• Tidak ada hasil yang ditemukan

profil kesehatan provinsi papua 2023

N/A
N/A
Otam Windesi

Academic year: 2025

Membagikan "profil kesehatan provinsi papua 2023"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)

Katalog : 4201003.94

https://papua.bps.go.id

(2)

https://papua.bps.go.id

(3)

PROFIL KESEHATAN PROVINSI PAPUA 2023

Katalog : 4201003.94 No. Publikasi : 94000.2332 Ukuran Buku : 21 cm x 29,7 cm Jumlah Halaman : vi + 106 halaman Naskah : BPS Provinsi Papua Penyunting : BPS Provinsi Papua Desain Kover : BPS Provinsi Papua Penerbit : ©BPS Provinsi Papua Pencetak : BPS Provinsi Papua

Dilarang mengumumkan, mendistribusikan, mengomunikasikan, dan/atau menggandakan sebagian atau seluruh isi buku ini untuk tujuan komersial tanpa izin tertulis dari Badan Pusat Statistik

https://papua.bps.go.id

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya “Profil Kesehatan Provinsi Papua 2023” dapat terselesaikan. Publikasi Profil Kesehatan Provinsi Papua 2023 merupakan output yang telah dihasilkan oleh Mahasiswa MSIB (magang Bersertifikat dan Studi Independen) Batch 4 BPS Provinsi Papua yang berkolaborasi dengan pegawai BPS Provinsi Papua.

Informasi yang dihasilkan dalam publikasi Profil Kesehatan Provinsi Papua 2023 berupa kesehatan penduduk Provinsi Papua, kesehatan anak Provinsi Papua, pembangunan kesehatan melalui perempuan usia subur, serta fertilitas dan implementasi KB Provinsi Papua. Buku ini diterbitkan dengan harapan dapat menambah analisis di bidang sosial yang mampu memperkuat evaluasi dan kebijakan pembangunan di bidang kesehatan.

Ucapan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya diucapkan kepada semua pihak yang telah turut membantu dalam penyusunan publikasi ini. Disadari bahwa dalam penerbitan publikasi ini masih terdapat kekurangan maupun kesalahan. Untuk itu, saran dan kritik membangun dari para pengguna publikasi ini sangat kami harapkan guna penyempurnaan di masa mendatang.

Jayapura, Juli 2023 Kepala BPS Provinsi Papua

Adriana Helena Carolina

https://papua.bps.go.id

(5)

TIM PENYUSUN

Pengarah:

Adriana Helena Carolina

Editor:

Windya Fajri Bonita

Penulis:

Alfaridho Navoleon Rifky Ibrahim Kelirey

Pengolah Data:

Alfaridho Navoleon Rifky Ibrahim Kelirey

Penata Letak:

Alfaridho Navoleon Rifky Ibrahim Kelirey

https://papua.bps.go.id

(6)

DAFTAR ISI

Halaman Cover

Halaman Katalog ii

Kata Pengantar iii

Daftar Isi v

Bab 1. Pendahuluan 1

1.1 Latar Belakang 3

1.2 Tujuan 6

1.3 Sumber Data 6

1.4 Sistematika Penulisan 6

Bab 2. Membangun Papua Melalui Kesehatan Penduduk

9 2.1 Tingkat Keluhan Kesehatan dan Angka Kesakitan di Provinsi Papua 13 2.2 Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan untuk Rawat Jalan dan Rawat Inap di

Provinsi Papua 14

2.3 Tingkat Kepemilikan dan Pemanfaatan Jaminan Kesehatan di Provinsi

Papua 20

2.4 Kebiasaan Merokok Penduduk di Provinsi Papua 23

Bab 3. Kesehatan Anak Provinsi Papua 27

3.1 Potret Kesehatan Anak di Provinsi Papua 30

3.2 Upaya Peningkatan kesehatan Anak 32

3.3 Kepemilikan Jaminan Kesehatan Anak Untuk Mencapai Cakupan

Kesehatan Universal 33

3.4 Imunisasi Sebagai Upaya Pencegahan dari berbagai penyakit 36 3.5 Pemberian ASI Sebagai Investasi kesehatan Anak Sejak Dini 39 Bab 4. Pembangunan Kesehatan Melalui Perempuan Usia Subur 41 4.1 Keluhan dan upaya Kesehatan yang Dilakukan Oleh Perempuan 43 4.2 Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan untuk Berobat Jalan dan Rawat Inap

Oleh Perempuan di Provinsi Papua 46

4.3 Tingkat Kepemilikan dan Pemanfaatan Jaminan Kesehatan Oleh

Perempuan di Provinsi Papua 48

https://papua.bps.go.id

(7)

Halaman Bab 5. Fertilitas dan Implementasi KB Provinsi Papua 51

5.1 Peran Fertilitas Kesehatan dalam Penanganan Proses Kelahiran di

Provinsi Papua 53

5.2 Potret Anak Lahir Hidup di Provinsi Papua 58

5.3 Implementasi KB pada Perempuan Usia Subur di Provinsi Papua 62

Lampiran 51

https://papua.bps.go.id

(8)

https://papua.bps.go.id

(9)

https://papua.bps.go.id

(10)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Constitution of the World Health Organization tahun 1946 mendefinisikan kesehatan sebagai suatu kondisi fisik, mental dan kesejahteraan sosial yang lengkap, bukan hanya sekadar tidak adanya penyakit (WHO, 2014). Kondisi sehat merupakan bagian dari hak asasi dari individu dan perwujudannya dijamin oleh negara melalui penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. Di Indonesia, upaya negara dalam melindungi hak kesehatan bagi penduduk tertuang dalam Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28H ayat (1) yang menyebutkan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Undang-Undang (UU) Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan juga menyebutkan bahwa setiap individu memiliki hak yang sama dalam memperoleh akses terhadap sumber daya kesehatan dan memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau. UU tersebut juga menegaskan jika negara menjamin hak atas hidup sehat bagi seluruh penduduk termasuk bagi masyarakat miskin dan tidak mampu.

Penelitian kesehatan sangat penting dalam memahami penyebab, mekanisme, dan perawatan potensial untuk berbagai masalah kesehatan. Pengetahuan ini sangat penting dalam mengembangkan intervensi efektif yang meningkatkan kesehatan individu dan populasi. Tanpa penelitian, penyedia layanan kesehatan dan pembuat kebijakan tidak akan memiliki informasi yang diperlukan untuk membuat keputusan tentang layanan kesehatan. Anak-anak dan perempuan usia subur adalah dua populasi rentan yang kesehatannya sangat penting dalam masyarakat. Penelitian kesehatan anak membantu dalam mengidentifikasi masalah kesehatan yang mempengaruhi anak-anak, seperti keterlambatan perkembangan, malnutrisi, dan penyakit menular. Ini juga membantu dalam mengembangkan intervensi yang efektif untuk mencegah dan mengobati kondisi ini. Penelitian tentang kesehatan perempuan usia subur sangat penting untuk memahami masalah kesehatan yang unik bagi perempuan usia subur, seperti keluhan dan upaya dalam menjaga kesehatan perempuan subur, kesehatan reproduksi yang baik, serta hal yang harus dihindari seperti kebiasaan merokok.

Perspektif masyarakat dari penelitian kesehatan pada anak-anak dan perempuan usia

https://papua.bps.go.id

(11)

Penelitian membantu dalam mengidentifikasi masalah kesehatan yang secara tidak proporsional memengaruhi anak-anak dan perempuan usia subur dari latar belakang yang kurang beruntung. Hal ini juga membantu dalam mengembangkan intervensi yang disesuaikan dengan kebutuhan khusus kelompok ini, sehingga meningkatkan hasil kesehatan mereka.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) pada tahun 2015 sebagai kerangka kerja untuk pembangunan berkelanjutan di berbagai sektor. Salah satu tujuannya, SDG 3, secara khusus berfokus pada peningkatan kesehatan dan kesejahteraan. Sasaran ini mencakup beberapa indikator kesehatan yang relevan dengan kesehatan anak dan perempuan subur, serta populasi lainnya. Banyak indikator kesehatan dalam SDGs yang relevan dengan kesehatan anak dan perempuan subur. Contohnya:

1. SDG 3.1 - Angka kematian ibu: Indikator ini mengukur jumlah kematian per 100.000 kelahiran hidup di kalangan perempuan usia subur. Indikator ini penting karena menyoroti kebutuhan untuk meningkatkan hasil kesehatan ibu, yang terkait erat dengan kesehatan dan kelangsungan hidup bayi baru lahir.

2. SDG 3.2 - Angka kematian neonatal: Indikator ini mengukur jumlah kematian dalam 28 hari pertama kehidupan per 1.000 kelahiran hidup. Ini merupakan indikator penting kesehatan anak, karena mengukur risiko kematian selama bulan pertama kehidupan yang rentan.

3. SDG 3.7 - Akses universal terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi:

Indikator ini mengukur persentase perempuan usia 15-49 tahun yang memiliki akses terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi. Indikator ini sangat penting untuk kesehatan perempuan subur, karena memastikan akses ke layanan keluarga berencana, perawatan antenatal, dan layanan kesehatan reproduksi penting lainnya.

