PENILAIAN RESIKO BENCANA DAN PERENCANAAN PENGGULANGAN BENCANA
Nama : Ni Made Ambar Wati Nim : 711345323065
Kelas : 2A
Mata kuliah : Tanggap Darurat Bencana
POLTEKES KEMENEKES MANADO T.A 2025/2026
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI... I
A. PENDAHULUAN...1
B. TUJUAN PENULISAN...2
PEMBAHASAN...3
A. PENILAIAN RESIKO BENCANA... 3
B. PERENCANAAN PENANGGULANGAN BENCANA ...8
DAFTAR PUSTAKA...12
A. Pendahuluan
Bencana (disaster) merupakan fenomena sosial akibat kolektif atas sistem penyesuaian dalam merespon ancaman. Renspon itu bersifat jangka pendek yang disebut mekanisme penyesuaian (coping mechanism) atau yang lebih jangka panjang yang dikenal sebagai mekanisme adaptasi (adaptatif mechanism).
Mekanisme dalam menghadapi perubahan dalam jangka pendek terutama bertujuan untuk mengakses kebutuhan hidup dasar: keamanan, sandang, pangan, sedangkan jangka panjang bertujuan untuk memperkuat sumber-sumber kehidupannya.
Masalah bencana akibat lingkungan mulai semakin mencuat ke permukaan,baik yang disebabkan oleh proses alam itu sendiri maupun yang disebabkan karena ulah manusia di dalam membangun sarana dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Kasus-kasus mengenai perubahan tata guna lahan di daerah tangkapan air hujan di hulu menjadi padat penduduk karena berubah menjadi pemukiman. Hal tersebut berdampak pada banjir yang sering terjadi di daerah bawahnya atau daerah hilir. Konversi lahan ini sedikit banyak telah berpengaruh terhadap menurunnya kualitas lingkungan.
Oleh karena itu di dalam proses pembangunan tidak dengan sendirinya mengurangi risiko terhadap bahaya alam. Sebaliknya tanpa disadari pembangunan dapat menciptakan bentuk-bentuk kerentanan baru atau memperburuk kerentanan yang telah ada. Persoalan-persolaan yang muncul sebagai akibat dari proses pembangunan ini perlu diarahkan pada suatu paradigma pembangunan yang ramah lingkungan, yaitu “pembangunan yang berkelanjutan” maka pembangunan tersebut harus didasarkan atas pengetahuan yang lebih baik tentang karakteristik alam dan manusia (masyarakat).
Bencana apapun bentuknya memang tidak diinginkan. Sayangnya kejadian pun terus saja ada. Berbagai usaha tidak jarang dianggap maksimal tetapi kenyataan sering tidak terelakkan. Masih untung bagi kita yang mengagungkan Tuhan sehingga segala kehendak-Nya bisa dimengerti, meski itu berarti derita.
Banyak masalah yang berkaitan dengan bencana. Kehilangan dan kerusakan termasuk yang paling sering harus dialami bersama datangnya bencana itu. Harta benda dan manusia terpaksa harus direlakan, dan itu semua bukan masalah yang mudah. Dalam arti mudah difahami dan mudah diterima oleh mereka yang mengalami. Bayangkan saja harta yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, dipelihara bertahun-tahun lenyap seketika.
Banyaknya masalah berkaitan dengan bencana sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakanRencana Nasional Penanggulangan Bencana (selanjutnya disebut RENAS PB) ditujukan untuk seluruh institusi terkait penanggulangan bencana pada tingkat pusat atau pun daerah, pemerintah mau pun non pemerintah.
Dalam posisi ini, RENAS PB menjadi rujukan bagi komitmen negara untuk melindungi bangsanya melalui, penyediaan sumberdaya, serta kesatuan tindak bagi seluruh institusi terkait penyelenggaraan penanggulangan bencana di tingkat pusat. Selain itu RENAS PB juga dapat menjadi acuan bagi pemerintah pusat untuk memfasilitasi peningkatan ketahanan daerah sekaligus memberikan dasar bagi pemerintah daerah menyusun perencanaan penanggulangan bencana nya sendiri.
