• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ISLAM dI MESIR

N/A
N/A
adrian khaeruddin

Academic year: 2023

Membagikan "PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ISLAM dI MESIR"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ISLAM DI MESIR

ADRIAN

[email protected]

Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar 1. Pendahuluan

Islam sebagai sebuah peradaban yang besar membentangkan sayapnya ke seluruh Dunia. Tak jarang kita temui bahwa di belahan dunia bagain Timur yang kita kenal sebagai peradaban Islam-meski terdapat peradaban lain seperti China, India dll-menyimpan banyak khasanah keilmuan dan peta pemikiran yang menarik decak kagum cendekiawan, baik dari kalangan Muslim sendiri maupun dari kalangan Barat (Orientalis).

Mesir dari segi historisitasnya merupakan sebuah peradaban yang besar dan menyimpan banyak potensi secara tradisional yang telah mengakar1. Hal ini bisa kita lihat ketika Mesir berada dibawah kekuasaan Romawi di Timur dengan Bizantium sebagai Ibu kotanya, terdapat kemajuan peradaban yang sangat signifikan. Oleh karena itu, di abad permulaan Islam Mesir berhasil ditumbangkan dan menjadi bagian dari kekuasaan peradaban Islam.

Ketika Mesir terintegrasi secara langsung ke dalam dunia Islam, maka pertanyaannya adalah bagaimana perkembangan pemikiran Islam di Mesir yang menjadi fokus utama dalam makalah ini. Perlu kiranya untuk menapakai dan menelusuri lorong waktu untuk penulis sendiri menyajikan secara deskriptif pola dan bentuk perkembangan pemikiran Islam di Mesir yang dalam sejarah Islam menjadi cikal bakal kegaduhan dalam kekhalifaan Usman ibn Affan.

Secara umum dapat dilihat bahwa Mesir dalam peradaban Islam mengalami transformasi ilmu pengetahauan dan perkembangan percaturan politik yang kuat dalam dunia Islam.2 Oleh karena itu, dalam literatur sejarah peradaban Islam Mesir tidak pernah ketinggalan dalam menghadirkan beberapa dinasti Islam yang pernah berjaya, salah satunya adalah Dinasti Fatimiyah dan Mamalik yang banyak dikaji dalam literatur sejarah peradaban Islam.

1Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta:

Bulan Bintang, 2003), h. 21.

2Syamruddin Nasution, Sejarah Peradaban Islam (Riau: Yayasan Pusaka Riau, 2013), h.

235.

(2)

2 2. Metode Penulisan

Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur yang berupaya untuk menggali berbagai tulisan, jurnal, artikel ataupun buku yang membahas terkait perkembangan pemikiran Islam di Mesir.

3. Pembahasan

Gambaran Umum Peradaban Islam di Mesir

Mesir adalah salah-satu kawasan yang berada di Afrika Utara yang merupakan daerah yang sangat penting bagi penyebaran agama Islam di daratan Eropa. Ia menjadi pintu gerbang masuknya Islam ke wilayah yang selama berabad- abad berada dibawah kekuasaan Kristen sekaligus “benteng pertahanan” Islam untuk wilayah tersebut.3 Istilah Mesir diambil dari seseorang yang bernama Mishr Ibn Mihsrayim Ibn Ham Ibn Nuh as. Sejak Rasulullah masih hidup, Mesir sudah menjalin hubungan baik dengan Rasulullah. Salah satu bukti hal tersebut adalah istrinya sendiri yang bernama Maria al-Qibthiyah, seorang yang berasal dari Mesir.

Bahkan Rasulullah mempunyai anak dari wanita tersebut yang bernama Ibrahim.4 Islam masuk Mesir pada masa pemerintahan Umar ibn Khattab (640 M), ketika itu Amr ibn Ash disuruh Khalifah membawa tentara Islam untuk mendudukinya karena dari segi geografis Palestina yang berbatasan langsung dengan Mesir tidak akan aman tanpa menduduki Mesir, sementara Palestina ketika itu sudah dapat ditaklukkan tentara Islam.

Setelah menduduki daerah Mesir, Amr ibn Ash langsung diangkat menjadi gubernurnya (632-550) dan menjadikan Fustah (dekat Cairo) sebagai ibu kotanya.

Selanjutnya, Daulah Islamiyah silih berganti menduduki Mesir, antara lain, Daulah Umayyah, Daulah Abbasiyah, Daulah Fatimiyah (909-1171), yang ditandai dengan berhasilnya Jauhar al-Katib (Panglima Besar) Khalifah Muiz Lidinillah mendirikan Universitas tertua di dunia Al-Azhar pada tahun 972 M, Daulah Ayubiyah (1174- 1250) yang ditandai dengan datangnya serangan tentara Perang Salib (1096-1273) ke Mesir, Daulah Mamluk (1250-1517) yang ditandai dengan berhasilnya Daulah Mamluk di bawah pimpinan Khalifah Baybas (1260) membendung serangan Mongol yang hendak menguasai Mesir. Pada masa selanjutnya Mesir menjadi bagian dari Kerajaan Turki Usmani.5

3Abu Haif, Sejarah Perkembangan Peradaban Islam di Mesir. Jurnal Rihlah Vol. II No 1 2015, h. 2.