4. SDG 3.8 - Cakupan kesehatan universal: Indikator ini mengukur persentase populasi yang memiliki akses ke layanan kesehatan esensial tanpa mengalami kesulitan keuangan. Indikator ini relevan untuk anak-anak dan perempuan subur, karena memastikan akses ke layanan kesehatan esensial untuk semua individu, terlepas dari status sosial ekonomi mereka.

5. Ringkasnya, beberapa indikator kesehatan dalam SDGs berkaitan dengan kesehatan anak dan perempuan usia subur. Indikator-indikator ini menyoroti kebutuhan untuk meningkatkan hasil kesehatan ibu dan anak, memerangi penyakit menular, dan memastikan akses universal ke layanan kesehatan esensial. Dengan menangani indikator-indikator ini, kita dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan individu

https://papua.bps.go.id

(12)

Jika berdasarkan bidang prioritas pembangunan pada RPJMD Provinsi Papua tahun 2019-2023 (Peraturan Daerah Provinsi Papua Nomor 3 Tahun 2019 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Papua Tahun 2019 - 2023) yang kita ketahui, indikator kesehatan dapat dikaitkan dengan kesehatan anak dan perempuan usia subur:

1. Kesehatan ibu dan anak: RPJMD Provinsi Papua 2019-2023 memprioritaskan peningkatan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak. Hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan ibu dan anak, termasuk pelayanan antenatal dan postnatal, pelayanan KB, dan program imunisasi. Upaya ini dapat membantu mengurangi kematian ibu, kematian bayi, dan meningkatkan hasil kesehatan anak.

2. Gizi: RPJMD Provinsi Papua mengakui pentingnya mengatasi kekurangan gizi, terutama pada anak-anak dan ibu hamil. Rencana tersebut menyerukan pelaksanaan program gizi, termasuk promosi ASI eksklusif, penyuluhan gizi, dan distribusi suplemen makanan.

3. Penyakit menular: Provinsi Papua dikenal memiliki beban penyakit menular yang tinggi, seperti malaria dan tuberkulosis. RPJMD Provinsi Papua menyerukan penguatan sistem surveilans penyakit, peningkatan akses ke layanan diagnostik dan pengobatan, dan mempromosikan kampanye kesadaran kesehatan masyarakat. Upaya ini dapat membantu mengurangi kejadian penyakit menular yang dapat berdampak signifikan terhadap kesehatan anak dan perempuan usia subur.

4. Kesehatan Reproduksi: RPJMD Provinsi Papua mengakui pentingnya mempromosikan kesehatan reproduksi, termasuk akses ke layanan keluarga berencana, layanan kesehatan ibu dan anak, dan pendidikan seksual. Upaya tersebut dapat membantu meningkatkan kesehatan ibu dan anak, menurunkan angka kematian ibu, dan mendorong tumbuh kembang anak yang sehat.

Singkatnya, RPJMD Provinsi Papua memprioritaskan peningkatan kesehatan ibu dan anak, penanganan gizi buruk, pengurangan beban penyakit menular, dan peningkatan kesehatan reproduksi. Prioritas ini sangat penting untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak dan perempuan usia subur di Provinsi Papua.

Dapat kita pahami bahwa penelitian kesehatan sangat penting untuk kemajuan suatu daerah, khususnya penelitian yang berkaitan dengan kesehatan anak dan perempuan usia subur.

Literatur menyoroti pentingnya melakukan penelitian di bidang ini, karena mereka seringkali

https://papua.bps.go.id

(13)

risiko penyakit pada anak, mengembangkan tindakan pencegahan yang tepat, dan meningkatkan strategi pengobatan. Demikian pula, penelitian tentang kesehatan perempuan usia subur dapat membantu mengidentifikasi faktor risiko masalah kesehatan ibu dan reproduksi dan mengarah pada pengembangan intervensi yang efektif untuk mengurangi kematian dan kesakitan ibu.

Singkatnya, penelitian kesehatan sangat penting untuk kemajuan suatu daerah, terutama penelitian tentang kesehatan anak dan perempuan usia subur. Dengan mengidentifikasi faktor risiko dan mengembangkan intervensi yang tepat, penelitian kesehatan dapat membantu mengurangi beban penyakit dan meningkatkan hasil kesehatan, yang pada akhirnya berkontribusi pada pembangunan suatu wilayah secara keseluruhan.

1.2 Tujuan

Untuk mengetahui tingkat kesehatan penduduk di Provinsi Papua.

Untuk mengetahui kesehatan perempuan usia subur di Provinsi Papua.

Untuk mengetahui kesehatan anak di Provinsi Papua

1.3 Sumber Data

Sumber data yang digunakan utamanya dari publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat yang bersumber dari SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional), Susenas ini dilaksanakan 2 kali dalam setahun. Dan dilakukan di seluruh indonesia termasuk Provinsi Papua. Susenas pada bulan Maret adalah Susenas besar yang mampu mengestimasi angka hingga Kabupaten/Kota.

1.4 Sistematika Penulisan

Secara sistematis, penulisan Publikasi Profil Kesehatan Provinsi Papua 2022 diurai ke dalam 5 bab, yakni sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan, menguraikan mengenai latar belakang, tujuan, sumber data, dan sistematika penulisan.

https://papua.bps.go.id

(14)

Bab II Membangun Papua Melalui Kesehatan Penduduk, meliputi subbab: tingkat keluhan kesehatan dan angka kesakitan di Provinsi Papua, pemanfaatan pelayanan kesehatan untuk rawat jalan dan rawat inap di Provinsi Papua, tingkat kepemilikan dan pemanfaatan jaminan kesehatan di Provinsi Papua, dan kebiasaan merokok penduduk di Provinsi Papua.

Bab III Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Melalui Kesehatan Anak, meliputi subbab: potret kesehatan anak Provinsi Papua, upaya peningkatan kesehatan anak, kepemilikan jaminan kesehatan anak untuk mencapai cakupan kesehatan universal, imunisasi sebagai upaya pencegahan dari berbagai penyakit dan pemberian ASI sebagai investasi kesehatan anak sejak dini.

Bab IV Pembangunan Kesehatan melalui perempuan di Provinsi Papua, meliputi subbab: keluhan kesehatan yang dilakukan oleh perempuan, pemanfaatan pelayanan kesehatan untuk berobat jalan dan rawat inap oleh perempuan di Provinsi Papua, dan tingkat kepemilikan dan pemanfaatan jaminan kesehatan oleh perempuan di Provinsi Papua.

Bab V Potret Fertilitas dan Implementasi penggunaan KB di Provinsi Papua meliputi subbab: peran fasilitas kesehatan dalam penanganan proses kelahiran di Provinsi Papua, potret anak lahir hidup di Provinsi Papua, dan implementasi KB pada perempuan usia subur di Provinsi Papua.

https://papua.bps.go.id

(15)

https://papua.bps.go.id

(16)

https://papua.bps.go.id

(17)

https://papua.bps.go.id

(18)

BAB 2

MEMBANGUN PAPUA MELALUI KESEHATAN PENDUDUK

Pentingnya pembangunan sektor kesehatan sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia telah disadari oleh Presiden Republik Indonesia, dan misinya tercantum dalam salah satu nawacita. Disertakannya berbagai target kesehatan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020- 2024 merupakan komitmen nyata pemerintah Indonesia untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat. Pembangunan kesehatan juga berfokus pada peningkatan kesehatan ibu dan anak karena adanya siklus intergenerasional dalam pembentukan modal manusia yang berkaitan dengan kesehatan. Mayer-foulkes (2004) menjelaskan bahwa pendapatan, kesehatan, dan pendidikan keluarga yang baik akan menentukan perkembangan anak yang selanjutnya akan berpengaruh pada tingkat kesehatan saat remaja serta kesempatan memperoleh pendapatan saat usia dewasa dan juga menentukan kualitas generasi selanjutnya.

Pentingnya pembangunan sektor kesehatan sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia telah disadari oleh Presiden Republik Indonesia, dan misinya tercantum dalam salah satu nawacita. Disertakannya berbagai target kesehatan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020- 2024 merupakan komitmen nyata pemerintah Indonesia untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat. Pembangunan kesehatan juga berfokus pada peningkatan kesehatan ibu dan anak karena adanya siklus intergenerasional dalam pembentukan modal manusia yang berkaitan dengan kesehatan. Mayer-foulkes (2004) menjelaskan bahwa pendapatan, kesehatan, dan pendidikan keluarga yang baik akan menentukan perkembangan anak yang selanjutnya akan berpengaruh pada tingkat kesehatan saat remaja serta kesempatan memperoleh pendapatan saat usia dewasa dan juga menentukan kualitas generasi selanjutnya.