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini, yaitu: untuk mengetahui penilaian resiko bencana dan perencanaan panggulangan bencana
PEMBAHASAN A. Penilaian Resiko Bencana
1. Pengertian
Penilaian/penilaian risiko bencana dilaksanakan dengan mengkaji dan memetakan tingkat bahaya, tingkat kerentanan dan tingkat kapasitas berdasarkan indeks bahaya, indeks penduduk terpapar, indeks kerugian dan indeks kapasitas.
(Ruswandi, 2014).
Penilaian/penilaian risiko bencana merupakan sebuah pendekatan untuk memperlihatkan potensi dampak negatif yang mungkin timbul akibat suatu potensi bencana yang melanda. Potensi dampak negatif yang timbul dihitung berdasarkan tingkat kerentanan dan kapasitas kawasan tersebut. Potensi dampak negatif ini dilihat dari potensi jumlah jiwa yang terpapar, kerugian harta benda, dan kerusakan lingkungan. (BNPB, 2012)
Penting untuk dicatat bahwa pendekatan ini tidak dapat disamakan dengan rumus matematika. Pendekatan ini digunakan untuk memperlihatkan hubungan antara ancaman, kerentanan dan kapasitas yang membangun perspektif tingkat risiko bencana suatu kawasan.
Berdasarkan pendekatan tersebut, terlihat bahwa tingkat risiko bencana amat bergantung pada :
a. Tingkat ancaman kawasan;
b. Tngkat kerentanan kawasan yang terancam;
c. Tingkat kapasitas kawasan yang terancam.
Upaya Penilaian risiko bencana pada dasarnya adalah menentukan besaran 3 komponen risiko tersebut dan menyajikannya dalam bentuk spasial maupun non spasial agar mudah dimengerti. Penilaian risiko bencana digunakan sebagai landasan penyelenggaraan penanggulangan bencana disuatu kawasan.
Penyelenggaraan ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko bencana.
Upaya pengurangan risiko bencana berupa :
a. Memperkecil ancaman kawasan;
b. Mengurangi kerentanan kawasan yang terancam;
c. Meningkatkan kapasitas kawasan yang terancam.
2. Prinsip Penilaian/Penilaian Risiko Bencana
Penilaian/penilaian risiko bencana memiliki ciri khas yang menjadi prinsip Penilaian. Oleh karenanya Penilaian dilaksanakan berdasarkan :
a. Data dan segala bentuk rekaman kejadian yang ada
b. Integrasi analisis probabilitas kejadian ancaman dari para ahli dengan kearifan lokal masyarakat
c. kemampuan untuk menghitung potensi jumlah jiwa terpapar, kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan
d. Kemampuan untuk diterjemahkan menjadi kebijakan pengurangan risiko bencana
3. Fungsi Penilaian Risiko Bencana
Pada tatanan pemerintah, hasil dari Penilaian risiko bencana digunakan sebagai dasar untuk menyusun kebijakan penanggulangan bencana. Kebijakan ini nantinya merupakan dasar bagi penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana yang merupakan mekanisme untuk mengarusutamakan penanggulangan bencana dalam rencana pembangunan. Pada tatanan mitra pemerintah, hasil dari Penilaian risiko bencana digunakan sebagai dasar untuk melakukan aksi pendampingan maupun intervensi teknis langsung ke komunitas terpapar untuk mengurangi risiko bencana. Pendampingan dan intervensi para mitra harus dilaksanakan dengan berkoordinasi dan tersinkronasi terlebih dahulu dengan program pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Pada tatanan masyarakat umum, hasil dari Penilaian risiko bencana digunakan sebagai salah satu dasar untuk menyusun aksi praktis dalam rangka kesiapsiagaan, seperti
menyusun rencana dan jalur evakuasi, pengambilan keputusan daerah tempat tinggal dan sebagainya.
