• Tidak ada hasil yang ditemukan

pernikahan beda agama menurut mufasir al-qur`an

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "pernikahan beda agama menurut mufasir al-qur`an"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

Analisis Tafsir Fi Zhilalil Qur'an, Raudhah al-'Irfan fi Ma'rifah al-Qur'an dan al. Misbah). Skripsi berjudul “Perkawinan Beda Agama Menurut Mufasir al-Qur’an (Studi Banding Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Raudhah al-’Irfan, dan al-Mishbah)” yang disusun oleh Siti Pangestu Rahmatillah dengan Nomor Induk Mahasiswa 13210551 telah lolos prosesnya dipandu dengan benar dan disetujui untuk diuji pada sidang Munaqasyah. Skripsi berjudul “Perkawinan Beda Agama Menurut Mufasir al-Qur’an (Studi Banding Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Raudhah al-’Irfan, dan al-Mishbah)” oleh Siti Pangestu Rahmatillah dengan NIM 13210551 telah diuji pada Sidang Munaqasyah di Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta pada tanggal 1 Agustus 2017.

Menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Pernikahan Antaragama Menurut Mufasir al-Qur'an (Studi Banding Tafsir Fi Zhilalil Qur'an, Raudhah al-Irfan dan al-Mishbah)” benar-benar karya asli saya, kecuali kutipan yang telah disebutkan. Pernikahan Beda Agama Menurut Mufasir al-Qur'an (Studi Banding Tafsir Fi Zhilalil Qur'an, Raudhah al-'Irfan dan al-Mishbah)" Insya Allah keutuhan penulis dan pembaca terhadap ajaran agama Islam. Khuzaemah Tahido Yanggo, Lc, MA, Ibu kita semua, Rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta.

Pernikahan Beda Agama Menurut Mufasir al-Qur'an (Studi Banding Tafsir Fi Zhilalil Qur'an, Raudhah al-'Irfan dan al-Mishbah). Untuk itu penulis ingin mendalami tafsir Al-Qur'an mengenai ayat tersebut, antara lain tafsir Fi Zhilalil Al-Qur'an, Raudhah al-'Irfan dan al-Mishbah. Dalam penelitian ini penulis mencoba menjawab permasalahan yang ada dengan cara meneliti dokumen atau pustaka dengan mengacu pada data primer dan sekunder.Sumber data primer yang digunakan penulis adalah Tafsir Fi Zhilalil Qur'an, Tafsir Raudhah al-'Irfan fi Ma 'rifah al-Qur'an dan Tafsir al-Mishbah.

Manakala data sekunder yang penulis gunakan ialah Fiqh Munakahat, Teza, kitab-kitab Ensiklopedia Al-Qur'an, serta buku-buku yang berkaitan dengan perbincangan. Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan (lelaki dan perempuan), sebagaimana dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan agar dua hati disatukan menjadi satu, yaitu melalui perkawinan untuk memperbanyak zuriat. Menurut undang-undang Islam, perkahwinan yang berlainan agama adalah tidak sah seperti yang dinyatakan dalam al-Quran, Surah al-Baqarah ayat 221.5.

زملا حكنتأ

لهبسحس لهللمل عبرلألهللمجس

كادي تبزت نيدلا تاذب زفظلف لهنيدس

Identifikasi, Pembatasan dan Rumusan Masalah

Batasan permasalahannya adalah penulisan akan fokus mengkaji ayat-ayat Al-Qur'an pada surat Al-Baqarah ayat 221 dan surat Al-Maidah ayat 5 yang berlandaskan pada Tafsir Fi Zhilalil Qur'an, Tafsir Raudhah al-'Irfan fi Ma'rifah Al-Qur'an dan Tafsir Al-Mishbah. Pertama, penulis ingin mengetahui versi tafsir manakah yang ada di antara ketiga tafsir tersebut di atas, kemudian melihat kelebihan dan kekurangan atau persamaan dan perbedaannya. Kedua, alasan penulis memilih ayat Al-Baqarah dan al-Maidah karena sebenarnya ada tiga ayat dalam Al-Quran yang menjelaskan hal tersebut, yaitu surat al-Baqarah ayat 221, al-Maidah ayat 5 dan Mumlahanah. ayat 10.

Karena makna ayat al-Baqarah dan Mumlahanah menunjukkan hal yang sama yaitu mengenai haramnya menikah dengan orang non muslim (kecuali Ahli Kitab), maka penulis hanya mencantumkan al-Baqarah dan al-Maidah saja. Bagaimana tafsir Fi Zhilalil Qur'an, Raudhah al-'Irfan fi Ma'rifah al-Qur'an dan al-Mishbah tentang surat Al-Baqarah ayat 221 dan Al-Maidah ayat 5 tentang pernikahan beda agama. Al-Qur'an Irfan fi Ma'rifah, al-Mishbah tentang surat Al-Baqarah ayat 221 dan Al-Maidah ayat 5 tentang pernikahan beda agama.

Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan penafsirannya. Untuk mengetahui tafsir Fi Zhilalil Al-Qur'an, Raudhah al-'Irfan fi Ma'rifah al-Qur'an, al-Mishbah pada surat Al-Baqarah ayat 221 dan Al-Maidah ayat 5 tentang pernikahan Beda Agama. Ahmad Sanusi (Raudhah al-'Irfan fi Ma'rifah al-Qur'an), Sayyid Qutb (Fi Zhilalil Qur'an) dan M. Quraish Shihab (al-Mishbah) tentang pernikahan beda agama dengan satu kitab. Melihat perbedaan dan persamaan mengenai pernikahan beda agama oleh empat orang ahli tafsir sekaligus dengan buku tafsir.

Tinjauan Pustaka

  • Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Metode Analisis Data
  • Validitas Data
  • Sistematika Penulisan

11 menjelaskan dalam penafsirannya bahwa diperbolehkan menikah dengan orang yang merdeka dari kitab, dengan syarat wanita tersebut belum mempunyai suami atau menjaga kehormatan.12 Demikianlah kesimpulan risalah, namun di sini dijelaskan tafsir 'Allamah Thabathaba itafsir al-Mizan, sedangkan penulis akan menjelaskan dan fokus pada tafsir Fi-Zhilalil Al-Qur'an, Raudhah al-'Irfan fi ma'rifah al-Qur'an dan al-Misbah. Meskipun pernikahan itu bebas untuk dilakukan dan tidak bebas untuk dilakukan serta tidak wajib, namun Sang Buddha sangat memuji pernikahan jika membawa seseorang pada jalan kebenaran dan kebahagiaan.” 13 Berikut perbedaannya dengan tema yang ingin penulis buat, yaitu perkawinan beda agama, adapun isi skripsi hanya menjelaskan tentang studi perbandingan antara perkawinan agama islam dan perkawinan agama budha, disana dijelaskan tentang pengertian perkawinan yang akan melahirkan keluarga bahagia, namun jika perkawinan tersebut antara beda agama agama, tidak menutup kemungkinan makna ini akan terwujud.

12 Mariyah Ulfah Baniry, Perkahwinan Antara Agama dari Perspektif Al-Quran, Kajian Tafsir al-Mizan, (Jakarta: Institut Ilmu al-Qur`an, 2015), Tesis Fakulti Ushuluddin, hlm. Pada tahun 2011, sebuah karya bertulis bertajuk “Perkahwinan Berlainan Akidah dalam Al-Quran (Analisis Tafsir al-Maraghi Q.S. al-Baqarah ayat 221 dan Q.S al-Maidah ayat 5) oleh Dedi Irawan dalam bentuk tesis. , Fakulti Ushuluddin Program Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Dalam tesis tersebut, disimpulkan bahawa: “Lelaki Islam tidak boleh mengahwini wanita musyrik, kerana walaupun lelaki itu ketua keluarga, musyrik selalu mengajak mereka jatuh ke dalam. syirik 14 Inilah kesimpulan tesis, tetapi di sini lebih ditekankan kepada tafsiran tafsir al-Maraghi, manakala penulis akan menjelaskan dan memfokuskan kepada tafsiran kitab Fi-Zhilalil Qur`an, Raudhah. al- „Irfan fi ma‟rifah al-Qur'an dan al-Masbah.

Dalam tesis ini, pendapat al-Jashah bahawa boleh berkahwin dengan orang musyrik bukan Arab, dan al-Qurtubha melarang gelaran tersebut, manakala penulis akan menjelaskan dan memfokuskan kepada tafsiran fi-Zhilalil Kura. 'buku tafsir, Raudhah al-"Irfan fi ma ‟rifah al-Qur'an dan al-Misbah. 15. 14 Dedi Irawan, Perkahwinan Berlainan Agama Dalam Al-Quran (Analisis Tafsir al-Maraghi Q.S al- Baqarah ayat 221 dan Q.S al-Maidah ayat 5), (Jakarta: Universitas Islam Negeri, 2011), Tesis di Fakulti Ushuluddin, hlm.78.13 adalah berkahwin dan menekankan pendapat Islam Sunni dan Kristian Protestan, manakala penulis akan menjelaskan perbezaannya. pendapat tiga pengulas di Indonesia .

Yanggo, dkk, Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, Disertasi Institute for Qur'anic Sciences (IIQ) Jakarta, (Jakarta: IIQ Press, 2011), et. Pertama, penulis akan mencari dan mengumpulkan bahan referensi melalui skripsi, disertasi, tesis, buku, artikel, jurnal dan lain sebagainya yang berupa tulisan tentang pernikahan beda agama. Kedua, penulis akan mencari dan menelusuri ayat-ayat Al-Quran yang membahas tentang pernikahan beda agama.

Ketiga, penulis akan mengkaji ayat tersebut dengan cara menafsirkan ayat tersebut melalui para ahli tafsir di Indonesia yaitu Tafsir Fi-Zhilalil Qur'an karya Sayyid Qutb, Tafsir Raudhah al-'Irfan fi ma'rifah al-Qur'an karya KH. Apabila penelitian hanya menemukan persamaan saja, maka penulis akan mencari alasan mengapa para mufasir menyepakati pernikahan beda agama, padahal para mufasir tersebut lahir di tempat yang berbeda, memiliki tahun lahir yang berbeda, mencari ilmu di tempat yang berbeda, tinggal di daerah yang berbeda dan belajar dengan orang yang berbeda. rakyat. Analisis ini tentunya akan membandingkan pemikiran para ahli tafsir terhadap ayat-ayat pernikahan beda agama dan mengetahui persamaan dan perbedaannya.

