Presentasi tugas green manufaktur
- Kelompok II -
Anggota Kelompok
Puan Maryam Leaongso (202172001)
Sari Gentry Habayasya Kilian (202172095
Ricy Aditya (202172037)
pokok pembahasan
1. Manajemen Green Manufaktur
2. Perancangan Lingkungan Manufaktur
3. Perancangan Manufaktur (DFM) dan Perancangan Perakitan (DFA)
Manajemen Green Manufaktur
Manajemen manufaktur hijau adalah studi tentang bagaimana
mengelola siklus materi dan aliran energi dalam aktivitas kegiatan manufaktur, mempelajari dampak siklus materi dan aliran energi terhadap lingkungan hidup. Secara umum manajemen manufaktur juga mempelajari pengaruh faktor social-ekonomi-politik dan aspek hukum terhadap siklus materi dan aliran energi, serta mengkaji
pengaruh penggunaan dan transformasi sumber daya alam oleh
kegiatan industri dan manufaktur terhadap kualitas lingkungan
hidup
Siklus materi dan aliran energi
Dalam sistem manfaktur dapat dianalogikan sebagai interaksi sistem manufaktur dengan sistem lingkungan alam di
sekitarnya atau disebut sebagai metabolisme manufaktur.
Metabolisme manufaktur sama dengan metabolisme dalam
tubuh manusia dimana terdapat bahan baku (makanan), proses (pencernaan), produk (kerja) dan entropi (kerugian berupa
kotoran atau limbah). Konsep metabolisme manufaktur
mengkaji masalah pengintegrasian proses-proses fisik yang
mengonversikan bahan baku, energi dan tenaga kerja menjadi produk akhir dan limbah. Faktor ouput tenaga kerja dalam
proses produksi dan output produk untuk konsumen berperan
sebagai komponen manusia dapat dijadikan alat pengontrol
stabilitas proses produksi dalam suatu kegiatan manufaktur
yang berwawasan lingkungan.
Prinsip dasar mewujudkna teori ekologi dalam sistem
green manufaktu
Enam prinsip dasar yang harus dilakukan dalam mewujudkan teori ekologi pada sistem manufaktur hijau adalah:
1. Menciptakan ekosistem industri dengan cara: i) maksimumkan penggunaan material input yang dapat didaur ulang di dalam sistem produksi, ii) mengoptimalkan pemanfaatan material dan energi yang
terbarukan, iii) melakukan minimisasi limbah, iv) melakukan evaluasi ulang terhadap limbah yang terjadi untuk dapat digunakan kembali pada proses (menjadi produk) lain.
2. Menyeimbangkan antara material input dan output produksi terhadap kemampuan ekosistem alami (daya tampung lingkungan)
3. Dematerialisasi material produk output manufaktur
4. Memperbaiki lintasan (pathways) proses-proses manufaktur dan penggunaan material
5. Menggunakan pola-pola sistemik dalam menggunakan energ
6. Membuat kebijakan jangka panjang dan perspektif pengembangan system manufaktur hijau
Berdasarkan atas uraian dan penjelasan tersebut maka paling tidak terdapat 6 (enam) kriteria tolok ukur keberhasilan
penerapan manajemen manufaktur hijau pada suatu manufaktur. Keenam kriteria tersebut adalah:
1. Keseluruhan kegiatan manufaktur efisien dan efektif
menggunakan material dan energi pada proses-proses kegiatan manufaktur.
2. Efisien dalam aspek ekonomi dan efisien pada aspek ekologi (eco-efficient).
3. Minimum menghasilkan entropy berupa limbah dan pencemaran (minimum waste and pollutant).
4.Manufaktur menghasilkan output product yang ramah
lingkungan (eco-friendly product; green-product; ecoproduct).
5. Manufaktur beroperasi secara berkelanjutan (sustainable).
6. Menggunakan material dan energi (sumber daya alam)
terbarukan (renewable resources).
Perancangan Lingkungan Manufaktur
Perancangan lingkungan (Design for Environment = DfE) adalah kegiatan
perencanaan sistemik atas keseluruhan detail enjinering desain manufaktur yang apresiatif terhadap lingkungan hidup. Detail enjinering perancangan manufaktur yang dimaksud meliputi; perancangan keselamatan dan
kesehatan lingkungan manufaktur, perancangan keselamatan dan kesehatan konsumen pemakai produk, perancangan perlindungan sumber daya dan
integritas ekologi, pencegahan pencemaran dan reduksi penggunaan bahan toksik, merancang produk yang mudah ditranspotasi (transportability) guna menghemat energi, perancangan meminimalisir limbah, merancang produk yang mudah dibongkar (disassembly) dan mudah dibuang, merancang produk yang mudah didaur ulang (recyclability) dan dimanufaktur ulang
(remanufacturability).
