• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN EKONOMI DHARMASRAYA PADA MASA PEMERINTAHAN MARLON MARTUA TAHUN 2005 – 2010

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "PERKEMBANGAN EKONOMI DHARMASRAYA PADA MASA PEMERINTAHAN MARLON MARTUA TAHUN 2005 – 2010"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN EKONOMI DHARMASRAYA PADA MASA PEMERINTAHAN MARLON MARTUA TAHUN 2005 2010

ARTIKEL ILMIAH

ARIF SADIKIN NIM. 12020076

PROGRAM PENDIDIKAN SEJARAH

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

PADANG

2016

(2)

Ittruma NFNA

Pragwn

Studi IEstit$si

TERXEJNMBATTIGAT'{

AKONOfiilI I}EAN*TASRAYA }AI}A FfAf;A rF&IENIil{TAH,,{IY

MA*IJOT.{

MARTUA

TAHU{T 2TM5

_

2ITI{I

Jurnal

ini

telah disntr1.ui oleh doseir

pnnbimbing

skripsi" untuk diserahkan

keProgrml

Studi Pendidikan Sejarah

Fada*g3l

Agu$.trls3S16

Disetqiui CIteh

Fmhimhingll

IVleri Er:aramtlSS. M. Fluur Pembimhing

I

A \-. r1)

'rc-=

DrE"

Etmi

t{ardi" hd-Hurn :

Arif

Sadikin :12$?{ffi?6

: Pemdidikan Ssjarah

: $ekolah

Tiftggi

KegunmnDan

llmuPeudidikftu

{STKIP} PGRI SumatsraBamt

(3)

1

THE DEVELOPMENT OF ECONOMY IN DHARMASRAYA OF THE REIGN OF MARLON MARTUA IN 2005-2010

Arif Sadikin1 Etmi Hardi2 Meri Erawati3

Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRACT

The development of economy in Dharmasraya of the reign of Marlon Martua in 2005-2010 was the begin of Dharmasraya to be a foundation to the economy resurrection in Dharmasraya with the new government which centered in own land and closer for people that will make easier for people in their business with the government and also the economy activity can evolved well. Based on it, the researcher interest to doing the research to know how the development of economy in Dharmasraya of the reign of Marlon Martua and what the factors was that supported the increase of economy in Dharmasraya of the reign of Marlon Martua.The result of this research showed that the development of economy in Dharmasraya had appeared since the Dharmasraya merged with Sawahlunto/ Sijunjung. Based on the constitution number 38 in 2003about the formation of Dharmasraya, Solok Selatan, and Pasaman Barat in the province of Sumatera Barat which inaugurated by Governor of Sumatera Barat on behalf of domestic minister at January 7 in 2004. On August 12, 2005 the inauguration of the first definitive regent of Dharmasraya, Marlon Martua which in his reign, he able to advanced the economy of Dharmasraya and prospered the society. It can be seen from there were the increase of income of society and regional income. The development of Dharmasraya supported by some factors, the first factor was the potential of natural resources. The second factor was the boundaries which located among three provinces; Sumatera Barat, Riau and Jambi that made Dharmasraya become a gateway for the three provinces and can easier to interact with the other region, it can help people to interact in economy business or other business. The third was the region helped by government in supporting of society and utilizing natural resources in various sector to produce the stable and consistence economy since the formation of Dharmasraya until the end of the reign of Marlon Martua, that able to be foundation of a good economy in this region. In order tocreate Dharmasraya advanced in balance like a slogans that created by Marlon Martua “Dharmasraya forward in balance”.

Keywords :Development, Economy,The reign, Marlon Martua

1Mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat

2Dosen. Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat

3Dosen. Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat

1

(4)

PERKEMBANGAN EKONOMI DHARMASRAYA PADA MASA PEMERINTAHAN MARLON MARTUA TAHUN 2005 2010

Arif Sadikin4 Etmi Hardi5 Meri Erawati6

Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRAK

Perkembangan Ekonomi Dharmasraya pada masa pemerintahan Marlon Martua Tahun 2005 – 2010 merupakan awal bagi Kabupaten Dharmasraya dalam menjadikan pondasi kebangkitan perekonomian Kabupaten Dharmasraya dengan pemerintahan yang baru yang berpusat di negeri sendiri yang memudahkan urusan masyarakat dengan pemerintahan dengan jarak yang relatif dekat, kegiatan ekonomipun menjadi berkembang dengan baik. Jadi penulis tertarik melakukan penelitian lebih lanjut bagaimana perkembangan ekonomi Dharmasraya pada masa kepemimpinan Marlon Martua dan faktor-faktor apa saja yang mendorong meningkatnya ekonomi Dharmasraya pada masa pemerintahan Marlon Martua.

Hasil dari penelitian dilapangan terlihat perkembangan ekonomi di Kabupaten Dharmasraya sudah terlihat semenjak masih bergabung dengan Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung, kemudian berdasarkan Undang Undang Nomor 38 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Pasaman Barat di Provinsi Sumatera Barat yang diresmikan oleh Gubernur Sumatera Barat atas nama Menteri Dalam Negeri pada tanggal 7 Januari 2004. Pada tanggal 12 agustus 2005 dilantiknya bupati depenitif pertama Kabupaten Dharmasraya Marlon Martua, dalam masa pemerintahan Marlon Martua mampu memajukan perekonomian Kabupaten Dhramasraya dan mensejahterakan rakyatnya. Terbukti dari peningkatan pendapatan perkapita masyarakat Dharmasraya dan pendapatan asli daerah setiap tahunya meningkat.

