• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional 2024-2029 Indonesia

N/A
N/A
Manuel Asi Saputra - X IPA 2 [24]

Academic year: 2024

Membagikan "Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional 2024-2029 Indonesia"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Manuel Asi Saputra NIM : 022023018

Mata Kuliah : Ergonomi

Hari/Tanggal : Jumat, 26 April 2024

Rangkuman Program

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional - Indonesia 2024-2029

Pada tahun 2007, pemerintah menerbitkan Program K3 Nasional Pertama, yang mencakup visi, misi, kebijakan, strategi, dan program K3 Nasional untuk periode 2007-2010.

Upaya ini diperkuat dengan penerbitan Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Tujuannya adalah untuk memastikan keselamatan dan kesehatan pekerja dengan mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Sistem K3 Nasional juga didukung dengan ratifikasi Konvensi ILO No.

187 melalui Peraturan Presiden No. 34 tahun 2014, yang bertujuan untuk mempromosikan kerangka kerja keselamatan dan kesehatan kerja.

Evaluasi terhadap pencapaian program K3 nasional sebelumnya dilakukan dengan menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan dalam pelaksanaan program K3 nasional baik di masa lalu maupun di masa mendatang. Dokumen-dokumen terkait, termasuk kerangka peraturan perundang-undangan K3 dan sistem manajemen K3, digunakan sebagai referensi dalam evaluasi ini. Selain itu, hasil-hasil dari pertemuan ‘Indonesia Presidency G-20 Labour dan Employment Ministers Meeting’ (LEMM) juga dijadikan acuan untuk memahami isu-isu terkait cakupan perlindungan, tingkat perlindungan, serta tingkat kepatuhan pengusaha dan pekerja terhadap K3.

Indonesia memiliki peluang untuk menuju implementasi K3 yang semakin maju melalui identifikasi, yaitu:

1.

Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No 49 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian.

menegaskan “Pelayanan kesehatan untuk dugaan penyakit akibat kerja (suspek PAK) sebelum mendapatkan kesimpulan atau penetapan status sebagai penyakit akibat kerja atau bukan penyakit akibat kerja, biaya pelayanan kesehatannya dijamin terlebih dahulu oleh BPJS Ketenagakerjaan.”

(2)

2.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), yang di dalamnya Tujuan 8 amat relevan dengan K3.

3.

Indonesia juga tengah mengalami bonus demografi sejak tahun 2020 hingga 2030.

Dalam bonus demografi ini jumlah penduduk usia kerja produktif menjadi lebih besar.

Pada saat yang sama, kohort baru dalam bonus demografi ini adalah kohort demografi muda yang lebih adaptif terhadap perubahan dan norma baru dalam industri, termasuk norma ketenagakerjaan.

4.

Indonesia telah memanfaatkan teknologi dalam implementasi K3. ‘Norma 100’ adalah salah satu bentuk pemanfaatan teknologi yang amat bermanfaat dalam penyusunan perencanaan dan strategi serta target kinerja di bidang pengawasan ketenagakerjaan, dan K3 sebagai bagian penting di dalamnya.

5.

Sejumlah industri secara berkala mendapatkan ‘Penghargaan K3’ yang dapat dijadikan rujukan best practices bagi industri-industri lain dalam penerapan K3.

6.

Sektor swasta telah membangun inisiatif dan memberikan dukungan pada K3 melalui pengembangan ISO 45001 (2018) tentang Occupational Health Safety Management System (OHSMS).

Beberapa tantangan implementasi K3 meliputi aspek:

1. Kerangka Hukum K3, Hingga saat ini, kerangka hukum K3 masih bergantung pada Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, yang telah ada selama lebih dari lima puluh tahun tanpa mengalami perubahan. Meskipun ada beberapa peraturan acuan baru yang diperkenalkan belakangan ini.

2. Pelembagaan, Pengawasan, dan Penegakan Norma K3, Peningkatan instrumen pendukung untuk menerapkan dan mengembangkan standar K3 diperlukan agar sejalan dengan perubahan yang terus berlangsung dalam dunia ketenagakerjaan dan industri.

Dalam hal ini, tantangan yang perlu diatasi di masa depan mencakup tingkat kepatuhan dan penegakan standar K3 yang lebih baik, yang menjadi kunci penting di berbagai sektor dan lingkungan kerja.

3. Kapasitas Sumber Daya, Sumber daya meliputi elemen-elemen seperti tenaga kerja, kemampuan institusi, dan infrastruktur teknis yang turut berperan dalam menciptakan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang efisien dalam mencegah kecelakaan kerja, penyakit yang timbul akibat pekerjaan, serta penyakit yang terkait dengan lingkungan kerja.

(3)

4. Sistem Pelaporan dan Manajemen Informasi K3, Data yang komprehensif mengenai K3 masih kurang memadai, baik dari segi jumlah, frekuensi, pengelolaan, maupun kedalaman dan kualitasnya.

