• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Greenpeace Dalam Mengatasi Karhutla Riau 2015

N/A
N/A
DB

Academic year: 2024

Membagikan "Peran Greenpeace Dalam Mengatasi Karhutla Riau 2015"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN GREENPEACE DALAM MENGATASI KARHUTLA RIAU 2015

Tugas Paper Teori Hubungan Internasional HI-A Dosen Pengampu: Machya Astuti Dewi, Dr., M.Si.

Disusun oleh:

Ayanna Suci Ambarwati (151230003) Muhtadibillah Ismail Daud Lubis (151230022)

Fema Restiano Putra (151230026)

JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL

“VETERAN” YOGYAKARTA 2024

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Politik Internasional semakin berubah beriringan dengan perkembangan zaman. Di masa lampau politik internasional hanya berkaitan dengan hubungan antara negara dan peperangan. Teori yang muncul pada zaman dahulu berupa teori realisme dan liberalisme.

Berkembangnya zaman semakin banyak bermunculan teori-teori yang tidak hanya membahas tentang perang dan hubungan antara negara. Muncul teori-teori baru seperti teori kritis, marxisme, feminisme, dan politik hijau.

Politik hijau tidak lagi membahas perang ataupun kerja sama terkait dengan pertahanan dan keamanan. Teori ini lebih memperhatikan aspek lingkungan sebagai objek politik internasional. Tindakan-tindakan negara atas lingkungan atau bencana yang terjadi di sebuah negara saat ini sudah menjadi sebuah pembahasan antara negara. Banyak organisasi-organisasi berskala internasional yang dibentuk atas dasar kepedulian terhadap lingkungan seperti WWF (World Wide Fund for Nature), UNEP (United Nations Environment Programme), Greenpeace, dan masih banyak lagi.

Di Indonesia pernah ada sebuah bencana yang mendapatkan atensi secara Internasional.

Bencana tersebut adalah kebakaran hutan dan lahan di provinsi Riau yang terjadi pada tahun 2015. Bencana kebakaran yang menyebar hampir seluas 2,5 juta hektare ini mengakibatkan berbagai dampak baik dari segi ekonomi, sosial, dan kesehatan masyarakat. Negara-negara sekitar seperti Malaysia dan Singapura juga terkena dampaknya. Penyebab dari kebakaran hutan dan lahan ini adalah dilakukannya pembakaran secara sengaja guna dialihfungsikan menjadi perkebunan. Atas kejadian ini pemerintah Indonesia mendapatkan kritikan dari berbagai pihak mulai dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Kritik dari luar negeri ini salah satunya muncul dari Greenpeace selaku organisasi internasional yang berkecimpung dalam lingkungan.

Greenpeace merupakan sebuah organisasi internasional yang berfokus pada pengadvokasian lingkungan. Greenpeace seringkali mengkampanyekan pemberhentian tindakan-tindakan yang merusak lingkungan seperti pembakaran hutan. Dalam kasus ini Greenpeace berperan dalam melakukan kampanye tersebut dan beberapa hal lain seperti pemantauan dan penelitian terkait kebakaran hutan dan lahan di Riau dan menggalang

(3)

dukungan untuk menekan pihak-pihak terkait seperti pemerintah dan perusahaan supaya menghentikan dan melarang praktik pembakaran hutan.

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, kami mengambil rumusan masalah yaitu:

1. Bagaimana peran organisasi internasional Greenpeace dalam mengatasi kasus Kebakaran Hutan Lahan (Karhutla) Riau pada tahun 2015.

(4)

BAB II PEMBAHASAN

A. Politik Hijau

Politik hijau atau sering disebut juga dengan green politics adalah aliran politik yang menekankan pentingnya kelestarian lingkungan hidup, keadilan sosial, dan demokrasi partisipatif. Gerakan ini muncul pada pertengahan abad ke-20 sebagai tanggapan terhadap meningkatnya kekhawatiran mengenai dampak manusia terhadap lingkungan dan ketidakadilan sosial. Berikut adalah beberapa elemen kunci dari politik hijau:

1. Kelestarian Lingkungan

Ini adalah dasar dari politik hijau. Pendukungnya berargumen bahwa manusia harus hidup dalam keseimbangan dengan alam untuk memastikan keberlangsungan planet ini bagi generasi mendatang. Kebijakan yang dicakup meliputi: Pengurangan Emisi Karbon, Konservasi Sumber Daya, dan Pengelolaan Limbah.