4Abdullah al-Hajjaj, Maria al-QibthiyahUmmu Ibrahim, terj. RisyanNurhakim, Maria al- Qibthuyah: The Forgotten Love of Muhammad saw (Bandung; PT. MizanPustaka, 2008), h. 21.

5Tim Penulis, Ensiklopedi Islam, Jilid 3 (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2001), h.

227.

(3)

3

Abad modern, Mesir berada di bawah penjajahan Barat, pada tahun 1798 tentara Napoleon mendarat di Mesir, tanpa mendapat perlawanan yang berarti dari Umat Islam. Inggris mulai campur tangan dalam pemerintahan Mesir pada tahun 1882 dan Mesir merdeka dari Inggris pada tahun 1922. Pendudukan Napoleon terhadap Mesir inilah yang mengakibatkan proses transformasi keilmuan dan perkembangan industri di Mesir mereposisi diri agar mampu untuk bersaing dengan negara-negara Eropa lainnya.

Secara umum dalam penulisan makalah ini, penulis membatasi pembahasan secara spesifik perkembangan pemikiran Islam di Mesir pada peradaban Islam yang pernah terjadi di Mesir yaitu dinasti Fatimiyah dan Dinasti Mamluk. Serta perkembangan pemikirannya hingga memasuki abad modern. Adapun yang dimaksudkan dapat penulis uraikan dalam sub bahasan selanjutnya.

Pemikiran Islam pada Dinasti Fatimiyah di Mesir (909-1171 M)

Dinasti Fatimiyah diaketgorikan sebagai Daulah ketiga yang terdapat dalam peradaban Islam setelah Umayyah dan Abbasiyah. Pendapat ini dikemukakan dalam Syamruddin Nasution yang membagi secara spesifik periode kemajuan peradaban dinasti Fatimiyah melalui beberapa khalifah yang pernah menapakkan kiprahnya dalam memajukan peradaban Islam periode klasik.6 Diantara khalifah yang dimaksud adalah al-Muiz Lidinillah (953-975 M), Abu Mansur Nizhar al-Aziz Billah (975-996 M) dan Abu Ali Mansur al-Hakim Biamrillah (966-1021 M).

Berdirinya dinasti Fatimiyah bukan tanpa alasan, hal ini didasarkan oleh sengitnya persaingan politik dengan membawa semangat ahl-bait. Sebagaimana namanya sendiri yang diambil dari anaknya Rasulullah saw, dengan Khadija yang nantinya menikah dengan Ali ibn Thalib yang juga merupakan sepupu Rasulullah dari sanad keluarga Abu Thalib (ayahnya Ali) dan Abdullah (ayah dari Rasulullah).

Semangat ahl-bait atau Syi’ah yang dibawakan oleh dinasti Fatimiyah yang didirikan oleh Said Ibn Husain merupakan tandingan dari Dinasti Abbasiyah.7 Pasalnya, kedua dinasti tersebut mengalami konflik ideologi dan politik yang berkepanjangan. Dalam literatur yang lain, penulis mendapat bahwa yang mendirikan dinasti Fatimiyah adalah Ubaidillah Al-Mahdi yang berkuasa selama lebih kurang 262 tahun (909-1171 M) diperintah oleh 12 orang Khalifah.8 Namun,

6Syamruddin Nasution, Sejarah Peradaban Islam (Riau: Yayasan Pusaka Riau, 2013), h.

236.

7K. Hitti, Philip, History of The Arabs; From The Earliest Times to The Present, terj. R.

Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, History of The Arabs (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2010), h. 787.

8Syamruddin Nasution, Sejarah Peradaban Islam, h. 239.

(4)

4

disini penulis hanya menyajikan 3 khalifah yang mencolok dalam dinasti Fatimiyah dari segi perkembangan pemikiran Islam di Mesir.

Pertama, Dinasti Fatimiyah dibawah kekuasaan khalifah al-Muiz Lidinillah (953-975 M). Khalifah Al-Muiz Lidinillah termasuk salah seorang Khalifah Daulah Fatimiyah yang mengagumkan, dia adalah seorang yang luas pengetahuannya, banyak mengetahui bahasa, sangat cinta pada ilmu pengetahuan dan sastra, pandai mengatur siasat sehingga dia dikagumi baik kawan maupun lawannya.9

Setelah Al-Muiz Lidinillah naik tahta pada tahun 953 M/341 H, dia berusaha mengokohkan kedudukannya sebagai Khalifah keempat Daulah Fatimiyah. Untuk itu, dia mengamankan seluruh wilayah kekuasaannya dari kekacauan-kekacauan yang selama ini terjadi, hal itu berlangsung selama 17 tahun. Setelah situasi dalam negeri aman memberi kesempatan kepadanya untuk menyerang dan merebut Mesir dari Daulah Abbasiyah.

