MAKALAH
SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM Tentang
POLA PENDIDIKAN ISLAM DI MADRASAH NIZAMIYAH
Dosen pengampu : Dr,Nasril.M.Pd.I
Oleh Kelompok IV
Hamzah Nurqolbi Alharis (960823028) Rafli Asyura (960823027)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM YAYASAN
TERBIYAH ISLAMIYAH PADANG 2024 M/1444 H
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kami ucapkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pola Pendidikan Islam Di Madrasah Nizamiyah” Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Sang Pembawa risalah, Muhammad SAW yang telah memberikan bimbingan moral dan akhlak kepada umat manusia serta membawa agama Islam sebagai agama tauhid yang diridhoi- Nya.
Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sejarah Pendidikan islam. Kami berterima kasih kepada bapak Dr,Nasril.M.Pd.I selaku dosen mata kuliah Sejarah pendidikan islam yang telah memberikan arahan, bimbingan, serta membantu kami baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penulisan makalah ini
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Hal ini semata-mata karena keterbatasan kemampuan kami sendiri. Oleh karena itu, kami harapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak agar makalah ini menjadi lebih baik dan berdaya guna di masa depan. Semoga kritik dan saran para pembaca dapat memberi manfaat dan menjadi bekal pengetahuan bagi penulisan selanjutnya.
Padang 1 Mei 2024
Pemakalah
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pada pertengahan abad kedelapan Masehi atau abad kedua Hijriyah, merupakan masa-masa keemasan Islam (The Golden Ages of Islam). Kondisi ini berlangsung pada masa kekhalifahan Islam di bawah kekuasaan dinasti Abbasiyah (133-656 H/750-1258 M). Saat itu, dua per tiga bagian dunia dikuasai oleh kekhalifahan Islam. Selain itu, tradisi keilmuan berkembang pesat. Berbagai sumber menyebutkan, masa kejayaan Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, terjadi pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid. Dia adalah khalifah Dinasti Abbasiyah yang berkuasa pada 786 M hingga 809 M.
Salah satu puncak pencapaian yang membuat nama Khalifah Harun al-Rasyid melegenda adalah perhatiannya terhadap ilmu pengetahuan dan peradaban. Pada masa kepemimpinannya, terjadi penerjemahan sejumlah karya dari berbagai bahasa. Inilah yang menjadi titik awal kemajuan yang dicapai Islam. Menggenggam dunia dengan ilmu pengetahuan dan peradaban. Pada era itu pula, beragam disiplin ilmu pengetahuan dan peradaban mulai berkembang. Perkembangan tersebut berkat dorongan pemerintah saat itu yang menyediakan berbagai fasilitas dan memberikan kebebasan intelektual para siswanya.
Pengembangan ilmu pengetahuan pada masa itu dilakukan dengan beberapa cara.
Pertama, dilakukan penerjemahan buku-buku Yunani, Persia, Suriah, dan India ke dalam bahasa Arab. Ribuan buku yang diambil dari perpustakaan-perpustakaan lama, dibawa ke Irak (pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah–Red) untuk diterjemahkan dan sejumlah perpustakaan baru didirikan. Gerakan penerjemahan ini berlangsung dari tahun 750-850 M.
Kedua, karya-karya yang diterjemahkan itu kemudian diberi komentar oleh para sarjana Islam. Teori-teori yang ada diberi penjelasan dan disesuaikan dengan ajaran Islam. Melalui renungan, pengamatan, penelitian, dan eksperimen (percobaan), para tokoh Muslim dapat melahirkan teori-teori dan konsep-konsep baru. Dari kegiatan ini, mereka menghasilkan ribuan karya tulis dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan.
