• Tidak ada hasil yang ditemukan

profil interaksi sosial peserta didik tunarungu dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "profil interaksi sosial peserta didik tunarungu dalam"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PROFIL INTERAKSI SOSIAL PESERTA DIDIK TUNARUNGU DALAM BELAJAR DI SMK N 4 PADANG

ARTIKEL

Oleh:

SHENDI RESIVA NPM: 12060217

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT PADANG

2016

(2)

PROFIL INTERAKSI SOSIAL PESERTA DIDIK TUNARUNGU DALAM BELAJAR DI SMK N 4 PADANG

Oleh:

Shendi Resiva * Ahmad Zaini, S.Ag., M.Pd**

Besti Nora Dwi Putri, M.Pd., Kons**

Mahasiswa Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRACT

This research is motivated their students with hearing impairment have difficulties in interacting during school hours with their friends and teachers. The purpose of this study describe: 1) verbal interaction of learners with hearing impairment in learning, 2) physical interaction of learners with hearing impairment in learning, and 3) emotional interaction of learners with hearing impairment in learning. This study used a qualitative approach that is descriptive. The key informant that two students with hearing impairment, and that additional informants BK teacher and teacher assistant learners with hearing impairment. Instruments used interview guides. Analysis of the data in the form of data reduction, data presentation, and conclusion. Results of the study revealed that: 1) verbal interaction, oral communication learners with hearing impairment is still not able to communicate properly because of a lack of confidence of learners with hearing impairment, 2) the interaction of physical, body language learners with hearing impairment difficulties in using sign language so that interaction into rigid, 3 ) emotional interaction, learners with hearing impairment have difficulty understanding the lessons given by teachers as more use the lecture method.

(3)

2

PROFIL INTERAKSI SOSIAL PESERTA DIDIK TUNARUNGU DALAM BELAJAR DI SMK N 4 PADANG

Oleh:

Shendi Resiva * Ahmad Zaini, S.Ag., M.Pd**

Besti Nora Dwi Putri, M.Pd., Kons**

Mahasiswa Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya peserta didik tunarungu mengalami kesulitan dalam berinteraksi saat jam pelajaran dengan teman-temannya dan guru. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan: 1) Interaksi verbal peserta didik tunarungu dalam belajar, 2) Interaksi fisik peserta didik tunarungu dalam belajar, dan 3) Interaksi emosional peserta didik tunarungu dalam belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Informan kunci yaitu dua orang peserta didik tunarungu, dan Informan tambahan yaitu guru BK dan guru pendamping peserta didik tunarungu. Instrumen yang digunakan pedoman wawancara. Analisis data berupa reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa: 1) Interaksi verbal, komunikasi lisan peserta didik tunarungu masih belum bisa berkomunikasi dengan baik karena kurangnya kepercayaan diri peserta didik tunarungu, 2) Interaksi fisik, bahasa tubuh peserta didik tunarungu kesulitan dalam menggunakan bahasa isyarat sehingga interaksinya menjadi kaku, 3) Interaksi emosional, peserta didik tunarungu mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran yang diberikan oleh guru karena lebih banyak menggunakan metode ceramah.

Kata Kunci: Interaksi sosial dan tunarungu PENDAHULUAN

Di era globalisasi ini pemerintah Indonesia menyelenggarakan program wajib belajar. Sehubungan dengan itu UU No. 20 tahun 2003 menjelaskan tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 6 ayat 1 yang menyatakan bahwa mewajibkan warga negara berusia 7-15 tahun mengikuti pendidikan dasar. Dalam hal ini setiap Warga Negara Indonesia wajib mendapatkan pendidikan yang selayaknya sebagai bekal bagi individu untuk dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat nantinya. Dengan demikian berdasarkan ketetapan pemerintah tersebut mengenai program wajib belajar, setiap anak diwajibkan untuk mengikuti pendidikan secara formal.

Pendidikan formal merupakan kegiatan yang sistematis, berstruktur, bertingkat dimulai dari Sekolah Dasar sampai ke Perguruan Tinggi dan yang setaraf dengannya, termasuk di dalamnya adalah kegiatan studi yang berorientasi akademis dan umum.

Namun demikian pendidikan formal tidak

hanya diwajibkan pada peserta didik reguler (normal) saja namun juga bagi siswa berkebutuhan khusus. Dalam UU No. 20 tahun 2003 pasal 5 ayat 1 menjelaskan “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”.

