Restorative Justice dalam Kasus Pencurian Ayam: Perspektif Teori Keadilan Retributif
ADINDA ZAHRA LUBIS KELAS: G1-PAGI
MATA KULIAH: LEGAL MEMORANDUM DAN LEGAL ROSIDING
DOSEN: HENDRYCO DP HUTAGALUNG S.H.,MH
Restorative Justice dalam Kasus Pencurian Ayam: Perspektif Teori Keadilan Retributif
I. Pendahuluan
Restorative Justice (RJ) adalah pendekatan dalam sistem peradilan pidana yang fokus pada pemulihan, bukan pembalasan. Dalam kasus pencurian ayam yang melibatkan terdakwa, penerapan RJ akan memberikan kesempatan untuk memperbaiki kerugian yang ditimbulkan, serta memperbaiki hubungan antara terdakwa, korban, dan masyarakat. Untuk memahami lebih dalam tentang konsep ini, kita dapat mengaitkannya dengan Teori Keadilan Retributif, yang menekankan pentingnya pembalasan yang setimpal atas tindakan pidana yang dilakukan.1
Pasal yang Relevan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP):
Pasal 362 KUHP – Pencurian Pasal ini mengatur tentang pencurian sebagai tindak pidana yang dapat dikenakan kepada seseorang yang dengan sengaja mengambil barang milik orang lain secara tidak sah, dengan tujuan untuk memiliki barang tersebut.
Isi Pasal 362 KUHP:
"Barang siapa mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk mempunyai barang itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah."
Pasal 363 KUHP – Pencurian dengan Pemberatan Jika pencurian dilakukan dengan cara tertentu atau dalam keadaan yang memberatkan, maka hukuman dapat lebih berat. Misalnya pencurian yang dilakukan dengan kekerasan atau dalam keadaan tertentu yang merugikan lebih banyak pihak.
Isi Pasal 363 KUHP:
"Pencurian yang dilakukan dengan cara yang memberatkan, seperti menggunakan kekerasan atau dalam situasi yang merugikan lebih banyak pihak, dapat dihukum lebih berat."
Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) yang Relevan:
1 Wiwit Ariyani et al., “REALIZATION OF RESTORATIVE JUSTICE RESOLUTION FOR ILLEGAL FISHING PERPETRATORS,” Yudisia: Jurnal Pemikiran Hukum Dan Hukum islam 15, no. 1 (2024): 1–14.
Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) No. 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Penuntutan Pidana PERMA ini mengatur pedoman yang digunakan oleh jaksa dalam proses penuntutan pidana. Salah satu prinsip yang diatur dalam peraturan ini adalah mengenai penuntutan yang adil dan proposional, yang harus memperhatikan seluruh fakta dan situasi terdakwa, termasuk faktor- faktor yang dapat meringankan atau memberatkan.
Isi Umum PERMA No. 2 Tahun 2012:
PERMA ini mengatur pedoman tentang pertimbangan jaksa dalam menentukan apakah suatu kasus layak untuk dituntut di pengadilan, serta tentang penuntutan yang dilakukan dengan mempertimbangkan asas proporsionalitas, keadilan sosial, dan penerapan hukum yang berimbang.
PERMA No. 1 Tahun 2016 tentang Pedoman Penanganan Perkara Anak (jika terdakwa merupakan anak atau remaja) Jika terdakwa adalah seorang anak di bawah umur yang terlibat dalam kasus pencurian, maka PERMA ini mengatur prosedur dan pedoman bagi jaksa dalam menangani perkara yang melibatkan anak, termasuk mengedepankan pemulihan sosial dan tidak hanya menjatuhkan hukuman semata.
Isi Umum PERMA No. 1 Tahun 2016:
Mengatur pedoman tentang bagaimana proses hukum terhadap anak seharusnya lebih mengutamakan rehabilitasi sosial daripada penghukuman berat, serta mengatur cara-cara yang lebih humanis dalam memperlakukan anak sebagai pelaku tindak pidana.
