URAIAN PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA
A. URAIAN PENDEKATAN TEKNIS
Di setiap tingkatan tim Perencana diperlukan disiplin yang tinggi untuk menerapkan tata cara pengendalian mutu baik yang menyangkut mutu kerja dan mutu hasil kerja Kontraktor dan Konsultan. Pengendalian mutu memegang peranan yang sangat penting karena berkaitan dengan cara kerja kontraktor dan konsultan.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari pelaksanaan di lapangan diterapkan system kendali mutu yang diterapkan dari awal dengan penjelasan yang detil mengenai system ini pada saat pre- contruction meeting. Sistem kendali mutu ini akan disiapkan oleh konsultan secara sistematis dengan form -form yang telah dibuat sebelumnya.
Form tersebut akan dibahas pada saat awal konstruksi sehingga dapat dievaluasi dengan baik dan dilakukan perubahan –perubahan seperlunya oleh konsultan apabila ada hal-hal yang perlu disesuaikan dengan keadaan masing -masing proyek.
Dengan diterapkannya secara khusus system ini maka akan semakin mudah untuk melakukan kontroling dalam bidang mutu dan diharapkan pelaksanaan pekerjaan juga dapat dilaksanakan dengan lebih cepat dan bermutu. Melalui Field Team dilakukan standarisasi prosedur, tata cara kerja, pelaporan, dan hal lainnya yang terlibat dengan Perencanaan di lapangan. Standarisasi kami anggap sangat penting dalam menyamakan presepsi dalam pelaksanaan di lapangan, menghindari
perbedaan-perbedaan antara konsultan dan kontraktor dalam pemahaman Management proyek secara umum dan secara khusus.
Penerapan ini secara langsung dapat mendukung tertib administrasi dari sejak awal hingga akhir proyek sehingga pada saat PHO segala hal yang menyangkut administrasi dapat dipenuhi dengan baik dan benar.
Standarisasi ini saling mendukung antara system kendali mutu yang diterapkan sehingga dapat menciptakan iklim pelaksanaan yang kondusif dan persoalan - persoalan rutin yang sering dijumpai dapat diselesaikan dengan cepat.
B. METODOLOGI
Metodologi Penyusunan BELANJA MODAL BANGUNAN AIR KOTOR LAINNYA PERENCANAAN REHABILITASI SALURAN DRAINASE PERKOTAAN (PAKET 3)
dilaksanakan dengan tahap – tahap sebagai berikut : 1. STANDAR PERENCANAAN
Limpasan air hujan yang jatuh pada suatu lahan akan mengalir dengan kecepatan dan waktu pengaliran tertentu tergantung dari kemiringan lahan tersebut. Limpasan tersebut akan mengalir menuju tempat yang lebih rendah berupa cekungan - cekungan maupun saluran drainase terdekat. Kawasan perencanaan penyusunan Master Plan Drainase Perkotaan Kabupaten memiliki lahan yang relatif datar, sehingga jika limpasan tersebut tidak dapat mengalir dengan baik maka akan mengakibatkan terjadinya genangan atau banjir.
Untuk meminimalisir dampak genangan yang terjadi maka sebisa mungkin limpasan air hujan dialirkan menuju saluran terdekat untuk menerima air hujan sementara, yang kemudian dialirkan menuju sistem yang lebih besar hingga berakhir pada pembuangan akhir yang biasa disebut sebagai badan air. Satu kesatuan jaringan drainase
yang dimulai dari saluran drainase terkecil hingga badan air disebut sebagai sistem drainase.
Sistem drainase pada prinsipnya terbagi atas dua macam yaitu drainase untuk perkotaan dan drainase daerah pertanian (irigasi). Pada p erencanaan dan pengembangan sistem drainase perkotaan perlu kombinasi antara perkembangan perkotaan (urban), daerah pedesaan (rural), dan daerah aliran sungai (DAS). Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak- anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. Secara garis besar fungsi dari saluran drainase adalah:
Mengurangi (memperkecil) genangan air atau banjir pada suatu wilayah (terutama yang padat permukiman);
Memperkecil resiko kesehatan lingkungan yang buruk, lingkungan bebas dari nyamuk dan penyakit lainnya, karena air mengalir dengan lancar sehingga tidak ada genangan;
Saluran drainase seringkali juga digunakan sebagai pembuangan air rumah tangga. Semua sistem aliran pembuangan rumah tangga dialirkan menuju sistem drainase.
Standar yang digunakan pada pekerjaan Master Plan Drainase Perkotaan Kabupaten ini adalah Standar Nasional Indonesia (SNI) yang terdiri dari:
SNI 03-2401-1991 tentang tata cara perencananaan umum bendung;
SNI 03-2406-1991 tentang tata cara perencanaan umum drainase perkotaan;
Revisi SNI 03-2415-1991 tentang tata cara perhitungan debit banjir;
SNI 03-2851-1991 tentang tata cara perencanaan teknis bendung penahan sedimen;
SNI 03-1724-1989 tentang tata cara perencanaan hidrologi dan hidraulik untuk bangunan di sungai.
Beberapa referensi / literatur yang dapat dijadikan pedoman dalam penyusunan Penyusunan Master Plan Drainase Kota adalah:
Perubahan tata guna lahan akibat adanya perkembangan suatu kawasan harus diiringi dengan tersedianya sistem drainase beserta fasilitas pendukungnya untuk dapat meminimalisir dampak yang mungkin terjadi akibat adanya pengembangan tersebut yaitu genangan dan banjir.
Sehingga konsep pengendalian yang dilakukan harus bersifat terkait antara satu dengan lainnya. Metode konvensional yang dulu digunakan dalam sistem drainase adalah mengalirkan air hujan sesegera mungkin m enuju ke pembuang akhir. Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah fluktuasi elevasi muka air pada pembuang akhir yang mengakibatkan air hujan pada saluran drainase tidak dapat disegerakan mengalir ke laut.
Beberapa penanganan yang ada dari permasalahan tersebut yaitu dibuatkan tanggul, retarding basin akan tetapi penanganan dengan metode tersebut juga tidak cukup mampu dilakukan untuk mengurangi dampak genangan dan banjir. Dalam hal ini diperlukan suatu penanganan yang tidak parsial, namun harus terintegrasi secara keseluruhan antara Pemerintah Kabupaten , pengembang, beserta masyarakat sebagai pengguna fasilitas drainase. Penanganan yang ada harus merupakan suatu perencanaan yang bersifat komprehensif yang merupakan kombinasi beberapa hal, yaitu :
Pengukuran daerah aliran sungai, seperti konstruksi dari fasilitas yang didesain untuk meningkatkan kemampuan tangkapan dan tampungan dalam suatu daerah aliran sungai dan pengembangan tata guna lahan dan bangunan yang mempunyai daya tahan tinggi terhadap banjir; dan
Pengukuran kerugian akibat banjir, seperti membuat sistem peringatan dini dan evakuasi.
A. Perencanaan Sistem Drainase Terpadu Secara Umum
Air hujan yang jatuh di suatu daerah perlu dialirkan atau dibuang agar tidak terjadi genangan atau banjir. Caranya yaitu dengan pembuatan saluran yang dapat menampung air hujan yang mengalir di permukaan tanah tersebut. Sistem saluran di atas selanjutnya dialirkan ke sistem yang lebih besar. Sistem yang paling kecil juga dihubungkan dengan saluran rumah tangga, sistem bangunan infrastruktur lainnya. Sehingga apabila cukup banyak limbah cair yang berada dalam saluran tersebut perlu diolah (treatment). Seluruh proses ini disebut dengan sistem drainase.