Bonus demografi Indonesia diperkirakan akan terjadi pada tahun 2020-2035, ketika rasio ketergantungan mencapai titik terendah (Adioetomo, 2018). Manfaat dari fenomena tersebut dapat diperoleh ketika peningkatan proporsi penduduk usia produktif dibandingkan terhadap usia non produktif dapat memacu peningkatan pendapatan per kapita sehingga terjadi pertumbuhan ekonomi. Adioetomo (2018) menyebutkan bahwa prasyarat untuk memetik manfaat bonus demografi adalah pembangunan manusia yang berpendidikan, sehat, kompeten,

https://papua.bps.go.id

(19)

Sejumlah tantangan di bidang kesehatan masih dihadapi oleh pemerintah Indonesia dalam upaya perbaikan kualitas SDM. Di samping masalah malnutrisi pada anak, proses transisi epidemiologi dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular masih menjadi beban dalam pembangunan kesehatan masyarakat Indonesia. Dari komposisi umur yang didominasi usia produktif, upaya pengendalian perilaku merokok di Indonesia juga perlu terus diupayakan karena prevalensi merokok pada kelompok usia produktif cukup tinggi (Kemenkes RI, 2019). Pengendalian perilaku merokok menjadi penting karena kerugian yang diakibatkan bukan hanya bagi perokok itu sendiri, namun juga perokok pasif.

Pandemi COVID-19 yang terjadi sejak tahun 2020 juga memperberat tugas pemerintah dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Data dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 sampai dengan 17 November 2021 menunjukkan walaupun tingkat kematian tertinggi pada kelompok umur lansia (46,80 persen), namun proporsi kasus positif COVID-19 tertinggi ada pada kelompok umur 19-30 dan 31-45 (kelompok umur produktif) (Satgas Penanganan COVID-19, 2021). Salah satu penyebab hal tersebut dapat berhubungan dengan rendahnya penerapan protokol kesehatan pada kelompok umur 17-30 tahun dan 31-45 tahun dibandingkan dengan kelompok lainnya yang terlihat dari hasil survei perilaku masyarakat di masa pandemi yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) (BPS, 2020).

Kementerian PPN/Bappenas (2021) menyebutkan bahwa kecepatan penyebaran COVID-19 di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya mobilitas penduduk, kepadatan penduduk, konektivitas lintas provinsi, dan kepatuhan terhadap tindakan pencegahan. Beberapa kebijakan yang telah diambil oleh pemerintah Indonesia untuk menekan penyebaran COVID-19, seperti mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21/2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Corona Virus Disease 2019 di Wilayah Jawa dan Bali. Selain itu, berdasarkan pengalaman keberhasilan penanganan COVID-19 dari negara lain, pemerintah juga mewajibkan upaya pencegahan COVID-19 di tingkat sistem dan tingkat individu. Pada tingkat sistem, upaya pencegahan dilakukan dengan melakukan Tes, Lacak, dan Isolasi (TLI) (Kementerian PPN/Bappenas, 2021b). Sementara upaya pencegahan COVID-19 tingkat individu dilakukan melalui upaya memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas (5M).

https://papua.bps.go.id

(20)

2.1 Tingkat Keluhan Kesehatan dan Angka Kesakitan di Provinsi Papua

Menyebutkan bahwa tingkat kesehatan individu dapat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan ekonomi sepanjang hidup, seperti status ekonomi, pendidikan, pekerjaan, kualitas rumah dan lingkungan, akses terhadap fasilitas kesehatan dan gaya hidup (WHO, 2003). Sementara itu, tingkat kesehatan tidak hanya dapat dilihat dari hasil pemeriksaan kesehatan secara medis, namun dapat juga berdasarkan SAH (Self-Assessed Health) atau pengukuran kesehatan melalui pernyataan subjektif individu terhadap status kesehatan. Penggunaan SAH untuk melihat status kesehatan telah banyak digunakan di berbagai penelitian dan menunjukkan bahwa SAH merupakan indikator yang reliable dalam memprediksi kesehatan (Doiron, Fiebig, Johar, &

Suziedelyte, 2015; Kharisma, 2020) dan umum digunakan dalam survei (Crossley & Kennedy, 2002). Pada Susenas, tingkat kesehatan dilihat melalui keluhan kesehatan dan angka kesakitan yang didasarkan pada penilaian individu terhadap kondisi kesehatannya. Publikasi ini akan membahas indikator kesehatan tersebut dalam berbagai disagregasi untuk melihat pola hubungan beberapa faktor demografi dan sosial ekonomi terhadap kesehatan.

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 2.1.1 Persentase Penduduk yang Mempunyai Keluhan Kesehatan selama Sebulan Terakhir menurut Provinsi Papua dan Jenis Kelamin, 2022

Berdasarkan gambar diatas terlihat bahwa persentase penduduk dengan jenis kelamin

https://papua.bps.go.id

(21)

sebulan terakhir perempuan mencapai angka 51.9 persen sedangkan untuk jenis kelamin laki- laki mencapai 48.1 persen.

Sejalan dengan hal tersebut angka kesakitan penduduk perempuan di Provinsi Papua lebih tinggi dibandingkan dengan angka kesakitan penduduk laki-laki di Provinsi Papua.

Berdasarkan dari gambar 2.1.2 penduduk berjenis kelamin perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk berjenis kelamin laki-laki. Angka kesakitan penduduk Provinsi Papua yang berjenis kelamin Perempuan sebesar 50.9 persen, sedangkan angka kesakitan penduduk Provinsi Papua yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 49.1 persen atau angka kesakitan perempuan lebih tinggi 1.8 persen dibandingkan laki-laki.

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 2.1.2 Angka Kesakitan Menurut Provinsi Papua dan Jenis Kelamin, 2022

2.2 Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan untuk Rawat Jalan dan Rawat Inap di Provinsi Papua

Perilaku atau upaya kesehatan merupakan setiap aktivitas yang dilakukan oleh individu yang menginginkan dirinya untuk menjadi sehat, dalam upaya pencegahan penyakit atau ketika terdeteksi menderita suatu penyakit (Kasl & Cobb, 1966). Perilaku kesehatan tersebut dapat

https://papua.bps.go.id

(22)

Upaya kesehatan yang dikumpulkan dalam Susenas merupakan upaya kesehatan yang dilakukan ketika individu merasakan adanya keluhan kesehatan dalam suatu periode waktu.

Upaya tersebut yang dibedakan menjadi mengobati sendiri, rawat jalan, dan rawat inap.

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 2.2.1 Persentase Penduduk yang Mempunyai Keluhan Kesehatan dan Berobat Jalan Dalam Sebulan Terakhir Menurut Provinsi Papua dan Jenis Kelamin, 2022

Pada Gambar diatas terlihat bahwa persentase penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan dan berobat jalan dalam sebulan terakhir menurut Provinsi Papua pada tahun 2022 berdasarkan jenis kelamin menyatakan bahwa jenis kelamin perempuan memiliki persentase yang lebih besar daripada laki-laki dengan persentase angka kesakitan sebesar 51.1 persen.

Kemudian pada jenis kelamin laki-laki mempunyai keluhan kesehatan dan berobat jalan dalam sebulan terakhir di Provinsi Papua pada tahun 2022 sebesar 48.9 persen dengan perbandingan hanya 2.2 persen lebih kecil dibanding dengan persentase penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan dan berobat jalan dalam sebulan terakhir pada jenis kelamin perempuan.

https://papua.bps.go.id

(23)

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 2.2.2 Persentase Penduduk yang Sakit tetapi Tidak Berobat Jalan dalam Sebulan Terakhir menurut Provinsi Papua dan Alasan Utama Tidak Berobat Jalan, 2022

Pada gambar diatas terdapat beberapa variabel-variabel alasan utama mengapa penduduk yang sakit di Provinsi Papua tidak berobat jalan dalam sebulan terakhir. Mengobati sendiri menjadi alasan penduduk yang sakit di Provinsi Papua tidak berobat jalan terbesar dengan angka persentase sebesar 72.16 persen disusul dengan alasan merasa tidak perlu dengan angka persentase sebesar 17.99 persen kemudian variabel alasan “lainnya” menjadi alasan dengan angka persentase terbesar ketiga dengan angka persentase sebesar 3.78 persen.

Selanjutnya pada alasan khawatir terpapar Covid-19 tercantum memiliki angka persentase sebesar 2.38 persen, tidak ada sarana transportasi sebesar 1.18 persen, tidak ada biaya transportasi sebesar 0.94 persen, tidak punya biaya berobat sebesar 0.80 persen, waktu tunggu pelayanan lama sebesar 0.74 persen dan alasan dengan angka persentase terendah yaitu tidak ada yang mendampingi dengan angka persentase hanya sebesar 0.02 persen.

https://papua.bps.go.id

(24)

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 2.2.3 Persentase Penduduk yang Berobat Jalan dalam Sebulan Terakhir menurut Provinsi Papua dan Tempat Berobat Jalan, 2022

Pada diagram yang tertera diatas terdapat beberapa variabel-variabel berdasarkan tempat berobat jalan untuk persentase penduduk yang berobat jalan dalam sebulan terakhir menurut Provinsi Papua pada tahun 2022.

Sesuai dengan gambar bahwa puskesmas adalah tempat berobat jalan yang dipilih oleh penduduk yang berobat jalan dalam sebulan terakhir di Provinsi Papua dengan persentase yang paling besar dibanding tempat yang lain sebesar 75.5 persen, Rumah Sakit Pemerintah memiliki angka persentase sebesar 10.02 persen, Klinik sebesar 7.78 persen, Praktek Dokter/

Bidan sebesar 6.76 persen.

