfasilitasi partisipasi warga agar aktif terlibat dalam pemberdayaan masyarakat.

(8)

e. Meminimalisir kesenjangan dalam pemberian pelayanan, penghapusan deskriminasi dan ketelantaran melalui stategi pemberdayaan masyarakat.

2.4 Model Pengembangan Masyarakat

Jack Rothman mengembangkan tiga model yang berguna dalam memahami konsepsi tentang pengembangan masyarakat yaitu :

a. Pengembangan masyarakat lokal (locality development)

Pengembangan masyarakat lokal adalah proses yang ditujukan untuk menciptakan kemajuan ekonomi dan sosial bagi masyarakat melalui partisipasi aktif serta inisiatif masyarakat itu sendiri. Anggota masyarakat dipandang sebagai masyarakat yang unik dan memiliki potensi, hanya saja potensi tersebut belum sepenuhnya dikembangkan.

b. Perencanaan sosial

Perencanaan sosial dimaksudkan untuk menentukan keputusan dan menetapkan tindakan dalam memecahkan masalah sosial tertentu seperti kemiskinan, pengangguran, kenakalan remaja, kebodohan (buta huruf), kesehatan masyarakat yang buruk

c. Aksi sosial

Tujuan dan sasaran utama aksi sosial adalah perubahan- perubahan fundamental dalam kelembagaan dan struktur masyarakat melalui proses pendistribusian kekuasaan ( distribution of power), sumber (distribution of resources) dan pengambilan keputusan (distribution of decision making).

Pendekatan ini didasarkan pada suatu pandangan bahwa masyarakat adalah sistem klien yang seringkali menjadi korban ketidakadilan struktur. Mereka miskin sebab dimiskinkan, mereka lemah karena dilemahkan, dan tidak berdaya karena tidak diberdayakan, oleh kelompok elit masyarakat yang menguasai sumber-sumber ekonomi, politik dan kemasyarakatan. Aksi sosial berorientasi pada tujuan proses dan tujuan hasil. Masyarakat diorganisir melalui proses penyadaran, pemberdayaan dan tindakan-tindakan aktual untuk merubah struktur kekuasaan agar lebih memenuhi prinsip demokrasi, kemerataan (equality) dan keadilan (equity).

2.5 Tujuan Pengembangan Masyarakat

Tujuan umum pengembangan masyarakat dapat menentukan proses dan orientasi pengambilan keputusan keberlanjutan kegiatan pengembangan

(9)

masyarakat. Beberapa tujuan umum dari pengembangan masyarakat yaitu: 8 a. Mengentaskan masyarakat dari kemiskinan kultural, kemiskinan absolut.

b. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang lebih berkeadilan.

c. Mengembangakan kemandirian dan keswadayaan masyarakat yang lemah dan tak berdaya

d. Meningkatkan status kesehatan masyarakat secara merata

e. Meningkatkan kesempatan wajib belajar sembilan tahun bahkan dua belas tahun bagi setiap anggota masyarakat di desa maupun kota

f. Melepaskan masyarakat dari belenggu ketunaan, keterbelakangan, ketertinggalan, ketidakberayaan, keterisoliran, ketergantungan dan kemerosotan moral.

g. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai bidang kehidupan.

h. Meningkatkan taraf kehidupan masyarakat.

i. Meningkatkan kemauan dan kemampuan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan usaha produktif kreatif berbasis sumber daya lokal.

j. Mengurangi dan menghilangkan berbagai bentuk kecemasan sekaligus kekhawatiran warga yang rentan terkena ancaman kerawanan pangan dan kegagalan panen.

k. Menguatkan daya saing masyarakat di pasar lokal, regional, nasional bahkan internasional yang kompetitif.

l. Mengurangi angka pengangguran

m. Meningkatkan jaminan perlindungan hukum bagi warga grass roots.

n. Meningkatkan jaminan sosial bagi warga miskin dan korban bencana alam.

o. Meningkatkan peluang kerja produktif berbasis ekonomi kerakyatan.

p. Mengembangkan fungsi kelembagaan lokal untuk pemberdayaan warga grass roots.

q. Membangun masyarakat kreatif dan komunikatif dalam mengakses ragam informasi pembangunan inovatif.

r. Menguatkan kesadaran masyarakat agar tidak bergantung pada pihak donor atau pemberi dana bantuan.

(10)

BAB III

GAMBARAN STUDI KASUS 3.1 Profil Wilayah

Ruang lingkup wilayah dalam penelitian ini adalah Kabupaten Natuna. Natuna disamping sebagai nama pulau juga sebagai nama salah satu kabupaten yang tergabung dalam Provinsi Kepulauan Riau, yaitu Kabupaten Natuna. Pulau yang tergabung dalam gugusan Pulau Tujuh ini berada di lintasan jalur pelayaran internasional dari dan atau ke Hongkong, Taiwan, Korea dan Jepang.

Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Sindu Galba dan Abdul Kadir Ibrahim (2000) menyebut sebagai pintu gerbang bagi negara tetangga, seperti: Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Malaysia.Secara geografis, Kabupaten Natuna terletak pada titik koordinat 10 16’ -7 0 19’ Lintang Utara dan 1050 00’ -1100 00’ Bujur Barat, yang terdiri dari 2 (dua) gugusan pulau, yaitu:

1. Gugusan Pulau Natuna, terdiri atas pulau-pulau di Bunguran, Sedanau, Midai, Pulau Laut dan Pulau Tiga

2. Gugusan Pulau Serasan, terdiri atas pulau-pulau di Serasan, Subi Besar dan Subi Kecil.

Terdapat 7 Pulau terluar di Kabupaten Natuna yaitu Pulau Kepala, Pulau Subi Kecil, Pulau Senoa, pulau Sekatung, Pulau Sebetul, Pulau Semiun dan Pulau Tokong Boro.

Diantara 7 Pulau terluar yang berpenghuni Pulau Subi Kecil. Sedangkan pulau lain tidak berpenghuni.

Secara administrasi Kabupaten Natuna berbatasan dengan:

• Sebelah Utara dengan Vietnam dan Kamboj.

• Sebelah Selatan dengan Kabupaten Bintan Kepulauan Riau.

• Sebelah Timur dengan Semenanjung Malaysia Timur dan Kalimantan Barat

• Sebelah Barat dengan Kabupaten Kepulauan Anambas.

(11)

Gambar 1 Peta Kabupaten Natuna Sumber : Hasil Kelompok, 2020

(12)

Secara administratif, menurut UU Nomor 33 Tahun 2008, Kabupaten Natuna memiliki luas wilayah 264.198,37 km2 . Dengan luas daratan 2.001,30 km2 dan lautan 262.197,07 km2 , yang terdiri dari 12 kecamatan dan 139 pulau dengan rincian 25 pulau sudah dihuni dan 114 belum dihuni. 12 (dua belas) kecamatan tersebut, yaitu:

Tabel 3.1

Luas wilayah Kabupaten Natuna dirinci perkecamatan

Sumber : Kecamatan Natuna dalam angka, 2008 Keterangan;

*: luas lautan berdasarkan perkiraan, dihitung dari garis pantai kearah laut territorial.

**: luas lautan berdasarkan perkiraan, dihitung 4 mil dari garis pantai.

Adapun alasan yang mendasari pemilihan Kabupaten Natuna sebagai kajian studi adalah sebagai berikut :

1. Kabupaten Natuna merupakan salah satu kawasan di Indonesia yang memiliki potensi sumberdaya kelautan dan pesisir yang sangat besar. Keberadaan terumbu karang, hutan mangrove, serta keanekaragaman flora dan fauna laut merupakan potensi yang memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan, baik di bidang produksi maupun di bidang pariwisata.

2. Kabupaten Natuna yang merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di kawasan perbatasan yang berbatasan langsung dengan Negara Malaysia, Vietnam dan Filipina serta merupakan Pusat Kegiatan Strategis Nasional dimana

(13)

usaha dan atau kegiatannya berdampak besar terhadap kondisi geopolitis dan pertahanan keamanan nasional serta regional.

3. Selain letaknya yang strategis kawasan Pulau Natuna dan sekitarnya pada hakikatnya dikaruniai serangkaian potensi sumber daya kelautan dan pesisir yang belum dikelola secara memadai serta pemanfaatannya tidak melihat aspek kelestarian lingkungan.

3.2 Rencana Pengembangan Masyarakat

Rencana pengembangan masyarakat yang akan dilakukan oleh pemerintah kabupaten Natuna adalah sebagai berikut:

a. Memberikan dukungan kepada masyarakat yang berhubungan dengan aspek penguatan kelembagaan dengan cara memberikan pelatihan- pelatihan usaha ekonomi, manajemen organisasi serta analisis pemasaran;

b. Mengoptimalkan kehadiran tenaga konsultan secara berkelanjutan untuk mengevaluasi dan me-monitoring program-program dalam bidang ekonomi yang telah dilakukan dengan sistem kontrak;

c. Menyarankan kepada pemerintah untuk dapat membuat standar harga hasil produksi petani;

d. Bekerjasama dengan pemerintah terkait untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya kerjasama dalam kelompok dengan melibatkan LSM;

e. Menyarankan kepada pemerintah untuk dapat memberikan dukungan berupa modal usaha dengan sistem yang mudah.