4. Penilaian risiko bencana
Penilaian risiko bencana dapat dilaksanakan oleh lembaga mana pun, baik akademisi, dunia usaha maupun LSM atau pun organisasi lainnya asal tetap dibawah tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah dengan menggunakan metode yang telah ditetapkan oleh BNPB.
Komponen Penilaian risiko bencana terdiri dari ancaman, kerentanan dan kapasitas. Komponen ini digunakan untuk memperoleh tingkat risiko bencana suatu kawasan dengan menghitung potensi jiwa terpapar, kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan. Selain tingkat risiko, kajian diharapkan mampu menghasilkan peta risiko untuk setiap bencana yang ada pada suatu kawasan.
Kajian dan peta risiko bencana ini harus mampu menjadi dasar yang memadai bagi daerah untuk menyusun kebijakan penanggulangan bencana. Ditingkat masyarakat hasil Penilaian diharapkan dapat dijadikan dasar yang kuat dalam perencanaan upaya pengurangan risiko bencana.
Analisis tingkat risiko bencana Provinsi
Data yang digunakan pada analisis tingkat risiko provinsi adalah data klasifikasi tingkat risiko bencana kabupaten/kota pada provinsi yang akan dianalisis. Data lainnya adalah jumlah kabupaten dan kota di provinsi tersebut.
Dengan menggunakan skoring maksimal (S maks ) dan skoring minimal (S min ), klasifikasi tingkat risiko bencana tingkat provinsi adalah sebagai berikut :
Total Skoring Klasifikasi Resiko Tingkat Provinsi
Warna di Peta
Smin – ( Smin + X ) Tingkat Risiko Rendah Hijau ( Smin + X ) - ( Smin +
2X )
Tingkat Risiko Sedang Kuning
( Smin + 2X ) - Smaks Tingkat Risiko Berat Merah
Dimana :
Tingkat Risiko Rendah, nilai : 1 Tingkat Risiko Sedang, niai : 2 Tingkat Risiko Tinggi, nilai : 3
N = jumlah kabupaten/kota dalam provinsi tersebut Smin = N x 1
Smaks = N x 3
X = (Smaks – Smin)/3
Penggunaan metodologi ini dapat berubah pada waktu mendatang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembaruan data akan terus dilakukan dan bekerjasama dengan instansi terkait dan pemerintah daerah.
Beberapa penelitian atau studi banyak yang menjelaskan penilaian resiko bencana salah diantaranya UNDP (United Nation Development Program). UNDP mendefinisikan risiko sebagai kemungkinan konsekuensi berbahaya korban jiwa, properti yang rusak, kehilangan mata pencaharian, mengganggu aktivitas ekonomi, dan kerusakan lingkungan akibat interaksi antara bahaya alam dan yang disebabkan oleh manusia dan kondisi rentan. Penilaian risiko adalah suatu proses untuk menentukan sifat dan tingkat risiko tersebut, dengan menganalisis bahaya dan
mengevaluasi kondisi kerentanan yang ada yang secara bersama-sama berpotensi membahayakan orang, properti, layanan, mata pencaharian dan lingkungan tempat mereka bergantung. Komprehensif penilaian risiko tidak hanya mengevaluasi besarnya dan kemungkinan kerugian potensial tetapi juga memberikan pemahaman penuh tentang sebab dan akibat dari kerugian tersebut. Penilaian risiko, oleh karena itu, merupakan bagian integral dari proses pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan dan memerlukan kolaborasi erat antara berbagai bagian masyarakat
Selain perkiraan potensi kerugian dan dampaknya, penilaian risiko memungkinkan penetapan tingkat risiko yang dapat diterima, yang didefinisikan sebagai tingkat kerugian yang dapat diterima tanpa menghancurkan kehidupan, ekonomi nasional atau keuangan pribadi. Bila tingkat risiko saat ini dan yang dapat diterima ditentukan, rencana dan strategi pengurangan risiko bencana dapat direvisi atau dikembangkan sehingga mereka memiliki tujuan terukur untuk mengurangi risiko saat ini ke tingkat yang dapat diterima.