Dalam perencanaan sistem drainase harus selalu beriringan dengan pengembangan kawasan perkotaan/permukiman beserta daerah aliran sungai. Maksud hal tersebut adalah, pengembangan suatu kawasan akan selalu disertai dengan penyediaan fasilitas saluran drainase. Dalam perencanaan saluran drainase terkait jaringan drainase harus terintegrasi dengan sistem drainase eksisting.
Fungsi dari saluran drainase adalah:
Menerima limpasan air hujan untuk dapat dialirkan menuju pembuang akhir berupa sungai, danau maupun laut. Sehingga air hujan yang jatuh pada lahan tidak menjadi genangan.
Permasalahan genangan yang terjadi akan meningkatkan resiko terganggunya kesehatan masyarakat, dengan adanya penyediaan fasilitas saluran drainase maka secara tidak
langsung juga akan meminimalisir resiko terserangnya penyakit yang disebabkan oleh genangan.
Penentuan dimensi saluran drainase sangat ditentukan oleh beberapa hal diantaranya adalah koefisien pengaliran yang dipengaruhi oleh fungsi lahan, hujan rencana periode ulang, waktu pengaliran yang ditentukan oleh jaringan drainase, dan luas lahan.
Dalam menentukan dimensi sistem drainase, intensitas hujan dengan periode ulang tertentu di suatu sistem jaringan drainase dipakai sebagai dasar analisis perhitungan karena kuantitasnya jauh lebih besar dibandingkan aliran dari rumah tangga atau domestik lainnya.
Sesuai dengan prinsip sebagai jalur pembuangan maka pada waktu hujan, air yang mengalir di permukaan diusahakan secepatnya dibuang agar tidak menimbulkan genangan-genangan yang dapat mengganggu aktivitas di perkotaan dan bahkan dapat menimbulkan kerugian sosial ekonomi terutama yang menyangkut aspek-aspek kesehatan lingkungan pemukiman kota. Namun bagi perkembangan sumber daya air, perlu diperhatikan pula daerah resapan yang bisa difungsikan, sehingga air hujan tidak terbuang percuma ke laut karena merupakan sumber air yang dapat dipakai pada musim kemarau.
Ukuran dan kapasitas saluran sistem drainase smakin ke hilir s emakin besar, karena semakin luas daerah alirannya. Sebuah sistem drainase harus dirancang dengan usaha-usaha secara terpadu yaitu secara teknis maupun non teknis. Secara teknis, perencanaan harus berdasarkan atas filosofi bahwa air harus secepatnya dialirkan dan seminimal mungkin menggenang di suatu kawasan. Oleh karena itu sistem drainase dapat berupa tampungan (waduk/bozem/retardasi basin), saluran drainase, dan konservasi air (sumur resapan, waduk at au danau kota, hutan kota).
Mengacu pada maksud dari pekerjaan penyusunan Master Plan Drainase Perkotaan Kabupaten dalam hal peningkatan dan pengembangan sistem drainase kawasan perencanaan akan senantiasa beriringan dengan pengembangan konstruksi dan pemeliharaan yang dilakukan secara berkala. Akan tetapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut seringkali mengalami banyak kendala, diantaranya adalah :
Adanya penumpukan sampah pada saluran drainase akibat dari aktivitas dari masyarakat sekitar, sehingga mengakibatkan berkurangnya kapasitas dari penampang saluran drainase.
Belum terkoordinasi dengan baik antara developer dengan Pemerintah Kabupaten terkait dengan pengembangan dan penyediaan sistem drainase.
Pengembangan lahan kosong menjadi lapisan kedap tanpa mempertimbangkan penambahan debit limpasan air hujan yang masuk pada saluran drainase.
Kurangnya ketersediaan lahan untuk memenuhi kebutuhan sistem drainase yang disebabkan oleh penggunaan fungsi lahan.
Kurangnya lahan untuk pengembangan sistem drainase karena
sudah berfungsi untuk tata guna lahan tertentu.Sistem drainase sering tidak berfungsi optimal akibat adanya pembangunan infrastruktur lainnya yang tidak terpadu dan tidak melihat keberadaan sistem drainase seperti jalan, kabel telkom, pipa PDAM.
Pada Gambar di atas menggambarkan konsep sistem pengendalian banjir. Berdasarkan gambar tersebut terdapat tiga hal dalam perencanaan sistem drainase yang dapat diterapkan pada kawasan perencanaan untuk pengendalian banjir, yaitu:
Saluran drainase terbuka di perumahan. Seperti saluran drainase pada umumnya, saluran drainase terbuka ini akan langsung menuju sungai utama.
Kolam resapan kolektif di perumahan. Sumur resapan tersebut bermanfaat pada suatu kawasan pemukiman yang memiliki ukuran kapling terbatas, dimana satu sumur resapan kolektif d apat melayani beberapa rumah.
Saluran drainase di wilayah perdagangan dan jasa, misalnya saluran yang terdapat diantara bangunan atau saluran/tampungan di lantai dasar/ basemen.
B. Perencanaan Sistem Drainase Terpada Pada Kawasan Perkotaan 1) Drainase Air Hujan Daerah Perkotaan
Drainase adalah istilah yang dipergunakan untuk sistem- sistem bagi penanganan air kelebihan. Kebanyakan kota besar mempunyai drainase hujan tertentu dan sistem-sistem bisa jadi cukup mahal. Penelitian yang akhir-akhir menyatakan bahwa limpasan hujan merupakan sumber pencemaran yang penting telah meningkatkan biaya potensial. Drainase air hujan daerah perkotaan adalah pengendalian banjir dalam lingkup kecil dengan keistimewaan bahwa data aliran yang ditelitinya hampir tak pernah tersedia.
Pada drainase perkotaan, pemecahan klasik yang dilakukan adalah perbaikan saluran, baik berupa perbaikan selokan maupun saluran air hujan bawah tanah. Kadang-kadang w aduk kecil juga berguna bagi pengurangan puncak banjir setempat. Tetapi karena pentingnya perubahan-perubahan tata guna lahan dalam kaitannya dengan urbanisasi, hanya sedikit saja data aliran yang berarti dalam daerah tersebut.
Di kota-kota besar, air hujan biasanya ditampung di jalan- jalan dan dialirkan melalui pemasukan-pemasukan ke dalam pipa- pipa bawah tanah yang akan membawanya ke tempat-tempat dimana dapat dituangkan dengan aman ke dalam suatu sungai, danau atau laut. Perencanaan dari suatu proyek drainase membutuhkan peta detail dari daerah yang bersangkutan, dengan skala antara 1:1.000 dan 1:5.000. Interval garis tinggi haruslah c ukup kecil untuk dapat menetapkan garis-garis pemisah antara berbagai sub- drainase di dalam sistem itu. Elevasi permukaan bahan pada persilangan- persilangan jalan dan sudut kemiringan antara persilangan- persilangan haruslah ditunjukkan hingga 0,1 ft (0,03 m) yang terdekat.
Langkah pertama dalam perencanaan pekerjaan drainase hujan adalah penetapan jumlah air yang harus ditampung. Pada kebanyakan kasus, yaitu dibutuhkan hanyalah perkiraan besar aliran puncak, tetapi bila direncanakan adanya penampungan atau pemompaan air, maka volume aliran harus pula diketahui.