Kemudian pada variabel tempat berobat jalan di Rumah Sakit Swasta memiliki angka persentase sebesar 1,58 persen, Praktik Pengobatan Tradisional sebesar 1.14 persen, UKBM sebesar 0,68 persen, dan tempat berobat ‘lainnya’ menjadi variabel tempat berobat jalan dalam sebulan terakhir dengan angka persentase terkecil yaitu sebesar 0.5 persen.

https://papua.bps.go.id

(25)

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 2.2.4 Persentase Penduduk yang Pernah Rawat Inap dalam Setahun Terakhir menurut Provinsi Papua dan Jenis Kelamin, 2022

Pada diagram pie chart diatas diketahui bahwa persentase penduduk yang pernah rawat inap dalam setahun terakhir menurut Provinsi Papua pada tahun 2022 berdasarkan jenis kelamin terbesar yaitu jenis kelamin perempuan dengan persentase penduduk sebesar 61.9 persen.

Kemudian pada variabel jenis kelamin laki-laki diperoleh persentase penduduk yang pernah rawat inap dalam setahun terakhir menurut Provinsi Papua pada tahun 2022 berdasarkan jenis kelamin sebesar 38.1 persen, dengan perbandingan 23.8 persen lebih kecil dibanding dengan persentase penduduk yang pernah rawat inap dalam setahun terakhir pada variabel jenis kelamin perempuan.

https://papua.bps.go.id

(26)

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 2.2.5 Persentase Penduduk yang Rawat Inap dalam Setahun Terakhir menurut Provinsi Papua dan Tempat Rawat Inap, 2022

Pada gambar diagram yang tertera diatas terdapat beberapa variabel-variabel tempat berobat untuk persentase penduduk yang rawat inap dalam setahun terakhir menurut Provinsi Papua pada tahun 2022. Rumah Sakit Pemerintah adalah tempat rawat inap yang dipilih oleh penduduk yang berobat jalan dalam setahun terakhir di Provinsi Papua dengan angka persentase yang paling besar dibanding tempat yang lain yaitu sebesar 49.8 persen. Puskesmas memiliki angka persentase sebesar 23.95 persen, Rumah Sakit Swasta sebesar 18.6 persen.

Kemudian pada variabel ‘lainnya’ memiliki angka persentase sebesar 3.49 persen, Klinik/Praktek Dokter Bersama sebesar 3.30 persen, Praktek Bidan sebesar 2.14 persen dan variabel Praktek Pengobatan Tradisional menjadi variabel tempat rawat inap dalam setahun terakhir menurut Provinsi Papua pada tahun 2022 dengan angka persentase terkecil yaitu sebesar 0.14 persen.

https://papua.bps.go.id

(27)

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 2.2.6 Persentase Penduduk yang Pernah Rawat Inap dalam setahun Terakhir menurut Provinsi Papua, Jumlah Hari Rawat Inap, 2022

Pada diagram pie chart yang tertera diatas diperlihatkan persentase jumlah hari penduduk yang pernah rawat inap dalam setahun terakhir menurut Provinsi Papua pada tahun 2022. Sesuai dengan yang terlihat pada diagram diatas, dapat diketahui bahwa jumlah hari atau lama waktu yang diperlukan saat rawat inap oleh penduduk di Provinsi Papua dalam setahun terakhir yang paling sering yaitu maksimal 3 hari dengan persentase sebesar 56.9 persen.

Jumlah waktu terbanyak kedua terbanyak yang diperlukan untuk rawat inap oleh penduduk di Provinsi Papua yaitu selama 4-6 hari yaitu sebesar 21.8 persen. Kemudian untuk rentang waktu 7-29 jumlah hari rawat inap penduduk Provinsi Papua memiliki angka persentase sebesar 19,8 persen. Dan jumlah hari atau lama waktu yang diperlukan saat rawat inap oleh penduduk di Provinsi Papua dalam setahun terakhir yang paling rendah dengan penduduk yang pernah rawat inap lebih dari 30 hari yaitu 1.5 persen

2.3 Tingkat Kepemilikan dan Pemanfaatan Jaminan Kesehatan di Provinsi Papua

Kepemilikan jaminan kesehatan diharapkan dapat mengurangi risiko individu untuk mengeluarkan biaya yang besar ketika mengalami kesakitan. Beberapa penelitian menyebutkan

https://papua.bps.go.id

(28)

bahwa kepemilikan jaminan kesehatan berhubungan positif dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Penelitian di Amerika menunjukkan seseorang yang tidak memiliki jaminan kesehatan memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk menunda penggunaan pelayanan kesehatan (Kushel, Gupta, Gee, & Haas, 2006). Sebaliknya, memiliki jaminan kesehatan berhubungan positif dengan penggunaan fasilitas kesehatan dibandingkan dengan mengobati sendiri penyakit yang diderita (Qian, Pong, Yin, Nagarajan, & Meng, 2009).

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 2.3.1 Persentase Penduduk yang Menggunakan Jaminan Kesehatan untuk Berobat Jalan dalam Sebulan Terakhir menurut Provinsi Papua dan Jenis Kelamin, 2022

Pada diagram pie chart diatas menunjukkan bahwa persentase penduduk yang mempunyai jaminan kesehatan untuk berobat jalan dalam sebulan terakhir menurut jenis kelamin bahwa penduduk yang berjenis kelamin perempuan di Provinsi Papua pada tahun 2022 sebesar 50.7 persen. Kemudian pada jenis kelamin laki-laki diperoleh persentase sebesar 49.3 persen, yang artinya bahwa penduduk berjenis kelamin perempuan meenggunakan jaminan Kesehatan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki.

https://papua.bps.go.id

(29)

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 2.3.2 Persentase Penduduk yang Memiliki Jaminan Kesehatan menurut Provinsi Papua dan Jenis Jaminan Kesehatan, 2022

Pada gambar diagram yang tertera diatas menyatakan bahwa lebih dari setengah penduduk di Provinsi Papua memiliki jaminan kesehatan Jamkesda. Jamkesda adalah jenis jaminan kesehatan yang dimiliki penduduk di Provinsi Papua dengan angka persentase yang paling besar dibanding jenis jaminan kesehatan yang lain yaitu sebesar 54.41 persen BPJS Kesehatan memiliki angka persentase sebesar 35.99 persen dan persentase penduduk di Provinsi Papua yang tidak punya jaminan kesehatan sebesar 15.38 persen

Kemudian terdapat 2 jenis jaminan kesehatan dengan angka persentase yang rendah.

Jenis jaminan kesehatan yang didapatkan dari perusahaan/ kantor yang dimiliki penduduk Provinsi Papua sebesar 0.65 persen dan jenis jaminan kesehatan yang dimiliki oleh penduduk Provinsi Papua dari Asuransi Swasta yaitu sebesar 0.19 persen.

https://papua.bps.go.id

(30)

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 2.3.3 Persentase Penduduk yang Menggunakan Jaminan Kesehatan untuk Rawat Inap dalam Setahun Terakhir menurut Provinsi Papua dan Jenis Kelamin, 2022

Pada diagram pie chart diatas menunjukkan bahwa persentase penduduk yang mempunyai jaminan kesehatan untuk rawat inap dalam setahun terakhir menurut jenis kelamin Laki-laki di Provinsi Papua pada tahun 2022 yaitu sebesar 51.6 persen.

Kemudian untuk jenis kelamin Perempuan diperoleh persentase penduduk yang mempunyai jaminan kesehatan untuk rawat inap dalam setahun terakhir menurut Provinsi Papua pada tahun 2022 yaitu sebesar 48.4 persen, dengan perbandingan sebesar 3.2 persen lebih kecil dibanding dengan persentase penduduk yang mempunyai jaminan kesehatan untuk berobat jalan dalam sebulan terakhir pada jenis kelamin Laki-laki di Provinsi Papua pada tahun 2022.

2.4 Kebiasaan Merokok Penduduk di Provinsi Papua

Konsumsi makanan dan pola hidup yang tidak sehat dapat berkontribusi terhadap kesakitan dan bahkan kematian. WHO menyebutkan bahwa kebiasaan merokok merupakan

https://papua.bps.go.id

(31)

salah satu kontributor utama dalam Disability Adjusted Life Years (DALYs) dan mengakibatkan kematian kurang lebih 225.700 jiwa setiap tahun (WHO, 2020b).

Kebiasaan merokok dapat menyebabkan munculnya penyakit kronis pada usia produktif dan meningkatkan morbiditas serta kematian prematur yang tinggi. Penyebab utama kematian terkait kebiasaan merokok adalah penyakit jantung, kanker, stroke dan penyakit saluran pernapasan (WHO, 2020b). Lebih jauh lagi, studi di Indonesia menunjukkan beberapa dampak kesehatan dari perokok pasif antara lain pertumbuhan berat badan anak yang lebih rendah (TCSC-IAKMI, 2020) dan peningkatan peluang pneumonia pada balita (Alnur, Ismail,

& Padmawati, 2017).