Pada tahun 970 M/358 H Al-Muiz Lidinillah mengerahkan pasukan dalam jumlah besar di bawah Panglimanya Abu Hasan Al-Jauhar dan barulah kali ini mereka berhasil menguasai Mesir pada bulan Jumadil Awwal 359 H/971 M kemudian Jauhar pergi ke masjid Ibn Tulun dan menyuruh muazzin menyuarakan azan Syi’ah, yaitu “Haiya ‘ala kharil ‘amal”. Itulah azan pertama orang Syi’ah di Mesir.

Pada masa Khalifah Al-Muiz Lidinillah Daulah Fatimiyah mengalami kemajuan pesat. Dia melakukan perluasan wilayah Daulah Fatimiyah sampai ke negeri Syam (Syiria) dan Palestina, juga namanya disebut di atas mimbar di negeri Hijaz Makkah Madinah) sebagai lambang dari kekuatan Daulah Fatimiyah ketika itu.10

Al-Muiz Lidinillah bersama dengan panglima besarnya Jauhar al-Katib membangun sebuah kota yang dikenal dengan sebutan “al-Qairah” atau Cairo.

Lokasi kota ini terletak di pinggiran barat sungai Nil untuk selanjutnya ibu kota Daulah Fatimiyah berpindah dari Maroko ke Cairo. Demikian juga dia membangun istana untuk tempat tinggal Khalifah Al-Muiz Lidinillah.

Selain itu, Panglima Jauhar Al-Katib membangun Perguruan Tinggi Al- Jami’ Al-Azhar dan Khalifah Muiz Lidinillah meresmikan Universitas Al-Azhar tersebut pada tanggal 7 Ramadhan 361/22 Juni 972 M. Pada mulanya kurikulum yang diterapkan di Unversitas tertua di dunia itu adalah berdasarkan mazhab Syi’ah

9Ahmad Syalabi, Mausu’ah Tarikh Islamiyah wa Hadharah Al-Islamiyah, Jilid 4, (Kairo:

Maktabah al-Nahdiyah al-Misriyah, 1974), h. 293.

10Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al-Daulah al-Fatimiyah fi Maghribi wa Misra wa Surya (Mesir: Kuttab al-Fatimiyah, 1958), h. 155.

(5)

5

aliran Isma’iliyah. Namun setelah mengalami beberapa fase sampai dengan hari ini, maka tentu terjadi pergeseran besar-besaran dalam menetapkan kurikilum di dalamnya.

Bila Daulah Abbasiyah telah berhasil memajukan peradaban Islam dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan di Baghdad, seperti kemegahan dan keindahan kota Baghdad, ilmu kedokteran, astronomi, matematika, kimia, farmasi, filsafat dan ilmu agama lainnya untuk masyarakat Irak. Demikian juga Daulah Umayyah Cordova telah berhasil menymbangkan berbagai kemajuan seperti industri, peradaban dan pertanian untuk masyarakat Spanyol. Maka Daulah Fatimiyah juga telah menyumbangkan banyak kemajuan dan kecemerlangan untuk masyarakat Mesir walaupun tidak dapat menyaingi kecemerlangan Baghdad dan Spanyol.

Kedua, Khalifah al-Aziz Billah (975-996 M). Pengangkatan al-Aziz Billah sebagai khalifah didasari atas meninggalnya ayahnya al-Muiz Lidinillah yang secara tidak langsung menjadikan dirinya sebagai pewaris dinasti. Meski tidak se- cemerlang ayah nya dalam membangun inovasi dalam bidang pemikiran Islam, seitdaknya al-Aziz Billah telah mempertahankan apa yang kemudian diwariskan ayahnya serta membangung ekonomi yang kuat bagi dinasti Fatimiyah.11

Stabilnya ekonomi negara pada masa Khalifah Al-Aziz Billah memberi peluang baginya untuk memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan. Untuk itu, istana-istana, masjid-masjid dan perpustakaan-perpustakaan dijadikannya sebagai temapat mengembangan ilmu pengetahuan dan perdaban Islam. Bahkan Wazirnya (Perdana Menterinya) yang bernama Ya’qub ibn Keles – seorang Yahudi yang masuk Islam – mengadakan pertemuan-pertemuan besar di istananya pada setiap hari Kamis dan Jum’at dan dia membacakan karangan-karangannya kepada para hadirin. Adapun yang menjadi peserta pertemuan adalah para Qadhi, Fuqaha, ahli Qira’at, ahli Nahwu, ulama Hadits dan para pembesar negara yang berbakat.12

Perdana Menterinya juga mengarang dan menyusun kitab-kitab terbesar dalam bidang Fiqih Syi’ah yang dipelajari oleh ulama Fuqaha dan mereka menjadikan masjid-masjid sebagai tempat pertemuan. Ya’qub ibn Keles juga menyampaikan ceramah kepada hadirin tentang aqidah Sy’ah Isma’ilyah di masjid- masjid. Kitab terbesar dalam bidang Fiqih Syi’ah adalah kitab karangan Ya’qub ibn Keles.

Ketiga, Khalifah al-Hakim Biamrillah (966-1021 M). Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Hakim Biamrillah kegiatan diskusi-diskusi semakin

11Syamruddin Nasution, Sejarah Peradaban Islam, h. 245.

12Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulah Abbasiyah, Jilid 2 (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), h.

237.

(6)

6

dikembangkan dari istana beralih ke perpustakaan karena perpustakaan juga mempunyai peranan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu pada masa pemerintahan Hakim Biamrillah dia sudah membangun perpustakaan

“Darul Hikmah” dan menugaskan kepada para ilmuan baik di bidang ilmu naqli maupun ilmu aqli untuk mengelola perpustakaan tersebut.

Di dalamnya dilengkapi buku-buku karangan para ilmuan ternama untuk ditela’ah dan dikaji. Semua orang diizinkan memanfa’atkannya. Diskusi-Diskusi diadakan secara rutin yang dihadiri oleh Khalifah Al-Hakim dan Al-Hakim membagi-bagikan hadiah kepada mereka. Dengan demikian, perpustakaan menjadi urat nadi bagi sebuah Universitas, disitu diadakan kegiatan diskusi yang dihadiri oleh para ilmuan dari berbagai bidang disiplin ilmu untuk menela’ah buku-buku yang ada kemudian hasil dari tela’ahan tersebut disalin dan disimpan di perpustakaan itu lagi.13

Khalifah Al-Hakim Biamrillah juga mendirikan “Darul Ilmi” sebagai pusat pengajaran ilmu Kedokteran dan ilmu Astronomi. Pada masa inilah muncul seorang Astronom besar yang bernama Ibnu Yunus (348-399 H/958-1009 M) dan seorang tokoh Fisika dan Optik bernama Ibnu Haitam (354- 430 H/965-1039 M).14 Khalifah Al-Hakim Biamrillah pun membentuk Majelis Ilmu (Lembaga Seminar) di istananya, tempat berkumpulnya sejumlah ilmuan untuk mendiskusikan berbagai cabang ilmu. Kegiatan ini ternyata dapat memunculkan sejumlah ilmuan besar Mesir, sehingga pikiran dan karya-karya besar mereka berpengaruh ke seluruh dunia Islam.

Dari sini dapat dilihat bahwa ketiga khalifah di atas yang menjadi patron dalam laju perkembangan ilmu pengetahuan dan pemikiran Islam. Apa yang dilakukan al-Muiz lidinillah sebagai peletak dasar mazhab syi’ah di mesir lalu dilanjutkan pada generasi setelahnya secara tidak langsung mencirikan dinasti fatimiyah di Mesir merepresentasikan mazhab syi’ah yang menjadi rival terhadap sunni. Dari segi perkembangan ilmu pengetahuan sendiri, dinasti Fatimiyah sedikit banyaknya telah berkontribusi, meski tidak se-cemerlang Baghdad dan Spanyol.

Pemikiran Islam pada Dinasti Mamluk di Mesir (1250-1517 M)

Dinasti Mamluk hadir setelah dinasti fatimiyah berhasil di bumi-hanguskan oleh pasukan Salahuddin al-Ayyubi. Setelah Shalahuddin berkuasa, Salahuddin tidak menghancurkan Kairo yang dibangun Fathimiyah. Ia malah melanjutkannya sama antusiasnya. Ia hanya mengubah paham keagamaan negara dari Syiah menjadi

13Tim Penulis, Ensiklopedi Islam, Jilid 3, h. 228.

14Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al-Daulah al-Fatimiyah fi Maghribi wa Misra wa Surya, h.

305.

(7)

7

Sunni. Sekolah, masjid, rumah sakit, sarana rehabilitasi penderita sakit jiwa, dan banyak fasilitas sosial lainnya dibangun. Peristiwa yang paling terkenal pada masa Shalahuddin al-Ayyubi adalah Perang Salib (perang antara Kristen dan Islam). Pada 1250 delapan tahun sebelum Baghdad diratakan dengan tanah oleh Hulagu, kekuasaan diambil alih oleh kalangan keturunan Turki, pegawai Istana keturunan para budak (Mamluk).15

Daulah Mamalik di Mesir muncul pada saat dunia Islam mengalami desentralisasi dan desintegrasi politik. Wilayah kekuasaannya meliputi Mesir, Hijaz, Yaman dan daerah sungai Furat. Kaum Mamalik ini berhasil membersihkan sisa-sisa tentara Salib dari Mesir dan Suriah serta membendung desakan gerombolan-gerombolan bangsa Mongol di bawah pimpinan Khulaqu Khan dan Timurlenk.16

Kaum Mamalik yang memerintah di Mesir mereka dibedakan menjadi dua suku. Pertama Mamalik Bahri (648- 792 H / 1250-1390 M). kedua Mamalik Burji (784-922 H / 1382- 1517 M). Mamalik Bahri adalah budak-budak Turki yang didatangkan Malik Al-Saleh ke Mesir dalam jumlah besar setelah ia berhasil menduduki jabatan Sultan (1240-1249). Di Mesir mereka ditempatkan di barak- barak militer dekat sungai Nil, itulah sebabnya mereka disebut dengan Mamalik Bahri artinya budak laut. Adapun Mamalik Burji adalah budak-budak yang didatangkan dari Syirkas (Turki) oleh Sultan Qalawun (1279-1290) karena ia curiga terhadap beberapa tokoh militer dari Mamalik Bahri yang dianggapnya dapat mengancam kelangsungan kekuasaannya. Mereka ditempatkan di menara-menara benteng (Burji). Itulah sebabnya mereka disebut dengan Mamalik Burji. Baik Mamalik Bahri maupun Mamalik Burji sama-sama berasal dari Turki tetapi suku mereka yang berbeda.17