Bangunan drainase biasanya direncanakan untuk dapat membuang aliran dari suatu hujan yang mempunyai jangka waktu ulang tertentu. Pada daerah tempat tinggal, barangkali hanya sedikit kerugian yang didapat dari pengisian selokan-selokan dan penggenangan persilangan-persilangan jalan beberapa kali
Letak dari bangunan-bangunan sadap di jalan terutama ditetapkan oleh pertimbangan dari perencana. Di daerah pemukiman, pada perencanaan bangunan sadap menghasilkan 4 buah bangunan pada setiap persilangan seperti pada gambar 2.3 (a), dengan pengaturan ini maka aliran akan bergerak hanya dalam satu blok sebelum penyadapan. Pengaturan yang lebih murah hanya menyediakan dua buah bangunan sadap di sudut hulu persimpangan
Pada pemukiman, suatu pengaturan seperti pada gambar 2.3 (b) dapat sangat mencukupi asalkan jarak bangunan- bangunan sadap ditetapkan sedemikian rupa agar aliran di selokan tidak terlalu besar sehingga menggenangi trotoar, lapangan atau rumah-rumah. Di daerah perdagangan dengan lalu lintas pejalan kaki dan kendaraan yang padat, pengaturan seperti gambar 2.4 akan lebih tepat.
2) Sistem Drainase Terpisah
Kebanyakan kota besar di dunia memiliki sistem saluran drainase terpisah. Salah satu fungsinya adalah mengumpulkan limbah rumah tangga, serta limbah
industri, saluran drainase lainnya mengumpulkan aliran air dari limpasan permukaan. Berikut ini adalah skema dari sistem drainase terpisah yaitu antara saluran drainase limbah (limbah rumah tangga, industri dan peternakan) dan saluran drainase limpasan permukaan (dari talang, jalan raya dan sebagainya).
Sistem drainase limpasan permukaan terdiri dari saluran terbuka, saluran drainase, inlet dan pipa. Sistem ini terpisah dari sistem pembuangan limbah. Sistem pembuangan limbah (dari kamar mandi, toilet, dan sebagainya) dikelola oleh suatu lembaga pengelola tertentu, sedangkan untuk sistem drainase limpasan air permukaan tidak terkelola. Semua air yang melimpas di atas permukaan lahan mengalir menuju sungai yang berakhir di laut.
3) Perencanaan Sistem Drainase Terpadu Di Lapangan/ Sub Surface Drainage
Saluran drainase bawah permukaan bertujuan mengalirkan air limpasan permukaan melalui media di bawah tanah permukaan tanah (pipa-pipa/sub surface drainage), atau berupa suatu cekungan di daerah yang mempunyai elevasi rendah dari suatu kota yang digunakan sebagai tampungan air dan sarana peresapan air, dikarenakan alasan-alasan tertentu. Alasan itu antara lain: tuntutan, tuntutan fungsi permukaan tanah yang tidak memperbolehkan adanya saluran
permukaan tanah seperti lapangan sepak bola, lapangan terbang, taman dan lain-lain.
Gambar menunjukkan bahwa diberi tampungan sementara untuk menampung limpasan permukaan. Di lapangan sepakbola dipasang drainase bawah permukaan yang langsung disalurkan menuju ke saluran primer terdekat. Membuat konstruksi saluran banjir bawah tanah adalah cara yang efektif untuk memecahkan masalah dari banjir di perkotaan, karena di kota sangat sulit untuk membuat saluran banjir yang baru.
C. Banjir dan Genangan
1) Penyebab Banjir dan Genangan
Banjir dan genangan yang terjadi di suatu lokasi diakibatkan antara lain oleh sebab-sebab berikut ini :
Perubahan tata guna lahan (land-use) di daerah aliran sungai (DAS);
Pembuangan sampah;
Erosi dan sedimentasi;
Kawasan kumuh di sepanjang sungai/drainase;
Perencanaan sistem pengendalian banjir tidak tepat;
Curah hujan;
Pengaruh fisiografi/geofisik sungai;
Kapasitas sungai dan drainase yang tidak memadai;
Pengaruh air pasang;
Penurunan tanah dan rob;
Drainase lahan;
Bendung dan bangunan air; dan
Kerusakan bangunan pengendali banjir
Apabila diklasifikasikan oleh tindakan manusia dan yang disebabkan oleh alam maka penyebab di atas dapat disusun sebagai berikut.
Yang termasuk sebab-sebab banjir karena tindakan manusia adalah:
Perubahan tata guna lahan (land-use);
Pembuangan sampah;
Kawasan kumuh di sepanjang sungai/drainase;
Perencanaan sistem pengendalian banjir tidak tepat;
Penurunan tanah dan rob;
Tidak berfungsinya sistem drainase lahan;
Bendung dan bangunan air; dan
Kerusakan bangunan pengendali banjir Yang termasuk sebab- sebab alami diantaranya adalah:
Erosi dan sedimentasi;
Curah hujan;
Pengaruh fisiografi/geofisik sungai;
Kapasitas sungai dan drainase yang tidak memadai;
Pengaruh air pasang; • Penurunan tanah dan rob; dan
Drainase lahan.
No Penyebab Banjir dan Genangan
Alasan Mengapa Prioritas Penyeba b Alam atau Manusia 1 Perubahan
Tata Guna Lahan
Debit Puncak naik dari 5 sampai 35 kali karena air yang meresap
kedalam tanah sedikit
mengakibatkan aliran air permukaan (run off) menjadi besar, sehingga berakibat debit menjadi besar dan terjadi erosi dan berakibat sedimentasi.
Manusia
2 Sampah Sungai atau drainase tersumbat dan jika air melimpah keluar karena daya tampung saluran berkurang
Manusia
3 Erosi Dan Sedimentasi
Akibat perubahan tata guna lahan, terjadi erosi yang berakibat
sedimentasi masuk
Manusia Dan Alam kesungai sehingga daya
tampung sungai berkurang.
4 Kawasan kumuh di sepanjang sungai/
drainase
Dapat merupakan penghambat aliran, maupun daya tampung sungai.
Masalah kawasan kumuh dikenal sebagai faktor penting terhadap masalah banjir daerah perkotaan.
Manusia
5 Perencanaan sistem
pengendalian banjir tidak tepat
Sistem pengendaiian banjir memang dapat mengurangi kerusakkan akibat banjir kecil sampai sedang, tapi mungkin dapat menambah kerusakkan, selama banjir yang besar. Misal: bangunan tanggul sungai yang tinggi. Limpasan pada tanggul waktu banjir melebihi banjir rencana menyebabkan keruntuhan tanggul, kecepatan air sangat besar yang melalui bobolnya tanggul sehingga menimbulkan banjir yang besar.
Manusia
6 Curah hujan Pada musim penghujan, curah hujan yang tinggi akan mengakibatkan banjir di sungai dan bilamana melebihi tebing sungai maka akan timbul banjir atau genangan termasuk bobolnya tanggul. Data curah
hujan menunjukkan
maksimum kenaikan debit puncak antara 2 sampai 3 kali.
Alam
7 Pengaru
h
Fisiografi
Fisiografi atau geografi fisik sungai seperti bentuk, fungsi dan kemiringan DAS, kemiringan sungai, geometrik hidrolik (bentuk penampang seperti lebar, kedalaman, potongan memanjang, material dasar sungai), lokasi sungai dll.