2. Keadilan Sosial

Politik hijau juga menekankan pentingnya keadilan sosial. Mereka berpendapat bahwa perlindungan lingkungan harus sejalan dengan peningkatan kesejahteraan manusia, terutama bagi kelompok-kelompok yang rentan.

3. Demokrasi Partisipatif

Politik hijau menekankan bahwa masyarakat harus memiliki suara dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi lingkungan dan komunitas mereka. Aspek-aspek yang ditekankan meliputi: Transparansi Pemerintah, Partisipasi Publik, dan Desentralisasi Kekuasaan.

4. Ekonomi Berkelanjutan

Ekonomi hijau atau ekonomi berkelanjutan adalah bagian dari politik hijau yang berfokus pada integrasi kelestarian lingkungan dengan pertumbuhan ekonomi. Ini mencakup:

Ekonomi Sirkular, Investasi Hijau, dan Pajak Lingkungan.

5. Globalisme

Politik hijau juga mengakui pentingnya tindakan global untuk mengatasi tantangan lingkungan yang bersifat lintas batas, seperti perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Kerja sama internasional dan kebijakan global yang kuat dianggap esensial.

(5)

Dengan mengintegrasikan semua elemen di atas, politik hijau berupaya menciptakan masyarakat yang berkelanjutan, adil, dan demokratis. Partai-partai hijau dan gerakan lingkungan di berbagai negara terus memperjuangkan prinsipgreen politicsini.

Green politics mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat terhadap lingkungan dengan memberikan kesadaran akan pentingnya perlindungan lingkungan dan keberlanjutan. Ini dapat merangsang individu untuk mengambil tindakan yang lebih ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari mereka, seperti pengurangan penggunaan plastik, mendukung energi terbarukan, atau memilih produk yang lebih berkelanjutan. Selain itu,green politicsjuga bisa memperkuat gerakan masyarakat sipil yang memperjuangkan isu-isu lingkungan, seperti penggalangan dukungan untuk kampanye perlindungan alam atau protes terhadap kebijakan yang merugikan lingkungan.

B. Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Riau Tahun 2015

Karhutla atau kebakaran hutan dan lahan merupakan sebuah peristiwa terbakarnya sebagian wilayah hutan atau lahan yang disebabkan oleh faktor alami maupun manusia.

Kebakaran hutan dan lahan dapat menimbulkan dampak baik di bidang ekonomi, sosial, kesehatan, dan tentunya lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan dapat terjadi karena adanya pengaruh alam ataupun tindakan manusia baik secara sengaja maupun tidak. Penyebab kebakaran hutan dan lahan sebagai berikut:

1. Petir

Sambaran petir pada semak, pohon, atau benda mudah terbakar lainnya di hutan dapat memicu munculnya api yang menyebabkan kebakaran. Akan tetapi munculnya kebakaran karena sambaran petir perlu memperhatikan beberapa faktor seperti cuaca, jenis pohon, dan lanskap hutan.

2. Letusan Vulkanik Gunung Berapi

Letusan gunung berapi biasanya memunculkan lava vulkanik yang panas. Lava vulkanik ini bergerak dan dapat membakar vegetasi - vegetasi yang dilaluinya.

3. Musim Kemarau

Keadaan musim kemarau yang panas dan kering dapat memicu timbulnya api dari pepohonan. Selain itu rendahnya intensitas hujan juga menyebabkan kondisi kering yang mempermudah api untuk menjalar

4. Kondisi Tutupan Lahan dan Jenis Tanah

(6)

Kondisi tutupan lahan dan jenis tanah berkaitan dengan biomassa yang menjadi komponen utama munculnya kebakaran hutan dan lahan. Jenis tanah seperti gambut juga mudah untuk terbakar serta menyebar.