Selanjutnya pada pasal 5 ayat 2 menyatakan bahwa warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.

Oleh karena itu, untuk memperoleh pendidikan tidak hanya diberlakukan pada siswa reguler saja, melainkan siswa berkebutuhan khusus pun mempunyai hak yang sama dengan siswa reguler. Sekolah inklusi merupakan wadah bagi siswa-siswi berkebutuhan khusus untuk belajar dan dapat mengembangkan kemampuan yang ada pada dirinya.

Pendidikan inklusi merupakan layanan pendidikan yang disediakan untuk semua anak Indonesia. Tarmansyah (2009:1), mengemukakan bahwa:

(4)

Inklusi merujuk pada layanan pendidikan untuk semua, dengan fokus spesifik pada mereka yang rentan terhadap marjinalisasi dan pemisahan.

Pendidikan untuk semua didasarkan atas deklarasi universal tentang Konvensi Hak Asasi Manusia tahun 1948. Konvensi tersebut menyatakan bahwa pendidikan dasar wajib bagi setiap anak. Akses pendidikan harus dipandang sebagai sebuah tantangan multisisi, dengan perhatian khusus kepada yang terpinggirkan.

Berdasarkan hal di atas, pendidikan inklusi merupakan pendidikan untuk semua anak tanpa terkecuali. Anak berkebutuhan khusus dididik bersama dengan anak normal untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkelainan yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas. Namun, masih terdapat penyelenggaraan pendidikan dengan cara memisahkan antara anak berkebutuhan khusus dengan anak normal pada sistem sekolah khusus dan sekolah reguler. Kebijakan ini dipandang sebagai salah satu sifat deskriminatif yang bertentangan dengan nilai-nilai moral dan hak azasi manusia.

Sekolah inklusi sebagai sekolah yang menggabungkan peserta didik yang berkebutuhan khusus dan reguler (normal) dapat mengikuti proses belajar mengajar bersama. Di samping itu, Sekolah inklusi memiliki struktur organisasi yang sama dengan sekolah umum, hanya saja kurikulumnya yang berbeda. Di sisi lain guru kelas melakukan pelatihan khusus untuk membantu beberapa peserta didik yang memiliki keterbatasan untuk mengoptimalkan hasil belajar peserta didiknya agar antar siswa berkebutuhan khusus dengan siswa reguler memiliki kesetaraan nilai. Hal ini merupakan perhatian khusus dalam memahami keberhasilan peserta didik pada pendidikan inklusi di SMK N 4 Padang.

SMK Negeri 4 Padang merupakan salah satu sekolah penyelenggara pendidikan inklusi yang cukup dikenal di kota Padang.

Pengelompokan peserta didik dilakukan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan yang mereka miliki, begitu juga dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Peserta didik berkebutuhan khusus diberikan kebebasan untuk berinteraksi dengan siapa saja, baik sesama teman sebaya, guru, ataupun staf

pengajar lainnya yang ada di lingkungan sekolah.

Dalam berinteraksi senantiasa didalamnya mengimplikasikan adanya komunikasi antar pribadi. Atas dasar itu, Shaw (Asrori 2006:88) membedakan interaksi menjadi tiga jenis, yaitu interaksi verbal, interaksi fisik, dan interaksi emosional.

Interaksi verbal terjadi apabila dua orang atau lebih melakukan kontak satu sama lain dengan menggunakan alat-alat artikulasi. Prosesnya terjadi dalam bentuk saling tukar percakapan satu sama lain. Interaksi fisik terjadi manakala dua orang atau lebih melakukan kontak dengan menggunakan bahasa-bahasa tubuh.

Misalnya, ekspresi wajah, posisi tubuh, gerak-gerik tubuh, dan kontak mata. Interaksi emosional terjadi manakala individu melakukan kontak satu sama lain dengan melakukan curahan perasaan. Misalnya, mengeluarkan air mata sebagai tanda sedih, haru, atau bahkan terlalu bahagia.

Hal ini dilandasi oleh kenyataan di lapangan, bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkelainan yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas.

Namun, masih terdapat penyelenggaraan pendidikan dengan cara memisahkan antara anak berkebutuhan khusus dengan anak normal pada sistem sekolah khusus dan sekolah reguler’ Kebijakan ini menurut peneliti dipandang sebagai salah satu sifat deskriminatif yang bertentangan dengan nilai- nilai moral dan hak azasi manusia.

Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan bantuan orang lain, karena manusia tidak lepas dari proses atau hubungan dengan manusia lainnya (termasuk peserta didik berkebutuhan khusus). Hal ini didukung oleh pernyataan Havighurst (Yusuf, 2009:95) bahwa ’’Selain dari proses belajar yang terjadi di sekolah, sekolah juga mempunyai peranan atau tanggung jawab penting dalam membantu peserta didik untuk mencapai tugas perkembangannya”. Sehubungan dengan hal ini, sekolah seharusnya berupaya untuk menciptakan iklim yang kondusif atau kondisi yang dapat memfasilitasi peserta didik untuk mencapai perkembangannya. Tugas-tugas perkembangan itu menyangkut aspek kematangan dalam berinteraksi sosial.

Sehubungan dengan hal di atas, Riduwan (2008:134) menyatakan bahwa

“Tugas-tugas perkembangan peserta didik adalah serangkaian tugas yang perlu dipenuhi oleh peserta didik remaja, yang jika berhasil dipenuhi membawa rasa sejahtera dan bahagia, dan jika gagal akan mengalami

(5)

4 kesulitan pada pemenuhan tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa”. Dengan demikian, tugas perkembangan merupakan serangkaian tugas yang harus dapat dicapai oleh setiap individu agar tercapainya tugas perkembangan berikutnya yang lebih baik.

Pencapaian tugas-tugas perkembangan bagi peserta didik berkebutuhan khusus sangat penting dalam kehidupannya sebagai makhluk sosial. Tugas perkembangan peserta didik berkebutuhan khusus sama dengan tugas perkembangan peserta didik normal lainnya, karena mereka sama-sama melewati proses tumbuh dan berkembang, sesuai dengan usia yang mereka lewati.

Salah satu tugas perkembangan yang harus dicapai oleh peserta didik berkebutuhan khusus adalah tugas perkembangan interaksi sosial. Peserta didik berkebutuhan khusus harus dapat berinteraksi dengan baik antar sesama atau teman sebaya, dengan guru, dan dengan siapa saja di lingkungan sekolah selama belajar, sesuai dengan tuntutan tugas perkembangan interaksi sosial remaja. Pada dasarnya pencapaian tugas perkembangan interaksi sosial tidak hanya pada peserta didik yang berkebutuhan khusus atau berkemampuan rendah saja, tetapi juga harus dicapai oleh peserta didik yang berkemampuan tinggi dan berkemampuan rata-rata (peserta didik normal). Namun peneliti lebih memfokuskan penelitian kepada pencapaian tugas perkembangan interaksi sosial peserta didik yang abnormal atau anak yang berkebutuhan khusus penyandang tunarungu.

Menurut Ali dan Asrori (2006:96) ada empat tahapan proses penyesuaian diri di lingkungan sekolah yang harus dilalui peserta didik berkebutuhan khusus selama membangun interaksi sosial, yaitu:

1. Anak dituntut agar tidak merugikan orang lain serta menghargai dan menghormati orang lain.

2. Anak dididik untuk menaati peraturan- peraturan dan menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok.

3. Anak dituntut untuk lebih dewasa didalam melakukan interaksi sosial berdasarkan asas saling memberi dan menerima.

4. Anak dituntut untuk memahami orang lain.

Empat tahapan proses penyesuaian diri di lingkungan sekolah di atas menjadi perhatian khusus dalam penelitian ini.

Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan terhadap peserta didik berkebutuhan khusus penyandang tunarungu di SMK N 4 Padang pada tanggal 5 September

2015 terlihat bahwa peserta didik tunarungu sulit dalam berinterekasi dengan teman- temanya dan guru disaat jam pelajaran, seperti pada saat di kelas lebih mengasingkan diri dan duduk sendiri di dalam kelas, tidak diikutsertakan oleh teman dan gurunya apabila saat ada kegiatan, mengalami kesulitan dalam menjalin emosi positif saat bergaul dengan teman sebanyanya, lambat dalam beraktifitas, dan peserta didik tunarungu juga sering dijadikan bahan olokan atau ejekan oleh teman-temannya, sehingga membuat peserta didik tunarungu merasa minder terhadap teman ataupun dengan gurunya.