3.3 Tujuan Pengembangan Masyarakat

Membantu masyarakat dalam pengolahan VCO, tempurung kelapa, dan penyediaan bantuan bibit unggul, pengadaan sarana produksi kerja (KUB) serta pemberdayaan perempuan guna meningkatkan pendapatan rumah tangga.

3.4 Proses Pengembangan Masyarakat

Proses program pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui beberapa upaya yang diantaranya adalah:

a. Pembentukan dan Pengorganisasian Sistem Kelembagaan

Kegiatan ini diawali dengan pembentukan kelompok-kelompok dampingan oleh pihak pemerintah desa. Melalui mekanisme kelompok akan dibangun konsensus-konsensus atau komitmen bersama untuk menyelesaikan persoalan

(14)

komunitas. Melalui kegiatan kelompok juga diharapkan dapat digali ide-ide atau gagasan yang selanjutnya akan dikembangkan secara bertahap sebagai proses pembelajaran partisipatif demi kemajuan kelompok dan masyarakatnya. Antar kelompok juga dapat membentuk networking baik di bidang kegiatan usaha produktif, sharing pengetahuan dan pengalaman, informasi dan yang lebih penting adalah dalam rangka menghimpun kekuatan bersama sehingga mereka memiliki posisi yang lebih kuat.

b. Meningkatkan Kualitas Sumberdaya Manusia

Peningkatan kualitas sumberdaya masyarakat dilakukan melalui kegiatan- kegiatan pelatihan, belajar bersama, diskusi kelompok, diklat, magang, studi banding, seminar, dan sebagainya. Hal tersebut dapat dilakukan oleh pihak pemerintah dan instansi terkait lainnya yang dapat juga bekerjasama dengan perguruan tinggi.

c. Menciptakan dan Mengembangkan Usaha Produktif

Kegiatan usaha produktif diarahkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, yang berarti penguatan masyarakat dibidang ekonomi. Jenis kegiatannya berupa pengembangan usaha produktif yang sudah ada, atau membuka bidang usaha baru.

Penguatan masyarakat melalui pendekatan ekonomi akan dapat meningkatkan motivasi anggota dalam berkelompok karena sebagian kepentingan mereka dapat terpenuhi. Di pihak lain, keberhasilan dalam peningkatan ekonomi kelompok dapat memotivasi orang lain untuk ikut berkelompok. Sehingga keberhasilan kegiatan pendampingan memiliki peran yang sangat penting dalam menunjang kegiatan-kegiatan selanjutnya.

program pembangunan daerah di Kabupaten Natuna adalah sebagai berikut:

(1) mendorong pembentukan sebuah forum musyawarah kemitraan pembangunan di tingkat kecamatan dan kabupaten

(2) meningkatkan kualitas kemampuan dan keterampilan petugas lapangan dalam menganalisa suatu permasalahan yang berkaitan dengan pendidikan dan budaya, kesehatan, ekonomi, serta fasum/fasos dengan cara memberikan kesempatan untuk mengikuti training, seminar, dan kursus-kursus keahlian yang relevan

(3) mengembangkan sistem informasi masyarakat

(15)

(4) melakukan rancangan umum program per bidang dari aspek tujuan (jangka pendek, sedang dan panjang), strategi, dan prioritas program (visi/misi) (5) meningkatkan intensitas komunikasi para petugas public relation maupun

community officer perusahaan kepada pemerintah kabupaten secara lebih terjadwal dalam rangka membangun dukungan pemerintah dan mensinergikan program-program pengembangan masyarakat dengan program pembangunan daerah.

(16)

BAB IV

ANALISA KRITIS STUDI KASUS 4.1 Kritisi

Rencana pengembangan masyarakat yang berada dikabupaten natuna ini bersifat komperhensif dan bertujuan untuk jangka panjang. Program program untuk mengembangkan sumber daya manusia dengan cara mengadakan pelatihan, sharing session ataupun seminar dapat mengembangkan kemampuan masyarakat apalagi ketika masyarakat lebih diarahkan kepada usaha produktif yang dapat mengoptimalkan sumber daya alamnya tetapi dengan wilayah studi yang cukup luas yaitu kabupaten akan lebih sulit untuk dapat mengontrol dan mewujudkan program tersebut walau adanya dampingan dari pemerintah desa, pola pikir masyarakat terlebih dahulu yang harus diubah dan diselaraskan dengan program program masyarakat yang akan diwujudkan. Meningkatnya juga kemungkinan telatnya distribusi dana dari pemerintah kabupaten karena setiap kelompok masyarakat akan dibimbing oleh pemerintah desa termasuk adanya terpangkasnya dana yang disalurkan pemerintah kabupaten untuk pemerintah desa. Selain itu adanya kepentingan beberapa kelompok elit politik yang merugikan masyarakat diantaranya masyrakat merasa dimiskinkan, di lemahkan dan di tidak berdayakan untuk menguasi ekonomi, hal tersebut perlu di tindak lanjuti karena jika hal it uterus terjadi maka akan membuat masyrakat merasa semakin terpuruk.