Adapun perkembangan pemikiran Islam pada masa ini dapat dilihat melalui kemajuan dinasti Mamluk di berbagai bidang. Salah satunya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang pada saat itu dinasti Mamluk dibawah pemrintahan Sultan Baybars. Kebijakan khalifah untuk menjadikan Mesir sebagai arena kegiatan para ilmuan membawa peradaban Mesir dalam dialektika pemikiran Islam.

Dalam bidang sejarah muncul Ibn Khaldun yang terkenal sampai sekarang, yang telah menulis sebuah kitab berjudul “Muqaddimah”nya, (buku tersebut masih ada sampai sekarang) juga Abu Al-Fida’ dan Al-Maqrisi. Dalam bidang kedokteran juga mengalami kemajuan yang gemilang dengan di temukannya susunan darah dan

15Abu Haif, Sejarah Perkembangan Peradaban Islam di Mesir. Jurnal Rihlah Vol. II No 1 2015, h. 4.

16Syamruddin Nasution, Sejarah Peradaban Islam, h. 256.

17Tim Penulis, Ensklopedi Islam, Jilid 3, h. 146.

(8)

8

peredarannya di dalam paru-paru manusia oleh Abu Mabis (Abu Al-Hasan Ali Al- Mabis w. 1288). Juga Ibn Abi Ushaibiyah telah menulis sebuah buku yang berjudul

Uyun Al-Arbi’ bi Thabaqat Al-Thibba” Pada masa ini juga muncul seorang dekter hewan yang bernama Abdul Al-Ma’min Dimyati. (w.1306). dengan kitabnya yang berjudul “Fadhl Al-Khail” (Keunggulan Pasukan Berkuda).

Dalam bidang farmasi dikenal seorang ahli yang bernama Al-Kuhin dan Al- Attar dengan bukunya yang berjudul “Minhaj Al-Dukhan wa Dutswa Al-Ayan”.

Dalam bidang matematika dikenal dengan nama Abu Al-Faraj AlTabari (1226- 1286). Dalam bidang agama, pada saat ulama Baghdad khilangan semangat, akibat kehancuran Baghdad, pintu berijtihad seolah-olah tertutup. Akhirnya mereka banyak yang menggeluti ilmu tasawuf dan tarikat.18

Sementara itu di Daulah Mamalik di Mesir muncul seorang ulama besar Ibn Taimiyah Al-Hambaly (1332) yang berusaha untuk merubah pola pikir umat Islam yang bersifah tradisional pada masa itu kepada pola pikir yang lebih rasional yang berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits serta selalu memupuk semangat untuk melakukan ijtihad. Hal yang dilakukan Ibn Taimiyah tersebut dapat difahami karena masa itu banyak ulama yang beraliran Sunni mereka kuat berpegang pada tarikat dan tasawuf dan telah menjadi faham bagi kebanyakan dari pada mereka bahwa pintu ijtihad telah tertutup dan kita tinggal hanya mengkaji apa yang telah dibahas ulama terdahulu. Pola pikir seperti inilah yang hendak diperbaharui oleh Imam Ibn Taimiyah.

Ibn Taimiyah tidak sendirian, dia ditemani oleh kawan-kawannya, seperti ulama Jalaluddin Al-Suyuti, dia adalah seorang ulama yang produktif menulis, baik di bidang tafsir maupun sejarah, di bidang tafsir dia menulis buku yang berjudul

Al-Itqan fi Ulumil Qur’an”. Ditambah lagi seorang ulama terkenal di bidang Hadits Ibnu Hajar Al-Asqalani (91372-1449) kepala Qadhi di Cairo dengan bukunya, antara lain, “Tahzib al-Tahzib” (dua belas jilid) dan buku yang berjudul

Al-Itsabah” (empat jilid). Ulama lain yang terkenal dalam bidang sastra tercatat Safaruddin Muhammad Busiri dengan kitabnya yang berjudul “Burdah”.19

Pada dasarnya, dinasti Mamluk yang tumbuh dan berkembang di Mesir setelah berhasil merubah wajah Mesir dari keberpihakan dinasti sebelumnya terhadap mazhab Syi’ah, maka Mamluk hadir untuk meng-Sunni-sasi kan masyarakat Mesir. Terlepas dari perang ideologi tersebut, dalam aspek kemajuan ilmu pengetahuan dan pemikiran Islam keduanya bersepekat dalam membangun inovasi dan menggencarkan kegiatan keilmuan yang banyak dikenal di mata dunia

18K. Hitti, Philip, History of The Arabs; From The Earliest Times to The Present, terj. R.

Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, History of The Arabs, h. 685.

19Tim Penulis, Ensklopedi Islam, Jilid 3, h. 148.