Alam Dan Manusia
8 Kapasitas sungai Pengurangan kapasitas aliran banjir pada sungai dapat disebabkan oleh pengendapan berasal dari erosi DAS dan erosi tanggul sungai yang berlebihan dan sedimentasi di sungai itu karena tidak adanya vegetasi penutup dan adanya penggunaan lahan yang tidak tepat
Manusia Dan Alam
9
Kapasitas Drainase yang Tidak memadai
Karena perubahan tata guna lahan
maupun berkurangnya
tanaman/vegetasi serta tindakan manusia mengakibatkan pengurangan kapasitas saluran/sungai sesuai perencanaan yang dibuat
Manusia
10 Drainase lahan Drainase perkotaan dan pengembangan pertanian pada daerah bantuan banjir akan mengurangi kemampuan bantaran dalam menampung debit air yang tinggi.
Manusia
11 Bendung
dan bangunan air
Bendung dan bangunan lain seperti pilar jembatan dapat meningkafkan elevasi muka air banjir karena efek aliran balik (backwater).
Manusia
12 Kerusakan bangunan pengendali banjir
Pemeliharaan yang kurang memadai dari bangunan pengendali banjir sehingga menimbulkan kerusakan dan akhirnya tidak berfungsi dapat meningkatkan kuantitas banjir.
Manusia Dan Alam 13 Pengaruh air
pasang
Air pasang memperlambat aliran sungai ke laut. Waktu banjir bersamaan dengan air pasang tinggi maka tinggi genangan atau banjir menjadi besar karena terjadi aliran balik (backwater).
Alam
2) Metode Pengendalian Banjir
Pada prinsipnya ada 2 metode pengendalian banjir yaitu metode struktur dan metode non struktur. Pada masa lalu metode struktur lebih diutamakan dibandingkan dengan metode nonstruktur. Namun saat ini banyak negara maju mengubah pola
pengendalian banjir dengan lebih dulu mengutamakan metode non struktur lalu baru metode stuktur.
Dengan kondisi tata guna lahan yang sudah padat perbaikan sungai akan memberikan pengaruh maksimal dua kali li pat saja; itupun bila proses pelebaran ataupun pengerukan sebesar dua kali lipatnya bisa berjalan lancar. Perlu diperhatikan pelebaran sungai/drainase harus dipertahankan sampai ke lokasi sungai paling hilir (di muara). Bilamana dilakukan pelebaran namun pada lokasi tertentu di bagian hilir tidak dapat dilebarkan maka akan terjadi penyempitan alur sungai (bottleneck). Hal ini akan menyebabkan daerah hulu yang sudah dilebarkan akan kembali ke posisi lebar semua.
Di samping itu setelah dinormalisasi potensi kembali ke lebar sungai semula cukup besar akibat sedimentasi dan morpzologi sungai yang belum stabil, demikian pula kedalaman sungai yang dikeruk menjadi dua kali akan kembali ke kedalaman semula akibat besarnya sedimentasi. Oleh karena itu ke depan metode non-struktur harus dikedepankan lebih dahulu karena pengaruh perubahan tata guna lahan mengkontribusi debit puncak di sungai mencapai 4 sampai 35 kali debit semula. Metode struktur yang hanya memberikan penurunan/ reduksi debit jauh lebih kecil dibandingkan peningkatan debit akibat perubahan tata guna lahan atau degradasi lingkungan. Istilah populer yang dipakai adalah flood control toward flood management. Untuk lebih jelasnya metode tersebut dapat dilihat dalam berikut ini:
Skala Prioritas
Metode
I Metode Non-Struktur
• Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)
• Pengaturan Tata Guna Lahan
• Law Enforcement
• Pengendalian Erosi di DAS
• Pengaturan dan Pengembangan Daerah Banjir II Metode Struktur: Bangunan Pengendali Banjir
• Bendungan (dam)
• Kolam Retensi (Retarding Basin, Bozem)
• Pembuatan Polder
III Metode Struktur: Perbaikan & Pengaturan Sistem Sungai
• Sistem jaringan sungai
• Pelebaran atau pengerukan sungai
• Perlindungan tanggul
Apabila perubahan tata guna lahan sudah bisa dipastikan sampai ke masa yang akan datang, maka dapat diketahui debit rencana yang pasti melalui sungai tersebut. Bilamana hal ini terjadi maka perbaikan sungai dengan metode struktur dapat dilakukan.
3) Pendekatan Penanganan Masalah Genangan
Perencanaan drainase perkotaan perlu memperhatikan fungsi drainase sebagai prasarana yang dilandaskan pada konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan. Konsep ini antara la in berkaitan dengan usaha konservasi sumber daya air, yang prinsipnya adalah mengendalikan air hujan supaya lebih meresap ke dalam tanah dan tidak banyak terbuang sebagai aliran permukaan, antara lain dengan membuat bangunan resapan buatan, kolam tandon, penataan lansekap dan pelestarian hutan kota. Alternatif yang dapat dilakukan antara lain: 1) Pembuatan Bangunan Resapan Air Hujan
Macam peresapan air hujan yang biasa digunakan adalah:
Resapan Tertutup
Prinsip dari metode ini adalah dengan menampung air hujan ke suatu reservoir tertutup. Terdapat dua macam resapan tertutup yaitu pipa porus dan selokan tertutup. Pipa porus pada prinsipnya mengalirkan air hujan ke suatu pipa porus yang ditanam secara horisontal. Selokan tertutup prinsipnya sama dengan pipa porus, hanya bedanya pada bentuk penampang melintangnya. Pipa porus berbentuk bulat, sedangkan selokan tertutup berbentuk segiempat atau trapesium.
Genangan Terbuka
Metode ini dilakukan dengan mengalirkan air hujan ke suatu kolam buatan pada kawasan permukiman. Karena metode ini menggunakan suatu kolam terbuka, metode dapat diterapkan pada wilayah di sekitar Kelurahan yang masih memiliki lah an terbuka yang masih luas.
Sumur Resapan
Secara sederhana sumur resapan diartikan sebagai sumur yang digali yang berbentuk segiempat atau lingkaran dengan kedalaman tertentu. Sumur resapan difungsikan untuk menampung dan meresapkan air hujan yang jatuh di atas permukaan tanah baik melalui atap bangunan, jalan ataupun halaman agar dapat meresap ke dalam tanah. Sumur resapan ini kebalikan dari sumur air minum.
Sumur Resapan merupakan lubang untuk memasukkan air ke dalam tanah, sedangkan sumur air minum berfungsi untuk menaikkan air tanah ke atas permukaan. Dengan demikian konstruksi dan kedalamannya berbeda. Sumur resapan digali dengan kedalaman di atas permukaan air tanah, sedangkan sumur air minum digali dengan kedalaman di bawah permukaan air tanah.
Beberapa hal tentang kegunaan sumur resapan antara lain:
Sebagai upaya untuk pengendali banjir
Penggunaan sumur resapan mampu memperkecil aliran permukaan sehingga terhindar dari penggenangan secara berlebihan yang menyebabkan banjir.
Konservasi tanah
Sumur resapan berfungsi memperbaiki kondisi air tanah atau mendangkalkan permukaan air sumur. Disini diharapkan air hujan lebih banyak yang diresapkan ke dalam tanah menjadi ai r cadangan dalam tanah.
Menekan laju erosi.
