PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK & PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL YOGYAKARTA
TUGAS 2
TEKNOLOGI DEPOSIT MINERAL EKONOMI
Disusun Oleh :
NAMA : LIA ARDINA JUSUF NIM : 4100220016
KELAS : 01
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Praktikum Geologi Gunung Api, Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik & Perencanaan,
Institut Teknologi Nasional Yogyakarta
YOGYAKARTA
2025
1. SEBARAN DEPOSIT LATERIT DI INDONESIA
memiliki sumber daya nikel laterit yang melimpah, menjadikannya salah satu negara penghasil nikel terbesar di dunia. Nikel laterit terbentuk dari proses pelapukan batuan ultramafik, terutama peridotit, yang menghasilkan mineral-mineral nikel seperti limonit dan saprolit. Berikut adalah analisis mengenai sebaran deposit nikel laterit di Indonesia berdasarkan beberapa studi.
A. Karakteristik Deposit Nikel Laterit
Deposit nikel laterit di Indonesia memiliki karakteristik yang bervariasi tergantung pada lokasi dan kondisi geologis. Secara umum, deposit ini terbagi menjadi tiga lapisan utama:
• Limonit: Lapisan ini biasanya memiliki ketebalan antara 3 hingga 10meter dengan kadar nikel berkisar antara 0.29% hingga 1.38%.
• Saprolit: Memiliki ketebalan 2 hingga 13meter dengan kadar nikel yang lebih tinggi, yaitu antara 1.40% hingga 2.34%.
• Bedrock: Merupakan lapisan dasar yang juga mengandung nikel namun dengan kadar yang lebih rendah dibandingkan saprolit.
B. Metode Penelitian dan Analisis
Penelitian mengenai sebaran deposit nikel laterit umumnya menggunakan metode geostatistik dan pemodelan geologi. Beberapa metode yang digunakan meliputi:
• Kriging: Metode ini digunakan untuk memperkirakan kadar nikel berdasarkan data bor dan menghasilkan model semivariogram yang akurat.
• Analisis XRF (X-Ray Fluorescence): Digunakan untuk menentukan kadar nikel dan besi dalam sampel tanah.
• Sistem Informasi Geografis (SIG): Memungkinkan analisis spasial dari sebaran deposit berdasarkan data topografi dan geologi.
C. Sebaran Geografis Deposit Nikel Laterit
Sebaran deposit nikel laterit di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor geologi dan topografi. Beberapa daerah utama yang dikenal memiliki cadangan nikel laterit besar antara lain:
• Sulawesi Tenggara: Daerah ini merupakan penghasil utama nikel laterit dengan beberapa perusahaan besar beroperasi di sana, seperti PT Vale Indonesia
• Konawe Utara: Penelitian menunjukkan bahwa struktur geologi di daerah ini berpengaruh signifikan terhadap sebaran kadar nikel
• Kabupaten Seram Bagian Barat: Penelitian menggunakan citra ASTER menunjukkan potensi besar untuk deposit nikel laterit di daerah ini.
D. Hubungan Topografi dan Sebaran Nikel
Topografi juga memainkan peran penting dalam sebaran deposit nikel laterit.
Penelitian menunjukkan bahwa daerah dengan kemiringan tertentu cenderung
memiliki kadar nikel yang lebih tinggi, sementara daerah datar mungkin menunjukkan sebaran yang kurang merata.
2. UMUR BATUAN DAN KOMPOSISIS BATUAN PEMBAWA NIKEL DI INDONESIA
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia.
Hal ini tidak terlepas dari posisi geologis Indonesia yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik besar: Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Nikel di Indonesia sebagian besar terdapat dalam bentuk endapan laterit yang berasal dari pelapukan batuan ultrabasa, serta dalam bentuk sulfida yang lebih jarang ditemukan. Penelitian mengenai umur batuan pembawa nikel dan komposisinya menjadi penting untuk mendukung eksplorasi dan pengelolaan sumber daya alam ini.
