Paul Preston dan Thomas Zimmerer mengatakan bahwa organisasi adalah kumpulan orang-orang, yang diorganisasikan ke dalam kelompok-kelompok, yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, pengertian dan pengertian organisasi secara umum diartikan sebagai suatu kelompok yang terdiri dari 2 orang atau lebih yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu secara bersama-sama.
Unsur – Unsur Organisasi
- Man (Orang – orang)
- Kerja Sama
- Tujuan Bersama
- Peralatan
- Lingkungan (Environment)
- Kekayaan Alam
Berdasarkan pengertian dan definisi di atas, selain adanya ciri-ciri yang dapat kita gunakan untuk mengidentifikasi suatu organisasi atau sekedar kumpulan barang atau orang. Tujuan juga menggambarkan apa yang ingin dicapai melalui prosedur, program, model (jaringan), kebijakan, strategi, anggaran dan peraturan yang ditetapkan.
Tujuan Organisasi
Menetapkan tujuan organisasi memerlukan tahapan perencanaan yang tepat dan konsep tujuan organisasi yang jelas. Oleh karena itu, diperlukan anggota organisasi yang mempunyai kemampuan dan komitmen yang kuat dalam menetapkan dan mencapai tujuan organisasi.
Manfaat Organisasi
Pembentukan Organisasi
Sebelum bergabung, membuat, atau mencari organisasi untuk bergabung, kita harus terlebih dahulu memahami karakteristik, desain, tujuan, dan kekuatan organisasi tersebut. Dengan struktur tersebut, kami berharap tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas dan pelaksanaan perannya.
Siklus Hidup Organisasi
Selain model siklus organisasi yang dikemukakan oleh Adizes (1989) dalam (Hanks, 2015) di atas, model siklus organisasi lainnya adalah model pertumbuhan yang dikemukakan oleh Greiner dalam (Daft, 2007). Ada pula beberapa organisasi yang sudah berusia 40 tahun namun masih bertahan di tahap 2. Dapat kita simpulkan bahwa tahapan pertumbuhan organisasi tidak sama dengan usia kronologis organisasi.
Teori Organisasi Klasik
Pandangan para ahli teori klasik terhadap perkembangannya kemudian mendapat penilaian dan kritik dari para ahli teori organisasi kemudian. Meskipun para ahli teori organisasi klasik menunjukkan manfaat dari berbagai struktur organisasi, argumen mereka sering kali hanya sepihak.
Teori Neo-klasik
Saat para karyawan tersebut sedang bekerja, para peneliti melakukan perubahan pada tingkat pencahayaan di tempat kerja dan kemudian menilai hasil produktivitasnya. Pada tahap kedua ini, peneliti aktif berkonsultasi dengan karyawan yang ikut serta dalam percobaan. Hal ini memastikan bahwa karyawan lebih cenderung mengikuti pola kerja kelompok dibandingkan mengikuti perintah manajer.
Dengan demikian, kelompok memainkan peranan penting dalam menentukan sikap dan kinerja individu pekerja;
Teori Modern
- Bagian dari sistem
- Hubungan antar bagian dari sistem
- Proses Saling Hubungan Antar Bagian
- Tujuan dari sistem
Pendekatan sistem ini tidak hanya melihat organisasi sebagai suatu kesatuan yang mempunyai tujuan, namun melihat lebih dalam hubungan antar unsur-unsur dalam organisasi, serta berbagai proses yang terjadi dalam hubungan antar unsur-unsur tersebut. Jika kita memandang suatu organisasi sebagai suatu sistem, setidaknya terdapat tiga subsistem, yaitu (1) subsistem teknis, (2) subsistem sosial, dan (3) subsistem energi. Ada pembagian kerja yang tertanam antara bagian-bagian atau komponen-komponen suatu organisasi sebagai suatu sistem.
Setiap sistem selalu mempunyai tujuan tertentu, sehingga organisasi sebagai suatu sistem juga mempunyai tujuan tertentu.
Teori Contingency
Pemikiran-pemikiran Woodward tersebut memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi perkembangan teori organisasi sejak dulu hingga sekarang, khususnya pengetahuan tentang cara kerja suatu organisasi. Struktur organisasi dipandang sebagai alat pengolahan informasi yang dirancang untuk mencapai koordinasi dan integrasi antar bagian atau komponen suatu organisasi. Fokus perhatian Lorsch dan Lawrence adalah pada hubungan kontingen antara suatu organisasi dan lingkungannya.
Menurut Lorsch dan Lawrence, kondisi tersebut merupakan kondisi terbaik bagi suatu organisasi untuk beroperasi di lingkungan kerja yang berteknologi tinggi.