Selanjutnya hasil wawancara yang dilakukan dengan guru BK pada tanggal 6 September 2015 di SMK N 4 Padang diperoleh informasi bahwa keterbatasan yang dimiliki oleh peserta didik tunarungu yang tergolong tunadaksa membuat mereka lambat dalam beraktifitas sosial, yang menjadi hambatan mereka dalam berinteraksi sosial dengan teman sebaya dan guru di lingkungan sekolah, hal ini yang membuat peserta didik ini menjadi tidak percaya diri ketika berintraksi dalam kelas seperti bertanya kepada gurunya. Peserta didik tunarungu juga mengalami kesulitan dalam pengontrolan diri dan sikap yang membuat teman ataupun gurunya menjadi takut jika berdekatan saat belajar. Memilih menyendiri mengakibatkan peserta didik tunarungu tidak memiliki teman dekat. Hal inilah yang dijadikan landasan bagi penulis untuk melakukan penelitian ini yang berjudul “Profil Interaksi Sosial Peserta Didik Tunarungu dalam Belajar di SMK N 4 Padang”.

Mengingat luasnya ruang lingkup yang diteliti untuk lebih terarahnya penelitian ini, maka fokus penelitiannya yaitu:

1. Interaksi verbal peserta didik tunarungu dalam belajar.

2. Interaksi fisik peserta didik tunarungu dalam belajar.

3.

Interaksi emosional peserta didik tunarungu dalam belajar.

Berdasarkan batasan masalah di atas maka dapat dirumuskan“bagaimana interaksi sosial peserta didik tunarungu dalam belajar di SMK N 4 Padang?”

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan:

1. Interaksi verbal peserta didik tunarungu dalam belajar.

2. Interaksi fisik peserta didik tunarungu dalam belajar.

3. Interaksi emosional peserta didik tunarungu dalam belajar.

(6)

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Lufri (2005:56) mengemukakan “Penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan suatu gejala, fakta, peristiwa atau kejadian yang sedang atau sudah terjadi”.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berupa wawancara. Menurut Yusuf (2005:278) bahwa wawancara (interview) adalah suatu kejadian atau proses interaksi antara pewawancara (intervieweer) dengan responden atau orang yang diwawancarai (interviewee) melalui komunikasi langsung. Menjamin keabsahan data dan kepercayaan data penelitian yang peneliti peroleh dapat dilakukan dengan cara, yaitu; 1) kepercayaan (credibility), 2) keteralihan (transferability), 3) dapat dipercaya (depenability). Data ini diuji dengan melakukan triangulasi dan mengadakan membercheck, setelah itu dianalisis dengan 3 tahap; 1) reduksi data (reduction data), 2) penyajian data (display data), dan 3) penarikan kesimpulan (verifikasi).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan temuan penelitian yang telah dilaksanakan, adapun pembahasannya sebagai berikut:

1. Interaksi Verbal Dilihat Berdasarkan Komunikasi Lisan

Temuan yang peneliti dapatkan tentang peserta didik dalam interaksi verbalnya yaitu, jarangnya peserta didik tunarungu berkomunikasi dengan teman maupun guru dalam setiap proses pembelajaran, sehingga menyebabkan peserta didik tunarungu semakin sulit untuk memahami apa yang dipelajarinya.

Dalam belajar peserta didik tunarungu masih belum bisa membuka diri dan tidak percaya diri untuk menonjolkan dirinya baik bertanya maupun berbicara disaat pelajaran, sehingga peserta didik tunarungu merasa kesulitan dalam setiap proses pembelajaran. Belajar seharusnya membuat peserta didik mampu berkomunikasi dengan baik secara langsung dalam keadaan apapun pada saat proses pembelajaran itu berjalan. Peserta didik tunarungu tidak pernah menggunakan alat bantu apapun dalam berkomunikasi pada saat belajar maupun tidak. dan temannya terlihat jarang sekali berdiskusi atau hanya sekedar bertanya

kepada teman atau guru ketika ada pelajaran yang tidak dipahaminya.

Setidaknya peserta didik tunarungu lebih sering melatih komunikasi dengan teman dan guru dengan keterbatasan yang dimilikinya, agar dalam setiap hal yang tidak dimengerti olehnya, peserta didik tunarungu mampu mengungkapkan dan tidak selalu merasa kesulitan dalam belajar, agar teman dan guru mengerti dengan apa saja kesulitan yang dialami oleh peserta didik tunarungu.