A. Umur Batuan Pembawa Nikel
Batuan pembawa nikel di Indonesia umumnya merupakan bagian dari kompleks ofiolit yang tersebar di berbagai wilayah, seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Umur batuan ini bervariasi dari Mesozoikum hingga Tersier. Berikut adalah rincian umur batuan pembawa nikel:
1. Mesozoikum (Trias-Jura)
Batuan ultrabasa seperti peridotit dan harzburgit berumur Mesozoikum ditemukan di kompleks ofiolit di Sulawesi Tenggara dan Maluku. Batuan ini terbentuk akibat proses magmatisme yang terjadi di dasar laut pada masa tersebut.
2. Kapur Akhir
Beberapa ofiolit di Sulawesi menunjukkan karakteristik batuan pembawa nikel yang berasal dari periode Kapur Akhir. Proses obduksi menyebabkan batuan ini terangkat ke permukaan dan mengalami pelapukan intensif.
3. Tersier (Paleogen-Neogen)
Batuan ultrabasa berumur Tersier ditemukan di wilayah Papua dan beberapa bagian Maluku. Umur yang lebih muda ini menunjukkan aktivitas tektonik yang lebih baru dibandingkan kompleks ofiolit Mesozoikum.
B. Komposisi Batuan Pembawa Nikel
Batuan pembawa nikel di Indonesia didominasi oleh batuan ultrabasa. Batuan ini memiliki kandungan silika rendah dan kaya akan mineral mafik seperti olivin dan piroksen. Proses pelapukan kimia di lingkungan tropis menyebabkan konsentrasi nikel meningkat pada profil laterit. Berikut adalah komposisi utama batuan pembawa nikel:
➢ Mineral Utama
• Olivin (Mg,Fe)2SiO4: Mineral utama dalam batuan ultrabasa yang merupakan sumber utama nikel.
• Piroksen (Ca,Mg,Fe)Si2O6: Mineral penyerta dalam batuan ultrabasa yang dapat mengandung nikel dalam jumlah kecil.
• Spinel Group: Termasuk kromit dan magnetit yang sering ditemukan bersama olivin.
➢ Mineral Alterasi
• Serpentin: Hasil alterasi olivin yang juga mengandung nikel dalam jumlah signifikan.
• Brucite dan Talk: Mineral hasil proses serpentinisasi yang dapat memengaruhi konsentrasi logam dalam batuan.
➢ Kandungan Nikel
Kandungan nikel pada batuan ultrabasa segar biasanya berada di kisaran 0,2–
0,3%. Namun, pada profil laterit, kandungan ini dapat meningkat hingga 1–
2,5% di zona saprolit dan limonit.
C. Proses Pembentukan Endapan Nikel
Proses pembentukan endapan nikel laterit terjadi melalui pelapukan kimia batuan ultrabasa di lingkungan tropis yang basah. Faktor utama yang memengaruhi pembentukan ini meliputi:
• Iklim, Curah hujan tinggi dan suhu yang hangat di Indonesia mempercepat pelapukan kimia batuan ultrabasa.
• Topografi, Daerah dengan topografi datar atau landai lebih memungkinkan akumulasi nikel dalam profil tanah.
• Struktur Geologi, Kehadiran rekahan atau retakan pada batuan induk mempercepat infiltrasi air dan pelapukan batuan.
• Proses Geokimia, Unsur-unsur seperti magnesium dan silikon terlarut dalam air dan meninggalkan residu kaya besi dan nikel pada profil laterit.
Profil laterit biasanya terbagi menjadi beberapa zona, yaitu:
• Zona Limonit: Kaya akan besi dan mengandung nikel dalam jumlah signifikan.
• Zona Saprolit: Zona utama pengayaan nikel dengan kadar hingga 2,5%.
• Zona Bedrock: Batuan induk ultrabasa yang belum terlapukkan.
D. Wilayah Persebaran Batuan Pembawa Nikel di Indonesia
• Sulawesi, Wilayah Sulawesi Tenggara (Konawe, Kolaka) merupakan pusat utama produksi nikel laterit.
• Maluku, Pulau Obi dan Halmahera memiliki cadangan nikel yang besar dengan batuan pembawa dari kompleks ofiolit berumur Kapur hingga Tersier.
• Papua, Papua memiliki potensi cadangan nikel dari batuan ultrabasa Tersier yang tersebar di wilayah dataran tinggi dan pesisir.
