PERSEPSI GURU BIDANG STUDI GEOGRAFI TERHADAP PELAKSANAAN KURIKULUM MERDEKA BELAJAR DI
SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) KOTA SUBULUSSALAM
Skripsi
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh
HELMI DELVI YANTI NIM. 191602011
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) AL-WASHLIYAH BANDA ACEH
2023
i
LEMBAR PERSETUJUAN
PEMANFAATAN LINGKUNGAN RUMAH BERBASIS KONSEP ECO GREEN PADA MASYARAKAT DESA WISATA ULEE LHEUE
KECAMATAN MEURAXA KOTA BANDA ACEH
SKRIPSI
Oleh
Disetujui
Pembimbing I
Evi Mauliza, S.Pd., M.Pd
Pembimbing II
Dr. Puspita Annaba Kamil, S.Pd., M.Pd
Diketahui
Ketua STKIP Al Washliyah Banda Aceh
Agustizar, S.Pd., M.Pd
Ketua Program Studi Pendidikan Geografi
Dr. Puspita Annaba Kamil, S.Pd., M.Pd Nama : HELMI DELVI YANTI
NIM : 191602011
Prodi : Pendidikan Geografi
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT Karena limpahan rahmat dan bimbingannya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Persepsi Guru Bidang Studi Geografi Terhadap Pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar Di Sekolah Menengah Atas (SMA) Kota Subulussalam”
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada program Strata-1 jurusan pendidikan geografi di STKIP Al Washliyah Banda Aceh.
Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis menyadari banyak pihak yang membantu dan berkontribusi dalam terselesaikannya skripsi ini. Segala bentuk bantuan, baik berupa dukungan moril dan materil sangat membantu penulis dalam mengumpulkan semangat dan keinginan untuk menyelesaikan studi. Dengan demikian penulis ucapkan terimakasih dengan ketuusan hati kepada pihak-pihak yang telah membantu dan membimbing penulis selama penyusunan skripsi ini, yakni kepada:
1. Bapak Agustizar, S.Pd., M.Pd selaku ketua STKIP Al-Washliyah.
2. Ibu Dr. Puspita Annaba Kamil, S.Pd., M.Pd selaku ketua Program Studi Pendidikan Geografi dan selaku dosen pembimbing II saya yang selalu memberikan bimbingan serta masukan selama proses pengerjaan skripsi.
3. Ibu Evi Mauliza, S.Pd., M.Pd selaku dosen pembimbing I saya yang selalu memberikan bimbingan, motivasi dan ilmu pengetahuan sehingga penulis dapat bersemangat dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Kedua orangtua saya, Ibu saya Siti Hajar dan Ayah saya almarhum Jamaludin Silalahi. Secara khusus ibu saya yang sangat saya bangggakan yang selalu
iii
memberikan dukungan materi, motivasi, semangat, dan doa untuk kelancaran saya untuk menyelesaikan skripsi.
5. Untuk saudara saya Subhan, Nurwati, Desi, Joni, Boy, dan Inesta yang saya kasihi yang selalu memberikan semangat dan motivasi kepada saya sehingga dapat menyelesaikan skripisi ini.
6. Ucapan terimakasih juga saya ucapkan kepada teman-teman saya. Una, Rani, dan Efi yang selalu mewarnai hari-hari sehingga saya semangat dan termotivasi untuk menyelesaikan skripsi.
7. Kepada Liza Ashar Fazri yang selalu menemani, mendukung dan menjadi pendengar keluh kesah saya. Terimakasih telah menjadi partner yang sangat baik untuk saya
Penulis menyadari skripsi ini jauh dari kata sempurna karena memilki banyak kekurangan baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisan. Oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi ini bisa memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca.
Banda Aceh, Agustus 2023
Penulis
iv ABSTRAK
Kata Kunci: Persepsi Guru, Kurikulum Merdeka, Pendidik.
Helmi Delvi Yanti. NIM: 191602011. Kurikulum dalam sistem pendidikan senantiasa mengalami evolusi untuk meningkatkan mutu pendidikan. Kurikulum merdeka adalah metode pembelajaran yang mengacu pada pendekatan bakat dan minat. Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menandai penyempurnaan terbaru dalam sistem pendidikan Indonesia.
Program ini menghadirkan pendekatan pembelajaran yang memberikan kebebasan kepada siswa dalam mengeksplorasi bakat alami mereka. Dalam konteks Sekolah Menengah Atas di Kota Subulussalam, implementasi kurikulum ini memiliki dampak pada persepsi Guru Geografi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi Guru bidang studi Geografi dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) Kota Subulussalam. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah seorang Guru dari SMAN 1 Rundeng dan seorang Guru dari SMAN 2 Simpang Kiri. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan deskriptif kualitatif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, pengumpulan dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi guru bidang studi Geografi terhadap pelaksanaan Kurikulum Merdeka belajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) Kota Subulussalam secara keseluruhan memiliki persepsi yang baik. Hal tersebut dibuktikan dari hasil wawancara dengan banyaknya ungkapan yang mendukung terhadap penerapan Kurikulum Merdeka. Pandangan positif ini tercermin dari antusiasme pendidik dan peserta didik dalam mengikuti Kurikulum Merdeka, menunjukkan kesesuaian dengan nilai-nilai Pendidikan Geografi di Kota Subulussalam. Saran yang dapat diberikan oleh penulis bagi SMAN 1 Rundeng dan SMAN 2 Simpang Kiri adalah untuk kesuksesan Kurikulum Merdeka, sekolah perlu menjaga dukungan, pelatihan, sumber daya, dan kepemimpinan yang memadai bagi Guru. Bagi pendidik, pendidik dapat menciptakan materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa berkat Kurikulum Merdeka, dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang memengaruhi implementasi pada mata pelajaran Geografi. Bagi peserta didik, dapat memilih Kurikulum Merdeka untuk mata pelajaran Geografi, memantau penggunaannya oleh guru, dan memberikan masukan. Bagi penelitian selanjutnya harus eksplorasi faktor-faktor implementasi Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran Geografi dan perbandingan persepsi guru terhadap berbagai kurikulum sekolah.
v DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PERSETUJUAN ... i
KATA PENGANTAR ... ii
ABSTRAK ...iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ...vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
BAB I: PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.4 Manfaat Penelitian ... 7
1.5 Defenisi Operasional ... 9
BAB II: KAJIAN PUSTAKA ... 10
2.1 Pengertian Persepsi ... 10
2.2 Pengertian Kurikulum ... 14
2.3 Penelitian Terdahuu ... 29
2.4 Kerangka Berpikir ... 31
BAB III: METODELOGI PENELITIAN ... 32
3.1 Pendekatan Penelitian ... 32
3.2 Jenis Penelitian ... 33
3.3 Waktu dan Tempat Penelitian ... 33
3.4 Subjek Penelitian ... 35
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 36
3.6 Teknik Analisis Data ... 37
BAB IV: DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN ... 40
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 40
4.1.1 Deskripsi Umum SMAN 2 Simpang Kiri Kota Subulussalam .... 40
4.1.2 Deskripsi Umum SMAN 1 Rundeng Kota Subulussalam ... 45
BAB V: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 49
5.1 Hasil Penelitian ... 49
5.2 Pembahasan ... 69
BAB VI: PENUTUP ... 79
6.1 Kesimpulan ... 79
6.2 Saran ... 80
DAFTAR PUSTAKA ... 82 LAMPIRAN
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Data SMA di Kota Subulussalam ... 5
Tabel 2.1 Daftar Penelitian Terdahulu ... 31
Tabel 3.1 Rincian Waktu Pelaksanaan ... 34
Tabel 3.2 Tempat Penelitian ... 35
Tabel 3.3 Subjek Penelitian ... 36
Tabel 4.4 keadaaan saran dan prasarana ... 44
Tabel 4.5 Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan ... 44
Tabel 4.6 Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan ... 47
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Teknik Analisis Data Miles dan Huberman ... 38 Gambar 4.1 Peta Sekolah SMA Negeri 2 Simpang Kiri ... 42 Gambar 4.2 Peta SMA Negeri 1 Rundeng ... 47
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Surat Keputusan Penetapan Pembimbing Skripsi ... 87
Lampiran 2. Surat Izin Penelitian: SMAN 1 Rundeng Kota Subulussalam ... 88
Lampiran 3. Surat Izin Penelitian: SMAN 2 Simpang Kiri Kota Subulussalam ... 89
Lampiran 4. Surat Selesai Penelitian: SMAN 1 Rundeng Kota Subulussalam ... 90
Lampiran 5. Surat Selesai Penelitian: SMAN 2 Simpang Kiri Kota Subulussalam ... 91
Lampiran 6. Daftar Responden Wawancara ... 92
Lampiran 7. Daftar Pertanyaan Wawancara... 93
Lampiran 8. Hasil Wawancara ... 97
Lampiran 9. Dokumentasi Wawancara ... 106
Lampiran 10. Dokumentasi Lokasi Penelitian ... 107
Lampiran 11. Peta Lokasi Penelitian ... 109
Lampiran 12. Daftar Riwayat Hidup ... 111
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kurikulum senantiasa mengalami perubahan dan penyempurnaan dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan yang ada disuatu negara. Salah satu bentuk penyempurnaan kurikulum terbaru dari kementerian pendidikan dan kebudayaan riset dan teknologi adalah kurikulum merdeka bagi satuan pendidikan untuk tingkat dasar dan menengah mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas atau SMK. Sementara pada perguruan tinggi, penyempurnaan yang dilakukan dengan mengembangkan kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sebagai salah satu bentuk keseriusan kementerian pendidikan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia (Dendi Wijaya Saputra, dkk, 2022).