Perkembangan ekonomi di Kabupaten Dharmasraya di dorong oleh beberapa faktor, faktor pertama adalah potensi Sumber Daya Alam (SDA). Kedua batas wilayah yang strategis berada di antara 3 provinsi yaitu Sumatera barat, riau, dan jambi menjadikan Kabupaten Dharmasraya pintu gerbang bagi 3 provinsi tersebut dan dilalui jalan negara mampu memudahkan Kabupaten Dharmasraya dalam berinteraksi dengan daerah-daerah tetangga, terutama dalam berinteraksi kepentingan ekonomi maupun kepentingan lainnya. Ketiga adalah campur tangan pemerintah dalam mendukung masyarakat dan memanfaatkan sumber daya alam yang kaya dari berbagai bidang, untuk menghasilkan ekonomi yang stabil dan konsisten pada awal terbentuknya Kabupaten Dharmasraya hingga pada berakhinya masa pemerinthan Marlon Martua yang mampu menjadi peletak dasar ekonomi yang baik bagi kabupaten pemekaran ini. Agar tercipta Kabupaten Dharmasraya yang maju dalam keseimbangan sperti slogan pemerintahan bupati Marlon Martua “Dharmasraya Maju Dalam Keseimbangan”

Keywords :Perkembangan, Ekonomi, Pemerintahan, Marlon Martua

4Mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat

5Dosen. Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat

6Dosen. Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat

(5)

3

PENDAHULUAN

Kabupaten Dharmasraya berada di selatan Sumatera Barat. Sebelum tahun 2004, Kabupaten Dharmasraya merupakan bagian Kabupaten sawahlunto/Sijunjung, kemudian tahun 2004 pemekaran di lakukan di Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung dan tiga kabupaten lainya di Sumatera Barat. Pada 7 Januari 2004 Kabupaten Dharmasraya melepaskan diri dari kabupaten Sawahlunto/Sijunjung dan membentuk kabupaten sendiri yang dibentuk berdasarkan Undang Undang Nomor 38 Tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Pasaman Barat di Provinsi Sumatera Barat yang diresmikan oleh Gubernur Sumatera Barat atas nama Menteri Dalam Negeri pada tanggal 7 Januari 2004. Kemudian dimulailah Pemerintahan Kabupaten Dharmasraya pada tanggal 10 Januari 2004 dengan dilantiknya Ahmad Munawar (asisten 1 pemkab Sawahlunto/Sijunjung) tapi baru 2 bulan menjabat sebagai penjabat bupati Drs. Ahmad Munawar meninggal dunia dan digantikan oleh Asrul Syukur MM sebagai penjabat bupati sampai terpilihnya bupati depenitif hasil pilkada 2005, yaitu tetipilihnya pasangan Marlon Martua-Tugimin dan dilantik pada tanggal 12 Agustus 2005 .

Pentingnya penelitian ini dilakukan didasarkan atas beberapa alasan. Pertama adalah karena kabupaten yang baru dimekarkan ini memiliki ekonomi yang tinggi, terbukti pada saat masih tergabung dalam kabupaten Sawahlunto Sijunjung, Kabupaten Dharmasraya memiliki 4 kecamatan pada saat tergabung sawahlunto/sijunjung, namun dari Rp.

11,833 Miliar Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sawahlunto Sijunjung, Rp. 7,15 Miliar di antaranya berasal dari 4 kecamatan yaitu Kecamatan Pulau Punjung, Kecamatan Sitiung, Kecamatan Koto Baru, dan Kecamatan Sungai Rumbai yang menjadi satu kabupaten saat ini, yang bernama Kabupaten Dharmasraya.1

Alasan kedua adalah untuk mengkaji ekonomi Dharmasraya adalah karena memiliki perkembangan sangat cepat dibandingkan 164 kabupaten pemekaran pemekaran lainya di di Indonesia. Kabupaten Dharmasraya menempati rangking satu karena persentase dalam meningkatkan kesejahteran rayat mencapai 20,59% dari standar yang ditetapkan 30%.

Kemudian Good Government 19,28% (standar 25%), pelayanan publik 9,64% (standar 25%) dan daya saing9,92 persen (standar 20%), total 59,43%.2

1Perpustakaan BAPPENAS, “DaerahTransmigran yang Tumbuh dan Potensial”. Kps:08-07-2004.

2 Haluan, Kabupaten Pemekaran Dharmasraya Peringkat 1 Nasional. 26 April 2011

Alasan ketiga penulis untuk lebih mendalami penelitian tentang perkembangan ekonomi di Dharmasraya dari tahun 2005 sampai tahun 2010 adalah karena kenaikan pendapatan per kapita pada masa pemerintahan Marlon Martua konsisten membaik dari tahun 2005 dengan nilai 7,8 juta per orang per tahun, terus meningkat pada tahun 2006 dengan nilai 8,9 juta rupiah per orang per tahun3, tahun 2007 meningkat pendapatan per kapita dengan nilai Rp.

10.180286,52 per orang per tahun, terus meningkat pada tahun 2008 dengan nilai Rp. 11.314964,39 per orang per tahun, tahun 2009 meningkat dengan nilai sebesar Rp. 12.417559,87 per orang per tahun dan tahun 2010 kenaikan pendapatan perkapita penduduk Kabupaten Dharmasraya tercatat sebesar 12,62%

dengan nilai sebesar Rp. 13.984040,91 per orang per tahun.4. Dengan terus meningkatnya laju ekonomi di Dharmasraya sehingga berdampak pada kesejahteraan Kabupaten Dharmasraya yang mampu menjadi kabupaten yang berprestasi.