3. PERBEDAAN NIKEL DI SULAWESI DAN HALMAHERA/MALUKU
Indonesia dikenal sebagai produsen utama nikel di dunia, dengan Sulawesi dan Maluku (termasuk Halmahera) sebagai dua wilayah penghasil utama. Kedua wilayah ini
memiliki karakteristik geologi yang berbeda, yang memengaruhi tipe, kadar, dan distribusi endapan nikel. Endapan nikel di kedua wilayah ini terutama terdiri atas dua tipe utama: nikel laterit, yang terbentuk akibat pelapukan batuan ultrabasa, dan nikel sulfida, yang lebih jarang ditemukan. Pembahasan ini akan menguraikan perbedaan nikel di Sulawesi dan Halmahera/Maluku berdasarkan aspek geologi, proses pembentukan, kadar nikel, serta kondisi eksplorasi dan pengelolaannya.
A. Geplogi dan Tipe Endapan 1. Sulawesi
Sulawesi, khususnya di wilayah Tenggara (Konawe dan Kolaka), memiliki kompleks ofiolit yang kaya akan batuan ultrabasa seperti peridotit, harzburgit, dan dunit. Umur batuan pembawa nikel di wilayah ini bervariasi dari Kapur Akhir hingga Tersier. Proses pelapukan yang intens menghasilkan endapan laterit yang tebal dengan kandungan nikel yang signifikan. Karakteristik utama:
• Endapan utama: Nikel laterit (zona saprolit dan limonit).
• Struktur geologi: Kompleks ofiolit yang telah terobduksi ke atas kerak benua.
• Ketebalan laterit: Umumnya mencapai 10–30 meter di beberapa lokasi.
• Kandungan nikel: 1,5–2,5% pada zona saprolit.
2. Halmahera/Maluku
Halmahera dan Maluku juga memiliki endapan nikel laterit yang terbentuk dari pelapukan batuan ultrabasa. Namun, geologi wilayah ini lebih dipengaruhi oleh aktivitas vulkanisme dan tektonik yang lebih baru (Tersier hingga Kuarter). Hal ini menyebabkan distribusi endapan laterit lebih bervariasi. Karakteristik utama:
• Endapan utama: Nikel laterit (zona saprolit dan limonit), dengan beberapa indikasi sulfida nikel.
• Struktur geologi: Dipengaruhi oleh aktivitas vulkanisme dan tektonik busur belakang.
• Ketebalan laterit: Relatif lebih tipis dibandingkan Sulawesi, yaitu 5–20 meter.
• Kandungan nikel: 1,3–2,2% pada zona saprolit.
B. Proses Pembentukan Endapan 1. Sulawesi
Proses pembentukan endapan laterit nikel di Sulawesi sangat dipengaruhi oleh iklim tropis yang basah, topografi yang relatif datar, dan stabilitas geologi selama jutaan tahun. Faktor-faktor ini memungkinkan pelapukan kimia yang intens dan pengayaan nikel di zona saprolit. Proses pembentukan:
• Pelapukan batuan ultrabasa, menghasilkan pelepasan magnesium dan silikon.
• Akumulasi unsur nikel dan besi dalam profil laterit.
• Zona pengayaan (saprolit) menjadi target utama penambangan.
2. Halmahera/Maluku
Di Halmahera/Maluku, pembentukan endapan laterit dipengaruhi oleh dinamika tektonik yang lebih aktif, menyebabkan distribusi laterit lebih tidak merata.
Pelapukan kimia tetap menjadi mekanisme utama, tetapi erosi yang lebih intens mengurangi ketebalan profil laterit. Proses pembentukan:
1. Pelapukan batuan ultrabasa, serupa dengan Sulawesi.
2. Aktivitas tektonik dan vulkanisme menciptakan variasi dalam distribusi endapan.
3. Beberapa indikasi nikel sulfida ditemukan di batuan beku mafik.
C. Kondisi Eksplorasi dan Penambangan 1. Sulawesi
Sulawesi merupakan wilayah dengan aktivitas eksplorasi dan penambangan nikel yang paling maju di Indonesia. Infrastruktur yang baik, seperti pelabuhan dan jalan, mendukung kegiatan industri tambang. Perusahaan besar seperti PT Vale Indonesia dan berbagai smelter lokal beroperasi di wilayah ini. Keunggulan:
• Ketebalan laterit yang besar.