Perubahan dan perkembangan yang terjadi begitu cepat saat ini, menuntut kita untuk selalu siap beradaptasi dengan perubahan tersebut dengan meningkatkan beberapa kompetensi tertentu (Rosyida Nurul Anwar, 2021). Pada bulan Desember tahun 2019 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) mengemukakan kebijakan baru dan program unggulan di dunia pendidikan. Salah satu diantaranya adalah sekolah penggerak. Program sekolah penggerak di luncurkan permendikbud pada tanggal 1 Februari 2021. Program ini di mulai pada tahun 2021/2022 di 2.500 sekolah yang tersebar di 34 provinsi dan 111 kabupaten/kota. Dimana kurikulum merdeka dimaknai sebagai desain pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan tenang, santai, menyenangkan, bebas stres dan bebas tekanan, untuk menunjukkan bakat alaminya (Alaika M dkk, 2020).
Kurikulum Merdeka Belajar berfokus pada kebebasan dan pemikiran kreatif. Salah satu program yang dipaparkan oleh Kemendikbud dalam peluncuran merdeka belajar ialah dimulainya program sekolah penggerak. Esensi utama kemerdekaan berpikir, yaitu berada pada pendidik. Selama ini, murid belajar didalam kelas, ditahun-tahun mendatang murid dapat belajar diluar kelas atau outing classes hingga murid dapat berdikusi dengan guru tidak hanya mendengarkan ceramah dari guru, namun mendorong siswa menjadi lebih berani tampil didepan umum, cerdik dalam bergaul, kreatif, dan inovatif (Ainia D.K, 2020). Kurikulum merdeka merupakan kurikulum pilihan (opsi) yang dapat diterapkan satuan pendidikan mulai tahun ajaran 2022/2023. Kurikulum merdeka melanjutkan kurikulum sebelumnya (Sunarni, dkk, 2023).
Naufal yang dikutip oleh Nina Fatmiyati, (2022) konsep program merdeka belajar terutama terkait dengan pembelajaran konstruktivisme. Berdasarkan perspektif ini, siswa memperoleh pengetahuan sebagai hasil dari interaksi pengalaman dan objek yang mereka temui selama belajar. Siswa harus selalu aktif dan mampu menciptakan metode pembelajaran yang tepat. Guru, di sisi lain adalah mediator, pemandu dan mitra yang membantu menciptakan lingkungan belajar yang mendorong perkembangan siswa. Ciri-ciri kemandirian belajar dapat dilihat pada pembelajaran yang kritis, berkualitas, cepat, transformatif, efektif, serba guna, progresif, berkelanjutan dan otentik.
Tujuan dari kurukulum merdeka belajar agar para guru, peserta didik, serta orang tua bisa mendapat suasana yang bahagia. Merdeka belajar itu bahwa proses pendidikan harus menciptakan suasana-suasana yang membahagiakan (Kemendikbud, 2019). Dalam hal ini yang perlu dikembangkan adalah guru
sebagai kunci utama keberhasilan merdeka belajar baik bagi siswa maupun gurunya sendiri. Merdeka belajar adalah proses dimana seorang guru mampu memerdekakan dirinya terlebih dahulu dalam proses belajar mengajar dan mampu memberikan rasa nyaman serta rasa merdeka belajar bagi siswa-siswa nya.
Kurikulum merdeka belajar memiliki tiga karakteristik yang terdiri atas tiga aspek yaitu, pengembangan Soft Skill dan karakter melalui projek penguatan profil pelajar pancasila, fokus pada materi esensial, relevan, dan mendalam sehingga ada waktu cukup untuk membangun kreativitas dan inovasi peserta didik dalam mencapai kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi, serta pembelajaran yang fleksibel artinya keleluasan bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan tahap capaian dan perkembangan masing-masing peserta didik dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal (Komang &
Tristaningrat, 2022)
Dengan adanya kurikulum merdeka belajar dapat merevitalisasi sistem pendidikan untuk membangun kompetensi utama agar kegiatan belajar menjadi menyenangkan. Pada kategori kurikulum, merdeka belajar membentuk kurikulum berdasarkan kompetensi, fokus kepada soft skill dan pengembangan karakter.
Selain itu dalam kurikulum merdeka belajar guru dan siswa di berikan kepercayaan secara penuh dalam proses pembelajaran. (Ramayulis, 2013) menjelaskan
“kurikulum merdeka belajar dapat dijadikan momentum bagi guru dan siswa agar dapat melakukan inovasi serta mandiri dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.”
Menurut Oemar Hamalik (2008), jika guru diberikan kebebasan dalam memilih cara belajar yang dipandang paling sesuai, maka guru dapat mewujudkan
inovasi-inovasi yang khas serta spesifik. Akan tetapi dalam membuat keputusan terhadap kurikulum bukan saja menjadi tanggung jawab para perencana kurikulum, tetapi juga menjadi tanggung jawab para guru di sekolah. Karena guru adalah pengembang kurikulum yang dipergunakan sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran. Oleh sebab itu, persepsi guru besar pengaruhnya dalam keberhasilan pelaksanaan kurikulum merdeka belajar. Pada hakikatnya kurikulum itu ada pada guru, dalam pembelajaran guru harus menyesuaikan dengan kurikulum yang berlaku. Jika guru tidak bisa mendalami kurikulum yang berlaku, maka tujuan pendidikan yang diinginkan sulit tercapai sehingga kemampuan guru dalam beradaptasi menjadi suatu hal yang penting meskipun memerlukan waktu (Yanti dkk, 2021).
Tentu banyak tanggapan (persepsi) guru terhadap pelaksanaan kurikulum merdeka belajar, mengingat ada hal yang berbeda ketimbang kurikulum sebelumya. Menurut teori Leavit dikutip oleh (Muhammad Nurdin, 2016) menyatakan bahwa: “persepsi guru menjadi dua pandangan, yaitu pandangan secara sempit dan luas. Pandangan yang sempit mengartikan persepsi sebagai penglihatan, bagaimana seseorang melihat sesuatu. Sedangkan pandangan yang luas mengartikannya sebagai bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Sebagian besar dari individu menyadari bahwa dunia yang sebagaimana dilihat tidak selalu sama dengan kenyataan, jadi berbeda dengan pendekatan sempit, tidak hanya sekedar melihat sesuatu tapi lebih pada pengertiannya terhadap sesuatu tersebut.”