Perkembangan ekonomi Kabupaten Dharmasraya terbukti dari meraih posisi terbaik di tingkat nasional dan terus meningkatnaya pendapatan per kapita. namun tidak terlepas dari peran pemerintah dalam membangun Kabupaten Dharmasraya seperti melakukan terobosan untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian yang dilakukan melalui pengembangan ketahanan pangan, budi daya perikanan, demplot budi daya udang galah sebanyak 10.000 ekor, peningkatan mutu, pemantapan sistim pengendalian hama, peningkatan intensifikasi padi sawah, peningkatan jenis padi unggul seluas 100 Ha, optimalisasi lahan seluas 550 Ha, penangkaran jenis padi unggul seluas 550 Ha, dan pengembangan agribisnis jeruk ± 500 Ha. Khusus untuk ketahanan pangan. Produktivitas padi di Kabupaten Dharmasraya meningkat dari 3,83 ton/ha pada tahun 2005 menjadi 4,33 ton/ha pada tahun 2006.

Sektor perkebunan, telah dilakukan beberapa kegiatan guna meningkatkan produktivitas hasil perkebunan dengan pemberian bibit kepada masyarakat yang mempunyai lahan dan yang membutuhkan dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat yaitu melalui pengembangan SDM, pemeliharaan demplot tanaman jarak dan karet ± 1 Ha, pembuatan

3 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Pemerintah Kabupaten Dharmasraya, Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2008. Kabupaten Dharmasraya:

2007. hlm 94

4 Badan Pusat Statistik Kabupaten Dharmasraya, Dharmasraya Dalam Angka 2011. Kabupaten Dharmasraya:

2011. hlm 435

3

(6)

pemeliharaan entres kebun karet, dan pembibitan batang bawah karet ± 8.800 batang.5

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti merasa tertarik mengambil judul “Perkembangan Ekonomian Dharmasraya Pada Masa Pemerintahan Marlon Martua Tahun 2005-2010” dan ingin meneliti lebih lanjut bagaimana proses perkembangan ekonomi Dharmasraya dan apa saja faktor-faktor pendorong perkembangan ekonomi Dharmasraya Kabupaten Dharmasraya pada masa Marlon Martua.

Batasan dan Rumusan Masalah

Berkaitan dengan latar belakang masalah di atas, maka objek kajian yang akan dibahas adalah perkembangan ekonomi Dharmasraya, sedangkan batasan waktu diteliti adalah dari tahun 2005-2010, karena pada tahun 2005 Marlon Martua terpilih menjadi bupati depenitif pertama Kabupaten Dharmasraya dan memimpin Dharmasraya dalam satu periode sampai tahun 2010.

Agar penelitian ini lebih fokus, maka peneliti membuat batasan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana perkembangan ekonomi Kabupaten

Dharmasraya pada masa pemerintahan Marlon Martua ?

2. Faktor-faktor apa saja yang mendorong meningkatnya ekonomi Kabupaten Dharmasraya pada masa Pemerintahan Martlon Martua?

Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini yaitu:

a. Menjelaskan perkembangan ekonomi Kabupaten Dharmasraya pada masa Pemerintahan Marlon Martua.

b. Menjelaskan faktor-faktor apa saja yang mendorong ekonomi Kabupaten Dharmasraya berkembang pada masa Pemerintahan Marlon Martua.

2. Manfaat Penelitian

a. Dapat berguna bagi mahasiswa sejarah yang akan melakukan penelitian tentang ekonomi.

b. Dapat menambah pengetahuan, pengalaman dan pemahaman peneliti tentang perkembangan ekonomi Dharmasraya.

c. Dapat sebagai acuan bagi pemerintah kabupaten untuk terus meningkatkan perhatian terhadap ekonomi kabupaten kearah yang lebih baik.

5 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Pemerintah Kabupaten Dharmasraya, Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2008. Kabupaten Dharmasraya:

2007. hlm 15-16

Penulis telah menjabarkan beberapa alasan untuk meneliti lebih dalam tentang sejarah ekonomi, dimana sejarah ekonomi adalah tentang usaha manusia memuaskan keinginan-keinginanya, dalam lingkungan alam yang dapat disesuaikan sampai tingkat tertentu untuk meningkatkan kebutuhanya dengan menggunakan teknologi yang berungsur-angsur meningkatkan produksi dan transportasi.6 kemudian penulis dengan beberapa ilmu ekonomi yang telah ada, agar masalah mampu di ungkap dan tidak keluar dari konsep yang telah disusun. Para ekonom berpendapat sama dalam mendefenisikan pembangunan ekonomi dalam arti kenaikan pendapatan atau Output nyata per kapita. Meier mendefenisikan perkembangan ekonomi

“sebagai proses kenaikan pendapatan nyata per kapita dalam suatu jangka waktu yang panjang”. Baran juga membenarkan “pertumbuhan (atau perkembangan) ekonomi didefenisikan sebagai kenaikan Output per kapita barang-barang Material dalam suatu jangka waktu.

Pendapatan perkapita di Kabupaten Dharmasraya terus meningkat pada masa pemerintahan Marlon Martua sesuai data yang ada, dapat menyimpulkan pendapatan per kapita masyaratakat Dharmasraya sudah meningkat dari tahun 2005 sampai tahun 2010. Dengan kondisi ekonomi yang lebih dominan pemanfaatan sektor pertanian seperti perkebunan, palawija, peternakan, perikanan dan industri.

Pembangunan dapat didefenisikan secara luas sebagai proses perbaikan yang berkesinambungan dari suatu masyarakat atau sistem sosial secara keseluruhan menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih manusiawi. Praktis untuk memahami arti pemabangunan yang paling hakiki yaitu memiliki 3 nilai initi yang pertama kecukupan, yang kedua harga diri, dan yang terakhir kebebasan.

Pertama adalah kecukupan, kecukupan yang dimaksud adalah seperti kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar. Komponen universal yang kedua harga diri. Adanya dorongan dari diri sendiri untuk maju, untuk menghargai diri sendiri, untuk merasa diri pantas dan layak melakukan atau mengejar sesuatu, dan seterusnya. Ketiga adalah kebebasan, kebebasan merupakan konsep kemerdekaan manusia.