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 2.4.1 Persentase Penduduk 5 Tahun ke Atas yang Merokok Tembakau selama Sebulan Terakhir menurut Provinsi Papua dan Kebiasaan Merokok, 2022

Seperti yang terlihat pada diagram diatas, tertera informasi mengenai kebiasaan merokok yang dilakukan penduduk diatas usia 5 tahun yang menggunakan rokok tembakau di Provinsi Papua. Sebanyak 78.05 persen penduduk diatas 5 tahun di Provinsi Papua tidak memiliki kebiasaan merokok atau menggunakan rokok tembakau, untuk penduduk diatas 5

https://papua.bps.go.id

(32)

tahun yang memiliki kebiasaan merokok dan menggunakan rokok tembakau setiap harinya selama sebulan terakhir memiliki angka persentase sebesar 11.77 persen.

Untuk penduduk diatas 5 tahun di Provinsi Papua yang punya kebiasaan merokok dan menggunakan rokok tembakau tetapi tidak setiap hari memiliki angka persentase sebesar 5.57 persen, dan sebanyak 4.6 persen penduduk diatas 5 tahun di Provinsi Papua yang tidak tahu tentang rokok tembakau.

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 2.4.2 Persentase Penduduk 5 Tahun ke Atas yang Merokok Menggunakan Rokok Elektrik selama Sebulan Terakhir menurut Provinsi Papua dan Kebiasaan Merokok, 2022

Seperti yang terlihat pada diagram diatas, tertera informasi mengenai kebiasaan merokok yang dilakukan penduduk diatas usia 5 tahun yang menggunakan rokok elektrik di Provinsi Papua.

Sebanyak 93.04 persen penduduk diatas 5 tahun di Provinsi Papua tidak memiliki kebiasaan merokok atau menggunakan rokok tembakau, untuk penduduk diatas 5 tahun yang tidak tahu tentang merokok atau menggunakan rokok tembakau memiliki angka persentase sebesar 5.02 persen..

https://papua.bps.go.id

(33)

Untuk penduduk diatas 5 tahun di Provinsi Papua yang punya kebiasaan merokok dan menggunakan rokok elektrik setiap harinya memiliki angka persentase sebesar 1.19 persen dan sebanyak 0.76 persen penduduk diatas 5 tahun di Provinsi Papua yang punya kebiasaan merokok dan menggunakan rokok elektrik tetapi tidak setiap hari.

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 2.4.3 Persentase Penduduk 5 Tahun Keatas yang Merokok selama Sebulan Terakhir menurut Provinsi Papua dan Jumlah Batang Rokok yang Dihisap per Minggu, 2022

Pada diagram pie chart diatas persentase jumlah batang rokok yang dihisap per minggu oleh penduduk diatas 5 tahun di Provinsi Papua pada tahun 2022.

Seperti yang terlihat pada diagram diatas, diketahui bahwa batang rokok yang dihisap per minggu sebanyak lebih dari 60 batang dalam seminggu sebesar 40.3 persen. Pada rentang 30-59 batang rokok selama seminggu sebesar 31.3 persen. Untuk penduduk di atas 5 tahun keatas yang merokok sekitar 15-29 batang rokok per minggu nya sebesar 18.3 persen. Untuk rentang 7-14 batang terdapat 8.2 persen penduduk diatas 5 tahun keatas yang merokok, dan dengan angka persentase paling kecil sebesar 1.9 persen didapatkan dari penduduk yang merokok sebanyak 1-6 batang rokok per minggu nya.

https://papua.bps.go.id

(34)

https://papua.bps.go.id

(35)

https://papua.bps.go.id

(36)

BAB 3

PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA MELALUI KESEHATAN ANAK

Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan suatu hal yang penting dalam pembangunan suatu negara. Salah satu faktor penting yang berperan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah kesehatan anak. Kesehatan anak yang baik akan memberikan dampak positif dalam perkembangan mereka, baik secara fisik maupun mental, serta akan berdampak pada masa depan mereka sebagai sumber daya manusia yang produktif.

Sejak masa kanak-kanak, anak-anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Kesehatan anak yang optimal menjadi fondasi penting bagi perkembangan fisik dan mental yang optimal pula. Anak-anak yang sehat cenderung memiliki energi yang lebih, kecenderungan untuk belajar dengan baik, dan lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.

Sebaliknya, anak-anak yang mengalami masalah kesehatan, seperti malnutrisi atau penyakit kronis, mungkin akan mengalami keterlambatan perkembangan dan kesulitan dalam mengejar potensi mereka.

Kesehatan anak yang baik melibatkan berbagai aspek, termasuk nutrisi yang cukup, kebersihan dan sanitasi yang baik, Imunisasi yang tepat, serta akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Nutrisi yang baik sangat penting dalam menjaga pertumbuhan dan perkembangan anak. Kurang gizi atau kekurangan gizi dapat menghambat perkembangan fisik dan kognitif anak, sehingga berdampak pada kemampuan belajar dan prestasi akademik mereka di kemudian hari.

Selain itu, kebersihan dan sanitasi yang baik juga sangat penting untuk mencegah penyakit menular dan infeksi. Anak-anak yang hidup dalam lingkungan yang bersih dan sehat memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit, sehingga mereka dapat fokus pada kegiatan belajar dan mengembangkan kemampuan sosial.

Imunisasi juga memainkan peran kunci dalam meningkatkan kesehatan anak. Imunisasi yang tepat dan lengkap membantu melindungi anak-anak dari berbagai penyakit yang dapat mengganggu kualitas hidup mereka dan menghambat perkembangan mereka. Imunisasi juga berperan dalam mencegah penyebaran penyakit menular di komunitas, sehingga melindungi

https://papua.bps.go.id

(37)

Terakhir, akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas sangat penting dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan anak. Pemeriksaan rutin, pemantauan pertumbuhan, serta penanganan penyakit dan kondisi kesehatan lainnya secara tepat waktu akan membantu mengidentifikasi dan mengatasi masalah kesehatan sejak dini, sehingga memungkinkan anak- anak tumbuh dan berkembang secara optimal.

Dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia, investasi pada kesehatan anak sangat penting. Pemerintah, masyarakat, dan keluarga perlu bekerja sama untuk memastikan anak-anak mendapatkan akses terhadap nutrisi yang cukup, lingkungan yang bersih dan sehat, imunisasi yang tepat, dan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Dengan memperhatikan kesehatan anak, kita sedang membangun masa depan yang lebih baik, di mana sumber daya manusia yang berkualitas dapat mengemban peran penting dalam pembangunan negara.

3.1 Potret Kesehatan Anak Provinsi Papua

Kesehatan anak merupakan aspek penting dalam pembangunan manusia yang berkelanjutan. Kesehatan anak melibatkan berbagai dimensi, termasuk fisik, mental, sosial, dan emosional. Memastikan kesehatan anak yang optimal adalah kunci untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan yang baik, serta mempersiapkan generasi masa depan yang kuat dan produktif.

Aspek fisik: Kesehatan fisik anak meliputi berbagai hal, seperti nutrisi yang adekuat, pertumbuhan yang optimal, kebugaran, dan pencegahan penyakit. Anak-anak membutuhkan asupan makanan yang seimbang dan bergizi untuk mendukung pertumbuhan tulang, perkembangan otak, dan fungsi organ tubuh yang sehat. Aktivitas fisik yang cukup juga penting untuk meningkatkan kebugaran dan mengurangi risiko obesitas serta penyakit terkait lainnya.

Selain itu, imunisasi yang tepat juga diperlukan untuk melindungi anak-anak dari penyakit menular yang serius.

Aspek mental dan emosional: Kesehatan mental dan emosional anak melibatkan kestabilan emosi, kesejahteraan psikologis, dan kemampuan mengelola stres. Anak-anak perlu didukung dalam mengembangkan keterampilan sosial, rasa percaya diri, dan kemampuan mengatasi tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Penanganan yang tepat terhadap masalah kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan atau depresi, juga penting untuk memastikan

https://papua.bps.go.id

(38)

Aspek sosial: Kesehatan sosial anak melibatkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain, membentuk hubungan yang sehat, dan memiliki dukungan sosial yang memadai. Anak- anak perlu memperoleh keterampilan sosial yang baik, seperti kemampuan berkomunikasi, kerjasama, dan empati. Lingkungan yang mendukung, baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat, sangat penting dalam membantu anak-anak mengembangkan kesehatan sosial yang positif.

Pencegahan dan penanganan penyakit: Pencegahan penyakit melalui imunisasi, imunisasi, dan praktik kebersihan yang baik adalah bagian penting dari kesehatan anak. Selain itu, penanganan yang tepat terhadap penyakit atau kondisi kesehatan yang mungkin timbul juga diperlukan untuk memastikan pemulihan yang cepat dan mengurangi risiko komplikasi yang berdampak pada kesehatan anak.

Akses terhadap pelayanan kesehatan: Akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga kesehatan anak. Anak-anak perlu mendapatkan pemeriksaan rutin, imunisasi, perawatan saat sakit, dan pemantauan pertumbuhan secara teratur. Diperlukan upaya untuk memastikan ketersediaan dan aksesibilitas pelayanan kesehatan yang tepat, termasuk fasilitas kesehatan yang terjangkau, tenaga medis yang terlatih, dan informasi yang mudah diakses bagi orang tua.