5. Pembukaan Lahan Dengan Cara Dibakar

Pembukaan lahan dengan cara dibakar biasanya sengaja dilakukan oleh manusia untuk mengalih fungsikan hutan atau lahan menjadi area perkebunan. Pembakaran hutan yang tidak diatur dapat menyebabkan pembakaran menjadi liat dan merambat kemana-mana sehingga menjadi sebuah bencana. Kebakaran hutan dan lahan karena pembukaan lahan pernah terjadi di Indonesia seperti Karhutla Riau tahun 2015.

Kebakaran hutan dan lahan Riau pada tahun 2015 merupakan bencana alam kebakaran hutan yang sangat masif. Kebakaran yang terjadi hampir seluas 2,5 juta hektare. Kebakaran yang terjadi ini diakibatkan oleh adanya pembakaran secara sengaja untuk merubah hutan menjadi perkebunan oleh beberapa individu dan perusahaan kelapa sawit.

Adapun dampak-dampak dari kebakaran hutan dan lahan Riau pada tahun 2015, di antaranya adalah sebagai berikut:

Kerugian ekonomi

Produksi dari komoditas di Riau seperti kelapa sawit dan karet sempat terganggu. Asap yang tebal dan menggangu pandangan juga menyurutkan pariwisata. Biaya pemulihan juga menguras keuangan negara.

Dampak sosial

Akibat dari asap yang tebal aktivitas masyarakat menjadi terganggu seperti ditutupnya sekolah dan tempat kerja karena kondisi udara yang tidak sehat. Masyarakat juga mengalami gangguan psikologis karena tidak ada kepastian kapan bencana akan usai dan keadaan membaik.

Kerusakan lingkungan

Kebakaran hutan dan lahan menyebabkan kerusakan lingkungan seperti kerusakan ekosistem, hilangnya flora dan fauna, terganggunya siklus hujan, dan meningkatkan emisi gas rumah kaca.

Gangguan kesehatan

Asap tebal beresiko terhadap munculnya beberapa penyakit seperti asma, bronkitis, dan penyakit paru - paru lainnya. Polusi yang dihasilkan juga dapat menyebabkan iritasi mata, sakit kepala, dan penyakit kardiovaskular.

(7)

Kebakaran hutan dan lahan Riau 2015 mendapatkan atensi dari pemerintah sehingga pemerintah turun tangan melakukan tindakan seperti:

● Memadamkan titik api

Pemerintah melalui BNPB, SATGAS, TNI, dan pihak berwenang setempat melakukan pemadaman di beberapa titik api sehingga api tidak menjalar lebih jauh

● Rehabilitasi lingkungan

Pemerintah membangun kembali hutan - hutan dan lahan yang terbakar supaya dapat berfungsi seperti sebelumnya

● Kampanye pencegahan

Pemerintah menyuarakan kampanye - kampanye pencegahan berupa larangan pembukaan lahan dengan pembakaran hutan

● Penegakan hukum

Para pelaku pembakaran hutan dan lahan baik individu maupun perusahaan dikenai sanksi hukum melalui persidangan.

● Peningkatan pengawasan

Untuk mencegah tindakan pembakaran hutan secara ilegal pemerintah memperketat pengawasan.

● Kolaborasi Internasional

Pemerintah bekerjasama dengan pihak-pihak internasional untuk membantu menyuarakan kampanye pencegahan pembakaran hutan

C. Organisasi Internasional Greenpeace Sejarah Greenpeace

Pada tahun 15 September 1971, terdapat sekelompok aktivis yakni Irving Stowe, Dorothy Stowe, Ben Metcalfe, Jim Bohlen, Bob Hunter, dan Paul Cote, yang berlayar dari Vancouver, Canada menuju Amchitka dengan menggunakan kapal nelayan tua yang bernama Phyllis Cormack. Sekelompok aktivis itu adalah para pendiri organisasi Greenpeace. Saat itu, misi awal mereka hanya ingin menghentikan pengujian nuklir dan menyaksikan dampak buruk yang terjadi akibat dari uji coba nuklir yang dilakukan Amerika Serikat di Amchitka.

Amchitka merupakan sebuah pulau kecil yang berada di pesisir barat Alaska, yang saat itu berfungsi sebagai tempat perlindungan terakhir bagi sekitar 3.000 berang-berang dan rumah elang kepala botak serta beberapa satwa liar lainnya.