Konsep Keefektifan Organisasi
Organisasi merupakan kumpulan individu dan kelompok, sehingga efektivitas organisasi pada dasarnya merupakan fungsi dari efektivitas individu dan kelompok. Sedangkan yang dimaksud dengan efektivitas organisasi adalah ketepatan tujuan suatu proses yang terjadi pada lembaga formal yang melaksanakan kerjasama dengan komponen-komponen yang saling terkoordinasi demi tercapainya tujuan. Pennings, (1977) dalam (Soetopo, 2010). Pembahasan terkait efektivitas organisasi dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu: 1) model tujuan efektivitas organisasi, yaitu suatu organisasi dikatakan efektif apabila telah mencapai tujuan yang telah ditentukan, suatu organisasi dapat dikatakan efektif apabila tujuan yang telah ditetapkan tercapai. tujuan organisasi dapat dicapai atau dicapai; 2) model sumber daya sistem efektivitas organisasi, yaitu suatu organisasi dikatakan efektif apabila organisasi tersebut mampu memanfaatkan keadaan lingkungan dan memanfaatkan sumber daya yang bermanfaat, yaitu.
Penggabungan kedua pendekatan di atas akan menghasilkan satu pendekatan untuk melihat efektivitas organisasi.
Komponen-komponen Keefektifan Organisasi
Perumusan tujuan adalah metode yang digunakan untuk merumuskan tujuan organisasi, yang berkaitan dengan tingkat perumusan tujuan, tingkat pemenuhan tujuan, dan tingkat penerimaan tujuan yang dirumuskan. Proses pengendalian adalah memberikan pengawasan terhadap berjalannya organisasi, yang berkaitan dengan tingkat pengendalian, keakuratan informasi untuk pengendalian dan pihak-pihak yang menjalankan fungsi pengendalian. 59. manajemen, 2) Apa yang ditunjukkan oleh bawahan, (d) Besarnya pengaruh nyata yang ditunjukkan oleh manajer terhadap tujuan, kegiatan dan metode yang diterapkan dalam unitnya, (e) sejauh mana struktur saluran komunikasi dari satu bagian organisasi ke sedetik, terutama pengaruh yang diberikan.
Keberlanjutan sebagai kriteria efisiensi mengacu pada tanggung jawab suatu organisasi/perusahaan dalam memperluas dan mengembangkan kapasitas dan potensinya.
Pengukuran Keefektifan Organisasi
Penelitian mengenai budaya organisasi dan efektivitas organisasi juga dilakukan oleh Sadri dan Lees (2001) dengan judul. Efektivitas organisasi dipengaruhi oleh beberapa variabel organisasi antara lain karakteristik individu, karakteristik kelompok, struktur, budaya, dan iklim organisasi yang ada dan diterapkan dalam organisasi. Dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi mempunyai hubungan langsung dengan efektivitas organisasi.
Salah satu variabel yang mengukur efektivitas organisasi adalah dengan meninjau komitmen anggota organisasi terhadap organisasinya.
Konsep Karakteristik Individu
Berbagai metode digunakan untuk memperoleh wawasan tentang perilaku individu dalam organisasi dari berbagai perspektif dan disiplin ilmu. Kebutuhan dan motivasi manusia merupakan elemen kunci dalam menentukan cara individu berperilaku dalam organisasi. Individu yang bekerja dalam organisasi selalu memperhatikan pemenuhan berbagai kebutuhannya dalam proses menjalankan tugasnya.
Individu dalam suatu organisasi dalam bertindak dan berperilaku tidak lepas dari tujuannya sebagai anggota organisasi.
Komponen-Komponen Karakteristik Individu
Ivancevich, Konopaske, & Matterson, (2005) berpendapat bahwa perbedaan individu mempengaruhi perilaku kerja, dimana perilaku kerja adalah segala sesuatu yang dilakukan seseorang dalam lingkungan kerja. Menurut mereka, komponen-komponen yang membentuk perbedaan individu antara lain: (1) keturunan dan keragaman, (2) kepribadian, (3) keterampilan dan kemampuan, (4) persepsi, dan (5) sikap. Secara umum karakteristik individu akan membentuk perilaku kerja individu dalam organisasi seperti terlihat pada gambar di bawah ini.
Kriteria karakteristik individu terdiri dari 4 (empat) komponen, antara lain: (1) Kemampuan; (2) Nilai; (3) Sikap dan (4) Minat.