Kemerdekaan atau kebebasan diartikan secara luas sebagai kemampuan untuk berdiri tegak sehingga tidak diperbudak oleh aspek-aspek pengejaran materiil dalam

6 Mestika Zed dan Emrial Amri, Sejarah Sosial Ekonomi. (laboratorium jurusan pendidikan FPIPS & IKIP Padang Press sejarah, Padang: 1994). hlm 57

(7)

5

kehidupan ini. Kebebasan disini juga diartikan sebagai kebebas terhadap ajaran-ajaran yang dogmatis.7

Pemerintah dalam arti sempit hanya meliputi lembaga yang mengurus pelaksanaan roda pemerintahan disebut Legislatif sedangkan pemerintahan dalam arti luas selain Eksekutif termasuk juga lembaga yang membuat peraturan perundang- undangan disebut Legislatif dan yang melaksanakan peradilan disebut Yudikatif .8

METODE PENELITIAN

Penelitian ini termasuk jenis penelitian sejarah deskriptif analisis yaitu dengan menggambarkan dan meinterpretasikan suatau peristiwa yang terjadi pada suatu subjek. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode sejarah. Menurut Louis Gottschalk ada empat tahap penulisan yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan penulisan (Historiografi). Data di peroleh dari dua sumber yaitu sumber primer dan sekunder, sumber primer berupa dokumen–dokumen seperti laporan Badan Pusat Statistik Dharmasya, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Kabupaten Dharmasraya, Dinas Pertanian dan Holtikultural dan dinas Energi, Air,Listrik dan Pertambangan.

Mengumpulkan data juga dilakukan metode wawancara, dengan berbagai pihak yang mengetahui seluk beluk tentang ekonomi Dharmasraya, antara lain para tokoh masyarakat dan pemerintah Dharmasraya.

Teknik wawancara dilakukan dengan interview dan menyiapkan pertanyaan–pertanyaan pokok yang dirancang sebelumnya, sumber sekunder yang menunjang penelitian ini adalah berupa buku–buku, skripsi, artikel dan berita yang berhubungan dengan masalah penelitian. Pengumpulan sumber sekunder dilakukan melalui studi kepustakaan antara lain di Perpustakaan Daerah Sumatera Barat, Badan Pusat Statistik (BPS) Dharmasraya seperti “Dharmasraya Dalam Angka“ dan Perpustakan STKIP PGRI Sumatera Barat.

Selanjutnya melakukan kritik secara ekstern dan kritik intern, kritik ekstern melihat cover dari naskah–naskah atau dokomen-dokumen yang di jadikan sumber, kemudian dilanjutkan dengan kritik intern melihat dari isi sumber yang relevan atau tidak dengan yang di teliti juga melihat keaslian dan faktanya dengan menganalisa dari segala sumber, Serta melanjutkan dengan interpretasi. Setelah semua data terkumpul dan dikritik di lanjutkan dengan penafsiran

7Haris Munandar & Puji, Pembangunan Ekonomi (Michael P. Todaro. Terjemahan). (Newyork University:

2006) hlm 26-28

8Inu Kencana Syafeiie, dkk., Sisitem Pemerintahan Indonesia. (Pt Rineka Cipta, Jakarta: 2002). hlm 11

dan mengakaji lebih dalam dan menemukan makna–

makna dari sumber sumber di miliki. Setelah itu di lanjutkan dengan Historiografi atau penulisan.

Penulisan di lakukan dengan bahasa fromal dan mengembangkan ciri khas dari penulis serta mempertimbangkan selera pembaca pada masa nya.

PEMBAHASAN

A. Pembentukan Dharmasraya Menjadi Kabupaten

Tahun 2002, Taridi dan Abdul Haris Tuangku Sati menemui Wakil Bupati Sawahlunto/Sijunjung, Hasan Zaini. Pada Mei 2002, setelah itu bersama beberapa tokoh masyarakat Nagari Kotobaru berkumpul dan bertukar pikiran di kantor BPAN Kotobaru membicarakan kemungkinan diangkatnya kembali ide untuk mendirikan kabupaten baru. Menurut Eri Antoni salah seorang anggota DPRD Sawahlunto/Sijunjung 2003 yang mengkritisi kurangnya perhatian pemda terhadap masyarakat wilayah Selatan.

Tanggal 09 Juni 2002 diadakan kembali pertemuan panitia terpilih, disepakati perombakan pengurus dan pertemuan lanjutan pada Minggu, 16 Juni 2002 di ruangan pertemuan Kantor Pengairan Sedasi di Pulaupunjung. Dibentuk formatur yang akan menyusun susunan pengurus pemekaran Sawahlunto/Sijunjung.

Formatur berhasil membentuk Badan Persiapan Pemekaran Sawahlunto/Sijunjung disingkat BP2KSS.