(8)

Namun, mereka gagal mencapai Amchitka karena terdapat masalah kepabeanan dalam perjalanan mereka. 2 bulan berlalu setelah kegagalan tersebut, kelompok aktivis tersebut kembali melakukan misi penghentian uji coba nuklir dengan menggunakan kapal pengganti Edgewater Fortune yang kemudian dinamai Greenpeace dan diadopsi menjadi sebuah organisasi.

Selain melakukan gerakan kampanye anti nuklir, pada tahun-tahun berikutnya Greenpeace juga mulai menyuarakan gerakan-gerakan kampanye yang menyangkut isu lingkungan hidup seperti kampanye anti pemburuan paus pada tahun 1973, gerakan menentang pemusnahan anak anjing laut pada tahun 1976, kampanye melawan racun dan polusi pada pertengahan tahun 1979, serta kampanye melawan hujan asam, polusi udara, penipisan lapisan ozon, dan pemanasan global pada tahun 1990.

Pada tahun 1985, terjadi sebuah insiden yaitu terjadi ledakan besar di kapal Rainbow Warrior milik Greenpeace, yang kemudian mengakibatkan tenggelamnya kapal tersebut dan menewaskan Fernando Pereira, fotografer asal Belanda. Insiden besar tersebut membuat nama Greenpeace semakin tersorot oleh masyarakat dunia. Sejak saat itu, Greenpeace semakin terkenal sebagai salah satu NGO (Non-Governmental Organization) yang bergerak di bidang lingkungan dunia.

Nilai dan Prinsip Greenpeace

Sebagai organisasi independen yang menggunakan konfrontasi damai dan kreatif untuk mengungkap masalah lingkungan di seluruh dunia, Greenpeace berpegang pada beberapa nilai dan prinsip yang mendasari seluruh operasinya. Berikut adalah nilai dan prinsip yang dipegang oleh Greenpeace:

Aksi tanpa kekerasan dan bertanggungjawab secara pribadi.Greenpeace melakukan aksinya dengan penuh kesadaran dan siap bertanggungjawab atas aksi yang mereka lakukan.

Independensi.Independensi disini bermakna bahwa organisasi Greenpeace tidak pernah meminta atau menerima pendanaan dari pihak manapun, termasuk pemerintah, partai politik, maupun perusahaan. Greenpeace menerima pendanaan hanya melalui donasi individu yang merupakan tulang punggung kampanye Greenpeace.

Greenpeace tidak punya lawan atau kawan yang permanen.Greenpeace hanya akan melakukan kerjasama dengan pemerintah dan/atau perusahaan apabila pemerintah dan/atau perusahaan tersebut memiliki komitmen untuk melakukan perubahan positif.

(9)

Tetapi, jika komitmen itu tidak dijalankan, maka Greenpeace akan mengakhiri kerjasama dan kembali berkampanye sendiri.

Mempromosikan solusi. Menurut Greenpeace, melakukan tekanan saja tidaklah cukup.

Greenpeace senantiasa merancang, melakukan riset, dan mengkampanyekan langkah-langkah nyata demi mewujudkan masa depan dunia yang hijau dan damai.

Greenpeace di Indonesia

Pada tahun 2005 Greenpeace hadir di Indonesia dan terdaftar secara resmi di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Pada awalnya, Greenpeace Indonesia hanya memfokuskan kegiatannya pada penghentian perusakan lingkungan dan deforestasi di Indonesia. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Greenpeace Indonesia mulai aktif melakukan berbagai kampanye dan mengambil peran dalam berupaya mengatasi persoalan lingkungan lain seperti pencemaran laut, polusi udara, persoalan energi, hingga perubahan iklim.

Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan hutan yang cukup luas. Hal ini mendorong Greenpeace untuk melakukan berbagai langkah atau upaya untuk melindungi, menjaga, dan menyelamatkan hutan Indonesia melalui cara tanpa kekerasan, yakni dengan melakukan gerakan kampanye, salah satunya adalah kampanye mengenai kebakaran hutan dan lahan.