Peraturan Jaksa yang Relevan:
Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia No. 15 Tahun 2010 tentang Pedoman Penanganan Tindak Pidana Peraturan ini memberikan pedoman bagi Jaksa dalam menangani tindak pidana umum, termasuk pencurian.
Pedoman ini memberikan petunjuk tentang cara penuntutan yang harus memperhatikan keadilan, baik bagi korban maupun terdakwa.
Isi Umum Peraturan Jaksa Agung No. 15 Tahun 2010:
Menegaskan pentingnya pendekatan yang adil dan berimbang dalam menangani perkara pidana, dengan tetap memperhatikan kondisi sosial dan psikologis terdakwa, serta memberikan kesempatan bagi terdakwa untuk melakukan pembelaan yang sesuai.
Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia No. 22 Tahun 2014 tentang Pedoman Penanganan Tindak Pidana Ringan Peraturan ini mengatur tentang cara penuntutan dalam kasus-kasus tindak pidana ringan yang dapat diselesaikan melalui alternatif seperti mediasi, kerja sosial, atau tindakan yang lebih ringan dari hukuman penjara. Jika pencurian ayam tergolong sebagai tindak pidana ringan, maka jaksa dapat mempertimbangkan alternatif hukuman selain penjara, yang lebih mengarah pada pendekatan restorative justice.
Isi Umum Peraturan Jaksa Agung No. 22 Tahun 2014:
Mengatur alternatif penyelesaian perkara yang lebih ringan dan mempertimbangkan faktor kemanusiaan serta upaya pemulihan hubungan antara pelaku dan korban dalam kasus tindak pidana ringan.
II. Restorative Justice dan Teori Keadilan Retributif A. Prinsip Keadilan Retributif
Teori Keadilan Retributif berpendapat bahwa hukum harus memberikan hukuman yang setimpal bagi pelaku tindak pidana sebagai bentuk pembalasan yang adil terhadap pelanggaran yang mereka lakukan. Dalam teori ini, hukuman bertujuan untuk menegakkan keadilan dengan memberikan balasan yang sebanding dengan tindakan kejahatan yang dilakukan oleh pelaku. Namun, meskipun teorinya berfokus pada pembalasan, Keadilan Retributif juga menyarankan bahwa pembalasan tersebut harus bersifat proporsional dan sesuai dengan kesalahan yang dilakukan. Sehingga, hukuman yang dijatuhkan tidak boleh lebih berat atau lebih ringan dari yang seharusnya.2
B. Teori Retributif dalam Restorative Justice
Meskipun teori retributif biasanya berfokus pada pembalasan, pendekatan Restorative Justice dapat dilihat sebagai cara untuk mengakomodasi prinsip retributif dengan lebih seimbang. Restorative Justice dalam konteks
2 Rico Nur Cahyo et al., “Proses Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika Yang Dilakukan Oleh Anak,” Kebijakan Hukum Pidana Tentang Diversi Terhadap Anak Pelaku Recidive Guna Mencapai Restorative Justice 3 (2021): 213–
16.