Dengan adanya penurunan aliran permukaan maka tanah-tanah yang tergerus dan terhanyut akan berkurang. Dampaknya, aliran permukaan air hujan menjadi kecil dan dapat menekan laju erosi.
D. Infrastruktur Drainase
Operasi dan Pemeliharaan limbah dan sistem drainase perkotaan merupakan infrastruktur drainase yang sangat penting, baik itu dari segi sosial maupun ekonomi. Infrastruktur drainase adalah segala sarana pendukung dan penunjang dari sistem drainase, yaitu berupa saluran
drainase, gorong-gorong, bangunan bagi, pintu masuk (inlet), pintu keluar (outlet), filter sampah (grill), dan tampungan sementara (retardasi basin atau bozem).
Infrastruktur drainase merupakan hal yang vital dalam sistem drainase. Oleh karena itu, kondisi infrastruktur drainase perlu dijaga dan diperhatikan serta diawasi. Dengan baiknya kondisi infrastruktur drainase, maka fungsi dari sistem drainase akan optimal sehingga dapat menghindari terjadinya genangan dan banjir, atau setidaknya mengurangi genangan dan banjir yang terjadi agar tidak mengganggu aktifitas penduduk.
Untuk menjaga infrastruktur drainase tersebut, tentunya diperlukan suatu pengawasan dari pihak-pihak yang berwenang. Melihat pentingnya pengawasan terhadap sistemnya, maka perlu dibuat metode pengawasannya. Hal ini harus dilakukan karena biaya fisik pembangunan infrastruktur drainase sangat mahal. Apabila pelaksanaan pembangunan tanpa mempunyai sistem yang bagus, maka tidak mustahil upaya penanggulangan genangan atau banjir akan sia-sia.
1) Drainase Saluran Terbuka
Saluran drainase primer biasanya berupa saluran terbuka, baik berupa s aluran dari tanah, pasangan batu kali atau beton. Saluran ini dilengkapi dengan tanggul atau jalan inspeksi. Kegiatan perawatan rutin pada umumnya meliputi :
Membabat rumput pada tebing saluran (untuk saluran dari tanah);
Membersihkan sampah, tumbuhan pengganggu yang berada di saluran;
Memperbaiki longsoran-longsoran kecil yang terjadi di lereng saluran;
Menambal dinding saluran yang retak atau rusak, dan merapikan bentuk profil saluran;
Memperbaiki kerusakan kecil pada tanggul akibat penurunan, rembesan, dan longsoran kecil; dan
Menambal dan memperbaiki kerusakan kecil/setempat pada jalan inspeksi
2) . Drainase Saluran Tertutup a)Pekerjaan Inspeksi
Saluran drainase dan saluran limbah harus di cek secara teratur.
Pengecekan ini dilaksanakan sedikitnya sekali setahun, lebih baik dilakukan pada akhir musim hujan. Jika ada bagian- bagian dari saluran yang perlu diperbaiki, maka bisa dilakukan selama musim kering.
b)Pembersihan Pipa/Saluran Drainase
Saluran limbah harus dibersihkan secara teratur dari berbagai macam kotoran, sekurang-kurangnya sekali dalam lima tahun.
Metode pembersihan yang paling mudah adalah flushing. Jika flushing sulit diterapkan, maka teknik yang lain adalah:
Pembersihan saluran yang paling sering dilakukan adalah dengan menggunakan tali dan wadah. Dimana lubang-lubang yang dibersihkan kedalamannya tidak lebih dari 30 meter, agar pekerjaannnya tidak terlalu sulit. Pada negara
berkembang metode ini masih digunakan karena pekerjaan yang dilakukan secara manual ini biayanya lebih murah.
Pembersihan saluran yang lebih modern antara lain dengan cara jetting (penyemprotan & penyedotan). Cara ini memerlukan biaya investasi dan O&P yang cukup besar.
Peralatan yang diperlukan meliputi: truk tangki air yang dilengkapi dengan selang bertekanan tinggi, nozel, dan generator, truk tangki penyedot (vacuum) dan juga sumber air untuk penyedot lumpur. Penggunaan ini memerlukan keahlian profesional dan terkadang peralatan yang dibutuhkan tidak selalu tersedia.
2. KRITERIA HIDROLOGI A. Analisa Hujan
Untuk keperluan Master Plan Drainase Perkotaan Kabupaten , data hidrologi yang diperlukan adalah data curah hujan rerata di seluruh daerah pengaliran.
Data ini harus dikumpulkan dengan jangka waktu yang cukup panjang dari beberapa stasiun penakar hujan sehingga diperoleh hasil perhitungan yang teliti.
1) Curah Hujan Rerata Daerah (Average Basin Rainfall)
Curah hujan yang diperlukan untuk suatu rancangan pemanfaatan air dan rancangan pengendalian banjir adalah curah hujan rata- rata di seluruh daerah yang bersangkutan, bukan curah hujan di suatu titik tertentu. Curah hujan ini disebut curah hujan wilayah atau daerah yang dinyatakan dalam mm. Ada 3 macam cara yang berbeda dalam menentukan tinggi curah hujan ratarata pada areal tertentu dari angka-angka curah hujan dibeberapa titik pos penakar.
a. Cara Rerata Aljabar
Tinggi rata–rata curah hujan didapat dengan mengambil nilai rata-rata hitung (arithmetic mean) pengukuran hujan di pos- pos penakar hujan didalam areal tersebut. Dan rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
b. Cara Poligon Thiessen
Cara ini dipakai jika letak stasiun pencatat hujan di daerah aliran sungai tersebut tidak merata. Rumus yang digunakan sebagai
berikut:
dengan:
R = Curah hujan harian rerata maksimum
Rn = Curah hujan pada stasiun penakar hujan (mm) An = Luas daerah pengaruh stasiun penakar hujan (km2)
W0 = Koefisien poligon (An / ΣA).
Prosedur untuk mendapatkan curah hujan maksimum harian rata- rata daerah adalah sebagai berikut:
Tentukan pada salah satu stasiun pencatat hujan saat terjadi hujan harian maksimum.
Dicari besarnya curah hujan pada tanggal yang sama untuk stasiun penakar hujan yang lain.
Dengan menggunakan Thiessen, hitung rata-rata curah hujan tersebut.
Tentukan curah hujan harian maksimum (seperti langkah no.1) pada stasiun pencatat hujan yang lain.
Ulangi langkah no.2 sampai no.3 untuk setiap bulan.