Ketiga, didirikan lembaga-lembaga pendidikan dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi, seperti Baitul Hikmah (perpustakaan raksasa sekaligus pusat kajian ilmu pengetahuan dan peradaban terbesar pada masa itu). Selain itu, masjid- masjid, istana, dan rumah para sarjana difungsikan sebagai tempat belajar.1
Pada permulaan masa Abbasiah ini, bangsa Persia sangat berpengaruh dalam negara Islam sehingga kebudayaan Islampun dipengaruhi. Setelah hilang pengaruh Persia, lahirlah pengaruh Turki. Masa inilah berdiri madrasah-madrasah yang tidak sedikit bilangannya di seluruh negara Islam. Di antara sebab-sebab banyaknya berdiri madrasah tersebut yaitu:
1. Mengambil Hati Rakyat
Pembesar-pembesar Turki yang berkuasa dalam negara terutama dalam masalah ketentraman, mereka bukanlah bangsa Arab dan bukan keturunan Nabi muhammad Saw.
Oleh karena itu mereka harus mengambil hati rakyat dengan jalan memajukan Agama dan mementingkan pendidikan dan pengajaran. Bahkan kadang-kadang setengah mereka kawin dengan anak gadis khalifah.
Banyak tokoh mendirikan madrasah-madrasah di negara Islam. Dengan demikian, tersebarlah madrasah-madrasah di negara Islam pada masa pengaruh dan kekuasaan Turki. Mereka memberikan uang belanja yang besar sekali untuk madrasah-madrasah tersebut.
2. Mengharapkan Pahala dan Ampunan daripada Tuhan
Masa ini para pembesar dan sultan hidup dalam kemewahan yang berlebih. Oleh sebab itu. Mereka beramal menyiarkan agama dengan mengadakan madrasah-madrasah untuk memberikan pendidikan dan pengajaran kepada seluruh rakyat. Harapannya semoga akan mendapatkan keridoan dan ampunan dari Allah SWT.
3. Memelihara Kehidupan Anaknya Kemudian Hari
Pembesar-pembesar Turki yang menjadi wali satu wilayah telah menjadi kaya raya dengan hasil bumi dan kekayaan yang dipungutnya dalam wilayahnya. Mereka khawatir kalau mereka mati harta kekayan mereka akan diambil oleh sultan sehingga anak-anak mereka hidup terlantar. Oleh karenanya, mereka mewakafkan tanah atau
1 Madrasah Nizamiah, Sejarah dan Perkembangannya dalam
http://mazguru.wordpress.com/2009/03/30/madrasah-nizamiyah-sejarah-dan- perkembangannya/, diakses 20 Juni 2011
rumah-rumah kepunyaan mereka. Adapun syarat wakaf diantaranya yaitu: pengurus wakaf adalah anak mereka sendiri turun temurun sampai cucu-cucunya dengan mendapatkan bagian tertentu dari wakaf tersebut.
4. Memperkuat Aliran Keagaman bagi Sultan atau Pembesar
Masa ini tersebar anti agama dan banyak perselisihan antara aliran-aliran agama terutama Syiah dan Sunni.2 Agar kekuasaan mereka tetap bertahan tentunya harus ditopang oleh ideologi yang dianut oleh pemerintah. Oleh karena itu didirikanlah madrasah-madrasah sebagai alat propaganda dan indoktrinasi ideologi di dalam wilayah- wilayah yang dikuasai oleh orang-orang Turki Saljuq ini.