Salah satu kasus besar yang ditangani oleh Greenpeace di Indonesia adalah kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Riau pada tahun 2015 silam. Kebakaran tersebut dianggap sebagai salah satu bencana terbesar yang terjadi di abad ke-21.

D. Peran Greenpeace dalam Kasus Karhutla Riau Tahun 2015

Greenpeace melakukan beberapa langkah dan upaya dalam menangani kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Riau pada tahun 2015, langkah dan upaya tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Membuat “Kampanye Hutan Tanpa Api”

Kampanye Hutan Tanpa Api adalah upaya Greenpeace untuk menangani kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada tahun 2015 dan mencegah kebakaran hutan terjadi lagi.

Kampanye ini disuarakan melalui media sosial seperti X (Twitter), Instagram, dan Facebook. Kampanye Hutan Tanpa Api berisi ajakan yang ditujukan kepada masyarakat untuk menandatangani petisi online yang menyuarakan tentang perlindungan dan penyelamatan hutan. Selain melalui media sosial, Greenpeace juga menyuarakan

(10)

Kampanye Hutan Tanpa Api melalui talkshow yang tentu saja menarik perhatian khalayak ramai.

2. Membentuk “Tim Cegah Api Greenpeace”

Tim Cegah Api Greenpeace merupakan bentuk realisasi dari Kampanye Hutan tanpa Api. Tim Cegah Api Greenpeace inilah yang akan terjun langsung dalam penanganan kasus karhutla yang terjadi di Riau pada tahun 2015. Anggota Tim Cegah Api Greenpeace berisikan relawan dari berbagai daerah yang memiliki rasa sukarela dalam membantu menangani kebakaran hutan dan lahan yang terjadi.

Dengan adanya Tim Cegah Api Greenpeace, pemerintah merasa sangat terbantu dalam proses penanganan karhutla yang terjadi. Tim Cegah Api Greenpeace melakukan aksinya dengan cara seperti melakukan pengawasan, menganalisis setiap data baru, melakukan pemeriksaan data, dan melakukan pengecekan langsung ke lapangan. Selain itu, Tim Cegah Api Greenpeace juga ikut andil dalam pemadaman kebakaran dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat setempat.

Dalam melakukan aksinya, Tim Cegah Api Greenpeace bekerja sama dengan penduduk setempat untuk melakukan pemetaan, pengawasan munculnya titik api baru, serta melakukan pengawasan apabila terjadi pengeringan kanal gambut yang baru.

3. Memberikan edukasi kepada masyarakat melalui media sosial

Greenpeace memberikan edukasi kepada masyarakat melalui situs online resminya yaitu greenpeace.org dan melalui akun media sosial lainnya seperti X (Twitter), Instagram, Facebook, dan YouTube. Edukasi yang diberikan oleh Greenpeace mencakup informasi mengenai titik karhutla, informasi mengenai tata cara pemadaman api, dan tata cara pengelolaan lahan gambut.

4. Mengadakanworkshopatau sosialisasi secara langsung kepada masyarakat

Selain melalui media sosial, Greenpeace juga memberikan edukasi secara langsung kepada masyarakat dengan mengadakan talkshow atau workshop yang berisi informasi pembekalan tentang tata cara pembukaan lahan tanpa bakar dan juga pembekalan tentang tata cara penanganan kebakaran hutan dan lahan.

5. Melakukan kerja sama dengan satuan tugas (SATGAS)

Dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di Riau, Greenpeace melakukan kerja sama dengan SATGAS yang terdiri dari TNI dan POLRI.

6. Melakukan kerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) setempat

(11)

Selain bekerja sama dengan pemerintah dan SATGAS, Greenpeace juga menjalin kerja sama dengan LSM setempat yang bergerak di bidang lingkungan, salah satunya adalah WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia). Wujud kerja sama yang dilakukan yaitu seperti mengumpulkan data tentang kebakaran hutan, mengadakan kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, dan mengajak masyarakat untuk berkontribusi dalam penyelesaian masalah kebakaran hutan dan polusi udara yang dihasilkan.

Langkah dan upaya di atas yang dilakukan oleh Greenpeace terbilang berhasil dalam mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan di Riau pada tahun 2015. Hal ini dibuktikan dengan berkurangnya titik api kebakaran hutan pada tahun berikutnya.