5. Koordinasi, Sinergi, dan Kolaborasi K3, Penguatan kolaborasi dan sinergi antara berbagai asosiasi profesi di bidang K3 yang memiliki fokus area yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama dalam meningkatkan penerapan K3 dan mengurangi kasus kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, dan penyakit terkait kerja, perlu diperkuat. Hal ini juga berlaku untuk kolaborasi antara asosiasi profesi dengan kementerian/lembaga terkait serta pemangku kepentingan lainnya, agar dapat memberikan kontribusi secara optimal dalam meningkatkan kinerja dan budaya K3 di berbagai sektor industri maupun secara nasional.

Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional periode 2024-2029 dengan Visi

“Mewujudkan kemandirian masyarakat Indonesia dalam berbudaya K3 secara berkelanjutan.”

Target yang ditetapkan adalah menurunkan tingkat kecelakaan kerja sekurang-kurangnya 10%

dari 298.137 kasus (2022) setiap tahun. Kerangka kerja Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional Indonesia untuk lima tahun kedua adalah struktur yang menyediakan fondasi manajerial yang mendukung perencanaan, implementasi, evaluasi, perbaikan, dan tindakan terintegrasi. Ini didasarkan pada kepemimpinan dan komitmen yang kuat untuk mencapai visi dan misi program dengan cara yang efisien dan efektif.

Strategi yang dilaksanakan dalam implementasi K3 mengacu pada rencana tindakan yang dirancang untuk mencapai tujuan atau serangkaian tujuan. Strategi melibatkan pengambilan keputusan tentang bagaimana sumber daya dialokasikan dan bagaimana upaya diarahkan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

1. Penguatan Kerangka Hukum K3

• Prioritas 1.1: Pelaksanaan Pembaruan/Revisi UU No.1 Tahun 1970\

• Prioritas 1.2: Pengidentifikasian Kebutuhan Peraturan Turunan UU Hasil Pembaruan/Revisi UU 1/1970

• Prioritas 1.3: Penyusunan Peraturan Presiden tentang Promosi K3 Nasional bagi Seluruh Sektor Industri dan Jenis Jenis Pekerjaan Baru.

2. Pembudayaan, Penerapan Pengawasan dan Penegakan Norma K3

• Prioritas 2.1: Pengembangan Instrumen Pendukung Peningkatan Pembudayaan K3 bagi Jenis Pekerjaan Baru Era Milenium

(4)

• Prioritas 2.2: Peningkatan pemahaman dan perilaku masyarakat dalam budaya K3

• Prioritas 2.3: Peningkatan penerapan, pengawasan dan penegakan norma K3 3. Penguatan Kapasitas Sumber Daya K3

• Prioritas 3.1: Peningkatan Kualitas dan Kompetensi SDM K3

• Prioritas 3.2: Peningkatan Kualitas dan efektifitas penggunaan Sarana dan Prasarana K3

• Prioritas 3.3: Peningkatan Kualitas dan kinerja Lembaga K3.

4. Penguatan Sistem Pelaporan dan Manajemen Informasi K3

• Prioritas 4.1: Pengembangan Basis Data K3 Nasional Terintegrasi

• Prioritas 4.2: Pembaruan Sistem Pelaporan KK, PAK, dan PTK serta pemanfaatan dan tindaklanjutnya

5. Penguatan Koordinasi, Sinergi, dan Kolaborasi K3 Nasional dan Internasional berkelanjutan.

• Prioritas 5.1: Penguatan dan/atau Pengembangan Lembaga Otoritas K3 Tingkat Nasional

Prioritas 5.2: Penguatan program kolaborasi dan sinergi K3 Nasional serta Internasional secara berkelanjutan

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang diteliti, yaitu: pertama adalah variabel X (program kesehatan dan keselamatan kerja (K3)) yang memiliki indikator: 1)

Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tersebut belum ditaati sepenuhnya oleh seluruh pegawai pada bagian

pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terhadap produktivitas tenaga kerja pada proyek konstruksi di wilayah Surakarta dan Yogyakarta ada beberapa hal yang

Laporan Akhir ini menjelaskan mengenai Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Karyawan PT Pupuk Sriwidjaja Palembang.. Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) karyawan

Tingkat penerapan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan persepsi karyawan dengan menggunakan kuesioner indikator SMK3 maka nilai penerapan program

Pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat dengan judul “Penerapan Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) Di UMKM Laundry Balikpapan” dapat disimpulkan bahwa yang pertama

Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan upaya perusahaan dalam menciptakan kondisi kerja yang aman dan tenang sehingga dapat mencegah dan

Tingkat penerapan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan persepsi karyawan dengan menggunakan kuesioner indikator SMK3 maka nilai penerapan program