Kesehatan anak memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk masa depan mereka. Investasi dalam kesehatan anak tidak hanya membawa manfaat bagi individu itu sendiri, tetapi juga bagi masyarakat dan negara secara keseluruhan. Dengan memastikan kesehatan anak yang baik, kita dapat membangun generasi yang kuat, berpotensi, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.

Papua adalah provinsi yang terletak di bagian timur Indonesia, dengan karakteristik geografis dan demografis yang unik. Potret kesehatan anak di Provinsi Papua mencerminkan tantangan yang kompleks yang perlu ditangani untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan anak-anak di daerah tersebut.

Untuk mengatasi potret kesehatan anak di Provinsi Papua, perlu dilakukan upaya lintas sektor yang melibatkan pemerintah, masyarakat, LSM, dan organisasi internasional.

Diperlukan langkah-langkah seperti peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan, kampanye pendidikan kesehatan yang efektif, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan

https://papua.bps.go.id

(39)

peningkatan akses air bersih, sanitasi yang baik, dan program imunisasi yang luas akan membantu meningkatkan kesehatan anak di Provinsi Papua. Berdasarkan gambar 3.1.1 menyatakan bahwa hanya terdapat 2 persen balita yang memiliki keluhan kesehatan.

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 3.1.1 Persentase Anak (0-4 Tahun) Provinsi Papua yang memiliki keluhan kesehatan 2022

3.2 Upaya Peningkatan Kesehatan Anak

Ada beberapa tindakan yang bisa diambil ketika anak mengalami masalah kesehatan, baik itu melakukan perawatan mandiri atau mencari bantuan dari fasilitas kesehatan, tergantung pada tingkat keparahan penyakit yang dialami. Ketika seseorang mengalami keluhan kesehatan, salah satu langkah awal yang sering dilakukan adalah melakukan perawatan mandiri. Terdapat berbagai cara perawatan mandiri, seperti mengonsumsi obat-obatan yang dapat dibeli di warung atau apotek tanpa resep dokter, melakukan kerokan, atau mengonsumsi jamu. Persentase anak yang mengobati diri sendiri mendominasi di Provinsi Papua yaitu 63.7 persen.

https://papua.bps.go.id

(40)

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 3.2.1 Persentase Anak (0-4 Tahun) Provinsi Papua yang mengobati diri sendiri 2022 3.3 Kepemilikan Jaminan Kesehatan Anak Untuk Mencapai Cakupan Kesehatan Universal

Target 3.8 dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) bertujuan untuk mencapai cakupan kesehatan universal, yang meliputi perlindungan keuangan, akses terhadap pelayanan kesehatan dasar yang baik, serta akses terhadap obat-obatan dan vaksin dasar yang aman, efektif, berkualitas, dan terjangkau bagi semua individu (Kementerian PPN/Bappenas, 2020b).

Konsep kesehatan universal mengacu pada kondisi di mana seluruh populasi memiliki akses tanpa kesulitan ekonomi ke layanan kesehatan. Sebagai negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia berkomitmen untuk mencapai cakupan kesehatan universal tersebut.

Salah satu upaya yang dilakukan Indonesia adalah melalui implementasi program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang berlaku sejak 1 Januari 2014, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Dengan pelaksanaan JKN, diharapkan semua kebutuhan dasar kesehatan dapat diakses oleh seluruh masyarakat.

Pada data Statistik Kesejahteraan Rakyat Papua 2020, terdapat sebanyak 14.36 persen

https://papua.bps.go.id

(41)

imunisasi merupakan suatu dokumen yang mencatat dan melacak imunisasi yang telah diberikan kepada anak. Tingkat kartu imunisasi yang mencapai 14.36 persen menunjukkan bahwa masih terdapat sejumlah balita yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap.

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 3.3.1 Persentase Penduduk Umur 0-59 Bulan (Balita) yang mempunyai Kartu Imunisasi, 2019

Lalu data ini mengalami sedikit banyak penurunan di tahun 2020, hanya sebanyak 11.29 persen Balita (0-59 Bulan) di Provinsi Papua yang memiliki kartu imunisasi, penjumlahan 11.29 persen kepemilikan kartu imunisasi relatif terhitung menurun dari tahun sebelumnya, hal ini mungkin menjadikan beberapa faktor seperti kartu yang rusak atau bahkan hilang, mengingat kelompok Balita (0-59 Bulan) yang tidak memiliki kartu Imunisasi jumlahnya menurun dari tahun 2019.

https://papua.bps.go.id

(42)

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 3.3.2 Persentase Penduduk Umur 0-59 Bulan (Balita) yang mempunyai Kartu Imunisasi, 2020

Pada tahun 2021, untuk Balita (0-59 Bulan) di Provinsi Papua yang mempunyai kartu Imunisasi mengalami peningkatan walaupun tidak signifikan yaitu hanya sebanyak 11.42 persen, sedangkan untuk balita yang tidak memiliki kartu Imunisasi mengalami penurunan.

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 3.3.3 Persentase Penduduk Umur 0-59 Bulan (Balita) yang mempunyai Kartu

https://papua.bps.go.id

(43)

Dan di tahun 2022, sebanyak 16.79 persen Balita (0-59 Bulan yang mempunyai kartu Imunisasi dan dapat ditunjukan di Provinsi Papua, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya angka ini mengalami peningkatan yang cukup siginikan, bersamaan dengan hal tersebut persentas Balita yang tidak memiliki kartu Imuniasasi mengalami penurunan.

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Tahun 2022

Gambar 3.3.4 Persentase Penduduk Umur 0-59 Bulan (Balita) yang mempunyai Kartu Imunisasi, 2022

3.4 Imunisasi Sebagai Upaya Pencegahan Dari Berbagai Penyakit

Imunisasi merupakan salah satu strategi untuk menjaga kesehatan anak. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi, imunisasi adalah upaya untuk membangkitkan atau meningkatkan kekebalan seseorang terhadap suatu penyakit secara aktif, sehingga jika terpapar penyakit tersebut di kemudian hari, mereka tidak akan menderita penyakit atau hanya mengalami gejala ringan. Pemerintah bertanggung jawab atas program imunisasi dasar bagi bayi di bawah usia 1 tahun dan dilanjutkan dengan imunisasi lanjutan untuk anak di bawah 2 tahun. Imunisasi dasar meliputi beberapa jenis vaksin, antara lain vaksin BCG untuk mencegah tuberkulosis (TBC), vaksin hepatitis B untuk mencegah penyakit hepatitis B, vaksin polio untuk mencegah poliomyelitis, vaksin DPT untuk mencegah difteri, pertusis, dan tetanus, serta vaksin campak untuk mencegah penyakit campak.

https://papua.bps.go.id

(44)

Imunisasi dasar lengkap pada anak merupakan suatu rangkaian vaksinasi yang direkomendasikan secara rutin untuk melindungi anak dari penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi. Berikut ini adalah uraian mengenai imunisasi dasar lengkap pada anak:

1. Vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guérin): Vaksin ini diberikan untuk melindungi anak dari tuberkulosis (TBC), yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Vaksin BCG diberikan secara intradermal pada bayi baru lahir atau dalam beberapa bulan pertama kehidupannya.

2. Vaksin Hepatitis B: Vaksin hepatitis B diberikan untuk melindungi anak dari infeksi virus hepatitis B yang dapat menyebabkan kerusakan hati dan komplikasi serius.

Vaksin ini diberikan dalam beberapa dosis pada bayi baru lahir dan selama beberapa bulan pertama kehidupan.

3. Vaksin Polio: Vaksin polio digunakan untuk melindungi anak dari penyakit poliomyelitis yang disebabkan oleh virus polio. Vaksin ini umumnya diberikan dalam bentuk oral (tetes) atau suntikan dan diberikan dalam beberapa dosis selama masa kanak-kanak.

4. Vaksin DPT (Difteri, Pertussis, Tetanus): Vaksin DPT mengandung antigen yang melindungi anak dari tiga penyakit sekaligus, yaitu difteri, pertussis (batuk rejan), dan tetanus. Vaksin ini diberikan dalam beberapa dosis pada masa bayi dan masa kanak- kanak.

5. Vaksin Hib (Haemophilus influenzae tipe B): Vaksin Hib diberikan untuk melindungi anak dari infeksi Haemophilus influenzae tipe B, yang dapat menyebabkan infeksi serius seperti pneumonia, meningitis, dan epiglottitis. Vaksin ini biasanya diberikan dalam beberapa dosis pada masa bayi.

6. Vaksin PCV (Pneumokokus): Vaksin PCV digunakan untuk melindungi anak dari infeksi bakteri pneumokokus, yang dapat menyebabkan pneumonia, meningitis, dan infeksi lainnya. Vaksin ini diberikan dalam beberapa dosis pada masa bayi dan masa kanak-kanak.