(12)

E. Kritik Greenpeace Terkait Karhutla Riau Tahun 2015

Greenpeace Indonesia memperkirakan bahwa deforestasi akan meningkat di masa depan sebagai akibat dari proyek food estate seperti PSN dan PEN. Greenpeace Indonesia memperkirakan bahwa industrialisasi pangan akan menghancurkan jutaan hektar hutan alam. Menurut Greenpeace Indonesia, dalam waktu dekat, Indonesia akan sulit untuk berharap terbebas dari karhutla tahunan jika pemerintah terus membiarkan industri menggoreng berkembang.

Pihak greenpeace menganggap bahwa Undang-Undang Cipta Kerja yang baru saja disahkan oleh DPR RI mungkin tidak akan dapat mengatasi kebakaran hutan serta lahan tahun-tahun yang akan datang. Omnibus Law telah melemahkan aturan-aturan yang dibuat sebelumnya, yang dimaksud Greenpeace sebagai pembebasan hukuman bagi pelaku pembakaran di sektor perkebunan besar. Pasal 88 Undang-Undang 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pasal 49 Tahun 1999 tentang Kehutanan adalah contoh aturan yang telah mengalami perubahan.

Berbagai keputusan ini banyak dikritik berbagai pihak karena meskipun uang pajak dari berbagai negara diluar digunakan untuk melindungi hutan Indonesia, pemerintah dianggap gagal dalam memaksa perusahaan yang bertanggung jawab atas kebakaran hutan dan emisi besar yang dihasilkannya untuk membayar akibat kesalahan mereka.

Menurut berbagai penelitian, salah satu kota yang dampaknya sangat besar dalam kasus kabut asap 2015 adalah Palangka Raya karena kualitas udaranya yang sangat buruk menurut Greenpeace, bahkan kasus udara di Palangka Raya termasuk yang terburuk selama tercatat di dunia. Namun, pemerintah meremehkan dampak kualitas udara tersebut terhadap kesehatan manusia padahal kebakaran tersebut telah membabat habis hutan di Indonesia.

Selain itu, Greenpeace menekankan akan banyaknya bahaya yang akan disebabkan oleh kebakaran terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan sekitar. Kebakaran hutan di Indonesia, termasuk di Riau, menyebabkan polusi udara yang parah, mengganggu kesehatan jutaan orang, dan merusak ekosistem lokal. Selain itu, asap dari kebakaran menyebabkan kontribusi yang signifikan terhadap emisi gas rumah kaca di kancah global.

Mereka memperingatkan bahwa kebakaran ini memperburuk krisis iklim dan meminta pemerintah mengambil tindakan yang lebih serius.

(13)

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN

Politik hijau adalah aliran politik yang menekankan pentingnya kelestarian lingkungan hidup, keadilan sosial, dan demokrasi partisipatif. Politik hijau muncul pada pertengahan abad ke-20 sebagai tanggapan terhadap meningkatnya kekhawatiran mengenai dampak manusia terhadap lingkungan dan ketidakadilan sosial.

Politik hijau juga bisa memperkuat gerakan masyarakat sipil yang ingin memperjuangkan isu-isu lingkungan, seperti penggalangan dukungan untuk kampanye perlindungan alam atau protes terhadap kebijakan yang merugikan lingkungan seperti yang terjadi pada kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Riau pada tahun 2015.

Kebakaran hutan dan lahan Riau pada tahun 2015 merupakan bencana alam kebakaran hutan yang sangat besar. Kebakaran yang terjadi hampir seluas 2,5 juta hektare diakibatkan oleh adanya pembakaran secara sengaja untuk merubah hutan menjadi perkebunan oleh beberapa individu dan perusahaan kelapa sawit. Karhutla ini membawa banyak dampak yang merugikan bagi masyarakat sekitar hingga negara lain yang jaraknya berdekatan dengan Riau. Dampak yang dihasilkan di antaranya adalah: kerugian ekonomi, gangguan kesehatan, kerusakan lingkungan, dan dampak sosial.