• Kadar nikel tinggi di zona saprolit.
• Infrastruktur penunjang yang baik.
2. Halmahera/Maluku
Eksplorasi di Halmahera dan Maluku berkembang lebih lambat dibandingkan Sulawesi. Meskipun terdapat potensi cadangan yang besar, tantangan infrastruktur dan lokasi yang lebih terpencil menjadi kendala utama.
Keunggulan:
• Potensi nikel sulfida sebagai tambahan dari laterit. •
• Cadangan yang masih belum sepenuhnya dieksplorasi.
Kendala:
• Aksesibilitas rendah.
• Infrastruktur penunjang yang terbatas.
D. Perbandingan Kandungan dan Potensi Ekonomi
Tabel 1. Perbandingan kandungan dan potensi Ekonomi
Aspel Sulawesi Halmahera/Maluku
Tipe Endapan Utama Nikel laterit (saprolit) Nikel laterit (saprolit Kadar Nikel (Saprolit) 1.5-2,5% 1,3-2,2%
Ketebalan Laterit 10-30 meter 5-20%
Infrastruktur Baik Terbatas
Eksplorasi Nikel Sulfida Jarang Ada indikasi di beberapa lokasi
4. KARAKTER NIKEL DI PAPUA
Papua adalah salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki potensi besar dalam sumber daya mineral, termasuk nikel. Meskipun eksplorasi dan pengembangan nikel di Papua belum seintensif wilayah lain seperti Sulawesi dan Halmahera, daerah ini menunjukkan indikasi
keberadaan endapan nikel yang signifikan. Karakter nikel di Papua terutama berkaitan dengan batuan ultrabasa yang tersebar di beberapa lokasi, khususnya di wilayah pegunungan dan dataran rendah. Artikel ini membahas karakteristik geologi, komposisi batuan, kadar nikel, dan potensi ekonomi sumber daya nikel di Papua.
A. Geologi dan Persebaran Batuan Pembawa Nikel di Papua
Wilayah Papua memiliki geologi yang kompleks karena letaknya yang berada di zona transisi antara Lempeng Indo-Australia dan Pasifik. Aktivitas tektonik yang intens telah menghasilkan berbagai tipe batuan, termasuk batuan ultrabasa yang menjadi sumber utama endapan nikel laterit di daerah ini. Karakteristik geologi utama:
• Batuan ultrabasa: Termasuk peridotit, harzburgit, dan dunit yang merupakan bagian dari kompleks ofiolit.
• Proses pelapukan: Iklim tropis Papua mempercepat pelapukan kimia batuan ultrabasa, menghasilkan endapan laterit yang kaya akan nikel.
• Distribusi geografis: Indikasi endapan nikel terdapat di beberapa wilayah seperti dataran tinggi dan wilayah pesisir di Papua Selatan dan Papua Tengah.
B. Komposisi Batuan dan Kandungan Nikel di Papua
Batuan ultrabasa di Papua memiliki komposisi mineral yang khas yang memengaruhi kadar dan distribusi nikel.
➢ Komposisi Mineral a) Mineral Utama
• Olivin (Mg,Fe)2SiO4: Sumber utama nikel dalam batuan ultrabasa
• Piroksen (Ca,Mg,Fe)Si2O6: Mengandung nikel dalam jumlah kecil, tetapi berperan dalam pembentukan profil laterit.
• Spinel group: Termasuk kromit dan magnetit, yang kadang berasosiasi dengan nikel.
b). Mineral Alterasi
• Serpentin: Hasil alterasi olivin, mengandung nikel yang terkonsentrasi selama proses pelapukan.
• Brucite dan talk: Mineral hasil serpentinisasi yang dapat memengaruhi kadar logam
➢ Kandungan Nikel
1. Nikel dalam batuan segar: Biasanya 0,2–0,3%.
2. Nikel dalam profil laterit: Kadar nikel dapat mencapai 1,3–2,2% di zona saprolit dan limonit, tergantung pada intensitas pelapukan dan stabilitas geologi setempat.