7. Vaksin Campak: Vaksin campak diberikan untuk melindungi anak dari penyakit campak, yang disebabkan oleh virus campak. Vaksin ini umumnya diberikan dalam

https://papua.bps.go.id

(45)

Imunisasi dasar lengkap ini penting dilakukan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh pemerintah dan organisasi kesehatan. Dengan melakukan imunisasi dasar lengkap, anak akan mendapatkan perlindungan yang lebih baik terhadap penyakit infeksi yang dapat mengancam kesehatan dan keselamatan mereka. Selain itu, imunisasi juga berperan dalam mencegah penyebaran penyakit ke populasi lain melalui konsep kekebalan kelompok. Orang tua perlu berkomunikasi dengan tenaga medis untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai jadwal imunisasi dan manfaat yang diberikan oleh setiap vaksin.

Berdasarkan Gambar 3.4.1 sejak tiga tahun terakhir lebih dari 50 persen Balita yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Pada tahun 2019 sebanyak 68.88 persen Balita yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap di Provinsi Papua, namun lambat laun angka ini selalu menurun hingga kondisi terakhir di tahun 2022 mencapai angka 50.88 persen. angka ini tentu saja masih relative cukup tinggi sehingga tenaga kesehatan perlu untuk mensosialisasikan pentingnya imunisasi lengkap bagi anak-anak.

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 3.4.1 Balita (0-59 Bulan) Provinsi Papua Yang Mendapatkan dan tidak mendapatkan Imunisasi lengkap 2019 – 2022

https://papua.bps.go.id

(46)

3.5 Pemberian ASI Sebagai Investasi Kesehatan Anak Sejak Dini

Menurut Target 2.2 dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), tujuan pada tahun 2030 adalah menghilangkan segala bentuk kekurangan gizi. Hal ini mencakup pencapaian target yang telah disepakati secara internasional untuk mengurangi jumlah anak pendek dan kurus di bawah usia 5 tahun pada tahun 2025, serta memenuhi kebutuhan gizi remaja perempuan, ibu hamil dan menyusui, serta manula. Salah satu dampak dari kekurangan gizi kronis pada balita adalah stunting, yang merupakan kondisi pertumbuhan terhambat secara fisik dan mental. Faktor-faktor yang mempengaruhi stunting pada balita dapat bervariasi, dan salah satunya adalah pemberian ASI eksklusif. Penelitian yang dilakukan oleh Uwilingiyimana, Ocke, Amer, dan Veldkamp pada tahun 2019 menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif secara signifikan dapat mengurangi risiko stunting pada anak.

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 3.5.1 Persentase Penduduk Umur 0-23 Bulan (Baduta) yang Pernah Diberi ASI, 2019 - 2022

Makanan terbaik bagi bayi adalah ASI. Manfaat ASI telah diungkap dan diteliti secara luas. Direkomendasikan untuk memberikan ASI secara eksklusif selama enam bulan pertama, kemudian melanjutkan hingga anak berusia dua tahun dengan pemberian makanan tambahan

https://papua.bps.go.id

(47)

yang sesuai (sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 450/MENKES/SK/IV/2004 tentang Pemberian Air Susu Ibu).

Namun pada data diatas, yang diambil dari Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua 2019 - 2022, Baduta (0-23 Bulan) Provinsi Papua yang mendapatkan ASI dari tahun ketahunnya menurun, di tahun 2019 baduta yang pernah diberikan ASI mencapai 91.5 persen namun lambat laun angka ini semakin menurun hingga menjadi 85.87 persen di tahun 2022.Hal ini perlu dikaji lebih lanjut banyak faktor yang bisa dicari. Ada beberapa alasan yang dapat menyebabkan seseorang mendapatkan ASI yang kurang. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi produksi ASI antara lain:

1. Faktor Fisiologis: Beberapa perempuan mungkin memiliki faktor fisiologis yang mempengaruhi produksi ASI. Misalnya, ada perempuan yang memiliki kelenjar susu yang kurang aktif atau kurang sensitif terhadap rangsangan hormonal yang merangsang produksi ASI.

2. Faktor Psikologis: Stres, kecemasan, dan tekanan emosional dapat mengganggu produksi ASI. Beberapa studi menunjukkan bahwa stres dan tekanan psikologis dapat mempengaruhi kadar hormon prolaktin, yang berperan penting dalam produksi ASI.

3. Teknik Menyusui yang Tidak Efektif: Salah posisi bayi saat menyusui atau teknik menyusui yang tidak efektif dapat menghambat produksi ASI. Misalnya, bayi yang tidak dapat menghisap dengan benar atau ibu yang tidak memahami cara memposisikan bayi dengan baik saat menyusui.

4. Kehadiran Penyakit atau Komplikasi Kesehatan: Beberapa kondisi kesehatan seperti hipotiroidisme, diabetes, atau masalah hormonal lainnya dapat mempengaruhi produksi ASI.

5. Keterbatasan Dukungan dan Pengetahuan: Kurangnya dukungan dari keluarga, mitra, atau lingkungan sekitar dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan menyusui dan produksi ASI. Pengetahuan yang kurang tentang manfaat ASI dan teknik menyusui yang benar juga dapat menjadi hambatan.

https://papua.bps.go.id

(48)

https://papua.bps.go.id

(49)

https://papua.bps.go.id

(50)

BAB 4

PEMBANGUNAN KESEHATAN MELALUI PEREMPUAN USIA SUBUR

The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW) atau Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan merupakan salah satu perjanjian dalam sistem kesepakatan internasional Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Indonesia merupakan salah satu negara yang meratifikasi CEDAW, tepatnya pada tanggal 24 Juli 1984 melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1984.

CEDAW membahas kesetaraan substantif bagi perempuan, dalam arti mendefinisikan prinsip-prinsip Hak Asasi Perempuan sebagai Hak Asasi Manusia, norma-norma dan standar- standar kewajiban, serta tanggung jawab negara dalam menghapus perilaku diskriminasi terhadap perempuan. Salah satu pasal pada konvensi ini menjamin penghapusan diskriminasi terhadap perempuan di bidang pemeliharaan kesehatan. Tidak hanya itu, negara-negara peserta juga diwajibkan untuk memberikan jaminan pelayanan yang layak berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan masa sesudah persalinan. Termasuk di dalamnya yaitu memberikan makanan bergizi yang cukup selama kehamilan dan masa menyusui. Berbekal dari jaminan yang diakui pada tingkat global ini, semakin mempertegas pentingnya pemeliharaan kesehatan bagi perempuan. Oleh karena itu, pada Bab IV ini akan dilakukan pembahasan berbagai aspek terkait dengan kesehatan perempuan, atau dalam hal ini adalah perempuan usia subur yang didefinisikan sebagai perempuan umur 15-49 tahun. Selain mengenai keluhan kesehatan dan upaya kesehatan yang dilakukan, pada bab ini juga akan dilakukan pembahasan mengenai proses reproduksi serta perilaku merokok yang dilakukan oleh perempuan usia subur.

4.1 Keluhan dan Upaya Kesehatan Yang Dilakukan Oleh Perempuan

Self-rated health merupakan ukuran kesehatan yang banyak digunakan pada berbagai penelitian menggunakan hasil dari survei (Garbarski, 2016). Melalui penelitiannya menggunakan data 19 negara di kawasan Eropa, Baćak & Ólafsdóttir menyatakan bahwa self- rated health adalah ukuran kesehatan fisik dan mental yang valid dan efisien, dengan validitas yang jauh lebih besar untuk perempuan.

https://papua.bps.go.id

(51)

Hasil Susenas Maret 2019-2021 memperlihatkan bahwa persentase perempuan umur 15-49 tahun yang mempunyai keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir menunjukkan penurunan. Keluhan kesehatan yang dimaksud di sini merupakan bentuk self-rated health, di mana keluhan ini merupakan persepsi yang bersangkutan dan bukan didasarkan pada hasil pemeriksaan tenaga kesehatan. Pola yang sama terlihat untuk persentase perempuan yang mempunyai keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir dan mengakibatkan terganggunya kegiatan sehari-hari.

Secara umum, persentase perempuan yang mempunyai keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir, maupun persentase perempuan yang mempunyai keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir dan mengakibatkan terganggunya kegiatan sehari-hari menurut beberapa karakteristik menunjukkan pola yang sama. Kedua statistik memperlihatkan persentase untuk daerah pedesaan lebih rendah dibandingkan di daerah perkotaan. Adapun menurut pendidikan, persentase semakin menurun seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan yang ditamatkan oleh perempuan umur 15-49 tahun. Melalui penelitiannya di China dengan memanfaatkan data the Chinese General Social Survey (CGSS), Cai, Coyte, & Zhao (2017) mengkonfirmasi hubungan antara prevalensi penduduk dengan self-rated health berkategori baik dengan pendidikan yang lebih tinggi.