Dari uraian di atas tampak sekali bahwa pendirian madrasah pada dinasti Saljuq ini sangat sarat dengan kepentingan pemerintah atau penguasa. Kepentingan politis- ideologis penguasa tampaknya sangat dominan di samping kepentingan kependidikan agama dan kepentingan pribadi para penguasa saat itu. Sednagkan mengapa Nizam al- Mulk lebih memilih madrasah dari pada institusi lainnya (masjid) tujuan-tujuan politis – ideologis di atas? Mengutip pendapat Goerge Makdisi dari buku Sejarah Sosial Pendidikan Islam, menjelaskan bahwa: “... The answer, it seems to me, is that the madrasa alone, already in existence as an institution, could answer his particular need. He founded his network of Madrasa to implement his political-ideologis throughout the vast lands of the empire under his sway. The institution which could best lend itself to such use had to be one which could be established without ties of an official religious nature such us to bring it under the jurisdiction of the Caliph, as in the jami’ where the Caliph was the final appointing authority or in the masjid where imam was responsible to the Caliph or even in a madrasa whose administrative committee represented the community of the local school of law. To manipulate a cathedral mosque or a mosque-college was out of the question. Therefore the institution Nizam choose as an instrument of his policies was one whose administration could be kept outside the reach of the Caliph’s authority, an authority which had its place the public opinion of times”.3
2 Mahmud Yunus, Pendidikan Islam : Dari Zaman Nabi S.A.W Khalifah -Khalifah Rasyidin, Bani Umaiyah dan Abbasiyah sampai Zaman Mamluks dan Usmaniyah Turki, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1992), 69-72
3 Suwito, Ed., Sejarah Sosial pendidikan..., 153
Jawabannya, menurut saya, adalah bahwa madrasah saja, sudah ada sebagai sebuah institusi, bisa menjawab kebutuhan khusus nya. Ia mendirikan jaringan nya Madrasa untuk melaksanakan politiknya-ideologis di seluruh daratan luas kerajaan di bawah kekuasaannya. Lembaga yang terbaik yang bisa meminjamkan dirinya untuk penggunaan tersebut harus menjadi salah satu yang bisa dibentuk tanpa ikatan yang bersifat keagamaan resmi seperti kita untuk membawanya bawah yurisdiksi khalifah, seperti dalam jami 'di mana khalifah adalah kewenangan menunjuk akhir atau di masjid mana imam bertanggung jawab kepada khalifah atau bahkan di madrasah yang administrasi komite mewakili komunitas sekolah lokal hukum. Untuk memanipulasi sebuah masjid catheral atau masjid-perguruan tinggi adalah keluar dari pertanyaan. Oleh karena itu Nizam institusi pilih sebagai instrumen kebijakannya adalah salah satu yang pemerintahnya dapat disimpan di luar jangkauan otoritas Khalifah, otoritas yang memiliki tempat opini publik kali "
B. Rumusan Masalah
1. Apa Itu Madrasah Nizamiyah
2. Bagaimana Sistem Pendidikan Madrasah Nizamiyah 3. Apa Saja Pengaruh Madrasah NIzamiyah
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian madrsah nizamiyah
2. Untuk mengetahui apa saja sistem pendidikan madrasah nizamiyah 3. Untuk mengetahui apa saja pengaruh madrasah nizamiyah
BAB II PEMBAHASAN
A. Madrasah Nizamiyah
Ada beberapa sumber menyebutkan sebelum berdirinya Madrasah Nizamiyah di Baghdad, paling tidak ada empat madrasah besar di Nishapur, yaitu Madrasah Baihaqiyyah, Madrasah Assa’diyyah yang dibangun oleh Amir Nasr bin Subuktakin, Madrasah Abu Sa’ad al-Astarabadi dan Madrasah yang didirikan untuk Abu Ishaq al-Isfarayini.4 Akan tetapi Lembaga pendidikan Islam yang pertama menerapkan sistem yang mendekati sistem pendidikan yang dikenal sekarang adalah madrasah-madrasah Nizamiyah tersebut.5
Madrasah Nizamiyah didirikan oleh Nizam al-Mulk. Sekedar memberikan tambahan pengetahuan mengenai latar belakang Nizam al-Mulk. Nizam al-Mulk adalah seorang wasir (perdana menteri) dinasti Seljuk pada masa pemerintahan sultan Alp Arslan (w. 1072M) dan Malikiksyah (1072-1092M).6 Dinasti Seljuk berasal dari beberapa kabilah kecil rumpun suku Qiniq dalam masyarakat Turki Oquz.7 Nama aslinya adalah Abu Ali al-Hasan bin Ali bin Ishaq at-Tusi. Ia pernah menuntut ilmu pada Hibatullah al-Muwaffaq, seorang ulama Syafi’i di Nisabur.