C. Proses Pembentukan Endapan Nikel di Papua
Proses pembentukan endapan nikel laterit di Papua mirip dengan wilayah tropis lainnya, tetapi memiliki beberapa karakteristik unik karena kondisi geologi lokal.
➢ Faktor Pembentukan
a) Iklim, Papua memiliki curah hujan yang tinggi dan suhu yang stabil, sehingga mempercepat pelapukan kimia batuan ultrabasa.
b) Topografi, Daerah dengan topografi datar hingga landai cenderung memiliki profil laterit yang lebih tebal dibandingkan daerah curam.
c) Struktur Geologi, Rekahan dan retakan pada batuan ultrabasa mempercepat infiltrasi air, meningkatkan intensitas pelapukan.
d) Erosi, Aktivitas erosi di daerah pegunungan dapat mengurangi ketebalan laterit di beberapa lokasi, tetapi juga membantu transportasi material kaya nikel ke daerah dataran rendah.
➢ Profil Laterit
Profil laterit di Papua umumnya terdiri atas:
a) Zona limonit, Lapisan atas yang kaya besi, dengan kadar nikel lebih rendah (1,3–
1,8%).
b) Zona saprolite, Lapisan bawah dengan kadar nikel lebih tinggi (1,8–2,2%).
c) Zona bedrock, Batuan induk ultrabasa yang belum terlapukkan.
D. Potensi Ekonomi dan tantangan Eksplorasi
➢ Potensi ekonomi
a) Cadangan nikel, Meskipun eksplorasi belum sepenuhnya dilakukan, indikasi cadangan nikel di Papua menunjukkan potensi yang signifikan, terutama di zona saprolit.
b) Industri hilir, Papua memiliki peluang untuk mengembangkan smelter nikel, yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi.
➢ Tantangan Eksplorasi
a) Aksesibilitas, Sebagian besar lokasi potensial berada di daerah terpencil dengan infrastruktur terbatas.
b) Kondisi alam, Hutan lebat dan medan yang sulit menyulitkan aktivitas eksplorasi dan penambangan.
c) Keberlanjutan lingkungan, Perlunya pengelolaan lingkungan yang hati-hati untuk mencegah kerusakan ekosistem di wilayah tropis yang sensitif.
E. Perbandingan dengan Wilayah Lain di Indonesia
Tabel 2. Perbandingan dengan Wilayah Lain di Indonesia
Aspek Papua Sulawesi Halmahera
Kadar Nikel (Saprolit) 1,8–2,2% 1,5–2,5% 1,3–2,2%
Ketebalan Laterit 5–20 meter 10–30 meter 5–20 meter
Infrastruktur Terbatas Baik Cukup
Eksplorasi Belum optimal Intensif Sedang
Berkembang
KESIMPULAN
Sebaran deposit nikel laterit di Indonesia sangat bervariasi baik dari segi ketebalan maupun kadar nikel. Metode penelitian modern seperti SIG dan analisis XRF memberikan wawasan mendalam mengenai potensi sumber daya ini. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang karakteristik dan distribusi deposit, eksplorasi dan pengelolaan sumber daya nikel dapat dilakukan dengan lebih efisien.
Batuan pembawa nikel di Indonesia umumnya merupakan batuan ultrabasa dari kompleks ofiolit berumur Mesozoikum hingga Tersier. Komposisi batuan ini didominasi oleh mineral olivin dan serpentin yang menjadi sumber utama nikel. Proses pelapukan kimia di lingkungan tropis menyebabkan pengayaan nikel dalam profil laterit, terutama di zona limonit dan saprolit. Wilayah seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua menjadi pusat utama cadangan nikel di Indonesia. Pemahaman mengenai umur dan komposisi batuan ini sangat penting untuk mendukung eksplorasi dan pengelolaan sumber daya nikel secara berkelanjutan.
Sulawesi dan Halmahera/Maluku merupakan dua wilayah utama penghasil nikel di Indonesia dengan karakteristik yang berbeda. Sulawesi unggul dalam hal ketebalan laterit, kadar nikel, dan infrastruktur pendukung. Di sisi lain, Halmahera/Maluku memiliki potensi tambahan berupa nikel sulfida, meskipun pengembangan wilayah ini masih menghadapi berbagai tantangan. Pemahaman yang mendalam tentang perbedaan geologi, proses pembentukan, dan kondisi eksplorasi di kedua wilayah ini sangat penting untuk strategi pengelolaan sumber daya nikel di Indonesia secara berkelanjutan.