Disagregasi menurut kelompok umur menunjukkan peningkatan persentase seiring dengan meningkatnya umur perempuan. Hal ini sejalan dengan penelitian Cai, Coyte, & Zhao (2017) yang menyatakan bahwa umur seseorang dan self-rated health berkategori baik memiliki hubungan negatif. Adapun menurut status ekonomi yang didekati dengan kuintil pengeluaran per kapita sebulan, terlihat bahwa persentase meningkat seiring dengan meningkatnya kuintil pengeluaran.

https://papua.bps.go.id

(52)

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 4.1.1 Persentase Penduduk yang Mempunyai Keluhan Kesehatan selama Sebulan Terakhir menurut Provinsi Papua, 2022

Pada diagram pie chart di atas digambarkan persentase penduduk di Provinsi Papua yang mempunyai keluhan kesehatan selama sebulan terakhir, dan mengacu pada inti dari subbab ini bahwa terdapat 49 persen perempuan di Provinsi Papua mempunyai keluhan kesehatan selama sebulan terakhir. Sebagai perbandingannya untuk penduduk secara keseluruhan (laki-laki + perempuan) di Provinsi Papua terdapat 51 persen yang mempunyai keluhan kesehatan selama sebulan terakhir.

Sejalan dengan hal tersebut angka kesakitan penduduk perempuan di Provinsi Papua lebih tinggi dibandingkan dengan angka kesakitan penduduk secara keseluruhan (laki-laki + perempuan) di Provinsi Papua. Berdasarkan dari gambar 4.1.2 penduduk berjenis kelamin perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk secara keseluruhan (laki-laki + perempuan). Angka kesakitan penduduk Provinsi Papua yang berjenis kelamin Perempuan sebesar 50.4 persen, sedangkan angka kesakitan penduduk Provinsi Papua secara keseluruhan (laki-laki + perempuan) sebesar 49.6 persen atau angka kesakitan perempuan lebih tinggi 0.8 persen dibandingkan laki-laki.

https://papua.bps.go.id

(53)

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022 Gambar 4.1.2 Angka Kesakitan menurut Provinsi Papua, 2022

4.2 Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Untuk Berobat Jalan dan Rawat Inap Oleh Perempuan di Provinsi Papua

Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah penggunaan fasilitas pelayanan yang disediakan baik dalam bentuk rawat jalan, rawat inap, kunjungan rumah oleh petugas kesehatan ataupun bentuk kegiatan lain dari pemanfaatan pelayanan tersebut yang didasarkan pada ketersediaan dan kesinambungan pelayanan, penerimaan masyarakat, dan kewajaran, mudah dicapai oleh masyarakat, terjangkau serta bermutu (Azwar, A., 2010).

Fasilitas Kesehatan adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan perorangan, baik promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat (Perpres No.71 Tahun 2013). Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) pada era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) wajib memberikan pelayanan primer yang komprehensif sebagai gate keeper dengan kualitas pelayanan kesehatan menjadi prioritas (Davi, M., 2016).

Menurut Lavey dan Loomba (1973) yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi

https://papua.bps.go.id

(54)

untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit 9 serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat (Davi, M., 2016).

Pelayanan kesehatan masyarakat (public health service) adalah bagian dari pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit dengan sasaran utamanya adalah masyarakat. Pelayanan kesehatan masyarakat ditandai dengan cara pengorganisasian yang umumnya dilakukan secara bersama-sama dalam suatu organisasi (Davi, M., 2016).

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 4.2.1 Persentase Penduduk yang Mempunyai Keluhan Kesehatan dan Berobat Jalan dalam Sebulan Terakhir menurut Provinsi Papua, 2022

Pada diagram pie chart di atas digambarkan persentase penduduk yang berobat jalan dan mempunyai keluhan kesehatan selama sebulan terakhir di Provinsi Papua. Terdapat 50.6 persen penduduk perempuan di Provinsi Papua mempunyai keluhan kesehatan dan berobat jalan. Sebagai perbandingannya untuk penduduk secara keseluruhan (laki-laki + perempuan) di Provinsi Papua terdapat 49.6 persen penduduk di Provinsi Papua mempunyai keluhan

https://papua.bps.go.id

(55)

Sejalan dengan hal tersebut digambarkan persentase penduduk yang pernah rawat inap dan mempunyai keluhan kesehatan selama setahun terakhir di Provinsi Papua. Menurut data terdapat 55.7 persen penduduk perempuan di Provinsi Papua yang pernah rawat inap dalam setahun terakhir. Sebagai perbandingannya untuk penduduk secara keseluruhan (laki-laki + perempuan) di Provinsi Papua terdapat 44.3 persen penduduk di Provinsi Papua yang pernah rawat inap dalam setahun terakhir.

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 4.2.2 Persentase Penduduk yang Pernah Rawat Inap dalam Setahun Terakhir menurut Provinsi Papua, 2022

4.3 Tingkat Kepemilikan dan Pemanfaatan Jaminan Kesehatan Oleh Perempuan di Provinsi Papua

Jaminan Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah.

Pemerintah menargetkan 95 persen masyarakat Indonesia pada tahun 2019 terdaftar sebagai anggota Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sehingga mendapat akses terhadap

https://papua.bps.go.id

(56)

kesehatan dasar (Styawan, 2019). Program JKN diluncurkan sejak tahun 2014 untuk meningkatkan kualitas kesehatan untuk menciptakan ekonomi yang berdaya saing terutama bagi penduduk usia produktif (15-64 tahun) sebagai penggerak kegiatan ekonomi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, persentase penduduk usia produktif di Indonesia mencapai 69,28 persen dari total penduduk Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2022).

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 4.3.1 Persentase Penduduk yang Menggunakan Jaminan Kesehatan untuk Berobat Jalan dalam Sebulan Terakhir Menurut Provinsi Papua, 2022

Gambar 4.3.1 di atas adalah persentase penduduk yang menggunakan jaminan kesehatan untuk berobat jalan dalam sebulan terakhir di Provinsi Papua. Mengacu pada inti judul pada subbab ini menurut data terdapat 50.4 persen penduduk perempuan di Provinsi Papua yang menggunakan jaminan kesehatan untuk berobat jalan dalam sebulan terakhir di Provinsi Papua. Sebagai perbandingannya untuk penduduk secara keseluruhan (laki-laki + perempuan) di Provinsi Papua terdapat 49.6 persen penduduk di Provinsi Papua yang menggunakan jaminan kesehatan untuk berobat jalan dalam sebulan terakhir di Provinsi Papua.

Sejalan dengan hal tersebut digambarkan persentase penduduk yang menggunakan jaminan kesehatan untuk rawat inap dalam setahun terakhir di Provinsi Papua. Mengacu pada inti judul pada subbab ini menurut data terdapat 49.3 persen penduduk perempuan di Provinsi Papua yang menggunakan jaminan kesehatan untuk rawat inap dalam setahun terakhir di

https://papua.bps.go.id

(57)

perempuan) di Provinsi Papua terdapat 50.7 persen penduduk di Provinsi Papua yang menggunakan jaminan kesehatan untuk rawat inap dalam setahun terakhir di Provinsi Papua

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2022

Gambar 4.2.2 Persentase Penduduk yang Menggunakan Jaminan Kesehatan untuk Rawat Inap Dalam Setahun Terakhir Menurut Provinsi Papua, 2022

https://papua.bps.go.id

(58)

https://papua.bps.go.id

(59)

https://papua.bps.go.id

(60)

BAB 5

POTRET FERTILITAS DAN IMPLEMENTASI PENGGUNAAN KB DI PROVINSI PAPUA

Fertilitas dan penggunaan KB di Provinsi Papua adalah dua aspek yang penting dalam konteks perencanaan keluarga dan kesehatan reproduksi di wilayah ini. Papua merupakan provinsi yang memiliki karakteristik demografi dan sosial yang unik, serta tantangan kesehatan yang spesifik. Mari kita bahas lebih lanjut tentang fertilitas dan penggunaan KB di Provinsi Papua. Merujuk pada tingkat kelahiran dalam suatu populasi pada periode tertentu. Provinsi Papua memiliki tingkat fertilitas

Referensi

Dokumen terkait

Persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas menurut ijazah/STTB tertinggi yang dimiliki per provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.10.. Sedangkan berdasarkan jenis

Penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin di Provinsi Papua Barat selama periode Maret 2010 – Maret 2011 diikuti oleh penurunan indeks kedalaman kemiskinan (P 1 )

Persentase penduduk yang mengkonsumsi alkohol 12 bulan terakhir paling tinggi pada umur 25-34 tahun, jauh lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan, paling tinggi pada tamatan

Tabel 57 : Cakupan Pelayanan Rawat Inap Masyarakat Miskin (Dan Hampir Miskin) Menurut Strata Sarana Kesehatan, Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Di Kabupaten Rembang

Lampiran Tabel 56 Cakupan Pelayanan Rawat JAlan Masyarakat Miskin (Hampir Miskin) Menurut Strata Sarana Kesehatan, Jenis Kelamin Kabupaten/ Kota di Provinsi Jambi

Sumatera Selatan juga memiliki angka keluhan kesehatan sebesar 32% dari total penduduk dan menempati urutan ke-3 persentase penduduk yang berobat rawat inap

Tabel 57A Cakupan Pelayanan Rawat Inap Masyarakat Miskin (dan Hampir Miskin) Menurut Strata Sarana Kesehatan, Jenis Kelamin dan Kecamatan Yang Dicakup Melalui

Tabel 57 Cakupan Pelayanan Rawat Inap Masyarakat Miskin (dan Hampir Miskin) menurut Strata Sarana Kesehatan, Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas Kabupaten Buleleng