Untuk melawan risiko bencana yang ada secara sistematis, misalnya dengan merumuskan kebijakan pengurangan resiko bencana yang komprehensif, mengembangkan rencana penggunaan lahan atau menerapkan mekanisme asuransi untuk mentransfer risiko yang tidak dapat direduksi, pengetahuan dan pemahaman yang diberikan oleh penilaian risiko komprehensif sangat penting. Selanjutnya, ketika rencana tersebut diterapkan, evaluasi risiko secara berkala memberikan indikasi eksplisit mengenai kemajuan dalam pengurangan risiko. Mereka membantu mengevaluasi keefektifan upaya pengurangan risiko bencana dan membuat koreksi yang diperlukan terhadap rencana dan strategi.
Penilaian risiko bencana terdiri dari langkah-langkah berikut:
1. Langkah 1:
Memahami situasi saat ini, kebutuhan dan kesenjangan untuk menilai apa yang sudah ada, menghindari duplikasi usaha, dan membangun informasi dan kapasitas yang ada. Hal ini dilakukan melalui inventarisasi dan evaluasi sistematis
terhadap kajian Penilaian risiko yang ada, data dan informasi yang tersedia, dan kerangka kerja dan kemampuan kelembagaan saat ini
2. Langkah 2:
Penilaian bahaya untuk mengidentifikasi sifat, lokasi, intensitas dan kemungkinan bahaya besar yang terjadi di masyarakat atau masyarakat
3. Langkah 3:
Penilaian pemaparan untuk mengidentifikasi populasi dan aset yang berisiko dan menggambarkan daerah rawan bencana
4. Langkah 4:
Analisis kerentanan untuk menentukan kapasitas (atau kekurangannya) unsur- unsur yang berisiko untuk menghadapi skenario bahaya yang diberikan
5. Langkah 5:
Analisis kerugian / dampak untuk memperkirakan potensi kerugian dari populasi, properti, layanan, mata pencaharian dan lingkungan yang terpapar, dan menilai potensi dampaknya terhadap masyarakat
6. Langkah 6:
Profil dan evaluasi risiko untuk mengidentifikasi pilihan pengurangan risiko yang hemat biaya dalam hal masalah sosio-ekonomi masyarakat dan kapasitasnya untuk pengurangan risiko
7. Langkah 7:
Perumusan atau revisi disaster risk reduction (DRR)
Strategi dan rencana aksi yang mencakup penetapan prioritas, pengalokasian sumber daya (keuangan atau manusia) dan memprakarsai program DRR
B. Perencanaan Penanggulangan Bencana
Sesuai dengan arah kebijakan penanggulangan bencana nasional 2020-2024 yang berfokus kepada kesejahteraan masyarakat untuk pembangunan yang berkelanjutan, maka sasaran penanggulangan bencana diukur dengan penurunan
adalah Menurunnya Kerugian Ekonomi Terhadap Produk Domestik Bruto (Pdb) Akibat Dampak Bencana.
Indonesia dikategorikan sebagai negara dengan tingkat risiko bencana yang tinggi. Hal tersebut disebabkan tingginya tingkat keterpaparan (exposure) dan kerentanan (vulnerability) terhadap bencana. Bahkan hampir 75% infrastruktur industri dan konektivitas dasar di Indonesia, termasuk sarana pendukungnya dibangun pada zona rawan bencana. Hal ini menyebabkan tingginya kemungkinan kerusakan pada aset infrastruktur yang meningkatkan pengeluaran operasional serta penambahan biaya akibat penyediaan layanan alternatif. Semua ini berdampak pada kinerja ekonomi yang diukur melalui Produk Domestik Bruto (PDB).