Persepsi seseorang tentang sesuatu akan mempengaruhi perilakunya terhadap objek atau peristiwa yang dialaminya. Oleh Karena itu, persepsi guru yang
baik tentu akan berpengaruh positif terhadap motivasi mengajarnya. Kebanyakan guru mau bekerja lebih keras jika tidak menemui hambatan dalam merealisasikan apa yang diharapkan. Kurikulum merdeka sebagai bentuk penyempurnaan kurikulum 2013 tentunya mendapat ragam tanggapan dari para guru, siswa dan orang tua siswa. Masing-masing ada yang mendukung dan tidak sedikit yang mengeluhkan perubahan kurikulum yang dirasa terlalu cepat menggantikan kurikulum 2013.
Berikut adalah data sekolah menengah atas (SMA) yang ada dikota Subulussalam.
Tabel 1.1. Data SMA di Kota Subulussalam No Identitas Sekolah Kurikulum
Yang Digunakan
Jumlah Guru Geografi
Keterangan
1. SMAN Unggul Subulussalam
Kurikulum Merdeka
0 SMAN Unggul Subulussalam tidak mempelajari mata pelajaran Geografi 2. SMAN 1 Simpang
Kiri
Kurikulum 13
1 -
3. SMAN 2 Simpang Kiri
Kurikulum Merdeka
1 -
4. SMAN 1 Rundeng Kurikulum Merdeka
1 -
5. SMAN 1 Longkib Kurikulum 13
1 -
6. SMAN 1 Sultan Daulat
Kurikulum 13
1 -
7. SMAN 8 Subulussalam
Kurikulum 13
1 -
8. SMAN 1 Penanggalan
Kurikulum 13
1 -
Sumber : Data hasil observasi dan DAPODIK, 2023
Dari data diatas, berdasarkan (keputusan kepala badan standar, kurikulum, dan asesmen pendidikan kementrian pendidikan, kebudayaan, riset, dan teknologi nomor 022/H/KR/2023, menyatakan bahwa Sekolah Menengah Atas (SMA) dikota
Subulussalam berjumlah 8 sekolah, dengan yang sudah menerapkan kurikulum merdeka ada 3 sekolah tetapi yang memiliki mata pelajaran geografi yang diajarkan oleh guru geografi hanya 2 sekolah. Untuk itu fokus penelitian ini pada 2 sekolah yang memiliki guru geografi dan sudah menerapkan kurikulum merdeka.
Salah satu yang mejadi fokus penelitian adalah persepsi guru tentang penerapan kurikulum merdeka yang telah di sosialisasikan kurang lebih dua tahun oleh Kementerian Pendidikan. Persepsi guru memegang peranan penting dalam mendukung terselenggaranya kurikulum baru yang siap untuk diimplementasikan bagi siswa disemua tingkat pendidikan. Guru Sekolah Menengah Atas yang ada di kota Subulussalam khususnya. Dengan harapan, guru-guru Sekolah Menengah Atas dapat menggambarkan persepsi mereka tentang implementasi kurikulum merdeka.
Sampai saat ini, konsep kurikulum merdeka telah banyak mendapat respon yang beragam dari berbagai lembaga pendidikan yang memfasilitasi pembelajaran para peserta didik, baik pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan tinggi (Abidah, dkk, 2020). Sebenarnya, evaluasi implementasi dipaparkan dalam Buku Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Dijelaskan dalam bagian ini bahwa evaluasi implementasi kurikulum merdeka, khususnya penguatan profil pelajar Pancasila, pada hakikatnya harus melibatkan peserta didik (kemendikbudristek, 2022). Masing-masing individu mempunyai persepsi sesuai dengan background yang mereka miliki. Begitu juga dengan karakteristik partisipan yang mengikuti penelitian ini terbagi menjadi dua karakteristik dengan persepektif berbeda. Harapannya, dengan perbedaan karakteristik tersebut akan
memberikan gambaran secara komprehensif tentang persepsi guru bidang studi geografi di kota subulussalam.
Berdasarkan latar belakang diatas, menjadi dasar pemikiran peneliti untuk meneliti “Persepsi Guru Bidang Studi Geografi Terhadap Pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) Kota Subulussalam”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana persepsi guru bidang studi geografi dalam pelaksanaan kurikulum merdeka belajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) Kota Subulussalam?”
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi guru bidang studi geografi dalam pelaksanaan kurikulum merdeka belajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) Kota Subulussalam.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1.4.1 Manfaat Teoris
a. Memperluas pengetahuan dan wawasan tentang kurikulum merdeka belajar, baik yang berkaitan dengan aspek kesiapan manajemen, pelaksanaan, keunggulan dan kekurangannya.
a. Memberikan informasi berkaitan dengan adanya hambatan atau faktor penghambat dalam implementasi kurikulum merdeka belajar khususnya bagi guru geografi.
1.4.2 Manfaat Praktis a. Bagi Guru
Peneliti ini dapat memotivasi guru untuk terus mengembangkan pelaksanaan kurikulum dalam mengajar Geografi sesuai perkembangan zaman.
b. Bagi siswa
Siswa akan terlatih kesiapannya dalam proses belajar mandiri, siswa akan terlatih menggunakan daya serap pemahaman penjelasan dari temannya, siswa akan serius dalam proses pembelajaran yang di lakukan dimana dan kapan saja.
c. Bagi Sekolah
Secara praktis manffat yang diperoleh sekolah dapat mensosialisasikan merdeka belajar, menjadikan referensi dan informasi serta masukan kepada pihak-pihak yang terkait untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, terutama bagi Sekolah Menengah Atas (SMA) Kota Subulussalam dalam upaya kesiapan konsep merdeka belajar.
d. Bagi Peneliti
Dapat mengetahui perbedaan dari setiap responden mengenai persepsi guru bidang studi geografi dalam pelaksanaan kurikulum merdeka belajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) kota subulussalam dan mampu memetik hal positif dari penelitian ini.
e. Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan referensi terhadap penelitian yang relevan.
1.5 Definisi Operasional
Adapun istilah-istilah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.5.1 Persepsi
Persepsi merupakan proses kognitif kompleks yang menghasilkan gambaran yang memungkinkan berbeda dari realita. Persepsi juga disebut perlakuan untuk menata informasi dari organ-organ sensorik menjadi suatu keseluruhan yang bisa dipahami (Ni Putu Mega Lusiana, 2019). Persepsi guru sebagai pengalaman guru akan sebuah pengalaman yang diperoleh yang kemudian disimpulkan dan di tafsirkan dalam pesan (Noni Rozaini, 2016). Persepsi guru yang dimaksud didalam penelitian ini adalah persepsi guru mata pelajaran geografi di Sekolah Menengah Atas (SMA) kota subulussalam.
1.5.2 Kurikulum Merdeka Belajar
Kurikulum merdeka merupakan kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam dimana konten akan lebih optimal agar siswa memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi.
Kurikulum merdeka adalah opsi atau pilihan bagi sekolah sesuai dengan kesiapan sekolah masing-masing dalam pengimplementasiaannya (Rosida Nurul Anwar, 2022). Sekolah Menengah Atas yang mengimplementasikan kurikulum merdeka disebut sebagai sekolah penggerak.
1.5.3 Guru Geografi
Guru geografi adalah tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan pada mata pelajaran geografi dan berlatar belakang kompetensi geografi. Guru geografi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah guru geografi yang berada dikota subulussalam yang mengajar mata pelajaran geografi di Sekolah Menengah Atas (SMA) kota subulussalam.
10 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Persepsi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2016) menyatakan bahwa, persepsi diartikan sebagai suatu tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu. Istilah persepsi biasanya digunakan untuk mengungkapkan tentang pengalaman terhadap suatu benda ataupun sesuatu kejadian yang dialami. Persepsi dalam arti umum adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang akan membuat respon bagaimana dan dengan apa seseorang akan bertindak.