Sabtu 14 September 2002, DPRD Sumbar mengadakan rapat paripurna untuk membahas dan

memutuskan tentang pemekaran

Sawahlunto/Sijunjung. Pemekaran dari Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung yang diresmikan tanggal 7 Januari 2004 oleh Presiden RI secara simbolik di Istana Negara. Berdasarkan Undang Undang Nomor 38 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Pasaman Barat di Provinsi Sumatera Barat yang diresmikan oleh Gubernur Sumatera Barat atas nama menteri dalam negeri pada tanggal 7 Januari 2004.9

Aktifitas pemerintahan telah dimulai sejak dilantiknya Penjabat Bupati Dharmasraya pada tanggal 10 Januari 2004 dan baru pada tanggal 12 Agustus 2005 Kabupaten Dharmasraya memiliki bupati/wakil bupati depenitif hasil pilkada langsung tahun 2005.10

9 Dharmasraya Menjadi Kabupaten Yang Maju Dalam Keseimbangan.( STIA Kawula Indonesia &

Pemerintah Daerah Kabupaten Dharmasraya, Jakarta: 2005).

hlm 41

10 Dharmasraya Menjadi Kabupaten Yang Maju Dalam Keseimbangan.( STIA Kawula Indonesia &

Pemerintah Daerah Kabupaten Dharmasraya, Jakarta: 2005)

(8)

B. Potensi Ekonomi Dharmasraya Tahun 2005- 2010

Pertanian Tanaman Pangan, Tanaman Hortikultura, potensi perternakan, potensi perkebunan, potensi kehutanan, potensi pariwisata, perdagangan dan jasa, koperasi, perdagangan, pertambangan.

C. Marlon Martua dan Kebijakan Ekonominya Perkembangan ekonomi Dharmasraya dari tahun 2005 sampai dengan 2010 telah tampak jelas dengan terus meningkatnaya pendapatan per kapita di Dharmasraya hal ini tidak terlepas dari peran pemerintah dalam membangun Kabupaten Dharmasraya. Pada ketahanan pangan pemerintah melakukan pelaksanaan program peningkatan ketahanan pangan yang berhasil mewujudkan dukungan kelancaran terhadap pelaksanaan program nasional ketahanan pangan B2KP berupa kunjungan lapangan, sosialisasi, koordinasi di empat kecamatan.

Serta terlaksananya pengadaan dan pendistribusian bibit salak, padi gogo dan duku guna mendukung diversifikasi produksi pertanian masyarakat.

Sebagai kabupaten yang muda Dharmasraya terus membuka tempat-tempat baru untuk menunjang perekonomian pada wilayah-wilayah strategis seperti.

Membuat pusat pertumbuhan ekonomi baru di salah satu kecamatan, Kecamatan Padang Lawas, awalnya masyarakat pesimisdengan pemerintahan Marlon nyaris Tiga tahun pemerintahan tidak ada pembangunan, akhir jabatan Marlon Martua melakukan pembangunan jalan sepanjang tujuh kilometer dengan lebar enam meter, pemerintah kabupaten berharap kecamatan bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi Dharmasraya bagian timur, yang berbatasan dengan Riau.

Memperesar pasar dan membangun kios-kios agar bisa tumbuh sebagai pusat ekonomi dengan wilayah perbatasan kuantan singingi Provinsi Riau dan pembangunan jembatan yang akan menghubungkan pusat pemerintahan kecamatan Padang Laweh Dan Batu Rijal.

D. Perkembangan Ekonomi Dharmasraya dibawah Marlon Martua

Pembangunan fisikpun berkembang cukup signifikan pada masa Marlon Martua pada tahun 2007 sebesar Rp.90.487.305.978 jika dilihat dari rincian perkecamatan sebagai berikut, Kecamatan Pulau Punjung Rp.40.018.592.880 ( 44.23%), Kecamatan Koto Baru Rp.16.157.945.566 (17.86%), Kecamatan Sungai Rumbai Rp.13.214.351.116. (23.44%), dan Kecamatan Sitiung Rp.21.214.351.116 (23.44%). Pada tahun 2008 dana pembangunan fisik meningkat drastis menjadi Rp.169.683.920.448 dengan rincian

Kecamatan Pulau Punjung Sebesar RP.42.789.263.362 (25.22%), Kecamatan Koto Baru Rp.32.893.785.817 (19.39%), Kecamatan Sungai Rumbai Rp.42.668.540.002 (24.56%), dan Kecamatan Sitiung Rp.52.332.331.276 (30.84%).11

Beberapa ekonom sependapat dalam mendefenisikan perkembangan ekonomi, seperti Meier mendefenisikan perkembangan ekonomi merupakan

“sebagai proses kenaikan pendapatan nyata per kapita dalam suatu jangka waktu yang panjang” dan Baran juga membenarkan “pertumbuhan (atau perkembangan) ekonomi didefenisikan sebagai kenaikan Output per kapita barang-barang Material dalam suatu jangka waktu”,12

Jika dilihat dari beberapa tahun dari berdirinya Kabaupaten Dhramasraya, ekonomi terus berkembang dapat di lihat dari perkembangan pendapatan Per kapita penduduk di Kabaupaten Dhramasraya. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada grafik berikut ini.

Grafik Perkembangan Pendapatan Perkapita Kabupaten Dharmasraya Tahun 2005-2008

Sumber Data : PDRB Kabupaten Dharmasraya Sumber : Dharmasraya Dalam Angka, dan Produk Domestik Regional Bruto

Perkembangan ekonomi Dharmasraya dari tahun 2005 sampai dengan 2010 telah tampak jelas dengan terus meningkatnaya pendapatan per kapita, namun tidak terlepas dari peran pemerintah dalam ikut membangun Kabupaten Dharmasraya, peningkatan pendapatan perkapita masyarakat Dharmasraya yang paling berpengaruh adalah pertanian.

Masyarakat Dharmasraya 80% petani, menurut pak tarno ekonomi petani tergantung terhadap harga jual jenis komuditi pertanianya, terutama seperti komuditi kelapa sawit dan karet. Pada masa Marlon Martua harga jual komoditi pertanian sawit dan karet dalam keadaan stabil sehingga masyarakat

11 Padang Ekspres, Dharmasraya Membangun Dengan Adil dan Merata, 7 April 2010.

12 M.L Jhingan., Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. (PT RajaGrafindo Persada, Jakarta: 2008). hlm 6

B. Potensi Ekonomi Dharmasraya Tahun 2005- 2010

Pertanian Tanaman Pangan, Tanaman Hortikultura, potensi perternakan, potensi perkebunan, potensi kehutanan, potensi pariwisata, perdagangan dan jasa, koperasi, perdagangan, pertambangan.