(9)

9

bahkan sampai saat ini. Kemajuan dalam sektor astronomi, sejarah, fisika, kedokteran, filsafat dan tasawuf merupakan bentuk dari sebuah dinamika sejarah yang berupaya untuk berintegrasi dengan pola perilaku khalifah dan masyarakatntya.

Pemikiran Islam pada Abad Modern di Mesir

Ketika Napoleon Bonaparte menginjakkan kakinya di Mesir pada tahun 1798, Mesir berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Secara politik, negeri ini terbelah oleh dua kekuatan yang saling menghancurkan. Yakni, kekuatan Mamluk yang berkuasa secara turun-temurun sejak abad ke-13 dan kekuatan yang didukung oleh pemerintahan Utsmani di Istanbul.

Situasi kekuasaan dan pemerintahan di Mesir pada waktu itu sudah tidak dapat lagi dikatakan stabil. Kekacauan, kemerosotan sosial kemasyarakatan sebagai wilayah yang selalu diperebutkan dan diincar oleh negara-negara Islam kuat sungguh-sungguh membuat rakyat Mesir diliputi rasa ketakutan. Perhatian untuk membangun pun sangat lemah, sebab setiap saat selalu dihantui oleh perang.

Dengan keadaan sedemikian lemah posisi Mesir, datanglah tentara Napoleon yang melebarkan sayap imperialnya ke wilayah-wilayah lain yang mempunyai potensi kekayaan alam, peradaban dan warisan-warisan historis yang memungkinkan untuk dijadikan batu pijakan bagi kejayaan mereka dalam membangun impian menguasai dunia. Pada tanggal 2 Juni 1798 M, ekspedisi Napoleon mendarat di Alexandria (Mesir) dan berhasil mengalahkan Mamluk dan berhasil menguasai Kairo. Setelah ditinggal Napoleon digantikan oleh Jenderal Kleber dan kalah ketika bertempur melawan Inggris. Dan pada saat bersamaan datanglah pasukan Sultan Salim III (Turki Usmani) pada tahun 1789-1807 M dalam rangka mengusir Prancis dari Mesir. Salah satu tentara Turki Usmani adalah Muhammad Ali yang kemudian menjadi gubernur Mesir di bawah Turki Usmani.20

Harun Nasution menggambarkan ketika Napoleon datang ke Mesir tidak hanya membawa tentara, akan tetapi terdapat 500 orang sipil 500 orang wanita.21 Diantara jumlah tersebut terdapat 167 orang ahli dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan dan membawa 2 unit percetakan dengan huruf Latin, Arab dan Yunani, tujuannya untuk kepentingan ilmiah yang pada akhirnya dibentuk sebuah lembaga ilmiah dinamai Institut ‟Egypte terdiri dari ilmu pasti, ilmu alam, ekonomi politik, dan sastera seni. Lembaga ini boleh dikunjungi terutama oleh para ulama

20Abu Haif, Sejarah Perkembangan Peradaban Islam di Mesir. Jurnal Rihlah Vol. II No 1 2015, h. 5.

21Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, h. 28.

(10)

10

dengan harapan akan menambah pengetahuan tentang Mesir dan mulailah terjadi kontak langsung dengan peradaban Eropa yang baru lagi asing bagi mereka.

Pembaharuan Islam di Mesir menurut John L. Esposito dilatarbelakangi oleh ortodoksi sunni yang mengalami proses kristalisasi setelah bergulat dengan aliran muktazilah, aliran syiah dan kelompok khawarij yang kemudian disusul dengan sufisme yang pada tahapan selanjutnya mengalami degenerasi. Degenerasi dan dekadensi aqidah dan politik nepotisme dan absolutis yang bertentangan semangat egaliterianisme yang diajarkan Islam setelah merajalelanya bid’ah, kurafat, fabrikasi dan supertisi di kalangan umat Islam dan membuat buta terhadap ajaran-ajaran Islam yang orisinal. Maka tampilah pada abad peralihan 13 ke-14 seorang tokoh Ibnu Taimiyah yang melakukan kritik tajam sebagai reformis (Tajdid) dengan seruannya agar umat Islam kembali kepada al-Qur’an, Sunnah serta memahami kembali ijtihad.22

Pada dasarnya pemikiran Islam di abad modern yang terjadi di Mesir lebih dikenal dengan sebuah gerakan pembaharuan dalam Islam. Hal ini tentu didasari sosio-politik yang berkecamuk di Mesir sepeninggal dari dinasti Mamluk dan Prancis. Realitas sosial yang sedang berada diambang kemunduruan dan perang kepentingan politik memaksa Mesir untuk menelan pahitnya pendudukan atas kerajaan dan bangsa lain.

Namun, bukan tidak mungkin untuk membicarakan kemajuan pemikiran Islam di abad modern yang terjadi di Mesir. Pasalnya, dari sinilah kemudian banyak bermunculan tokoh-tokoh pembaharu Islam. Meski terjadi dialektia terkait apakah filsafat Islam masih hidup di era ini atau justru beralih menjadi pemikiran Islam, hal itu mendapat respon di kalangan pemikir.