(Kreitner dan Kinichi, 2017) mengatakan bahwa perception is a cognitive process that enables us to interprent and understand our surroundings, recognition of object in one of this process ajor function. Persepsi merupakan sebuah proses kognitif yang memungkinkan kita menginterpretasikan dan memahami sekitar kita.
Dikatakan pula sebagai proses menginterpretasikan suatu lingkungan. Orang harus mengenal objek untuk benteraksi sepenuhnya dengan lingkungan mereka.
Sementara itu persepsi (perception) menurut Robbins & Judge dalam (Candra, 2017) adalah “proses dimana individu mengatur dan menginterpretasikan kesankesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka.”
Namun apa yang diterima seseorang pada dasarnya bisa berbeda dari realistis objektif. Sedangkan menurut penulis bahwa persepsi adalah suatu proses kognitif yang kompleks dan menghasilkan suatu gambaran unik mengenai kenyataan yang kemungkinan sangat berbeda dari kenyataannya.
Menurut teori Leavit dikutip oleh (Muhammad Nurdin, 2016) menyatakan bahwa: Persepsi guru menjadi dua pandangan, yaitu pandangan secara sempit dan luas. Pandangan yang sempit mengartikan persepsi sebagai penglihatan, bagaimana seseorang melihat sesuatu, sedangkan pandangan yang luas mengartikannya sebagai bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Sebagian besar dari individu menyadari bahwa dunia yang sebagaimana dilihat tidak selalu sama dengan kenyataan, jadi berbeda dengan pendekatan sempit, tidak hanya sekedar melihat sesuatu tetapi lebih pada pengertiannya terhadap sesuatu tersebutAdanya pelaksanaan, baik organisasi atau perorangan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan, pelaksaan maupun pengawasan dari proses penerapan tersebut.
Perubahan kurikulum merupakan tahapan yang tentunya tidak mudah dan memerlukan kesiapan dan serta sosialisasi secara menyeluruh dari semua pihak, demi terlaksananya proses pendidikan yang lebih baik di masa depan.
2.1.1 Indikator Persepsi
Proses persepsi guru merupakan suatu proses kognitif yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, dan pengetahuan individu. Pengalaman dan proses belajar akan memberikan bentuk dan struktur bagi objek yang ditangkap panca indera. Pengetahuan dan cakrawala akan memberikan arti terhadap objek yang ditangkap individu, dan akhirnya komponen individu akan berperan dalam menentukan tersedianya jawaban yang berupa sikap dan tingkah laku individu terhadap objek yang ada. Menurut (Bimo Walgito, 2017) indikator yang mempengaruhi adanya persepsi adalah sebagai berikut :
1) Tingkat pemahaman terhadap objek yang menentukan persepsi dalam otak.
Gambaran tersebut akan diiterpretasikan dalam wujud pemahaman dan pola pikir sehingga membentuk persepsi terhadap kejadian yang terjadi.
2) Evaluasi dari individu terhadap suatu objek terkait dengan pemahaman yang dibangun dari pengamatan. Pemahaman terebut dibandingkan menjadi kenyataan yang terjadi di lapangan sehingga membentuk penilaian yang dibentuk secara subjektif, dengan kata lain persepsi bersifat individualistis dikarenakan penilaian yang bersifat individu dan memiliki perbedaan satu sama lain.
3) Rangsangan dari luar yang diterima individu dari luar sehingga membentuk penerimaan yang menentukan persepsi. Rangsangan tersebut diterima oleh panca indera dan memberikan gambaran atau kesan dalam otak.
Berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa indikator dari persepsi terdiri dari tiga hal, yakni rangsangan yang diserap individu dari luar dirinya, pemahaman individu terhadap obek atau fenomena, dan evaluasi yang dilakukan individu terhadap objek tersebut.
(Nana Syaodih Sukmadinata), ada beberapa indikator para guru mengenai persepsi tentang kurikulum antara lain :
1) Pemahaman Guru. Kurikulum merdeka belajar adalah kebijakan pengembangan yang dikeluarkan Kemdikbudristekdikti untuk pembelajaran siswa disekolah.
2) Pengurangan Konten Kurikulum. Perubahan kurikulum merupakan salah satu perubahan sistemik yang dapat memperbaiki dan memulihkan pembelajaran. Kurikulum menentukan materi yang diajarkan dikelas. Selain
itu, kurikulum juga mempengaruhi kecepatan dan metode mengajar yang digunakan guru untuk memenuhi kebutuhan peserta didik.
3) Pembelajaran Kontruktivisme. Dalam hal ini peserta didik akan dapat menginterpretasi-kan informasi kedalam pikirannya, hanya pada konteks pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri, pada kebutuhan, latar belakang dan minatnya.
4) Pengalaman Pribadi Guru. Pada kurikulum merdeka, guru dapat mengenali potensi murid lebih dalam guna menciptakan pembelajaran yang relevan.
Kurikulum Merdeka juga memungkinkan guru untuk menerapkan pembelajaran yang menyenangkan karena bisa dilakukan melalui pembelajaran berbasis projek.
5) Gelar Pendidikan Guru. Gelar pendidikan yang dimiliki oleh guru tentunya berdampak pada kemampuyan berpikir dan menyikapi sesuatu, sama halnya ketika mereka dihadapkan pada kurikulum merdeka sebagai salah satu bentuk peningkatan kualitas pembelajaran yang tentunya akan dengan positif mendukung perubahan maupun revitalisasi kurikulum tersebut.
2.1.2 Jenis-Jenis Persepsi
(Anggianita, S dkk, 2020), menyatakan ada beberapa jenis-jenis persepsi guru yaitu :
1) Persepsi visual didapatkan dari indera penglihatan merupakan topik utama dari bahasan persepsi secara umum.
2) Persepsi auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu telinga.
3) Persepsi perabaan didapatkan dari indera kulit.
4) Persepsi penciuman atau olfaktori.
5) Persepsi pengecapan atau rasa didapatkan dari indera pengecapan yaitu lidah.
2.1.3 Faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Didalam pembelajaran persepsi kita perlu juga mengenal tentang kekonstanan persepsi (konsistensi), dimana persepsi bersifat tetap yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Menurut Miftah Toha (2014) faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang adalah sebagai berikut :
1) Faktor internal: perasaan, sikap dan kepribadian individu, prasangka, keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar, keadaan fisik, gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat, dan motivasi.
2) Faktor eksternal: latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh, pengetahuan dan kebutuhan sekitar, intensitas, ukuran, keberlawanan, pengulangan gerak, hal-hal baru dan familiar atau ketidak asingan suatu objek.
2.2 Pengertian Kurikulum
Kurikulum merupakan instrument untuk meningkatkan kualitas pendidikan, atau gagasan yang dijadikan sebagai pedoman dalam memajukan pendidikan. Kebijakan pendidikan yang benar akan tampak melalui pelaksanaan kurikulum yang diterapkan karena “kurikulum merupakan jenjang pendidikan”
yang menentukan dan pedoman berlangsungnya pendidikan (Munandar, 2017).
Kurikulum senantiasa mengalami perubahan dan penyempurnaan dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan yang ada disuatu negara. Salah satu bentuk penyempurnaan kurikulum terbaru dari kementerian pendidikan dan kebudayaan riset dan teknologi adalah kurikulum merdeka bagi satuan pendidikan untuk tingkat dasar dan menengah mulai dari sekolah dasar sampai sekolah
menengah atas atau SMK. Sementara pada perguruan tinggi, penyempurnaan yang dilakukan dengan mengembangkan kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sebagai salah satu bentuk keseriusan kementerian pendidikan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Setiap terjadi perubahan guru merupakan salah satu pihak yang harus mampu beradaptasi, mulai dari bagaimana perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, sampai pada proses asesmen dan tindak lanjut, serta kerjasama yang baik antara siswa, guru dan juga orang tua agar implementasi kurikulum merdeka belajar era digital dapat berjalan secara optimal (Megandarisasi, 2021).