Pencapaian Sasaran Nasional Penanggulangan Bencana dilaksanakan dengan menerapkan Kebijakan Nasional penanggulangan bencana yang terdiri dari:
1. Penguatan dan Harmonisasi Sistem, Regulasi serta Tata Kelola PB yang efektif dan efisien, dengan strategi :
a) Penguatan dan harmonisasi peraturan perundang-undangan penanggulangan bencana
b) Penguatan tata kelola penanggulangan bencana yang semakin profesional, transparan, dan akuntabel
2. Peningkatan sinergi antar kementerian/lembaga dan pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana, dengan strategi: Penerapan riset inovasi dan teknologi kebencanaan melalui integrasi kolaboratif multi pihak
3. Penguatan investasi pengelolaan risiko bencana sesuai dengan proyeksi peningkatan risiko bencana, dengan strategi:
a) Peningkatan Sarana Prasarana Mitigasi dan Pengurangan Risiko Bencana;
b) Penguatan Sistem Kesiapsiagaan Bencana;
c) Pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan bencana dengan pendekatan rekayasa sosial yang kolaboratif (collaborative social engineering);
d) Peningkatan perlindungan terhadap kerentanan lingkungan di daerah rawan bencana.
4. Peningkatan kapasitas dan kapabilitas penanganan kedaruratan bencana yang cepat dan andal, dengan strategi Penguatan Sistem dan Operasionalisasi Penanganan Darurat Bencana;
5. Percepatan pemulihan daerah dan masyarakat terdampak bencana untuk membangun kehidupan yang lebih baik, dengan strategi Percepatan Penyelenggaraan Rehabilitasi dan Rekonstruksi di daerah terdampak bencana.
Rencana Aksi Nasional disusun dengan menerapkan 3 substansi utama, yaitu:
1. Implementatif kolaboratif Rencana aksi difokuskan kepada pemecahan masalah yang menjadi ranah pemerintah pusat
2. Perspektif fungsional Rencana aksi difokuskan agar mampu menjawab isu bencana masa datang yang terus berkembang yang mempengaruhi pembangunan ketahanan bencana. Rencana aksi disepakati dan digunakan bersama oleh seluruh institusi pemerintah dan non pemerintah yang terlibat dalam penyelenggaraan penanggulangana bencana.
3. Lingkup keterlibatan Rencana aksi merupakan rencana nasional yang mengakomodir institusi pentahelix nasional. Rencana aksi juga mendorong pentahelix daerah agar meningkatkan ketahanan bencana.
RENAS PB merupakan kesatuan langkah pemerintah dan parapihak dalam menyelenggarakan penanggulangan bencana secara terarah dan terpadu di seluruh wilayah Indonesia. RENAS PB tidak hanya menjadi rujukan
namun juga menjadi rujukan bagi pemerintah daerah, baik provinsi mau pun kabupaten/kota serta kelompok akademi, ahli, media, filantropi, bisnis dan OMS.
Berbagai perangkat dan mekanisme penerapan di berbagai kelompok juga telah diberikan dalam RENAS PB. Diharapkan perangkat dan mekanisme penerapan tersebut dapat dilaksanakan secara komprehensif untuk mencapai sasaran nasional penanggulangan bencana yang telah ditetapkan dalam RPJMN 2020- 2024.
DAFTAR PUSTAKA
BNPB (2012). Peraturan kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 02 tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Penilaian Risiko Bencana
Ruswandi, D (2014). Indeks Risiko Bencana Indonesia Tahun 2013.
Direktorat Pengurangan Risiko Bencana Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan RI
Wiguna, Sesa dkk. 2020. IRBI Indeks Risiko Bencana Indonesia 2019.
BNPB: Jakarta.