Ada indikasi telah terjadi redefinisi besar-besaran terhadap filsafat Islam.

Ada yang mengatakan filsafat Islam masih ada, sebagian lagi mengatakan bahwa filsafat Islam telah berubah menjadi pemikiran Islam.23 Hasan Hanafî, dan Hamid Thâhir mengatakan bahwa filsafat Islam itu tetap ada. Tokohnya Shadr al-Dîn Shirâzî, dan Imam Khomeini. Jika ada orang berpendapat bahwa filsafat tidak ada lagi adalah salah besar. Ilmu-ilmu yang berkembang sekarang seperti tasawuf, ilmu kalam, dan usul fikih sebenarnya bagian dari filsafat Islam karena menggunakan metode-metode filsafat. Sementara itu Jamal Marzûqi, salah seorang dosen, sekaligus ketua jurusan filsafat dan tasawuf Fakultas Adab Universitas ‘Ain al- Syams Kairo mengatakan bahwa filsafat Islam itu tidak ada lagi tetapi telah berubah

22Abdul Hamid,Ed., Pemikiran Modern Dalam Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2010), h.

172,

23Afrizal M, Perkembangan Filsafat Islam di Mesir Modern, Jurnal Miqot Vol XXXIX No 1 2015, h. 6.

(11)

11

menjadi pemikiran Islam. Jamal al-Dîn al-Afghânî, Mu hammad ‘Abduh, Rasyid Ridha, Hasan al-Banna, ‘Ali ‘Abd al-Râziq menurut Jamal bukan lagi filosof, tetapi pemikir Muslim, sementara Hasan Hanafî dan Hamid Thâhir tetap menganggap mereka sebagai filosof.

Perbedaan yang agak jelas antara filosof dan mufakkir terletak pada pola kerja masing- masing. Pola kerja filosof bersifat global, sedangkan pola kerja mufakkir parsial. Para filosof mengemukakan pandangan umum, membahas faktor persoalan manusia, alam semesta sampai pada penciptanya. Al-Kindî membahas tentang akal dengan segala fungsinya, konsep kebenaran dan argumen filosofisnya untuk membuktikan kebenaran Allah. Al-Fârâbî dan Ibn Sînâ mengangkat teori emanasi dengan segala aspeknya, dan pola yang berbeda, membahas tentang jiwa.

Demikianlah cara kerja filosof sehingga pandangannya kelihatan menyeluruh.

Sementara pemikir mengangkat bagian dari pembahasan filosof. Kebanyakan pemikir membicarakan persoalan umat langsung kepada hal-hal teknis. Atas dasar itu ada pemikir di bidang politik saja, ada pemikir bidang kalam saja, ada pemikir bidang tasawuf saja dan pemikir bidang ekonomi.

Selain itu pola kerja filosof berbentuk sistem, artinya yang dihasilkan filosof itu menggambarkan adanya komponen-komponen setiap objek kajian. Ibn Sînâ mengangkat persoalan jiwa secara lebihsempurna dibandingkan dengan filosof lain.

Penjelasannya mulai dari jiwa mulai dari jiwa tumbuh-tumbuhan, binatang sampai jiwa tertinggi. Adapun pemikir menghasilkan aliran. Muhammad ibn ‘Abd al- Wahab tidak disebut sebagai filosof tetapi disebut pemikir karena ia menghasilkan pikiran sistematis, menjurus pada satu persoalan dan mencarikan jawaban secara tuntas. Orang-orang yang sependapat dengan dia atau mengikuti pendapatnya disebut pengikut Mu hammad ibn ‘Abd al-Wahâb bukan sebagai filosof.

Pola kerja filosof menemukan dan merumuskan sesuatu sedangkan pola kerja mufakkir menyelesaikan dan merealisasikan sesuatu. Al-Fârabî menulis konsep negara utama. Ia merumuskan syarat-syarat dan kriteria pemimpin, sedangkan Jamâl al-Dîn al-Afghânî, seorang-pemikir pergi ke berbagai negara, masuk dunia politik, ikut mencari siapa yang pantas diangkat menjadi pemimpin dalam suatu negara di mana ia ketika itu berada. Jamâl al-Dîn menunjukkan orang, sedangkan al-Fârâbî tidak menunjukkan orang, tetapi merumuskan kerja untuk orang. Yang menjadi catatan perubahan penggunaan Pendapat ini diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan Hamîd Thâher, mantan Wakil Rektor bidang akademik dan Profesor Filsafat pada Fakultas Dâr al-‘Ulûm Universitas Kairo pada tanggal 20 Agustus, dan dikonkritkan tanggal 22 Oktober 2007.24 Filosof menjadi mufakkir itu ialah ketika bertukarnya cara berpikir dari bersistem dan aliran

24Afrizal M, Perkembangan Filsafat Islam di Mesir Modern, h. 7.

(12)

12

menjadi berpikir parsial. Selain itu filsafat tidak bicara tentang benar dan salah, sementara pemikir lebih dititik beratkan kepada benar dan salah. Filsafat hanya membicarakan ciri-ciri sesuatu yang benar. Sementara pemikir berbicara tentang salah benarnya suatu perbuatan. Dari itu sedikit teranglah perbedaan antara pemikiran Islam dan filsafat Islam.