C. Marlon Martua dan Kebijakan Ekonominya Perkembangan ekonomi Dharmasraya dari tahun 2005 sampai dengan 2010 telah tampak jelas dengan terus meningkatnaya pendapatan per kapita di Dharmasraya hal ini tidak terlepas dari peran pemerintah dalam membangun Kabupaten Dharmasraya. Pada ketahanan pangan pemerintah melakukan pelaksanaan program peningkatan ketahanan pangan yang berhasil mewujudkan dukungan kelancaran terhadap pelaksanaan program nasional ketahanan pangan B2KP berupa kunjungan lapangan, sosialisasi, koordinasi di empat kecamatan.

Serta terlaksananya pengadaan dan pendistribusian bibit salak, padi gogo dan duku guna mendukung diversifikasi produksi pertanian masyarakat.

Sebagai kabupaten yang muda Dharmasraya terus membuka tempat-tempat baru untuk menunjang perekonomian pada wilayah-wilayah strategis seperti.

Membuat pusat pertumbuhan ekonomi baru di salah satu kecamatan, Kecamatan Padang Lawas, awalnya masyarakat pesimisdengan pemerintahan Marlon nyaris Tiga tahun pemerintahan tidak ada pembangunan, akhir jabatan Marlon Martua melakukan pembangunan jalan sepanjang tujuh kilometer dengan lebar enam meter, pemerintah kabupaten berharap kecamatan bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi Dharmasraya bagian timur, yang berbatasan dengan Riau.

Memperesar pasar dan membangun kios-kios agar bisa tumbuh sebagai pusat ekonomi dengan wilayah perbatasan kuantan singingi Provinsi Riau dan pembangunan jembatan yang akan menghubungkan pusat pemerintahan kecamatan Padang Laweh Dan Batu Rijal.

D. Perkembangan Ekonomi Dharmasraya dibawah Marlon Martua

Pembangunan fisikpun berkembang cukup signifikan pada masa Marlon Martua pada tahun 2007 sebesar Rp.90.487.305.978 jika dilihat dari rincian perkecamatan sebagai berikut, Kecamatan Pulau Punjung Rp.40.018.592.880 ( 44.23%), Kecamatan Koto Baru Rp.16.157.945.566 (17.86%), Kecamatan Sungai Rumbai Rp.13.214.351.116. (23.44%), dan Kecamatan Sitiung Rp.21.214.351.116 (23.44%). Pada tahun 2008 dana pembangunan fisik meningkat drastis menjadi Rp.169.683.920.448 dengan rincian

Kecamatan Pulau Punjung Sebesar RP.42.789.263.362 (25.22%), Kecamatan Koto Baru Rp.32.893.785.817 (19.39%), Kecamatan Sungai Rumbai Rp.42.668.540.002 (24.56%), dan Kecamatan Sitiung Rp.52.332.331.276 (30.84%).11

Beberapa ekonom sependapat dalam mendefenisikan perkembangan ekonomi, seperti Meier mendefenisikan perkembangan ekonomi merupakan

“sebagai proses kenaikan pendapatan nyata per kapita dalam suatu jangka waktu yang panjang” dan Baran juga membenarkan “pertumbuhan (atau perkembangan) ekonomi didefenisikan sebagai kenaikan Output per kapita barang-barang Material dalam suatu jangka waktu”,12

Jika dilihat dari beberapa tahun dari berdirinya Kabaupaten Dhramasraya, ekonomi terus berkembang dapat di lihat dari perkembangan pendapatan Per kapita penduduk di Kabaupaten Dhramasraya. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada grafik berikut ini.

Grafik Perkembangan Pendapatan Perkapita Kabupaten Dharmasraya Tahun 2005-2008

Sumber Data : PDRB Kabupaten Dharmasraya Sumber : Dharmasraya Dalam Angka, dan Produk Domestik Regional Bruto

Perkembangan ekonomi Dharmasraya dari tahun 2005 sampai dengan 2010 telah tampak jelas dengan terus meningkatnaya pendapatan per kapita, namun tidak terlepas dari peran pemerintah dalam ikut membangun Kabupaten Dharmasraya, peningkatan pendapatan perkapita masyarakat Dharmasraya yang paling berpengaruh adalah pertanian.

Masyarakat Dharmasraya 80% petani, menurut pak tarno ekonomi petani tergantung terhadap harga jual jenis komuditi pertanianya, terutama seperti komuditi kelapa sawit dan karet. Pada masa Marlon Martua harga jual komoditi pertanian sawit dan karet dalam keadaan stabil sehingga masyarakat

11 Padang Ekspres, Dharmasraya Membangun Dengan Adil dan Merata, 7 April 2010.

12 M.L Jhingan., Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. (PT RajaGrafindo Persada, Jakarta: 2008). hlm 6

2.0000 4.000 6.000 8.000 10.000 12.000

2005 2006 2007 7.827 8.883 B. Potensi Ekonomi Dharmasraya Tahun 2005-

2010

Pertanian Tanaman Pangan, Tanaman Hortikultura, potensi perternakan, potensi perkebunan, potensi kehutanan, potensi pariwisata, perdagangan dan jasa, koperasi, perdagangan, pertambangan.