Dari hasil rata-rata Thiessen dipilih salah satu yang tertinggi pada setiap bulan.
c. Cara Isohyet
Dengan cara ini, harus menggambar dulu kontur tinggi hujan yang sama (isohyet), seperti gambar dibawah ini:
3. KRITERIA HIDROLIKA
A. Analisa Hidrolika Saluran Terbuka
Analisa hidrolika saluran terbuka pada perencanaan Drainase Kawasan Perkotaan Kabupaten ini, meliputi 1) Kapasitas Saluran
Besar kapasitas saluran drainase dihitung berdasarkan kondisi steady flow menggunakan rumus Manning:
Q = V . A
V = 1/n . R2/3 . S1/2 Dengan:
Q = debit air (m3/dt)
V = kecepatan aliran (m/dt) A = luas penampang basah (m2) N = koefisien kekasaran Manning R = jari-jari hidrolis (m) S = Kemiringan dasar saluran
Rumus ini merupakan bentuk yang sederhana namun memberikan hasil yang tepat, sehingga penggunaan rumus ini sangat luas dalam a liran seragam untuk perhitungan dimensi saluran. Koefisien kekasaran ‘n’ Manning dapat diperoleh dari tabel 2.5 dengan memperhatikan faktor bahan pembentuk saluran
No. Tipe Saluran n
1 Saluran Tertutup Terisi Sebagian
•Gorong-gorong dari beton lurus dan bebas kikisan 0,010 – 0,013
•Gorong-gorong dengan belokan dan sambungan 0,011 – 0,014
•Saluran pembuang lurus dari beton 0,013 – 0,017
•Pasangan bata dilapisi dengan semen 0,011 – 0,014
•Pasangan batu kali disemen 0,015 – 0,017
2 Saluran dilapis atau disemen
•Pasangan bata disemen 0,012 – 0,018
•Beton dipoles 1,013 – 0,016
•Pasangan batu kali disemen 0,017 – 0,030
•Pasangan batu kosong 0,023 – 0,035
dengan :
A = Luas penampang basah (m2) P = Keliling basah saluran (m) R = Jari-jari hidrolis (m)
B = Lebar dasar saluran (m) H = Kedalaman air di saluran (m) D = Diameter saluran (m)
M = Kemiringan saluran
2) Kecepatan Aliran
Besarnya kecepatan aliran yang diperbolehkan dalam saluran tergantung pada bahan saluran yang digunakan, kondisi fisik dan sifat- sifat hidrolisnya. Berdasarkan hal tersebut, maka kecepatan yang
diperbolehkan terbagi atas dua bagian, yaitu saluran yang tahan erosi yang kecepatan alirannya didasarkan pada kecepatan minimum yang diijinkan dan untuk saluran yang tidak tahan erosi yang kecepatan alirannya didasarkan pada kecepatan maksimum yang diijinkan.
Kecepatan minimum yang diijinkan adalah kecepatan terendah dimana tidak boleh terjadi pengendapan partikel dan dapat mencegah tumbuhnya tanaman air dalam saluran yang biasanya berkisar antara 0,60 sampai 0,90 m/dt. Kecepatan maksimum yang diijinkan adalah kecepatan rata-rata terbesar yang tidak boleh mengakibatkan penggerusan terhadap badan saluran.
3) Kemiringan Saluran
Yang dimaksud kemiringan saluran disini adalah kemiringan dasar saluran dan kemiringan dinding saluran. Kemiringan dasar saluran yang dimaksud adalah kemiringan dasar saluran arah memanjang yang pada umumnya dipengaruhi oleh kondisi topografi serta tinggi tekanan yang diperlukan untuk adanya pengaliran sesuai dengan kecepatan yang diinginkan. Kemiringan dinding saluran tergantung pada macam bahan yang membentuk tebing saluran seperti pada tabel 2.6 berikut.
4. KRITERIA PENDUKUNG A. Sosial Budaya
Untuk meningkatkan keterlibatan dan rasa memiliki dari masyarakat terhadap fasilitas yang akan dikembangkan perlu diperhatikan aspek sosial- budaya masyarakat setempat. Hal ini perlu untuk menghindari terjadinya pertentangan tujuan antara kehendak pemerintah (penyedia faisilitas) dan kehendak masyarakat. Juga untuk menghilangkan kesan bahwa fasilitas/prasarana- sarana yang dibangun semata-mata milik pemerintah, sehingga masyarakat tidak peduli dengan keberadaannya. Oleh karena itu p erlu adanya pendekatan dan sosialisasi yang terus menerus
sebelum suatu proyek dilaksanakan. Masyarakat perlu dilibatkan pada setiap tahap kegiatan pembangunan, mulai dari perumusan gagasan, perencanaan, pelaksanaan, sampai operasi dan pemeliharaan.
Pengalaman dalam pembangunan prasarana dan sarana (infrastruktur) yang dikelola pemerintah, sering terjadi setelah kegiatan konstruksi dinyatakan selesai, terjadi penilaian yang lain oleh masyarakat.
Manajemen proyek menyatakan proyek telah diselesaikan, dengan cara dan dasar-dasar yang diberikan pemerintah. Penilaian dan evaluasi yang dilakukan oleh manajemen proyek menyatakan bahwa pekerjaan telah diselesaikan dengan baik oleh kontraktor dan dapat diterima oleh pemerintah. Hasil yang dinyatakan baik ternyata oleh masyarakat dinyatakan jelek dan tidak memenuhi keinginan masyarakat dan akhirnya ditolak oleh masyarakat.
Manajemen proyek (birokrat) sering merasa lebih pandai dan secara teknis lebih memahami dan bekerja sesuai dengan peraturan dan petunjuk a tasan dalam lingkup pemerintahan, sehingga mengabaikan peran masyarakat. Para petugas pemerintah kebanyakan berpendapat bahwa merekalah yang paling berhak dan mengerti mengenai manajemen pembangunan, bukan masyarakat. Lingkungan yang demikian kadangkala menghasilkan suatu produk yang mungkin dinilai berbeda oleh pemerintah dan masyarakat. Untuk menghindari penolakan produk pembangunan oleh masyarakat, maka perlu adanya perubahan paradigma yang menghilangkan perbedaan tersebut untuk menentukan kriteria standar yang perlu disosialisasikan kepada masyarakat luas.
B. Kelembagaan dan Kebijakan
Secara umum organisasi pengelola prasarana dan sarana perkotaan terdiri dari tiga tingkatan, yaitu eksekutif atau direktur, manager menengah, dan operator. Disamping itu diperlukan tingkat keempat sebagai penentu kebijakan, yaitu pemegang otoritas. Masing-masing tingkatan, dari puncak sampai bawah memerlukan perencana untuk bekerja. Rencana meliputi visi, misi, tujuan, objektif, dan rencana kerja. Fungsi akuntabilitas
didasarkan pada rencana dan evaluasi dilakukan pada tingkat kesuksesan p elaksanaan rencana tersebut.
C. Lingkungan
Untuk menjamin kelangsungan suatu proyek, perlu diperhatikan pula aspek lingkungan, baik lingkungan fisik, biologi, dan kimia. Sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungannya. Dampak yang mungkin timbul dari pembangunan sistem drainase antara lain:
1) Genangan permanen dalam saluran/waduk. Saluran drainase saat musim kemarau pada umumnya hanya menampung air limbah (domestik dan industri), yang debitnya tidak besar. Secara teoritis seharusnya tidak terjadi genangan, namun kenyataannya banyak saluran drainase di sekitar kita yang menggenang dan menjadi sarang nyamuk. Ada dua kemungkinan penyebabnya, yaitu:
Timbunan sampah dan kotoran dalam saluran
Sedimentasi
Dasar saluran naik turun
2) Pencemaran air tanah. Pada musim kemarau, air di dalam saluran berasal dari limbah domestik dan industri, tidak ada pengenceran.