Berdasarkan peta pergumulan kajian pemikiran Islam di Mesir di atas, dapatlah diketahui bahwa apa yang terjadi di abad modern Mesir merupakan bentuk implikasi dari apa yang telah terjadi pada fase sebelumnya. Tentu dalam melihat ini, setiap peradaban yang muncul merupakan bentuk dari apa yang terjadi sebelumnya. Paling tidak ia akan berbicara sebuah perlawanan atau pun bentuk pertahanan dari kekuasaan yang berkembang sebelumnya. Pun dengan wacana pemikiran Islam di Mesir pada abad modern tidak terlepas dari kepentingan politik dan dinamika pemikiran yang begitu plural. Dalam hal ini para pemikir yang muncul secara tidak langsung membawakan sebuah nafas ideologi tertentu untuk generasi selanjutnya.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa: Pertama, pemikiran Islam yang berkembang pada dinasti Fatimiyah di Mesir merupakan sebuah cikal-bakal dan peletak dasar mazhab Syi’ah. Dalam fase ini terjadi kemajuan pemikiran Islam dan ilmu pengetahuan dibawah kekuasaan al- Muiz Lidinillah (953-975 M), Abu Mansur Nizhar al-Aziz Billah (975-996 M) dan Abu Ali Mansur al-Hakim Biamrillah (966-1021 M). Kedua, berbeda dengan Fatimiyah, dinasti Mamalik justru menekankan mazhab Sunni kepada masyarakat Mesir yang juga menjadi periode awal pergulatan pemikiran Islam dari kalangan kaum Sunni dengan membawa tokoh Ibn Taimiyah yang mempengaruhi pemikiran Islam pada fase selanjutnya. Ketiga, pemikiran Islam pada abad modern di Mesir atau yang dikenal dengan gerakan pembaharuan pemikiran dalam Islam mempunyai misi untuk mengcounter bentuk doktrin dan kepentingan polititk atas nama agama Islam.

Daftar Pustaka

Abdul Hamid,Ed., Pemikiran Modern Dalam Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2010.

Abdullah al-Hajjaj, Maria al-QibthiyahUmmu Ibrahim, terj. RisyanNurhakim, Maria al- Qibthuyah: The Forgotten Love of Muhammad saw. Bandung;

PT. MizanPustaka, 2008.

Abu Haif, Sejarah Perkembangan Peradaban Islam di Mesir. Jurnal Rihlah Vol. II No 1 2015.

(13)

13

Afrizal M, Perkembangan Filsafat Islam di Mesir Modern, Jurnal Miqot Vol XXXIX No 1 2015.

Ahmad Syalabi, Mausu’ah Tarikh Islamiyah wa Hadharah Al-Islamiyah, Jilid 4.

Kairo: Maktabah al-Nahdiyah al-Misriyah, 1974.

Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan.

Jakarta: Bulan Bintang, 2003.

Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al-Daulah al-Fatimiyah fi Maghribi wa Misra wa Surya. Mesir: Kuttab al-Fatimiyah, 1958.

Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulah Abbasiyah, Jilid 2. Jakarta: Bulan Bintang, 1977.

K. Hitti, Philip, History of The Arabs; From The Earliest Times to The Present, terj.

R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, History of The Arabs.

Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2010.

Syamruddin Nasution, Sejarah Peradaban Islam. Riau: Yayasan Pusaka Riau, 2013.

Tim Penulis, Ensiklopedi Islam, Jilid 3. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2001.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal ini benturan peradaban yang dimaksud adalah benturan antara Islam dan Barat, Barat melihat Islam sebagai musuh utama yang mengancam eksistensiya dalam perpolitiikan

MD, Perdebatan Hukum Tata Negara; Pasca Amandemen Konstitusi , 238 – 42; Effendy, Islam Dan Negara; Transformasi Pemikiran Dan Praktik Politik Islam Di Indonesia , 85 – 92; Maarif,

Perkembangan ekonomi Islam di dunia harus dibedakan dengan perkembangan lembaga keuangan Islam seperti perbankan, pasar modal, asuransi, gadai atau lembaga keuangan lainnya.

2.3 Perkembangan Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Abasiyah.. Masa Abbasiyah menjadi tonggak puncak peradaban Islam. Khalifah- khalifah Bani Abbasiyah secara

Mesir memiliki pandangan bahwa menerapkan Islam dalam negara, dengan membentuk sebuah negara Islam dan mempersatukan dunia Islam dengan menegakkan khilafah Islamiyah, adalah

dibawa ke Mesir terdiri daripada kalangan hamba yang bukan Islam, tidak mempunyai nama Arab dan kebanyakan mereka berasal daripada pelbagai bangsa seperti Turki, Caucasus

MAKALAH PERKEMBANGAN STUDI ISLAM DI DUNIA

Strategi politik Ikhwanul Muslimin diluar Mesir adalah dengan memberikan dukungan kepada Ikhwanul Muslimin yang ada di Mesir apalagi mereka sedang mengalami kondisi politik yang tidak