C. Marlon Martua dan Kebijakan Ekonominya Perkembangan ekonomi Dharmasraya dari tahun 2005 sampai dengan 2010 telah tampak jelas dengan terus meningkatnaya pendapatan per kapita di Dharmasraya hal ini tidak terlepas dari peran pemerintah dalam membangun Kabupaten Dharmasraya. Pada ketahanan pangan pemerintah melakukan pelaksanaan program peningkatan ketahanan pangan yang berhasil mewujudkan dukungan kelancaran terhadap pelaksanaan program nasional ketahanan pangan B2KP berupa kunjungan lapangan, sosialisasi, koordinasi di empat kecamatan.

Serta terlaksananya pengadaan dan pendistribusian bibit salak, padi gogo dan duku guna mendukung diversifikasi produksi pertanian masyarakat.

Sebagai kabupaten yang muda Dharmasraya terus membuka tempat-tempat baru untuk menunjang perekonomian pada wilayah-wilayah strategis seperti.

Membuat pusat pertumbuhan ekonomi baru di salah satu kecamatan, Kecamatan Padang Lawas, awalnya masyarakat pesimisdengan pemerintahan Marlon nyaris Tiga tahun pemerintahan tidak ada pembangunan, akhir jabatan Marlon Martua melakukan pembangunan jalan sepanjang tujuh kilometer dengan lebar enam meter, pemerintah kabupaten berharap kecamatan bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi Dharmasraya bagian timur, yang berbatasan dengan Riau.

Memperesar pasar dan membangun kios-kios agar bisa tumbuh sebagai pusat ekonomi dengan wilayah perbatasan kuantan singingi Provinsi Riau dan pembangunan jembatan yang akan menghubungkan pusat pemerintahan kecamatan Padang Laweh Dan Batu Rijal.

D. Perkembangan Ekonomi Dharmasraya dibawah Marlon Martua

Pembangunan fisikpun berkembang cukup signifikan pada masa Marlon Martua pada tahun 2007 sebesar Rp.90.487.305.978 jika dilihat dari rincian perkecamatan sebagai berikut, Kecamatan Pulau Punjung Rp.40.018.592.880 ( 44.23%), Kecamatan Koto Baru Rp.16.157.945.566 (17.86%), Kecamatan Sungai Rumbai Rp.13.214.351.116. (23.44%), dan Kecamatan Sitiung Rp.21.214.351.116 (23.44%). Pada tahun 2008 dana pembangunan fisik meningkat drastis menjadi Rp.169.683.920.448 dengan rincian

Kecamatan Pulau Punjung Sebesar RP.42.789.263.362 (25.22%), Kecamatan Koto Baru Rp.32.893.785.817 (19.39%), Kecamatan Sungai Rumbai Rp.42.668.540.002 (24.56%), dan Kecamatan Sitiung Rp.52.332.331.276 (30.84%).11

Beberapa ekonom sependapat dalam mendefenisikan perkembangan ekonomi, seperti Meier mendefenisikan perkembangan ekonomi merupakan

“sebagai proses kenaikan pendapatan nyata per kapita dalam suatu jangka waktu yang panjang” dan Baran juga membenarkan “pertumbuhan (atau perkembangan) ekonomi didefenisikan sebagai kenaikan Output per kapita barang-barang Material dalam suatu jangka waktu”,12

Jika dilihat dari beberapa tahun dari berdirinya Kabaupaten Dhramasraya, ekonomi terus berkembang dapat di lihat dari perkembangan pendapatan Per kapita penduduk di Kabaupaten Dhramasraya. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada grafik berikut ini.

Grafik Perkembangan Pendapatan Perkapita Kabupaten Dharmasraya Tahun 2005-2008

Sumber Data : PDRB Kabupaten Dharmasraya Sumber : Dharmasraya Dalam Angka, dan Produk Domestik Regional Bruto

Perkembangan ekonomi Dharmasraya dari tahun 2005 sampai dengan 2010 telah tampak jelas dengan terus meningkatnaya pendapatan per kapita, namun tidak terlepas dari peran pemerintah dalam ikut membangun Kabupaten Dharmasraya, peningkatan pendapatan perkapita masyarakat Dharmasraya yang paling berpengaruh adalah pertanian.

Masyarakat Dharmasraya 80% petani, menurut pak tarno ekonomi petani tergantung terhadap harga jual jenis komuditi pertanianya, terutama seperti komuditi kelapa sawit dan karet. Pada masa Marlon Martua harga jual komoditi pertanian sawit dan karet dalam keadaan stabil sehingga masyarakat

11 Padang Ekspres, Dharmasraya Membangun Dengan Adil dan Merata, 7 April 2010.

12 M.L Jhingan., Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. (PT RajaGrafindo Persada, Jakarta: 2008). hlm 6

2006 2007 2008 8.883 10.180 11.662

(9)

7

Dharmasraya memiliki Penghasilan sehari-hari (pendapatan perkapita) terus meningkat karena harga sawit dari Rp.1.200 bahkan sempat mencapai Rp.1900 per kilo dengan demikian penghasilan pendapatan perkapita petani sawit akan meningkat dan harga karet pada masa pemerintahan Marlon Martua selalu berada di atas harga sepuluh ribu Rupiah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari dan untuk sedikit menabung, dengan demikian pendapatan perkapita terus menigkat .13

Perkembangan ekonomi Dharmasraya dari awal berdiri hingga berakhirnya Pemerintahan Marlon Martu berbuah manis. Kabupaten Dharmasraya dinyatakan sebagai kabupaten pemekaran terbaik, yang mampu melakukan perkembangan tercepat dibandingkan 164 kabupaten pemekaran pemekaran lainya di Indonesia dan Kabupaten Dharmasraya menempati rangking satu nasional berdasarkan perhitungan persentase dalam meningkatkan kesejahteran rayat mencapai 20,59% dari standar yang ditetapkan 30%. Kemudian Good Government 19,28%