2.2.1 Pengertian Merdeka Belajar
(Rahayu, dkk, 2022) menyatakan bahwa Pada saat ini hadirlah sebuah kurikulum baru yaitu kurikulum merdeka yang merupakan penyempurnaan kurikulum 2013. Kurikulum merdeka dimaknai sebagai desan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan tenang, santai, menyenangkan, tidak stres dan tidak tertekan, untuk menunjukkan bakat alami yang dimiliki. Merdeka belajar berfokus pada kebebasan dan pemikiran kreatif.
Program kurikulum merdeka tersebut tentulah sangat menunjang kemajuan pendidikan jika dapat dijalankan dengan baik. Dengan kata lain, program ini dapat menjadi salah satu jalan dalam meningkatkan mutu pendidikan Indonesia disatu sisi dan mutu manusia Indonesia secara luas disisi yang lain. Kurikulum merdeka belajar merupakan suatu kebebasan yang diberikan kepada guru dan siswa dalam berinovasi dan berkreasi dalam proses pembelajaran, konsep ini merupakan respons terhadap kebutuhan sistem pendidikan pada era digital (Nurliani, 2023).
Merdeka belajar menjadi salah satu program inisiatif Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bapak Nadiem Makarim yang ingin menciptakan suasana belajar yang bahagia dan menyenangkan. Tujuan merdeka belajar yaitu agar para guru, peserta didik, serta orang tua bisa merasakana suasana yang bahagia (Syukri Bayumie, 2022). Merdeka belajar menurut Mendikbud didasari dari keinginan agar output dari pendidikan menghasilkan kualitas yang lebih baik dan tidak lagi hanya menghasilkan peserta didik yang mahir dalam menghafal saja, namun juga memiliki kemampuan analisis yang tajam, penalaran serta pemahaman yang komperhensif dalam pembelajaran untuk mengembangkan diri dan kemampuannya (M.Badrus, 2022).
Nadiem Makarim mengatakan bahwa, Guru tugasnya mulia dan dan sulit.
Dalam sistem pendidikan nasional guru ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa namun terlalu diberikan aturan dibandingkan pertolongan. Guru ingin membantu murid untuk mengerjakan ketertinggalan dikelas, tetapi waktu habis untuk mengerjakan administrasi tanpa manfaat yang jelas. Guru mengetahui potensi siswa tidak dapat diukur dari hasil ujian, namun guru dikejar oleh angka yang didesak oleh berbagai pemangku kepentingan. Guru ingin mengajak murid ke luar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu pada menutup petualangan. Guru sangat frustasi bahwa didunia nyata bahwa kemampuan berkarya dan berkolaborasi menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal. Guru mengetahui bahwa setiap murid memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi. Guru ingin setiap murid terinspirasi, tetapi guru tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi.
Berdasarkan pernyataan tersebut bahwa merdeka belajar merupakan proses pembelajaran secara alami untuk mencapai kemerdekaan. Diperlukan belajar mengenai merdeka terlebih dahulu Karena masih ada hal-hal yang membelenggu rasa kemerdekaan. Hal ini diungkapakan oleh Prayogo bahwa esensi dalam merdeka belajar adalah menggali potensi terbesar para guru dan peserta didik untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri. Mandiri yang dimaksud bukan hanya mengikuti proses birokrasi pendidikan, tetapi benar-benar inovasi pendidikan (Prayogo, 2022).
Pendidikan juga bertanggung jawab membina peserta didik agar dewasa, berani, mandiri, dan berusaha sendiri. Dalam konteks ini, yang terpenting bukanah memberikan pengetahuan positif yang bersifat taken for granted kepada peserta didik, melainkan bagaimana mengajarkan kepada peserta didik agar memilki kekuatan bernalar. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan kemerdekaan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan transfer keilmuan, dalam hal ini peserta didik dianggap sebagai subjek utama bukan hanya sekedar objek dari sebuah proses pendidikan (Siti Mustaghfiroh, 2020).
Dalam konsep merdeka belajar, antara guru dan murid merupakan subjek dalam sistem pembelajaran. Artinya guru bukan dijadikan sumber kebenaran oleh siswa, namun guru dan siswa berkolaborasi penggerak dan mencari kebenaran.
Artinya potensi guru diruang kelas bukan untuk menanam atau menyeragamkan kebenaran menurut guru, namun menggali kebenaran daya nalar dan kritisnya murid melihat dunia dan fenomena. Peluang berkembangnya internet dan teknologi menjadi momentum kemerdekaan belajar. Karena dapat meretas sistem
pendidikan yang kaku atau tidak membebaskan. Termasuk mereformasi beban kerja guru dan sekolah yang terlalu dicurahkan padahal yang administratif. Oleh sebabnya kebebasan untuk berinovasi, belajar dengan mandiri, dan kreatif dapat dilakukan oleh unit pendidikan, guru dan siswa.
2.2.2 Kebijakan Merdeka Belajar
Menurut Kemendikbud (2019) ada empat pokok kebijakan baru di Indonesia khususnya bidang pendidikan, yaitu :
1) Ujian Nasional (UN) akan digantikan oleh asesmen ini menekankan kemampuan penalaran literasi dan numerik yang didasarkan pada praktik terbaik tes PISA. Berbeda dengan UN yang dilaksanakan diakhir jenjang pendidikan asesmen ini akan dilaksanakan dikelas 4, 8, dan 11.
2) Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) akan diserahkan kesekolah.
Menurut Kemendikbud, sekolah diberikan kemerdekaan dalam menentukan bentuk penilaian. Sepeti fortofolio, karya tulis atau bentuk penguasaan lain.
3) Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Menurut Nadiem Makarim, RPP cukup dibuat serta halaman saja. Melalui penyederhanaan administrasi, diharapkan waktu guru yang tersisa untuk proses pembuatan administrasi dapat dialihkan untuk kegiatan belajar dan peningkatan kompetensi.
4) Dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), sistem zonasi diperluas (tidak termasuk daerah 3T). bagi peserta didik yang melalui jalur afirmasi dan prestasi, diberikan kesempatan yang lebih banyak dari sistem PPBD.
Pemerintah daerah diberikan kewenangan secara teknis untuk menentukan daerah zonasi ini.
Berdasarkan penjelasan diatas maka dapatlah dipahami bahwa kebijakan merdeka belajar ada empat kebijakan dalam kurikulum merdeka belajar yang disampaikan oleh Nadiem Makarim. Menurut Kemendikbud merdeka belajar diperlukan untuk mengubah mindset anak mengenai pelajaran. Perbedaan itu dapat dilihat seperti bagian di bawah ini:
1) Fixed Minsed
Kemampuan yang dimilki anak adalah mutlak dan tidak dapat dirubah.
Ada pintar ada bodoh yang diukur hanya kemampuan akademik, kecerdasan diturunkan secara genetik, prestasi disimbolkan dengan angka (grade).
2) Growth Mindset
Setiap orang mempunyai kapasitas potensial. Potensi itu selalu bisa dikembangkan melalui kemampuan berfikir kritis dan kreatif terhadap permasalahan yang nyata didukung “lifelong learning capacity”. Bentuk kekeliruan fixed Mindset yang terjadi diantaranya:
a. Menghafal teori atau konsep
b. Belajar terlalu deduktif (hanya menyampaikan teori dan konsep) c. Penilaian yang terlalu vertikal (minus horizontal)
d. Teacher Centered Learning kurang mampu membangkitkan motivasi belajar anak.
e. Image yang keliru : Matematika/IPA itu sulit, Ilmu Sosial itu hafalan.
f. Kemampuan literasi tidak dilatih sejak kecil secara optimal.
2.2.3 Konsep Merdeka Belajar
Konsep kurikulum merdeka yang ditetapkan pada saat ini adalah pembelajaran berbasis proyek yang bertujuan mengembangkan soft skill serta
karakter sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila, fokus pada materi esensial, sehingga waktu untuk pembelajaran mendalam untuk kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi, serta fleksibelitas guru untuk melakukan pembelajaran berdasarkan kemampuan para peserta didik.