Perancangan Manufaktur Hijau
Dalam rangka mengintegrasikan perancangan ekologi manufaktur hijau ke dalam proses pengembangan produkproduk baru, maka elemen-elemen
kunci yang dipersyaratkan dalam perancangan ekologi manufaktur hijau adalah:
1. Ukuran atau nilai eko-efisiensi yang dikendalikan oleh kebutuhan-
kebutuhan dasar konsumen, dan tujuan kegiatan perusahaan manufaktur guna menopang dayaguna serta ketahanan lingkungan.
2. Praktik-praktik perancangan ekoefisiensi harus dilandasi dengan
penggunaan teknologi yang relevan dan ramah lingkungan, serta didukung oleh adanya petunjuk rekayasa enjinering jelas.
3. Metode analisis ekoefisiensi digunakan untuk menilai maksud dan tujuan perancangan yang memperhatikan ukuran atau nilai ekoefisiensi, dan
menganalisis biayabiaya serta kualitas produk yang hendak dipasarkan.
Praktik-praktik perancangan ekologi manufaktur hijau yang lazim digunakan oleh manufaktur pada akhir-akhir ini adalah:
1. Melakukan substitusi bahan baku produks 2. Mereduksi sumber limbah
3. Mereduksi penggunaan bahan kimia 4. Mereduksi jumlah penggunaan energi 5. Memperpanjang usia pakai produk
6. Perancangan daya pemisahan dan daya pembongkaran limbah minimum sejak awal proses produksi sampai pada produk akhir.
8. Perancangan daya/kemampuan untuk dapat dibuang
9. Perancangan kemampuan material untuk dapat didaur ulang (reusability) 10. Perancangan remanufacture
11. Perancangan pemulihan energi
Perancangan Manufaktur (DfM) dan Perancangan Perakitan (DfA)
Perancangan Manufaktur (DfM) dan Perancangan Perakitan (DfA)
Tien-Chien Chang (dalam Computer-Aided Manufacturing, 1998) menyebutkan bahwa kegiatan perancangan manufaktur (DfM) dan perancangan perakitan (DfA) yang terintegrasi ke dalam disain produk, dan perancangan proses
merupakan (telah menjadi) suatu aktivitas/kegiatan yang berlaku secara umum. Tujuannya yaitu untuk mendisain sebuah produk manufaktur yang dapat diproduksi secara mudah dan ekonomis. Pentingnya merancang
manufaktur (DfM) ditandai oleh adanya fakta yang menyatakan bahwa sekitar 70% dari biaya pembuatan produk (antara lain; biaya bahan baku, biaya proses/pengolahan dan perakitan) sangat ditentukan oleh keputusan pada saat mendesain produk, sedangkan keputusan pada saat produksi,
biaya-biaya yang ditimbulkan pada perencanaan proses produksi dan seleksi penggunaan mesin hanya dapat dipertanggungjawabkan sebesar 20%.
pada keseluruhan system manufaktur. Terdapat 10 prinsip dasar dalam kegiatan merancang manufaktur (DfM), dan kegiatan
merancang perakitan produk manufaktur (DfA):
Prinsip Pertama: Mengurangi Jumlah Bagian Komponen dalam Produk
1.
Prinsip Kedua: Mengembangkan Desain Modul.
2.
Prinsip Ketiga: Gunakan Komponen Standard.
3.
Prinsip Keempat: Desain Bagian untuk menjadi MultiFungsional.
4.
Prinsip Kelima: Mendesain Bagian menjadi Multi-Guna.
5.
Prinsip Keenam: Desain untuk Kemudahan Fabrikasi.
6.
Prinsip Ketujuh: Menghindari Penggunaan Pengikat Terpisah.
7.
Prinsip Kedelapan: Meminimisasi Perakitan secara Langsung.
8.
Prinsip Kesembilan: Memaksimumkan Pentaatan Peraturan (compliance).
9.
Prinsip Kesepuluh: Meminimumkan Penanganan (handling).
10.
- Terima Kasih -