4.2 Solusi

Dengan program yang mengandalkan pelatihan atau seminar, pemerintah setempat didorong untuk bisa mengoptimalkan sumber daya manusia setempat.

Maka dari itu pemerintah baiknya menggunakan pendekatan partisipatif fungsional, yang dimana lapisan bawah sebagai pelaku utama dalam program yang akan diwujudkan. Untuk meminimalisir telatnya disrtribusi dana, pemerintah setempat harus mengumpulkan tepat waktu syarat administrasi yang dibutuhkan, dan Dana yang disalurkan baiknya melalui KPPN di masing-masing Kabupaten/Kota. Dengan demikian, apabila ada masalah maka tidak perlu ke Jakarta untuk berkonsultasi, tapi cukup ke KPPN setempat. Selain dengan pendekatan partisipatif untuk melakukan pendekatan terhadap masyarakat perlu juga dengan diadakannya aksi sosial dimana hal tersebut dilakukan untuk menghindari hal-hal yang merugikan masyarakat yang

(17)

disebabkan oleh pihak elit politik yang mementingkan kepentingan beberapa kelompok, dengan adanya aksi sosial ini maka Masyarakat diorganisir melalui proses penyadaran, pemberdayaan dan tindakan-tindakan aktual untuk merubah struktur kekuasaan agar lebih memenuhi prinsip demokrasi, kemerataan (equality) dan keadilan (equity). Sehingga tidak ada lagi masyrakat yang merasa dimiskinkan , di lemahkan, dan tidak di berdayakan oleh elit politik yang menguasi ekonomi.

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Fahrudin, Adi. "Pemberdayaan, Partisipasi dan Penguatan Kapasitas Masyarakat." Bandung: Humaniora (2011).

Hariyoga, Himawan. "Strategi Mensinergikan Program Pengembangan Masyarakat Dengan Program Pembangunan Daerah." Jurnal Manajemen Pembangunan Daerah 5.1 (2013).

Huraerah, Abu. ”Pengorganisasian Dan Pengembangan Masyarakat: Model dan Strategi Pembangunan Berbasis Kerakyatan.” Humaniora, 2008.

Nasdian, Fredian Tonny. “Pengembangan Masyarakat.” Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014.

Sendri, Sukarjo. "Pemberdayaan Masyarakat Nelayan Di Desa Air Payang Kecamatan Pulau Laut Kabupaten Natuna." Pemberdayaan Masyarakat Nelayan Di Desa Air Payang Kecamatan Pulau Laut Kabupaten Natuna 2180 (2018).

Referensi

Dokumen terkait

Pembinaan dan Pengembangan Sumber Daya Komunikasi dan Informatika - Arsip. DINAS PERHUBUNGAN, KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

Partisipasi Masyarakat dalam Program Pemerintah Penanggulangan Kemiskinan (Studi Kasus Partisipasi Masyarakat dalam Tahap Perencanaan Program Nasional Pemberdayaan

Hasil penelitian ini berjudul “Partisipasi Masyarakat Dalam Pengembangan Pariwisata Pantai Pasir Putih Parbaba (Studi pada Desa Huta Bolon, Kecamatan Pangururan,

Hasil penelitian ini berjudul “Partisipasi Masyarakat Dalam Pengembangan Pariwisata Pantai Pasir Putih Parbaba (Studi pada Desa Huta Bolon, Kecamatan Pangururan,

Hasil dan Pembahasan Pengaruh Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Dalam Upaya Pembangunan Berkelanjutan pada Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Wonosobo melalui KUBE

2023Hubungan Karakteristik Sosial Ekonomi Dengan Partisipasi Masyarakat Dalam Pelaksanaan Agroforestri Di Desa Bungku Kabupaten Batanghari Jurnal Pembangunan Berkelanjutan, 61; 70-77

Partisipasi masyarakat diperlukan dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan yang memperhatikan dampak ekonomi, sosial budaya, dan

Dokumen ini membahas tentang pentingnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan upaya pemberdayaan masyarakat di Indonesia, khususnya setelah era