Menurut Somad & Ernawati (1995:35) karena anak tunarungu tidak bisa mendengar bahasa, kemampuan berbahasanya tidak akan berkembang bila ia tidak dididik atau dilatih secara khusus.

Akibat ketidakmampuannya dibandingkan dengan anak yang mendengar dengan usia yang sama, maka dalam perkembangannya bahasanya akan jauh tertinggal.

Walaupun sudah dididik secara khusus banyak diantara mereka yang tetap ketinggalan 2 sampai 4 tahun dalam kemampuan membaca dan menulis jika dibandingkan dengan anak yang mendengar. salah satu aspek kemampuan berkomunikasi ialah kemampuan berbicara. Pada anak tunarungu kemampuan bicara akan berkembang dengan sendirinya, tetapi memerlukan upaya terus menerus serta latihan dan bimbingan secara profesional. Dengan cara demikianpun masih banyak diantara mereka yang tidak dapat berbicara seperti orang yang mendengar pada umumnya, baik suara, irama dan tekanan suara terdengar monoton berbeda dengan anak normal. Hal ini terjadi karena mereka tidak pernah atau sedikit sekali mendapatkan umpan balik untuk mengontrol suara dan ucapannya sendiri melalui pendengarannya. Umpan balik yang mereka peroleh untuk mengontrol bicaranya hanya diperoleh secara visual atau mungkin ditambah perabaan dan gerak.

Proses interaksi verbal yang dimiliki oleh peserta didik AN dan NF bukan hanya dari diri mereka sendiri, melainkan peran orang tua yang juga sangat berperan penting dalam interaksi tersebut. Karena anak mulai bisa berkomunikasi secara lisan tentunya dari orang tua yang mengasuh dan mengajrkannya pertama kali, sehingga bagaimana cara peserta didik untuk berkomunikasi dengan baik bisa terbentuk,

(7)

6 dan dapat dipahami oleh pesrerta didik dan juga orang-orang yang ada dilingkungan peserta didik tersebut.

2. Interaksi Fisik Dilihat Berdasarkan Bahasa Tubuh

Temuan yang peneliti dapatkan setelah dilakukannya penelitian yaitu, peserta didik tunarungu sulit menyesuaikan diri dalam bersikap dan berkomunikasi dengan teman-teman dan guru ketika ada tugas berkelompok, peserta didik tunarungu sulit menggunakan bahasa isyarat dengan teman-temannya sehingga menghambat proses pembelajaran yang berlangsung pada saat itu. Bahasa tubuh yang dimaksudkan yaitu, bagaimana pola tingkah laku yang dimiliki peserta didik tunarungu terhadap lingkungan sekitarnya terutama pada saat belajar. Sebagai penyandang tunarungu tentunya peserta didik memiliki cara berkomunikasi sendiri dengan lingkungannya seperti menguasai beberapa bahasa isyarat, namun bahasa isyarat tersebut tidak selalu membantu peserta didik tunarungu dalam proses pembelajaran.

Setidaknya peserta didik tunarungu lebih memperhatikan lagi bahasa isyarat yang dipergunakan dalam bersikap dan berkomunikasi dengan teman serta guru di setiap proses belajar, baik berkelompok maupun secara individu agar terjalinnya hubungan komunikasi yang baik dalam proses pembelajaran tersebut dan peserta didik tunarungu bisa lebih mengerti dengan pelajaran yang diterimanya.

Belajar kelompok merupakan salah satu tugas yang diberikan setiap guru selain adanya tugas secara individu.

Belajar kelompok bukan hanya untuk menyelesaikan tugas pelajaran saja, tetapi dengan belajar kelompok akan membentuk suatu interaksi langsung antar anggota kelompok, yang menggunakan komunikasi langsung.

Menurut Somad & Ernawati (1995:35) umpan balik visual, perabaan dan gerak itu dilatih sebaik mungkin, ucapan anak tunarungu tidak akan sebaik anak yang mendengar , yang mendapatkan umapan balik lewat pendengarannya, karena itu bicara dan bahasa anak tunarungu pada awalnya sering kali sukar ditangkap, akan tetapi bila bergaul lebih lama dengan mereka kita akan terbiasa dengan cara bicara mereka sehingga akan

mempermudah kita dalam memahami maksud bicara anak tunarungu itu.