Membahas mengenai kurikulum merdeka yang salah satu konsepnya bertujuan mengembangkan skill dan karakter sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Kemendikbud berkomitmen untuk menciptakan Pelajar Pancasila.
Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila, dengan 6 ciri utama yaitu: beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Karakteristik terwujud melalui penumbuhkembangan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila, yang merupakan fondasi bagi segala arahan pembangunan nasional (Yuni Sugita Putri dkk, 2022).
2.2.4 Tujuan Kurikulum Merdeka Belajar
Sifat-sifat pendidikan yang merdeka menurut Muhammad Azzat Ahrus mempunyai karakter yang membebaskan terhadap peserta didik dalam proses pendidikan. Sehingga mereka dapat menjadi individu-individu yang mencerahkan.
Beliau memiliki pandangan bahwasanya pendidikan yang bersifat membangun kesadaran akan lebih urgen jika dibandingkan dengan sistem belajar yang menggunakan teori hafalan (Merdeka Belajar, 2022).
Kurikulum merdeka belajar yang diterapkan oleh Kemendikbud sebagian guru sudah merespon dengan baik. Karena ada beberapa tujuan yang perlu diperhatikan oleh guru, hal ini diungkapkan oleh (Prayogo, 2020), yaitu:
1) Menunjukkan kebiasaan refleksi untuk pengembangan diri secara mandiri.
2) Melakukan refleksi terhadap praktik pembelajaran dan pendidikan.
3) Menemukan aspek kekuatan dan kelemahan sebagai guru.
4) Menetapkan tujuan dan rencana pengembangan diri.
5) Menentukan cara dan beradaptasi dalam melakukan pengembangan diri.
Selain itu juga dalam (kemendikbud, 2019) kurikulum merdeka belajar seorang guru harus berpartisipasi aktif dalam jejaring dan organisasi profesi untuk mengembangkan karier.
1) Mengikuti secara aktif berbagai kegiatan jejaring dan organisasi profesi.
2) Melakukan eksplorasi berbagai pengalaman belajar dari kegiatan.
3) Jejaring dan organisasi profesi untuk mengembangkan karier.
4) Menghasilkan karya dana tau memberikan layanan yang bermakna dari kegiatan jejaring dan organisasi profesi untuk mengembangkan karier.
2.2.5 Karakteristik Kurikulum Merdeka Belajar
Merdeka belajar dikembangkan lebih bervariabel dan betitik pada pusat pada isi materi essensial dan mengembangkan kepribadian dan potensi siswa.
Adapun karakteristik kurikulum merdeka belajar adalah sebagai berikut:
• Penilaian untuk kurikulum merdeka yang berada disekolah penggerak dengan cara menerapkan penilaian yang bersifat komprehensif yang akan mendorong siswa tersebut agar mempunyai suatu kompetensi yang sesuai dengan minat dan bakat tanpa membebani siswa tersebut untuk mencapai skor minimal yang sudah ditetapkan oleh kurikulum merdeka.
• Pembelajaran yang digunakan berbasis proyek guna mengembangkan softskill dan kepribadian sesuai dengan profil pembelajaran Pancasila.
• Berpusat pada materi essensial sehingga memiliki waktu guna mempelajari lebih lanjut ilmu dan kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi.
2.2.6 Keunggulan Kurikulum Merdeka Belajar
(Ahmad Darlis dkk, 2022) mengatakan isi kurikulum ini sangat ideal bagi siswa untuk memperdalam konsep dan memperkuat keterampilan. Kurikulum ini dirancang untuk memberikan kreativitas dan keleluasaan bagi guru untuk menyesuaikan dengan kondisi pembelajaran. Perubahan kurikulum ini akan membawa beberapa perubahan bagi kurikulum Indonesia di masa mendatang.
1) Struktur Kurikulum lebih fleksibel
Kurikulum yang hingga saat ini berlaku secara nasional belum memberikan keleluasaan bagi guru, terutama terkait jam mengajar mingguan. Beberapa siswa atau orang tua mengeluh tentang kain tebal. Topik yang terlalu padat tidak cukup untuk deep learning dan sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Oleh karena itu, pembelajaran di masa depan akan fokus pada hal-hal yang hakiki.
2) Penggunaan Beragam Perangkat Pembelajaran
Materi pembelajaran yang tersedia kurang beragam sehingga guru kurang fleksibel dalam mengembangkan pembelajaran kontekstual. Oleh karena itu, ke depan, kurikulum mandiri akan memberikan keleluasaan bagi guru untuk menggunakan perangkat pengajaran yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa.
3) Pemanfaatan Teknologi Digital
Kurikulum sebelumnya gagal memaksimalkan dan memanfaatkan teknologi digital berbasis aplikasi. Yang dibutuhkan saat ini untuk tetap kekinian adalah aplikasi yang menyediakan berbagai referensi bagi para guru untuk
mengembangkan metode pengajaran secara mandiri dan berbagi praktik terbaik.
Salah satunya platform pendidikan Merdeka.
Pendapat lain mengatakan berapa keunggulan kurikulum merdeka belajar adalah :
1) Lebih Fokus dan Sederhana
Keunggulan dari kurikulum merdeka dengan mandiri, biasanya lebih fokus serta sederhana agar siswa tersebut menjadi lebih fokus pada materi esensial serta dari pengembangan keterampilannya.
2) Jauh Lebih Merdeka
Maksud dari kata jauh lebih merdeka adalah kurikulum ini memberi kebebasan terhadap siswa untuk memilih pelajaran yang sesuai dengan minat dan bakatnya, sehingga siswa tersebut lebih fokus terhadap kemampuan yang dimilikinya.
3) Lebih Interaktif
Kurikulum mandiri juga dianggap lebih bermakna dan interaktif.
Pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) menawarkan kepada siswa kesempatan yang lebih luas untuk secara aktif terlibat dalam isu-isu terkini seperti lingkungan, kesehatan dan topik lainnya.
2.2.7 Kelebihan dan Kelemahan Kurikulum Merdeka Belajar
(Kemampuan utama pada pendidikan 4.0 adalah berkomunikasi, berkolaborasi, berfikir kritis serta berfikir kreatif. Menurut (Chahyanti,2021) kelebihan dari kurikulum merdeka belajar antara lain :
1) Implementasi merdeka belajar tidak terbatas ruang dan waktu, dengan mengunjungi tempat wisata, museum dan lain-lain.
2) Berbasis pada proyek, dengan menerapkan keterampilan yang telah dimiliki.
3) Pengalaman dilapangan dengan kolaborasi antara dunia pendidikan dan dunia industri, peserta didik diarahkan untuk terjun kelapangan untuk menerapkan soft skill dan hard skill agar mereka siap memasuki dunia kerja.
4) Personalized learning, pada tahap ini pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan peserta didik, aktivitas pembelajar tidak dibuat sama rata.
5) Interpretasi data, big data untuk mendukung proses pendidikan dan digunakan sebagai sentral memecahkan masalah serta disesuaikan dengan kebutuhan.
Berdasarkan kelebihan tersebut, bahwasanya cara pandang penerapan merdeka belajar, guru menjadi fasilitator yang memotivasi peserta didik untuk
“merdeka belajar”. Dan menyediakan aktivitas bagi peserta didik untuk mengeksplorasi diri agar setiap siswa memiliki pengalaman dalam pembelajaran yang merdeka.
Program merdeka belajar belum sempurna untuk dilakukan. Menurut (Supini E. 2020) ada beberapa kendala atau tantangan yang harus dihadapi. Berikut ini merupakan lima tantangan program merdeka belajar bagi guru, diantaranya yaitu:
1) Keluar dari Zonasi Nyaman Sistem Pembelajaran.
2) Tidak Memiliki Pengalaman Program Merdeka Belajar.
3) Keterbatasan Referensi.
4) Keterampilan Mengajar.
5) Minim Fasilitas dan Kualitas Guru.