Beliaupun berpaham Asy’ariyah.8
Kemudian, selain alasan-alasan yang melatar belakangi berdirinya madrasah yang telah ada di atas, perlu diketahui bahwa latar belakang berdirinya madrasah Nizamiyah yang paling mendasar dalam literatur sejarah peradaban Islam adalah adanya perseteruan antara kelompok sunni; dinasti Saljuq dengan kelompok Syi’ah; dinasti Fatimiah di mesir. Dinasti Saljuq berkeyakinan bahwa
4 Abdurrahman Mas’ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik, (Yogyakarta: Gama Media, 2002), 101
5 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam jilid 4, cetakan ke-10, (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), 44-45
6 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam III, (Jakarta:Grafindo Persada, 1993), 73
7 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam III, (Jakarta:Grafindo Persada, 1993), 73
8 G. E. Bosworth, Dinasti-Dinasti, Judul Asli: The Islamic Dinasties, Penerj:Ilyas Hasan, (Menchester: Mizan, 1993), cet. Ke-1, 142
ideologi harus dilawan dengan ideologi. Karenanya institusi madrasah merupakan senjata atau alat dalam menamakan doktrin-doktrin sunni sebagai bentuk perlawanan paham Syi’ah.9
Madrasah Nizamiyah ini termashur seluruh dunia. Pada tiap-tiap kota Nizam Al-Mulk mendirikan satu madrasah yang besar, diantaranya: di Baghdad, Balkh, Naisabur, Harat, Ashfahan, Basran, Marw, Mausul. Tetapi madrasah Nizamiyah Bagdad adalah yang terbesar dan terpenting dari semua madrasah itu.10 Madrasah Nizamiah Bagdad terletak di dekat sungai Dijlah di tengah- tengah pasar Salasah di Bagdad. Madrasah ini dibangun pada tahun 457H/1065M selesai tahun 459H. Madrasah ini tetap hidup sampai pertengahan abad ke-14 Masehi yaitu dikunjungi oleh Ibnu Batutah. Mengutip dari bukunya Abuddin nata
“Sejarah Pendidikan Islam”, Ahmad Syalabi berkeyakinan bahwa pasar Al- Chaffafin yang terdapat di Bagdad saat ini adalah tempat di mana Madrasah Nizamiyah dulunya berdiri.11
Tujuan Nizam Al-Mulk mendirikan madrasah-madrasah itu ialah untuk memperkuat pemerintahan Turki saljuq dan menyiarkan mazhab keagamaan pemerintahan. Sultan-sultan Turki adalah dari golongan ahli Sunnah. Oleh karena itu, madrasah-madrasah Nizamiyah ini menyokong Sultan dan menyiarkan mazhab ahli sunnah ke seluruh rakyat.
Menurut ahli sejarah, anggaran belanja yang diberikan Nizam Al-Mulk untuk perbelanjaan madrasah keseluruhan ialah 600.000 dinar tiap tahunnya.