Dalam pendidikan inklusi bukan hanya anak berkebutuhan khusus penyandang tunarungu saja, namun ada ABK yang lainnya, tidak semua peserta didik dan guru menguasai bahasa tubuh dengan menggunakan bahasa isyarat tertentu pada peserta didik tunarungu, peserta didik tunarungu juga harus lebih sering berkomunikasi dan membuka diri dalam interaksi fisik pada proses belajarnya di sekolah, sehingga setiap orang yang ada dilingkungannya mampu memahami sedikit banyaknya tentang bahasa tubuh yang digunakan oleh peserta didik tunarungu.

3. Interaksi Emosional Dilihat Berdasarkan Curahan Perasaan

Berdasarkan temuan yang peneliti dapatkan setelah dilakukannya penelitian yaitu, sulitnya dalam menyampaikan apa yang dirasakan oleh peserta didik tuarungu karena keterbatasan yang dimilikinya, peserta didik tunarungu kurang membuka diri dalam berkomunikasi dengan teman dan guru sehingga kesulitan berbicara dan mendengar serta memahami pelajaran sangat dirasakan oleh peserta didik tunarungu. Dalam proses pembelajaran, guru juga harus memperhatikan peserta didik tunarungu dan peserta didik tunarungu serta ABK lainnya agar tidak mengalami kesulitan selama proses pembelajaran tersebut berlangsung.

Sulitnya peserta didik tunarungu dalam berbicara dan mendengar membuat pelajaran susah dimengerti oleh peserta didik tunarungu.

Metode pembelajaran yang lebih banyak menggunakan metode ceramah oleh guru, peserta didik penyandang tunarungu mengalami kesulitan dalam memahami apa yang disampaikan dalam pelajaran. Susah untuk memperhatikan guru saat menjelaskan. Dalam mengikuti proses pembelajaran, peserta didik tunarungu kesulitan untuk memperhatikan tiap-tiap penjelasan dan arahan dari guru yang menjelaskan karena tidak semua gerakan bibir ataupun bahasa isyarat guru yang dapat selalu dimengerti oleh peserta didik tuna rungu.

Setidaknya peserta didik tunarungu lebih percaya diri walaupun mempunyai kekurangan, sehingga kesulitan yang dirasakan oleh peserta didik tunarungu akan lebih diperhatikan oleh teman-teman

(8)

dan guru dalam setiap berkomunikasi, peserta didik tunarungu lebih membuka diri lagi dalam berkomunikasi dan sering bertukar pikiran dengan teman dan guru agar dapat dipahami kesulitan apa yang sedang dialami oleh peserta didik tunarungu. Guru juga harus memperhatikan metode-metode pembelajaran yang akan diberikan, tidak selalu menggunakan metode ceramah dimana peserta didik tunarungu sering kesulitan untuk memahami apa yang telah disampaikan. Peserta didik tunarungu juga harus mencoba membuka diri untuk mengungkapkan kesulitan-kesullitan yang dialaminya kepada teman dan guru agar mereka mengetahui apa yang dirasakan oleh peserta didik tunarungu.

Menurut Somad & Ernawati (1995:35) ketunarunguan dapat mengakibatkan terasing dari pergaulan sehari-hari, yang berarti mereka terasing dari pergaulan atau aturan sosial yang berlaku masyarakat dimana ia hidup.

Keadaan ini menghambat perkembangan kepribadian anak menuju kedewasaan.

Karena seringnya mengalami kekecewaan yang timbul dari kesukaran menyampaikan perasaan dan fikirannya kepada orang lain dan sulitnya dia mengerti apa yang disampaikan oleh orang lain kepadanya, hal ini bisa diekspresikan dengan kemarahan.

Akibat sukar memahami orang lain sering menimbulkan kejengkelannya.

Masalah ini pada anak tunarungu sangat erat kaitannya dengan kemampuan membaca ujaran. Anak-anak yang sukar membaca ujaran lebih banyak yang berwatak rewel dari pada anak-anak yang sukar berbicara, karena biasanya anak yang sukar berbicara juga suka membaca ujaran. Semakin luas bahsa yang mereka miliki semakin mudah pula mereka berbicara, serta semakin mudah memahami maksud orang lain. Anak akan menjadi semakin tenang dan menguasai diri, bahkan dapat menjadi orang yang berwatak tetap dan lembut hati.