Konsep Karakteristik Kelompok/Grup
Pola minat seseorang merupakan salah satu faktor yang menentukan kesesuaian seseorang terhadap pekerjaannya (Subyantoro, 2009). Berdasarkan definisi para ahli di atas, Johnson mendefinisikan dalam (Sarwono, 1999) bahwa suatu kelompok terdiri dari dua orang atau lebih yang saling berinteraksi secara tatap muka (face-to-face interaksi), masing-masing dari mereka dengan sadar akan keberadaannya. keanggotaan dalam kelompok tersebut. diantaranya menyadari adanya orang lain yang juga merupakan anggota kelompok, dan masing-masing menyadari adanya saling ketergantungan positif dalam mencapai tujuan bersama. Namun, pandangan Johnson tentang psikolog sosial adalah bahwa kelompok kecil yang bertemu langsung, berinteraksi satu sama lain, dan menyadari keberadaan satu sama lain hanya merupakan satu jenis kelompok (misalnya kelompok dan keluarga).
Daft dan Steers (1986) melihat kelompok sebagai pendekatan mikro untuk mempelajari suatu organisasi.
Komponen-Komponen Karakteristik Kelompok/
Namun tak jarang, kehadiran kelompok juga akan meningkatkan kinerja organisasi dengan rasa kebersamaan dan semangat kerja yang sama untuk mencapai tujuan bersama.
Grup
Proses Pembentukan Kelompok/Grup
Ketika tahap ini berakhir, terdapat hierarki kepemimpinan yang relatif tinggi dalam kelompok. Norming adalah tahap dimana individu dan subkelompok dalam suatu kelompok mulai merasakan manfaat dari bekerja sama dan berjuang untuk menghindari kehancuran kelompok (perpecahan). Tahap ini berakhir ketika struktur kelompok telah menjadi kokoh dan kelompok telah mengasimilasi serangkaian harapan yang jelas terhadap perilaku anggotanya.
Kinerja merupakan tahapan yang merupakan titik kulminasi dimana kelompok telah berhasil membangun suatu sistem yang memungkinkannya bekerja secara produktif dan efisien.
Konsep Struktur Organisasi
Komponen-Komponen Struktur Organisasi
Manajemen pendidikan tinggi di Indonesia idealnya terdiri dari empat komponen utama, yaitu: (1) riset pasar tenaga kerja, (2) perancangan proses pendidikan tinggi, (3) proses pendidikan tinggi, dan (4) penyaluran lulusan yang kompetitif dan berkualitas tinggi ke perguruan tinggi. pasar tenaga kerja. Konsekuensi dari pemikiran tersebut adalah pendidikan tinggi di Indonesia harus dijalankan atas dasar saling pengertian dan tanggung jawab dengan mengedepankan efektivitas dan efisiensi pendidikan tinggi serta meningkatkan mutu proses pendidikan tinggi itu sendiri. Meminjam konsep pemikiran manajemen sistem industri modern, maka manajemen pendidikan tinggi di Indonesia hendaknya melihat bahwa proses pendidikan tinggi merupakan suatu penyempurnaan proses pendidikan yang berkesinambungan, yang dimulai dari rangkaian siklus dari munculnya ide-ide hingga menghasilkan lulusan yang unggul ( keluaran). , pengembangan kurikulum, proses pembelajaran dan partisipasi yang bertanggung jawab untuk memuaskan pengguna lulusan universitas.
Umpan balik dari pengguna lulusan digunakan dan dapat dikembangkan sebagai ide kreatif untuk desain ulang kurikulum atau perbaikan proses pendidikan tinggi yang ada.
Konsep Budaya Organisasi
Budaya organisasi merupakan suatu sistem yang merupakan bagian dari keyakinan dan nilai-nilai yang dapat membentuk dan menunjukkan perilaku para anggotanya. Abstrak Budaya organisasi merupakan cerminan dari nilai-nilai dan keyakinan yang dianut oleh anggota organisasi. Nilai-nilai yang tertanam dalam budaya organisasi yang abstrak bertahan lebih lama dan tidak cepat berubah.
Budaya organisasi merupakan seperangkat nilai dan keyakinan yang diterima dan diterapkan oleh seluruh anggota organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Komponen-komponen Budaya Organisasi
Oleh karena itu, budaya organisasi merupakan suatu determinasi yang bersifat deskriptif sehingga dapat dibedakan dengan sikap kerja. Peneliti budaya organisasi telah menemukan cara untuk mengukur budaya organisasi, antara lain: 1) pandangan pegawai terhadap organisasi, 2) kepatuhan terhadap peraturan organisasi, 3) penghargaan terhadap pencapaian tujuan, 4) menghargai perkembangan organisasi, dan 5) mendorong terciptanya persaingan .