Madrasah Bagdad sendiri anggarannya 60.000 dinar.12 B. Sistem Pendidikan Madrasah Nizamiyah
Sistem pendidikan di Madrasah Nizamiyah secara sederhana memiliki komponen sebagai berikut;
1. Tujuan Pendidikan Madrasah Nizamiyah Bagdad
Tujuan pendidikan madrasah Nizamiyah tidak terlapas dari tiga tujuan pokok, yaitu:
9 Suwito, Ed., Sejarah Sosial pendidikan..., 217
10 Mahmud Yunus, Pendidikan Islam : Dari Zaman Nabi.., 72
11 Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam: Pada Periode Klasik dan Pertengahan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004), 62
12 Mahmud Yunus, Pendidikan Islam : Dari Zaman Nabi.., 72-73
a. Mengkader calon-calon ulama yang menyebarkan pemikiran Sunni untuk menghadapi tantangan pemikiran Syi’ah
b. Menyediakan guru-guru Sunni yang cakap untuk mengajarka mazhab Sunni dan menyebarkan ke tempat-tempat lain
c. Membentuk kelompok pekerja Sunni untuk berpartisipasi dalam menjalankan pemerintahan, memimpin kantornya khusus di bidang pendidikan dan managemen. Selain itu, pendidikan juga ditujukan untuk membangun sistem madrasah yang baik dan berprestasi serta membentuk calon-calon ulama dan birokrat yang mempunyai wawasan.13
2. Kurikulum dan Metode Pengajaran madrasah Nizamiyah Bagdad Motivasi pendidikan madrasah Nizamiyah adalah pembinaan dan
penyebaran paham Sunni guna menghadapi paham Syi’ah. Maka, ilmu kalam diajarkan secara khusus dan intensif. Harus diakui bahwa beberapa pengajar pada madrasah ini juga dikenal ahli dalam ilmu kalam, contohnya: Imam Al- Harmain Abul Ma’ali Yusuf Al-Juwaini (wafat 1084M/478H) dan Abdul Hamid Al-Ghazali (wafat 1111M/505H).14
Mengutip dari bukunya Abudin nata, Mahmud Yunus mengatakan bahwa kurikulum madrasah Nizamiyah tidak diketahui dengan jelas. Akan tetapi dapat disimpulkan bahwa materi-materi ilma syari’ah diajarkan di sini sedangkan ilmu hikmah (filsafat) tidak diajarkan. Fakta lain yang mendukung ialah:
a. Tidak ada seorangpun diantara ahli sejarah mengatakan bahwa di antara materi pelajaran terdapat ilmu-ilmu umum
b. Guru-guru pengajar merupakan ulama syari’ah c. Pendiri madrasah ini bukan pembela ilmu filsafat
d. Zaman berdirinya madrasah ini, zaman penindasan filsafat15
Pelajaran di Madrasah ini juga mempelajari Al-Quran dengan membaca, menghafal dan menulis, sastra Arab, sejarah Nabi Saw.
13 Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 1992), hal. 742
14 Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam: Pada Periode Klasik..., 65
15 Samsul Nizar, Sejarah PendidikaN Islam: Menelusuri Jejak Sejarah
Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia, (Jakarta:Kencana, 2008), 160-161
Pengajarannya berjalan dengan cara para guru berdiri di depan kelas menyajikan materi kuliah. Para siswa duduk mendengarkan di atas meja- meja kecil yang disediakan. Lalu dilanjutkan diskusi. Sumber lain mengatakan bahwa pada materi fiqh, mahasiswa menyalin silabus (ta’liqah) dalam proses dikte. Mereka hanya betul-betul menyalin dengan sangat sedikit perubahan.
3. Tenaga Pengajar dan Pelajar Madrasah Nizamiyah Bagdad
Guru-guru dan ulama-ulama yang termashur serta memiliki kompetensi di bidangnya dipilih untuk mengajar di madrasah ini. Pengajar selalu dibantu seorang pembantu. Pembantu berfungsi sebagai asisten guru. Tugasnya menjelaskan bagian-bagian yang sulit dipahami setelah guru memberikan kuliah.16 Status dosen ditekan pengangkatan dari khalifah dan bertugas dengan masa tertentu.17
Nizam juga menyediakan beasiswa dan memberi fasilitas asrama. Mereka yang tinggal di asrama diberi belanja secukupnya. Ia memberikan bantua kepada pelajar tanpa mengharap kembali.