Woodworth (Abu Ahmadi, 2007:48) mengatakan bahwa interaksi sosial meliputi pengertian:

a. Individu dapat bertentangan dengan lingkungan

b. Individu dapat menggunakan lingkungan

c. Individu dapat berpatisispasi (ikut- serta) dengan lingkungan

d. Individu dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan

Berdasarkan hal di atas individu tidak akan bersifat pasif, dia akan berusaha mempengaruhi, dan menguasai lingkungannya.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan pada tanggal 18-25 Juli 2016 tentang profil interaksi sosial peserta didik tunarungu di SMK N 4 Padang, dapat diambil kesimpulan bahwa:

1. Interaksi verbal peserta didik tunarungu dalam belajar, dengan keterbatasan yang dimiliki oleh peserta didik tuna rungu tidak memakai alat bantu apapun dalam berkomunikasi ketika belajar dan memerhatikan gerak bibir serta gerak tangan teman-temannya dalam berkomunikasi. Peserta didik masih menutup diri untuk lebih banyak berkomunikasi, setidaknya peserta didik memberanikan diri untuk lebih aktif berkomunikasi secara lisan dengan teman dan guru sehingga mampu memahami pelajaran.

2. Interaksi fisik peserta didik tunarungu dalam belajar, peserta didik masih sulit menggunakan bahasa isyarat dalam berkomunikasi dengan teman dan guru, sehingga sikap yang ditampilkan oleh teman dan gurupun tidak mengetahui apa yang sedang dirasakan oleh peserta didik.

Setidaknya peserta didik lebih melatih bahasa isyaratnya agar lebih memudahkan dalam berkomunikasi.

3. Interaksi emosional peserta didik tunarungu dalam belajar, peserta didik kesulitan dalam mendengar dan berbicara pada saat proses pembelajaran, sehingga membuat peserta didik kurang mengerti dan memahami pelajaran tersebut.

Setidaknya peserta didik lebih membuka dirinya untuk mampu bertanya atau berbicara ketika ada hal yang tidak dimengerti dalam pelajaran.

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka penulis menyarankan kepada berbagai pihak yang terkait sebagai berikut:

1. Peserta didik tunarungu, diharapkan untuk lebih percaya diri dan mengolah diri dengan kekurangan yang dimilikinya sehingga lingkunganpun memudahkan peserta didik dalam berkomunikasi.

(9)

8 2. Guru pendamping, sebagai guru

pendamping lebih mengenal lagi bagaimana watak peserta didik penyandang tunarungu dan lebih memahami kesulitan-kesulitan yang sering dialami oleh peserta didik tuna rungu.

3. Guru Bimbingan dan Konseling, sebagai guru BK tidak harus menunggu peserta didik untuk mengungkapkan kesulitan yang dialaminya, guru BK juga harus lebih memberikan perhatian kepadanya agar peserta didik tersebut bisa lebih terbuka dengan guru BK dengan tidak membedakan peserta didik lainnya.

4. Teman peserta didik tunarungu, sebagai teman harusnya memberikan ruang untuk peserta didik tunarungu dalam menonjolkan dirinya dan tidak membedakan teman dengan kekurangan yang dimilikinya.

5. Orang tua peserta didik tunarungu, lebih memperhatikan pola kehidupan yang dimiliki oleh peserta didik tunarungu dan lingkungan seperti apa yang harusnya dimiliki oleh peserta didik.

6. Peneliti selanjutnya, diharapkan bisa melakukan penelitian lanjutan bagaimana profil interaksi sosial peserta didik tunarungu dengan konteks indikator yang lain.

KEPUSTAKAAN

Ahmadi, Abu. 2007. Psikologi Sosial. Jakarta.

Rineka Cipta.

Ali, Mohammad & Mohammad Asrori. 2006.

Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik). Jakarta: Bumi Aksara.

Riduwan. 2008. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Tarmansyah. 2009. Perspektif Pendidikan Inklusif Pendidikan untuk Semua.

Padang: UNP Press.

Undang-undang No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Yusuf, LN., Syamsul. 2009. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.

Bandung: Remaja Rosdakarya.

Referensi

Dokumen terkait

PIYAKORN WHANGMAHAPORN LEVEL OF STUDY DOCTOR OF PHILOSOPHY IN PUBLIC ADMINISTRATION FACULTY GRADUATE COLLEGE OF MANAGEMENT SRIPATUM UNIVERSITY YEAR 2011 ABSTRACT The purpose of