Menurut penulis, untuk mencapai kemerdekaan belajar tanpa kendala, guru membutuhkan dukungan dari semua pihak, mulai dari orang tua siswa,
sekolah, pemerintah hingga masyarakat luas. Bentuk dukungan dari pemerintah yaitu dengan membuat pelatihan atau pembelajaran bagi guru untuk meningkatkan kompetensi guru.
2.2.8 Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi Guru Tentang Kurikulum Merdeka
Menurut (Dendi Wijaya Saputra dkk, 2022) ada lima faktor yang mempengaruhi persepsi guru dalam iplementasi kurikulum merdeka. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Pengalaman Mengajar Guru
Pengalaman mengajar guru memiliki peran yang sangat penting dalam hal membangun persepsi mereka tentang kurikulum merdeka, semakin berpengalaman guru tersebut mengajar maka akan memberikan pandangan yang positif tentang perubahan kurikulum yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan menjadi lebih baik.
b) Latar Belakang Pendidikan Guru
Latar belakang pendidikan guru juga berperan sangat penting dalam hal memberikan input pada persepsi tentang kurikulum merdeka, semakin terdidik seorang guru, tentunya akan berimplikasi positif pada persepsinya tentang kurikulum merdeka.
c) Pelatihan yang Diikuti Guru
Pelatihan yang diikuti guru mempengaruhi persepsinya yang mana menunjukkan bahwasanya jika seorang guru sudah mengikuti pelatihan maka akan semakin baik persepsinya. Kualitas maupun kuantitas pelatihan yang
diikuti oleh guru juga memberikan pengaruh yang signifikan dalam membangun kerangka persepsi guru tentang kurikulum merdeka.
d) Pengalaman Pribadi Guru
Pengalaman pribadi guru juga berdampak pada pemahaman mereka dalam memandang dan menginterpretasikan kurikulum, semakin beragam dan bervariasi pengalaman yang dimiliki oleh guru, maka akan memberikan persepsi yang positif pada kurikulum merdeka.
e) Gelar Pendidikan guru
Gelar pendidikan yang dimiliki oleh guru tentunya berdampak pada kemampuan berfikir dan menyikapi sesuatu, sama halnya ketika mereka dihadapkan pada kurikulum merdeka sebagai salah satu bentuk peningkatan kualitas pembelajaran yang tentunya akan dengan positif mendukung perubahan maupun revitalisasi kurikulum tersebut.
2.2.9 Perbedaan Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013
Perubahan kurikulum yang terjadi antara kurikulum 2013 sampai kurikulum merdeka begitu banyak perubahan yang terjadi. Kurikulum 13 berbasis kompetensi berfokus pada perolehan kompetensi tertentu bagi para siswa. Maka dari itu, kurikulum ini berisikan beberapa kompetensi serta berbagai tujuan pembelajaran yang dibuat dengan berbagai macamm bentuk, sehingga hal yang dicapai bisa dilihat dalam bentuk sifta ataupun keterampilan siswa sebagai acuan keberhasilannya.
Sebagai upaya untuk memulihkan kegiatan belajar, kurikulum merdeka dikembangkan menggunakan suatu kerangka Asesmen non-kognif yang digunakan untuk mengimput aspek psikologis siswa dan keadaan emosional
siswa, serta bagaimana kesenangan siswa selama melakukan pembelajaran dirumah dan melihat keadaan keluarga siswa. Kurikulum merdeka juga memiliki asesmen kognitif guna untuk mengukur pemahaman siswa serta ketercapaian pembelajaran siswa. (Faradilla Intan Sari, dkk, 2023) mengatakan pada kurikulum merdeka dan kurikulum 2013 memiliki beberapa perbedaan, yaitu:
1) Kerangka dasar, Kurikulum 13 memiliki suatu perencanaan landasan utama Kurikulum 13 ialah tujuan Sistem Pendidikan Nasional dan Standar Nasional Pendidikan.
2) Kompetensi yang ditujukan pada kurikulum 13, Kompetensi Dasar (KD) yang merupakan suatu lingkup utama serta urutan yang di golongkan untuk 4 kompetensi inti (KI) yaitu: Sikap Spiritual, Sikap Sosial, Pengetahuan, serta Keterampilan. KD yang digunakan berbentuk point-point dan dilakukan pengurutan untuk mencapai KI yang digunakan untuk pertahun. KD pada KI 1 dan KI 2 hanya ada pada mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti dan Pendidikan Pancasiladan Kewarganegaraan.
3) Pembelajaran, pada Kurikulum 13 Pendekatan pembelajaran memakai 1 pendekatan saja yaitu pendekatan saintifik bagi semua mata pelajaran Pada umumnya, kegiatan pembelajaran berfokus pada kegiatan tatap muka, untuk kegiatan kurikulerdi alokasikan pada beban belajar maksimun 50% diluar kegiatan belajar. Akan tetapi kegiatan ini tidak diwajibkan pada kegiatan yang telah direncanakan dengan khusus, maka hal ini diserahkan pada kemampuan guru pengampu kegiatan belajar.
4) Penilaian, pada kurikulum 13 penilaian yang dilakukan dengan formatif dan sumatif oleh tenaga pendidikan yang berfungsi untuk melihat kemajuan
belajar, memantau hasil belajar, dan mendeteksi kebutuhan untuk perbaikan hasil belajar siswa secara berkesinambungan.
5) Perangkat ajar yang ada pada kurikulum 13 ini yaitu berupa Buku teks dan buku non-teks.
6) Perangkat kurikulum, kurikulum 13 berpedoman untuk implementasi kurikulum, Panduan Penilaian, dan Panduan Pembelajaran setiap jenjang.
Sedangkan Perbedaan kurikulum 2013 dengan kurikulum saat ini yaitu:
1) Kerangka dasar, kurikulum merdeka memiliki rancangan utama pada kurikulum nya ialah memiliki tujuan sistem pendidikan nasional dan standar nasional pendidikan yaitu untuk mengembangkan profil pelajaran pancasila pada siswa.
2) Kompetensi yang di tuju, pada kurikulum merdeka capaian belajar yang disusun ber fase. Capaian belajar dinyatakan dalam paragraf yang merangkai pengetahuan, sikap, serta keterampilan. Untuk pencapaian, penguatan, serta untuk meningkatkan kompetensi.
3) Struktur Kurikulum, kurikulum merdeka memiliki struktur kurikulum yang dibagi menjadi dua. Kegiatan belajar utama, yaitu kegiatan belajar reguler atau rutin yang merupakan kegiatan intrakulikuler serta projek penguatan profil pembelajaran pancasila. Untuk jam pelajarannya menggunakan sistem pertahun. Sekolah bisa mengatur sendiri alokasi waktunya supaya lebih mudah untuk ketercapaian JP yang ditentukan.
4) Penilaian, pada kurikulum merdeka memiliki suatu penguatan pada asesmen formatik dan penguatan pada hasil asesmen untuk melakukan perancangan pembelajaran yang disesuaikan dengan ketercapaian siswa. Memperkuat dalam melaksanakan penilaian autentik untuk projek penguatan profil pembelajaran pancasila. Kurikulum merdeka tidak memiliki pemisah pada penilaian sikap, pengetahuan serta keterampilan. Pada kurikulum merdeka ini juga tidak ada penilaian menggunakan KKM jadi KKM pada kurikulum ini tidak ada.
5) Perangkat ajar yang disediakan. Pada kurikulum merdeka buju teks maupun buku non teks seperti modul ajar, ATP aluran tujuan pembelajaran, contoh projek penguatan profil pembelajaran pancasila serta kurikulum operasional satuan pendidikan.
2.3 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1. Daftar Penelitian Terdahulu
No Nama Peneliti Judul Persamaan Perbedaan
1. Atika Widyastuti
Persepsi guru tentang konsep kurikulum merdeka belajar mendikbud Nadiem Makarim dalam pendidikan agama islam di MTS Negeri 3 Sleman
Sama-sama membahas tentang persepsi guru selain itu juga jenis penelitian yang digunakan sama.
terletak dari lokasi penelitian dan teori yang digunakan dalam penelitian
terdahulu.