Merupakan bab pendahuluan yang menyajikan gambaran umum mengenai: latar belakang masalah, identifikasi masalah,

Saran-saran

Tidak ada manusia yang sempurna, dan skripsi ini juga tidak ditulis oleh seseorang yang tidak sempurna. Tentu akan banyak kesalahan dalam penulisan dan isi skripsi yang dibuat oleh penulis, namun penulis berusaha mendekati kata sempurna karena itulah penulis menginginkan saran atau kritik yang bersifat membangun. Baniry, Mariyah Ulfah, Pernikahan Lintas Agama dalam Perspektif Al-Qur'an Kajian Tafsir al-Mizan, Jakarta: Institut Ilmu al-Qur'an, 2015. Daly, Peunoh, Hukum Pernikahan Islam, Malaysia: Pustaka Pemikir, t.tt Pendidikan dan Kebudayaan, Dep, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: BalaiPustaka, 1994 al-Dzahabiy, Muhammad Husain, at-Tafsir wa al-Mufaasirun, Kairo: Dar al-.

Firmansyah, Iman, Pernikahan Dalam Pandangan Islam dan Budha (Studi Banding), Jakarta: Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, 2010. Irawan, Dedi, Pernikahan Beda Agama Dalam Al-Qur'an (Analisis Tafsir Al-Maraghi Q.S al-Baqarah Ayat 221 dan Q.S al-Maidah Ayat 5), Jakarta: Universitas Islam Negeri, 2011. Prestiawan, Budy, Menikahi Perspektif Politheisme Al-Jasha dan Al-Qurthubi, Jakarta: Uin Syarif Hidayullah, 2014 .

Tafsir Fi-Zhilalil Qur'an, jilid 1 Beirut: Darusy-Syuruq, 1992 , Tafsir Fi-Zhilalil Qur'an, jilid 3 Beirut: Darusy-Syuruq, 1992 Ramulyo, Idris, Hukum Nikah Islam, Jakarta: PT Bumi Aktas Rasjid , Sulaiman, Fiqih Islam, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013 Sabiq, Sayyid, Fikh Sunnah, Depok: Fathan Media Farma, t.tt. Sanusi Ahmad, Raudhah al-'Irfan fi Ma'rifat al-Qur'an, Sukabumi, Pondok Pesantren Gunung Puyuh, 1990. Tafsir Rhaudhotul-'Irfan fi Ma'rifah al-Qur'an jilid 1, Sukabumi: Gunung Islam Yayasan Pondok Pesantren Puyuh, 1912.

Sya'diah, Halimatus, Interfaith Huwelik vanuit die perspektief van Sunni Islam en Protestantse Christendom, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2013 Syarifie, L.M., Love and Marriage, Jakarta: Bintang Siswa. Syibromalisi, Faizah Ali, Discussing Classical and Modern Tafsir Books, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Research Institute, 2011.

Referensi

Dokumen terkait

Kaum musyrik merasa heran dengan hal itu, maka Allah menurunkan ayat ini bahwa peperangan di bulan haram adalah tidak boleh, namun Allah ta‟ala menambahkan bahwa

Al-Shinqi>t}i berbeda pendapat dengan imam Ma>lik dalam kitab tafsir Ad}wa>’ al-baya>n lebih dari 120 masalah bahkan dia mengomentari pendapat imam

Adapun pendapat hukum mengajarkan al-Qur’an sebagai mahar dalam pernikahan menurut Imam kamaluddin bin al-Humam al-Hanafi dengan mengutip Imam Abu Hanifah berpendapat

Berdasarkan temuan yang terkait dengan kekhasan bahasa Arab Al-Qur’an di atas, disarankan pada para pengajar ilmu nahwu (sintaksis bahasa Arab) untuk tujuan khusus

dilakukan oleh segenap pengurus dan ustadh di Lembaga Kursus Al- Qur’an Al-Falah, maka pada tahun 1992 – 1996 M, terdapat penambahan.. program baru yakni bahasa Arab dan

Adapun kaitan ayat ini dengan astrologi dan ilmu-ilmu lainnya, hal tersebut dapat diketahui melalui maksud dari ayat tersebut yaitu bahwa Al-Qur`an berfungsi menjelaskan segala sesuatu

Namun para ulama telah berbeda pendapat dalam menjelaskan kata Al-Qur’an dari sisi: derivasi isytiqaq, cara melafalkan apakah memakai hamzah atau tidak, dan apakah ia merupakan kata

Menurut Safi Hasan Abu Talib, sebagaimana dikutip oleh Romli SA, Al-Qur'an adalah wahyu yang diturunkan dalam bahasa Arab dan maknanya dari Allah SWT, melalui wahyu yang disampaikan