Melihat hal tersebut, Greenpeace selaku INGO yang bergerak di bidang perlindungan lingkungan hidup mengambil tindakan untuk membantu mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan tersebut. Bantuan yang diberikan oleh Greenpeace di antaranya adalah:

menyuarakan “Kampanye Hutan Tanpa Api”, membentuk “Tim Cegah Api” sebagai wujud realisasi dari kampanye, memberikan edukasi kepada masyarakat melalui media sosial dan melalui talkshow atau workshop, serta melakukan kerja sama dengan SATGAS dan LSM setempat yaitu WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia).

Atas terjadinya kasus karhutla ini, Greenpeace juga memberikan kritik kepada pemerintah bahwa UU yang mereka ciptakan tidak bisa untuk mengurangi kasus pembakaran hutan dan lahan di Indonesia.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Amanda, D. T. (2022). PERAN GREENPEACE DALAM MENANGANI KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI PROVINSI RIAU TAHUN 2015. JOM FISIP, 9.

https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/download/33836/32517

BPBD Kabupaten Hulu Sungai Selatan. (2022, November 28). Sebaiknya Anda Tahun tentang

“KARHUTLA” – BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH. BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH. Retrieved June 11, 2024, from https://bpbd.hulusungaiselatankab.go.id/?p=368

Fakhrian, L. R., Abrar, & Santosa, F. H. (2024). Greenpeace: Sebuah Gerakan Sosial Dan Politik Hijau Di Indonesia (Kampanye Greenpeace Di Jakarta 2006-2021.Journal on Education, 06. https://jonedu.org/index.php/joe/article/view/5730/4673

Greenpeace Indonesia. (2019, September 24). Briefer - Krisis Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia: Perusahaan Kelapa Sawit dan Bubur Kertas dengan Area Kebakaran Terbesar Tak Tersentuh Hukum - Greenpeace Indonesia. Greenpeace. Retrieved June 11,

2024, from

https://www.greenpeace.org/indonesia/publikasi/3795/briefer-krisis-kebakaran-hutan-dan -lahan-di-indonesia-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-dengan-area-kebakaran-te rbesar-tak-tersentuh-hukum/

Greenpeace Indonesia. (2021, November 17). Tentang Kami - Greenpeace Indonesia.

Greenpeace. Retrieved June 11, 2024, from

https://www.greenpeace.org/indonesia/tentang-kami/

Kudadiri, F. R. (2023).PERAN DAN STRATEGI GREENPEACE DALAM MENGATASI POLUSI UDARA DI INDONESIA (2014-2019). Retrieved June 11, 2024, from https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/47879/18323161.pdf?isAllowed=y&

sequence=1

Pandu, P. (2022, October 11). Aktor Utama Penyebab Karhutla 2015 Perlu Terus Diungkap.

Kompas.id. Retrieved June 11, 2024, from

https://www.kompas.id/baca/humaniora/2022/10/11/aktor-utama-penyebab-karhutla-2015 -perlu-terus-diungkap

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan melalui wawancara mendalam terhadap tiga jurnalis SKH Riau Pos yang intens meliput kebakaran hutan dan lahan di Riau dapat

Di Provinsi Riau telah terjadi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di beberapa lokasi, selain pemadaman darat, juga telah dilakukan pemadaman dari udara menggunakan Helicopter

PERAN KESEHATAN LINGKUNGAN DALAM PENANGANAN BENCANA KEBAKARAN HUTAN DAN

Asap sebagai akibat kebakaran hutan dan lahan, seperti di Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan Kalimantan tahun 2015 (Agustus-Desember) telah menimbulkan dampak

Kepala Seksi Program Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan pada Subdirektorat Perencanaan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Direktorat Pengendalian Kebakaran

Di Provinsi Riau telah terjadi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di beberapa lokasi, selain pemadaman darat, juga telah dilakukan pemadaman dari udara menggunakan

N E X T Dari data yang sudah dilampirkan, kami menyepakati untuk mengangkat masalah kebakaran hutan di Provinsi Riau, karena setiap tahun potensi bencana kebakaran hutan selalu

Bentuk Respon Indonesia Pasca Ratifikasi AATHP terkait Kebakaran Hutan dan Lahan di Riau tahun 2018 – 2019 ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution AATHP, yang