2. Kasmawati Persepsi guru dalam konsep pendidikan (studi pada penerapan kurikulum merdeka di SMA Negeri 5 Takalar
Terletak dijenis penelitian yang digunakan
Terletak dari lokasi penelitian dan
pembahasannya lebih fokus membahas tentang penerapan
merdeka belajar 3. Dwi Wahyuni
Maulana Luawo
persepsi guru terhadap kebijakan merdeka belajar tentang
penyederhanaan
Terletak dijenis penelitian yang digunakan
Terletak dari lokasi penelitian dan
pembahasannya lebih fokus
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP) di MTs Negeri Manado
membahas tentang kebijakan
merdeka belajar 4. Wahdina
Salim Aranggere
Implementasi Program
Merdeka Belajar pada Pembelajaran Akidah Akhlak dalam
Mengembangkan Kreativitas Peserta Didik di MTS Hidayatul
Mubtadi’in
Tasikmadu Malang
jenis penelitian
tersebut sama dengan yang dilakukan dalam penelitian ini yakni dengan menggunakan jenis penelitian deskriptif
kualitatif.
Kemudian data-
data yang
diperoleh oleh peneliti
dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi
Penelitian tersebut dilaksanakan di MTs Hidayatul Mubtadi’in Tasikmadu Malang,
sedangkan dalam penelitian ini dilaksanakan di
SMA kota
subulussalam.
Secara konten, penelitian tersebut membahas
mengenai implementasi program merdeka belajar pada pembelajaran Aqidah Akhlak.
Sedangkan dalam penelitian ini membahas
mengenai bagaimana
persepsi guru dalam
pelaksanaan kurikulum merdeka.
5. Hasnawati Pola Penerapan Merdeka Belajar pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Daya Kreativitas Peserta Didik di SMAN 4 Wajo Kabupaten Wajo
Jenis penelitian yang
digunakan dalam penelitian
tersebut sama dengan jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini yakni dengan menggunakan jenis
penelitian deskriptif kualitatif.
penelitian tersebut menjelaskan mengenai pola penerapan
kurikulum
merdeka dan dampak
dari penerapannya Sedangkan dalam penelitian ini lebih merujuk pada bagaimana
persepsi
guru di dalam implementasi kurikulum merdeka
2.4 Kerangka Berpikir
Pemerintah terus melakukan perbaikan dengan cara melakukan perubahan kebijakan-kebijakan di sektor pendidikan untuk menjadikan pendidikan di Indonesia semakin baik serta menunaikan beban moral pemerintahan yang termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam kaitannya dengan “Merdeka Belajar” yang dicanangkan oleh Mendikbud Nadiem Makarim, bahwa ada dua poin terpenting dalam pendidikan, yaitu merdeka belajar dan guru penggerak. Merdeka belajar artinya guru dan muridnya memiliki kebebasan untuk berinovasi, kebebasan untuk belajar mandiri dan kreatif. Merdeka belajar sebagai upaya perbaikan pembelajaran memberikan kemudahan dan penyederhanaan untuk proses belajar mengajar, misi yang ingin dicapai antara lain suatu kelulusan dari jenjang pendidikan tertentu benar-benar memiliki kompetensi yang harus dimiliki seorang peserta didik melalui pembelajaran merdeka belajar.
32 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, menurut Jhon Creswell mendefinisikan sebagai suatu pendekatan atau penelusuran untuk mengeksplorasi dan memahami suatu gejala sentral. Metode kualitatif berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti sendiri.
Penelitian yang digunakan menggunakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk memahami obyek yang diteliti secara mendalam (Raco, 2018). Pendekatan kualitatif menurut Corbin dan Strauss yang dikutip oleh Wahidmurni (2017) merupakan bentuk penelitian dimana peneliti dalam mengumpulkan dan menganalisis data menjadi bagian dari proses penelitian sebagai partisipan bersama informan yang memberikan data.
Menurut Farida Nugrahani dalam Basrowi & Suwandi (2014), melalui penelitian kualitatif peneliti dapat mengenali subjek, merasakan apa yang dialami subjek dalam kehidupan sehari-hari. Dalam beberapa bidang, sifat masalah yang diteliti lebih tepat apabila dikaji dengan pendekatan kulitatif. Kualitatif merupakan sebuah pendekatan yang didasari oleh filsafat fenomenologis dan humanistis.
Pendekatan ini berseberangan dengan tradisi pemikiran positivisme dalam pendekatan kualitatif. Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif.
3.2 Jenis penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriftif kualitatif, Metode ini bertujuan untuk menggambarkan hasil temuan secara detail sesuai dengan fenomena yang terjadi. Jenis penelitian deskriftif kualitatif yaitu penelitian yang mampu memaparkan suatu atau sebuah fenomena yang terjadi dengan mendeskripsikan kasus yang terjadi.
Metode penelitian kualitatif adalah penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi, analisis data bersifat induktif atau kualitaif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2017). Penelitian kualitatif yaitu “penelitian yang berupaya menganalisis kehidupan sosial dengan menggambarkan dunia sosial dari sudut pandang atau interpretasi individu (informan) dalam latar alamiah (Sudaryono,2017).
Bogdan dan Taylor yang dikutip oleh Samsu (2017) mendefinisikan
“penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data desktiptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.” Dengan demikian, penelitian kualitatif berupaya memahami bagaimana seorang individu melihat, memaknai atau menggambarkan dunia sosialnya. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriftif kualitatif.
3.3 Waktu dan Tempat Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 28 September sampai dengan 26 Oktober 2023. Rincian waktu penelitian keseluruhan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 3.1 Rincian Waktu Pelaksanaan
No
Jadwal kegiatan
Bulan Dan Waktu Pelaksanaan Juli Agustus septembe
r
oktober november Desember 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1
Tahap Persiapan Penelitian
a. Penyusunan dan pengajuan jadwal
b. Pengajuan proposal
c.Seminar Proposal
d. Revisi
2 Membuat Instrumen Penelitian
3
Mengurus Surat Melakukan Penelitian
4
Melakukan Penelitian dan Pengumpulan Data
5 Menganalisis Data
6 Menyusun Skripsi
7 Sidang
Tempat penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Subulussalam. Peta lokasi penelitian dapat di lihat pada gambar dibawah ini:
Data lokasi penelitian dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 3.2 Tempat Penelitian
No Sekolah Alamat
1. SMAN 2 Simpang Kiri Jl. Belimbing No.18, Makmur Jaya, Kec. Simpang Kiri, Kota Subulussalam.
2. SMAN 1 Rundeng Jl. Perjuangan No. 14, Muara Batu-Batu, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam.
3.4 Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh guru geografi yang ada di Sekolah Menengah Atas (SMA) Kota Subulussalam berjumlah 2 orang. Alasan
pengambilan subjek penelitian ini karena guru geografi yang berada di 2 sekolah tersebut sudah menerapkan kurikulum merdeka dan merupakan sekolah penggerak.
Subjek penelitian ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 3.3 Subjek Penelitian
No. Sekolah Guru Geografi
1. SMAN 2 Simpang Kiri Dahli Yanti Malau, S.Pd
2. SMAN 1 Rundeng Muhammad Jhoni, S.Pd
Total 2
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan didalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
3.5.1 Observasi
Menurut (Sugiyono, 2015) penelitian dimulai dengan mencatat, menganalisis dan selanjutnya membuat kesimpulan tentang pelaksanaan dan hasil program yang dilihat dari ada atau tidaknya perkembangan usaha yang dimiliki warga belajar. (Sandu Siyoto, 2015) mengatakan apabila objek penelitian bersifat perilaku, tindakan manusia, dan fenomena alam, proses kerja dan penggunaan responden kecil. Selain itu, dalam penggunaan “ metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapi dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrument.”
Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode observasi partisipan yaitu suatu kegiatan observasi dimana observer terlibat atau berperan serta dalam lingkungan kehidupan orang-orang yang diamati, dalam observasi ini untuk memperoleh data mengamati tentang pendapat, kesiapan guru dalam