Nikel di Papua memiliki karakteristik unik yang dipengaruhi oleh geologi, iklim, dan topografi wilayah ini. Meskipun eksplorasi dan pengembangan belum seintensif di Sulawesi atau Halmahera, Papua menunjukkan potensi besar dalam cadangan nikel laterit, terutama di zona saprolit. Tantangan utama dalam pengelolaan sumber daya nikel di Papua meliputi keterbatasan infrastruktur, aksesibilitas lokasi, dan perlunya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Ke depan, pengembangan industri nikel di Papua dapat memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian Indonesia, asalkan dilakukan dengan perencanaan yang matang dan mempertimbangkan aspek keberlanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (2020). Peta Potensi Mineral di Indonesia. Jakarta: Badan Geologi
2. Purba, D. S. & Siringoringo, M. B. A. (2018). Exploration and Resource Evaluation of Nickel Laterite in Indonesia. Indonesian Mining Journal, 23(1), 11–25.
3. Asri, M., Surono, & Locatelli, M. (2017). The Geology of Nickel Laterite Deposits in Papua. Indonesian Journal of Geology, 12(2), 45–62.
4. Van Leeuwen, T. M. (2014). Mineral Deposits of Indonesia: Discoveries and Developments. Journal of Geochemical Exploration, 69(3), 221–247.
5. United States Geological Survey (2021). Mineral Commodity Summaries – Nickel.
Reston, VA: USGS.
6. Mitchell, R. L. (1993). Nickel Laterites: Geological and Economic Perspectives. Ore Geology Reviews, 8(3), 183–207.
7. Elias, M. (2002). Nickel Laterite Deposits – Geological Overview, Resources, and Exploitation. Journal of Economic Geology, 97(2), 407–431.
8. Eggleton, R. A. (2001). Laterites and Nickel Laterites. Handbook of Geochemistry, 2(4), 305–318.
9. Dalvi, A. D., Bacon, W. G., & Osborne, R. C. (2004). The Past and the Future of Nickel Laterites. CIM Bulletin, 97(2), 23–31.
10. Gleeson, S. A., & Butt, C. R. M. (2010). Nickel Laterites: Classification and Processes.
Applied Geochemistry, 25(2), 119–125. 11. Slack, J. F., & Cannon, W. F. (2009).
Mineral Deposits in Tropical Environments. Reviews in Economic Geology, 16, 65–
84.
11. Slack, J. F., & Cannon, W. F. (2009). Mineral Deposits in Tropical Environments.
Reviews in Economic Geology, 16, 65–84.
12. Tang, C. (2018). Advances in Nickel Laterite Processing. Minerals Engineering, 19(3), 52–64.
13. Brand, N. W., & Butt, C. R. M. (2001). Geochemistry of Nickel Laterites: A Global Perspective. Chemical Geology, 175(3), 249–272.
14. Woodcock, J. T. (1976). Nickel Sulfide and Laterite Deposits. Transactions of the Institution of Mining and Metallurgy, 85(3), 42–50.
15. Coleman, R. G. (1977). Ophiolites: Ancient Oceanic Lithosphere. New York:
Springer-Verlag.
16. Amiruddin, H. (2015). Potensi dan Persebaran Nikel di Indonesia. Jurnal Geologi Indonesia, 10(2), 85–101.
17. Hermawan, T. (2019). Kajian Geologi Endapan Laterit Nikel di Pulau Obi, Maluku Utara. Indonesian Mining Journal, 24(3), 45–58.
18. Subroto, E. A., & Yuwono, H. (2020). Eksplorasi Nikel Laterit di Wilayah Papua:
Tantangan dan Peluang. Jurnal Teknologi Mineral, 19(4), 11–24.
19. Sutjipto, B. (2016). Endapan Nikel dan Geologi Sulawesi Tenggara. Bulletin Geologi, 12(1), 72–90.
20. Pratama, A. F. (2021). Analisis Pengolahan Nikel Laterit di Indonesia. Jurnal Teknik Industri Pertambangan, 15(1), 33–46.