4. Pendanaan dan Sarana Madrasah Nizamiyah
Dalam pembangunan madrasah, Nizam menyediakan dana wakaf untuk membiayai mudarris, imam dan mahasiswa yang menerima beasiswa. Dengan dana itu, ia menddirikan madrasah-madrasah Nizamiyah hampir seluruh wilayah
kekuasaan bani Saljuk. Ia mendirikan perpustakaan dengan kurang lebih 6.000 jilid buku lengkap dengan katalognya.18
C. Pengaruh Madrasah Nizamyiah
Madrasah Nizamiyah sedikit demi sedikit mengalami kemunduran setelah wafatnya Nizam al-Mulk. Madrasah yang sistem pendidikan dan organisasinya ditiru di Eropa ini sempat berjaya sampai akhir abad ke-14, ketika Timur Lenk menghancurkan Baghdad. Timur lenk dengan bala tentaranya menyerbu kota Baghdad dan menghancurkan segala peradaban serta membantai ribuan orang di
16 Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam: Pada Periode Klasik..., 67
17 Nina M. Armando (ed. Bahasa), Ensiklopedia.., 224
18 Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam: Pada Periode Klasik..., 71
wilayah yang ditaklukkannya. Baghdad hancur lebur sekitar tahun 1393 M.19 Meskipun deskipun demikian, banyak pengaruh yang ada sejak berdirinya madrasah Nizamiah. Pengaruh tersebut di antaranya;
1. Dari Nizam Al-Mulk sebagai pejabat pemerintahan yang memiliki andil besar dalam pendirian dan penyebaran madrasah, kedudukan dan kepentingannya dalam pemerintahan merupakan sesuatu yang sangat menentukan.
2. Dari segi ekonomi, madrasah ini ada dimaksudkan untuk mempersiapkan pegawai pemerintah khususnya di hukum dan administrasi.
3. Dari segi sosial keagamaan, madrasah ini diterima masyarakat karena sesuai lingkungan.20
4. Kekuatan madrasah Nizamiyah adalah pengakuan negara. Madrasah ini telah mencatat nama besar dan orang yang mengabdi dirinya sebagai tenaga pengajar.
19 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000), 120
20 Abuddin Nata, Sejarah..., 72
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Latar belakang banyaknya berdiri madrasah tersebut yaitu:mengambil hati rakyat, mengharapkan pahala dan ampunan daripada Tuhan, memelihara kehidupan anaknya kemudian hari, memperkuat aliran keagaman bagi sultan atau pembesar.
Madrasah Nizamiyah didirikan oleh Nizam al-Mulk. Madrasah Nizamiyah ini termashur seluruh dunia. Madrasah Nizamiyah Bagdad adalah yang terbesar dan terpenting dari semua madrasah itu. Madrasah Nizamiah Bagdad terletak di dekat sungai Dijlah di tengah-tengah pasar Salasah di Bagdad. Madrasah ini dibangun pada tahun 457H/1065M selesai tahun 459H. Madrasah ini tetap hidup sampai pertengahan abad ke- 14 Masehi yaitu dikunjungi oleh Ibnu Batutah.
Sistem pendidikan di Madrasah Nizamiyah secara sederhana memiliki komponen sebagai berikut: tujuan pendidikan madrasah Nizamiyah, kurikulum dan Metode Pengajaran madrasah Nizamiyah Bagdad, tenaga pengajar dan pelajar Madrasah Nizamiyah Bagdad, pendanaan dan sarana Madrasah Nizamiyah
Pengaruh tersebut di antaranya: Nizam Al-Mulk sebagai pejabat pemerintahanyang memiliki andil besar dalam pendirian dan penyebaran madrasah,madrasah ini untuk mempersiapkan pegawai pemerintah khususnya di hokum dan administrasi, madrasah ini diterima masyarakat, madrasah ini telah mencatat nama besar dan orang yang mengabdi dirinya sebagai tenaga pengajar.
B. Saran
Demikianlah makalah ini penulis buat , semoga dapat bermanfat bagi kita semua.
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karna itu penulis memintak kritik dan saran dari pembaca baik dari kelengkapan isi dan aturan penulis makalah yang bner agar dapat menyempurnakan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Nata, Abuddin, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.
--- Sejarah Pendidikan IslamPada Periode Klasik dan Pertengahan, Jakarta: Rajawali Pers, 2013.
Nasril, Sejarah Pendidikan Islam, Solok: Lembaga Pendidikan dan Pelantikan Balai Insan Cendekia,2019.
Nizar, Samsul, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008.
Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, dari Zaman Nabi Muhammad SAW., Khalifah Rasyidin, Bani Umayyah dan Abbasiyah sampai zaman mamluks dan umayyah turki, Jakarta: Mutiara Cetakan Pertama, 1996.