pencurian ayam tidak hanya berusaha untuk menghukum pelaku, tetapi lebih kepada memperbaiki kerugian yang ditimbulkan dan memberikan kesempatan bagi terdakwa untuk bertanggung jawab atas perbuatannya secara konstruktif. 3Dalam hal ini, meskipun tindakan pencurian dianggap sebagai pelanggaran, Restorative Justice berfokus pada pemulihan yang melibatkan korban secara langsung dan memberi pelaku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, yang pada gilirannya dapat memulihkan keseimbangan sosial tanpa mengesampingkan prinsip keadilan retributif yang menghendaki adanya konsekuensi terhadap tindakan pidana. Dengan mendengarkan perspektif korban dan memberikan kesempatan bagi terdakwa untuk memberikan ganti rugi, RJ memastikan bahwa ada pembalasan yang sesuai tanpa mengesampingkan rehabilitasi dan pemulihan.4
C. Keadilan yang Proporsional dalam Restorative Justice
Melalui pendekatan RJ, hukuman yang dijatuhkan lebih kepada bentuk tanggung jawab daripada hukuman penjara yang bersifat punitif. Dalam hal ini, meskipun teori retributif mengedepankan pentingnya pembalasan yang adil, dalam praktiknya, RJ memberikan pendekatan yang lebih berfokus pada proporsionalitas hukuman yakni menilai seberapa besar kerugian yang ditimbulkan oleh pencurian dan apa yang harus dilakukan oleh terdakwa untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Sebagai contoh, dalam kasus pencurian ayam ini, jika terdakwa mengakui perbuatannya dan menunjukkan penyesalan, maka hukuman berupa kerja sosial atau ganti rugi bisa dianggap sebagai bentuk pembalasan yang proporsional, sesuai dengan prinsip retributif, yang menuntut bahwa pelaku harus menanggung akibat dari perbuatannya.
III. Kesimpulan
Meskipun teori Keadilan Retributif berfokus pada pembalasan sebagai reaksi terhadap kejahatan, pendekatan Restorative Justice dapat berfungsi sebagai cara yang lebih konstruktif untuk menegakkan prinsip keadilan yang
3 Maja Simarmata, “Proses Rehabilitasi Terhadap Anak Sebagai Korban Kekerasan Seksual,” HERMENEUTIKA : Jurnal Ilmu Hukum 3, no. 4 (2013): 5–7.
4 Hurrya Musdalifah Supardi et al., “Perlindungan hukum terhadap penyidikan anak yang menjadi korban tindak pidana pelecehan seksual,” Journal of Lex Generalis (JLS) 2, no. 6 (2021): 1716–31.
proporsional. Dalam kasus pencurian ayam, pendekatan ini memberikan kesempatan bagi terdakwa untuk bertanggung jawab secara langsung dengan korban dan masyarakat, sekaligus memperbaiki kesalahan tanpa menjatuhkan hukuman penjara yang keras. Oleh karena itu, RJ dapat dilihat sebagai suatu bentuk penerapan keadilan yang proporsional, yang tetap menghormati prinsip retributif, tetapi dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan mengutamakan pemulihan hubungan daripada pembalasan semata. Dengan demikian, penerapan Restorative Justice dalam kasus ini akan memastikan bahwa pelaku dapat memperbaiki kerusakan yang terjadi dan, pada saat yang sama, tetap menjalani konsekuensi yang setimpal dengan perbuatannya, sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan yang mendasar dalam teori Retributif.
DAFTAR PUSTAKA
Ariyani, Wiwit, Graha Salma, Nafa Sajidah, dan Aldi Priyo Utomo.
“REALIZATION OF RESTORATIVE JUSTICE RESOLUTION FOR ILLEGAL FISHING PERPETRATORS.” Yudisia: Jurnal Pemikiran Hukum Dan Hukum islam 15, no. 1 (2024): 1–14.
Cahyo, Rico Nur, Irma Cahyaningtyas, Studi Magister, Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro, Fakultas Hukum, dan Universitas Diponegoro. “Proses Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika Yang Dilakukan Oleh Anak.”
Kebijakan Hukum Pidana Tentang Diversi Terhadap Anak Pelaku Recidive Guna Mencapai Restorative Justice 3 (2021): 213–16.
Simarmata, Maja. “Proses Rehabilitasi Terhadap Anak Sebagai Korban Kekerasan Seksual.” HERMENEUTIKA : Jurnal Ilmu Hukum 3, no. 4 (2013): 5–7.
Supardi, Hurrya Musdalifah, Hambali Thalib, & Azwad, dan Rachmat Hambali. “Perlindungan hukum terhadap penyidikan anak yang menjadi korban tindak pidana pelecehan seksual.” Journal of Lex Generalis (JLS) 2, no. 6 (2021): 1716–31.