Sehingga air yang meresap ke dalam tanah adalah air limbah, dan mencemari air tanah dan sumur penduduk. Untuk itu diperlukan desain yang benar, misalnya dengan membuat saluran bertingkat
C. RENCANA KERJA KONSULTAN
Kegiatan – kegiatan yang tercakup dalam Pelaksanaan Pekerjaan BELANJA MODAL BANGUNAN AIR KOTOR LAINNYA PERENCANAAN
REHABILITASI
SALURAN DRAINASE PERKOTAAN (PAKET 4) ini dapat dibagi menjadi 3 tahapan yaitu :
Tahap Persiapan Pelaksanaan Pekerjaan
Tahap Pelaksanaan Pekerjaan
Tahap Akhir Pekerjaan
Disamping pembahasan mengenai tahapan pelaksanaan pekerjaan di atas, pada bab ini juga akan dibahas mengenai laporan – laporan yang akan diserahkan oleh konsultan.
a. Tahap Persiapan Pelaksanaan Pekerjaan
Kegiatan – kegiatan yang akan dilakukan konsultan pada tahap persiapan pelaksanaan pekerjaan dapat diuraikan sebagai berikut :
Mobilisasi
Tenaga pelaksanaan yang berpengalaman pada waktu yang telah ditentukan akan segera diberangkatkan ke lokasi pekerjaan setelah menerima surat perintah mulai kerja dari pemberi tugas.
Disamping mobilisasi personil lapangan, penyiapan dan inventarisasi peralatan untuk keperluan pekerjaan juga perlu diperhatikan.
Kordinasi
Sebagai langkah awal sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai, perlu dilakukan koordinasi antara unsur-unsur yang terlibat dalam pekerjaan. Koordinasi dimulai dari organisasi konsultan sendiri dengan membentuk suatu struktur organisasi yang efektif dengan menetapkan tugas dan tanggung jawab masing – masing personil, serta hubungan kerja antara satu dengan yang lainnya.
Koordinasi dengan pemberi tugas, khususnya Pelaksana Kegiatan Fisik yang bersangkutan sangat dibutuhkan untuk mengkonfirmasikan pelaksanaan pekerjaan. Selain itu akan
tugas, kontraktor serta instansi – instansi yang terkait lainnya.
Hubungan tersebut akan terus dipelihara selama pekerjaan berlangsung untuk memperoleh hubungan kerja yang baik dan sehat.
Penelaahan dan Pemeriksaan Dokumen
Sebelum tahap pelaksanaan perencanaan dimulai, konsultan akan menelaah dan memeriksa dokumen penunjang, guna menyiapkan kerangka pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan arahan pemberi tugas
Jika ditemukan hal – hal yang kurang lengkap maka konsultan akan melaporkan kepada pemberi tugas.
b. Tahap Pelaksanaan Pekerjaan
Kegiatan – kegiatan yang akan dilakukan konsultan pada tahap pelaksanaan pekerjaan dapat diuraikan sebagai berikut :
Persiapan dan Pertemuan PendahuluanKonsultan akan mengadakan suatu pertemuan pendahuluan yang dihadiri oleh staf konsultan dan Staf Pemberi Tugas untuk menerima penjelasan mengenai hal – hal pokok tentang pekerjaan, organisasi pekerjaan, jadwal kerja, metode perencanaan dan hal – hal lain yang dianggap perlu dan menjadi suatu konsensus.
Perencanaan Kegiatan PekerjaanPerencanaan kegiatan pekerjaan pada awalnya dibuat secara global yang kemudian akan selalu diperbaharui sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Konsultan akan mempersiapkan jadwal kerja bulanan/harian, yang memperlihatkan kegiatan pekerjaan selama satu bulan mendatang. Perencanaan yang lebih rinci akan dituangkan di dalam jadwal kerja mingguan yang disusun berdasarkan hasil rapat mingguan.
SurveyMETODOLOGI DAN PROGRAM KERJA PERENCANAAN
Konsultan secara langsung akan melaksanakan survey pada lokasi perencanaan. Dengan mempersiapkan peralatan survey dan data- data yang akan digunakan pada lokasi pengukuran. Disamping itu konsultan juga akan berkoordinasi denga pemerintah setempat, baik itu pihak kecamatan, aparatur kelurahan atau desa, hingga pada tokoh masyarakat, guna memberikan sosialisasi dan penjelasan secara singkat tentang mekanisme pengukuran yang akan dilaksanakan oleh Tim perencana, sehingga diharapkan pemerintah setempat hingga masyarakat mampu bersinergi dalam pengumpulan data dilapangan.
Kegiatan – kegiatan yang akan mendapat perhatian khusus dari konsultan antara lain :
Analisis dataSetelah data primer dan data sekunder Tim konsultan perencana selesai dikumpulkan, maka tim akan menganalisis data tersebut guna menentukan kriteria desain yang sesuai dengan kondisi lapangan, dan hasil analisa tersebut akan dilaporkan kepada pihak Pemberi Tugas.
Desain perencanaanSetelah kriteria desain yang konsultan laporkan pada pihak Pemberi Tugas di sepakatai, selanjutnya Tim Perencana akan beralih pada tahapan selanjutnya, yaitu dengan pengolahan data dan proses penggambaran yang sesuai dengan standar yang telah dituangkan dalam KAK maupun Usulan Teknis Pekerjaan Konsultan
c. Tahap Akhir Pekerjaan
Sesuai dengan judul rencana kerja dan kemajuan pekerjaan yang akan dicapai maka konsultan akan membuat laporan pekerjaan yang akan disampaikan kepada Pengguna Jasa. Jenis laporan yang dibuat adalah laporan.
Dokumen Gambar KerjaDokumen ini memuat tentang Gambar-gambar kerja yang meliputi :
a. Gambar Site Plan Eksisting Lokasi b. Gambar Site Plan Rencana
c. Gambar Potongan d. Gambar Detail
Dokumen Perencanaan KuantitasDokumen ini memuat tentang Perkiraan Volume, Biaya dan standar Teknis, meliputi :
a. Dokumen Rencana Anggaran Biaya ( Enginer Estimate )
D. PROGRAM KERJA
1. Tahap Persiapan dan Pendahuluan a. Mobilisasi Tim
Penyiapan kantor dan peralatan, akan dilakukan segera setelah Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dikeluarkan oleh Pemberi Tugas. Kelncaran langkah awal ini akan mendukung kegiatan- kegiatan berikutnya.
Mobilisasi tenaga ahli dan tenaga penunjang, dilakukan secara serentak sesuai dengan jadwal penugasan masing-masing personil. Koordinasi tim tetap diperlukan untuk mengawali pekerjaan.b. Penyusunan Program Kerja
Perumusan dan pemantapan metodologi pelaksanaan pekerjaan.Hasil ini akan menjadi panduan operasional bagi tim konsultan dalam melaksanakan tugasnya pada tahap-tahap selanjutnya.
Penjabaran rencana kerja, sebgagai tindak lanjut dari perumusan metodologi yang operasional dan pemahaman yang mendalam tentang KAK, penjabaran rencana kerja juga perlu dilakukan agar dapat menjadi acuan setiap tenaga ahli dalam melaaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
Penetapan organisasi pelaksanaan pekerjaan, untuk mengetahui posisi masing-masing tenaga ahli dengan arah koordinasi yang harus dilakukan.2. Survey, Pengumpulan Data dan Analisis a. Persiapan Survey
Menetapkan metode survey, membuat desain survey dengan menyusun materi yang perlu diketahui dilapangan
Menyiapkan format dan instrumen survey, menyusun format pendataan, daftar pertanyaan yang terstruktur dan peralatan survey lainnya yang siap digunakan untuk melaksanakan survey data primer.b. Pengumpulan Data dan Survey
Menggali sumber data yang relevan, seperti kebijakan dan strategi yang relevan dengan kegiatan perencanaan gedung. Data ini akan diinventarisir agar dapat dikaji dan kemudian dirangkum sebagai dasar dalam perumusan konsep rehabilitasi. Kebijakan yang akan diinventarisasi mencakup kebijakan nasional, regional dan kabupaten/kota yang terkait dengan perencanaan pembangunan .