(standar 25%), pelayanan publik 9,64% (standar 25%) dan daya saing 9,92 persen (standar 20%), total 59,43%. Dua kabupaten Sumatera Barat yang mampu meninggalkan kabupaten induknya seperti Kabupaten Pasaman Barat peringkat 31 nasional jauh meninggalkan Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Dharmasraya peringkat satu nasional jauh meninggalkan Kabupaten Sijunjung, sedangkan Provinsi Sumatera barat hanya berada pada peringkat delapan .14

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan perkembangan ekonomi di Kabupaten Dharmasraya sudah terlihat semenjak masih bergabung dengan Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung, kemudian berdasarkan Undang Undang Nomor 38 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Pasaman Barat di Provinsi Sumatera Barat yang diresmikan oleh Gubernur Sumatera Barat atas nama Menteri Dalam Negeri pada tanggal 7 Januari 2004. Pada tanggal 12 agustus 2005 dilantiknya bupati depenitif pertama Kabupaten Dharmasraya Marlon Martua, dalam masa pemerintahan Marlon Martua mampu memajukan perekonomian Kabupaten Dhramasraya dan mensejahterakan rakyatnya. Terbukti dari peningkatan pendapatan perkapita masyarakat Dharmasraya dan pendapatan asli daerah setiap tahunya meningkat.

13 Wawancara pak Tarno (53) seorang petani di kabupaten Dharmasraya. 28 Mei 2016.

14 Haluan, Kabupaten Pemekaran Dhasrmasraya Peringkat 1 Nasional. 26 april 2011

Perkembangan ekonomi di Kabupaten Dharmasraya di dorong oleh beberapa faktor: faktor pertama adalah potensi Sumber Daya Alam (SDA), memilki geografis yang bergelombang dan memiliki curah hujan yang baik menjadikan alam yang subur dan berkah bagi seluruh orang yang tinggal di Kabupaten Dharmsraya bagi yang mengolahnya dengan baik, keadaaan geografis yang strategis di Kabupaten Dharmasraya sudah dikelolah semenjak tergabung kabupaten sawahunto/sijunjung terutama di daerah sitiung tepatnya pada wilayah transmigrasi.

Kedua batas wilayah yang strategis berada di antara 3 provinsi yaitu Sumatera barat, riau, dan jambi menjadikan Kabupaten Dharmasraya pintu gerbang bagi 3 provinsi tersebut dan dilalui jalan negara yang mendukung prasarana transportasi yang mampu memudahkan Kabupaten Dharmasraya dalam berinteraksi dengan daerah-daerah tetangga, terutama dalam berinteraksi kepentingan ekonomi maupun kepentingan lainnya.

Ketiga adalah campur tangan pemerintah dalam mendukung masyarakat dan memanfaatkan sumber daya alam yang kaya berbagai bidang terutama ekonomi, untuk menghasilkan ekonomi yang stabil dan konsisten pada awal terbentuknya Kabupaten Dharmasraya hingga pada berakhinya masa pemerinthan Marlon Martua yang mampu menjadi peletak dasar ekonomi yang baik bagi kabupaten pemekaran ini.

SARAN

Berdasarkan kesimpulan penelitian, maka penulis merekomendasikan berupa saran-saran sebagai berikut :

1. Ekonomi di Kabupaten Dharmasraya perlu untuk terus melihat keperkembangan ekonomi sebelumnya sebagai pedoman kedepanya.

2. Pengelolaan ekonomi di Kabupaten Dharmasraya yang hanya menekankan pada pertanian dan hasil bumi. Pemerintah juga harus mengembangan dibagian bisnis dan pariwisata budaya, karena bidang tersebut Kabupaten Dharmasraya juga berpotensi.

3. Pemerintah juga harus terus konsisten untuk tetap memperhatikan kebutuhan ekonomi masyarakat.

Agar tidak terjadi pergolakan ekonomi di Kabupaten Dharmasraya.

(10)

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Asnan,

Gusti. 2006. Pemerintahan Sumatera Barat Dari VOC hingga Reformasi

Yogyakarta: Citra Pustaka.

Fakih, Mansour. 2002. Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta: INSISTPRESS.

Gottschalk, Louis. 2006. Mengerti Sejarah. Jakarta:

Universitas Indonesia (UI perss).

Jhingan. 2008. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Munandar, Haris & Puji. 2006. Pembangunan Ekonomi (Michael P. Todaro.Terjemahan). Newyork University: Buku asli diterbitkan tahun 2006.

Suroso. 1993. Perekonomian Indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: IKAPI.

Syafeiie, Inu Kencana. dkk. 2002. Sistem Pemerintahan Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Zed, Mestika & Amri, Emrial. 1994. Sejarah Sosial Ekonomi. Padang: Laboratorium Jurusan Pendidikan FPIPS & IKIP Padang Press Sejarah.

Referensi

Dokumen terkait

PERAMALAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) KABUPATEN NIAS PADA TAHUN 2010 - 2011..

Terdapat sembilan sektor utama yang menyusun angka Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) di Kabupaten Karo, yakni sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian,

Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk Menganalisis pengaruh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terhadap tingkat Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten Way Kanan

Untuk mengetahui pengaruh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Angka Harapan Hidup (AHH) dan Angka Melek Huruf (AMH) terhadap tingkat tingkat kemiskinan

Penelitian ini menggabungkan penggunaan MPD sebagai sumber data alternatif dengan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebagai statistik resmi dalam mengetahui

Kondisi perekonomian Kabupaten Solok dipersentasikan melalui Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Solok atas dasar harga konstan 2000 dimana pada Tahun 2013 masih

Hal ini dapat dilihat dari besaran angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Pamekasan, baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan tahun

Pendapatan Regional dan Angka-Angka Perkapita Kabupaten Muaro Jambi atas dasar harga berlaku tanpa minyak Tahun 1993 –