Fungsi Budaya Organisasi
Setiap organisasi mempunyai cara yang berbeda-beda dalam melakukan aktivitas dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya, hal inilah yang perlu ditanamkan kepada para anggotanya agar dapat melakukan pekerjaannya sesuai dengan budaya yang telah ditetapkan oleh organisasi. Jadi, di sinilah budaya organisasi bekerja sebagai komitmen kolektif; Untuk mewujudkan hal tersebut, organisasi harus mengenali kebutuhan para anggotanya agar mereka tetap loyal terhadap organisasi. Fungsi lain dari budaya organisasi adalah untuk memperkenalkan stabilitas pada sistem sosial, hal ini tercermin dari bagaimana lingkungan kerja di dalam dan di luar organisasi dapat menerima perubahan dan konflik dapat dikelola secara efektif.
Fungsi budaya organisasi selanjutnya adalah sebagai mekanisme pembuat makna dan kontrol yang dapat memandu, membentuk sikap dan perilaku para anggotanya (Robbin, 2003).
Pembentukan Budaya Organisasi
Budaya organisasi tidak hanya dibentuk oleh pendirinya saja, namun dapat juga berasal dari pengelola, pemilik, dan anggota. Penelitian budaya organisasi selanjutnya adalah penelitian Mohammad Mosadegh Rad (2006) dengan judul penelitian “Dampak budaya organisasi terhadap keberhasilan penerapan total quality manajemen”. Penelitian ini membahas tentang dampak nilai budaya organisasi sebagai salah satu faktor keberhasilan penerapan total quality.
Budaya organisasi yang kuat akan memperkuat dan meningkatkan kualitas organisasi, sedangkan budaya yang lemah akan mengakibatkan kemunduran dan kelangsungan hidup organisasi.
Konsep Iklim Organisasi
Steers, (1985) menyatakan bahwa iklim organisasi dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu (1) iklim organisasi dari persepsi anggota organisasi, (2) iklim organisasi dari hubungan antara aktivitas organisasi dan perilaku manajemen. Schneider (1990) mendefinisikan iklim sebagai persepsi yang melekat pada anggota organisasi terhadap peristiwa, praktik dan prosedur serta semua perilaku yang dihargai dan didukung. Iklim menekankan peran persepsi dan interpretasi anggota organisasi terhadap lingkungan melalui kebijakan, praktik, dan prosedur organisasi.
Iklim organisasi dapat dipandang sebagai suatu proses yang berkelanjutan dimana setiap anggota organisasi, baik secara individu maupun kelompok, menghasilkan perilaku yang membentuk lingkungan.
Komponen-komponen Iklim Organisasi
Peterson dan Spencer (1990) mengidentifikasi tiga kategori iklim; Pertama, iklim obyektif merupakan pola berkelanjutan yang muncul dalam perilaku dan aktivitas formal dalam suatu organisasi, seperti praktik dan prosedur. Psikologi atau iklim yang dirasakan adalah aspek motivasi yang mempengaruhi cara anggota organisasi memandang organisasi dan pekerjaannya, seperti loyalitas, komitmen, dan keterlibatan. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa efektivitas organisasi terdiri dari beberapa dimensi, yaitu; lingkungan eksternal, misi dan strategi, kepemimpinan, struktur, budaya, sistem, iklim, tugas individu dan kebutuhan serta nilai individu.
Penelitian yang dilakukan oleh Marie Mikic Little dan Alison (2006) dengan judul “Hubungan Antara Iklim Pelayanan, Komitmen Pegawai dan Kemampuan Kualitas Pelayanan Pegawai” menunjukkan bahwa iklim pelayanan dalam suatu organisasi yang dirasakan oleh anggotanya (pegawai), komitmen pegawai terhadap perusahaan dan juga mempengaruhi cara perusahaan melayani pelanggan atau penggunanya.
DAFTAR REFERENSI
Pengaruh iklim organisasi dan komitmen organisasi serta dampaknya terhadap upaya kenaikan jabatan akademik dosen (studi dosen tetap Ubaya). Strategi Perguruan Tinggi Komputer Swasta Dalam Meningkatkan Daya Saing (Studi Kasus Berganda di STMIK Pradya Paramitha dan STIKI Malang) (Tesis tidak dipublikasikan). Karakteristik individu, karakteristik tempat kerja, karakteristik organisasi dan kepemimpinan. Kepuasan kerja yang dimediasi oleh motivasi kerja (Studi pada pengurus KUD di Sleman).
The culture profile of the hospitality sector: a measure of individual values, organizational culture and person-organization fit as predictors of job satisfaction and behavioral intentions.