Melakukan studi literatur, mengidentifikasikan peraturan perundangundangan yang terkait. Berdasarkan studi literatur yang komprehensif tersebut dapat diperoleh suatu acuan yang absah untuk menyusun konsep perencanaan ini.
Pengumpulan data sekunder, jika diperlukan. Dalam melaksanakan kegiatan ini, konsultan akan melakukan survey ke instansi terkait serta kelembagaan formal maupun non formal.
Pengumpulan data primer, dilakukan melalui wawancara terstruktur dengan menggunakan daftar pertanyaan yang selanjutnya akan diolah hasilnya dan dianalisis untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi lokasi pekerjaan.c. Kompilasi Data dan Analisis
Analisis data dari aspek kuantitatif dan aspek kualitatif yang dapat dipakai sebagai bahan untuk merumuskan masalah dan sekaligus sebagai dasar penyusunan konsep perencanaan. Faktor-faktor yang akan dijadikan sebagai bahan kajian adalah : Kondisi arsitektur
Tata guna ruang
Sarana dan prasarana
Lingkungan, sosial dan budaya
Analisis unsur non fisik sebagai penunjang kegiatan, adalah menilai kekuatan dari unsur-unsur non fisik dalam mendukung kegiatan perencanaan. Unsur-unsur non fisik dapat berupa : Kondisi sosial budaya
Nilai sejarah
Apresiasi masyarakat setempat dan lainnya.
3. Pengembangan Rancangan dan Gambar Detail
Rencana dan program-program yang telah disempurnakan dan dikembangkan akan dilengkapi dengan pedoman operasional, yang terdiri dari :
a. Rencana arsitektur beserta uraian konsep dan visualisasi dua dimensi dan tiga dimensi jika diperlukan
b. Rencana struktur beserta uraian konsep dan perhitungannya c. Garis besar spesifikasi teknis
d. Perkiraan biaya
e. Penyusunan rencana detail, seperti membuat gambar-gambar detail, Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS), rincian volume pelaksanaan pekerjaan dan rencana anggaran biaya pekerjaan konstruksi
f. Laporan akhir perencanaan
E. JADWAL PELAKSANA KEGIATAN
Keseluruhan pelaksanaan tahapan pekerjaan akan dilaksanakan dalam waktu 1 (satu) bulan atau selama 30 (Tiga Puluh) hari kalender. Kurun waktu tersebut akan dibagi ke dalam setiap tahapan sehingga akan terbentuk jadwal pelaksanaan pekerjaan. Jadwal inilah yang akan menjadi panduan bagi Pihak Konsultan, dalam hal ini tim tenaga ahli, dalam melaksanakan pekerjaannya. Secara garis besar, waktu pelaksanaan selama 1 (satu) bulan tersebut dibagi atas :
a. Tahapan persiapan dilakukan selama kurang lebih 1 (satu) minggu, mencakup persiapan administrasi dan persiapan teknis.
b. Tahapan pelaksanaan perencanaan, selama kurang lebih 3 (Tiga) minggu terdiri atas :
1. Kegiatan survei data primer dan data primer 2. Pelaksanaan pembuatan detail desain
3. Penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB)
4. Penyusunan Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) 5. Penyusunan laporan penunjang
6. Asistensi kepada pihak direksi proyek
7.Pelaksanaan ekspos hasil pelaksanaan perencanaan detail desain (jika diperlukan).
Secara sistematis, jadwal pelaksanaan Pekerjaan
Perencanaan Konstruksi diuraikan pada tabel berikut ini :
Tabel Jadwal Pelaksanaan
No. URAIAN KEGIATAN BULAN KE-1
KETERANGAN
1 2 3 4
A Tahap Persiapan
1 Persiapan Administrasi Minggu Ke-1
2 Persiapan Mobilisasi Personil Minggu Ke-1
3 Persiapan Peralatan dan Perlengkapan Kerja Minggu Ke-1
B Tahap Pelaksanaan Survey
1 Pelaksanaan Survay Data Sekunder Minggu Ke-1
2 Pelaksanaan Survay Data primer Minggu Ke-1
C Tahap Pelaksnaan Pekerjaan
1 Penyusunan Laporan Pendahuluan Minggu Ke-1 - 2
2 Penggambaran Detail Desain Minggu Ke-2 - 4
3 Penyusunan RAB Minggu Ke-3 - 4
4 Penyusunan RKS dan Dokumen Leleng Minggu Ke-3 - 4
5 Penyusunan Laporan Akhir Minggu Ke-3 - 4
6 Asistensi dan Diskusi Minggu Ke-3 - 4
F. KOMPOSISI TIM DAN PENUGASAN (DAFTAR PORSONIL)
Tenaga Ahli
Nama Personil Perusahaa n
Tenaga Ahli Lokal/
Asing
Lingkup Keahlian
Posisi
Diusulkan Uraian Pekerjaan Jumlah Orang Bula
n RUSDI BASRI
PT. GEMA TEKNIK
Lokal AHLI SUMBER DAYA AIR
TEAM LEADER
Merencanakan, Mengkoordinasikan semua kegiatan dan personil yang terlibat dalam pekerjaan ini,
Dll
1 OB
Tenaga Pendukung dan Penunjang (Personil Lainnya)
Nama Personil Perusahaa n
Tenaga Ahli Lokal/
Asing
Lingkup Keahlian
Posisi
Diusulkan Uraian Pekerjaan Jumlah Orang Bula
n
SEFTEN PT. GEMA TEKNIK
Lokal - SURVEYOR
Mengumpulkan data lapangan serta kegiatan
lainnya yang berkaitan dengan perencanaan
1 OB
MUHAMMAD NASIR
PT. GEMA TEKNIK
Lokal - SURVEYOR
Mengumpulkan data lapangan serta kegiatan
lainnya yang berkaitan dengan perencanaan
1 OB
ANDI IVAN PT. GEMA TEKNIK
Lokal - SURVEYOR
Mengumpulkan data lapangan serta kegiatan
lainnya yang berkaitan dengan perencanaan
1 OB
MASRAM PT. GEMA TEKNIK
Lokal - JURU
GAMBAR
Membuat design plans/rencana desain menggunakan software
CAD (Computer Aided Design)
1 OB
IDAYU WIDYATAMA PT. GEMA TEKNIK
Lokal - OPERAT
OR COMPUT ER
Membuat design plans/rencana desain menggunakan software
CAD (Computer Aided
Design)
1 OB
G. JADWAL PENUGASAN PERSONIL
No Nama Personil
BULAN KE-1
Oran g Bula n Minggu Ke-1 Minggu Ke-2 Minggu Ke-3 Minggu Ke-4
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
NASIONAL Tenaga Ahli
1 RUSDI BASRI 1
SUB TOTAL 1 Tenaga pendukung
1 SEFTEN AUGUST 1
2 MUHAMMAD NASIR 1
3 ANDI IVAN 1
4 MASRAM 1
5 IDAYU WIDYATAMA 1
SUB TOTAL 5
ASING
Tenaga Ahli Tidak
ada
Tenaga Pendukung Tidak
ada
SUB TOTAL 0 TOTAL 6